Tampilkan postingan dengan label Tujuan dan Makna Devosi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tujuan dan Makna Devosi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Agustus 2019

Devosi, Pengembang Spiritualitas Umat Beriman

Oleh: Alexander Ivan P.P,dkk.

Pengantar
Tentu kita tidak asing lagi dengan istilah ‘devosi’. Sejak kecil secara tidak sadar kita telah diajarkan untuk berdevosi baik itu kepada Yesus, Bunda Maria atau pun orang kudus. Dalam devosi kepada Yesus, para kudus atau Santa Maria, kita biasanya diajak untuk memohon pertolongan seperti antara lain: penyembuhan , keberhasilan pekerjaan, jodoh, lulus ujian, tambahan penghasilan, pertobatan, bebas dari hama, wabah, perang dan bencana alam. Akan tetapi, apakah kita mengetahui makna sesungguhnya dari devosi ini? Bagaimana menyikapi kebiasaan-kebiasaan devosional yang sering dilakukan apabila berhadapan dengan liturgi Gereja? Paper ini akan secara ringkas menjawab dua pertanyaan tersebut.

Pengertian Devosi
Devosi itu berasal dari bahasa latin yang berarti penghormatan. Dalam Direktorium Tentang Kesalehan Umat Dan Liturgi. Asas-Asas Dan Pedoman, yang diterbitkan Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen no 8, istilah devosi digunakan untuk melukiskan “aneka kebiasaan eksternal (misalnya doa, madah, kebiasaan yang dikaitkan dengan waktu atau tempat tertentu, panji-panji, medali, busana, atau kebiasaan. Dijiwai oleh sikap iman, kebiasaan-kebiasaan eksternal seperti ini mengungkapkan hubungan khusus kaum beriman dengan ketiga Pribadi Ilahi; juga hubungan mereka dengan Santa Perawan yang mendapat karunia istimewa dan gelar-gelar yang mengungkapkan karunia itu, orang-orang kudus yang sudah berbahagia seperti Kristus yang memiliki peran khusus dalam kehidupan Gereja”.

Sejarah Perkembangan Devosi
Devosi tampaknya sudah berkembang dalam Gereja sejak awal. Di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, kita dapat melihat kegiatan devosional seperti kisah perziarahan umat Israel ke Bait Allah. Sekitar tahun 150, umat mulai menyertakan para martir dalam kebaktian. Bahkan sejak abad II, patung dan gambar Kristus dipasang pada kuburan dan tempat berdoa. Selanjutnya sekitar tahun 200, berkembang devosi rakyat secara khusus kepada para martir, yang rupanya semakin kurang tertuju kepada Allah. Selama abad IV sampai dengan abad VI, muncul kebiasaan ziarah ke makam para martir. Patung dan gambar orang kudus semakin besar peranannya dan dihormati. Sejak abad VII sampai zaman pertengahan, devosi berkembang pesat, bahkan tanpa kendali. Secara khusus sejak abad XIII, devosi kepada Santa Maria cenderung menjadi liar.

Macam-macam Devosi
Hingga saat ini, kita dapat melihat banyak macam devosi yang biasanya dikelompokkan dalam dua jenis menurut objek yang didevosikan yakni, devosi kepada Yesus Kristus dan kepada Orang Kudus termasuk Maria. Walaupun begitu ada pula macam devosi di luar dua kelompok besar tersebut. Antara lain: devosi kepada Tritunggal Mahakudus, devosi kepada Roh Kudus, devosi kepada Para Malaikat, devosi kepada jiwa-jiwa di api penyucian, devosi kepada Gereja dan Bapa suci.

Kita dapat melihat tiga kelompok besar devosi dalam Puji Syukur.[3] Devosi kepada Yesus, jika kita hitung di dalam Puji Syukur jumlahnya sembilan buah. Devosi kepada Orang Kudus ada sepuluh buah. Itu pun belum termasuk doa-doa yang diletakkan di luar kelompok tersebut, seperti doa Malaikat Tuhan dan Ratu Surga yang biasa didoakan 3 kali sehari (setiap jam enam pagi, siang dan sore).

Kesalehan yang Merakyat
Devosi merupakan salah satu sarana selain Liturgi yang bertujuan untuk meningkatkan spiritualitas umat beriman. Spiritualitas umat beriman itu adalah suatu kesadaran akan kehadiran Roh Allah dalam diri orang beriman, dengan demikian batin orang terarah kepada Allah dalam melaksanakan panggilan hidup sesuai dengan nilai-nilai Injil. Di sini terlihat sisi religiositas dari kegiatan devosional. Dengan melakukan kegiatan devosional dalam bentuk ulah kesalehan seperti yang telah ditunjukkan macam-macamnya di atas, kehidupan spiritualitas umat mendapat tempatnya untuk bertumbuh selain dalam liturgi.

Di dalam SC. art. 12-13 dijelaskan bahwa hidup rohani tidak tercakup seluruhnya dengan hanya ikut serta dalam liturgi. Oleh karena manusia Kristiani, yang memang dipanggil untuk berdoa bersama, harus memasuki biliknya juga untuk berdoa kepada Bapa ditempat yang tersembunyi. Bahkan menurut amanat Rasul (Paulus), umat beriman harus berkanjang dalam doa (1Tes.5:17). Oleh karena itu, di luar liturgi, seluruh umat Kristiani hendaknya mengembangkan ulah kesalehannya. Dalam melaksanakan ulah kesalehannya umat Kristiani juga perlu menyesuaikannya dengan dengan hukum-hukum dan norma-norma gereja; hal ini sangat dianjurkan terutama bila dijalankan atas penetapan takhta apostolik.

Devosi merupakan gerakan yang merakyat karena telah berkembang pesat di kalangan umat beriman khususnya para awam. Timbulnya gerakan kesalehan ini tidak terlepas dari refleksi iman umat akan karunia Allah dalam hidup mereka. Melalui gerakan devosional ini umat beriman berupaya untuk menerjemahkan karunia Allah ke dalam hidupnya sendiri sekaligus mewartakannya. Umat berupaya memberikan kesaksian tentang iman yang telah diterimanya dan memperkayanya dengan ungkapan-ungkapan baru dan fasih. Dapat dikatakan bahwa gerakan kesalehan yang merakyat ini merupakan ungkapan sejati kegiatan perutusan yang spontan dari umat Allah yang didorong oleh Roh Kudus; Roh Kuduslah pelaku utamanya. Inilah yang menurut Paus Fransiskus I sebagai usaha umat beriman di suatu bangsa untuk terus menerus mengevangelisasi dirinya sendiri.

Dijiwai sikap iman, kebiasan-kebiasaan ulah kesalehan seperti ini mengungkapkan hubungan khusus kaum beriman dengan Ketiga Pribadi Ilahi; juga hubungan mereka dengan Santa Perawan Maria juga orang-orang kudus yang sudah berbahagia. Hal ini dapat dilihat dari macam-macam devosi yang telah ditunjukkan sedikit di atas. Melalui devosi, umat secara terus-menerus memperdalam iman kepercayaan mereka dan mempererat hubungan mereka dengan Tritunggal Mahakudus. Lagi pula, dengan berdevosi kepada para kudus dan Santa Perawan Maria, umat beriman memperoleh rahmat untuk mempererat hubungannya dengan Allah Tritunggal; sesuai dengan gelar Maria sang pengantara (mediatrix) kita diantar kepada Putranya Yesus Kristus dalam persekutuannya dengan Bapa dan Roh Kudus.

