Tampilkan postingan dengan label Sakramen Minyak Suci. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sakramen Minyak Suci. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Oktober 2019

Paham tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit

Sakramen pengurapan orang sakit memberikan rahmat khusus yang mempersatukan si sakit lebih erat dengan Pribadi Kristus untuk kebaikannya dan kebaikan seluruh Gereja. Sakramen ini memberikan penghiburan, kedamaian, keberanian, dan bahkan pengampunan dosa jika si sakit tidak mampu mengakukan dosanya. Kadang-kadang jika dikehendaki Allah, Sakramen ini bahkan dapat mengembalikan kesehatan fisik. Secara umum, Pengurapan ini mempersiapkan si sakit untuk perjalanan menuju Rumah Bapa.

Sejarah Perkembangannya

Pengurapan orang sakit dalam dunia Perjanjian Lama biasa sekali, dan dimaksudkan sebagai obat (lih. Yes 1:6; Yer 8:22; Luk 10:34). Maka tidak mengherankan bahwa para rasul juga “mengoles banyak orang dengan minyak dan menyembuhkan mereka” (Mrk 6:13). Belum tentu bahwa di situ terjadi mukjizat; bisa jadi bahwa itu penyembuhan biasa dengan “obat tradisional”. Tetapi perbatasan antara “yang biasa” dan “yang dikerjakan oleh Allah” tidak selalu jelas. Dan tidak jarang pengobatan seperti itu disertai doa-doa, seperti yang dikatakan dalam surat Yakobus:

Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila didoakan dengan yakin, sangat besar kuasanya (Yak 5:14-16).

Langsung kelihatan bahwa doa malah menjadi yang paling penting, bukan hanya dalam ayat-ayat ini saja, melainkan juga dalam ayat-ayat yang mendahului (ay. 13) dan yang menyusul, yang menampilkan Elia sebagai “tokoh doa” (ay.17-18). St. Yakobus berbicara mengenai daya kekuatan doa. Dalam kerangka itu ia juga berbicara mengenai doa jemaat untuk orang yang sakit. Apakah doa dengan pengurapan itu sudah merupakan suatu sakramen? Sulit ditentukan. Yang jelas bahwa ini doa resmi, sebab yang membawakannya “para penatua jemaat”, yang dipanggil secara khusus. Dan keistimewaannya, dilakukan sambil “mengoles dengan minyak dalam nama Tuhan”. Pengolesan dengan minyak bukan pengobatan biasa, sebab dilakukan “dalam nama Tuhan” dan disertai doa resmi. Semua itu sudah amat jelas menunjuk ke arah “sakramen” walaupun upacaranya belum sangat jelas. Rupa-rupanya umat perdana mengenal pengurapan orang sakit, yang bersifat keagamaan.

Tetapi apakah upacara ini berasal dari Yesus atau dikehendaki oleh Yesus? Jawaban atas pertanyaan ini ialah, bahwa dalam hal ini – sama seperti dengan Ekaristi – Yesus rupa-rupanya mengikuti adat-istiadat orang Yahudi. Dari mazmur-mazmur kentara bahwa orang Yahudi mempunyai kebiasaan berdoa kepada Tuhan, mohon penyembuhan dari sakit (lih. Sir 38:9). Mungkin dalam kerangka pemikiran yang sama. Yesus memberi perintah kepada para murid-Nya agar secara khusus memperhatikan orang sakit (Mrk 6:13). Para rasul menaati perintah Yesus itu, dalam kerangka adat-kebiasaan bangsa Yahudi. Yesus mendukung tradisi Yahudi. Sebagaimana untuk perayaan Ekaristi Ia tidak memberikan banyak petunjuk khusus, begitu juga untuk upacara pengurapan orang sakit secara Kristiani tidak ada banyak instruksi. Upacara itu berkembang lambat-laun dalam tradisi Kristen sendiri.

Praksis umat perdana dijalankan terus di dalam Gereja. Tetapi kesadaran bahwa upacara ini sebuah sakramen, baru dirumuskan dengan jelas dalam abad ke-12. Upacara liturgis juga berkembang langkah demi langkah dalam tradisi Gereja. Dalam abad kelima Paus Inosensius I mengatakan mengenai Yak 5:14-16:

Jelas sekali bahwa teks ini harus diterima dan dimengerti dalam hubungan dengan orang sakit, yang dapat diurapi dengan minyak krisma suci, yang telah dipersiapkan oleh uskup. Minyak itu boleh dipakai untuk mengurapi tidak hanya oleh para imam tetapi oleh semua orang Kristen, bila mereka sendiri atau orang sekeluarga membutuhkannya.

Tampaknya pada waktu itu yang pokok malah minyak, yang diberkati oleh uskup. Setiap orang boleh mengoleskannya, barangkali juga pada dirinya sendiri. Dalam abad ke-9 peraturan diubah lagi. Yang boleh menerimakan sakramen ini hanyalah para imam saja, dengan menggunakan minyak yang telah diberkati oleh uskup dan dengan memakai upacara dan doa-doa yang telah ditetapkan. Penerimaan sakramen juga dibatasi. Lama-kelamaan sakramen ini hanya diterimakan kepada orang yang sakit keras, hampir mati. Sejak itu orang berbicara mengenai “pengurapan terakhir”. Pada tahun 1972 upacara diubah lagi dan disebut “pengurapan orang sakit”, sebab menurut peraturan baru itu, sakramen ini diberikan kepada orang beriman “bila ia sakit berat, entah karena usia lanjut entah karena penyakit”. Kecuali itu ditambahkan penjelasan ini: “Untuk mengetahui, apakah seseorang sakit berat atau tidak, cukuplah penilaian umum dan bijaksana; dalam hal ini pertimbangan seorang dokter sering dapat menolong”. Jadi, sakit berarti “sakit berat”, tetapi tidak berarti “bahaya maut”. Dari pihak lain harus dikatakan bahwa “sakit berat” selalu mengandung bahaya maut atau setidak-tidaknya sudah dibayangi oleh kegelapan maut. Maka sebetulnya sakramen ini lebih baik disebut sakramen pengharapan, entah mengharapkan penyembuhan entah mengharapkan kekuatan untuk menghadapi maut.

Sumber: https://pendalamanimankatolik.com/tag/ekaristi/

baca selanjutnya...

Rabu, 02 Agustus 2017

Sakramen Pengurapan Orang Sakit

Pengurapan Orang Sakit adalah sakramen penyembuhan yang kedua setelah Sakramen Tobat. Dalam sakramen ini seorang imam mengurapi si sakit dengan minyak yang khusus diberkati untuk upacara ini. “Pengurapan orang sakit dapat diberikan bagi setiap umat beriman yang berada dalam bahaya maut yang disebabkan sakit atau usia lanjut” (Kanon 1004; KGK 1514). Baru menderita sakit atau pun makin memburuknya kondisi kesehatan membuat sakramen ini dapat diterima berkali-kali oleh seseorang.

Dengan pengurapan orang sakit, Gereja dalam keseluruhannya menyerahkan si sakit kepada kemurahan Tuhan, agar Ia menguatkan dan meluputkannya. Jika si sakit telah melakukan dosa, maka dosanya itu diampuni. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni (Yak 5:15).

Dalam bahaya maut, pengurapan orang sakit menguatkan manusia dalam menghadapi perjuangan terakhir dan menghantarnya kepada persatuan dengan Tuhan, yang melalui kematian telah masuk ke dalam kehidupan.

Dalam tradisi Gereja Barat, sakramen ini diberikan hanya bagi orang-orang yang berada dalam sakratul maut, sehingga dikenal pula sebagai “Pengurapan Terakhir”, yang diberikan sebagai salah satu dari “Ritus-Ritus Terakhir”. “Ritus-Ritus Terakhir” yang lain adalah pengakuan dosa (jika orang yang sekarat tersebut secara fisik tidak memungkinkan untuk mengakui dosanya, maka minimal diberikan absolusi, yang tergantung pada ada atau tidaknya penyesalan si sakit atas dosa-dosanya). Sekaligus juga diberikan Ekaristi. Bila diberikan kepada orang yang sekarat dikenal dengan sebutan “Viaticum“, sebuah kata yang arti aslinya dalam bahasa Latin adalah “bekal perjalanan”.

Tata Cara Pengurapan Orang Sakit

(I: Imam, U: Umat)

Tanda Salib
I: Semoga damai sejahtera dari Allah meliputi tempat ini dan semua yang tinggal di dalamnya.
U: Sekarang dan selama-lamanya.

Percikan Air Suci:
I: Semoga air suci ini mengingatkan saudara akan Sakramen Baptis yang telah saudara terima dan mengingatkan pula akan Yesus Kristus yang telah menebus kita melalui sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Amin

Tobat (kalau perlu dan bisa, si sakit dapat mengaku dosa)

Doa Pembukaan:
Ya Bapa yang maha pengasih, kami berkumpul disini ikut merasakan penderitaan Saudara…kami berharap Engkau berkenan melepaskan kami dari beban hati ini dan memberikan ketenangan, ketabahan, serta keselamatan kepada saudara kami. Kami mohon dengan sangat, sudilah Engkau mendengarkan keluh kesah dan kerinduan hati kami semua. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin

Bacaan (Mat 8: 5-8. 10.13; Yak 5: 14-16, atau yang sesuai) dilanjutkan Homili singkat.

Pengurapan:
I: Semoga dengan pengurapan suci ini, Allah yang maha rahim menolong Saudara dengan rahmat Roh Kudus.
U: Amin
I: Semoga Ia membebaskan Saudara dari dosa, menganugerahkan keselamatan dan berkenan menabahkan hati Saudara.
U: Amin
I: Marilah berdoa, Ya Allah, hamba-Mu yang sedang terbaring sakit ini telah menerima Sakramen Pengurapan. Ia sangat mendambakan rahmatMu untuk keselamatan jiwa dan raganya. Tunjukkanlah kasih sayang-Mu dan tabahkanlah hatinya dengan Roh-Mu. Semoga ia menjadi teladan kesabaran dan kebahagiaan oleh karena imannya yang teguh dan pengharapannya yang tak tergoncangkan. Semua ini kami mohonkan demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
U: Amin

Bapa Kami…(Doa Bapa Kami)

Komuni Bekal Suci (Viaticum) fakultatif

Sumber : http://pendalamanimankatolik.com/tag/sakramen-pengurapan-orang-sakit/

baca selanjutnya...

Minggu, 19 Juli 2015

Sakramen Minyak Suci

Mengapa Sakramen Minyak Suci atau Sakramen Pengurapan Orang Sakit itu Perlu?
Dengan pengurapan orang sakit, Gereja dalam keseluruhannya menyerahkan si sakit kepada kemurahan Tuhan, agar Ia menguatkan dan meluputkannya. Jika si sakit telah melakukan dosa, maka dosanya itu diampuni. “Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni”(bdk Yak 5:15).

Dalam bahaya maut, pengurapan orang sakit menguatkan manusia dalam menghadapi perjuangan terakhir dan menghantarnya kepada persatuan dengan Tuhan, yang melalui kematian telah masuk ke dalam kehidupan.

Bilamana Sakramen Pengurapan Orang Sakit Diberikan?
Sakramen Pengurapan Orang Sakit perlu diterima tiap saat penyakit memuncak menjadi gawat, yang menimbulkan keadaan jasmani manusia sangat mencemaskan.

Siapa yang Menerima Sakramen Pengurapan Orang sakit?
Penerima pengurapan ini ialah setiap orang beriman yang karena penyakit atau karena usia lanjut, berada dalam keadaan yang mengancam keselamatan nyawanya. Pengurapan dapat diulangi jika keadaan tersebut timbul kembali atau jika timbul satu kemelut yang lebih berat.

Kepada orang-orang tua yang sudah sangat lemah dapat diterimakan sakramen ini, meskipun tidak timbul keadaan sakit yang gawat. Juga anak-anak dapat menerima pengurapan, jika mereka sudah mencapai tahap penggunaan akal, sehingga mereka dapat mengalami penguatan dari sakramen pengurapan. Orang-orang sakit yang tak sadar lagi atau yang kehilangan penggunaan akal sehat, dapat menerima pengurapan, jika sewaktu dalam keadaan sehat mereka pernah menyatakan keinginannya untuk menerima sakramen ini.

Bagaimana jika si Sakit Meninggal Sebelum Imam Datang? Dapatkah Sakramen Diberikan?
Jika saat ajal sudah tiba sebelum imam datang, maka baginya diucapkan doa-doa, sedangkan pengurapan tidak dapat diberikan lagi. Tetapi, jika kematiannya masih diragukan, maka Sakramen Pengurapan dapat diterimakan sub conditione (= kondisi khusus).

Siapa yang Melayani Sakramen Pengurapan Orang Sakit?
Pelayan sebenarnya dari Sakramen Pengurapan Orang Sakit hanyalah imam.

Mereka yang menjalankan pelayanan ini adalah para uskup sebagai yang mengemban wewenang penuh, para imam paroki, para imam yang melayani rumah-rumah sakit dan rumah-rumah orang lanjut usia, serta pemimpin lembaga-lembaga pendidikan imam. Imam-imam lain dapat menerimakan Sakramen Pengurapan dengan persetujuan mereka yang disebut di atas.

Namun demikian, dalam hal darurat, semua imam dapat memberikan pelayanan Sakramen Pengurapan Orang Sakit, tetapi hendaknya hal itu dilaporkan kepada imam paroki atau imam yang bertugas dalam rumah sakit.

Bagaimana Sakramen Pengurapan Orang Sakit Dirayakan?
Perayaan Sakramen Pengurapan Orang Sakit terdiri atas dua bagian, yaitu: Liturgi Sabda dan perayaan Sakramen Pengurapan yang sebenarnya. Pada puncak perayaan, imam mengurapi si sakit dengan minyak suci pada dahi dan tangan sambil mengucapkan rumusan-rumusan tertentu. Dengan demikian jelas nampak karya Tuhan dalam sakramen ini, kurnia Roh Kudus dimohonkan bagi si sakit dan janji keselamatan diucapkan baginya, agar dalam ketakberdayaan jiwa-raganya, si sakit diluputkan serta dikuatkan, dan bila perlu, juga diampuni dosa-dosanya.

Untuk pengurapan sakramental digunakan minyak zaitun atau minyak lain dari tumbuh-tumbuhan yang telah diberkati oleh uskup dalam Misa Krisma pada hari Kamis Putih. Dalam keadaan darurat, setiap imam dapat memberkati minyak untuk pengurapan ini.

Jika dianggap perlu adanya pengakuan dosa, imam dapat melayani Sakramen Pengakuan Dosa kepada si sakit sebelum melayani Sakramen Pengurapan Orang Sakit.

Buah-buah rahmat apa saja yang diperoleh dari Sakramen Pengurapan Orang Sakit?
persatuan orang sakit dengan sengsara Kristus demi keselamatannya sendiri dan keselamatan Gereja;
penghiburan, perdamaian dan keberanian untuk menderita secara Kristen sengsara yang ditimbulkan oleh penyakit atau oleh usia lanjut;
pengampunan dosa, apabila orang sakit tidak dapat menrimanya melalui Sakramen Pengakuan;
penyembuhan, kalau ini berguna bagi keselamatan jiwa;
persiapan untuk peralihan ke hidup abadi

sumber : “Upacara Sakramen dan Pemberkatan untuk Pelayanan Pastoral” oleh P. Alex Beding SVD; Penerbit Nusa Indah
tambahan : Katekismus Gereja Katolik edisi Indonesia, Propinsi Gerejani Ende 1995, Percetakan Arnoldus - Ende

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP