Tampilkan postingan dengan label Ritus Pembuka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ritus Pembuka. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Oktober 2019

Salam dan Kata Pengantar

Salam
Sesudah tanda salib, sambil membuka tangan – atau dengan cara lain menurut kebiasan setempat – imam menyampaikan salam kepada umat dengan mengucapkan salah satu rumusan salam.

Beberapa rumusan salam yang biasa digunakan, misalnya:
Menurut Luk 1 :28
I : Tuhan bersamamu
U : Dan bersama rohmu
Atau
Menurut 2 Kor 13:13:
I : Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus besertamu
U : Dan sertamu juga

Makna salam dari imam dan jawaban umat adalah bahwa Tuhan sungguh hadir dalam diri imam dan dalam diri umat. Tuhan sungguh hadir di antara kita.
Salam liturgi janganlah diganti dengan salam seperti “Selamat Pagi”, karena hal itu akan membuyarkan suasana liturgis yang telah tercipta. Apalagi sebagian besar salam liturgi diambil dari Kitab Suci.

Pengantar
Setelah Imam menyampaikan salam kepada umat, imam memberikan pengantar singkat tentang inti misteri yang akan dirayakan.

Sumber: https://santopauluspku.wordpress.com/2014/06/21/salam-dan-kata-pengantar/

baca selanjutnya...

Minggu, 12 Mei 2013

Katekese Liturgi Minggu Pertama Bulan Mei Dengan Topik PEMBUKAAN EKARISTI

Umum:
Bapak/Ibu/Saudara/i yg terkasih dalam Yesus Kristus, bulan Mei adalah Bulan Liturgi Nasional (disingkat BULINAS). Tahun 2013 ini, selama bulan Mei, setiap kali misa mingguan, 10-15 menit sebelumnya, akan diadakan katekese liturgi, khususnya tentang Tata Perayaan Ekaristi, sehingga seluruh umat dapat mengikuti perayaan Ekaristi dengan sadar, aktif dan berpartisipasi sesuai dengan fungsi dan peranannya.

Bulan Mei terdiri dari 4 minggu. Ada 4 topik yang akan dibahas, yakni: Pembukaan, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi dan Penutupan.

Khusus:
Pada minggu pertama ini, topik katekese tentang PEMBUKAAN akan membahas persiapan mengikuti perayaan Ekaristi sampai dengan Doa Pembukaan.

1. Perayaan Ekaristi adalah puncak hidup kita sebagai umat kristiani, dimana kita dipertemukan dengan Allah Bapa yang mahakuasa, mahatinggi, pencipta langit dan bumi, serta pemelihara alam semesta. Kita bersama dengan Yesus Kristus mempersembahkan kurban yang suci murni, demi keselamatan umat manusia. Maka persiapan yang cukup harus kita lakukan, agar kita layak mengikuti perayaan yang suci ini. Kita dianjurkan membersihkan diri, lahir dan batin, jasmani dan rohani. Kita dianjurkan untuk berpuasa (minimal sejam sebelum misa), berpantang, atau mengaku dosa sebelum Misa. Kita dianjurkan untuk mengenakan pakaian rapi, bersih, resmi, sopan, sebagaimana layaknya kita kenakan dalam perjamuan bersama, untuk menghormati siapa saja yang hadir di situ, terutama Tuhan Yesus dan Allah Bapa yang maha-agung. Kita dianjurkan mengenakan sepatu, baju ber-krah, panjang rok di bawah lutut; dan tidak dianjurkan mengenakan sandal jepit, kaos oblong, baju tanpa lengan, “you can see”, atau pakaian santai (bdk.Kel 3:2 Musa melepas sandalnya di hadapan Yahwe). Dasarnya: aspek kepantasan dan kebersamaan; berfokus pada Kristus dan tidak mempertontonkan diri.

2. Kita masuk ke dalam gedung gereja berarti memasuki rumah Tuhan yang suci. Ada “batas suci” meski tidak tertulis. Di kanan-kiri pintu ada air suci, kita bisa mengambilnya dengan tangan kanan, dan kita buat tanda salib, sebagai tanda bahwa kita memasukkan diri ke dalam persekutuan ilahi Bapa-Putera-Roh Kudus; kita masuk dalam kesucian, persis seperti waktu kita dibaptis dengan air suci. Dengan demikian kita masuki suasana surgawi, tenang, hening, damai, dan kita tinggalkan suasana duniawi yang ramai. Maka suasana di dalam gereja kita jaga tetap HENING. Alat komunikasi seperti Handphone sebaiknya di-silent-kan. Makanan & minuman sebaiknya ditinggal di luar gereja. Anak-anak sebaiknya dijaga orangtuanya supaya tidak lari-lari dan berteriak.

3. Kita menuju bangku yang kosong, dengan terlebih dulu menghormati Altar sebagai tempat yang suci, dimana Yesus mempersembahkan diriNya kepada Allah Bapa; atau menghormati Tabernakel, dimana Yesus bertahta dalam sakramen Mahakudus. Penghormatan bisa dengan MEMBUNGKUK, atau BERLUTUT dengan satu kaki menyentuh lantai. Membungkukkan badan artinya menghormat dan siap melaksanakan tugas dari Allah. Berlutut artinya menghormat dan mengakui kerendahan kita di hadapanNya. Selanjutnya di bangku kita bisa berdoa secara pribadi, atau membaca Kitab Suci, sambil menunggu dimulainya perayaan Ekaristi. Dalam posisi duduk, kita tidak mengobrol atau berisik, tidak main game/SMS yang tidak perlu, karena kita bertatap muka dengan Tuhan.

4. Perayaan Ekaristi dimulai dengan perarakan rombongan Imam memasuki gereja. Paduan suara kelompok koor dan Umat sambil BERDIRI, menyambut kehadiran Allah yang diwujudkan dengan kehadiran pribadi Imam (=in persona Christi); juga dengan kitab suci Evangeliarium yang dibawa tinggi-tinggi oleh Diakon dalam perarakan. Lagu perarakan pembukaan ini memasukkan kita ke dalam suasana surgawi (pada Hari Raya, misdinar membawa pedupaan bernyala yang menyebarkan asap ke dalam gereja).

5. Rombongan Imam sesudah menghormati Altar, bisa dengan membungkukkan badan atau berlutut satu kaki, kemudian menuju bangku atau posisi masing-masing sesuai dengan fungsinya.

6. Imam membuka perayaan dengan Tanda Salib meriah/dinyanyikan, dan Salam, serta mengantarkan thema perayaan. Umat membuat tanda salib dengan mantab: di dahi, di perut/pusar, di pundak kiri dan pundak kanan, sambil menjawab mantab “Amin”, artinya menyetujui, meyakini. Umat menyimak pengantar thema dengan penuh perhatian.

7. Agar layak mengikuti perayaan Ekaristi, Imam memimpin Umat untuk mengadakan penelitian diri, mengakukan kesalahan, bisa dengan menyanyikan lagu Tuhan Kasihanilah Kami. Sikap Umat BERLUTUT, sebagai sikap ketidakpantasan di hadapan Tuhan. Mengakui kesalahan bisa dengan menepuk-nepuk dada, sebagai ungkapan kerendahan di hadapan Allah. Kemudian Imam mengajak Umat, untuk bersama-sama melambungkan madah pujian Gloria dengan mantab. Sesudah Gloria, Imam melanjutkannya dengan Doa Pembukaan yang dijawab umat dengan “Amin”. Sesudah itu Imam dan Umat DUDUK untuk mendengarkan Sabda Tuhan dengan hormat dan khidmat. Duduk artinya siap sedia menyimak bacaan demi bacaan, sebab dalam pembacaan Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Kristus hadir di dalamnya. Kita bertatap muka dengan Tuhan.

Sumber:
Bahan Katekese Liturgi di Paroki St. Herkulanus Depok.

baca selanjutnya...

Sabtu, 30 Juli 2011

Makna Salam Dalam Liturgi

Untuk mengawali Misa Kudus, sesudah membuat tanda salib, sambil membuka tangan, imam menyampaikan salam kepada umat beriman dengan mengucapkan: “Tuhan sertamu”. Umat menjawab: “Dan sertamu juga”. Atau dengan ucapan salam yang lain seperti yang tertera dalam buku Tata Perayaan Ekaristi (TPE).

Tradisi saling memberi salam ini sudah ada sejak jaman Perjanjian Lama, seperti tertulis dalam kitab 2 Raja-raja 4:29, “Jangan berhenti untuk memberi salam kepada siapa pun yang kau jumpai di jalan. Kalau orang memberi salam kepadamu, jangan buang waktu untuk membalas salamnya.” Memberi dan menerima salam merupakan ungkapan bahwa kedua belah pihak memiliki relasi yang dekat.

Dalam tradisi gereja, praktek penyampaian salam pemimpin kepada umat juga sudah berlangsung sejak abad V, yaitu seperti yang dilaksanakan oleh Santo Agustinus yang memberi salam sebelum pembacaan Injil.

Ungkapan Salam dalam Perayaan Ekaristi

Ungkapan salam dalam perayaan Ekaristi bersumber dari Alkitab. Ungkapan salam yang klasik dan bersifat biblis yang banyak digunakan dalam perayaan Ekaristi terdapat dalam kitab Ruth 2:4. Tidak lama kemudian Boas datang dari Betlehem dan memberi salam kepada para penuai. “Semoga TUHAN menyertai kalian”, katanya. Para penuai menjawab, “Semoga TUHAN memberkati Bapak." (Ruth 2:4).

Rumusan kata-kata untuk salam dalam Ritus Romawi adalah: Dominus Vobiscum, dan umat menjawab: Et cum spiritu tuo. Dalam TPE 2005 kata-kata salam tersebut diterjemahkan dalam dua alternatif, yaitu: Tuhan sertamu – Dan sertamu juga, dan Tuhan bersamamu – Dan bersama rohmu. Kedua terjemahan tersebut telah mendapat pengesahan dari para Uskup KWI dan pengakuan Tahta Suci. Bahkan TPE 2005 memberikan tujuh alternatif salam sesuai dengan keperluan. Alternatif salam nomor 6 digunakan khusus untuk Misa Arwah, sedangkan alternatif salam nomor 7 khusus diperuntukkan bagi Uskup.

Dalam Misa Kudus, ada empat kali imam menyampaikan salam ini kepada umat untuk membangun kesadaran umat bahwa Tuhan sungguh hadir di tengah-tengah kita. Salam yang pertama disampaikan imam dalam ritus pembuka sesudah membuat “Tanda Salib”, kedua sebelum pembacaan Injil, ketiga sebelum Doa Syukur Agung, dan keempat sebelum berkat penutup.

Makna Salam dalam Perayan Ekaristi

Dengan kata-kata salam ini, imam menyatakan bahwa Tuhan sungguh hadir di tengah umat yang siap beribadat. Dan dengan jawabannya, umat menyatakan bahwa Tuhan yang sama sungguh hadir dalam diri imam. Jadi pada saat melaksanakan dialog salam ini imam dan umat sedang menyadari bahwa Tuhan benar-benar hadir di tengah kita. Selain itu, salam dari imam dan jawaban dari pihak umat memperlihatkan misteri Gereja yang sedang berkumpul (PUMR 50).

Salam dalam Perayaan Ekaristi yang bersumber dari Alkitab atau salam alkitabiah ini tidak sama dengan ‘salam sekular’ seperti ; selamat pagi, selamat sore, bapak-bapak dan ibu-ibu, dll. ’Salam sekular’ semata ungkapan relasi yang hangat antara dua pihak. Salam alkitabiah dalam Perayaan Ekaristi ini merupakan puncak kesadaran dan pernyataan iman umat akan kehadiran Allah. Kesadaran ini dibangun melalui suasana dan alur ibadat mulai dari perarakan, nyanyian pembukaan, tanda salib, yang pada tahap ini menanjak pada kesadaran dan pernyataan iman akan kehadiran Allah.

Cara imam memberikan salam dan cara umat menanggapi salam menjadi hal yang sangat penting. Salam pada hakikatnya harus komunikatif: harus benar-benar ada komunikasi antara pemberi salam (imam) dan penerima salam (umat). Dari pihak imam, komunikasi diungkapkan lewat: pandangan mata, mimik, dan tata gerak tangan. Semua ini benar-benar menopang kata-kata salam yang diungkapkan secara mantap. Umat harus menjawab salam dari imam ini dengan mantap pula, karena dengan jawaban itu umat sedang menyatakan imannya akan kehadiran Tuhan. Komunikasi dan kemantapan salam harus terungkap baik ketika salam itu dilagukan maupun dilafalkan. Maka umat mesti menghafal lagu untuk salam.

Kata salam oleh imam kepada umat bukanlah sekadar bersifat manusiawi – sosial seperti budaya sapa-menyapa, dan bukan basa-basi, melainkan suatu pewartaan karya keselamatan Allah melalui Kristus. Umat menjawab salam dari imam dengan jawaban Dan bersama rohmu atau Dan sertamu juga (dalam bahasa Inggris: And also with you). Sebagaimana salam dari imam bukan suatu salam basa-basi, demikian pula jawaban umat bukan pula basa-basi sekadar menanggapi sapaan imam. Jawaban umat merupakan tanggapan kepada pelayan Perayaan Ekaristi yang adalah “hamba Kristus yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah” (1 Kor 4:1). Dengan demikian, salam dalam Perayaan Ekaristi bukan sekadar salam yang bersifat sosial manusiawi, melainkan bersifat teologis, yaitu merayakan misteri kehadiran Tuhan yang menyelamatkan di tengah umat-Nya.

Setelah imam menyampaikan salam kepada umat, imam, atau diakon, atau pelayan lain dapat memberikan pengantar sangat singkat kepada umat tentang Misa yang akan dirayakan (PUMR 50). Pada bagian pengantar ini, disampaikan penjelasan singkat mengenai tema atau isi misteri iman yang dirayakan dalam Perayaan Ekaristi saat itu. Adapun yang boleh menyampaikan kata pengantar ialah imam yang memimpin Misa, atau imam lain atau diakon atau pelayan yang lain.

Marilah kita siapkan pikiran dan hati kita untuk menyambut salam dari imam dengan mantap, karena Tuhan sungguh hadir di tengah-tengah kita dalam Perayaan Ekaristi. Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Oleh : Ign. Djoko Irianto
*) Penulis, Prodiakon Paroki St. Herkulanus

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP