%">PS "GITA BAKTI HERKULANUS" berlatih tiap Minggu sore

Rabu, 01 Juli 2015

Sakramen Tobat sebagai Sakramen Penyembuhan

Flu, pilek, batuk, sakit kepala, sakit lever, typhus, dan sebagainya adalah beberapa contoh penyakit fisik yang sering, kadang, atau pernah kita alami. Dan ketika muncul gejala-gejala yang sudah tidak enak di badan, kita segera pergi ke dokter dan atau ke apotik untuk memperoleh obat yang cocok, karena ingin segera sembuh. Dalam hal penyakit fisik, kita lebih mudah mengenalinya. Kemudian kita segera mengobatinya. Karena apabila dibiarkan, penyakit tersebut bisa berakibat semakin parah atau membawa kepada maut. Sebaliknya dalam hal penyakit non-fisik, spiritual, meskipun lebih sulit mestinya kita harus lebih jeli mengenalinya. Supaya kalau ada penyakit dalam diri kita, kita bisa segera mengupayakan obat untuk menyembuhkannya. Sebab kalau penyakit tersebut dibiarkan terus akan membawa kita kepada keadaan yang lebih buruk, bahkan mengakibatkan maut (bdk. 1 Kor 15:55b-56a).

Aneh tapi nyata! Terhadap penyakit yang bisa membawa maut ini, sering kita tidak merasa takut. Kita tenang-tenang saja. Kita membiarkannya tetap bercokol dan menggerogoti jiwa kita selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan sampai puluhan tahun. Kita menganggap bahwa itu bukan penyakit atau hanya penyakit biasa, “Cuman kecil koq, toh tidak akan sampai membahayakan.” Sangatlah bijaksana!

Apabila menderita penyakit spiritual (dosa) dan ingin segera disembuhkan supaya tetap sehat rohaninya, kita datang kepada ‘DOKTER’ atau menghubungi ‘asisten DOKTER’ untuk menerima—bukan sekedar resep obat tetapi— Sakramen TOBAT. Sebab dengan menerima Sakramen Tobat, kita akan mengalami daya penyembuhan Tuhan atas penyakit dosa-dosa kita.

Kita menerima Sakramen Tobat sebagai sakramen penyembuhan atas luka-luka dan penyakit batin-hati-jiwa kita. Sakramen penyembuh-Nya akan membawa kita kepada hidup dan keselamatan kekal. Untuk itu kita perlu mengenali dan merefleksikan bersama: kedosaan kita sebagai suatu penyakit dan belaskasihan serta kerahiman Allah Bapa sebagai suatu obat yang menyembuhkan jiwa kita.

1. BEBERAPA NAMA

Ada beberapa nama yang sering digunakan untuk Sakramen Tobat. Pertama, Sakramen Tobat itu sendiri. Disebut demikian, karena hal yang terpenting yang mau ditekankan di sini ialah tobat dan orang beriman yang bertobat. Konsili Vatikan II memakai kembali istilah “Sakramen Tobat” (lih. Sacrosanctum Concilium, No. 72; Lumen Gentium, No. 11).

Kedua, dinamakan “Sakramen Pengakuan Dosa” karena orang yang bertobat itu menyatakan sikap tobatnya kepada Allah dan mengakukan segala dosanya di hadapan imam selaku pelayan Gereja. Pengakuan atas dosa-dosanya ini menunjukkan bahwa dengan rendah hati dan jujur ia mengaku dirinya sebagai orang yang berdosa yang membutuhkan kerahiman Allah.

Ketiga, disebut juga dengan “Sakramen Pengampunan Dosa” karena dosa-dosa yang telah diakukan dengan jujur dan rendah hati itu—melalui absolusi imam—secara sakramental telah diampuni oleh Allah sendiri. Seperti dalam rumus absolusi disebutkan, “…Semoga lewat pelayanan Gereja, Ia (Allah) melimpahkan pengampunan dan damai kepada Saudara.”

Keempat, dinamakan juga “Sakramen Pendamaian” (rekonsiliasi) karena melalui pengampunan yang telah diterima oleh pentobat, Allah sendiri memperdamaikan pentobat dengan Diri-Nya dan Gereja. Seperti dikatakan oleh Konsili Vatikan II bahwa “mereka yang menerima Sakrarnen Tobat memperoleh pengampunan dan Allah dan sekaligus didamaikan dengan Gereja” (Lumen Gentium, No. 11). Pengampunan Allah adalah ungkapan cinta-Nya yang mendamaikan. Karena rasul Paulus memberi nasihat, “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah” (2 Kor 5:20).

Kelima, Sakramen Tobat juga merupakan “Sakramen Penyembuhan” karena ia memberikan rahmat penyelamatan dan penyembuhan atas jiwa dan raga manusia (lih. Katekismus Gereja Katolik, No. 1420-1421).

2. SAKRAMEN TOBAT: BERANGKAT DARI PENYADARAN DAN PENELITIAN BATIN

Seorang katekumen yang berasal dari latar belakang Protestan pernah bertanya pada waktu pelajaran agama mengenai sakramen-sakramen demikian, “Romo, pembaptisan itu kan sudah menyucikan kita dari segala dosa. Kita sudah menjadi manusia baru. Kenapa sih masih ada lagi Sakrarnen Tobat segala. Maknanya khan sama, pengampunan dosa. Kemudian yang ingin saya tanyakan, apakah Sakramen Tobat itu sungguh perlu?” Di satu sisi dia benar. Bahwa Sakramen Baptis itu menyucikan kita dan segala dosa. Kita menjadi manusia baru, seperti kata rasul Paulus, “Kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita” (1 Kor 6:11).

Betapa besar anugerah Allah yang diberikan kepada kita lewat Sakramen Baptis ini. Namun pada sisi lain, kehidupan baru sebagai manusia yang disucikan lewat Sakramen Baptis itu tidak membuat kita menjadi manusia yang sempurna yang kebal dosa. Dalam hal ini diperlukan 2 sikap:

a. Penyadaran akan kelemahan dan dosa

Hidup yang disucikan, kehidupan baru yang diterima dalam Sakramen Baptis tidak menghilangkan kerapuhan dan kelemahan kodrat manusiawi kita. Kecenderungan kepada dosa (concupiscentia) pun tidak dihilangkan dari kodrat manusiawi kita. Kecenderungan ini tetap ada dan tinggal dalam diri kita. Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja mengingatkan bahwa Gereja itu kudus karena Kristus, Putera Allah, yang bersama dengan Bapa dan Roh Kudus membuatnya kudus (lih. Lumen Gentium, No. 39). Namun demikian, Gereja itu “merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri. Gereja itu suci sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaruan” (Lumen Gentium, No. 8).

Jelaslah bahwa Gereja itu kudus. Ia sudah ‘dikuduskan bagi Tuhan’. Tetapi Gereja tidak terbedakan dan semua orang lain justru karena kedosaan mereka dan karena “persekutuan Gereja (itu) mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya” (Gaudiurn et Spes, No. 1). Untuk itulah Gereja yang kudus sekaligus masih tetap mempunyai kecenderungan kepada dosa ini dipanggil untuk terus-menerus membersihkan dan membarui diri, menjalankan pertobatan yang tiada hentinya. Sebab pertobatan kristiani itu berlangsung sepanjang hidup.

Hal yang harus disadari di sini ialah bahwa kita ini hidup ‘dalam bejana tanah liat’ (2 Kor 4:7). Kita ini manusia lemah, rapuh, mudah jatuh dan ‘pecah’ dalam kecenderungan kita akan dosa. Dan lagi, kita ini masih hidup ‘dalam kemah kediaman kita di bumi ini’ (2 Kor 5:1). Maka dengan menyadari akan semua ini, kita mau terus merindukan dan memperoleh rahmat kerahiman Allah lewat perayaan Sakramen Tobat.

b. Penelitian batin

Hal yang hendaknya juga tidak dilupakan dalam proses penyadaran diri akan kelemahan dan dosa yang selalu bisa saja terjadi setelah pembaptisan, yaitu penelitian batin. Kita mau masuk ke dalam lubuk hati yang terdalam, melihat dan memeriksa kembali bahwa temyata kita memang orang berdosa yang membutuhkan pertobatan dan pembaruan. Penelitian batin yang sungguh-sungguh seperti ini akan menyadarkan kita sebagai orang berdosa, baik dalam arti personal (dosa-dosa pribadi) maupun dalam arti komunal (dosa-dosa sosial).

Penelitian batin adalah sikap dasar yang penting. Karenanya, dalam Surat Apostolik Kedatangan Milenium Ketiga No. 36 (KMK, No. 36) Bapa Suci menegaskan bahwa “pada ambang milenium yang baru, orang kristen harus menempatkan din mereka sendiri berkenaan dengan tanggung jawab yang mereka punyai juga atas kejahatan-kejahatan sekarang ini”.

Bapa Suci, seperti dinyatakan oleh banyak Kardinal dan Uskup, mengajak kita—Gereja dewasa ini—agar mengadakan penelitian batin yang sungguh-sungguh (lih. Ibid.). Sebab dengan memiliki sikap batin demikian, kita akan “menghargai secara baru dan merayakan secara lebih intens Sakramen Pengakuan Dosa (Pendamaian) menurut maknanya yang paling dalam” (KMK, No. 50).

3. SAKRAMEN TOBAT, SAKRAMEN YANG MENYEMBUHKAN

Mengapa kita hendaknya merayakan Sakramen Tobat secara lebih intens, terus-menerus? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini muncul sebagai suatu refleksi atas penghayatan Sakramen Tobat dewasa ini. Romo Michael Scanlan, dalam bukunya yang berjudul “The Power in Penance“ (Notre Dame: Ave Maria Press, 1972) menulis demikian, “Dewasa ini kita melihat bahwa Sakramen Tobat telah jatuh ke dalam kesia-siaan yang semakin besar, dan pentingnya sakramen ini secara umum tidak dilihat lagi baik oleh imam mau pun oleh umat” (lih. Alex I. Suwandi,“Penyembuhan dalam Sakramen Tobat”, BPK Keuskupan Padang, 1998:16).

Keadaan ‘dewasa ini’, yang dimaksud 27 tahun silam, saya kira tidak terlalu jauh berbeda dengan keadaan dewasa ini. Romo Alex I. Suwandi dalam buku tersebut di atas menyebutkan tiga alasan mengapa dewasa ini umat kurang menghargai Sakramen Tobat dengan tidak mengaku dosa.

Pertama, orang tidak mengaku dosa karena tidak mengerti konsep dosa secara jelas. Sehingga hal yang sebenarnya termasuk dosa, itu dilihat sebagai hal yang biasa dan tidak perlu diakukan kepada Tuhan dalam Sakramen Tobat.

Kedua, orang tidak mengaku dosa karena hilangnya pengakuan diri sebagai orang berdosa, yang masih tetap memiliki kecenderungan terhadap dosa (Ah, saya khan sudah suci karena dulu sudah dibaptis!). Dengan menganggap dirinya demikian saja, orang sudah jatuh dalam dosa kesombongan.

Ketiga, orang tidak mengaku dosa lagi karena tiadanya penyembuhan sesudah pengakuan dosa. Setelah menerima Sakramen Tobat toh masih tetap melakukan dosa yang sama. “Malu akh, selalu mengaku dosa yang sama melulu, itu-ituuuu…terus!”, komentar salah seorang umat yang pemah saya dengar.

Alasan ketiga ini perlu kita lihat lebih dalam, mengapa ada semacam ‘keluhan atau keputusasaan’ dalam diri umat, yang sebenarnya dengan menerima Sakramen Tobat ingin menjadi manusia baru dan utuh. Sebabnya antara lain karena tidak adanya keterbukaan yang penuh dalam diri peniten atau pentobat sendiri. Ia hanya mengatakan beberapa dosa yang ringan-ringan saja, walaupun pengakuan yang terakhir sudah cukup lama atau malah belum pernah menerima Sakramen Tobat sejak dibaptis dewasa.

Di satu pihak, dosa-dosa yang telah diakukan kepada Tuhan dalam Sakramen Tobat itu sudah diampuni. Kita percaya itu. Tetapi dengan mengakukan dosa-dosa yang ringan-ringan saja, atau dengan menutupi (tidak mengatakan) dosa yang sebenarnya, yang jauh lebih pokok dan mengganggu hidupnya, membuat pengakuan itu tidak sampai pada akar-akar dosa. Misalnya kenapa masih saja ada rasa iri hati, perasaan bersalah yang tidak sehat, merasa diri tidak dicintai, sulit mengampuni, dan sebagainya.

Hal-hal tersebut harus dicari apa sebenarnya yang menjadi akar semua dosa. Dalam hal ini, imam perlu menangkap akar dari semua dosa yang diakukan itu atau yang tidak disebutkan dengan jelas oleh si peniten. Sehingga apabila akar dosa tersebut sudah ditemukan dan si peniten membutuhkan doa penyembuhan, doa penyembuhan itu bisa dilakukan segera sesudah absolusi. Dengan demikian Sakramen Tobat selalu memberi daya penyembuhan spiritual, yakni pengampunan dosa, juga memberikan penyembuhan luka-luka batin (misalnya dan sikap mudah marah, dendam, iri hati, merasa dibenci, dan sebagainya), atau penyembuhan relasi yang disharmonis dengan sesamanya ataupun pembebasan dan kuasa kegelapan (misalnya terlibat dalam ilmu hitam, perdukunan, dan sebagainya). Dalam hal ini Sakramen Tobat dapat memberikan daya penyembuhan secara integral, utuh. Orang sungguh-sungguh dapat merasakan hidup secara baru dan bebas dan beban-beban yang selama ini terasa berat dan menyesakkan.

Dalam pengalaman pastoral, terutama dalam menerimakan Sakramen Tobat, tidak sedikit saya menjumpai urnat yang setelah mengakukan dosa-dosanya dan menerima absolusi kemudian minta didoakan. Saya menangkap bahwa pada kesempatan itu sebenarnya umat merindukan suatu penyembuhan secara utuh lewat Sakramen Tobat yang diterimanya. Berdoa bagi segi-segi kehidupan yang terluka sebagai tambahan dan pemberian absolusi dan pernyataan pengampunan Tuhan atas semua dosa adalah kesempatan yang baik dan indah dalam pelayanan Sakramen Tobat.

4.BUAH-BUAH ROHANI SAKRAMEN TOBAT

Perayaan Sakramen Tobat menghasilkan buah-buah rohani seperti:
Orang mengalami pendamaian dengan Allah karena relasi kasih dengan Allah yang telah putus karena dosa (terjadi PHK: Putus Hubungan Kasih) telah dipulihkan kembali. Kasih Allah yang hidup sungguh-sungguh menjadi hidup kembali dan dialami secara pribadi.
Orang mengalami pendamaian dengan komunitas Gereja. Relasi dengan sesama saudara yang selama ini retak dan rusak, entah karena dendam, iri hati, tak mau mengampuni, difitnah, dan sebagainya, telah disembuhkan dan pulih kembali. Sebab Sakramen Tobat “menyembuhkan orang yang diterima kembali dalam persekutuan dengan Gereja yang menderita karena dosa dan salah seorang anggotanya” (Katekismus Gereja Katolik, No.1469).
Orang mengalami penyembuhan secara utuh: dan dosa, luka-luka batin, relasi yang disharmonis, dan ikatan ilmu hitam, perdukunan, dan sebagainya.
Orang mengalami pembebasan dari siksa abadi, yang akan diterimanya jikalau ia tetap berada dalam dosa berat (Katekismus Gereja Katolik, No. 1496).
Orang mengalami pembebasan—paling sedikit—dan sebagian siksa sementara yang diakibatkan oleh dosa.
Orang mengalami ketenangan hati nurani dan hiburan rohani. Orang mengalami pertumbuhan kekuatan rohani untuk perjuangan dalam menghayati iman kristianinya.

5. BEBERAPA HAL PRAKTIS

Ada beberapa hal praktis yang perlu diperhatikan berkaitan dengan Sakramen Tobat ini:
Pemberi Sakramen Tobat adalah Uskup dan para imam yang telah menerima wewenang berkat Sakramen Tahbisan. Tidak semua umat tahu hal ini. Pernah ada umat yang ingin mengaku dosa kepada frater atau suster, kemudian ia disarankan supaya datang kepada imam yang punya wewenang untuk itu.
Perlu adanya katekese mengenai surga, neraka, api penyucian, dosa, kerahiman Allah, dan sebagainya, sehingga umat memiliki penghargaan secara baru dan merayakan Sakramen Tobat secara lebih intens. Sakramen Tobat dirayakan bukan hanya sekurang-kurangnya sekali setahun (lihat perintah Gereja ke-4 dalam 5 perintah Gereja), tetapi lebih baik lagi kalau dilakukan lebih sering dan teratur.
Pastor Paroki (pelayan Gereja) perlu sekali menanamkan dalam diri umat kesadaran akan pentingnya merayakan Sakramen Tobat secara pribadi. Tentu saja hal ini menuntut kesediaan para imam untuk menerimakan Sakramen Tobat kapan saja umat memintanya secara wajar (bdk. Katekismus Gereja Katolik, No. 986).
Penyadaran akan kelemahan dan dosa serta penelitian batin perlu dibudayakan; juga ibadat tobat bersama pada kesempatan-kesempatan tertentu, misalnya kesempatan retret, rekoleksi, Adven, Prapaskah, dan sebagainya.
Sakramen Tobat adalah salah satu keunggulan dan kekhasan Gereja Katolik, yang tidak dimiliki oleh Gereja-Gereja Protestan. Kita sendiri harus menghargainya secara baru dan merayakannya secara lebih intens. Melalui Sakramen Tobat, bilur-bilur, penyakit, dan luka-luka dosa kita disembuhkan oleh Allah yang Mahabelaskasih. Pengampunan dan penyembuhan-Nya sungguh konkrit dan nyata.

Sumber :
http://www.carmelia.net/index.php/artikel/tanya-jawab-iman/71-sakramen-tobat-sebagai-sakramen-penyembuhan

baca selanjutnya...

Sabtu, 21 Februari 2015

Rabu Abu Dalam Masa Puasa Umat Katolik

“you are dust, and to dust you shall return” – Genesis

Puasa merupakan sebuah ajang olah rohani yang hidup dalam tradisi kebudayaan masyarakat dunia. Berbagai agama memiliki tradisinya sendiri juga mulai dari Yahudi hingga Hindu yang menekankan pada askestisme serta kemampuan menahan nafsu duniawi. Puasa menjadi sebuah proses latihan rohani yang menantang sekaligus mengajarkan manusia untuk menimba kesadaran yang lebih atau magis.

Dalam tradisi Gereja Katolik, Puasa berlangsung selama 40 hari dan dimaknai sebagai sebuah momen penting untuk pertobatan. Tradisi ini merujuk pada teladan yang dibagikan oleh tokoh-tokoh dari bagian perjanjian lama Kitab Suci yang diteladani oleh umat Kristen. Musa misalnya, melakukan puasa selama 40 hari sebelum ia menerima Sepuluh Perintah Allah yang termashyur itu. Demikian pun Nabi Elia bahkan Yesus sendiri pun menjalani puasa selama 40 Hari 40 Malam di Padang Gurun.

Berdasarkan tradisi baik berpuasa serta perhitungan angka 40 hari yang menyiratkan lamanya masa permenungan dan tobat, maka Gereja Katolik menyusun sendiri rangkaiannya secara liturgis. Secara keseluruhan umat Katolik berpuasa selama 6 pekan. Mengingat hari Minggu dipandang sebagai hari peringatan Kebangkitan maka hari ini tidak dianggap termasuk dalam masa Puasa. Dengan demikian bila dihitung mundur dari Hari Minggu Perayaan Paskah dengan mengurangi jumlah hari Minggu yang ada, maka akan ditemukan permulaan puasa di Hari Rabu.

Lalu, mengapa disebut Rabu Abu?

Mengingat bahwa tradisi berpuasa dalam kekatolikan menyangkut semangat dan laku tobat, maka awal puasa pun berefleksi dari kisah pertobatan Niniwe. Kisah tentang bagaimana Yunus dengan segala kegundahan sekaligus ketaatannya untuk membawa pesan pertobatan ke kota yang diberikan padanya untuk didatangi. Atas usaha Yunus di abad ke 5, kota Niniwe pun memaklumkan puasa dan mengenakan kain kabung sebagai sebuah ungkapan penyesalan akan dosa-dosa mereka pada Allah. Bahkan raja pun turut menyelubungi diri dengan kain kabung lalu duduk di atas abu untuk menunjukkan sesalnya.

Penggunaan abu sebagai salah satu simbol dalam liturgi Katolik memang banyak didasari pada makna abu dalam perjanjian lama. Abu menjadi lambang bagi mereka yang berkabung, lambang kefanaan dan juga tobat. Dalam kitab Ester misalnya, pada masa 485-464 SM, Mordekhai mengenakan kain kabung dan abu ketika ia mendengar perintah Raja Ahasyweros untuk melakukan pembunuhan atas semua orang Yahudi dalam kerajaan Persia. Demikian pun Ayub yang kisahnya ditulis sekitar abad 7 hingga 5 SM. Ia menyatakan ungkapan sesal pada Allah dengan duduk diatas debu.

Rabu Abu menjadi lebih dikenal secara khas setelah ritual tersebut dikembangkan secara liturgis. Menurut catatan yang ditemukan pada edisi awal Gregorian Sacramentary dan terbit di sekitar abad ke 8, pernah seorang Imam Anglo-Saxon berkotbah. Dalam kotbahnya di sekitar 1000, imam yang bernama Aelfric tersebut berujar:

“Kita membaca dalam kitab-kitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, bahwa mereka yang menyesali dosa-dosanya menaburi diri dengan abu serta membalut tubuh mereka dengan kain kabung. Sekarang, marilah kita melakukannya sedikit pada awal Masa Prapaskah kita, kita menaburkan abu di kepala kita sebagai tanda bahwa kita wajib menyesali dosa-dosa kita terutama selama Masa Prapaskah”

Dengan demikian diketahui bahwa Gereja Katolik mulai menggunakan abu sebagai simbol tobat sebagaimana praktik yang lazim dipakai pada kitab suci. Sehingga sejak abad pertengahan , abu pun mulai menandai masuknya Prapaskah bagi umat Katolik untuk menyadari kefanaan dan perlunya pertobatan. Umat katolik menaburkan abu di kepalanya sebagai simbol serta sikap tobat mereka.

Pada praktiknya di masa sekarang, abu yang digunakan dalam ritual Rabu Abu berasal dari hasil pembakaran daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya. Imam kemudian akan memberkati abu tersebut untuk kemudian ditandai pada dahi umat beriman. Tanda berupa salib di dahi akan dikenakan seraya imam berkata,

“Ingat, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu,”
atau
“Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”

Maka bagi non Katolik, jangan heran bila sekali dalam setahun pada saat Hari Rabu Abu, anda melihat teman anda yang Katolik di dahinya terdapat tanda yang berasal dari abu.

Berbagai latar yang telah dikemukakan ini, juga melandaskan ingatan akan hakikat manusia di awal mula penciptaan. Selain kemuliaan yang dianugerahkan oleh Allah melalui jiwa dan roh, manusia diingatkan pada asal muasal raganya dari debu. Hal ini inilah yang membentuk sebutan Rabu Abu atau Ash Wednesday, karena pada hari pertama permulaan puasa itu umat Katolik diajak menyadari bahwa dirinya berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu pada akhirnya nanti.

Tanda abu di dahi bagi umat Katolik bukan sebagai tanda ketaatan ibadah, bukan pula sebagai simbol kesucian si pemilik dahi, atau bukan pula aksesori yang menjadi penghias diri, apalagi dijadikan sebagai obyek selfie. Tanda abu di kening umat Katolik pada Rabu Abu sejatinya mengingatkan bahwa si pemilik dahi adalah seorang pendosa, seorang yang sadar akan kedosaannya, seorang yang melalui dosa belajar untuk memperbaiki hidupnya. Melalui pertobatan.

Dalam konteks kebangsaan, mari kita sertakan dalam doa tobat kita, para pemimpin dan elit politik negeri. Semoga mereka juga diberi kebijaksanaan dan ingatan akan abu sejarah kelam bangsa ini. Agar melalui abu sejarah korupsi dan pertarungan kekuasaan di masa lalu, kita menyadari pentingnya menjaga pondasi masa depan bangsa. Sebelum semua itu pun kembali menjadi debu.

Selamat memasuki Rabu Abu dengan semangat pertobatan kalbu.

Sumber:
http://www.sembirink.com/

baca selanjutnya...

Rabu, 21 Januari 2015

Mengenal lebih dekat dengan Misdinar

Terminologi "Misdinar" berasal dari bahasa Jerman "Messdiener" yang berarti PELAYAN KUDUS; atau dalam bahasa Inggris biasa digunakan istilah "altar servers" (Pelayan altar) atau "boys and girls to service at the altar". Lalu, siapa saja sih yang boleh menjadi Misdinar? Syarat utama ialah mereka (anak-anak) yang sudah menerima sakramen baptis dan komuni pertama, dengan usia antara 9 - 18 tahun. Namun, dalam situasi tertentu, tidak tertutup kemungkinan bagi mereka yang sudah diatas SMA.

Sejak tahun 2001 (pada tahun 2001 Tahta Suci menyampaikan bahwa setiap uskup sebagai promotor liturgi di keuskupannya memiliki wewenang untuk memberikan izin adanya misdinar putri atau putri altar), keanggotaan misdinar juga tidak tertutup bagi putri atau perempuan. Tentu pengecualian ini selalu diletakkan berdasarkan situasi di tempat pastoral. Misalnya, jangan-jangan umat merasa terganggu apabila misdinarnya seorang mahasiswi (putri altar), atau misdinar (putra Altar) malah lebih tinggi dari pastornya, atau anak laki yang memelihara jambang dan rambut gondrong (hingga umat merasa risih dan resah), dst.

Pelayan Altar dan Pelayan Misa

Jadi, Misdinar itu seorang pelayan, yakni pelayan Misa (Perayaan Ekaristi). Dalam prakteknya, misdinar bahkan menjadi pelayan bukan saja dalam Misa tapi juga dalam berbagai perayaan liturgi dan ibadat yang tidak selalu Misa.

Pelayan Gereja dan Pelayan Tuhan

Sebagaimana saya singgung di atas, menjadi Misdinar berarti menjadi anak-anak yang melayani altar. Dalam simbolik liturgi Gereja, altar itu melambangkan TUHAN YESUS KRISTUS. Pada saat Misa Kudus, Yesus Kristus hadir secara istimewa di atas altar dalam rupa roti dan anggur. Dan kita terima dalam Komuni suci. Maka, ketika menjadi Misdinar (Putra-putri Altar), sama saja kita menjadi pelayan Yesus Kristus, tepatnya Pelayan Tuhan. Sebagai orang Katolik, tentu kita tahu dan sadar bahwa Liturgi Gereja menuntut partisipasi secara penuh, sadar, dan aktif dari seluruh umatnya. Sebab, Gereja tidak menghendaki adanya one man show (pertunjukan seorang pastor saja). Nah, sebagai misdinar, kita dituntur untuk menjalankan amanat Gereja (terlibat aktif dalam liturgi Gereja) di atas lewat peran kita sebagai Pelayan Altar. Lewat peran itu kita sudah menjadi seorang katolik yang aktif dan ikut berperan dalam berbagai tugas dan tanggungjawab Gereja.

Spiritualitas Pelayanan Misdinar

Seorang misdinar harus sadar bahwa dirinya seorang PELAYAN. Pelayan dalam pengertian ajaran Gereja ialah: "orang yang melayani Tuhan dan umat-Nya", atau "serorang hamba Tuhanyang hidupnya diabadikan seluruhnya bagi sabdaNya dan karyaNya di tengah umat. Konsekuensinya, kalau disebut misdinar, mereka adalah pelayan Tuhan yang hidupnya mesti sesuai dengan Sabda Tuhan dan Sakramen-sakramen yang kita rayakan. Itu berarti seorang misdinar mesti rajin membaca Kitab Suci, suka mengikuti Misa Kudus entah sedang bertugas atau tidak, mengaku dosa dalam penerimaan sakramen tobat, dan pada saatnya menerima Krisma.

Dengan kata lain, seorang Misdinar harus sadar “SIAPA DAN APA YANG DILAYANINYA?” Di atas sudah saya sebut bahwa kita adalah Pelayan Altar, tempat yang melambangkan kehadiran Tuhan Yesus di tengah-tengah kita. Jadi, yang pertama-tama kita layani adalah Tuhan Yesus sendiri. secara lahiriah atau kelihatan, kita melayani seorang Imam atau pastor. Barangkali kita tidak suka pastornya karena pastor itu galak. Tetapi pertama-tama yang dilihat adalah Yesus Kristus yang dihadirkan dalam Misa Kudus.

baca selanjutnya...

Jumat, 16 Januari 2015

Memahami Makna Homili

Homili berasal dari bahasa Yunani homilia (percakapan, komentar).
Homili merupakan pewartaan sabda Allah yang bertolak dari bacaan Kitab Suci dan memberi komentar dan penjelasan mengenai bacaan Kitab Suci itu.

Homili merupakan bagian liturgi sabda yang amat penting.
Homili dimaksudkan untuk mewartakan dan mendalami misteri iman yang sedang dirayakan dengan bertolak dari Kitab Suci yang dibacakan sesuai dengan bahasa dan situasi aktual jemaat.

Homili hendaknya menjelaskan dan mengajarkan misteri Kristus berdasarkan pewartaan Kitab Suci sehingga misteri iman itu relevan bagi hidup umat zaman ini.
Homili juga dimaksudkan untuk memperteguh iman umat dan mengantar mereka ke misteri sabda dan sakramen yang dirayakan.
Homili juga memuat ciri sakramental, dalam mana sabda Allah yang diwartakan berdaya untuk menyelamatkan umat.

Akhirnya, homili mendorong umat untuk berani diutus mewartakan kabar baik kepada dunia.
Pada mulanya homili merupakan tugas kewajiban uskup. Kemudian homili juga menjadi kewajiban imam. Biasanya homili dibawakan oleh selebran utama. Namun homili juga dapat dibawa-kan oleh salah seorang imam konselebran, kadang-kadang bahkan seorang diakon, atau seorang uskup atau imam yang hadir dalam Perayaan Ekaristi itu tetapi tidak ikut berkonselebrasi (PUMR 66).

PUMR 66 juga memberi catatan bahwa awam tidak diperkenankan untuk menyampaikan homili dalam perayaan Ekaristi. Homili ini bersifat wajib diadakan pada hari-hari Minggu, hari raya, dan pesta-pesta yang terutama dihadiri umat beriman.
Peniadaan homili pada kesempatan tersebut harus dengan alasan yang berat. Pada hari-hari biasa, terutama masa Adven, Pra-paskah dan Paskah, homili sangat dianjurkan oleh Gereja (PUMR 66).

http://www.marinusyohanes.org/

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP