Tampilkan postingan dengan label Pernyataan Tobat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernyataan Tobat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 November 2019

Menebah Dada Waktu Menyatakan Tobat dalam Misa

Ketika seorang katekis berusaha menjelaskan makna pernyataan tobat dalam Misa, ia mengatakan: Kita menepuk dada tiga kali pada waktu mengucapkan "saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa". Upssss! menepuk dada? Bukankah sikap itu biasanya bermakna menyatakan diri berani atau menantang? Berdosa kok bangga. Untunglah, meski secara visual tata geraknya sama, tetapi dalam TPE 2005 sudah ada pelurusan dengan penggunaan istilah menebah dada, yang berarti menampar-nampar dada karena sedih.

Mengakui dosa

Kita patut bersedih, jika merasa berdosa. Itulah yang mungkin juga dirasakan seorang pemungut cukai, ketika menyadari diri berdosa. Ia berdiri jauh-jauh, bahkan tidak berani menengadah ke langit, melainkan memukul diri dan berkata: "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." (Lukas 18:13).

Sikap batin kita mungkin sama dengan pemungut cukai itu. Bahkan sikap lahir pemungut cukai itu pun boleh kita tiru. Secara khusus kita memukul diri dalam pengertian menebah dada tadi. Itu kita lakukan dalam pernyataan tobat, sesudah imam mengajak jemaat hening untuk menyadari diri, lalu "menyesali dan mengakui bahwa kita telah berdosa supaya layak merayakan peristiwa penyelamatan" yang akan kita alami dalam Misa.

Umat sebaiknya sudah terlibat mengucapkan "Saya mengaku" bersama imam. Jangan biarkan imam mengaku sendirian, sementara umat hanya mengekor. Begitu melihat mulut imam mulai terbuka untuk mengucapkan suku kata pertama Sa-, umat langsung membarengi saja. Maka, imam dan umat bersama-sama mengakui "bahwa telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, perbuatan dan kelalaian."

Pengakuan ini tak hanya disampaikan kepada Allah, tetapi juga kepada semua yang hadir. Dosa memang tak hanya berdimensi vertikal (terhadap Allah yang Mahakuasa), tetapi juga horisontal (terhadap sesama, saudara). Hubungan yang terganggu karena dosa kita, hendak dipulihkan dalam perjamuan kasih ilahi. Pengakuan ini pun bersifat komuniter, maka sangat relevan dengan ciri gerejawi dari perayaan Ekaristi.

Mohon pengampunan

Gereja di dunia tidak merayakan Ekaristi sendirian. Kita sebagai mahkluk duniawi juga sedang merayakannya bersama para malaikat dan semua orang kudus. Maka, setelah menyadari diri berdosa, kita pun mohon kepada Santa Perawan Maria, para malaikat, dan orang kudus, serta kepada seluruh jemaat yang hadir, agar mendoakan kita pada Allah.

Yang kita mohonkan adalah belaskasih dan pengampunan dari Allah melalui imam sang pemimpin. Lalu imam menyatakan rumus absolusi singkat: "Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita." Absolusi ini tidak bermakna sakramental seperti dalam Sakramen Pengakuan. Maka, imam mengucapkannya hanya dengan tangan terkatup, tanpa mengulurkan tangan dan tanpa memberi berkat Salib kepada jemaat. Jemaat pun tak perlu latah membuat tanda Salib pada dirinya sendiri.

Sudah sepantasnya jiwa kita yang merasa berdosa dibersihkan kembali ketika berada di hadapan Allah. Ritus ini pun diadakan agar umat merasa pantas mendekati misteri luhur yang akan mempersatukannya dengan Allah, melalui santapan Sabda dan Tubuh-Darah Kristus, Putra-Nya.

Begitulah sedikit tentang makna dan teks pengakuan (Confiteor). Teks yang konon berasal dari tradisi ibadat harian para rahib ini adalah bagian dari actus paenitentialis. Istilah dalam Ordo Missae itu dapat diterjemahkan dengan pernyataan tobat. Namun TPE kita hanya menuliskan tobat untuk bagian sesudah pengantar ini. Seperti halnya pernyataan tobat dalam Ordo Missae, versi TPE pun menempatkan cara ini sebagai pilihan pertama di antara beberapa pilihan yang ada.

Christophorus H. Suryanugraha OSC
Ketua Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia

baca selanjutnya...

Minggu, 13 Oktober 2019

Pernyataan Tobat Dan Tuhan Kasihanilah Kami (Kyrie)

PERNYATAAN TOBAT
Sesudah salam kemudian imam mengajak umat untuk menyatakan tobat. Sesudah hening sejenak, seluruh umat menyatakan tobat dengan rumus pengakuan umum. Sesudah itu, imam memberikan absolusi. Tetapi absolusi ini tidak memiliki kuasa pengampunan seperti absolusi dalam Sakramen Tobat.Pada hari Minggu, khususnya selama Masa Paskah, Pernyataan Tobat dapat diganti dengan pemberkatan dan perecikan dengan air suci untuk mengenang pembaptisan. (PUMR 51)

TUHAN KASIHANILAH
Pernyataan tobat selalu disambung dengan Tuhan Kasihanilah, kecuali kalau seruan Tuhan Kasihanilah telah tercantum dalam pernyataan tobat. Sifat Tuhan Kasihanilah ialah berseru kepada Tuhan dan memohon belaskasihan-Nya. Oleh karena itu, Tuhan Kasihanilah biasanya dilagukan oleh seluruh umat, artinya: silih-berganti oleh umat dan paduan suara atau solis.Pada umumnya, masing-masing seruan Tuhan Kasihanilah diulang satu kali. Akan tetapi, berhubung dengan bahasa setempat, dengan lagu ataupun sifat pesta, Tuhan Kasihanilah itu boleh diulang-ulang lebih banyak. Kalau Tuhan Kasihanilah dibawakan sebagai bagian pernyataan tobat, setiap aklamasi didahului ayat yang sesuai. (PUMR 52).

Tobat, Penyesalan atas Dosa dan Kesalahan
Pada awal perayaan Ekaristi, imam menyampaikan salam dengan mengucapkan: “Tuhan bersamamu”. Kemudian umat menanggapi, “Dan bersama Roh-mu.” Dengan (salam liturgis) itu, imam menyampaikan kepada umat bahwa Tuhan sungguh hadir di tengah-tengah kita dalam perayaan Ekaristi. Karena itu kita perlu mempersiapkan hati dan pikiran kita untuk menyambut kehadiran Tuhan, salah satunya dengan menyatakan tobat. Pernyataan tobat merupakan bentuk penyesalan atas dosa dan kesalahan kepada Tuhan dan sesama.

Dalam Perjanjian Lama, pertobatan merupakan karunia Allah. Allah menganugerahkan hati yang murni dan baru sehingga orang mau bertobat (Mzm 51:12). Tradisi para nabi menekankan aspek penting dari pertobatan yaitu: pertobatan hati dan sikap hidup.

Dalam Perjanjian Baru, hidup, karya, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus merupakan peristiwa perdamaian. Yesus Kristus adalah sakramen pengampunan dari Allah. Dalam nama Yesus, warta tentang pertobatan dan pengampunan dosa disampaikan kepada segala bangsa mulai dari Yerusalem (Luk 24:47). Oleh karena itu dalam Perjanjian Baru, Injil mencatat bahwa sikap tobat menjadi bagian integral dari seluruh pewartaan Yesus mengenai kerajaan Allah. “Bertobatlah, percayalah pada Injil karena Kerajaan Allah sudah dekat” Mat 4:12-17, Mrk 1:14-15.

Tobat juga merupakan perwujudan dari iman. Dari Kis 26:20 tampak bahwa seluruh proses pertobatan tidak hanya berarti meninggalkan hidup lama, tetapi juga memulai hidup yang baru. Dengan demikian pengampunan ini berdimensi ganda yakni vertikal, pulihnya relasi Allah-manusia, dan horisontal, pulihnya relasi manusia-manusia. Gereja menjadi mediasi pengampunan, karena Yesus menganugerahkan kuasa mengampuni atas warga Gereja yang berdosa (Mat. 18:15-17).

*Tobat dalam Perayaan Ekaristi*
Pernyataan tobat dalam perayaan Ekaristi meliputi pemeriksaan batin dan pengakuan dosa secara umum sebelum masuk dalam perayaan Ekaristi. Pernyataan tobat ini jangan disamaartikan dengan Sakramen Tobat, yang tetap amat diperlukan bagi pengampunan dosa berat.

Dalam perayaan Ekaristi ada 4 cara pernyataan tobat menurut TPE 2005.

Cara A.
Imam mengajak umat menyesali dan mengakui dosa. Menanggapi ajakan tersebut, umat hening sejenak. Kemudian, seluruh umat mengakui dosanya disertai sikap tobat dengan mengucapkan : Saya mengaku – kepada Allah yang mahakuasa – dan kepada Saudara sekalian, – bahwa saya telah berdosa – dengan pikiran dan perkataan, – dengan perbuatan dan kelalaian. (Pada bagian ini diucapkan sambil menebah dada.) Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa. Oleh sebab itu saya mohon – kepada Santa Perawan Maria, – kepada para malaikat dan orang kudus – dan kepada Saudara sekalian, – supaya mendoakan saya kepada Allah, Tuhan kita.

Sesudah pernyataan tobat, imam memohonkan pengampunan. Perlu dicamkan bahwa pengampunan di sini berbeda dengan absolusi yang diberikan imam dalam Sakramen Tobat. Tobat Cara 1 disusul Tuhan, kasihanilah kami.

Cara B.
Umat menyatakan tobat dengan mendaras mazmur tobat, yaitu ayat yang diambil dari Mazmur (Mzm 32, Mzm 51, Mzm 103). Tobat Cara 2 disusul Tuhan, kasihanilah kami.

Cara C. (tobat yang dipadukan dengan Tuhan Kasihanilah Kami).
Tobat cara 3 ini menggunakan pola litani Kyrie. Imam mengucapkan pernyataan iman mengenai Kristus, lalu disambung dengan seruan “Tuhan/Kristus kasihanilah kami”, dan dijawab umat “Tuhan/Kristus kasihanilah kami”. Kyrie bukanlah pernyataan atau seruan penyesalan dan pertobatan, tapi suatu pernyataan yang bersifat penghormatan dan permohonan kepada Kristus. Ayat-ayat tobat cara 3 ini pada dasarnya merupakan seruan pujian kepada Tuhan Yesus dan memohon belaskasih-Nya. Contoh : “Tuhan Yesus Kristus, Engkau diutus menyembuhkan orang yang remuk redam hatinya. Tuhan kasihanilah kami”.

Pada tobat cara 3, tidak lagi diucapkan/dilagukan Tuhan Kasihanilah Kami secara tersendiri, karena sudah tercakup dalam pernyataan tobat ini. Maka, perlu ada komunikasi dan koordinasi yang baik antara koor/dirigen dan imam, supaya tidak terjadi pengulangan yang tidak perlu, misalnya: sesudah tobat cara 3 koor masih melagukan Tuhan, Kasihanilah Kami tersendiri.

Cara D.
Pada hari Minggu, khususnya selama Masa Paskah, pernyataan tobat dapat diganti dengan pemberkatan dan percikan air suci untuk mengenang pembaptisan. Acara percikan diiringi nyanyian Asperges me (Percikilah aku) sesuai Mzm 51:9 atau nyanyian lain yang sesuai atau Vidi aquam (Aku melihat air).

Pengenangan baptisan dengan percikan air dapat dipakai untuk mengganti tobat di awal misa, karena baptis merupakan peristiwa pertobatan dasar kita dan pernyataan iman kita akan Tuhan Yesus Kristus. Tobat cara 4 ini cocok untuk hari Minggu atau hari raya, terutama masa Paskah. Nyanyian Asperges me untuk masa biasa; sedangkan Vidi Aquam untuk masa Paskah.

Keempat cara tobat ini diakhiri dengan absolusi, yang merupakan doa permohonan pengampunan: “Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal”. Absolusi ini tidak memiliki kuasa pengampunan seperti absolusi dalam Sakramen Tobat (PUMR 51).

Pernyataan tobat dimaksudkan untuk mempersiapkan diri menyambut komuni dengan menyadari keberdosaan dan memohon pengampunan, tetapi secara teologis tidak mengembalikan persekutuan yang terputus akibat dosa berat.

Keterputusan persatuan ini, hanya efektif diperbaiki dalam Sakramen Tobat. Karena itu orang yang menyadari dirinya dalam dosa berat, tidak dapat menerima komuni sebelum menerima Sakramen Tobat. Dosa berat menghancurkan hubungan dengan Allah dan memutus kita dari persatuan dengan Tubuh Kristus (Gereja). Itu sebabnya ada Sakramen Tobat yang tujuannya membawa pengampunan Allah, dan menerima kembali umat ke dalam persekutuan dengan Gereja.

Pada Sakramen tobat memerlukan dua unsur yang harus dipenuhi. Pertama, manusia melakukan penyesalan, pengakuan, dan penitensi. Kedua, Allah oleh pelayanan Gereja, memberikan absolusi yang melepaskan dosa, dan dengan demikian diterima kembali dalam persekutuan Gereja. Unsur-unsur ini tidak dipenuhi seluruhnya dalam pernyataan tobat ketika awal misa, karena dari sisi umat hanya mengungkapkan penyesalan, dan bukan pengakuan, tidak ada pula penitensi.

Gereja senantiasa menganjurkan penerimaan Sakramen Tobat sebelum mengikuti perayaan Ekaristi, sehingga dapat menyambut Sakramen Mahakudus yang demikian suci dengan tubuh dan jiwa yang suci pula.

Semoga bermanfaat.

Tuhan memberkati Bunda Maria merestui.

Sumber:
• TPE 2005
• PUMR no.51,52
• Upaya untuk Paham dan Terampil Berekaristi, Komlit.- KWI, Nusa Indah, Cet.1, 2003.
• Denis C. Smolarski, SJ., How to Say Mass, New York/ Mahwah: Paulist Press, 1986, hlm. 38-39).
• Sacrosanctum Concilium, art.2
• Sri, Edward (2011-01-04). A Biblical Walk Through The Mass: Understanding What We Say And Do In The Liturgy (pp. 24-29). Ascension Press. Kindle Edition.
• Musicam Sacram (lih. SC 112-121)
• Redemptionis Sacramentum

baca selanjutnya...

Minggu, 07 Agustus 2011

Tobat, Penyesalan atas Dosa dan Kesalahan

Pada awal perayaan Ekaristi, imam menyampaikan salam dengan mengucapkan: “Tuhan sertamu”. Dengan salam itu, imam menyampaikan kepada umat bahwa Tuhan sungguh hadir di tengah-tengah kita dalam perayaan Ekaristi. Karena itu kita perlu mempersiapkan hati dan pikiran kita untuk menyambut kehadiran Tuhan, salah satunya dengan menyatakan tobat. Pernyataan tobat merupakan bentuk penyesalan atas dosa dan kesalahan kepada Tuhan dan sesama.

Dalam Perjanjian Lama, pertobatan merupakan karunia Allah. Allah menganugerahkan hati yang murni dan baru sehingga orang mau bertobat (Mzm 51:12). Tradisi para nabi menekankan aspek penting dari pertobatan yaitu pertobatan hati dan sikap hidup.

Dalam Perjanjian Baru, hidup, karya, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus merupakan peristiwa perdamaian. Yesus Kristus adalah sakramen pengampunan dari Allah. Dalam nama Yesus, warta tentang pertobatan dan pengampunan dosa disampaikan kepada segala bangsa mulai dari Yerusalem (Luk 24:47). Oleh karena itu dalam Perjanjian Baru, Injil mencatat bahwa sikap tobat menjadi bagian integral dari seluruh pewartaan Yesus mengenai kerajaan Allah. “Bertobatlah, percayalah pada Injil karena Kerajaan Allah sudah dekat” Mat 4:12-17, Mrk 1:14-15.

Tobat juga merupakan perwujudan dari iman. Dari Kis 26:20 tampak bahwa seluruh proses pertobatan tidak hanya berarti meninggalkan hidup lama, tetapi juga memulai hidup yang baru. Dengan demikian pengampunan ini berdimensi ganda yakni vertikal, pulihnya relasi Allah-manusia, dan horisontal, pulihnya relasi manusia-manusia. Gereja menjadi mediasi pengampunan karena Yesus menganugerahkan kuasa mengampuni atas warga Gereja yang berdosa (Mat. 18:15-17).

Tobat dalam Perayaan Ekaristi
Pernyataan tobat dalam perayaan Ekaristi meliputi pemeriksaan batin dan pengakuan dosa secara umum sebelum masuk dalam perayaan Ekaristi. Pernyataan tobat ini jangan disamaartikan dengan Sakramen Tobat, yang tetap amat diperlukan bagi pengampunan dosa berat.

Dalam perayaan Ekaristi ada 4 cara pernyataan tobat menurut TPE 2005.
Cara 1. Imam mengajak umat menyesali dan mengakui dosa. Menanggapi ajakan tersebut, umat hening sejenak. Kemudian, seluruh umat mengakui dosanya disertai sikap tobat dengan mengucapkan :
Saya mengaku - kepada Allah yang mahakuasa - dan kepada Saudara sekalian, - bahwa saya telah berdosa - dengan pikiran dan perkataan, - dengan perbuatan dan kelalaian. (Pada bagian ini diucapkan sambil menebah dada.) Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa. Oleh sebab itu saya mohon - kepada Santa Perawan Maria, - kepada para malaikat dan orang kudus - dan kepada Saudara sekalian, - supaya mendoakan saya kepada Allah, Tuhan kita.

Sesudah pernyataan tobat, imam memohonkan pengampunan. Perlu dicamkan bahwa pengampunan di sini berbeda dengan absolusi yang diberikan imam dalam Sakramen Tobat. Tobat Cara 1 disusul Tuhan, kasihanilah kami.
Cara 2. Umat menyatakan tobat dengan mendaras mazmur tobat, yaitu ayat yang diambil dari Mazmur (Mzm 32, Mzm 51, Mzm 103). Tobat Cara 2 disusul Tuhan, kasihanilah kami.
Cara 3. (tobat yang dipadukan dengan Tuhan Kasihanilah Kami). Tobat cara 3 ini menggunakan pola litani Kyrie. Imam mengucapkan pernyataan iman mengenai Kristus, lalu disambung dengan seruan “Tuhan/Kristus kasihanilah kami”, dan dijawab umat “Tuhan/Kristus kasihanilah kami”. Kyrie bukanlah pernyataan atau seruan penyesalan dan pertobatan, tapi suatu pernyataan yang bersifat penghormatan dan permohonan kepada Kristus. Ayat-ayat tobat cara 3 ini pada dasarnya merupakan seruan pujian kepada Tuhan Yesus dan memohon belaskasih-Nya. Contoh : “Tuhan Yesus Kristus, Engkau diutus menyembuhkan orang yang remuk redam hatinya. Tuhan kasihanilah kami”.
Pada tobat cara 3, tidak lagi diucapkan/dilagukan Tuhan Kasihanilah Kami secara tersendiri, karena sudah tercakup dalam pernyataan tobat ini. Maka, perlu ada komunikasi dan koordinasi yang baik antara koor/dirigen dan imam, supaya tidak terjadi pengulangan yang tidak perlu, misalnya: sesudah tobat cara 3 koor masih melagukan Tuhan, Kasihanilah Kami tersendiri.
Cara 4. Pada hari Minggu, khususnya selama Masa Paskah, pernyataan tobat dapat diganti dengan pemberkatan dan percikan air suci untuk mengenang pembaptisan. Acara percikan diiringi nyanyian Asperges me (Percikilah aku) sesuai Mzm 51:9 atau nyanyian lain yang sesuai atau Vidi aquam (Aku melihat air).
Pengenangan baptisan dengan percikan air dapat dipakai untuk mengganti tobat di awal misa, karena baptis merupakan peristiwa pertobatan dasar kita dan pernyataan iman kita akan Tuhan Yesus Kristus. Tobat cara 4 ini cocok untuk hari Minggu atau hari raya, terutama masa Paskah. Nyanyian Asperges me untuk masa biasa; sedangkan Vidi Aquam untuk masa Paskah.

Keempat cara tobat ini diakhiri dengan absolusi, yang merupakan doa permohonan pengampunan: “Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal”. Absolusi ini tidak memiliki kuasa pengampunan seperti absolusi dalam Sakramen Tobat (PUMR 51).

Pernyataan tobat dimaksudkan untuk mempersiapkan diri menyambut komuni dengan menyadari keberdosaan dan memohon pengampunan, tetapi secara teologis tidak mengembalikan persekutuan yang terputus akibat dosa berat.

Keterputusan persatuan ini, hanya efektif diperbaiki dalam Sakramen Tobat. Karena itu orang yang menyadari dirinya dalam dosa berat, tidak dapat menerima komuni sebelum menerima Sakramen Tobat. Dosa berat menghancurkan hubungan dengan Allah dan memutus kita dari persatuan dengan Tubuh Kristus (Gereja). Itu sebabnya ada Sakramen Tobat yang tujuannya membawa pengampunan Allah, dan menerima kembali umat ke dalam persekutuan dengan Gereja.

Pada Sakramen tobat memerlukan dua unsur yang harus dipenuhi. Pertama, manusia melakukan penyesalan, pengakuan, dan penitensi. Kedua, Allah oleh pelayanan Gereja, memberikan absolusi yang melepaskan dosa, dan dengan demikian diterima kembali dalam persekutuan Gereja. Unsur-unsur ini tidak dipenuhi seluruhnya dalam pernyataan tobat ketika awal misa, karena dari sisi umat hanya mengungkapkan penyesalan, dan bukan pengakuan, tidak ada pula penitensi.

Gereja senantiasa menganjurkan penerimaan Sakramen Tobat sebelum mengikuti perayaan Ekaristi, sehingga dapat menyambut Sakramen Mahakudus yang demikian suci dengan tubuh dan jiwa yang suci pula.
Semoga Tuhan memberkati kita semua.
*) Penulis, Prodiakon Paroki St. Herkulanus

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP