Tampilkan postingan dengan label Dasar Iman Katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dasar Iman Katolik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 September 2019

Dasar Iman Katolik

MAGISTERIUM

Magisterium adalah Wewenang Kuasa mengajar Gereja. Dasar Magisterium adalah sebagai berikut :
“Adapun tugas menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu, dipercayakan hanya kepada Wewenang Mengajar Gereja yang hidup, yang kewibawaannya dilaksanakan alas nama Yesus Kristus” (DV 10).(KGK 85)

“Wewenang Mengajar itu tidak berada di alas Sabda Allah, melainkan melayaninya, yakni dengan hanya mengajarkan apa yang diturunkan saja, sejauh Sabda itu, karena perintah ilahi dan dengan bantuan Roh Kudus, didengarkannya dengan khidmat, dipelihara dengan suci, dan diterangkannya dengan setia; dan itu semua diambilnya dari satu perbendaharaan iman itu, yang diajukannya untuk diimani sebagai hal-hal yang diwahyukan oleh Allah” (DV 10). (KGK 86)

Kaum beriman mengenangkan perkataan Kristus kepada para Rasul: “Barang siapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku” (Luk 10:16) dan menerima dengan rela ajaran dan petunjuk yang diberikan para gembala kepada mereka dalam berbagai macam bentuk. (KGK 87)

Wewenang Mengajar Gereja menggunakan secara penuh otoritas yang diterimanya dari Kristus, apabila ia mendefinisikan dogma-dogma, artinya apabila dalam satu bentuk yang mewajibkan umat Kristen dalam iman dan yang tidak dapat ditarik kembali, ia mengajukan kebenaran-kebenaran yang tercantum di dalam wahyu ilahi atau secara mutlak berhubungan dengan kebenaran-kebenaran demikian. (KGK 88)

Tugas untuk menjelaskan Sabda Allah secara mengikat, hanya di serahkan kepada Wewenang Mengajar Gereja, kepada Paus dan kepada para Uskup yang bersatu dengannya dalam satu paguyuban. (KGK 100)

TRADISI SUCI

Allah “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1Tim 2:4), artinya supaya semua orang mengenal Yesus Kristus. Karena itu Kristus harus diwartakan kepada semua bangsa dan manusia dan wahyu mesti sampai ke Batas-Batas dunia.”Dalam kebaikan-Nya Allah telah menetapkan, bahwa apa yang diwahyukan-Nya demi keselamatan semua bangsa, harus tetap utuh untuk selamanya dan diteruskan kepada segala keturunan” (DV 7).(KGK 74)

“Maka Kristus Tuhan, yang menjadi kepenuhan seluruh wahyu Allah yang Mahatinggi (lih. 2Kor 1:30; 3:16-4:6), memerintahkan kepada para Rasul, supaya Injil, yang dahulu telah dijanjikan melalui para nabi dan dipenuhi oleh-Nya serta dimaklumkan-Nya sendiri, mereka wartakan kepada semua orang, sebagai sumber segala kebenaran yang menyelamatkan serta sumber ajaran kesusilaan, dan dengan demikian dibagi-bagikan karunia-karunia ilahi kepada mereka” (DV 7). (KGK 75)

Sesuai dengan kehendak Allah terjadilah pengalihan Injil atas dua cara:
– secara lisan “oleh para Rasul, yang dalam pewartaan lisan, dengan teladan serta penetapan-penetapan meneruskan entah apa yang mereka terima dari mulut, pergaulan, dan karya Kristus sendiri, entah apa yang atas dorongan Roh Kudus telah mereka pelajari”;
– secara tertulis “oleh para Rasul dan tokoh-tokoh rasuli, yang atas ilham Roh Kudus itu juga telah membukukan amanat keselamatan” (DV 7). (KGK 76)

Penerusan yang hidup ini yang berlangsung dengan bantuan Roh Kudus, dinamakan “tradisi”, yang walaupun berbeda dengan Kitab Suci, namun sangat erat berhubungan dengannya. “Demikianlah Gereja dalam ajaran, hidup serta ibadatnya melestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya” (DV 8). “Ungkapan-ungkapan para Bapa Suci memberi kesaksian akan kehadiran tradisi itu yang menghidupkan, dan yang kekayaannya meresapi praktik serta kehidupan Gereja yang beriman dan berdoa” (DV 8). (KGK 78)

Tradisi yang kita bicarakan di sini, berasal dari para Rasul, yang meneruskan apa yang mereka ambil dari ajaran dan contoh Yesus dan yang mereka dengar dari Roh Kudus. Generasi Kristen yang pertama ini belum mempunyai Perjanjian Baru yang tertulis, dan Perjanjian Baru itu sendiri memberi kesaksian tentang proses tradisi yang hidup itu. Tradisi-tradisi teologis, disipliner, liturgis atau religius, yang dalam gelindingan waktu terjadi di Gereja-gereja setempat, bersifat lain. Mereka merupakan ungkapan-ungkapan Tradisi besar yang disesuaikan dengan tempat dan zaman yang berbeda-beda. Dalam terang Tradisi utama dan di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, tradisi-tradisi konkret itu dapat dipertahankan, diubah, atau juga dihapus. (KGK 83)

“Tradisi Suci dan Kitab Suci merupakan satu perbendaharaan keramat Sabda Allah yang dipercayakan kepada Gereja ” (DV 10). Di dalamnya Gereja yang berziarah memandang Tuhan, sumber segala kekayaannya, seperti dalam sebuah cermin. (KGK 97)

KITAB SUCI

Sesuai dengan kehendak Allah terjadilah pengalihan Injil atas dua cara:
— secara lisan “oleh para Rasul, yang dalam pewartaan lisan, dengan teladan serta penetapan-penetapan meneruskan entah apa yang mereka terima dari mulut, pergaulan, dan karya Kristus sendiri, entah apa yang atas dorongan Roh Kudus telah mereka pelajari”;
— secara tertulis “oleh para Rasul dan tokoh-tokoh rasuli, yang atas ilham Roh Kudus itu juga telah membukukan amanat keselamatan” (DV 7). (KGK 76)

“Adapun, supaya Injil senantiasa terpelihara secara utuh dan hidup di dalam Gereja, para Rasul meninggalkan Uskup-Uskup sebagai pengganti-pengganti mereka, yang `mereka serahi kedudukan mereka untuk mengajar” (DV 7). Maka, “pewartaan para Rasul, yang secara istimewa diungkapkan dalam kitab-kitab yang diilhami, harus dilestarikan sampai kepenuhan zaman melalui penggantian-penggantian yang tiada putusnya” (DV 8). (KGK 77)

Dengan demikian penyampaian Diri Bapa melalui Sabda-Nya dalam Roh Kudus tetap hadir di dalam Gereja dan berkarya di dalamnya: “Demikianlah Allah, yang dahulu telah bersabda, tiada henti-hentinya berwawancara dengan Mempelai Putera-Nya yang terkasih. Dan Roh Kudus, yang menyebabkan suara Injil yang hidup bergema dalam Gereja, dan melalui Gereja dalam dunia, menghantarkan Umat beriman menuju segala kebenaran, dan menyebabkan Sabda Kristus menetap dalam diri mereka secara melimpah (lih. Kol 3:16)” (DV 8). (KGK 79)

Apa dasar hubungannya Tradisi dan Kitab suci
“Tradisi Suci dan Kitab Suci berhubungan erat sekali dan terpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama” (DV 9). Kedua-duanya menghadirkan dan mendayagunakan misteri Kristus di dalam Gereja, yang menjanjikan akan tinggal bersama orang-orang-Nya “sampai akhir zaman” (Mat 28:20).

“Kitab Suci adalah pembicaraan Allah sejauh itu termaktub dengan ilham Roh ilahi”.
“Oleh Tradisi Suci Sabda Allah, yang oleh Kristus Tuhan dan Roh Kudus dipercayakan kepada para Rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya mereka ini dalam terang Roh kebenaran dengan pewartaan mereka memelihara, menjelaskan, dan menyebarkannya dengan setia” (DV 9).(KGK 81)

“Dengan demikian maka Gereja”, yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama” (DV 9). (KGK 82)

Sumber: https://joshuaemanuel.wordpress.com/dasar-iman-katolik/

baca selanjutnya...

Kamis, 05 September 2019

3 Dasar Iman Katolik (Tradisi, Alkitab, dan Magisterium)

Artikel ini keluar karena beberapa artikel yang lain akan berhubungan dengan yang ketiga ini, tradisi, alkitab, dan magisterium. Kenapa 3 dan kenapa bukan 1? Akan admin bahas dengan bahasa dan pokoknya mudah dimengerti deh. Tapi ingat, selalu baca dari judul sampai bawah. Gak panjang-panjang kok ;)

Kalau kalian menemukan di beberapa artikel blog ini, ada dituliskan bahwa Gereja Katolik memiliki dasar iman yang paling banyak yaitu 3. Berbeda dengan gereja sebelah yang hanya satu. Lalu apa-apa saja itu?

1. Tradisi
Kenapa tradisi menempati urutan pertama? Pada awalnya bahkan sebelum Kristus lahir kedunia, para nabi yang diutus oleh Allah untuk menjadi perpanjangan lidah dan tangan Nya tidak menggunakan tulisan apalagi tulisan di blog atau gadget mereka (emang ada gadget zaman itu?) mereka mewartakan kerajaan Allah dan kebenaran Nya dari mulut ke mulut. Tentu kalian pernah dengar atau baca (kalau gak keterlaluan) kalau Kristus berkotbah dengan menyebut beberapa kisah di perjanjian lama, kan? Bukannya Kristus dengan berapi-api sampai urat lehernya tegang sambil menyebutkan ayat-ayat yang autentik karena saat itu belum ada yang namanya tulisan yang utuh (utuh dalam artian belum seperti sekarang dari Kejadian hingga Wahyu).

Selanjutnya, setelah Yesus Kristus naik ke surga, yang namanya Alkitab belum ada. Tradisi suci yang tidak bertentangan dengan ajaran Gerejalah yang dipegang teguh oleh para murid dan missionaris pada masa awal-awal Gereja. Namun, sekalipun dimasa awal Gereja Katolik bertumbuh belum ada satu kesatuan Alkitab seperti sekarang, serangan-serangan iman kepada Gereja Katolik sudah gencar dilancarkan, namun dengan tradisi suci Gereja semuanya bisa di halau hingga Gereja Katolik besar sampai sekarang.

KGK 75 "Maka Kristus Tuhan, yang menjadi kepenuhan seluruh wahyu Allah yang Mahatinggi (lih. 2Kor 1:30; 3:16-4:6), memerintahkan kepada paraRasul, supaya Injil, yang dahulu telah dijanjikan melalui para nabi dan dipenuhi oleh-Nya serta dimaklumkan-Nya sendiri, mereka wartakan kepadasemua orang, sebagai sumber segala kebenaran yang menyelamatkan serta sumber ajaran kesusilaan, dan dengan demikian dibagi-bagikan karuniakarunia ilahi kepada mereka" (DV 7).

2. Alkitab
Nah, kalau ada yang menganggap alkitab adalah kebenaran absolut dan mutlak, jawabannya salah! Tapi Min, orang membaca Alkitab bukan tradisi atau magisterium? Salah! Alkitab bukan tulisan langsung dari Tuhan semata melainkan Roh Kudus lah yang menggerakkan para nabi dan pengarang-pengarang isi alkitab.

Permasalahan selanjutnya, apakah ada Alkitab Gereja Katolik dan Alkitab Protestan? Admin tegaskan tidak ada! Yang ada alkitab dari Gereja Katolik. Lah, sejak kapan ada hak ciptanya? Sebelum tersusun menjadi satu buku, ada banyak sekali karangan mengenai iman yang tidak semuanya membangun, ada karangan yang menceritakan kisah hidup Yesus dari lahir, masa anak-anak, remaja, hingga dewasa dan mengasosiasikan Kristus sebagai anak nakal dan “tukang sihir” yang mampu mengerakkan batu di depan teman-teman Nya. Tentu dengan kekuasaan tidak dapat sesat-nya (infalibilitas) seorang paus, maka dikira perlu sebuah tulisan yang tersusun demi pegangan bagi iman umat serta pewarta sabda Allah. Maka, paus mengumpulkan seluruh tulisan yang menyangkut keimanan Kristen (saat itu ada beratus-ratus tulisan) dan disortir. Yang terpilih adalah yang tidak menyesatkan umat Allah. Dan sisanya yang dianggap sangat-sangat melenceng dari Alkitab dan keimanan serta fakta yang ada, di musnahkan.

Jadi, apakah Deuterakanonika dalam Alkitab yang katanya alkitab orang Katolik adalah tambahan buatan paus? Jawabannya tidak! Marthin Luther, si penghianat Gereja lah yang mencabut Deuterakanonika dari alkitabnya untuk kepentingan gerejanya sendiri. Jadi, kalau ada yang bilang, “Mana alkitab Gereja Katolik?” Katakan padanya, “Gereja ku lah yang menyusun itu dengan kekuasaan tidak dapat sesat-nya (infalibilitas) paus kami. Seharusnya aku yang bertanya, dimana alkitabmu. Bersyukurlah bahwa Gereja Katolik tidak sepicik itu mengambil hak cipta Alkitab yang sebenarnya adalah Roh Kudus yang memiliki hak ciptanya.” Dan, apa hubungannya Tradisi Suci dengan Alkitab?

KGK 80 "Tradisi Suci dan Kitab Suci berhubungan erat sekali dan terpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan caratertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama" (DV 9). Kedua-duanya menghadirkan dan mendayagunakan misteri Kristusdi dalam Gereja, yang menjanjikan akan tinggal bersama orang-orang-Nya "sampai akhir zaman" (Mat 28:20)

Ibarat seorang pria dan wanita yang dengan sempurna diciptakan oleh Allah yang Maha Kuasa di Taman Eden, Allah melihat kalau manusia itu tak baik sendirian, maka diberikanlah seorang yang sepadan dengan pria itu yang diambil dari tulang rusuk pria tersebut dan di persatukan oleh Allah dalam pernikahan kudus begitu jugalah antara Tradisi dan Alkitab. Alkitab lah yang membantu tradisi dan saling menyatu.

3. Magisterium
Apa ada yang masih asing dengan kata ini? Wajar, karena gak mau mengeksplor mengenai iman Katoliknya sendiri. Magisterium adalah salah satu wewenang Gereja Katolik yaitu mengajar. Salah satu produk dari Magisterium adalah Katekismus Gereja Katolik (KGK). Tuh, kalau kalian sering baca quote dari blog ini yang ada KGK lalu dilanjutkan dengan angka, itulah Katekismus Gereja Katolik.

Kenapa wewenang mengajar hanya dipegang teguh oleh Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik? Jawabannya simpel, agar tidak terjadi salah tafsir yang menyebabkan 39.000 lebih denominasi Kristen menyebar di seluruh dunia yang tak jelas apa dasarnya membuat denom tersebut. Baiklah, tak usah memikirkan mereka, kita fokus ke pendalaman iman Katolik. Berikut dasarnya kenapa Gereja yang hanya berhak menjadi pengajar mengenai iman.

2 Petrus 1:20-21: 20Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri,21sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.

Sudah jelas, bahwa alkitab yang dianggap oleh gereja sebelah sebagai kebenaran mutlak pun tak di jalankan. Dan Gereja Katolik lah yang benar-benar mengikuti isi alkitab bahwa pengajaran itu adalah haknya Gereja Katolik sehingga adanya satu kesatuan pengajaran yang membuat umat yakin bahwa ajaran dari Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik adalah konkret dan terus berkembang tanpa membuat umat bingung.

KGK 85 "Adapun tugas menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu, dipercayakan hanya kepada Wewenang Mengajar Gerejayang hidup, yang kewibawaannya dilaksanakan atas nama Yesus Kristus" (DV 10).

Tradisi, alkitab, dan magisterium ibaratkan makanan 4 sehat 5 sempurna. Apa maksudnya? Jika hanya 1 dasar iman yaitu Tradisi, maka Gereja Katolik hanyalah kumpulan orang-orang pecinta tahyul. Jika hanya Alkitab, maka Gereja Katolik memiliki 39.000 denominasi yang menurut data setiap minggunya 1 denominasi gereja muncul di Amerika dan hanya bertahan 2 keturunan setelah itu musnah. Dan jika dasar Gereja Katolik hanya pengajaran, makan Gereja Katolik berisikan orang-orang yang hanya haus kepuasan religius intelektual.

Tradisi, Alkitab, dan Magisterium adalah “makanan dan minuman” yang utuh. Tradisi dan Alkitab bagaikan makanan diatas piring, tanpa minuman yaitu pengajaran (magisterium), tenggorokan pasti seret.

Sumber: http://catholicyouthid.blogspot.com/2016/07/3-dasar-iman-katolik-tradisi-alkitab.html

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP