Minggu, 24 November 2019

Ulasan Eksegetis Bacaan Kitab Suci Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam

Berkuasa atas Semesta Alam?

Pada hari raya Kristus Raja Semesta Alam tahun B ini dibacakan Yoh 18:33b-37. Petikan ini memperdengarkan pembicaraan antara Pilatus dan Yesus. Pilatus menanyai Yesus apakah betul ia itu raja orang Yahudi ketika memeriksa kebenaran tuduhan orang terhadap Yesus. Yesus menjelaskan bahwa kerajaannya bukan dari dunia sini. Ia datang ke dunia untuk bersaksi akan kebenaran.

Injil mengajak kita mengenali Yesus yang sebenarnya, bukan seperti yang dituduhkan orang-orang, bukan pula seperti anggapan Pilatus yang sebenarnya tidak begitu peduli siapa Yesus itu. Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam ini juga merayakan kebesaran manusia di hadapan alam semesta. Itulah kebenaran yang dipersaksikan Yesus dan yang dipertanyakan Pilatus.

Raja Dalam Perjanjian Lama

Dalam alam pikiran Perjanjian Lama, raja berperan sebagai wakil Tuhan di dunia. Di Kerajaan Selatan, yakni Yudea, peran ini dipegang turuntemurun. Kepercayaan ini terpantul dalam silsilah Yesus dalam Injil Matius yang melacak leluhur Yesus, anak Daud, anak Abraham (Mat 1:1-17). Lukas menggarisbawahinya dan melanjutkannya sampai Adam, anak Allah, yakni “gambar dan rupa” sang Pencipta sendiri di dunia ini (Luk 3:23-38). Tetapi dalam menjalankan peran ini, raja sering diingatkan para nabi agar tetap menyadari bahwa Tuhan sendirilah yang menjadi penguasa umat.

Kehancuran politik yang berakibat dalam pembuangan di Babilonia (586-538 s.M.) mengubah sama sekali keadaan ini. Raja ditawan dan dipenjarakan, kota Yerusalem dan Bait Allah dijarah, negeri terlantar dan morat-marit hampir selama setengah abad. Pengaturan kembali baru mulai setelah pembuangan, pada zaman Persia. Bait Allah mulai dibangun kembali (baru selesai 515 s.M.), walau kemegahannya tidak seperti sebelumnya. Tidak ada lagi raja seperti dulu walau ada penguasa setempat yang berperan dengan cukup memiliki otonomi di dalam urusan keagamaan. Pada zaman Yesus, keadaan ini tidak banyak berubah. Memang ada harapan dari sementara kalangan orang-orang Yahudi bahwa kejayaan dulu akan terwujud kembali. Maka itu, ada harapan akan Mesias Raja. Harapan ini mendasari pelbagai gerakan untuk memerdekakan diri. Hal ini sering malah memperburuk keadaan. Penguasa asing menumpas gerakan itu dan memperkecil ruang gerak orang Yahudi sendiri. Maka itu, di kalangan pemimpin Yahudi ada kekhawatiran apakah Yesus ini sedang membuat gerakan yang akan mengakibatkan makin kerasnya pengaturan Romawi. Mereka mendahului menuduh Yesus di hadapan penguasa.

Patutkah Dia?

Menurut Yohanes, memang orang pernah bermaksud mengangkat dia sebagai raja (Yoh 6:15, sehabis memberi makan 5.000 orang). Akan tetapi, tak sedikit dari mereka itu nanti juga meneriakkan agar ia disalibkan. Bukannya mereka tak berpendirian. Mereka itu seperti kebanyakan orang ingin hidup tenteram. Mereka mendapatkan roti dan ingin terus, tetapi mereka juga berusaha menghindari kemungkinan mengetatnya pengawasan dari penguasa Romawi. Di dalam kisah sengsara memang tercermin anggapan yang beredar di kalangan umum bahwa Yesus itu bermaksud menjadi raja orang Yahudi: olok-olok para serdadu (Mat 27:29; Mrk 15:9.18; Luk 23:37; Yoh 19:3), papan di kayu salib menyebut Yesus raja orang Yahudi (Mat 27:37; Mrk 15:26; Luk 23:38; Yoh 19:19-21), olok-olok para pemimpin Yahudi di muka salib (Mat 27:42; Mrk 15:32), kata-kata Pilatus di depan orang Yahudi (Yoh 19:14-15).

Kisah kelahiran Yesus menurut Matius juga menceritaan kedatangan para orang bijak dari Timur mencari raja orang Yahudi yang baru lahir (Mat 2:2). Namun demikian, seluruh kisah itu justru menggambarkan kesederhanaannya. Gambaran yang sejalan muncul dalam kisah Yesus dielu-elukan di Yerusalem (Mat 21:1-11; Mrk 11:1-10; Luk 19:28-38; dan Yoh 12:12-13). Ia disambut sebagai tokoh yang amat diharap-harapkan dan diterima sebagai raja, terutama dalam Yohanes. Jelas juga bahwa tokoh ini ialah raja yang bisa merasakan kebutuhan orang banyak.

Menurut Markus, Matius, dan Lukas, di hadapan Pilatus Yesus tidak menyangkal tuduhan orang Yahudi bahwa ia menampilkan diri sebagai raja, tetapi tidak juga mengiakan (Mat 27:11; Mrk 15:2; Luk 23:2-3). Dalam Yoh 18:33-39, ia justru menegaskan bahwa ia bukan raja dalam ukuran-ukuran duniawi.

Injil mewartakan Yesus sebagai Mesias dari Tuhan. Dalam arti itu, ia memiliki martabat raja. Namun demikian, wujud martabat itu bukan kecermelangan duniawi, melainkan kelemahlembutan, kemampuan ikut merasakan penderitaan orang, dan mengajarkan kepada orang banyak siapa Tuhan itu sesungguhnya.

Raja Semesta Alam

Guna mendalami Injil Yohanes mengenai Yesus, sang raja yang bukan dari dunia ini meski dalam dunia ini, marilah kita tengok madah penciptaan Kej 1:1-2:4a. Injil Yohanes, khususnya dalam bagian pembukaannya (Yoh 1:1-18), mengandaikan pembaca tahu bahwa ada rujukan ke madah penciptaan itu.

Ciptaan terjadi dalam enam hari pertama (Kej 1:1-31) dan manusia sendiri baru diciptakan pada hari keenam. Dalam enam hari itu, Tuhan mencipta dengan bersabda. SabdaNya menjadi kenyataan. Diciptakan berturutturut: waktu siang dan malam (Kej 1:3-5), langit (ay. 6-8), bumi beserta tetumbuhan (ay. 9-12), matahari, bulan, dan bintang-bintang (ay. 14-19), ikan di laut dan burung di udara (ay. 20-23), hewan-hewan di bumi (ay. 24-25), dan akhirnya manusia.

Sesudah menciptakan hewan-hewan pada hari keenam itu, Tuhan bersabda, “Marilah kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa kita!” (Kej 1:26). Ungkapan “kita” memuat ajakan kepada seluruh alam ciptaan yang telah diciptakanNya itu untuk ikut serta dalam penciptaan manusia. Seluruh alam semesta yang telah diciptakan kini “menantikan” puncaknya, yakni manusia. Dalam diri manusia terdapat peta kehadiran Tuhan Pencipta yang dapat dikenali oleh alam semesta. Oleh karena itu, manusia juga diserahi kuasa menjalankan pengaturan bumi dan isinya (Kej 1:29).

Manusia diciptakan “laki-laki dan perempuan” (Kej 1:27). Dalam cara bicara Ibrani, ungkapan dengan dua bagian ini merujuk kepada keseluruhan manusia, jadi seperti kata “kemanusiaan” atau “human kind” dalam bahasa Inggris. Bandingkan dengan ungkapan “benar-salahnya”, maksudnya “kebenarannya”; “jauh-dekatnya” maksudnya “jaraknya”.

Pada hari ketujuh (Kej 2:1-4a) sang Pencipta beristirahat dan memberkati hari itu. Pekerjaan yang telah diawaliNya itu kini dilanjutkan oleh manusia karena manusia memetakan kehadiranNya. Hari ketujuh tak berakhir, inilah zaman alam semesta yang diberkati Tuhan Pencipta.

Gambaran di atas menjadi gambaran ideal manusia sebagai raja yang mewakili Tuhan di hadapan alam semesta. Kebesaran manusia sang “gambar dan rupa” Tuhan dan alam semesta itu diterapkan Yohanes kepada Yesus. Dalam hubungan ini Yohanes merujuk Yesus sebagai “Sabda”, yakni kata-kata “Terjadilah…!” dst. yang diucapkan Tuhan dalam menciptakan alam semesta berikut isinya, termasuk manusia sendiri.

Dengan latar di atas, makin jelas apa yang dimaksud Yesus ketika berkata kepada Pilatus (Yoh 18:36) bahwa kerajaannya bukan dari dunia ini, bukan dari sini. Yesus itu memang raja dalam arti puncak ciptaan sendiri, kemanusiaan yang sejati seperti dulu dikehendaki sang Pencipta. Dalam ay. 37 Yesus menambahkan bahwa untuk itulah ia lahir, untuk itulah ia datang. Seluruh kehidupannya mempersaksikan kebenaran, yaitu manusia yang dikehendaki Pencipta sebagai puncak ciptaan yang membadankan unsur-unsur ilahi dan ciptaan dalam dirinya.

Dengan demikian, dalam perayaan Kristus Raja Semesta Alam, dirayakan juga kebesaran manusia, yakni manusia seperti dikehendaki Pencipta. Itulah kebesaran martabat manusia sejati. Sesudah perayaan ini, orang Kristen menyongsong Masa Adven untuk menantikan pesta kedatangan Yesus, Raja yang bakal lahir dalam kemanusiaan yang sederhana tapi yang juga mendapat perkenan Yang Maha Kuasa.

Kembali ke dialog antara Pilatus dan Yesus. Dalam Yoh 18:37 disebutkan Yesus datang ke dunia, ke tempat yang dalam alam pikiran Injil Yohanes dipenuhi kekuatan-kekuatan yang melawan Allah Pencipta, untuk mempersaksikan “kebenaran”. Apa kebenaran itu? Pertanyaan ini juga diucapkan oleh Pilatus. Ini juga pertanyaan kita yang dalam banyak hal memeriksa Yesus. Menurut Injil Yohanes, “kebenaran” yang dipersaksikan Yesus itu ialah kehadiran ilahi di kawasan yang dipenuhi kekuatan gelap. Ia menerangi kawasan yang gelap. Inilah yang dibawakan Yesus kepada umat manusia. Inilah yang membuatnya pantas jadi Raja Semesta Alam. Orang yang mengikutinya akan menemukan jalan kembali ke martabat manusia yang asali, yakni sebagai “gambar dan rupa” Allah sendiri. Orang yang mendekat kepadanya dapat berpegang pada kebenaran ini. Masyarakat manusia kini, di negeri kita, butuh cahaya itu juga. Dan kitakita yang percaya kepada terang itu diajak untuk ikut membawakannya kepada semua orang. Inilah makna perayaan Kristus Raja Semesta Alam yang kita rajakan bersama Injil Yohanes tahun ini.

Salam hangat,

Sumber: http://www.mirifica.net/

baca selanjutnya...

Sabtu, 23 November 2019

Memahami Madah Kemuliaan

“Kemuliaan adalah madah yang sangat dihormati dari zaman kristen kuno. Lewat madah ini Gereja yang berkumpul atas dorongan Roh Kudus memuji Allah Bapa dan Anakdomba Allah, serta memohon belaskasihan-Nya. Teks madah ini tidak boleh di ganti dengan teks lain. Kemuliaan di buka oleh imam atau , lebih cocok, oleh solis atau oleh kor, kemudian dilanjutkan oleh seluruh umat bersama-sama, atau oleh umat dan paduan suara bersahut-sahutan, atau hanya oleh kor. Kalau tidak dilagukan, madah Kemuliaan dilafalkan oleh seluruh umat bersama-sama atau oleh dua kelompok umat secara bersahut-sahutan.

Kemuliaan dilagukan atau diucapkan pada hari-hari raya dan pesta, pada perayaan-perayaan meriah, dan pada hari Minggu di luar Masa Adven dan Prapaskah.”

Kutipan di atas diambil dari Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) artikel 53. Dari kutipan di atas kita bisa tangkap beberapa hal:
  1. Madah Kemuliaan bukanlah sembarang madah yang baru digubah pada zaman modern ini, melainkan sudah mengakar kuat sejak zaman kristen kuno. Seberapa kuno? Menurut Catholic Encyclopedia paling tidak sejak abad ketiga, atau kurang lebih 1700-an tahun yang lalu. Ini berarti, madah Kemuliaan ini menemani perjalanan iman Gereja selama lebih dari 1700 tahun.
  2. Madah Kemuliaan mengandung unsur pujian kepada Allah Bapa dan Allah Putera. Dan pujian ini dipercaya merupakan dorongan Roh Kudus. Bila dihubungkan dengan nomor 1, selama labih dari 1700 tahun, Gereja, berkat dorongan Roh Kudus memuji Bapa dan Putra dengan madah ini. Selain unsur pujian, madah Kemuliaan juga mengandung unsur mohon belas kasihan Allah lewat seruan “kasihanilah kami dan kabulkanlah doa kami”. 
  3. Mengingat tradisi panjang madah ini, yang dipercaya merupakan dorongan Roh Kudus, Gereja menetapkan bahwa teks madah ini tidak boleh diganti dengan teks lain. Atas dasar ini pula, Komisi Liturgi KWI maupun keuskupan dalam kesempatan-kesempatan seminar menyatakan bahwa Kemuliaan Misa Senja, Misa Dolo-Dolo, dan Misa Syukur (yang teksnya berbeda dengan teks asli) tidak boleh lagi dipakai sebagai madah Kemuliaan pada perayaan Ekaristi.
  4. Baris pertama madah ini: “Kemuliaan kepada Allah di surga” dinyanyikan oleh Imam, namun dikatakan lebih cocok bila dinyanyikan oleh solis atau koor. Suatu waktu mungkin Anda dengar baris pertama ini dinyanyikan bukan oleh Imam, justru itu yang lebih cocok. 
  5. Madah kemuliaan dapat dinyanyikan oleh seluruh umat bersama-sama, atau selang-seling antara koor dengan umat, atau oleh koor sendiri saja. Ada yang bilang, “Tidak boleh koor menyanyikan Kemuliaan sendiri saja karena membuat umat sepert penonton.” Menurut pedoman resmi Gereja, tidak benar. Koor diizinkan untuk menyanyikan sendiri madah Kemuliaan. Partisipasi umat dalam perayaan Ekaristi bukan hanya partisipasi lahiriah (ikut menyanyi) tapi yang lebih penting adalah partisipasi batiniah (menghayati apa yang dinyanyikan/didoakan). 
  6. Jika tidak memungkinkan untuk dinyanyikan, madah Kemuliaan dapat dilafalkan/diucapkan oleh seluruh umat,atau dua kelompok umat secara bergantian. 
  7. Madah Kemuliaan dinyanyikan/diucapkan pada perayaan Pesta dan Hari Raya, perayaan-perayaan meriah, dan hari Minggu di luar masa Adven dan Prapaskah. Perayaan meriah, misalnya: Perkawinan, pemberkatan Gereja, aula paroki, dll. 
Pada perayaan tertentu, nyanyian madah Kemuliaan diiringi dengan bel dan lonceng gereja untuk menambah suasana kemeriahan. Misalnya pada Misa Kamis Putih malam, dinyanyikan madah Kemuliaan secara meriah dengan iringan bel dan lonceng gereja. Namun setelahnya, bel dan lonceng gereja tidak dibunyikan lagi sampai madah Kemuliaan dinyanyikan lagi pada Misa Malam Paskah. Ini menarik mengingat bagian ‘tersuram’ sepanjang tahun liturgi ditandai dengan 2 madah Kemuliaan.

Kekayaan liturgi yang demikian ini sayangnya terkadang tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya. Ada imam atau awam yang masih merasa bisa mengubah teks madah ini seenaknya, padahal seorang imam apalagi awam tidak boleh mengurangi, mengubah atau menambah sesuatu dalam liturgi (lihat Konstitusi Liturgi, Konsili Vatikan II). Bahkan setelah disodori pedoman liturgi yang benar, masih tetap ngeyel dan secara sadar melanggar pedoman yang ada (memberi contoh ketidaktaatan). Misalnya pada Misa Natal yang mengganti Kemuliaan dengan lagu Para Malaikat Bernyanyi (PS 456), atau seperti yang termuat di foto dibawah ini, madah Kemuliaan Misa Kamis Putih yang diganti dengan lagu lain dari Madah Bakti. Patut disayangkan, pelanggaran seperti ini menjauhkan kita dari tradisi panjang Gereja selama lebih dari 1700 tahun.

https://saintraphaelpublishing.wordpress.com/

baca selanjutnya...

Jumat, 22 November 2019

Memahami Ritus Damai

Dalam Ritus Damai (Ritus Pacis) Imam selebran mengingatkan umat beriman bahwa Yesus berjanji untuk memberikan rasul-rasul-Nya damai dan meninggalkan mereka dengan damai-Nya. Sebab itu seluruh umat diundang untuk membagikan damai dengan orang-orang sekelilingnya. Sebelum kita menerima Yesus dalam Komuni Kudus, kita berdoa untuk damai dalam dunia dan memberikan tanda cinta kita kepada satu sama lain. Yesus mengajarkan kita bahwa pada saat mempersembahkan persembahan di atas altar dan kita ingat akan sesuatu yang ada dalam hati saudara terhadap kita, kita harus meninggalkan persembahan kita dan pergi berdamai dahulu dengannya (bdk. Mat 5:23) Pada saat kita menyiapkan diri untuk menerima Yesus di dalam Komuni Kudus, adalah sangat penting bahwa kita berada dalam kerukunan – dalam kesatuan – dengan satu sama lain (PUMR 82).

Doa Damai adalah doa yang hanya diucapkan oleh imam selebran saja karena bersifat kristologis. Ia mengatup tangan berdoa: “Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah bersabda kepada para Rasul, damai Kutinggalkan bagimu, damai-Ku Kuberikan kepadamu. Tuhan Yesus Kristus jangan memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu, dan restuilah kami supaya hidup bersatu dengan rukun sesuai dengan kehendak-Mu. Sebab Engkaulah pengantara kami kini dan sepanjang masa. Kemudian, seluruh umat mengakhirinya dengan menyerukan, Amin.”

Ritus damai dilaksanakan setelah doa Bapa Kami sebagai persiapan untuk menyambut Komuni. Maksud penempatan ritus damai setelah doa Bapa kami: “Gereja memohon damai dan kesatuan bagi Gereja sendiri dan bagi seluruh umat manusia, sedangkan umat beriman menyatakan persekutuan dan cinta kasih satu sama lain sebelum dipersatukan dengan Tubuh Kristus. Maka, Salam Damai yang dilakukan bukan pertama-tama untuk saling memaafkan, akan tetapi lebih untuk mengungkapkan persekutuan dan kesatuan hidup bersama dalam damai.

Doa Damai sebenarnya doa yang hanya diucapkan oleh imam saja, dan umat menjawab dengan kata “Amin”. Kebiasaan umat yang ikut mengucapkan Doa Damai tidak sesuai dengan makna liturgis doa ini.

Salam Damai di antara umat beriman bukanlah untuk saling memaafkan, tetapi pertama-tama untuk menyatakan persekutuan dan cinta kasih umat satu sama lain sebelum dipersatukan dengan Tubuh Kristus.

Ada 3 bagian ritus damai: (1) Undangan imam kepada umat untuk berdoa, sekaligus doa imam untuk mohon damai. Damai yang dimohon bukan sekedar damai karena tidak adanya perang atau konflik. Damai menurut arti kata Ibrani-Aram: shalom menunjuk pengertian yang mencakup seluruh dimensi penyelamatan Mesias, termasuk lahir dan batin, jiwa dan badan. (2) Sapaan imam kepada umat: “Damai Tuhan bersamamu”, berarti Damai Tuhan menyertai umat. Saat imam mengucapkan “Damai Tuhan bersamamu”, imam semestinya merentangkan tangan lebar-lebar, seolah-olah hendak memeluk semua umat. (3) Imam dan umat beriman saling memberikan salam damai dengan bersalaman atau membungkuk; atau di tempat tertentu saling berpelukan atau mencium. Tapi sebaiknya diserahkan kepada kebiasaan masing-masing daerah sesuai ketentuan Konferensi Uskup.

Sumber : Martasudjita,E.Pr., Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius 2005.
Fr. Antonius Pramono, www.reginacaeli.org

baca selanjutnya...

Selasa, 19 November 2019

Menebah Dada Waktu Menyatakan Tobat dalam Misa

Ketika seorang katekis berusaha menjelaskan makna pernyataan tobat dalam Misa, ia mengatakan: Kita menepuk dada tiga kali pada waktu mengucapkan "saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa". Upssss! menepuk dada? Bukankah sikap itu biasanya bermakna menyatakan diri berani atau menantang? Berdosa kok bangga. Untunglah, meski secara visual tata geraknya sama, tetapi dalam TPE 2005 sudah ada pelurusan dengan penggunaan istilah menebah dada, yang berarti menampar-nampar dada karena sedih.

Mengakui dosa

Kita patut bersedih, jika merasa berdosa. Itulah yang mungkin juga dirasakan seorang pemungut cukai, ketika menyadari diri berdosa. Ia berdiri jauh-jauh, bahkan tidak berani menengadah ke langit, melainkan memukul diri dan berkata: "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." (Lukas 18:13).

Sikap batin kita mungkin sama dengan pemungut cukai itu. Bahkan sikap lahir pemungut cukai itu pun boleh kita tiru. Secara khusus kita memukul diri dalam pengertian menebah dada tadi. Itu kita lakukan dalam pernyataan tobat, sesudah imam mengajak jemaat hening untuk menyadari diri, lalu "menyesali dan mengakui bahwa kita telah berdosa supaya layak merayakan peristiwa penyelamatan" yang akan kita alami dalam Misa.

Umat sebaiknya sudah terlibat mengucapkan "Saya mengaku" bersama imam. Jangan biarkan imam mengaku sendirian, sementara umat hanya mengekor. Begitu melihat mulut imam mulai terbuka untuk mengucapkan suku kata pertama Sa-, umat langsung membarengi saja. Maka, imam dan umat bersama-sama mengakui "bahwa telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, perbuatan dan kelalaian."

Pengakuan ini tak hanya disampaikan kepada Allah, tetapi juga kepada semua yang hadir. Dosa memang tak hanya berdimensi vertikal (terhadap Allah yang Mahakuasa), tetapi juga horisontal (terhadap sesama, saudara). Hubungan yang terganggu karena dosa kita, hendak dipulihkan dalam perjamuan kasih ilahi. Pengakuan ini pun bersifat komuniter, maka sangat relevan dengan ciri gerejawi dari perayaan Ekaristi.

Mohon pengampunan

Gereja di dunia tidak merayakan Ekaristi sendirian. Kita sebagai mahkluk duniawi juga sedang merayakannya bersama para malaikat dan semua orang kudus. Maka, setelah menyadari diri berdosa, kita pun mohon kepada Santa Perawan Maria, para malaikat, dan orang kudus, serta kepada seluruh jemaat yang hadir, agar mendoakan kita pada Allah.

Yang kita mohonkan adalah belaskasih dan pengampunan dari Allah melalui imam sang pemimpin. Lalu imam menyatakan rumus absolusi singkat: "Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita." Absolusi ini tidak bermakna sakramental seperti dalam Sakramen Pengakuan. Maka, imam mengucapkannya hanya dengan tangan terkatup, tanpa mengulurkan tangan dan tanpa memberi berkat Salib kepada jemaat. Jemaat pun tak perlu latah membuat tanda Salib pada dirinya sendiri.

Sudah sepantasnya jiwa kita yang merasa berdosa dibersihkan kembali ketika berada di hadapan Allah. Ritus ini pun diadakan agar umat merasa pantas mendekati misteri luhur yang akan mempersatukannya dengan Allah, melalui santapan Sabda dan Tubuh-Darah Kristus, Putra-Nya.

Begitulah sedikit tentang makna dan teks pengakuan (Confiteor). Teks yang konon berasal dari tradisi ibadat harian para rahib ini adalah bagian dari actus paenitentialis. Istilah dalam Ordo Missae itu dapat diterjemahkan dengan pernyataan tobat. Namun TPE kita hanya menuliskan tobat untuk bagian sesudah pengantar ini. Seperti halnya pernyataan tobat dalam Ordo Missae, versi TPE pun menempatkan cara ini sebagai pilihan pertama di antara beberapa pilihan yang ada.

Christophorus H. Suryanugraha OSC
Ketua Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia

baca selanjutnya...

Minggu, 17 November 2019

Tinjauan Teks Liturgis: Anamnesis

Pusat dan Puncak seluruh perayaan Ekaristi dimulai pada saat Doa Ekaristi (Prex Eucharistica). Doa Ekaristi atau lebih dikenal dengan Doa Syukur Agung tentu saja memiliki struktur dan urutan yang tetap dan teratur. Pada umumnya, setiap Doa Ekaristi memiliki unsur-unsur yang sama sebagai doa syukur dan pengudusan. Bagian-bagian yang paling penting dalam Doa Ekaristi menurut PUMR 79 adalah: Ucapan Syukur, Aklamasi Kudus, Epiklesis, Kisah Institusi dan Konsekrasi, Anamnesis, Persembahan, Permohonan, dan Doksologi Penutup. Dalam bagian anamnesis, Gereja mewujudkan perintah Kristus Tuhan yang disampaikan melalui para rasul: “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku”(“Eis ten emen anamnesim”). Gereja mengenangkan sengsara Kristus yang menyelamatkan, kebangkitan-Nya yang mulia, dan kenaikan-Nya ke surga (bdk. Katekismus Gereja Katolik 1354). Kalau kita membandingkan teks anamnesis dari Ordo Missae dalam Missale Romanum (MR) 2008 dengan Tata Perayaan Ekaristi (TPE) 2005, ada beberapa catatan yang patut dipertimbangkan.

SATU MENJADI ENAM

Hanya ada satu versi aklamasi anamnesis bagian imam selebran utama dalam MR 2008 yakni mysterium fidei yang berarti “misteri iman” sedangkan dalam TPE 2005 ada enam (6) variasi yang perlu ditinjau kembali:

Seruan “misteri iman” sebagai suatu aklamasi diaggap sudah cukup mengandung makna yang jelas, padat dan sekaligus mendalam tanpa harus ditambahkan kata-kata ajakan atau pernyataan yang sudah terkandung di dalamnya. Terjemahan yang paling parah adalah rumusan no 4 sebab bagian yang harusnya dinyanyikan oleh umat justru menjadi bagian imam.

TIGA MENJADI ENAM

Aklamasi anamnesis bagian umat sebagai jawaban dalam TPE 2005 masih perlu direvisi (ada 6 variasi)karena tidak sesuai dengan teks asli yakni berdasarkan MR 2008 yang hanya memiliki 3 jawaban umat.


MAKNA ANAMNESIS DAN KAPAN DIGUNAKAN?

Kata anamnesis (dari bahasa Yunani: anamnesis) dapat diterjemahkan sebagai suatu kenangan atau memoria. Bagi umat Katolik, anamnesis dipahami dengan makna yang lebih luas dan mendalam daripada warisan Yahudi sebab anamnesis juga berarti masa depan yang mengatasi masa lampau. Pada saat umat mengenang “Ekaristi”, yang terjadi adalah pertemuan kisah masa lalu secara manusiawi dan anugerahilahi. Dengan kata lain, anamnesis adalah saat umat mengenangkan peristiwa keselamatan Allah dan mengaktualisasikannya dalam hidup sekarang (melalui Ekaristi) dan sekaligus merayakan peristiwa keselamatan yang akan datang.

Anamnesis juga berkaitan dengan “zikkaron” yang dalam bahasa Ibrani tidak hanya bermakna suatu kenangan subjektif belaka tetapi juga aktualisasi nyata dari apa yang dikenang: kehendak akan penebusan Tuhan melalui peristiwa penyelamatan Perjanjian Lama yang memuncak pada Misteri Paskah Kristus. Mysterium Fidei bagi St. Paulus tidak lain adalah misteri Paskah Kristus: Kristus yang wafat dan bangkit. Anamnesis tidak hanya menghadirkan suatu kenangan masa lalu dan sejarah bangsa Israel, tetapi juga menambahkannya pada masa kini serta merujuk pada masa depan dan dengan berbagai cara mengantisipasinya: donec veniat: Maranatha!

Anamnesis adalah suatu aklamasi sehingga secara episteme, bagian anamnesis ini seharusnya dinyanyikan apalagi untuk hari Minggu. Anamnesis dimulai dengan aklamasi yang dinyanyikan oleh imam selebran utama yakni mysterium fidei yang berarti “misteri iman” dan ditanggapi dengan 3 cara jawaban dari umat.

Anamnesis yang pertama: Mortem tuam annuntiamus, Domine, et tuam resurrectionem confitemur, donec venias (Wafat-Mu, Tuhan, kami wartakan, Kebangkitan-Mu kami muliakan, hingga Engkau datang). Tekanan bagian yang pertama ini adapada kata-kata: donec venias yang merujuk pada pengharapan akan kedatangan Kristus dalam kemuliaan pada saat yang akan datang. Selain itu, mortem tuam annuntiamus mencakup misteri kematian Kristus yang dikaitkan dengan Anak Domba Paskah dan pengurbanan Kristus sendiri. Dimensi ekstologis lebih jelas dalam konteks ini sebagaimana dikatakan oleh St. Paulus dalam 1 Kor 11:26b, yakni“.... kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang”. Anamnesis ini sebaiknya dinyanyikan pada masa advent.

Anamnesis yang kedua: Quotiescumque manducamus panem huncet calicem bibimus, mortem tuam annuntiamus, Domine donec venias (Setiap kali kami makan roti ini dan minum dari piala ini, wafat-Mu, Tuhan, kami wartakan hingga Engkau datang). Tekanan bagian yang kedua ini ada pada kata-kata: “Quotiescumque manducamus panem huncet calicem bibimus, mortem tuam annuntiamus” yang mengingatkan kita pada kisah Perjamuan Malam Terakhir. Demikianlah Yesus mengambil cawan yang merupakan Perjanjian Baru yang dimeteraikan oleh darah-Nya. Kita diminta Tuhan untuk melakukan perintah-Nya sebagai kenangan akan Dia (bdk. 1 Kor 11:25). Felice Rainoldi dalam bukunya Lodate Dio nel suo santuario menyatakan bahwaaklamasi yang kedua ini sangat tepat bila dinyanyikan pada masa Paskah, secara khusus pada saat Kamis Putih.

Anamnesis yang ketiga: Salvator mundi, salva nos, qui per crucem et resurrectionem tuam liberasti nos (Penyelamat dunia, selamatkanlah kami, karena melalui salib dan kebangkitan-Mu, Engkau telah membebaskan kami). Tekanan bagian yang ketiga ini ada pada dimensi penebusan karena Yesus sendiri yang menyelamatkan dan membebaskan manusia melalui wafat dan kebangkitan-Nya. Umat memohon kepada Sang Penyelamat agar menebus dosa umat manusia sebagaimana Allah sendiri telah menebus dosa dan kesalahan bangsa Israel. Anamnesis ini sangat tepat dinyanyikan pada masa Prapaskah dan setiap hari Jumat. Untuk masa-masa liturgis yang lain dapat dipilih dan disesuaikan berdasarkan tingkat perayaan atau bentuk misa yang bersangkutan.

Sumber: Kfr. Riston P. Situmorang, OSC
http://osc.or.id/

baca selanjutnya...

Sabtu, 16 November 2019

Istilah dan Makna Doksologi

Kfr. Riston P. Situmorang, OSC

Istilah doksologi berasal dari bahasa Yunani yakni dari kata δόξα [dÏŒxa] yang berarti kemuliaan. Sebagai bagian penutup dari Doa Ekaristi atau sering disebut dengan Doa Syukur Agung, rumusan doksologi bermaksud untuk mewartakan kemuliaan Tuhan. Kata doksologi yang dalam bahasa Latin doxologia atau gloria dapat juga diterjemahkan dengan kemuliaan, penghormatan, pujian atau keluhuran. Kita sebagai manusia mempersembahkan pujian dan penghormatan untuk memuliakan dan meluhurkan keagungan Tuhan. Ada proses glorifikasi yang bergerak dari manusia menuju dan kepada Allah. Joseph Jungmann pernah berkata bahwa dalam doksologi kita dapat menemukan “sense” dari sebuah doa. Sebagai ciptaan, kita manusia bersembah sujud di hadapan Sang Pencipta sebab kemuliaan-Nya sungguh tak terbatas dan jauh melampaui apa yang dipikirkan oleh manusia.

Dengan kata lain, doksologi adalah suatu doa atau madah pujian yang melambungkan kemuliaan dan keagungan Allah. Doksologi adalah pemuliaan yang mengungkapkan keagungan rahmat dan pujian bagi Allah. Doksologi adalah misteri penyelamatan dalam hidup kita. Melalui Putra-Nya, Bapa menciptakan segala sesuatu; melalui-Nya, Bapa menebus dosa manusia dan terus menerus menyempurnakannya dengan kemuliaan-Nya. Melalui Kristus dan dalam persekutuan dengan Roh Kudus, Bapa memberi kehidupan bagi segala ciptaan, memberkatinya dan menjadikannya lebih baik dan berkembang.

Doksologi Dalam Tradisi Gereja

Dalam Tradisi Gereja dikatakan bahwa pada masa tertentu sekitar abad ke-4, setiap doa selalu diakhiri dengan doksologi, meskipun doksologi sudah dipakai sejak awal dalam doa di sinagoga dengan rumusan akhir: tibi gloria in sæcula sæculorum. St. Yustinus dalam Apologia menegaskan bahwa doksologi sebagai penutup doa selalu diakhiri dengan kata “Amen”. St. Basilius dalam buku De Spiritu Sancto menganjurkan untuk memakai forma “Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus” dalam setiap doa umat beriman untuk menunjukkan identitas dan dimensi trinitas termasuk untuk menentang bidaah Arianisme. Gagasan ini kemudian didukung oleh beberapa Bapa Gereja seperti St. Hippolitus dan Origenes dan bahkan penggunaan doksologi secara meluas dipakai dalam devosi seperti doa Rosario.

Kitab Suci juga menunjukkan adanya penggunaan doksologi walaupun dalam konteks dan rumusan yang berbeda. Surat rasul Paulus kepada umat di Roma berbunyi: “Bagi Dia, yang menguatkan kamu, bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin (bdk. Rm. 16:25-27). Bentuk doksologi yang demikian adalah suatu doksologi panjang yang juga terdapat dalam surat rasul Paulus kepada umat di Efesus: “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin (Ef 3:21). Masih di abad ke-4, pemakaian doksologi diletakkan pada bagian akhir dalam setiap mazmur yang didaraskan dalam brevir. Formulasi doksologi yang digunakan tersebut masih berlaku sampai sekarang dalam “Liturgi Harian”.

Pembagian Doksologi

Seiring dengan perkembangan sejarah Liturgi, formulasi doksologi pun mengalami perkembangan variasi rumusan yang disesuaikan dengan penggunaannya dalam Liturgi. Oleh karena itu, kita dapat membedakan beberapa rumusan doksologi:

1. Berdasarkan tingkatan formulasi
  • Doksologi maior atau doksologi meriah yaitu doksologi dengan rumusan panjang yang dipakai dalam Ritus Pembuka khususnya dalam Ritus “Gloria”: “Kemuliaan kepada Allah di surga dan damai di bumi…. Hanya Engkaulah mahatinggi, ya Yesus Kristus, bersama dengan Roh Kudus, dalam kemuliaan Allah Bapa. Amin”. Dasar biblisnya dapat ditemukan dalam Luk 2:14 : “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya”.
  • Doksologi minor atau doksologi sederhana yaitu doksologi dengan rumusan pendek yang dipakai pada bagian akhir doa offisi atau bagian penutup doa-doa kita yang lain: Gloria Patri, et Filio, et Spiritui Sancto. Sicut erat in principio, et nunc, et semper, et in saecula saeculorum. Amen, “Kemuliaan kepada Bapa dan Putera, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan sekarang selalu dan sepanjang segala abad. Amin”.
2. Berdasarkan struktur dalam doa presidensial
  • Doksologi Trinitaris yaitu doksologi yang lengkap dan berdimensi trinitaris yakni pujian kepada Allah Bapa, dengan pengantaraan Putera-Nya, dan dalam persatuan dengan Roh Kudus (konklusi trinitaris). Doksologi ini dipakai sebagai penutup Doa Pembuka (Collecta) dengan tiga alternatif formulasinya (bdk. PUMR 54):
    1. Kalau doa diarahkan kepada Bapa: “Dengan pengantaraan Yesus Kristus Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, kini dan sepanjang masa”.
    2. Kalau doa diarahkan kepada Bapa, tetapi pada akhir doa disebut juga Putra: “Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami, yang bersama dengan Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, kini dan sepanjang masa”.
    3. Kalau doa diarahkan kepada Putra: Sebab Engkaulah Tuhan, pengantara kami, yang bersama dengan Bapa, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, kini dan sepanjang masa.
  • Selain itu, doksologi trinitaris digunakan juga pada bagian akhir dari Doa Ekaristi. Doksologi ini sering juga disebut dengan doksologi meriah: “Dengan pengantaraan Kristus, bersama Dia, dan dalam Dia, bagi-Mu Allah Bapa yang mahakuasa, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, segala hormat dan kemuliaan sepanjang segala masa. Amin”.
  • Doksologi Kristologis yaitu doksologi singkat yang bersifat Kristologis: “Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami” atau “…dalam diri Yesus, Putra-Mu, Tuhan dan pengantara kami”. Doksologi ini digunakan pada bagian penutup doa atas persembahan (oratio super oblata), doa sesudah komuni (oratio post communionem), dan termasuk doa umat (doa non-presidensial).
Per Ipsum, Cum Ipso, et In Ipso

Ada dua motivasi mengapa Gereja patut mendoakan doksologi dalam suatu doa: yang pertama, anugerah penciptaan. Allah menciptakan alam semesta dan segalanya. Dengan demikian, semua ciptaan adalah anugerah cinta-Nya. Maka, kita bersyukur atas ciptaan tersebut dengan memuliakan nama-Nya. Yang kedua, anugerah penebusan dan keselamatan. Gereja bersyukur karena Kristuslah yang menebus dosa-dosa manusia dan menyelamatkan umat manusia. Melalui sengsara dan kematian serta kebangkitan Kristus, semakin nyatalah kemuliaan Allah.

Ucapan syukur Gereja atas anugerah ciptaan dan penebusan serta keselamatan ini menggambarkan dimensi trinitaris yaitu hidup kristiani yang berasal dari Allah, melalui Yesus Kristus dan dihidupi dalam Roh Kudus: “Per ipsum, et cum ipso, et in ipso, est tibi Deo Patri omnipotenti, in unitate Spiritus Sancti, omnis honor et gloria, per omnia saecula saeculorum. Amen”. Per ipsum berarti melalui Dia yang adalah Kristus, cum ipso berarti hidup bersama dengan Kristus dan in ipso berarti hanya ada dalam Kristus semata.

Per Ipsum menunjukkan pentingnya Kristus sebagai Sang Perantara. Melalui Dia, kemuliaan Allah semakin tampak dari buah-buah yang dihasilkan dalam kehidupan kita masing-masing: “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15: 5). Melalui Kristus, kita dapat bersatu dengan Bapa sebab tidak ada jalan selain melalui Dia: “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 4: 6).

Cum Ipso menunjukkan bahwa kita hidup bersama dengan Kristus dan karena itu Ia selalu menyertai kita. Dia tidak hanya berada di atas atau di hadapan kita tetapi juga berada di antara dan bersama dengan kita: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:20).

In Ipso menunjukkan bahwa hidup kita ada dalam Kristus sehingga kita tidak bisa hidup, bernafas, berdoa, mencintai atau tindakan apapun jika tidak dalam Dia. Hanya dalam Dia, peristiwa keselamatan dapat terjadi.

Doksologi Dalam Misa

Dengan penjelasan doksologi di atas, semoga kita dapat menempatkan rumusan yang tepat dan memakai formulasi yang sesuai dengan ritusnya. Beberapa kekeliruan yang terjadi dan patut diminimalisir adalah:
  • Pada bagian Doa Pembuka (Collecta), doksologi yang digunakan adalah doksologi trinitaris yang lengkap. Akan tetapi, tidak jarang kita mendoakan doksologi yang kurang lengkap baik karena menghilangkan kata “Roh Kudus” maupun karena mengganti rumusan doksologi yang tepat sesuai PUMR no 54 dengan rumusan yang lebih singkat.
  • Pada bagian Doa Atas Persembahan (oratio super oblata), Doa Sesudah Komuni (oratio post communionem), dan termasuk Doa Umat (oratio fidelis), doksologi yang dipakai adalah doksologi kristologis yang singkat. Justru sebaliknya, tidak jarang kita menggantinya dengan rumusan trinitaris yang lengkap atau rumusan yang lebih panjang.
  • Pada bagian akhir Doa Syukur Agung, doksologi harusnya dibawakan oleh semua imam sedangkan doksologi sebagai bagian doa presidensial harusnya hanya dibawakan oleh selebran utama saja dan bukan didoakan bersama-sama dengan imam konselebran, diakon, apalagi mengajak umat.
Pada ritus “Gloria”, rumusan doksologi atau “Kemuliaan” harusnya sesuai dengan teks asli dan tidak menggantinya dengan rumusan yang lebih singkat atau variasi lain yang tidak sesuai.

https://osc.or.id/kom-liturgi/

baca selanjutnya...

Jumat, 15 November 2019

Berlutut Setelah Menerima Komuni

Berlutut merupakan salah satu gerak tubuh yang penting dalam/selama perayaan Ekaristi selain gerak tubuh lainnya seperti duduk, berdiri atau membungkuk. Setiap gerak tubuh memiliki makna yang berbeda selama liturgi. Jika demikian, apa makna berlutut? Mengapa ada bagian tertentu dari Perayaan Ekaristi di mana umat harus berlutut?

Bagian pertama dari Perayaan Ekaristi terdiri dari bacaan-bacaan suci dan homili. Kecuali ketika mendengar bacaan Injil di mana kita berdiri, kita mendengar bacaan-bacaan pertama dan kedua sambil duduk. Marilah kita ingat, bahwa Perayaan Ekaristi tidak hanya terdiri dari liturgi sabda, tetapi juga liturgi ekaristi. Ada banyak bagian dalam liturgi ekaristi di mana kita berdoa sambil berlutut, dan itulah wujud paling nyata dari sikap kerendahan hati kita di hadapan Allah.

Sebagai ungkapan rasa syukur dan kerendahan hati bahwa Allah telah menganugerahkan keselamatan juga kepada orang-orang bukan Yahudi, Paulus menyatakannya dengan berlutut dan berdoa di hadapan Bapa (Efesus 4:14). Dan ketika hendak menyembuhkan Tabita, Rasul Petrus juga berlutut dan berdoa kepada Allah (Kis 9:40). Gerak tubuh berlutut telah menjadi kebiasaan dan tradisi yang dipraktikkan dalam Gereja Katolik sejak abad pertama. Santo Ambrosius mengatakan bahwa berlutut adalah sikap kerendahan hati yang tidak hanya mengekspresikan rasa tobat kita, tetapi sekaligus juga dapat meredakan murka Allah (St. Ambrose, Hexaem., VI, ix). Dan tradisi ini terus kita pertahankan sampai sekarang.

Jadi, ketika ditanyakan mengapa kita harus berlutut, jawabannya adalah karena itulah sikap tubuh yang paling sempurna yang menunjukkan kerendahan hati. Berlutut menjadi sikap pengakuan dan penyerahan diri kita kepada otoritas yang ada di hadapan kita itu. Dalam konteks perayaan liturgis, sikap berlutut menunjukkan pengakuan kita akan kekudusan dan kebesaran Allah.

Selama Perayaan Ekaristi, kita berlutut sejak menyerukan atau menyanyikan "Kudus" (Sanctus) sampai ketika akan menerima komuni kudus. Inilah momen di mana terjadi transubstansiasi, saat roti dan anggur berupa rupa menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Dalam kerendahan hati dan rasa tidak pantas, kita menyambut mukjizat transubstansiasi itu sekaligus mengungkapkan pengakuan kita kepada kekudusan, kebesaran dan otoritas Allah yang sedang hadir di antara kita.

Kita mulai berdiri sejak Doa Damai. Ketika giliran untuk menerima komuni kudus tiba, kita kemudian berdiri dan berjalan secara sopan ke arah imam atau prodiakon dan menerima komuni kudus dalam sikap yang sopan. Kita berlutut lagi setelah menyambut komuni. Mengapa kita harus berlutut setelah menerima komuni kudus dan sampai bagian apa kita masih harus berlutut? Apakah kita sudah boleh duduk setelah selesai berdoa secara pribadi padahal komuni masih dibagikan?

Menurut Pedoman Umum Misale Romawi, umat berlutut pada saat konsekrasi, kecuali kalau ada masalah kesehatan atau tempat ibadat tidak mengizinkan. Konferensi Uskup memang diberi wewenang untuk menyelaraskan tata gerak dan sikap tubuh dalam Tata Perayaan Ekaristi dengan ciri khas dan tradisi yang sehat yang berlaku pada suatu negara/bangsa tertentu. Meskipun demikian, Takhta Suci mengehendaki agar Konferensi Uskup menjamin bahwa penyerasian itu selaras dengan makna dan ciri khas bagian dari perayaan Ekarisi bersangkutan. Misalnya, kalau umat sudah terbiasa berlutut sejak Kudus sampai akhir Doa Syukur Agung, kebiasaan ini seharusnya dipertahankan (lihat Pedoman Umum Misale Romawi, Komisi Liturgi KWI-Penerbit Nusa Indah, Ende: 2002, No. 43).

Beberapa keuskupan di Amerika Serikat, misalnya, mendorong umat untuk berlutut setelah menyambut komuni dan terus dalam keadaan berlutut sampai orang terakhir menerima komuni kudus atau bahkan sampai ketika imam atau diakon telah selesai membersihkan piala dan siborium dan mengembalikan sisa hosti ke dalam Tabernakel. Itu karena keyakinan bahwa selama pintu Tabernakel dibuka, sikap umat adalah menunjukkan penghormatan yang tinggi kepada Tuhan Yesus. Tetapi praktik semacam ini bukan merupakan sebuah ketentuan yang sifatnya ketat (rigid) dan harus diberlakukan di seluruh dunia.

Di berbagai keuskupan di Indonesia, umat biasanya berlutut beberapa saat setelah menerima Komuni Kudus. Selama momen ini, umat biasanya mengucap syukur dan memanjatkan doa-doa permohonan pribadi, mengucap syukur, memuji dan memuliakan Allah secara pribadi. Setelah itu, umat boleh duduk. Komuni kudus memang bisa dan biasanya diselingi dengan nyanyian komuni oleh anggota koor. Meskipun demikian, karena ini adalah saat hening sesudah komuni dan umat diizinkan duduk (Pedoman Umum Misale Romawi, Komisi Liturgi KWI-Penerbit Nusa Indah, Ende: 2002, No. 43), hendaknya momen ini dijadikan sebagai kesempatan untuk merenungkan sekali lagi Sabda Tuhan misteri keselamatan Kristus, memadukannya dengan Sabda Allah yang dibacakan selama liturgi sabda dan membawanya dalam doa dan komunikasi yang intim dengan Allah sendiri (Lihat misalnya Buku Puji Syukur No. 211).

Di atas semuanya itu, berlutut adalah sebuah sikap batin kerendahan hati dan penyerahan diri total kepada Allah. Semoga gerak tubuh yang diekspresikan selama perayaan Ekaristi membantu kita untuk semakin dekat dengan Allah yang hadir dan mengorbankan diri-Nya bagi keselamatan kita.

Sumber: https://www.parokimbk.or.id/

baca selanjutnya...

Kamis, 14 November 2019

DSA : Doa Terutama dan Teragung Kita

oleh: P. Thomas Richstatter, O.F.M.,S.T.D.*
Ketika kalian ikut ambil bagian dalam Misa, apakah yang kalian lakukan sepanjang Doa Syukur Agung? Bagaimanakah kalian mendoakannya? (Kita berbicara mengenai bagian Misa antara Persiapan Persembahan dan Ritus Komuni. Doa Syukur Agung dimulai dengan dialog: “Tuhan besertamu… Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan….” Dan diakhiri dengan “Amin.” Sebagai tanggapan atas doksologi “Dengan pengantaraan Kristus, bersama Dia dan dalam Dia….”)

Doa Syukur Agung adalah jantung Misa. Dan, sebagaimana Ekaristi adalah “sumber dan puncak kehidupan dan misi Katolik” (Yohanes Paulus II), apa yang kita lakukan sepanjang doa ini teramat penting bagi pemahaman kita akan apa artinya menjadi seorang Katolik.

Tantangan-tantangan Baru dan Lama

Bagaimanakah kalian mendoakan Doa Syukur Agung? Sebagai tanggapan atas pertanyaan ini, “umat Katolik yang lebih baru” (mereka yang dibentuk dalam iman sesudah 1969), seringkali mengatakan kepada saya bahwa mereka berusaha mengikuti perkataan yang diucapkan imam, tetapi karena doanya panjang, seringkali mereka mengalami distraksi dan mulai memikirkan hal-hal lain. Jika kalian mengalaminya juga, saya harap penjelasan struktur dan fungsi Doa Syukur Agung yang disajikan berikut ini akan membantu kalian memahaminya secara lebih baik sehingga kalian dapat ikut ambil bagian di dalamnya dengan terlebih khusuk dan mendalam.

“Umat Katolik yang lebih lama” (mereka yang, seperti saya, dibentuk dalam iman Katolik dengan Misa Latin) memiliki masalah yang lebih besar. Kebanyakan dari kami harus secara radikal mengubah apa yang biasa kami lakukan sepanjang Doa Syukur Agung. Guna memahami mengapa kita harus mengubah cara kita mendoakan Doa Syukur Agung, kita akan melihat jawaban atas ketiga pertanyaan mendasar mengenai doa: 1) Doa siapakah Doa Syukur Agung? 2) Mengenai apakah Doa Syukur Agung itu? 3) Apakah yang kita doakan?

Doa Siapakah Doa Syukur Agung?

Doa Syukur Agung adalah doa kita; adalah doa segenap jemaat. Tetapi ini bukanlah apa yang saya pelajari semasa kanak-kanak. Saya dibesarkan dengan pikiran bahwa Doa Syukur Agung adalah doa imam. Doa Syukur Agung adalah saat ketika imam berdoa kepada Allah - dalam bahasa Latin, bahasa yang, jika bukan imam, Allah mengerti dengan sangat baik - dan mempersembahkan Yesus kepada Bapa sebagaimana Yesus telah mempersembahkan Diri-Nya di salib.

Dan sementara imam “mempersembahkan Misa”, saya mempersembahkan doa-doa saya sendiri - dalam bahasa saya - berdoa kepada Allah mengenai hidup dan persoalan-persoalan saya. Terkadang saya membaca doa-doa dari buku doa. Terkadang saya mendaraskan rosario. Terkadang seluruh jemaat mendaraskan rosario bersama dengan lantang. Dalam Misa Agung (dengan nyanyian) paduan suara memadahkan Sanctus (Kudus, Kudus, Kudus) sementara imam mempersembahkan Doa Syukur Agung dalam keheningan di altar.

Berdoa Atas Nama Kita

Sekarang kita mendengarkan doa-doa Misa dalam bahasa kita sendiri; kita menjadi sadar bahwa Doa Syukur Agung bukan hanya doa imam, melainkan doa kita.

Imam senantiasa berdoa dalam kata ganti orang pertama jamak: “Kami memuji Engkau, ya Bapa yang kudus… Kami mohon, ya Tuhan, sudilah menerima persembahan kami… Kami mohon, ya Bapa, sudilah menguduskan persembahan ini…” Doa dipanjatkan oleh imam, tetapi imam memanjatkannya atas nama kita. Itulah sebabnya imam di altar menghadap kita dan mengajak kita dengan suara dan gerak tubuhnya untuk mendorong kita menjadikan doa sebagai doa kita.

Jika Doa Syukur Agung hanya milik imam, maka hanya imam yang perlu tahu struktur dan fungsi doanya. Tetapi jika Doa Syukur Agung adalah doa kita, adalah penting kita memahaminya.

Mengenai Apakah Doa Syukur Agung itu?

Bagi umat Katolik yang lebih lama, jawab atas pertanyaan itu sederhana. Doa Syukur Agung adalah doa konsekrasi, doa yang mengubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus.

Dalam tahun-tahun sebelum Konsili Vatican II, apapun yang sedang kita doakan secara pribadi, entah mendaraskan rosario bersama ataupun memadahkan Sanctus, kita menghentikan apapun yang tengah kita lakukan ketika misdinar membunyikan lonceng kecil guna memaklumkan saat konsekrasi. Imam akan membungkuk dalam di hadapan roti dan piala dan mengucapkan kata-kata Yesus dalam Perjamuan Malam Terakhir: “Inilah tubuh-Ku… Inilah piala darah-Ku….” Itulah saat penting dalam Misa. Sekarang kita melihat bahwa keseluruhan Doa Syukur Agung adalah penting.

Suatu Struktur yang Lestari

Guna memahami Doa Syukur Agung sebagai suatu keseluruhan, bayangkan sejenak seorang remaja berbicara kepada ayahnya pada suatu Sabtu sore: “Papa adalah ayah terbaik yang pernah dapat dimiliki seorang anak. Papa bekerja keras bagi kami sepanjang minggu agar tersedia makanan di atas meja dan memastikan segala kebutuhan kami terpenuhi. Aku yakin Papa lelah dan ingin beristirahat di rumah malam ini dan menonton televisi. Bolehkah aku pinjam kunci mobilnya, Pap?”

Terkadang saya mempergunakan contoh yang agak sekuler ini untuk menggambarkan struktur Doa Syukur Agung. Jika kita mengamati dengan cermat teks-teks Doa Syukur Agung yang dipergunakan Gereja sepanjang berabad-abad di berbagai belahan dunia, kita dapati bahwa semuanya memiliki bentuk tiga-bagian yang serupa, yakni berakah (Ibrani: doa berkat). Pertama-tama, kita menyapa dan memberkati Allah; kedua, penuh syukur kita mengenangkan hal-hal mengagungkan yang telah dilakukan Allah demi menyelamatkan kita; dan ketiga, kita mengajukan permohonan.

Kenangan Penuh Syukur

Doa Syukur Agung diawali dengan dialog “Tuhan bersamamu…. Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan….” Disini kita memulai berakah kita. Pertama kita menyapa dan memberkati Allah: “Sungguh kuduslah Engkau, ya Bapa, sumber segala kekudusan….” Kemudian dengan penuh syukur kita mengenangkan karya keselamatan Allah: “Engkau telah menciptakan semesta alam…” (Prefasi Minggu V). Sementara perbuatan-perbuatan ajaib Allah dikisahkan, kita tak dapat menahan sukacita dan kita bermadah dengan lantang, “Wow, wow, wow!” Betapa Allah sungguh mengagumkan! Dalam bahasa ritual Misa, seruan ini mengambil bentuk, “Kudus, Kudus, Kudus”.

Dan kita terus mengenangkan perbuatan-perbuatan besar Allah. Kita mengenangkan Perjamuan Malam Terakhir dan peristiwa-peristiwa Kamis Putih. Kita mengingat bagaimana “Pada hari sebelum menderita sengsara, dalam perjamuan malam terakhir, Ia mengambil roti dan memuji Bapa, memecah-mecahkan roti itu, dan memberikannya kepada murid-murid-Nya….” Kita mengenangkan peristiwa-peristiwa Jumat Agung dan Minggu Paskah: sengsara, wafat dan kebangkitan mulia Kristus.

Tetapi dalam mengenangkan Misteri Paskah ini kita tak sekedar mengingat peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau. Kenangan liturgis ini - disebut anamnesis (dari bahasa Yunani: mengingat, mengenang) - menjadikan kita hadir dalam suatu cara yang misterius dalam peristiwa-peristiwa mendasar iman kita. Dan “Dalam anamnese… Gereja… menyampaikan kepada Bapa kurban PutraNya, yang mendamaikan kita dengan Dia” (Katekismus Gereja Katolik, #1354).

Apakah yang Kita Doakan?

Sekarang setelah kita mengenangkan dan menjadi hadir dalam misteri-misteri agung keselamatan, kita mengajukan permohonan kita - epiklesis (dari bahwa Yunani: permohonan) “Dalam epiklese Gereja memohon kepada Bapa untuk mengirimkan Roh KudusNya… atas roti dan anggur, supaya mereka dengan kekuatan-Nya menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus, sehingga mereka yang mengambil bagian dalam Ekaristi menjadi satu tubuh dan satu roh” (Katekismus Gereja Katolik, #1353).

Inilah yang kita doakan: Kita memohon kepada Allah untuk mengutus Roh untuk mengubah roti dan anggur dan untuk mengubah kita agar kita menjadi Tubuh Kristus! “Kuatkanlah kami dengan tubuh dan darah-Nya, penuhilah kami dengan Roh Kudus-Nya, agar kami sehati dan sejiwa dalam Kristus” (Doa Syukur Agung III).

Dua Bagian, Satu Permohonan

Dalam banyak tradisi liturgis (misalnya Ritus Byzantine, Syrian dan Koptic) kedua permohonan Epiklesis dipanjatkan bersama, sesudah Anamnesis. Dalam doa Romawi kita, epiklesis dipisahkan. Kita mendoakan bagian pertama epiklesis, memohon Roh untuk mengubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus, sebelum anamnesis Perjamuan Malam Terakhir. Kita mendoakan bagian kedua epiklesis, memohon Roh untuk mengubah kita menjadi tubuh Kristus, sesudah anamnesis.

Tetapi bahkan meski epiklesis dipecah menjadi dua, sebagaimana dalam doa-doa Romawi kita sekarang ini, kedua bagian permohonan ini adalah satu. Doa Syukur Agung tak hanya memohon Roh Kudus mengubah roti dan anggur; tetapi juga memohon Roh Kudus mengubah Gereja!

Lebih Banyak Permohonan - dan Bersulang

Sementara kita ada dalam kerangka pikiran permohonan, kita memohon Allah untuk memberkati paus, uskup setempat dan segenap Gereja. Kita memohon Allah untuk mengingat mereka yang telah meninggal dunia dan membawa mereka ke hadirat-Nya. Akhirnya kita berdoa demi kepentingan diri kita sendiri. Kita berdoa agar kita dapat suatu hari kelak menggabungkan diri dengan Maria dan segenap para kudus di meja perjamuan surgawi. Dan di sana, kita akan memuliakan dan memuji Allah melalui Yesus Kristus.

Sementara kita merindukan hari yang mulia itu, kita mengangkat suara saat imam mengangkat roti dan anggur dan mengucapkan kata-kata sulang suatu doa kemuliaan (doksologi): “Dengan pengantaraan Kristus, bersama Dia dan dalam Dia, bagi-Mu, Allah Bapa yang Mahakuasa, dalam persekuatuan dengan Roh Kudus, segala hormat dan kemuliaan (Yunani: doxa) sepanjang segala masa.” Amin kita pada doa ini menyatakan persetujuan dan partisipasi kita dalam keseluruhan Doa Syukur Agung.

Mengalami Doa

Marilah kembali ke pertanyaan dengan mana kita memulai artikel ini: Bagaimanakah kita mendoakan Doa Syukur Agung? Saya menyarankan yang berikut. Ketika kalian mendengarkan undangan untuk mengingat perbuatan-perbuatan mengagumkan Allah, gunakan kenangan-kenangan ini untuk membangkitkan kenanganmu sendiri. Bagaimanakah Allah telah berperan aktif dalam hidupmu? Bagaimanakah Allah telah memberkatimu? Kenangan-kenangan ini secara alami akan menghantar pada perasaan penuh terima kasih dan syukur.

Sementara kalian mengenangkan (= anamnesis) peristiwa-peristiwa agung Kamis Putih, Jumat Agung dan Paskah, sadarilah bahwa kalian hadir dalam peristiwa-peristiwa itu. Bayangkan dirimu sendiri bersama para rasul ada di meja bersama Yesus dalam Perjamuan Malam Terakhir. Dengarkan percakapan mereka. Apakah yang hendak kau katakan kepada Yesus? Bagaimanakah perasaanmu berdiri di kaki salib? Apakah yang hendak kau katakan saat engkau berjumpa dengan Kristus yang bangkit?

Ketika imam mengundang kalian untuk “menyatakan misteri iman”, tanggapilah dengan semangat kagum dan takjub di hadirat Allah - satu dari ketujuh karunia Roh Kudus yang kalian terima dalam Sakramen Krisma.

Sementara doa bergerak ke permohonan (epiklesis) mohonlah Roh Kudus untuk turun atas kalian dan atas tiap-tiap orang yang hadir, agar Roh mengubah kita menjadi tubuh Kristus. Apakah yang menghambat perubahan ini? Apakah yang harus engkau tinggalkan agar dapat sungguh mengikuti Yesus? Apakah yang menghalangimu untuk sungguh mengasihi mereka yang ada di sekelilingmu?

Ketika kita mempersembahkan semua ini kepada Allah, kita secara pribadi masuk ke dalam kurban Kristus. Mohonlah rahmat Komuni (Cum-union = persatuan dengan) - rahmat persatuan dengan segenap saudara dan saudari kita, dengan Kristus, dan sungguh dengan Allah Tritunggal, sebab inilah tujuan kurban ekaristik: persatuan sukacita dengan Allah.

Sekarang kita mengarahkan perhatian kita pada kepentingan-kepentingan tubuh Kristus - kepentingan paus, Gereja universal, uskup dan Gereja lokal - damai, kemurahan hati, keadilan, belas kasihan. Kita berdoa bagi mereka yang telah meninggal dunia. Akhirnya, sepenuh hati kita menggabungkan suara dalam Amin agung yang mengakhiri Doa Syukur Agung sementara imam mengunjukkan Roti dan Piala dan bersulang kepada Allah: “Segala hormat dan kemuliaan sepanjang segala masa.”

Saya mendapati bahwa cara mendoakan Doa Syukur Agung seperti ini telah amat memperkaya pemahaman saya akan Ekaristi dan menarik saya terlebih aktif dalam Perayaan Misa. Saya harap demikian pula halnya dengan kalian.

Ketika kita telah usai mendoakan Doa Syukur Agung, doa terutama dan teragung kita, kita sampai pada Ritus Komuni - subyek dari seri selanjutnya.

* Fr. Thomas Richstatter, O.F.M., has a doctorate in liturgy and sacramental theology from the Institute Catholique de Paris. A popular writer and lecturer, Father Richstatter teaches courses on the sacraments at St. Meinrad (Indiana) School of Theology.

sumber : “Our Greatest and Best Prayer,” Eucharist: Jesus With Us by Thomas Richstatter, O.F.M.; Copyright St. Anthony Messenger Press; www.americancatholic.org; diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net


baca selanjutnya...

Rabu, 13 November 2019

Memahami Makna Kolekte

Kolekte dalam liturgi mengingatkan kita akan kebiasaan orang Israel untuk mempersembahkan kepada Tuhan hasil karya yang pertama, baik hewan maupun hasil panen perdana (Kel 27:7; Im 1:3; Im 23:10-13; Ul 26:2). Orang-orang Israel mengenal kebiasaan memberi dua persepuluhan, yang menjadi tanda syukur atas anugerah dari Tuhan berupa hasil ternak dan panen. Secara konkret pemberian itu digunakan untuk memberi makan kepada kaum Lewi yang menjalankan fungsi pelayanan sebagai imam. Sebagian lagi diberikan kepada orang-orang miskin yang sangat membutuhkan pertolongan.

Kebiasaan mempersembahkan persepuluhan ini diteruskan juga oleh para pengikut Kristus. Banyak Gereja mempraktekkan cara persembahan ini. Besarnya persembahan itu bisa tepat sebagai persepuluhan, tetapi ada juga pemberian yang kurang atau bahkan lebih dari persepuluhan. Ada yang memberikannya di luar perayaan liturgis tetapi ada yang melakukannya sebagai bagian utuh dari perayaan liturgis. Kita mengenal bentuk pemberian sebagian dari hasil karya atau pendapatan kita pada saat perayaan liturgis dengan nama kolekte.

Pada hari Minggu, Hari Raya atau hari-hari perayaan khusus, biasanya dibuat kolekte untuk disatukan dengan bahan persembahan roti dan anggur serta bahan persembahan lain yang diarak ke altar agar diambil oleh pemimpin perayaan yang bertindak selaku Kristus yang menghargai setiap pemberian sekecil apa pun (bdk. Mat. 14:15-19). Kolekte bersama bahan persembahan lainnya seharusnya diterima dengan penuh sukacita dan dihargai dengan meletakkannya di suatu tempat yang pantas, sebaiknya dekat altar (bukan di atas meja altar), karena di atas altar hanya diletakkan bahan korban syukur Yesus Kristus yaitu roti dan anggur ((Pedoman Umum Misale Romawi no. 73 dan 140 (terj. dari Institutio Generalis Missalis Romani, editio typica tertia 200, oleh Komisi Liturgi KWI, Jakarta 2002), hlm. 53 dan 75. Selanjutnya disingkat PUMR.)) yang akan diubah menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus.

Makna kolekte

Apa saja yang dikumpulkan untuk dipersembahkan dan apa maknanya? Dalam praktek Gereja abad III, selain roti dan anggur untuk Ekaristi, dipersembahkan juga minyak, lilin, gandum, buah anggur dan barang bernilai lainnya. Pada abad pertengahan muncul kebiasaan mengumpulkan derma dalam bentuk uang sebagai bagian dari persiapan persembahan. ((P.Visentin, “Eucaristia”, dalam Domenico Sartore e Achille M.Tricca (ed.), Nuovo Dizionario di Liturgia (Edizioni Paoline, Roma, 1983), hlm 497; Bdk. P.Bernard Boli Ujan, SVD, Mendalami Bagian-bagian Perayaan Ekaristi (Yogyakarta, 1992), hlm. 44-48.)) Pengumpulan uang derma dapat dilakukan sebagai awal persiapan persembahan. Inilah yang disebut kolekte. ((Tata Perayaan Ekaristi (Ordo Missae), Buku Imam (Terj. Komisi Liturgi KWI, Jakarta 2008), no. 19, hlm. 37. Selanjutnya disingkat TPE.)) Selain asal usul kata kolekte, juga konteks liturgis persiapan persembahan ini turut memberi makna pada kegiatan kolekte itu.

Kata kolekte berasal dari collecta (bahasa Latin) yang berarti sumbangan untuk makan bersama, pengumpulan, rapat atau sidang. ((P. Th. L Verhoeven, SVD, dan Marcus Carvallo, Kamus Latin-Indonesia (Ende, Penerbit Ledalero, Maumere 1969), hlm. 163.)) Istilah yang sama ini (collecta) dalam tradisi liturgi dipakai untuk persekutuan beriman yang terbentuk sebagai satu kelompok doa di suatu tempat (gereja). Di Roma pada abad-abad pertama biasanya umat berkumpul di salah satu gereja “statio”. Di sana mereka berdoa bersama lalu berarak bersama-sama menuju tempat perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Paus di sebuah gereja lain sambil berdoa dan bernyanyi. ((Mengenai sejarah Ekaristi di gereja statio di Roma, lihat Marcel Metzger, “The History of the Eucharistic Liturgy in Rome” dalam Anscar J.Chupungco, O.S.B. (ed.), Handbook for Liturgical Studies: The Eucharist (A Pueblo Book, The Liturgical Press Collegeville, Minnesota, 1997), hlm. 110-114)) Selanjutnya istilah collecta dipakai juga sebagai nama untuk Doa Pembuka dalam perayaan Ekaristi, karena doa itu yang diucapkan secara lantang oleh imam pemimpin sebenarnya mengumpulkan dalam rumusan yang singkat-padat semua intensi atau maksud hati dari umat beriman yang hadir (yang berdoa dalam hati dalam keheningan sesudah ajakan imam: “Marilah berdoa”). ((PUMR, no. 54; Bdk. Vincenzo Raffa, Liturgia eucaristica, mistagogia della messa: dalla storia e dalla teologia alla pastorale practica (Edizioni Liturgiche, Roma, 1998), hlm. 68-69; P.Bernard Boli Ujan, SVD, Op.Cit. hlm. 23-24.)) Maka collecta dalam arti pengumpulan uang (kolekte) sebagai bagian dari persiapan persembahan mempunyai hubungan erat sekali dengan persatuan-persaudaraan dan dengan doa.

Kolekte tidak hanya sekedar memberikan sesuatu dari diri sendiri kepada orang lain, tetapi kolekte itu mempererat persatuan-persaudaraan antara kita dengan orang lain yang menerima sesuatu dari diri kita. Kolekte adalah bagian dari doa yang mempersatukan kita sebagai saudara saudari dalam Tuhan. Kita bisa berdoa dengan kata-kata, dengan nyanyian, dengan sikap-gerak, tetapi juga dengan pemberian (kolekte). Aspek penting dari doa yang seharusnya mewarnai juga pemberian (kolekte) adalah syukur-pujian atas anugerah yang telah diterima dan atas kesempatan untuk berbuat baik dengan meneruskan anugerah itu kepada orang lain yang membutuhkannya meskipun orang-orang itu tidak kita kenal. Inilah makna liturgis penting dari kolekte: bersama-sama mengumpulkan sesuatu untuk kepentingan banyak orang lain. Maka semakin kita rela memberi (kolekte) semakin kita tahu bersyukur (dalam Doa Syukur Agung), semakin kita bersatu padu dengan saudara-saudari yang lain dan dengan Tuhan sendiri sebagai sumber anugerah (dalam komuni).

Menurut tradisi liturgi memang pernah ada semacam syarat untuk boleh menerima komuni (menyambut Tubuh dan Darah Yesus Kristus), yaitu selain berada dalam keadaan pantas-layak karena penuh rahmat dan tidak berdosa berat, juga kalau penerima komuni itu telah membawa dan memberi sesuatu sebagai bagian dari kolekte pada saat persiapan persembahan. ((“Dalam sinode Elvira (awal abad IV) ditegaskan bahwa umat yang membawa persembahan adalah umat yang ikut komuni. Maka persembahan itu dibawa hanya oleh orang yang telah dipermandikan dan mau berpartisipasi lebih penuh sebagai umat beriman yang sudah dipilih menjadi imam rajawi. Di daerah Gallia terdapat kebiasaan menyebut nama orang yang membawa pesembahan dalam doa persembahan. Tetapi di Roma tidak ada tradisi itu.” P.Bernard Boli Ujan, SVD, Op.Cit. hlm. 45-46.)) Ada hubungan yang erat antara kolekte dan komuni dalam perayaan Ekaristi. Dalam hal ini kolekte tidak “membeli komuni”. Kalau kita memberi dengan penuh rasa syukur, dengan sendirinya kita mengalami persaudaraan-persatuan sejati bersama sesama dan Tuhan yang dirayakan secara sakramental dalam komuni.

Semangat yang benar

Dalam konteks persiapan persembahan, membuat kolekte berarti memberikan bagian dalam mempersiapkan bahan kurban syukur Yesus Kristus. Maka urutan perarakan dan penyerahan bahan-bahan persembahan adalah: pertama-tama roti dan anggur (yang akan menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus) lalu bahan-bahan lain dan kolekte. ((Bdk. Peter J. Elliott, Ceremonies of the Modern Roman Rite: The Eucharist and the Liturgy of the Hours, A Manula for Clergy and All Involved in Liturgical Ministries (Ignatius Press, San Francisco, 1995), hlm. 100-105.)) Itu berarti kita tidak mengandalkan atau mengutamakan pemberian-kurban kita, tetapi menomorsatukan pemberian-kurban Yesus Kristus. Bila demikian kita terhindar dari sikap “memberi sambil menuntut balasan dari Tuhan” alias do ut des (Latin = saya beri supaya engkau membalas). Yesus sendiri memberi seluruh diri-Nya sebagai kurban syukur pujian kepada Bapa, tanpa menuntut apa-apa dari Bapa sebagai gantinya. Maka ganti memberi sambil menuntut, kita akan memberi dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan yang selalu memperhatikan kebutuhan-kebutuhan kita. Kehadiran orang yang berkekurangan bisa menjadi kesempatan bagi kita untuk meneruskan kebaikan dan perhatian Tuhan yang berlimpah-limpah itu seraya mendorong orang-orang lain untuk selalu bersyukur kepada Tuhan, dan bukan terutama kepada kita. Itulah sebabnya Yesus mengingatkan kita untuk memberi dengan tangan kanan sedemikian rupa sehingga tangan kiri tidak mengetahuinya (bdk Mat 6:3).

Bila dirayakan Ibadat Sabda tanpa Ekaristi, ada kemungkinan membuat kolekte pada Ritus Penutup ibadat sebelum pengutusan dan berkat. Itu berarti kolektenya diberikan dalam konteks pengutusan ke tengah dunia. Kolekte lalu menjadi satu bentuk dari kesaksian iman bagi banyak orang lain yang dilayani dalam hidup harian. Selanjutnya dengan kolekte itu orang yang menerimanya dapat semakin percaya dan berharap pada Tuhan sumber kekuatan dan hidup. Maka kita tidak memberi kepada orang lain untuk membuat mereka menjadi malas dan kurang berusaha berdikari. Patut disesali bila kita enggan memberi kolekte hanya karena berprasangka bahwa pemberian cuma-cuma itu akan membuat si penerima kurang bersemangat untuk mencari jalan keluar mengatasi kekurangannya.

Untuk siapa?

Untuk siapa kolekte itu digunakan? Sejak abad-abad pertama umat beriman membuat kolekte dengan tujuan menopang hidup para pelayan altar, mengatasi kemiskinan orang-orang papa, dan memenuhi kebutuhan rumah Allah atau tempat ibadat. Para pelayan altar yang menjalankan tugas-tugas pengabdian bagi banyak orang lain termasuk memimpin perayaan-perayaan liturgis sepantasnya mendapat dukungan materi dan keuangan selain dukungan moril serta rohani agar dapat sehat, kuat dan tekun memberikan pelayanan sebagaimana mestinya. Bagi orang-orang miskin dan berkekurangan kolekte itu dapat membantu menciptakan keadilan untuk lebih banyak orang. Santo Yustinus dalam abad ke-tiga mengingatkan orang Kristen untuk tidak melalaikan kewajiban menolong orang miskin. Ia menulis dalam Apologia I, no. 65: “Orang-orang yang berada dalam kelimpahan kalau ingin menyumbang hendaknya meletakkan itu di dekat si pemimpin yang akan menggunakannya untuk membantu yatim piatu dan para janda, orang miskin yang sakit, para narapidana, orang-orang asing disekitarnya dan semua orang yang sangat membutuhkannya.” ((Lihat terjemahan dalam bahasa Inggris oleh R.C.D. Jasper & G.J.Cuming, Prayers of the Eucharist, 2nd ed. (New York, 1980), hlm. 20. Bdk. Herman Wegman, Christian Worship in East and West: A Study Guide to Liturgical History (terj. Gordon W. Lathrop dari teks asli Geshiedenis van de Christelijke Eredienst in het Westen en in het Oosten, Pueblo Publishing Company, New York, 1985), hlm. 42.)) Kemudian St. Agustinus kembali mencanangkan kewajiban orang Kristiani untuk memberi kolekte buat orang miskin. ((Bdk. Joseph A. Jungmann, The Mass of the Roman Rite: Its Origins and Development Vol. Two (Benzinger Brothers, Inc., New York, 1955) hlm. 1-41.))

Kolekte merupakan tanda solidaritas dengan orang-orang kecil, juga dengan keluarga, lingkungan, wilayah dan paroki bahkan keuskupan atau siapa saja yang menderita kekurangan tanpa batas wilayah maupun agama. Maka di beberapa tempat kolekte itu menjadi sumber untuk membentuk dana solidaritas. Ada banyak tempat yang membutuhkan dana untuk membangun dan memperlengkapi kebutuhan rumah sakit, panti asuhan atau rumah para lansia, selain rumah ibadat dan pastoran atau gedung paroki dan ruang serba guna untuk berbagai kegiatan umum.

Dalam kenyataan ada banyak paroki yang jumlah kolektenya setiap minggu mencapai jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Namun tidak dapat disangkal bahwa banyak paroki hanya berhasil mengumpulkan kolekte mingguan sebanyak ratusan ribu atau bahkan hanya puluhan ribu rupiah. Mengapa? Umumnya orang langsung menunjukkan sebab perbedaan itu dalam tingkat kesejahteraan hidup para anggota persekutuan beriman di paroki masing-masing. Kolektenya besar karena umatnya kebanyakan kaya raya, kolektenya sedikit karena umatnya sebagian besar terdiri dari orang miskin. Mungkin ada benarnya, tetapi belum tentu selalu demikian.

http://www.katolisitas.org/

baca selanjutnya...

Selasa, 12 November 2019

Menggali Makna Ritus Damai

Pada masa-masa Gereja awal, ritus damai biasa ditempatkan sesudah pelayanan atau liturgi sabda. Hal ini tampak seperti pada laporan Santo Yustinus Martir dan Hipolitus. Ritus damai di situ lebih untuk mengungkapkan damai dan rekonsiliasi dalam hidup umat beriman sebagai persiapan untuk memasuki Liturgi Ekaristi. Gagasannya kiranya dikaitkan dengan khotbah Yesus di bukit: "Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu" (Mat 5:23-24).

Model Ritus Damai yang diletakkan sebelum DSA seperti itu masih terdapat dalam liturgi Gereja Timur. Namun, sejak Paus Gregorius Agung, ritus damai di liturgi Barat dipindahkan sesudah DSA atau sesudah doa Bapa Kami karena lebih untuk mempersiapkan penerimaan komuni.

Penempatan ritus damai sesudah doa Bapa Kami dimaksudkan: “Gereja memohon damai dan kesatuan bagi Gereja sendiri dan bagi seluruh umat manusia, sedangkan umat beriman menyatakan persekutuan dan cinta kasih satu sama lain sebelum dipersatukan dengan Tubuh Kristus" (PUMR 82). Dengan demikian, Salam Damai yang dilangsungkan bukan pertama-tama demi saling memaafkan, namun lebih untuk mengungkapkan persekutuan dan kesatuan hidup bersama dalam damai.

Ada tiga bagian dalam ritus damai ini.
Pertama, undangan imam kepada jemaat untuk berdoa dan sekaligus doanya sendiri untuk memohon damai. Damai yang dimohon bukan sekadar suatu damai yang disebabkan karena tidak adanya. perang atau konflik. Damai, menurut arti. kata Ibrani-Aram shalom, menunjuk suatu pengertian yang mencakup seluruh dimensi penyelamatan Mesias, termasuk kesejahteraan lahir dan batin, jiwa dan badan.

Kedua, sapaan imam kepada umat akan Damai Tuhan yang menyertai mereka. "Damai Tuhan bersamamu" dan umat menjawab: "Dan bersama rohmu". Saat imam mengucapkan "Damai Tuhan bersamamu” itu, ia mestinya merentangkan tangan secara lebar-lebar, seolah-olah hendak memeluk semua hadirin, Perentangan tangan tersebut mestinya berbeda dari rentangan tangan saat memimpin doa-doa presidensial.

Ketiga, sesudah ajakan untuk saling memberikan salam damai, imam dan umat beriman saling menyampaikan sa1am damai dalam bentuk konkrit dan lahiriah, misalnya bersalaman atau saling membungkuk, atau di tempat tertentu dengan saling berpelukan atau mencium. Namun, bagaimana sebaiknya salam damai disampaikan, itu diserahkan pada kekhasan dan kebiasaan masing-masing daerah sesuai dengan ketentuan dari Konferensi Uskup.

Sumber : Martasudjita,E.Pr., Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius 2005.

baca selanjutnya...

Senin, 11 November 2019

Tiga Elemen Ritus Damai

Ritus damai di beberapa tempat menjadi perbincangan hangat seiring dengan munculnya berbagai pertanyaan dan kebingungan mengenainya. Persoalan boleh atau tidaknya “bersalam-salaman” rupa-rupanya masih menjadi perhatian utama bagi sebagian besar umat walaupun dalam konteks liturgi, penjelasan atau katakese tentang ritus damai ini sesungguhnya jauh lebih penting. Bolehkah salam damai dipindahkan “tempatnya” yakni sebelum ritus persembahan? Bolehkah salam damai dihilangkan demi mengurangi kegaduhan yang terjadi karenanya? Masih bolehkah salam damai diiringi dengan nyanyian damai? Apakah umat masih boleh mengucapkan doa damai bersama-sama dengan imam selebran utama? Dan ada banyak pertanyaan lain yang muncul dengan berbagai praktik yang sangat bervariasi di paroki masing-masing.

Ritus damai dalam tata cara Roma Katolik terdiri dari 3 elemen yakni oratio pacis (doa damai), salutatio pacis (salam damai), invitatio et motio (ajakan dan tata gerak damai). Ketiga elemen ini adalah satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Akan tetapi, ajakan dan tata gerak damai dalam ritus damai ini tidaklah mutlak diadakan apalagi hanya untuk misa harian (de feriis). Ritus damai termasuk saling bersalaman ditempatkan persis setelah Bapa Kami pada Ritus Komuni dalam Misa sehingga tidak dapat dipindahkan dalam ritus persembahan sebagaimana dalam ritus ambrosian.

Oratio Pacis

Elemen yang pertama adalah doa damai. Terjemahan doa damai edisi Indonesia dalam Tata Perayaan Ekaristi (TPE) tahun 2005 adalah: “Saudara-saudari, Tuhan Yesus Kristus, Engkau bersabda kepada para Rasul, "Damai Kutinggalkan bagimu, damai-Ku Kuberikan kepadamu.” Maka merilah kita mohon damai kepada-Nya. Tuhan Yesus Kristus, jangan memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu, dan restuilah kami supaya hidup bersatu dengan rukun sesuai dengan kehendak-Mu. Sebab Engkaulah pengantara kami kini dan sepanjang masa”. Lalu umat menjawab: “Amin”. Doa damai ini pertama kali dipakai pada awal abad ke-11. Doa ini dulunya dianggap sebagai persiapan individual imam sebelum komuni. Akan tetapi, saat ini doa damai tersebut diucapkan dengan suara lantang sambil merentangkan tangan.

Doa damai dalam Misale Romanum 2008 adalah Domine Iesu Christe, qui dixisti Apostolis tuis: Pacem relinquo vobis, pacem meam do vobis: ne respicias peccata nostra, sed fidem Ecclesiae tuae; eamque secundum voluntatem tuam pacificare et coadunare digneris. Qui vivis et regnas in sǽcula sǽculorum. Terjemahan yang kurang lebih mendekati teks asli adalah: “Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah bersabda kepada para rasul-Mu: Damai-Ku Kutinggalkan bagimu, damai-Ku Kuberikan kepadamu: janganlah memperhatikan dosa kami, tetapi iman Gereja-Mu; dan berkenanlah mendamaikan serta menyatukannya menurut kehendak-Mu. Engkau yang hidup dan meraja sepanjang segala abad” (terjemahan tidak resmi). Dalam doa damai ini, terdapat anamnesis yang disebut sebagai pewartaan dan janji damai yang berasal dari Kristus. Selain itu, ada juga epiklesis yang memohon kesatuan dan damai bagi Gereja. Hal ini juga berlaku secara khusus untuk mempersatukan umat dalam perayaan Ekaristi.

Salutatio Pacis

Elemen yang kedua adalah salam damai. Salam yang dimaksud bukanlah bersalam-salaman melainkan sapaan atau kata-kata damai yang diucapkan oleh imam selebran kepada umat. Damai yang berasal dari Kristus dibagikan kepada umat yang hadir dalam misa. Pax Domini sit semper vobiscum atau Semoga damai Tuhan selalu bersamamu. Landasan biblisnya dapat dilihat dalam Yoh 20: 19. 21 yakni: “Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”; Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa megutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu”. Ada dua kata yang hilang dalam terjemahan TPE 2005 yakni kata sit (bentuk conjucntivus yang dapat diterjemahkan dengan kata “semoga”) dan semper yang dapat diterjemahkan dengan kata “selalu” atau “senantiasa”.

Invitatio et Motio Pacis

Elemen yang ketiga adalah ajakan dan tata gerak damai. Ajakan atau undangan damai yang diucapkan oleh diakon atau imam selebran (kalau tidak ada diakon) dengan kata-kata: offerte vobis pacem atau “Marilah saling menyatakan salam damai (TPE 2005). Rubrik menuliskan pro opportunitate pada saat ritus ini yakni dilakukan bila perlu atau bila dibutuhkan.

Tata gerak yang dimaksud adalah saling memberikan salam damai sebagai ciri khas tata gerak damai di Indonesia secara umum. Tata gerak damai bisa didasarkan pada kata-kata Santo Yustinus dalam Apologia I, 65; 67 yang pertama kali memakai istilah “tanda damai” dalam Misa, yang juga dikutip oleh Katekismus Gereja Katolik no 1345 yakni “Sesudah kami menyelesaikan doa-doa, kami saling memberi salam dengan ciuman”. Ciuman damai dihubungkan dengan beberapa sumber biblis yang dipakai sebagai dasar dari ritus damai:

Rm 16: 16 Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.
1 Kor 16: 20 Salam kepadamu dari saudara-saudara semuanya. Sampaikanlah salam seorang kepada yang lain dengan cium kudus.
1 Tes 5: 26 Sampaikanlah salam kami kepada semua saudara dengan cium yang kudus.
1 Pet 5: 14 Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus. Damai sejahtera menyertai kamu sekalian yang berada dalam Kristus. Amin.

Selama beberapa abad, tata gerak damai yang dilakukan adalah dengan cara cium damai atau dalam bahasa indonesia cipika-cipiki damai tetapi tidak berlaku untuk para katekumen menurut Tradisi Apostolik. Ordo Romanus I menyatakan bahwa tata gerak damai diberikan secara hirarkis. Sekitar abad ke-9, selebran utama mencium altar sebagai simbol damai yang berasal dari Kristus, lalu disampaikan pada diakon kemudian dilanjutkan oleh subdiakon dan beberapa klerus lain serta umat yang hadir.

Dalam Misale Romawi editio typica tertia 2008, cara saling memberikan salam damai ditetapkan oleh Konferensi Wali Gereja masing-masing sesuai dengan kekhasan dan kebiasaan masing-masing bangsa. penetapan itu membutuhkan recognitio dari Takhta Apostolik. Ritus damai ini dimaksudkan untuk memohon damai dan kesatuan bagi Gereja sendiri dan bagi seluruh umat manusia, sedangkan umat beriman, menyatakan persekutuan jemaat dan cinta kasih satu sama lain sebelum dipersatukan dalam Tubuh Kristus (bdk. PUMR 82, 390 dan bdk. Redemptionis Sacramentum no. 72). Akan tetapi, perlulah mempertahankan kebiasaan seturut Ritus Romawi, untuk saling menyampaikan salam damai menjelang komuni. Sesuai dengan tradisi Ritus Romawi, kebiasaan ini bukanlah dimaksudkan sebagai rekonsiliasi atau pengampunan dosa, melainkan mau menyatakan damai, persekutuan dan cinta sebelum menyambut Ekaristi Mahakudus (RS no. 71).

Dengan persetujuan Paus Fransiskus, pada tanggal 8 Juni 2014, Kongregasi untuk Ibadat Ilahi dan Disiplin Sakramen, yang ditandatangani oleh prefeknya Kardinal. Antonio Canizares Llovera, dan Sekretarisnya, Uskup Arthur Roche, mengirim surat edaran kepada Konferensi para Uskup untuk mengatur beberapa hal berkaitan dengan “salam damai” dalam Misa:

Tidak ada pengantar dalam “lagu salam damai” menurut Ritus Romawi.
Para umat beriman seyogyanya saling memberikan salam-damai hanya kepada orang-orang yang ada di dekatnya dan dengan cara yang pantas.
Imam boleh memberikan salam damai kepada para pelayan, namun tidak meninggalkan panti imam agar jalannya perayaan jangan terganggu.
Dalam tradisi Romawi, memang tidak ada lagu atau nyanyian “salam damai” karena waktu untuk ritus ini sangat singkat dan saling memberikan salam damai bagi orang yang dekat-dekat saja.

Demikianlah penjelasan ritus damai ini, semoga bisa bermanfaat untuk praktik kita di tempat masing-masing. Bukan saja untuk melarang-larang nyanyian damai tetapi untuk lebih mendekatkan makna simbolis dari ritus damai yang lebih menekankan aspek persiapan untuk menyambut Tubuh Kristus.

RP. Riston Situmorang, OSC (Dosen Liturgi Fakultas Filsafat UNPAR)

baca selanjutnya...

Selasa, 05 November 2019

Doa Persembahan – Epiklesis Komuni

Doa Persembahan
Setelah Doa Anamnese, ada suatu doa yang dinamakan Doa Persembahan. Dalam Doa Syukur Agung III, rumusannya dalah sebagai berikut:
“Kami Mohon, pandanglah Gereja-Mu ini dan indahkanlah kurban yang telah mendamaikan kami dengan Dikau ini.”
Dalam doa inilah persembahan yang telah dipersiapkan dalam Persiaapan persembahan, terutama roti-anggur – yang kini telah menjadi Tubuh dan Darah Kristus – dipersembahkan kepada Allah.

Dalam doa ini, sesungguhnya Kristus sendirilah yang mempersembahkan kurban yang menyelamatkan kita, yakni Tubuh dan DarahNya. Doa ini mengundang kita untuk juga belajar mengurbankan diri kepada Allah, serta mempersembahkan apa yang ada pada kita untuk keselamatan sesama.

Epiklesis Komuni
Doa yang memohonkan agar Bapa dengan Roh Kudus-Nya mempersatukan seluruh umat, dinamakan Epiklesis Komuni, yang dalam Doa Syukur Agung III dirumuskan sebagai berikut:
“Kuatkanlah kami dengan Tubuh dan DarahNya, penuhilah kami dengan Roh Kudus-Nya, agar kami sehati dan sejiwa dalam Kristus.”

https://santopauluspku.wordpress.com/

baca selanjutnya...

Minggu, 03 November 2019

Epiklesis Konsekrasi

EPIKLESIS (dari bahasa Yunani) yang secara harafiah berarti doa permohonan (=klesis) atas (=epi) persembahan. Secara liturgis diartikan sebagai doa supaya Roh Kudus turun untuk mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus.
Selain itu, Roh kudus juga dimohonkan agar turun untuk mempersatukan seluruh jemaat.

Ada dua macam Epilklesis :
1. Epiklesis konsekrasi (atas roti dan anggur), yang berbunyi: “Maka kami mohon : kuduskanlah persembahan ini dengan pencurahan Roh-Mu, agar bagi kami menjadi Tubuh dan (+) Darah Putera-Mu terkasih, Tuhan kami, Yesus Kristus” (DSA II).
2. Epiklesis komunio (atas jemaat): “Kami mohon agar kami, yang mnenerima Tubuh dan Darah Kristus, dihimpun menjadi satu umat oleh Roh Kudus”.

Menyerahkan diri secara efektif kepada Allah mengatasi kemampuan dan kemungkinan seorang manusia, dan hanya mungkin dalam Roh Kudus (lih Rm 8:14.27; 1Kor 2:11; Gal 4:6; Ef 6:18). Maka juga Doa Syukur Agung Gereja tidak mungkin tanpa pertolongan Roh Kudus. Oleh karena itu, di samping anamnese selalu ada suatu epiklese dalam doa ekaristi. Yang dimaksudkan dengan “epiklese” ialah doa permohonan supaya Roh Kudus turun. Dalam kebanyakan Doa Syukur Agung ada dua epiklese, satu supaya roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus (epiklese konsekrasi), dan kedua supaya mereka yang menerima tubuh dan darah Kristus, dipersatukan menjadi Tubuh Kristus yang mistik (epiklese komuni). Jadi permohonan supaya roti dan anggur benar-benar menjadi “tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah”, dan permohonan kedua supaya oleh perayaan ini umat juga dipersatukan sendiri satu sama lain. Dengan demikian epiklese menjadi doa permohonan yang paling pokok dan sekaligus awal segala permohonan yang lain. “Anamnese” termasuk puji-syukur, “epiklese” adalah pokok dan awal permohonan. Dari satu pihak diikuti adat kebiasaan orang Yahudi, dari pihak lain sekarang pengenangan dipusatkan pada wafat dan kebangkitan Kristus, dan permohonan ditujukan terutama pada rahmat Roh Kudus.

Doa yang memohonkan agar Bapa, dengan Roh Kudus-Nya menguduskan roti-anggur dinamakan Epiklesis Konsekrasi. Rumusannya pada DSA III adalah:
“Maka kami mohon ya, Bapa, sudilah menguduskan persembahan ini dengan Roh-Mu. Agar bagi kami menjadi Tubuh dan (+) Darah PutraMu yang terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus yang menghendaki kami merayakan misteri ini.”
Karena kuasa Roh Kudus yang dimohonkan dalam doa ini, roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus; dan menjadi sumber keselamatan bagi mereka yang akan menyambutnya dalam komuni.

Peran Roh Kudus
Konsili Vatikan II, khususnya melalui Lumen Gentium, menginginkan agar peran Roh Kudus lebih dirasakan dan dirayakan dalam kehidupan Gereja. Maka para pemikir pembaruan liturgi mewujudkannya pula dalam liturgi Gereja. Setiap perayaan liturgi sakramental dan sakramentali tak lepas dari pengaruh Roh Kudus.

Roh Kudus dipanggil atau diundang melalui rumus doa yang disebut epiclesis (Yunani) atau invocatio (Latin). Epiklesis tak hanya digunakan untuk barang tapi juga orang. Barang yang disucikan oleh Roh Kudus misalnya roti dan anggur dalam Sakramen Ekaristi, sementara untuk orang misalnya calon imam dalam Sakramen Tahbisan.

Keterlibatan Roh Kudus dalam liturgi tentu tak hanya dalam epiklesis. Sejak awal perayaan, bahkan sejak masa persiapan, Roh yang sama telah berkarya dalam setiap pribadi yang hendak bergabung dalam perayaan itu. Epiklesis adalah undangan khusus sebagai bentuk ekspresi iman Gereja akan peran Roh Kudus dalam kesatuan Allah Tritunggal.

Epiklesis Konsekrasi Mengandung tiga ciri:

  • memohon pencurahan Roh Kudus,
  • untuk menguduskan dan mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus,
  • agar dapat berdaya guna bagi umat yang mengambil bagian dengan menyantap-Nya.

  • Saat itu Kristus dihadirkan secara sakramental melalui daya ucapan dan tindakan-Nya. Epiklesis ini mungkin mudah dikenali karena tata kata dan tata gerak imam secara jelas sudah mengungkapkannya. Meskipun tempatnya sebelum konsekrasi, epiklesis ini sering disebut juga dengan epiklesis konsekrasi, karena memohonkan pengudusan.

    https://pendalamanimankatolik.com/
    https://santopauluspku.wordpress.com/

    baca selanjutnya...

    Sabtu, 02 November 2019

    Aklamasi Anamnese - Doa Anamnese

    Dasar kepercayaan akan kebaikan Tuhan bukanlah khayalan atau teori, melainkan karya agung Tuhan sendiri, yang telah memperlihatkan keagungan dan belaskasihan-Nya. Maka puji-syukur selalu disertai dengan “pengenangan” atau anamnese. Anamnese tidak sama dengan peringatan akan peristiwa yang lampau. Sebaliknya dengan mengenangkan yang lampau, orang mampu menghayati kebaikan Tuhan sekarang (dan berani mengajukan permohonannya juga). Dengan mengenangkan kebaikan Tuhan, orang menempatkan diri dalam arus rahmat, yang tidak pernah berhenti. Kebaikan dan keagungan Tuhan sekarang sama dengan kebaikan dan keagungan yang dahulu pernah dinyatakan-Nya. Padahal bagi orang beriman Kristen, kasih-karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia menjadi nyata dalam Yesus Kristus (lih. Ef 2:7; Tit 2:11).

    Maka pusat pengenangan Doa Syukur Agung adalah Yesus sendiri, khususnya wafat dan kebangkitan-Nya. Ini tidak hanya sesuai dengan perintah pengenangan, tetapi dengan iman Kristen sendiri. Puji-syukur Kristiani menyangkut “kuat-kuasa Allah, yang dikerjakan-Nya dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati” (Ef 1:20). Dengan mengenangkan penyerahan Kristus kepada Bapa-Nya, orang Kristen ikut menghayati dan mengalami penyerahan itu sendiri, dalam kesatuan dengan Kristus, sebab penyerahan Kristus, yang “dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya” (Ibr 7:27), tidak pernah terhapus lagi. Oleh kebangkitan-Nya penyerahan-Nya kepada Bapa diabadikan, sehingga Yohanes melihat-Nya di surga sebagai “Anak Domba yang telah disembelih” (Why 5:6; 13:8). Penyerahan Kristus itu abadi dan mengenangkannya dalam rangka puji-syukur berarti mempersatukan diri dengan kurban Kristus itu.

    Aklamasi Anamnese
    Sesudah kisah institusi, imam mengajak umat memaklumkan misteri iman dengan berkata,”Marilah mewartakan harapan iman kita.”
    Ajakan tersebut ditanggapi umat dengan mennyanyikan Aklamasi Anamnese, “Kristus telah wafat, Kristus telah bangkit, Kristus akan kembali.”
    Umat mengenangkan dan mengakui misteri Paskah Kristus yang menyelamatkan, yang mencapai puncaknya dalam kematian, kebangkitan, dan kedatangan-Nya kembali.

    Doa Anamnese
    Setelah Aklami Anamnese, menyusul suatu doa yang juga mengenangkan Kristus yang wafat, bangkit dan akan kembali. Doa ini disebut Doa Anamnese. Doa ini mengenang kembali misteri Paskah Kristus yang menyelamatkan kita,

    https://pendalamanimankatolik.com/
    https://santopauluspku.wordpress.com/

    baca selanjutnya...

    Jumat, 01 November 2019

    Tanda Salib

    Setelah perarakan masuk,
    Kemudian imam dan umat menandai diri dengan tanda salib sambil berkata: “Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin”
    Tanda Salib adalah tata gerak khas Katolik setiap kali mengawali dan mengakhiri Perayaan Ekaristi. Tanda Salib ini harus dibuat dengan hikmat dan cermat.

    Beberapa cara untuk membuat Tanda Salib:
    1) Gereja-gereja Barat sekarang umumnya membuat tanda salib dengan tangan terbuka, kemudian menyentuhkan ujung jari dengan dahi, dada, bahu kiri dan kanan. Lima jari yang terbuka melambangkan lima luka Kristus.
    2) Gereja Barat sebelum abad ke-13 membuat tanda salib dengan formasi dan gerak yang serupa dengan gereja-gereja Timur, yaitu dengan menyatukan ibu jari, telunjuk dan jari tengah – kemudian menyentuhkan ujung jari dengan dahi, dada, bahu kanan lalu kiri. Penyatuan tiga jari melambangkan kesatuan Allah Tritunggal, sedangkan jari manis dan kelingking yang dilipat dan menempel pada telapak tangan melambangkan kesatuan kodrat Ilahi dan insane pada diri Yesus.

    Tidak terlalu penting cara mana yang kita pakai, yang penting adalah apakah kita sungguh menyadari maknanya dan melakukannya dengan penuh penghayatan.

    Beberapa makna tanda salib:

    1) Penjelasan St Fransiskus de Sales

    a) Pada waktu mengucapkan “Dalam nama Bapa” kita menyentuh dahi untuk mengungkapkan bahwa Bapa adalah Pribadi pertama dari Allah Tritunggal – yang menjadi asal dari Putra dan Roh Kudus.
    b) Pada waktu mengucapkan “dan Putra” kita menyentuh dada untuk mengungkapkan bahwa Putra berasal dari Bapa – yang mengutus Dia turun ke rahim perawan Maria.
    c) Pada waktu mengucapkan “dan Roh Kudus” kita menyentuh bahu kiri dan kanan untuk mengungkapkan bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra, dan bahwa Roh Kudus adalah Sang Kasih yang memadukan Bapa dan Putra, dan bahwa berkat rahmat-Nya kita dapat menikmati karya penebusan Kristus yang membuat kita beralih dari situasi kutuk (bahu kiri) ke situasi rahmat (bahu kanan).

    2) Tradisi dari gereja-gereja Timur
    “Dan Roh Kudus” dalam gereja-gereja Timur adalah dari Kanan ke Kiri, mengandung arti bahwa
    Kristus turun dari Surga (kanan) ke atas bumi (kiri)
    Kristus berkarya dari bangsa Yahudi (kanan) – ke babgsa-bangsa lain (kiri).

    3) Seruan Amin
    Seruan Amin dalam tanda salib menyatakan bahwa kita sepenuhnya percaya akan
    Karya penyelamatan adalah karya Allah Tritunggal,
    Keselamatan kita datang lewat salib Kristus

    https://santopauluspku.wordpress.com/

    baca selanjutnya...
    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

      © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

    Back to TOP