Begitu pula ulah kesalehan lain yang khas bagi gereja-gereja setempat memiliki makna istimewa bila dilakukan atas penetapan para uskup menurut adat kebiasaan buku-buku yang telah disahkan. Akan tetapi, sambil mengindahkan masa-masa liturgi, ulah kesalehan perlu diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan liturgi suci, sedikit banyak harus bersumber pada liturgi dan mengantar umat kepada liturgi sebab menurut hakekatnya liturgi memang jauh lebih unggul dari semua ulah kesalehan itu.

Walaupun banyak manfaat yang diperoleh umat dengan berdevosi, tidak sedikit pula kritik ditujukan kepada kegiatan devosional. Pertama, banyak umat tidak dapat membedakan doa rosario dengan ekaristi. Barangkali umat tidak sadar bahwa Ekaristi nilainya lebih tinggi dibanding doa rosario. Kedua, kita diajak untuk waspada terhadap praktek-praktek ziarah dan novena yang sering bergandengan dengan turisme. Berikut ini akan kita lihat bagaimana seharusnya gerakan devosional yang kita lakukan di hadapan Liturgi dan bagaimana kita seharusnya merefleksikan kegiatan ziarah agar terhindar dari turisme semata.

Keunggulan Liturgi dari Devosi
Devosi, dapat dikatakan sifatnya turunan dari Liturgi. Dengan demikian, devosi haruslah seolah-olah mengantar umat kepada Liturgi. Hal ini dikarenakan Liturgi adalah puncak yang dituju oleh kegiatan Gereja dan serentak sebagai sumber asal semua kekuatan Gereja. Oleh karena itu, devosi haruslah ditata sedemikian rupa agar terlihat perannya sebagai pengantar umat kepada Liturgi; menunjukkan hakekat liturgi yang jauh mengungguli devosi dan tidak sebaliknya.

Devosi yang benar seharusnya mengantarkan umat kepada penghayatan yang mendalam akan tujuh sakramen Gereja, khususnya perayaan Ekaristi. Melalui devosi ini, umat dibantu dalam menghayati makna simbolis dari sakramen-sakramen. Melalui devosi, umat diajak untuk terus menggali makna yang terdalam dari sakramen-sakramen khususnya sakramen Ekaristi. Oleh karena itu penting untuk diketahui, “kegiatan adorasi di luar misa memperpanjang dan mengintensifkan segala yang terjadi dalam perayaan Ekaristi sendiri.”

Makna ziarah dan tempat ziarah
Ziarah merupakan fenomena religius yang umum. Ziarah dipandang umat beriman sebagai jalan pemenuhan iman rohani pada dirinya sehingga ziarah merupakan bagian yang paling penting untuk dijalankan. Dalam sejarahnya gereja memahami bahwa ziarah merupakan jalan tobat, olah askes, dan puasa. Ziarah dipandang umat beriman sebagai ungkapan iman akan makna gereja yang harus berjalan ke tanah air surgawi.

Dalam berbagai kesempatan, umat beriman memiliki cara pandang yang berbeda tentang ziarah. Umat beriman berpandangan bahwa tempat-tempat ziarah memiliki sesuatu yang paling bermakna yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan camping-camping rohani. Tempat-tempat ziarah seperti merupakan tempat yang keramat bagi umat beriman yang dikuduskan bagi umat kristiani, seperti tanah suci (tempat di mana Yesus lahir, hidup dan wafat), Roma (tempat Paulus menjadi martir) dan Santiago de Compostella (tempat makam Santo Jakobus berada). Sekarang pun telah berkembang tempat-tempat ziarah lokal seperti sendang sono, sriningsih dan sebagainya. Sama seperti bentuk devosi yang lain, ziarah merupakan suatu ulah kesalehan yang dilakukan umat beriman untuk mengembangkan spiritualitas mereka. Seperti yang dikawatirkan Romo Jacobus, kita harus waspada kalau-kalau suatu ziarah merupakan kegiatan turisme biasa. Kadang kala kita dapat terjebak dalam pelbagai macam maniulasi ziarah; di mana nilai dari kegiatan ziarah hanya dirasakan sebagai rekreasi semata bahkan hanya dimaknai sebagai sumber penghasilan ekonomi.

Penutup
Devosi sebagai sarana untuk meningkatkan spiritualitas umat telah hidup dan berkembang sejak awal sejarah kekristenan. Devosi ini berkembang sejalan dengan perkembangan refleksi umat atas imannya akan Allah. Melalui gerakan devosional ini umat beriman berupaya untuk menerjemahkan karunia Allah ke dalam hidupnya sendiri sekaligus mewartakannya. Oleh karena itu, devosi haruslah mengantarkan umat kepada liturgi dimana karunia Allah Tritunggal dihadirkan dalam sakramen-sakramen khususnya sakramen Ekaristi. Dengan demikian, dapat dikatakan pula bahwa kegiatan adorasi di luar misa memperpanjang dan mengintensifkan segala yang terjadi dalam perayaan Ekaristi sendiri.

Daftar Pustaka
Martasudjita, E. Pr. Pengantar Liturgi:Makna, Sejarah, dan Teologi Liturgi. Kanisius:Yogyakarta, 1999
Tarigan, Jacobus, Pr. Ritus Kehidupan. Cahaya Pineleng: Jakarta, 2011.
Harun, Martin, OFM., T.Krispurwana Cahyadi, SJ. (editor). Evangelii Gaudium. Edisi Indonesia. Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI:Jakarta. 2014.
Joseph Ratzinger. Sacramentum Caritatis. Edisi Indonesia. Komisi Liturgi KWI:Jakarta. 2007.

Sumber: http://fraterxaverian.org/blog/2017/11/18/devosi-pengembang-spiritualitas-umat-beriman/

baca selanjutnya...

Selasa, 21 Juli 2015

Menyelaraskan Devosi dengan Liturgi

Malam itu, tas Pastor Bernard Boli Ujan SVD hilang. Isinya beberapa barang berharga, termasuk kamera. Lena Abdi, pemandu acara, meminta peserta yang mengetahui agar mengembalikan barang itu.

Esok paginya, ternyata tas itu sudah kembali utuh ke tangan pemiliknya. Itu karena devosi kepada Santo Antonius dari Padua. Orang bisa saja mengatakan peristiwa itu hanya kebetulan. Tetapi, hal yang kebetulan ini menjadi bukan hal biasa bagi orang-orang yang setiap hari berkutat mengenai devosi dan liturgi.

Lebih dari 100 orang perwakilan Komisi Liturgi dari 37 keuskupan se-Indonesia, para dosen liturgi se-Indonesia, pengurus Komisi Liturgi KWI, memperbincangkan devosi yang dirasakan semakin kebablasan. Mereka berkumpul untuk mencari cara bagaimana umat Katolik bisa kembali menghormati liturgi yang merupakan puncak iman Katolik.

Graha Wacana, sebuah tempat pertemuan milik SVD di Ledug, Prigen, menjadi tempat mereka berkumpul pada medio Juli lalu. Tempat berhawa sejuk di wilayah Keuskupan Malang itu menjadi saksi bisu pertemuan nasional lima tahunan Komisi Liturgi seluruh Indonesia tersebut.

Melalui bimbingan para pakar di bidang liturgi, spiritualitas, dan Kitab Suci, peserta mengembalikan porsi devosi dan liturgi seperti semula. Para pakar tersebut adalah Pastor Bernardus Boli Ujan SVD, Pastor Gerardus Majella Bosco da Cunha OCarm, Pastor Agustinus Lie CDD, Pastor Thomas Aquino Deshi Ramadhani SJ, dan Pastor Jacobus Tarigan Pr.

Peserta pertama-tama diajak untuk menelaah hasil penelitian yang dilakukan Komisi Liturgi KWI untuk menjajaki sejauh mana devosi berkembang di antara umat di seluruh Tanah Air. Pastor Christophorus Harimanto Suryanugraha OSC, Ketua Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia yang menjadi Ketua Panitia Pengarah, membeberkan hasil penelitian. Berpijak pada empat pertanyaan yang diajukan kepada Komisi-Komisi Liturgi dari 37 keuskupan, jawaban yang kembali memperlihatkan betapa devosi yang berkembang pada masyarakat Katolik sudah begitu marak.

Beraneka ragam

Pertanyaan-pertanyaan itu meliputi jenis devosi dan kesalehan umat di masing-masing keuskupan; motivasi yang mendasari praktik devosi dan kesalehan tersebut; hal-hal positif dari kegiatan dan penghayatan devosi; dan permasalahan yang muncul akibat dari devosi dan kesalehan umat tersebut.

Dari 33 keuskupan yang memberikan jawaban, ternyata ditemukan sedikitnya 55 jenis/bentuk dan kelompok umat yang berdevosi kepada pribadi-pribadi kudus seperti Allah Bapa, Yesus, Maria, orang kudus, dan jenis devosi lain. Tampak ada jenis devosi yang unik, seperti Ikatan Tenaga Dalam Murni, Misa Ayam Berkokok, dan Lucernarium.

Motivasi yang mendorong umat berdevosi juga bermacam-macam. Mulai dari keperluan pribadi sampai kepentingan masyarakat. Dari melanjutkan kebiasaan dalam keluarga sampai melanjutkan pengembangan devosi dari daerah asal misionaris. Tapi, ada juga yang hanya ikut-ikutan dan sekadar ingin tahu.

Apa pun alasan umat berdevosi, ternyata muncul dampak positif yang membawa angin segar dari segi iman umat. Dampak positif ini meliputi hidup eklesial, hidup spiritual, hidup sosial, dan hidup individual. Mulai dari perubahan hidup menjadi tahan menderita sampai muncul semangat bela rasa.

Namun, ibarat dua sisi mata uang, tetap muncul permasalahan berkaitan dengan sikap berdevosi umat. Masalah yang muncul meliputi adanya perpecahan, karena sebagian umat belum menerima kehadiran kelompok devosi, hirarki/paroki kurang mendampingi dan/atau tidak peduli terhadap praktik devosi yang dianggap meresahkan, devosi dalam liturgi menggeser peran utama Yesus, pemahaman yang keliru sehingga jatuh pada takhyul dan mencari kesaktian jimat, penekanan berlebihan pada aspek emosional (doa penyembuhan), praktik liturgi digunakan sembarangan dalam devosi, dan ada pribadi tertentu yang giat berpromosi untuk suatu devosi yang belum jelas statusnya.

Sekolah iman

Proses diskusi dimulai oleh pembicara pertama, Pastor Bosco da Cunha OCarm. Ia memberikan materi “Liturgi dan Devosi”. Menurut lulusan Lisensiat Liturgi San Anselmo Roma ini, devosi mengandung komitmen untuk setia bakti dalam semangat cinta kepada “Yang di Atas” sampai mati. Sedangkan liturgi merupakan suatu kegiatan memuliakan keagungan Allah Tritunggal yang Mahakuasa.

Peserta mengungkapkan beberapa tren yang muncul. Misalnya, di Keuskupan Denpasar banyak orang menikah di hotel atau pantai, tetapi jarang yang menikah di gereja. Atau di Keuskupan Timika, umat biasa mengadakan Perayaan Ekaristi di rumah adat yang menjadi rumah tinggal keluarga. Diakui, orang lebih menghargai devosi daripada liturgi.

Pembicara kedua, Pastor Deshi Ramadhani SJ mengajak peserta memfokuskan diri pada devosi Katolik Roma. Dengan makalahnya, “Membangun Teologi Biblis tentang Devosi Katolik Roma”, doktor Teologi Suci dari Sekolah Tinggi Yesuit Berkeley, California AS ini menekankan bahwa devosi berarti sesuatu yang mengalir dari sebuah janji. Dalam devosi ada paradoks. Penghayatan relasi dengan Allah sebagai Pribadi yang sangat tinggi (hubungannya tidak setara), tetapi sekaligus sangat dekat dengan manusia.

Berdasarkan hasil survei, menurut pakar Kitab Suci ini, tampak dalam devosi ada unsur permohonan, unsur pembentukan kesalehan, tegangan antara pengalaman dan format, dan tegangan antara publik(asi) dan pribadi.

Ia banyak melemparkan pertanyaan kritis untuk “menggedor” pemikiran peserta agar tidak terjebak pada hal-hal yang baku, tetapi juga membuka mata untuk hal-hal personal seperti unsur “kegilaan” (madness) seperti yang dilakukan Hana dalam Perjanjian Lama.

Sedangkan Pastor Agustinus Lie CDD membahas devosi dan liturgi dengan lebih menekankan pada waktu, subjek kultus, dan tempat devosional. Dosen Liturgi di STFT Widya Sasana Malang ini banyak mendapat pertanyaan mengenai liturgi yang sudah berinkulturasi dengan budaya Tionghoa. Pertanyaan mengenai tempat hio yang diletakkan berdampingan dengan patung Maria dan salib Yesus, atau keluarga yang menolak mengadakan Misa karena di rumah tersebut terdapat tempat sembahyang dewa-dewi, menjadi bahan pembicaraan.

Omong Kosong!

Setelah peserta mendapatkan pemahaman mengenai perbedaan antara devosi dan liturgi, Pastor Bernardus Boli Ujan SVD mengajak untuk melihat kemungkinan penyerasian antara keduanya. Dengan makalah “Kesalehan Umat dan Liturgi, Kemungkinan Penyerasian”, doktor Liturgi lulusan San Anselmo Roma ini mengungkapkan beberapa contoh upaya penyelarasan antara devosi dan liturgi.

Narasumber terakhir, Pastor Jacobus Tarigan Pr, menghentak peserta dengan mengatakan bahwa semua pembicaraan yang berlangsung itu sebenarnya tidak perlu! Lulusan Lisensiat Teologi Spiritualitas Universitas Gregoriana Roma ini mengeluarkan makalah “Spiritualitas Devosi Menuju Hakikat Liturgi”.

Ia mengajak peserta untuk meneladan sikap Bunda Teresa dari Kolkata. Beata ini menjadikan Ekaristi sebagai sumber kekuatan, berdevosi kepada Sakramen Mahakudus, berdoa rosario secara penuh, membaca Litani Santa Perawan Maria dan Litani Orang Kudus. Tetapi, yang lebih penting, ia melakukan karya nyata, memberikan sentuhan kasih kepada orang-orang yang menghadapi ajal. Bunda Teresa dan para susternya mengantarkan Tuhan ke dalam hidup orang-orang tersebut dan mengantarkan mereka kepada Tuhan.

Dosen Luar Biasa Liturgika di STF Driyarkara Jakarta ini mengingatkan, praktik ziarah dan novena yang bergandengan tangan dengan turisme perlu diwaspadai. “Misalnya, para pemilik toko devosionalia di Lourdes membuat patung dan rosario dengan sekian banyak variasi, bukan karena cinta mereka akan Maria, tetapi karena mereka mengharapkan bertambahnya rezeki lewat peziarahpeziarah,” ujarnya mengutip Jan van Paassen MSC dalam ‘Devosi dan Deviasi’ (Jakarta: Cahaya Pineleng, 2007).

Apa yang dibicarakan dalam pertemuan nasional ini tidak ada artinya kalau tidak ada tindak lajutnya. Kita nantikan angin perubahan yang terjadi pada umat dalam berdevosi.

Sylvia Marsidi - See more at: http://www.hidupkatolik.com/2011/09/20/menyelaraskan-devosi-dengan-liturgi#sthash.yKxVlyaq.dpuf

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP