%">PS "GITA BAKTI HERKULANUS" berlatih tiap Minggu sore

Jumat, 21 November 2014

Sejarah dan makna Korona Adven

Oleh:
RP. Hadrian Hess OFMCap

Sejarah Korona (lingkaran) Adven mulai di kalangan kristen protestan, tetapi kini disebar di mana-mana. Di kota Hamburg, Jerman, kota pelabuhan, seorang pendeta dan pemimpin sebuah rumah anak terlantar (anak jalanan – lht. MB 27 E) dan yatim piatu mendapat suatu ide gemilang. Untuk menghidupkan kegembiraan para anak dan pembantu asuhan, pendeta yang bernama Yohan Hinrik Wikhern itu, pada tahun 1839 memasang sebuah lingkaran kayu berdiameter 2 meter di ruang sembahyang rumah asuhan itu. Di atasnya setiap hari dihidupkan sebuah lilin sehingga pada hari menjelang Natal, 23 lilin bernyala. Di kemudian hari, lingkaran itu dililiti dengan daun hijau dari sejenis pohon cemara, juga disebut pohon Natal dan merupakan satu-satunya pohon yang daunnya tidak gugur pada musim dingin. Untuk hari biasa dipasang lilin kecil berwarna merah. Untuk hari Minggu dipasang lilin gemuk berwarna putih. (Harap maklum, bahwa jumlah hari masa Adven tidak sama setiap tahun, tergantung jatuhnya hari Natal, entah hari Minggu, Senin, Selasa dst.)

Cahaya di lingkaran atau Korona Adven yang makin besar ingin menyiapkan orang akan kedatangan Tuhan waktu Natal dan menghidupkan harapan di kegelapan kehidupan (secara lahiriah pada musim dingin di Eropa, siang hari cukup gelap sebab matahari hanya beberapa jengkal naik di atas ufuk dan cahayanya sangat lemah.)

Ide atau penemuan pendeta Wikhern semakin tersiar dan menarik perhatian seluruh orang Eropa dan kemudian menyebar ke hampir seluruh dunia. Namun karena ukuran asli terlalu besar untuk rumah pribadi, maka besarnya diperkecil dan hanya dihias dengan 4 lilin sesuai dengan keempat hari Minggu selama masa Adven. Bahkan ada karangan Adven dengan hanya satu lilin, sering dibentuk dengan akar pohon dan disebut Akar Isai / Yesse, sesuai dengan Yes 11:10.

Masih ada asal-usul lain tentang Korona Adven. Sudah di masa kafir orang menggantungkan sebuah lingkaran, terbuat dari jerami atau daun pohon, di pintu rumah atau di pintu kandang binatang dengan harapan terhindar dari roh-roh jahat yang masuk atau pembawa rezeki. “Kemujaraban” lingkaran itu masih dikuatkan dengan meliliti lingkaran dengan pita merah atau emas. Kini lingkaran di pintu kiranya hanya berarti: "Selamat Datang!" Pita merah itu dipasang juga ke Korona Adven.

Kebudayaan Korona Adven atau Akar Yesse 'meresap' juga di lingkungan katolik bahkan ke dalam liturgi. Di buku pemberkatan sudah terdapat Doa Pemberkatan Korona Adven pada Hari Minggu Adven I.

Komisi Liturgi kita (Keuskupan Sibolga) kurang melihat faedahnya memberkati Korona Adven itu, maka mereka menempuh jalan lain, jalan tradisi Gereja, yaitu membentuk kebiasaan yang disebut Lucenarium (Penyalaan Lilin) Adven. Hal ini telah direstui oleh Mgr. Anicetus Sinaga OFMCap tatkala dia masih berugas di Keuskupan Sibolga.

Orang Yahudi mengenal sebuah lucenarium pada awal perjamuan Sabat, pada petang menjelang hari Sabtu. Saat itu, ibu rumah tangga menghidupkan dua lilin dan mengucapkan sebuah berakha (pujian/berkat) atasnya. Baru sesudah itu tuan rumah memberkati roti persatuan dst. Gereja Timur mempunyai lucenarium pada awal setiap Ibadat Sore dengan menyanyikan madah Phos Hilaron. Gereja Katolik Roma mempunyai hanya satu lucenarium, yaitu pada Malam Paskah. (Masih ada lucenarium pada Pesta Yesus dipersembahkan di kenisah, yang kemudian hari dibawa oleh Paus Sergius I dari Gereja Timur.)

Dengan menghidupkan api dan lilin Paskah (Lambang Allah dari Allah, Terang dari Terang [Syahadat panjang]) dan dengan pemberkatan meriah (Exsultet) ingin disiapkan api untuk seluruh tahun, disimpan di Lampu Abadi dekat tabernakel. Dari situ setiap hari maunya diambil nyala untuk menghidupkan lilin altar dan lilin lain. Sekitar 50 tahun yang lewat hal ini masih biasa dilaksanakan.

Mengingat tradisi timur dan barat, Komisi Liturgi memasang sebuah lucenarium pada awal upacara pada ke-4 Hari Minggu Adven di dalam buku Fangowasaini Luo Zo'aya, sesudah doa tobat (ganti Kemuliaan). Lucenarium itu menjadi begitu biasa sehingga terasa ada sesuatu yang hilang bila tidak dilaksanakan, juga di perayaan Misa dan Misa berbahasa Indonesia. Maka Komisi Liturgi menyiapkan juga versi bahasa Indonesia.

Sumber : http://start.keuskupansibolga.org/2013/12/sejarah-dan-makna-korona-adven.html

baca selanjutnya...

Sabtu, 20 September 2014

Paroki St. Herkulanus Membina Iman Umat

Penulis : Ign. Djoko Irianto

Sejak diresmikan menjadi Paroki dengan Surat Keputusan Uskup Bogor Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM Nomor 03/SKB/I/2002 pada tanggal 27 Januari 2002, Paroki Santo Herkulanus Depok mulai berbenah baik secara fisik maupun semangat pelayanannya. Secara fisik, dengan bergandengan tangan seluruh umat Paroki, Paroki Santo Herkulanus Depok sedang membangun kelengkapan sarana dan prasarana pelayanan umat. Tentu saja semua ini menjadi harapan seluruh umat Paroki Santo Herkulanus. Bukan tanpa hambatan untuk memenuhi harapan seluruh umat Paroki termasuk minimnya dana pembangunan, namun dengan semangat kebersamaan, sedikit demi sedikit hambatan dapat diselesaikan.

Tak mau ketinggalan dengan beberapa Paroki tetangga, di bidang evangelisasi, Paroki Santo Herkulanus juga sudah melangkah dengan mantap. Di bawah koordinasi Seksi Kerasulan Kitab Suci, telah diselenggarakan Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) angkatan pertama yang secara langsung dibuka oleh Uskup Keuskupan Bogor Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM pada tanggal 17 September 2011. KEP angkatan pertama di Paroki Santo Herkulanus diikuti oleh 43 peserta, oleh karena suatu hal 6 peserta di antaranya tidak dapat mengikuti sampai selesai. Dengan semangat menyala 37 peserta KEP angkatan pertama mengikuti KEP hingga selesai dan mengikuti retret perutusan di Wisma Ciganjur Depok yang juga dibuka oleh Uskup Bogor.

Puji Tuhan, gema evangelisasi terus berkobar di Paroki Santo Herkulanus Depok. KEP angkatan pertama selesai disusul dengan KEP angkatan kedua yang juga tidak kalah semangatnya. Penyelenggara KEP angkatan kedua adalah para alumni KEP angkatan pertama. Begitu secara bergantian terus-menerus para alumni KEP pada angkatan tertentu berkewajiban menjadi penyelenggara KEP untuk angkatan berikutnya secara berkesinambungan. Pantas kita bersyukur, karena semua ini berkat curahan semangat dan karya Roh Kudus. KEP angkatan keempat segera akan berlangsung, yang juga akan dibuka oleh Bapa Uskup Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM pada tanggal 26 Oktober 2014.

Gairah untuk memahami Kitab Suci dan berevangelisasi terus menyala dari para alumni KEP. Beberapa di antara mereka mulai aktif menjadi pemandu renungan Kitab Suci di lingkungan masing-masing. Namun belum semua terbakar semangatnya, karena itu perlu terus-menerus disegarkan dan dikobarkan kembali semangatnya. Untuk maksud tersebut, pada tanggal 12 Oktober 2014 dan terus-menerus secara berkala akan diadakan pertemuan para alumni KEP.

Kesadaran umat Paroki Santo Herkulanus di bidang liturgi juga patut mendapat apresiasi. Umat Paroki dengan sangat antusias terlibat langsung dalam setiap kegiatan Paroki khususnya di bidang liturgi. Umat Katolik Santo Herkulanus sangat menyadari bahwa kegiatan berliturgi adalah kegiatan umat. Ada beberapa kelompok pelayanan pendukung liturgi di bawah koordinasi Seksi Liturgi Paroki yang sudah ada dan akan tumbuh kelompok baru yang juga akan menyemarakkan kegiatan berliturgi di Paroki Santo Herkulanus. Kelompok Pelayan Liturgi yang sudah ada, yaitu: kelompok Misdinar, kelompok Lektor, kelompok Prodiakon, kelompok Organis, kelompok Koor, dan lain-lain.

Misdinar adalah salah satu petugas liturgi yang sangat penting dalam Perayaan Ekaristi. Mereka mengambil peran yang sangat sentral karena secara langsung melayani Imam yang menjadi “in persona Christi” dalam Perayaan Ekaristi. Karena perannya itulah maka Misdinar perlu mendapat pembekalan pemahaman dan pengetahuan yang cukup tentang Liturgi Ekaristi, selain latihan-latihan tentang tata gerak dan lain-lain. Di bawah koordinasi Seksi Liturgi Paroki, Misdinar Paroki Santo Herkulanus dibina oleh seorang pembina Misdinar dan beberapa pendamping Misdinar yang adalah para Misdinar senior yang juga para mantan pengurus Misdinar periode sebelumnya. Untuk mengisi pembekalan bagi seluruh anggota Misdinar, selain latihan rutin setiap Minggu, setiap tahun diprogramkan kegiatan rekoleksi atau retret. Untuk menambah wawasan dan membangun persaudaraan Misdinar sedekenat utara, kegiatan bersama seluruh Misdinar sedekenat utara pun juga dijadwalkan secara rutin. Kegiatan bersama Misdinar sedekenat utara misalnya: kunjungan Misdinar, pertandingan olah-raga, dan perayaan bersama pada peringatan Santo Tarsisius pelindung Misdinar. Misdinar juga senantiasa mengikuti kegiatan-kegiatan Paroki lainnya sesuai kalender liturgi, misalnya: doa rosario setiap bulan Mei dan Oktober.

Puji Tuhan, antusiasme anak-anak Paroki untuk bergabung dalam kelompok Misdinar sangat menggembirakan. Setiap tahun setelah penerimaan “Komuni Pertama”, dilakukan penjaringan para calon anggota Misdinar yang baru. Jumlah pendaftar calon anggota Misdinar yang baru rata-rata sekitar 15 anak setiap tahunnya. Sebagai calon anggota Misdinar yang baru, selama 3 bulan mereka mendapatkan pembekalan dari Pembina Misdinar maupun dari Suster dari konggregasi Abdi Kristus (AK), juga sharing dan latihan-latihan dari para Misdinar senior. Setiap Misdinar senior berkewajiban memberikan sharing tentang tugas-tugas pelayanan Misdinar. Sungguh menggembirakan, kegiatan ini menjadi kegiatan yang terus berkelanjutan. Setiap tahun, setelah mengikuti pembekalan dan pelatihan Misdinar selama 3 bulan, para calon Misdinar dilantik menjadi anggota Misdinar baru dalam Perayaan Ekaristi pada Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Untuk tahun ini, akan dilantik sebanyak 16 anak calon anggota Misdinar baru pada Perayaan Ekaristi Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam tanggal 23 November 2014. Kelompok Lektor juga memegang peran yang tak kalah pentingnya dalam berliturgi. Beberapa tugas Lektor seperti yang tertuang dalam Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) adalah; mempersiapkan bacaan-bacaan dalam Perayaan Ekaristi, memberikan penjelasan dan petunjuk singkat kepada umat beriman, supaya mereka lebih siap merayakan Ekaristi dan memahaminya dengan lebih baik (PUMR 105), memaklumkan bacaan-bacaan sebelum Injil dari mimbar (PUMR 196), membawakan ujud-ujud doa umat, sesudah imam membukanya (PUMR 197), membawakan antifon pembuka dan antifon komuni yang tertera dalam Misale pada saat yang sesuai, kecuali kalau antifon-antifon itu didaras oleh umat (PUMR 198), dan membacakan pengumuman dan tatatertib gereja. Karena pentingnya peran mereka dalam Perayaan Ekaristi, maka perlu adanya pembekalan dan pelatihan bagi mereka para Lektor. Puji Tuhan, antusiasme umat Paroki untuk melayani dalam kelompok Lektor cukup menggembirakan, setiap tahun jumlah mereka bertambah. Pada tanggal 7 September 2014 kurang lebih 50 calon anggota lektor akan dilantik menjadi Lektor di Paroki Santo Herkulanus dalam Perayaan Ekaristi Hari Minggu Kitab Suci Nasional. Kelompok Lektor dibina oleh seorang Pembina Lektor dan beberapa pengurus Lektor di bawah Koordinasi Seksi Liturgi Paroki.

Kiranya Tuhan sangat mengasihi umat Paroki Santo Herkulanus. Pelayanan di bidang pewartaan Sabda semakin berkembang. Mulai tahun 2014 dibentuk kelompok Pemazmur yang siap melayani membawakan puji-pujian Mazmur dalam Perayaan Ekaristi. Di bawah koordinasi Seksi Liturgi Paroki dan Sub Seksi Lektor dan Pemazmur telah dilakukan penjaringan, pembekalan dan pelatihan bagi para calon Pemazmur di Paroki Santo Herkulanus. Hal yang menggembirakan adalah antusiasme mereka untuk mengikuti pembekalan dan pelatihan. Sebanyak kurang lebih 30 orang calon Pemazmur siap untuk dilantik menjadi Pemazmur pada tanggal 7 September 2014 dalam Perayaan Ekaristi Hari Minggu Kitab Suci Nasional.

Kelompok Prodiakon Paroki juga memegang peran yang sangat penting baik dalam Perayaan Ekaristi maupun tugas-tugas di lingkungan masing-masing. Berbeda dengan kelompok pelayan liturgi yang lain, meskipun di bawah koordinasi Seksi Liturgi, Prodiakon adalah pembantu Imam secara langsung. Selain bertugas membantu Imam untuk membagikan Komuni Kudus pada Perayaan Ekaristi dan mengantarkan Komuni Kudus kepada orang sakit, Prodiakon juga diberi tugas untuk memimpin ibadat-ibadat Sakramentali di lingkungan-lingkungan. Untuk dapat melaksanakan tugas secara baik, pemahaman tentang liturgi menjadi sangat penting bagi seluruh Prodiakon. Oleh karena itu sebelum mereka dilantik, dilakukan pembekalan yang cukup kepada para calon Prodiakon. Selain itu seorang calon Prodiakon harus diusulkan oleh lingkungan masing-masing. Karena para Ketua Lingkunganlah yang mengenal para calon Prodiakon yang diusulkan. Prodiakon Paroki Santo Herkulanus yang bertugas saat ini, sebanyak 29 orang, telah menerima pembekalan selama dua bulan berturut-turut setiap minggu pada tahun 2012. Mereka telah dilantik menjadi Prodiakon dalam Perayaan Ekaristi pada tanggal 27 Januari 2013. Para Prodiakon juga senantiasa disegarkan dan disemangati dengan pertemuan bulanan untuk para Prodiakon.

Perayaan Ekaristi akan semakin semarak sekaligus khidmad apabila ada kelompok koor yang senantiasa mengiringinya. Puji Tuhan, selain kelompok-kelompok koor lingkungan, di paroki Santo Herkulanus telah terbentuk kelompok Paduan Suara tingkat Paroki yaitu Paduan Suara “Gita Bakti Herkulanus” yang diresmikan pembentukannya dan diberkati dalam Perayaan Ekaristi pada tanggal 15 September 2013. Dalam kurun waktu satu tahun PS Gita Bakti Herkulanus telah banyak melayani dalam Perayaan Ekaristi. Umat Paroki Santo Herkulanus layak gembira karena Orang Muda Katolik (OMK) di Paroki ini juga terus berpartisipasi dalam pelayanan gereja termasuk di bidang liturgi. Tak kalah semangatnya, OMK juga telah membentuk kelompok koor OMK yang diberi nama “Iuvenish Chorus”. Kelompok koor OMK ini telah diresmikan berdirinya dan diberkati pada Perayaan Ekaristi pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2014. Selamat melayani kepada kelompok koor OMK “Iuvenish Chorus”.

baca selanjutnya...

Minggu, 30 Maret 2014

Cara Melaksanakan Tugas Liturgi sebagai Organis Gereja

Menjadi Organis di Gereja berarti menjadi petugas liturgi. Kita menjalankan tugas pertama-tama untuk melayani Tuhan dan umat-Nya, demi semakin besarnya kemuliaan Tuhan. Saya sangat tidak setuju dengan kasus di mana ada anggota koor yang menyewa organis yang bukan beragama Katolik untuk mengiringi Misa/Ibadat devosi lainnya.

Catatan ini berasal dari pengalaman saya sebagai organis. Saya sharingkan di sini untuk mengingatkan kembali kita semua, terutama bagi para organis pemula, tentang bagaimana menjadi organis Gereja yang baik, dan yang tidak bertentangan dengan pedoman Liturgi Gereja.

1. Datang lebih dahulu sebelum misa/ibadat dimulai. Akan sangat mengganggu kalau umat sudah memulai dengan ibadat dan petugasnya muncul dengan tergopoh-gopoh, langsung mengejar nyanyian umat dengan iringan organ. Sambil menunggu waktu mulainya ibadat, Anda bisa memainkan lagu-lagu instrumental.

2. Berdoa sebelum memainkan organ. Tak perlu panjang-panjang. Saya suka menyapa St Caecilia, pelindung koor dan Organis Gereja.

3. Kenali tema dan corak ibadat yang mau dirayakan. Misa atau ibadat devosional (Rosario, jalan Salib)? Masa Adven dan Prapaskah tentu berbeda dengan Natal dan Paskah. Demikian juga, misa/ibadat syukur dengan misa/ibadat arwah. Hal ini akan membantu dalam pemilihan register dan lagu-lagu. Menurut pengalaman saya, kadang-kadang kita juga harus menjadi dirigen sekaligus. Dalam hal ini, aba-abanya berdasar pada tekhnik memainkan organ.

3. Selalu ingat bahwa tugas kita adalah mengiringi nyanyian umat dan nyanyian koor. Usahakan agar bunyi organ tidak menutupi suara umat atau koor. Waktu memberi intro, volumenya bisa lebih keras namun setelah umat ikut bernyanyi, segera turunkan volume suara organ. Dalam hal ini, organ dengan pedal volume akan lebih efektif daripada organ dengan pengaturan volume manual.

4. Memberikan nada dasar yang tepat untuk pemimpin ibadat. Dalam kegiatan ibadat beberapa bagian dinyanyikan oleh pemimpin ibadat: misalnya Tanda Salib, Ajakan Berdoa, Prefasi Misa, dsb. Berikan intro singkat dengan nada dasar yang sesuai. Untuk pemimpin/ imam, nada dasar biasanya berkisar pada E – G. Untuk itu bila dirasa perlu hubungi pemimpin ibadat sebelum ibadat dimulai.

5. Ketika Misa/ibadat selesai, bisa dimainkan lagu-lagu intrumental mengiringi keluarnya umat dari Gereja. Ini sangat membantu untuk menutupi kebisingan atau crowd noise. Yah, lagu instrumentalia gerejawi/rohani, bukan yang dari Gun’s Roses.

Selain itu kita juga perlu berlatih secara tetap dan teratur. Jangan merasa semuanya sudah selesai setelah kita dipercaya untuk mengiringi dalam ibadat. Di luar jam ibadat, sediakan waktu luang untuk berlatih. Asah dan kembangkan terus kemampuan yang kita miliki. Bukankah ketrampilan bermain organ itu suatu talenta? Sebenarnya ketika kita berhenti memainkan organ, saat itu kita BUKAN organis.

Nah, saya pikir cukup dulu beberapa hal ini. Bagaimana menurut Anda?

Sumber :
http://romopatris.blogspot.com/2013/11/cara-melaksanakan-tugas-liturgi-sebagai.html

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP