Tampilkan postingan dengan label Berlutut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berlutut. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 November 2019

Berlutut Setelah Menerima Komuni

Berlutut merupakan salah satu gerak tubuh yang penting dalam/selama perayaan Ekaristi selain gerak tubuh lainnya seperti duduk, berdiri atau membungkuk. Setiap gerak tubuh memiliki makna yang berbeda selama liturgi. Jika demikian, apa makna berlutut? Mengapa ada bagian tertentu dari Perayaan Ekaristi di mana umat harus berlutut?

Bagian pertama dari Perayaan Ekaristi terdiri dari bacaan-bacaan suci dan homili. Kecuali ketika mendengar bacaan Injil di mana kita berdiri, kita mendengar bacaan-bacaan pertama dan kedua sambil duduk. Marilah kita ingat, bahwa Perayaan Ekaristi tidak hanya terdiri dari liturgi sabda, tetapi juga liturgi ekaristi. Ada banyak bagian dalam liturgi ekaristi di mana kita berdoa sambil berlutut, dan itulah wujud paling nyata dari sikap kerendahan hati kita di hadapan Allah.

Sebagai ungkapan rasa syukur dan kerendahan hati bahwa Allah telah menganugerahkan keselamatan juga kepada orang-orang bukan Yahudi, Paulus menyatakannya dengan berlutut dan berdoa di hadapan Bapa (Efesus 4:14). Dan ketika hendak menyembuhkan Tabita, Rasul Petrus juga berlutut dan berdoa kepada Allah (Kis 9:40). Gerak tubuh berlutut telah menjadi kebiasaan dan tradisi yang dipraktikkan dalam Gereja Katolik sejak abad pertama. Santo Ambrosius mengatakan bahwa berlutut adalah sikap kerendahan hati yang tidak hanya mengekspresikan rasa tobat kita, tetapi sekaligus juga dapat meredakan murka Allah (St. Ambrose, Hexaem., VI, ix). Dan tradisi ini terus kita pertahankan sampai sekarang.

Jadi, ketika ditanyakan mengapa kita harus berlutut, jawabannya adalah karena itulah sikap tubuh yang paling sempurna yang menunjukkan kerendahan hati. Berlutut menjadi sikap pengakuan dan penyerahan diri kita kepada otoritas yang ada di hadapan kita itu. Dalam konteks perayaan liturgis, sikap berlutut menunjukkan pengakuan kita akan kekudusan dan kebesaran Allah.

Selama Perayaan Ekaristi, kita berlutut sejak menyerukan atau menyanyikan "Kudus" (Sanctus) sampai ketika akan menerima komuni kudus. Inilah momen di mana terjadi transubstansiasi, saat roti dan anggur berupa rupa menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Dalam kerendahan hati dan rasa tidak pantas, kita menyambut mukjizat transubstansiasi itu sekaligus mengungkapkan pengakuan kita kepada kekudusan, kebesaran dan otoritas Allah yang sedang hadir di antara kita.

Kita mulai berdiri sejak Doa Damai. Ketika giliran untuk menerima komuni kudus tiba, kita kemudian berdiri dan berjalan secara sopan ke arah imam atau prodiakon dan menerima komuni kudus dalam sikap yang sopan. Kita berlutut lagi setelah menyambut komuni. Mengapa kita harus berlutut setelah menerima komuni kudus dan sampai bagian apa kita masih harus berlutut? Apakah kita sudah boleh duduk setelah selesai berdoa secara pribadi padahal komuni masih dibagikan?

Menurut Pedoman Umum Misale Romawi, umat berlutut pada saat konsekrasi, kecuali kalau ada masalah kesehatan atau tempat ibadat tidak mengizinkan. Konferensi Uskup memang diberi wewenang untuk menyelaraskan tata gerak dan sikap tubuh dalam Tata Perayaan Ekaristi dengan ciri khas dan tradisi yang sehat yang berlaku pada suatu negara/bangsa tertentu. Meskipun demikian, Takhta Suci mengehendaki agar Konferensi Uskup menjamin bahwa penyerasian itu selaras dengan makna dan ciri khas bagian dari perayaan Ekarisi bersangkutan. Misalnya, kalau umat sudah terbiasa berlutut sejak Kudus sampai akhir Doa Syukur Agung, kebiasaan ini seharusnya dipertahankan (lihat Pedoman Umum Misale Romawi, Komisi Liturgi KWI-Penerbit Nusa Indah, Ende: 2002, No. 43).

Beberapa keuskupan di Amerika Serikat, misalnya, mendorong umat untuk berlutut setelah menyambut komuni dan terus dalam keadaan berlutut sampai orang terakhir menerima komuni kudus atau bahkan sampai ketika imam atau diakon telah selesai membersihkan piala dan siborium dan mengembalikan sisa hosti ke dalam Tabernakel. Itu karena keyakinan bahwa selama pintu Tabernakel dibuka, sikap umat adalah menunjukkan penghormatan yang tinggi kepada Tuhan Yesus. Tetapi praktik semacam ini bukan merupakan sebuah ketentuan yang sifatnya ketat (rigid) dan harus diberlakukan di seluruh dunia.

Di berbagai keuskupan di Indonesia, umat biasanya berlutut beberapa saat setelah menerima Komuni Kudus. Selama momen ini, umat biasanya mengucap syukur dan memanjatkan doa-doa permohonan pribadi, mengucap syukur, memuji dan memuliakan Allah secara pribadi. Setelah itu, umat boleh duduk. Komuni kudus memang bisa dan biasanya diselingi dengan nyanyian komuni oleh anggota koor. Meskipun demikian, karena ini adalah saat hening sesudah komuni dan umat diizinkan duduk (Pedoman Umum Misale Romawi, Komisi Liturgi KWI-Penerbit Nusa Indah, Ende: 2002, No. 43), hendaknya momen ini dijadikan sebagai kesempatan untuk merenungkan sekali lagi Sabda Tuhan misteri keselamatan Kristus, memadukannya dengan Sabda Allah yang dibacakan selama liturgi sabda dan membawanya dalam doa dan komunikasi yang intim dengan Allah sendiri (Lihat misalnya Buku Puji Syukur No. 211).

Di atas semuanya itu, berlutut adalah sebuah sikap batin kerendahan hati dan penyerahan diri total kepada Allah. Semoga gerak tubuh yang diekspresikan selama perayaan Ekaristi membantu kita untuk semakin dekat dengan Allah yang hadir dan mengorbankan diri-Nya bagi keselamatan kita.

Sumber: https://www.parokimbk.or.id/

baca selanjutnya...

Jumat, 04 Oktober 2019

Kapan orang Katolik harus berlutut di gereja?

Bagi umat Katolik dalam Ritus Gereja Roma, menekuk lutut ke lantai adalah gerakan umum yang mendalami simbolisme agama. Ini adalah kebiasaan lama, yang membantu orang-orang Kristen berdoa dengan tubuh dan jiwa.

Tetapi, hal itu tidak selalu dikomunikasikan kepada umat awam ketika seseorang harus berlutut. Begitu banyak yang tahu mengapa membengkokkan lutut adalah sikap gerak yang penting, tetapi kita tidak selalu tahu kapan waktu dan tempat yang tepat.

Untuk menemukan jawabannya, kita perlu melihat Petunjuk Umum Misale Romawi.

Pertama-tama, PUMR (Pedoman Umum Misale Romawi) menyatakan, "Berlutut/bersujud, dibuat dengan menekuk lutut kanan ke lantai, menandakan penghormatan, dan oleh karenanya, itu diarahkan pada Sakramen Maha Kudus."

Ini sangat penting karena menjelaskan bahwa bersujud itu adalah suatu sikap gerak yang pada akhirnya diarahkan kepada Allah, yang benar-benar hadir dalam Ekaristi Kudus. Kita tidak berlutut kepada setiap orang (seperti beberapa budaya di masa lalu) atau hal-hal materi, tetapi hanya kepada Tuhan. Selanjutnya PUMR menjelaskan, dalam banyak kasus, “semua yang berjalan melewati di depan Sakramen Mahakudus wajib berlutut.” Ada beberapa pengecualian terhadap aturan ini yang dijabarkan dalam PUMR, tetapi hal-hal tersebut berhubungan dengan mereka yang sedang melakukan beberapa tugas/fungsi (Misdinar dll) pada Misa.

Di luar pengecualian itu, kebiasaan umum dalam Ritus Roma bahwa anda berlutut pada satu lutut kapan pun anda lewat di depan tabernakel (yang berisi Sakramen Mahakudus). Biasanya ketika orang memasuki gereja Katolik dan berjalan menuju bangku mereka, mereka berlutut sebelum duduk, yang merupakan gerakan kecil penghormatan terhadap Dia yang hadir di sana.

Namun, penting untuk dicatat bahwa bersujud hanya diperlukan ketika melewati tabernakel. Ini berarti seseorang harus melihat lebih dalam tentang kondisi tabernakel, karena tabernakel mungkin tidak tampak, di kapel samping, atau bahkan kosong. Tidak ada alasan untuk berlutut ketika memasuki gereja jika anda tidak berjalan menuju tabernakel. Dalam kasus-kasus itu, pandangan sederhana menuju ke altar adalah tepat.

Pada Jumat Agung, ketika Sakramen Mahakudus telah dipindahkan ke altar yang tepat, kita tidak berlutut di depan tabernakel yang kosong. Perhatian yang baik adalah mencari lampu yang terus menyala di dekat tabernakel ketika Sakramen Mahakudus hadir.

Kebiasaan lain, meskipun tidak secara umum dalam prakteknya, berlutut pada dua lutut saat Sakramen Mahakudus terlihat di altar dalam monstrans emas untuk penghormatan semua umat. Ini adalah sebuah tradisi yang sudah sering dilakukan, tetapi itu bersifat opsional. Sederhananya, mengakui bahwa Yesus tidak lagi berada di ruang tertutup (tabernakel), tetapi di hadapan semua orang dengan cara yang lebih terlihat.

Disamping yang sederhana itu, ada beberapa keadaan lain saat berlutut dimohon untuk acara-acara khusus. Sebagai contoh, hal tentang kebiasaan untuk berlutut di hadapan “Salib Suci sejak penghormatan yang khidmat selama perayaan liturgi pada Jumat Agung sampai mulai Malam Paskah.” Selama waktu yang khidmat dalam tahun ini, salib menerima perhatian khusus, dan berlutut memberi penghormatan pada pengorbanan yang Yesus lakukan di kayu salib.

Waktu lain adalah selama pembacaan Syahadat pada Hari Raya Kabar Sukacita dan Hari Raya Natal pada kata-kata "yang dikandung dari Roh Kudus dilahirkan oleh Perawan Maria" Ini adalah gerakan fisik dimaksudkan untuk mengingatkan umat beriman dari realitas Inkarnasi dan bagaimana Yesus turun ke dunia untuk menjadi salah satu dari kita.

Pada akhirnya, berlutut/bersujud adalah kebiasaan indah yang diabadikan oleh Ritus Roma yang memberi penghormatan kepada “Raja segala raja” sejati yang benar-benar hadir dalam Sakramen Mahakudus.

Link : https://aleteia.org/­2018/04/24/­when-should-catholics­-genuflect-in-a-chur­ch/

baca selanjutnya...

Minggu, 19 Juni 2011

Berlutut, sikap hormat dan mengakui kelemahan di hadapan Allah

Saat kita masuk ke gedung gereja, setelah membuat tanda salib dengan air suci, sebelum duduk, biasanya kita berlutut sejenak. Mengapa?

Kita berlutut pada saat akan duduk dan beberapa kali berlutut selama Misa Kudus. Untuk memahami hal ini, sesungguhnya kita harus menghayati dulu Siapa yang hadir di hadapan kita dalam Misa Kudus. Jika kita mengimani bahwa Tuhan Yesus Kristus sungguh-sungguh hadir di dalam Ekaristi itu dan di dalam diri imam-Nya yang memimpin Misa Kudus, maka kita akan dengan lapang hati berlutut, dan sungguh tidak ada halangan bagi kita untuk berlutut. Sebab Alkitab mengatakan, “dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi” (Flp 2:10).

Kebiasaan berlutut berasal dari Eropa pada abad pertengahan. Pada waktu itu ada suatu kebiasaan di Eropa untuk menekukkan satu lutut (genuflect) di hadapan seorang raja atau seseorang yang berkedudukan tinggi. Berlutut bisa menandakan bahwa kita ”kalah” dan kita ”pasrah”. Dalam tradisi Katolik, berlutut menjadi tanda kepasrahan dan pengakuan atas kelemahan kita dihadapan Allah. Di dalam gedung gereja, berlutut juga menjadi ungkapan rasa hormat kita akan adanya Altar dan tabernakel di hadapan kita. Altar menjadi tempat dimana Yesus Kristus hadir secara riil dalam Ekaristi, dan tabernakel menjadi tempat Sakramen Mahakudus yang merupakan Tubuh Kristus sendiri.

Kapan saja kita ”berlutut”?
Ada beberapa kali kita berlutut di dalam gereja atau selama Misa Kudus. Pertama kali kita berlutut ketika kita masuk ke gedung gereja, setelah membuat tanda salib dengan air suci, sebelum duduk, kita berlutut sejenak dengan menekuk satu lutut (”kaki kanan menyentuh lantai”) dan membuat tanda salib. Sikap ini merupakan ungkapan rasa hormat kepada Altar dan tabernakel yang merupakan tempat kudus yang ada di hadapan kita. Sikap hormat yang sama ini juga dilaksanakan oleh para petugas liturgi (prodiakon, lektor dan misdinar) ketika hendak naik ke panti imam atau setelah melaksanakan tugas di panti imam. Bagi para petugas liturgi, ”berlutut” dapat diganti dengan ”menundukkan kepala” pada saat dalam perarakan, atau ketika sedang membawa salib, lilin, dupa atau Kitab Suci. Menurut PUMR 275a, “menundukkan kepala” dilakukan juga ketika mengucapkari nama Tritunggal Mahakudus, nama Yesus, nama Santa Perawan Maria, dan nama para orang kudus yang diperingati dalam Misa yang bersangkutan.

Kita juga berlutut pada saat ”Doa Syukur Agung”, pada saat persiapan Komuni:”inilah Anak Domba Allah ….”, dan pada saat doa pribadi sesudah komuni. PUMR 43 mengatakan : ”Umat berlutut pada saat konsekrasi, kecuali kalau ada masalah kesehatan atau tempat ibadat tidak mengijinkan, entah karena banyaknya umat yang hadir, entah karena sebab-sebab lain. Mereka yang tidak berlutut pada saat konsekrasi hendaknya membungkuk khidmat pada saat imam berlutut sesudah konsekrasi”.

Berlutut bisa juga menandakan sikap pasrah dan mengakui kelemahan kita di hadapan Allah. Sikap tubuh dengan berlutut ini menunjukkan semangat kerendahan diri yang menguasai hati dan jiwa kita. Di hadapan Allah, Sang Sumber Hidup, kita ini tidak ada apa-apanya. Saat itu pula, dengan sikap tubuh itu, kita mengungkapkan isi batin kita dan menyembah Allah. Kita juga ingin menyelaraskan diri dengan Kristus, Putra-Nya. Berlutut semacam ini juga mengungkapkan keyakinan kita bahwa Allah yang telah memulai itu akan juga menggenapi semua karyaNya di dalam diri kita. Kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan.

Mari kita mengikuti Misa dengan penuh hormat dan dengan hati yang dipenuhi oleh ucapan syukur, karena Yesus mengundang kita untuk datang ke perjamuanNya: “Berbahagialah kita yang diundang ke-perjamuanNya!”

Oleh : Ign. Djoko Irianto
Prodiakon Paroki St.Herkulanus, Depok.

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP