Tampilkan postingan dengan label Persembahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persembahan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 November 2019

Memahami Makna Kolekte

Kolekte dalam liturgi mengingatkan kita akan kebiasaan orang Israel untuk mempersembahkan kepada Tuhan hasil karya yang pertama, baik hewan maupun hasil panen perdana (Kel 27:7; Im 1:3; Im 23:10-13; Ul 26:2). Orang-orang Israel mengenal kebiasaan memberi dua persepuluhan, yang menjadi tanda syukur atas anugerah dari Tuhan berupa hasil ternak dan panen. Secara konkret pemberian itu digunakan untuk memberi makan kepada kaum Lewi yang menjalankan fungsi pelayanan sebagai imam. Sebagian lagi diberikan kepada orang-orang miskin yang sangat membutuhkan pertolongan.

Kebiasaan mempersembahkan persepuluhan ini diteruskan juga oleh para pengikut Kristus. Banyak Gereja mempraktekkan cara persembahan ini. Besarnya persembahan itu bisa tepat sebagai persepuluhan, tetapi ada juga pemberian yang kurang atau bahkan lebih dari persepuluhan. Ada yang memberikannya di luar perayaan liturgis tetapi ada yang melakukannya sebagai bagian utuh dari perayaan liturgis. Kita mengenal bentuk pemberian sebagian dari hasil karya atau pendapatan kita pada saat perayaan liturgis dengan nama kolekte.

Pada hari Minggu, Hari Raya atau hari-hari perayaan khusus, biasanya dibuat kolekte untuk disatukan dengan bahan persembahan roti dan anggur serta bahan persembahan lain yang diarak ke altar agar diambil oleh pemimpin perayaan yang bertindak selaku Kristus yang menghargai setiap pemberian sekecil apa pun (bdk. Mat. 14:15-19). Kolekte bersama bahan persembahan lainnya seharusnya diterima dengan penuh sukacita dan dihargai dengan meletakkannya di suatu tempat yang pantas, sebaiknya dekat altar (bukan di atas meja altar), karena di atas altar hanya diletakkan bahan korban syukur Yesus Kristus yaitu roti dan anggur ((Pedoman Umum Misale Romawi no. 73 dan 140 (terj. dari Institutio Generalis Missalis Romani, editio typica tertia 200, oleh Komisi Liturgi KWI, Jakarta 2002), hlm. 53 dan 75. Selanjutnya disingkat PUMR.)) yang akan diubah menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus.

Makna kolekte

Apa saja yang dikumpulkan untuk dipersembahkan dan apa maknanya? Dalam praktek Gereja abad III, selain roti dan anggur untuk Ekaristi, dipersembahkan juga minyak, lilin, gandum, buah anggur dan barang bernilai lainnya. Pada abad pertengahan muncul kebiasaan mengumpulkan derma dalam bentuk uang sebagai bagian dari persiapan persembahan. ((P.Visentin, “Eucaristia”, dalam Domenico Sartore e Achille M.Tricca (ed.), Nuovo Dizionario di Liturgia (Edizioni Paoline, Roma, 1983), hlm 497; Bdk. P.Bernard Boli Ujan, SVD, Mendalami Bagian-bagian Perayaan Ekaristi (Yogyakarta, 1992), hlm. 44-48.)) Pengumpulan uang derma dapat dilakukan sebagai awal persiapan persembahan. Inilah yang disebut kolekte. ((Tata Perayaan Ekaristi (Ordo Missae), Buku Imam (Terj. Komisi Liturgi KWI, Jakarta 2008), no. 19, hlm. 37. Selanjutnya disingkat TPE.)) Selain asal usul kata kolekte, juga konteks liturgis persiapan persembahan ini turut memberi makna pada kegiatan kolekte itu.

Kata kolekte berasal dari collecta (bahasa Latin) yang berarti sumbangan untuk makan bersama, pengumpulan, rapat atau sidang. ((P. Th. L Verhoeven, SVD, dan Marcus Carvallo, Kamus Latin-Indonesia (Ende, Penerbit Ledalero, Maumere 1969), hlm. 163.)) Istilah yang sama ini (collecta) dalam tradisi liturgi dipakai untuk persekutuan beriman yang terbentuk sebagai satu kelompok doa di suatu tempat (gereja). Di Roma pada abad-abad pertama biasanya umat berkumpul di salah satu gereja “statio”. Di sana mereka berdoa bersama lalu berarak bersama-sama menuju tempat perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Paus di sebuah gereja lain sambil berdoa dan bernyanyi. ((Mengenai sejarah Ekaristi di gereja statio di Roma, lihat Marcel Metzger, “The History of the Eucharistic Liturgy in Rome” dalam Anscar J.Chupungco, O.S.B. (ed.), Handbook for Liturgical Studies: The Eucharist (A Pueblo Book, The Liturgical Press Collegeville, Minnesota, 1997), hlm. 110-114)) Selanjutnya istilah collecta dipakai juga sebagai nama untuk Doa Pembuka dalam perayaan Ekaristi, karena doa itu yang diucapkan secara lantang oleh imam pemimpin sebenarnya mengumpulkan dalam rumusan yang singkat-padat semua intensi atau maksud hati dari umat beriman yang hadir (yang berdoa dalam hati dalam keheningan sesudah ajakan imam: “Marilah berdoa”). ((PUMR, no. 54; Bdk. Vincenzo Raffa, Liturgia eucaristica, mistagogia della messa: dalla storia e dalla teologia alla pastorale practica (Edizioni Liturgiche, Roma, 1998), hlm. 68-69; P.Bernard Boli Ujan, SVD, Op.Cit. hlm. 23-24.)) Maka collecta dalam arti pengumpulan uang (kolekte) sebagai bagian dari persiapan persembahan mempunyai hubungan erat sekali dengan persatuan-persaudaraan dan dengan doa.

Kolekte tidak hanya sekedar memberikan sesuatu dari diri sendiri kepada orang lain, tetapi kolekte itu mempererat persatuan-persaudaraan antara kita dengan orang lain yang menerima sesuatu dari diri kita. Kolekte adalah bagian dari doa yang mempersatukan kita sebagai saudara saudari dalam Tuhan. Kita bisa berdoa dengan kata-kata, dengan nyanyian, dengan sikap-gerak, tetapi juga dengan pemberian (kolekte). Aspek penting dari doa yang seharusnya mewarnai juga pemberian (kolekte) adalah syukur-pujian atas anugerah yang telah diterima dan atas kesempatan untuk berbuat baik dengan meneruskan anugerah itu kepada orang lain yang membutuhkannya meskipun orang-orang itu tidak kita kenal. Inilah makna liturgis penting dari kolekte: bersama-sama mengumpulkan sesuatu untuk kepentingan banyak orang lain. Maka semakin kita rela memberi (kolekte) semakin kita tahu bersyukur (dalam Doa Syukur Agung), semakin kita bersatu padu dengan saudara-saudari yang lain dan dengan Tuhan sendiri sebagai sumber anugerah (dalam komuni).

Menurut tradisi liturgi memang pernah ada semacam syarat untuk boleh menerima komuni (menyambut Tubuh dan Darah Yesus Kristus), yaitu selain berada dalam keadaan pantas-layak karena penuh rahmat dan tidak berdosa berat, juga kalau penerima komuni itu telah membawa dan memberi sesuatu sebagai bagian dari kolekte pada saat persiapan persembahan. ((“Dalam sinode Elvira (awal abad IV) ditegaskan bahwa umat yang membawa persembahan adalah umat yang ikut komuni. Maka persembahan itu dibawa hanya oleh orang yang telah dipermandikan dan mau berpartisipasi lebih penuh sebagai umat beriman yang sudah dipilih menjadi imam rajawi. Di daerah Gallia terdapat kebiasaan menyebut nama orang yang membawa pesembahan dalam doa persembahan. Tetapi di Roma tidak ada tradisi itu.” P.Bernard Boli Ujan, SVD, Op.Cit. hlm. 45-46.)) Ada hubungan yang erat antara kolekte dan komuni dalam perayaan Ekaristi. Dalam hal ini kolekte tidak “membeli komuni”. Kalau kita memberi dengan penuh rasa syukur, dengan sendirinya kita mengalami persaudaraan-persatuan sejati bersama sesama dan Tuhan yang dirayakan secara sakramental dalam komuni.

Semangat yang benar

Dalam konteks persiapan persembahan, membuat kolekte berarti memberikan bagian dalam mempersiapkan bahan kurban syukur Yesus Kristus. Maka urutan perarakan dan penyerahan bahan-bahan persembahan adalah: pertama-tama roti dan anggur (yang akan menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus) lalu bahan-bahan lain dan kolekte. ((Bdk. Peter J. Elliott, Ceremonies of the Modern Roman Rite: The Eucharist and the Liturgy of the Hours, A Manula for Clergy and All Involved in Liturgical Ministries (Ignatius Press, San Francisco, 1995), hlm. 100-105.)) Itu berarti kita tidak mengandalkan atau mengutamakan pemberian-kurban kita, tetapi menomorsatukan pemberian-kurban Yesus Kristus. Bila demikian kita terhindar dari sikap “memberi sambil menuntut balasan dari Tuhan” alias do ut des (Latin = saya beri supaya engkau membalas). Yesus sendiri memberi seluruh diri-Nya sebagai kurban syukur pujian kepada Bapa, tanpa menuntut apa-apa dari Bapa sebagai gantinya. Maka ganti memberi sambil menuntut, kita akan memberi dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan yang selalu memperhatikan kebutuhan-kebutuhan kita. Kehadiran orang yang berkekurangan bisa menjadi kesempatan bagi kita untuk meneruskan kebaikan dan perhatian Tuhan yang berlimpah-limpah itu seraya mendorong orang-orang lain untuk selalu bersyukur kepada Tuhan, dan bukan terutama kepada kita. Itulah sebabnya Yesus mengingatkan kita untuk memberi dengan tangan kanan sedemikian rupa sehingga tangan kiri tidak mengetahuinya (bdk Mat 6:3).

Bila dirayakan Ibadat Sabda tanpa Ekaristi, ada kemungkinan membuat kolekte pada Ritus Penutup ibadat sebelum pengutusan dan berkat. Itu berarti kolektenya diberikan dalam konteks pengutusan ke tengah dunia. Kolekte lalu menjadi satu bentuk dari kesaksian iman bagi banyak orang lain yang dilayani dalam hidup harian. Selanjutnya dengan kolekte itu orang yang menerimanya dapat semakin percaya dan berharap pada Tuhan sumber kekuatan dan hidup. Maka kita tidak memberi kepada orang lain untuk membuat mereka menjadi malas dan kurang berusaha berdikari. Patut disesali bila kita enggan memberi kolekte hanya karena berprasangka bahwa pemberian cuma-cuma itu akan membuat si penerima kurang bersemangat untuk mencari jalan keluar mengatasi kekurangannya.

Untuk siapa?

Untuk siapa kolekte itu digunakan? Sejak abad-abad pertama umat beriman membuat kolekte dengan tujuan menopang hidup para pelayan altar, mengatasi kemiskinan orang-orang papa, dan memenuhi kebutuhan rumah Allah atau tempat ibadat. Para pelayan altar yang menjalankan tugas-tugas pengabdian bagi banyak orang lain termasuk memimpin perayaan-perayaan liturgis sepantasnya mendapat dukungan materi dan keuangan selain dukungan moril serta rohani agar dapat sehat, kuat dan tekun memberikan pelayanan sebagaimana mestinya. Bagi orang-orang miskin dan berkekurangan kolekte itu dapat membantu menciptakan keadilan untuk lebih banyak orang. Santo Yustinus dalam abad ke-tiga mengingatkan orang Kristen untuk tidak melalaikan kewajiban menolong orang miskin. Ia menulis dalam Apologia I, no. 65: “Orang-orang yang berada dalam kelimpahan kalau ingin menyumbang hendaknya meletakkan itu di dekat si pemimpin yang akan menggunakannya untuk membantu yatim piatu dan para janda, orang miskin yang sakit, para narapidana, orang-orang asing disekitarnya dan semua orang yang sangat membutuhkannya.” ((Lihat terjemahan dalam bahasa Inggris oleh R.C.D. Jasper & G.J.Cuming, Prayers of the Eucharist, 2nd ed. (New York, 1980), hlm. 20. Bdk. Herman Wegman, Christian Worship in East and West: A Study Guide to Liturgical History (terj. Gordon W. Lathrop dari teks asli Geshiedenis van de Christelijke Eredienst in het Westen en in het Oosten, Pueblo Publishing Company, New York, 1985), hlm. 42.)) Kemudian St. Agustinus kembali mencanangkan kewajiban orang Kristiani untuk memberi kolekte buat orang miskin. ((Bdk. Joseph A. Jungmann, The Mass of the Roman Rite: Its Origins and Development Vol. Two (Benzinger Brothers, Inc., New York, 1955) hlm. 1-41.))

Kolekte merupakan tanda solidaritas dengan orang-orang kecil, juga dengan keluarga, lingkungan, wilayah dan paroki bahkan keuskupan atau siapa saja yang menderita kekurangan tanpa batas wilayah maupun agama. Maka di beberapa tempat kolekte itu menjadi sumber untuk membentuk dana solidaritas. Ada banyak tempat yang membutuhkan dana untuk membangun dan memperlengkapi kebutuhan rumah sakit, panti asuhan atau rumah para lansia, selain rumah ibadat dan pastoran atau gedung paroki dan ruang serba guna untuk berbagai kegiatan umum.

Dalam kenyataan ada banyak paroki yang jumlah kolektenya setiap minggu mencapai jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Namun tidak dapat disangkal bahwa banyak paroki hanya berhasil mengumpulkan kolekte mingguan sebanyak ratusan ribu atau bahkan hanya puluhan ribu rupiah. Mengapa? Umumnya orang langsung menunjukkan sebab perbedaan itu dalam tingkat kesejahteraan hidup para anggota persekutuan beriman di paroki masing-masing. Kolektenya besar karena umatnya kebanyakan kaya raya, kolektenya sedikit karena umatnya sebagian besar terdiri dari orang miskin. Mungkin ada benarnya, tetapi belum tentu selalu demikian.

http://www.katolisitas.org/

baca selanjutnya...

Senin, 21 Oktober 2019

Persiapan Persembahan

Ada 4 unsur atau bagian dalam persiapan persembahan, yaitu:

a. Kolekte
Persiapan persembahan diawali dengan kolekte. Kolekte melambangkan partisipasi umat dalam Kurban Kristus, dan menyatakan tanggungjawab kita terhadap keperluan Gereja, keperluan ibadat dan keperluan-keperluan sosial lainnya.

Sementara itu, Imam menyiapkan Meja Altar mengatur korporale, purifikatorium, piala, patena, palla, roti dan anggur, serta buku Misa di meja Altar.

b. Perarakan persembahan
Pada perayaan-perayaan tertentu (Natal, Paskah, Pentakosta, Pesta Pelindung Paroki dan lain-lain), bahan persembahan dapat diantar oleh petugas yang telah ditunjuk dari meja persembahan ke meja Altar. Pembawa persembahan cukuplah 4 – 5 pasang saja. Bahan persembahan itu terdiri dari: sepasang lilin, piala (yang di atasnya terdapat purificatorium, patena, Hosti besar, palla, dan korporale), sibori, sepasang bunga, buah, dan kolekte. Demi alasan praktis, ampul (berisi anggur dan air), lavabo (tempat air untuk membasuh tangan imam) serta kain untuk mengelap tangan imam sebaiknya diletakkan di kreden (meja kecil dekat Altar). Perarakan persembahan biasanya diiringi dengan nyanyian persembahan atau tarian persembahan. Nyanyian persembahan berfungsi mengiri perarakan persembahan. Oleh karena itu, nyanyian ini harus segera diakhir setelah bahan persembahan tertata di Altar. Jika ada tarian persembahan, hendaknya dipersiapkan sedemikian rupa sehingga corak gerakan dan busana yang dikenakan oleh para penari mencerminkan tarian liturgis.

c. Doa atas Roti dan Anggur
Doa yang diucapkan imam pada roti dan anggur adalah doa pujian kepada Allah karena karya-Nya yang agung dan luhur. Ia memberikan kepada kita segala yang kita perlukan untuk hidup jasmani dan rohani. Setelah itu imam membasuh tangannya. Upacara ini melambangkan bahwa ia menginginkan hati bersih.

Imam dapat mendupai bahan persembahan yang telah disiapkan di atas altar juga mendupai salib dan altar. Pendupaan itu melambangkan persembahan dan doa Gereja yang naik kehadirat Allah seperti kepulan asap dupa. Sesudah itu Imam dan umatpun didupai oleh diakon atau misdinar. Imam didupai karena pelayanan kudus yang ia sandang. Umat didupai karena martabat luhur yang mereka peroleh lewat pembaptisan.

d. Doa persiapan persembahan
Kemudian iman mengajak umat berdoa. Sesudah umat berdoa bersama, imam mengucapkan doa persiapan persembahan. Doa persiapan persembahan ini mengakhiri bagian persiapan persembahan dan menghubungkannya dengan Doa Syukur Agung.

Sumber: https://santopauluspku.wordpress.com/

baca selanjutnya...

Selasa, 01 Oktober 2019

Makna Persembahan dalam Misa

Ketika kita mengikuti Misa, setelah mendengar homili dengan saksama dan mengucapkan Kredo dengan penuh sikap hormat, dan bersama-sama mendoakan Doa Umat. Maka imam melanjutkan perayaan dari Liturgi Sabda ke Liturgi Ekaristi. Pada bagian Liturgi Ekaristi ini dimulai dengan Persiapan Persembahan. Pada bagian ini seolah-olah menjadi semacam rehat setelah berdiri dalam sikap doa. Mungkin juga kita tidak terlalu memperhatikan pada bagian ini dan sibuk mempersiapkan uang persembahan kita. Nah, setiap bagian dalam Misa tentu saja memiliki makna, maka apa makna dari Persembahan yang sering kali kita jarang perhatikan tersebut.

Persiapan Persembahan dilakukan dengan membawa bahan persembahan ke altar. Biasanya umat yang membawa roti dan anggur yang akan diterima oleh imam atau daikon dan kemudian diletakkan di atas altar. Meskipun terkadang bahan persembahan ini sudah disiapkan di meja samping karena alasan tertentu. Adapun penggunaan roti dan anggur ini pula adalah bahan-bahan yang sama dengan yang digunakan Kristus, yang nantinya akan menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Setelah perarakan persembahan, petugas persembahan mulai mengumpulkan persembahan umat, yang pada saat ini persembahan umat berupa uang atau bahan persembahan lain untuk orang miskin atau untuk Gereja, yang diantar oleh umat beriman atau yang dikumpulkan di dalam gereja (bdk. PUMR 72-73).

Makna Persiapan Persembahan itu tentunya mempersiapkan persembahan. Lantas tujuan persembahan itu apa? Tujuannya bisa kita temukan dalam Doa Syukur Agung sebagaimana PUMR menjelaskan demikian:

Dalam perayaan-kenangan ini, Gereja, terutama Gereja yang sekarang sedang berkumpul, mempersembahkan kurban murni kepada Allah Bapa dalam Roh Kudus. Maksud Gereja ialah, supaya dalam mempersembahkan kurban murni ini umat beriman belajar juga mempersembahkan diri sendiri.89 Maka melalui Kristus, Sang pengantara, dari hari ke hari umat beriman akan semakin sempurna bersatu dengan Allah dan dengan sesama umat, hingga akhirnya Allah menjadi segala-galanya dalam semua (PUMR 79 poin f)

John Bergsma dalam bukunya “Bible Basics for Catholics: A New Picture of Salvation History” menjelaskan dengan indah tentang makna persembahan sebagaimana telah disebutkan dalam PUMR itu. Beliau menjelaskan bahwa imamat kudus (bdk. KGK 1268) mengalir dalam diri kita dari status kita sebagai anak-anak Allah. Dan seorang imam mempersembahkan persembahan kepada Allah. Persembahan setiap orang Kristen adalah hidup kita sendiri. Sebagaimana St. Paulus tuliskan kepada umat Kristen di Roma, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1).” St. Paulus mengartikan kata “tubuhmu” bukan sebagai tubuh secara fisik melainkan seluruh hidup kita.

Persembahan diri kita secara imamat ini yang adalah persembahan hidup kita, yang dilakukan dalam setiap Misa, ketika beberapa umat awam membawa “persembahan” dalam rupa roti dan anggur untuk diberkati oleh imam supaya menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Roti dan anggur yang belum diberkati melambangkan seluruh hidup kita sebagai umat awam atau tepatnya para imam umum (mengacu pada tugas kita sebagai imamat umum). Kemudian imam pelayanan (para imam tertahbis yang menjalani imamat khusus yang menerima kuasa suci merayakan Ekaristi) mengambil roti dan anggur itu, ingat bahwa roti dan anggur itu adalah seluruh hidup kita, yang kemudian imam memohon kepada Roh Kudus sehingga roti dan anggur itu menjadi Tubuh dan Darah Yesus. Hidup kita dipersatukan dengan Kristus, persembahan kecil kita menjadi Persembahan Agung-Nya.

Pada bagian Misa ini pula menggambarkan bagaimana imamat pelayanan berhubungan dengan imamat umum dari seluruh umat beriman. Keduanya saling membutuhkan. Kita membutuhkan imam paroki kita untuk memberikan daya Ilahi dari sakramen sehingga kita memiliki kekuatan untuk memenuhi tugas imamat kita untuk mempersembahkan seluruh hidup kita sebagai persembahan bagi Allah demi keselamatan dunia. Dan, para imam juga membutuhkan kita. Sama sebagaimana dalam Misa, Misa tidak dapat dirayakan jika tidak ada roti dan anggur yang dibawa menuju altar, dan para imam pelayanan tidak dapat memenuhi panggilan mereka tanpa kita, para imam umum. Tanpa kita, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Kita adalah “bahan mentah,” kita butuh untuk diberkati dan diubahkan menjadi Tubuh Kristus, yaitu Gereja.

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP