Tampilkan postingan dengan label Homili Hari Raya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Homili Hari Raya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Juni 2012

Homili Hari Raya St. Petrus dan Paulus

Hari Raya St. Petrus dan Paulus, Rasul

Kis 12:1-11
Mzm 34:2-3.4-5.6-7.8-9
2Tim 4:6-8.17-18
Mat 16: 13-19

“Engkau adalah Mesias”

Pada hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan Hari Raya St. Petrus dan Paulus. Tentang Hari Raya kedua orang kudus ini, St. Agustinus menulis dalam Sermo 295, alasan mengapa kedua Rasul ini pestanya dirayakan bersama-sama. Agustinus menulis, “Memang mereka berdua adalah rasul yang berbeda tetapi memiliki satu semangat. Mereka menderita pada saat yang berbeda tetapi tetaplah satu semangat. Petrus mendahului, Paulus mengikuti jejaknya. Hari ini menjadi hari kudus karena kedua rasul ini menguduskannya dengan darah mereka. Marilah kita ikut menghayati iman dan kepercayaan mereka, hidup dan karya-karya mereka, penderitaan-penderitaan, pengajaran-pengajaran dan pengakuan iman mereka.”

Petrus, merupakan seorang nelayan kelahiran Bethsaida dan menjadi Uskup pertama di Roma. Yesus mengundangnya untuk mengikutiNya: “Aku akan menjadikanmu penjala manusia.” Ia orang sederhana, pekerja keras, murah hati, jujur dan sangat melekat pada Yesus. Nama aslinya adalah Simon tetapi Yesus mengubahnya menjadi Petrus yang berarti wadas. Yesus berkata kepadanya, “Engkaulah Petrus dan di atas wadas ini kudirikan GerejaKu.” Petrus menjadi pemimpin para Rasul. Ketika Yesus ditangkap,Petrus mengalami ketakutan luar biasa maka ia menyangkal Yesus tiga kali. Tetapi setelah bangkit Yesus menampakan diriNya dan bertanya kepada Petrus tentang kasih. Hal yang dituntut dari Petrus adalah “mengasihi Yesus lebih dari” para Rasul yang lain. Ia wafat di Roma sebagai martir pada tahun 67.

Saul adalah seorang Yahudi, kelahiran Tarsus. Sebagai warga Negara Romawi, ia menggunaakan nama Paulus. Ia memperdalam pengajaran iman Yahudi dengan saksama. Sebelum mengenal Kristus, dia adalah penganiaya jemaat Kristen. Pada saat dia ditobatkan, Yesus berkata, “Saya akan menunjukkan bagaimana ia akan menderita bagiKu”. Ia terkenal sebagai rasul bangsa-bangsa yang belum mengenal Tuhan. Ia meninggal di Roma sebagai martir.

Bacaan-bacaan suci pada Hari Raya ini mengatakan tentang hidup dan pengabdian kedua rasul ini kepada Yesus yang mereka kasihi. Kalau kita membaca Injil Sinoptik, Yesus digambarkan sebagai figur yang melakukan perbuatan-perbuatan besar dari Allah. Ia mengajar, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh jahat, dan memperbanyak roti. Setiap kali mengajar, selalu dengan wibawa dan kuasa yang melebih para ahli Taurat. Tentu saja hidup Yesus seperti ini membuat banyak orang bertanya tentang diriNya. Bacaan injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus berkumpul bersama para rasulNya dan Ia bertanya tentang diriNya. Yesus berkata, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu? Pertanyaan tentang kata orang adalah pertanyaan yang mudah. Secara bergantian mereka mengulangi perkataan orang-orang: “Ada yang mengatakan Yohanes Pembabtis, Elia, Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Pertanyaan kedua yang lebih sulit adalah, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Simon Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup”. Dengan jawaban ini Petrus disapa Yesus “berbahagialah” karena Bapa di Surga membuka pikirannya untuk mengakui Yesus sebagai Mesias. Konsekuensinya adalah misi baru bagi Petrus: “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga, dan apa yang kaulepaskan di dunia akan terlepas di Sorga”

Jawaban Petrus ini merupakan ungkapan imannya pada Yesus. Memang orang-orang saat itu sedang menanti dan berharap akan kedatangan Mesias. Mesias itu bertugas untuk menata kembali kehidupan umat Allah seperti dahulu kala yaitu suasana damai, adil dan penuh sukacita. Bagi kebanyakan orang, Mesias adalah keturunan Daud yang akan menjadi pemimpin Israel untuk menjadi lebih dekat dengan Allah. Bagi orang Yahudi, menyebut Mesias selalu dikaitkan dengan pengertian “Anak Manusia” (Dan 7:13). Itu sebabnya Yesus bertanya tentang identitas Anak Manusia dan Petrus menjawab “Mesias”. Yesus menjadi sungguh-sungguh Mesias ketika Ia dengan berani melakukan kehendak Bapa di Surga dengan mengalami banyak penderitaan, ditolak oleh tua-tua dan imam-imam kepala. Ia wafat dan bangkit pada hari ketiga. Pengalaman Paskah ini yang membuat Para Rasul dan Gereja perdana mengakui Yesus sebagai Mesias.

Pengakuan iman Petrus ini membawa dampak bagi panggilan dan perutusannya. Sebelumnya, Yesus sudah mengatakan kepada para muridNya bahwa Ia sendiri yang akan menjadikan mereka Penjala Manusia. Kini secara istimewa Yesus memberi tugas kepada Petrus. Dia sebagai batu wadas (Petra) di mana Gereja didirikan. Sebagai Batu Karang, Petrus bertugas untuk menjadi pemimpin dan pelindung umat di mana tidak ada satu bahaya (syeol) yang dapat menghancurkan mereka. Kunci Kerajaan Allah juga diberikan kepada Petrus bukan untuk membuka dan menutup pintu Surga atau menentukan siapa yang layak masuk. Tugas Petrus dengan kunci tersebut adalah supaya kuasa-kuasa jahat tidak memasuki Kerajaan Surga. Maka apa yang diikat di bumi atau dilepas di bumi akan diikat atau dilepas di Surga.

Apa yang harus kita lakukan sebagai Gereja? Kita mengambil pengalaman apostolic dari Petrus dan Paulus yang berani bersaksi tentang Yesus. Dalam Bacaan Pertama dikisahkan bagaimana Petrus setelah Yakobus dibunuh ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara atas suruhan Herodes. Namun pengalaman yang mengesankan adalah Tuhan menyertai Petrus sehingga ia dilepaskan secara misterius dari Penjara. Paulus dalam bacaan kedua menghimbau Timotius sebagai pemimpin jemaat untuk melanjutkan semua pekerjaan, pengorbanan yang pernah dilakukan bersama Paulus. Kebersamaan perlu tetap di bangun sebagai kesatuan jemaat untuk kemuliaan dan keagungan Tuhan. Hal yang kiranya tetap menarik perhatiann kita adalah kesadaran Paulus bahwa ia memelihara iman kepada Kristus dan Tuhan sendiri mendampingi seluruh hidupnya. Keselamatan pun diberikan Tuhan kepadanya.

Sabda Tuhan membuat kita bertumbuh menjadi baru. Belajar dari kedua rasul ini, kita semua diingatkan bahwa Tuhan tetap menyertai kita bukan hanya pada saat yang membahagiakan saja tetapi dalam saat-saat yang sulit pun Tuhan hadir dan membahagiakan kita. Hanya Dia yang punya kuasa untuk membahagiakan kita. Tuhan juga tidak memperhatikan masa lalul kita. Dia selalu melihat keterbukaan hati kita untuk berubah menjadi baru dan melayaniNya. Ini sungguh-sungguh optimisme kristiani bagi kita. Yesuslah Mesias yang mengubah kita menjadi baru.

Doa: Tuhan, terima kasih atas anugerahMu. Buatlah aku menjadi baru. Amen

Sumber : http://haniesto.blogspot.com/

baca selanjutnya...

Minggu, 03 Juni 2012

Homili Hari Raya Tritunggal Mahakudus/B

Hari Raya Tritunggal Mahakudus
Ul 4: 32-34.39-40
Mzm 33:4-5.6.9.18-19.20-22;
Rom 8:14-17
Mat 28:16-20

"Baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus"

Seorang Uskup pernah bertanya kepada anak-anak yang sedang menyiapkan diri untuk menerima Sakramen Krisma. “Apa artinya Trinitas?” tanya Bapa Uskup. Seorang anak menjawab dengan suara yang kecil dan tidak bisa didengar oleh Uskup. “Anakku,” kata Uskup, “Saya tidak mengerti apa yang sudah kau katakan.” Anak itu berkata kepada Uskup, “Baik, Bapa Uskup, Trinitas adalah sebuah misteri. Tak seorang pun dapat memahaminya.” Bapa Uskup tersenyum dan mengangguk sambil berkata, “Anak engkau dapat menjadi Uskup masa depan”.

Pada hari ini Gereja merayakan Hari raya Tritunggal Mahakudus. Ini adalah bagian inti dari iman dan kepercayaan kristiani. Kita Percaya pada Satu Allah dengan tiga pribadi yang berbeda Bapa, Putera dan Roh Kudus. Menurut Katekismus Gereja Katolik dikatakan bahwa pengakuan iman ini pertama kali diucapkan pada saat pembaptisan. Jadi pengakuan iman adalah pengakuan pembaptisan karena pembaptisan dilakukan dalam “Nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat 28:19), maka kebenaran-kebenaran iman yang diakui waktu pembaptisan disusun sesuai hubungannya dengan Tiga Pribadi Tritunggal Mahakudus. (KGK 189). Dengan dasar ini maka setiap hari kita selalu menyapa Tritunggal dalam doa-doa kita. Kita selalu memulainya dengan Tanda Salib sebagai tanda kemenangan kita: “Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus”

Bacaan-bacaan liturgi pada hari ini tidak memberikan presentasi yang jelas tentang doktrin Tritunggal Mahakudus. Doktrin Satu Allah dengan Tiga Pribadi yang berbeda tidak secara jelas diungkapkan di dalam Kitab Suci. Istilah Trintas sendiri tidak ditemukan di dalam Kitab Suci terutama Kitab Perjanjian Baru. Yang ada hanya deskripsi tertentu yang diajarkan oleh Yesus. Dalam Injil Matius misalnya, Yesus memerintahkan para muridNya untuk pergi, menjadikan segala bangsa murid-muridNya dan membaptis mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan umat di Roma untuk hidup damai, dan memohon berkat dari Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Yesus sendiri memanggil Allah sebagai Bapa “Abba” dan mengajar para muridNya untuk menyapa dengan sapaan yang sama, “Abba”. Yesus sendiri mengatakan tentang Roh Kudus, Roh yang keluar dari Bapa. Yesus sebagai Sabda dan Bapa adalah satu maka Roh Kudus yang sama yang dijanjikan sebagai penghibur dan pembela adalah Roh Yesus sendiri. Yesus juga mengatakan bahwa barangsiapa melihat Dia, melihat Bapa. Ini satu model persekutuan yang begitu ilahi dan utuh.

Dalam kategori pemikiran kita, Tiga Pribadi dari Satu Allah ini memiliki peranan sendiri-sendiri. Bapa sebagai pencipta, Putera sebagai Penebus, Roh Kudus yang menyucikan atau menguduskan. Yesus mengajar kita tentang persekutuanNya yang mendalam dengan Bapa dalam ikatan Roh Kudus. Yesus adalah Sabda yang ada sebelum dunia dijadikan. Kita dapat memahami Trinitas dalam peristiwa Inkarnasi. Malaikat Gabriel datang kepada Bunda Maria dan mengatakan bahwa Maria akan mengandung dari Roh Kudus. Malaikat adalah Utusan Allah Bapa, Maria mengandung Yesus (Putera) dan bahwa Roh Kudus turun atas Maria.

Di dalam sejarah keselamatan, Allah telah menaruh belas kasihNya kepada Umat Israel. Untuk itu Musa mengundang Umat Israel untuk bersyukur kepada Tuhan karena membebaskan mereka dari perbudakan Mesir dan mengarahkan mereka ke tanah terjanji. Maka Musa juga menginginkan supaya umat Israel untuk memiliki relasi yang mendalam dengan Tuhan. Mereka menjadi umat pilihan Allah dalam perjanjian yang dibuat oleh Yahwe bersama Musa mewakili Israel. Perjanjian Lama disempurnakan oleh Yesus dalam Perjanjian Baru. Paulus mengingatkan mereka tentang kasih Bapa, rahmat melalui Yesus Kristus dalam persekutuan Roh Kudus. Roh Kudus yang mempersatukan pribadi-pribadi menjadi Anak Allah. Dengan demikian sapaan yang diucapkan Yesus menjadi juga sapaan setiap pribadi “Abba”, Ya Bapa!

Tentu saja warta sukacita Yesus ini harus diteruskan oleh para rasulNya. Ia memiliki rencana istimewa bagi para rasulNya untuk meneruskan pertumbuhan gereja yang dibangunNya di atas wadas. Ia berpesan kepada mereka untuk menjadikan segala bangsa murid Kristus dan membaptis mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus.

Kita kembali ke dialog Uskup dan anak-anak yang akan menerima sakramen Krisma. tepat sekali jawaban anak itu kepada Uskup, “Trinitas adalah sebuah misteri iman dan tidak dapat diselami oleh manusia”. Namun demikian kita dapat merasakanNya dalam pertumbuhan iman kita. Pesta Tritunggal Mahakudus adalah pesta cinta kasih sejati. Tritunggal adalah model cinta kasih yang saling memberi, saling melengkapi, menyempurnakan dan saling menguduskan.

Mari kita menghayati semangat ini di dalam hidup kita. Hal konkret yang dapat kita lakukan adalah bersyukur atas sakramen Pembaptisan karena menjadi saat dimana kita dikuduskan dalam Nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Kita juga diingatkan untuk membuat tanda salib yang benar: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap akal budi (dahi), dengan sepenuh hatimu (di dada), dan seluruh kekuatanmu (di bahu kiri dan kanan). Atau Kasihilah Tuhan Allahmu (dahi), kasihilah dirimu sendiri (dada), dan kasihilah sesamamu (bahu kiri) dan kasihilah juga musuh-musuhmu (bahu kanan).

Doa: Ya Allah Tritunggal, jadikanlah kami kudus. Amen

Sumber : http://haniesto.blogspot.com/2012/06/homili-hari-raya-tritunggal-mahakudusb.html

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP