Kelompok Paduan Suara di Paroki St. Herkulanus, yaitu: (1) P.S. GITA BAKTI HERKULANUS berlatih rutin tiap minggu sore, (2) P.S. IUVENISH CHORUS beranggotakan para OMK Paroki, (3) P.S. SERAFIM beranggotakan para Pengurus dan Karyawan Yayasan Yohanes Paulus Depok.

Rabu, 22 November 2017

Kisah Hidup dan Pertobatan Santa Caecilia

Caecilia adalah seorang anak perempuan yang lahir pada zaman kekaisaran Romawi. Orang tuanya merupakan bangsawan Romawi. Maka dari itu, kehidupannya akrab dengan harta yang berlimpah dan gaun-gaun yang indah. Pada mulanya Caecilia dan keluarganya adalah orang-orang kafir. Namun Caecilia akhirnya sadar dan dengan tekad di dalam dirinya, ia pun menjadi Katolik dan percaya pada keselamatan Tuhan. Ia menjadi satu-satunya yang dibaptis di dalam keluarganya. Selain itu, ia juga diizinkan untuk berdoa dan mengikuti perayaan ekaristi.

Dengan masuk sebagai anggota Gereja Katolik, hidupnya kini berubah. Ia lebih memilih untuk menggubakan baju-baju kasar daripada gaun-gaun indah yang banyak digunakan anak bangsawan pada umumnya. Hampir setiap hari pula Caecilia membawa Kitab Suci yang disembunyikan di bawah bajunya karena memang bertentangan dengan aturan yang ada pada zaman tersebut. Bahkan Caecilia telah memilih dan mempersembahkan hidupnya kepada Yesus. Ia bertekad untuk tidak menikah dengan siapapun karena ia memilih Yesus sebagai pengantin seumur hidupnya.

Pada suatu ketika ayah Caecilia menjodohkannya dengan seorang pemuda yang baik, yaitu Valerianus. Caecilia amat mengagumi sosok pemuda tersebut, tetapi sayangnya Valerianus adalah seorang kafir atau penyembah berhala yang tidak mempercayai adanya Tuhan. Hal ini menjadi sebuah tantangan besar dalam hidup Caecilia untuk tetap terus mempertahankan tekadnya.

Akhirnya pesta pernikahan pun dilangsungkan. Semua tamu undangan dan keluarga Caecilia bersuka ria dalam acara tersebut. Namun berbeda dengan Caecilia yang hanya duduk seorang diri. Ia melambungkan mazmur kepada Tuhan dan berdoa untuk meminta pertolongan serta kekuatan dalam menghadapi tantangan ini. Ia tidak mau mengingkari tekad dan janjinya untuk terus mengabdi seumur hidupnya kepada Yesus Kristus.

Pada malam pernikahannya, tinggallah mereka berdua sendiri, Caecilia dan Valerianus. Cecilia ingin terus memegang janjinya untuk hidup suci dan murni bagi Tuhan. Ia berkata kepada Valerianus, “Temanku, aku memiliki suatu rahasia yang ingin aku katakan padamu. Namun engkau harus berjanji bahwa engkau tak akan menyampaikannya kepada siapapun.”

Valerian pun tertarik untuk mendengarkan dan secara hikmat berjanji bahwa ia akan menjaga rahasia tersebut. “Ketahuilah bahwa aku memiliki seorang malaikat Allah yang menjagaku. Jika kamu menyentuh aku di dalam perkawinan ini karena terdorong oleh nafsu semata, malaikatku akan marah dan kamu akan menderita. Namun sebaliknya, bila engkau mencintai aku dengan cinta yang murni serta mempertahankan keperawananku, maka ia juga akan mencintai engkau sebagaimana engkau mencintai aku, serta melimpahkan ke atasmu apa yang baik yang engkau kehendaki.”

Meskipun Valerianus adalah seorang kafir, tetapi hatinya sangatlah lembut dan peka. Mendengar perkataan istrinya itu, ia pun berkata, “Tunjukkanlah kepadaku malaikatmu. Jika ia datang dari Tuhan, aku akan mengabulkan permintaanmu.” Kemudian Caecilia menjawab, “Jika engkau percaya kepada Allah yang satu serta menerima air pembaptisan, maka engkau akan melihat dan bertemu dengan malaikat penjagaku itu.”

Mendengar perkataan istrinya, Valerianus menjadi sangat terkesan oleh iman kekristenan yang telah dimiliki Caecilia. Segera ia pergi untuk menemui Uskup Urbanus. Urbanus menerimanya dengan tangan terbuka dan sangat gembira. Ia membantu Valerianus untuk memahami ajaran Kristus. Bahkan doa Urbanus yang panjang dan indah dapat menyentuh batin Valerianus secara amat mendalam. Valerianus pun akhirnya meminta untuk dibaptis olehnya. Setelah Valerianus mengucapkan pengakuan iman Kristiani, ia pun kemudian pulang ke rumah untuk kembali menemui Caecilia. Sesampainya di rumah, Valerian dapat melihat malaikat yang menakjubkan di samping istrinya yang sedang berdoa.

Malaikat itu berbicara kepadanya, “Aku mempunyai suatu mahkota bunga untuk kalian masing-masing yang dikirim dari surga. Jika kalian tetap setia kepada Tuhan, aku akan memberikan mahkota penghargaan ini dengan wangi yang semerbak dan surga abadi yang kekal.” Kemudian malaikat itu memahkotai Caecilia dengan bunga mawar dan Valerianus dengan suatu rangkaian bunga bakung berbentuk lingkaran. Keharuman aroma bunga yang semerbak mengisi keseluruhan rumah mereka. Mawar menjadi simbol darah yang akan mereka tumpahkan, suatu lambang rahmat kemartiran yang akan mereka peroleh, sedangkan bunga bakung adalah lambang keperawanan. Kejadian yang menakjubkan tersebut disaksikan juga oleh Tiburtius, saudara Valerianus, yang pada saat itu tinggal satu rumah bersama mereka. Malaikat itu menawarkan pula keselamatan kepada Tiburtius apabila ia mau meninggalkan segala bentuk pemujaan palsu yang dianutnya. Akhirnya Tiburtius pun tergerak dan mulai untuk belajar iman Kristiani dari Caecilia. Cecilia mengisahkan hidup Yesus dengan baik dan begitu indahnya sehingga tidak lama kemudian Tiburtius pun dibaptis.

Pada zaman itu, kekristenan masih dilarang di Roma, tetapi kedua kakak beradik ini, Valerianus dan Tiburtius, banyak melakukan perbuatan baik yang mencerminkan sikap kekristenan. Dengan segala kekayaan yang dimiliki, mereka berjuang membantu para pengikut Kristus yang dianiaya di masa sulit tersebut, serta membantu menguburkan para martir yang telah dibunuh. Akibat kepercayaan barunya kepada Kristus ini, mereka pun ditangkap dan disiksa oleh seorang bernama Almachius, seseorang yang memerintah pada saat itu. Namun, mereka tidak gentar sedikit pun ketika hukuman mati akan diberikan kepada mereka.

Valerianus dan Tiburtius tetap memilih iman kepada Kristus meskipun Almachius menawarkan akan membebaskan mereka jika mereka kembali menyembah kepada dewa-dewa seperti dulu. Dengan yakin, mereka menolak dan pada akhirnya diserahkan untuk dicambuk. Pada akhirnya, mereka dihukum pancung sekitar empat mil jauhnya dari Roma oleh Pagus Triopius.

Caecilia menyaksikan kematian kedua orang terdekatnya itu. Dia menyaksikan kematian orang-orang yang dikasihinya dan ia pun berkata, “Hari ini aku menyambut engkau, saudaraku, karena cinta Tuhan telah membuat engkau menolak berhala.” Setelah kejadian itu, Cecilia mengubah rumah yang ia tempati saat itu menjadi tempat beribadat bagi semua orang. Banyak orang-orang kafir yang akhirnya menjadi murid Kristus karena tergerak oleh perkataan dan cara hidup dari Caecilia. Ketika Paus Urbanus berkunjung ke rumahnya, ia membaptis 400 orang yang pada mulanya adalah orang-orang kafir.

Karena hal inilah, Caecilia harus berhadapan dengan Almachius. Cecilia menerima penyiksaan di dalam rumahnya sendiri. Ia dihukum dan dibakar dalam kobaran api. Namun ajaibnya api itu tidak menghanguskannya sama sekali. Pada akhirnya seorang algojo ditugaskan untuk memenggal kepalanya. Ia menebaskan pedangnya tiga kali ke leher Caecilia. Seketika itu juga Caecilia jatuh ke tanah, tetapi ajaibnya lagi ia tidak meninggal.

Selama tiga hari, ia tergeletak di lantai rumahnya sendiri dan tidak mampu bergerak sama sekali. Para algojo menemukan Cecilia terkapar sambil tersenyum di lantai menerima mahkota kemartirannya. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 177 dan dalam posisi mengacungkan tiga jari dengan tangannya yang satu dan satu jari di tangannya yang lain. Hal ini dapat dikatakan bahwa di saat kematiannya, Cecilia masih menyatakan imannya kepada Allah sebagai Tritunggal Mahakudus. Paus Urbanus memberkati jenazah Caecilia. Ketika kuburnya dibuka lagi di tahun 1599, ditemukan bahwa tubuhnya masih amat segar dan utuh. Oleh karena cintanya pada Yesus, Gereja Katolik pun memperingati Santa Caecilia setiap tanggal 22 November.

Menurut cerita, tubuh dari Santa Caecilia dikuburkan dalam Katakombe St. Callistus. Sekitar tahun 757, tubuhnya dipindahkan dari Katakombe St. Callistus ke Katakombe Praetextatus oleh Lombard. Di tempat ini juga telah dikubur Valerianus dan Tiburtius. Pemindahan dilakukan untuk menghindari pencurian tubuh dari Santa Caecilia. Pada tahun 817–824, Paus St. Paschal I memindahkan tubuh St. Caecilia beserta Valerianus dan Tiburtius serta seluruh barang peninggalannya ke Gereja Trastevere Roma dan diletakkan pada sebuah altar di dalam gereja tersebut. Gereja ini terkenal dengan nama Gereja St. Caecilia, Trastevere.

Walaupun tidak mempunyai bukti yang cukup akurat, Santa Caecilia pantas dihormati dan diakui sebagai martir karena teladan imannya yang mempersembahkan hidupnya kepada Yesus dan juga tidak segan-segan bersedia untuk mati demi menjadi saksi Kristus. Nilai-nilai yang dapat diteladani dari Santa Caecilia adalah sebagai berikut.
Ia lebih memilih hidup bersama Kristus daripada hidup mewah sebagai bangsawan.
Ia mempersembahkan hidup dan keperawanannya hanya kepada Tuhan.
Berkat teladannya, banyak orang kafir atau penyembah berhala yang menjadi percaya pada Tuhan dan dibaptis, termasuk suami dan adik iparnya.
Meskipun menghadapi tantangan dalam hidupnya, ia tetap memuji Allah dengan bermazmur.
Di hari-hari penyiksaan yang dialaminya, ia tetap bergantung sepenuhnya kepada perlindungan Tuhan sampai menjelang hari kematiannya.

Pertobatan

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia bertindak sesuai dengan akal budi yang diberikan oleh Tuhan. Setiap tindakannya mengandung makna dan tujuan tertentu yang berbeda satu dengan yang lainnya. Namun sayangnya tindakan yang dilakukan oleh manusia belum tentu merupakan tindakan yang baik dan sesuai dengan kehendak Tuhan. Kadangkala manusia melakukan tindakan buruk yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain di sekitarnya sehingga tidak sesuai dengan hakikatnya sebagai citra Allah.

Untuk memperbaiki hidupnya dan kembali dalam hidup yang benar serta sesuai kehendak-Nya, manusia memerlukan rasa tobat. Tobat dimaknai sebagai pengubahan hati, pikiran, niat, sikap batin, dan sikap lahiriah manusia. Dalam pertobatan tersebut ada renovatie vitae yang sangat penting. Dengan pertobatan tersebut, dosa manusia, yang merupakan tindakan melanggar, menolak, atau bahkan ingin menyamai Allah, akan dihapuskan.

Kitab Suci merupakan sumber inspirasi bagi manusia dalam menjalankan kehidupan imannya. Bahkan Kitab Suci dianggap sebagai inspired dan inspiring words dalam sakramen rekonsiliasi. Inspired words berarti diilhami oleh Allah sendiri, sedangkan inspiring words berarti dapat menginspirasi atau memberikan informasi kepada umat yang membacanya. Oleh karena itu, manusia yang ingin bertobat sangat dianjurkan untuk membaca dan lebih memaknai isi dari Kitab Suci supaya pertobatannya semakin nyata.

Dalam Perjanjian Lama dijelaskan bahwa manusia ingin bertobat supaya hidupnya selamat dan kembali pada Allah. Pertobatan juga dimaknai sebagai usaha untuk memperbaiki relasi secara vertikal, dengan Allah, dan horisontal, dengan sesama manusia. Sedangkan menurut Perjanjian Baru, orang yang bertobat berarti ia mulai percaya kembali kepada Yesus sebagai penyelamat.

Pertobatan memiliki 3 dimensi yang penting, yaitu dimensi fisik, moral, dan juga iman. Pertobatan dimensi fisik dapat diartikan sikap tobat yang terlihat dari segi fisik, berhubungan dengan tubuh dari manusia. Sedangkan untuk dimensi moral merupakan perubahan moral dari dalam diri para pentobat yang dapat terlihat dalam sikap dan tindakan sehari-hari yang dilakukannya untuk orang lain. Lain halnya dengan pertobatan dimensi iman. Pertobatan ini merupakan pemulihan relasi atau hubungan vertikal, dengan Tuhan. Dapat terlihat dari bertumbuhnya iman serta perwujudan sikap iman Katolik dalam kehidupan sehari-hari.

Pertobatan yang dialami Santa Caecilia dalam hidupnya merupakan pertobatan yang mencakup 3 dimensi tersebut. Pada mulanya Caecilia dan keluarganya hidup dalam kemewahan di tengah penderitaan dari masyarakat lain. Namun akhirnya ia sadar dan memilih untuk meninggalkan kehidupan mewahnya sebagai anak bangsawan Romawi. Gaun-gaun indah dan gemerlap yang dipakai di keluarganya tidak dipilih olehnya, ia lebih memilih menggunakan baju-baju kasar yang dapat melukai tubuhnya. Dari sini dapat terlihat bahwa Caecilia melakukan pertobatan dalam dimensi fisik.

Untuk pertobatan dimensi moral, dapat terlihat dari usaha Caecilia untuk membuat suaminya, yaitu Valerianus, menjadi percaya akan Tuhan dan menceritakan kisah hidup Yesus kepada Tiburtius, adik Valerianus, yang ingin menjadi seorang Katolik. Selain itu, ia juga berusaha menyebarkan ajaran Katolik kepada orang-orang di sekitarnya dan mengubah tempat tinggalnya menjadi rumah ibadat bagi semua orang. Berkat usahanya tersebut, banyak orang kafir atau penyembah berhala yang akhirnya memilih untuk dibaptis dan menjadi pengikut Yesus Kristus.

Santa Caecilia juga melakukan pertobatan dimensi iman. Banyak sekali perubahan iman yang dialaminya semenjak dibaptis dan menjadi seorang Katolik. Iman akan Kristus tumbuh dengan subur di dalam hati, pikiran, dan hidupnya. Ia sering membawa dan membaca Kitab Suci, padahal hal tersebut dilarang oleh kekaisaran pada saati itu. Ia juga telah bertekad atau berjanji untuk menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dan memilih Yesus sebagai pengantin ilahi seumur hidupnya. Meskipun ayahnya menjodohkan dan menikahkannya dengan Valerianus, Caecilia tetap kuat untuk tidak mengingkari janji tersebut. Ia berdoa kepada Tuhan dengan bermazmur untuk meminta pertolongan dan kekuatan dalam menghadapi tantangan tersebut. Pada akhirnya Caecilia pun berhasil mempertahankan tekadnya berkat iman Katolik yang tumbuh kuat di dalam dirinya.

Banyak sekali nilai keteladanan hidup yang dimiliki Santa Caecilia setelah ia bertobat dan dibaptis menjadi seorang pengikut Kristus. Pertobatan yang dilakukannya tidak sekedar diucapkan, tetapi juga dilakukan dalam kehidupannya sehari-hari. Fisik, moral, dan iman dari Caecilia berubah menjadi lebih baik. Iman Katolik yang dimiliki Caecilia tidak hanya berguna untuk hidupnya saja, tetapi juga untuk membantu orang lain di sekitarnya. Ia mampu menghadapi semua tantangan yang ada di hadapannya dengan tetap berpegang erat pada cinta kasih dari Tuhan Yesus Kristus.

Sumber:
www.carmelia.net
www.pondokrenungan.com

baca selanjutnya...

Sabtu, 07 Oktober 2017

Peringatan Wajib SP Maria, Ratu Rosario

Hari ini kita merayakan Peringatan wajib Santa Perawan Maria, Ratu Rosari. Dalam perayaan ini kita diajak untuk mencontohi hidup Bunda Maria yang selalu mengikuti kehendak Tuhan dan berani menjawab YA atas apa yang dikehendaki Tuhan. Dalam perayaan ini juga kita diajak untuk merenungkan peristiwa-peristiwa Rosario yang tidak lain adalah misteri kehidupan Yesus sendiri. Bunda Maria telah menjadi contoh sejati untuk itu. Tuhan memilih Bunda Maria menjadi Bunda Allah karena ketaatanya dalam merenungkan sabda Tuhan dan melakukannya.

Doa Rosario adalah senjata, senjata rohani yang ampuh untuk melawan musuh jiwa kita. Rosario adalah rantai doa yang dipakai untuk mengikat setan, mengusir setan yang selalu merongrong hidup kita. Suster Lusia dari Fatima dengan jelas menunjukan kekuatan Rosari sebagaimana dia mengerti saat Bunda Maria menampakan dirinya. Dia mengatakan “Melalui Doa Rosari, kita akan menerima segala sesuatu yang kita minta. Inilah kekuatan Doa Rosario. Dengan doa Rosario kita masuk dalam pusat misteri hidup dan penderitaan Yesus serta misteri relasi Bunda Maria dan Yesus sendiri.

Denga berdoa Rosario, kita juga belajar dari Bunda Maria bagaimana hidup sebagai seorang pengikut Kristus dan melalui dia kita mampu hidup sesuai ajaranNya. Ini adalah kekuatan doa Rosario. Doa Rosario mampu mengubah banyak hal yang kelihatannya tidak mungkin, dan membantu kita melihat kehendak Tuhan dalam banyak situasi yang tidak hanya mustahil tetapi juga kesempatan untuk memuji kebesaran dan keagungan-Nya. Dalam artian ini, kita dapat melihat bahwa kita mempunyai senjata yang paling ampuh dari senjata lainnya. Inilah kekuatan senjata dalam hidup spiritual kita. Inilah sejata yang kita gunakan untuk melawan setan. Melalui doa Rosario, semua hal bisa menjadi mustahil bagi yang sungguh mendoakan, bagi mereka yang percaya akan kekuatan Tuhan. Melalui perantaran doa Bunda Maria, dan dalam doa Rosario, kita akan mendapatkan apa yang sesungguhnya kita butuhkan.

Mari kita bangun kecintaan kita pada doa Rosario. Bagi mereka yang belum terbiasa berdoa Rosario, gunakan waktu ini, bulan ini sebagai start awal yang baik.

baca selanjutnya...

Senin, 21 Agustus 2017

Peringatan Wajib Santo Pius X, 21 Agustus

Santo Pius lahir dengan nama Guiseppe (Yosef) Sarto di desa kecil yang bernama Riese (Venesia, Italia bagian utara) pada tanggal 2 Juni 1835. Orangtuanya bukanlah orang penting atau ternama di mata masyarakat, namun mereka adalah orang-orang Katolik yang saleh. Mereka mengasuh dan membesarkan anak-anak mereka yang sepuluh orang itu dalam suatu zaman ‘susah’.

Pastor paroki sangat tertarik pada diri Guiseppe, sang pemimpin para putera altar yang berperilaku baik itu. Dia membantu Guiseppe dalam pendidikannya. Pada tahun 1858 Guiseppe ditahbiskan sebagai seorang imam praja. Sembilan tahun lamanya dia bertugas sebagai imam tentara di Tombolo. Tombolo terletak di provinsi Padua di kawasan Veneto, 45 km sebelah barat laut Venesia dan sekitar 25 km sebelah utara kota Padua.

Romo Guiseppe mempunyai seorang Fransiskan besar sebagai ‘idola’-nya, yaitu Santo Leonardus dari Port Maurice (1676-1751). Santo Leonardus ini adalah model bagi Romo Guiseppe dalam hidupnya dan juga pada mimbar ketika berkhotbah. Kesalehan Romo Guiseppe juga patut diteladani. Pada jam 4 pagi, dia sudah kelihatan berlutut di depan tabernakel.

Sembilan tahun lamanya Romo Guiseppe berkarya sebagai pastor paroki di Salzano (sekitar 15 km dari kota Venesia). Pada waktu ditugaskan si Salzano inilah Romo Guiseppe bergabung dengan Ordo Ketiga Santo Fransiskus (sekular) dan kemudian mendirikan dua persaudaraan Ordo Ketiga Sekular.[2] Sejak saat itu Romo Guiseppe berupaya serius agar kata-kata yang diucapkannya serta tulisan-tulisannya diwarnai dengan kesederhanaan dan keugaharian standar-standar kehidupan Fransiskan, semuanya demi pencapaian cita-cita dari Bapak Serafik.

Seusai penugasan di Salzano – untuk kurun waktu sembilan tahun lamanya – Romo Guiseppe diangkat menjadi Vikjen, kanon dan wali-pengawas seminari di keuskupan Treviso (di kawasan Veneta, dekat Venesia). Banyak orang mengatakan, bahwa Romo Guiseppe tidak akan mati di Treviso. Ternyata memang demikianlah, karena kemudian Romo Guiseppe diangkat menjadi uskup Mantua , sebuah kota di Lombardy, untuk sembilan tahun lamanya. Sebagai seorang uskup, tidak ada perubahan yang terjadi dalam kebiasaan-kebiasaan hidupnya. Uskup Guiseppe tetap tidak menunjukkan toleransi samasekali terhadap pesta-pesta perjamuan yang mewah. Baginya kegiatan kerasulan dalam bidang pers sangatlah penting karena merupakan mimbar zaman modern. Oleh karena itu Uskup Guiseppe mendedikasikan dirinya pada kegiatan kerasulan pers ini. Sementara itu orang-orang miskin adalah favorit-favoritnya.

Uskup Guiseppe kemudian diangkat menjadi seorang kardinal dan Patriark/batrik Venesia, juga untuk sembilan tahun lamanya. Meskipun berada begitu dekat dengan pucuk pimpinan Gereja, Kardinal Guiseppe tetap menjadi anak-rohani yang setia dari bapak-rohaninya, Fransiskus – si kecil miskin dari Assisi.

Kematian Paus Leo XIII pada tahun 1903 membawa Kardinal Guiseppe ke Roma/Vatikan untuk mengikuti pemilihan paus. Siapakah yang akan terpilih? Kardinal Guiseppe Sarto menjawab: “Leo XIII, yang mencerahkan dunia dengan hikmat-kebijaksanaannya akan digantikan oleh seorang paus yang akan membuat dunia terkesan dengan kesucian hidupnya.” ‘Nubuat’ ini digenapi: ternyata dalam konklaf Kardinal Guiseppe Sarto terpilih sebagai paus yang baru dengan nama Pius X.

Tidak lama setelah dipilih menjadi pemimpin tertinggi Gereja, Paus Pius X mengumumkan program kerjanya, yaitu ‘memperbaharui semua hal dalam Kristus’. Pius X melakukan banyak hal dalam hal kebangunan-rohani Gereja, misalnya mendorong penyambutan komuni sejak usia muda dan juga komuni harian. Ia menetapkan pokok-pokok yang diperlukan dalam rangka pencapaian kesucian hidup para klerus. Ia mendorong perkembangan Ordo Ketiga. Yang paling penting, lewat kesucian hidupnya, Paus Pius X membuat dirinya sendiri menjadi contoh bagi orang-orang untuk melakukan pembaharuan hidup rohani mereka.

Paus Pius X terkadang dijuluki ‘Paus Ekaristi’. Beliau tercatat pernah mengucapkan kata-kata sebagai berikut: “Komuni Kudus adalah jalan yang paling singkat dan paling aman untuk menuju surga. Memang ada jalan-jalan lain: keadaan tidak bersalah (innnocence), namun hal ini diperuntukkan bagi anak-anak kecil; pertobatan, namun hal ini menakutkan kita; memikul banyak pencobaan-pencobaan hidup, namun begitu pencobaan-pencobaan itu tiba kita menangis dan mohon dikecualikan/diselamatkan. Jalan yang paling pasti, paling mudah, paling singkat, adalah Ekaristi.” Ucapan beliau ini tentunya mendukung pemberian gelar/ julukan sebagai ‘Paus Ekaristi’.

Meskipun paus, namun ia tetap romo paroki yang penuh pengertian dan cintakasih. Setiap Minggu ia berkhotbah secara sederhana menjelaskan Injil yang dibacakannya kepada hadirin di halaman Vatikan. Kebaikan hati dan kesederhanaannya sangat menonjol.

Kemudian pecah perang dunia yang pertama. Ketika menderita sakit, dari atas pembaringannya Paus Pius X berkata: “Saya ingin menderita. Saya ingin mati bagi para serdadu di medan tempur.” Pada tanggal 20 Agustus 1914 – enam belas hari setelah pecah Perang Dunia I – Paus Pius X dengan penuh kedamaian menghembuskan nafasnya yang terakhir. Wasiatnya mencerminkan jiwa Fransiskannya: “Saya dilahirkan miskin, saya telah hidup miskin, dan saya ingin mati secara miskin pula.”

Semasa hidupnya, Paus Pius X beberapa kali menyembuhkan secara ajaib orang-orang yang sakit jasmani maupun rohani. Setelah kematiannya, banyak terjadi mukjizat pada kuburannya. Proses beatifikasinya dimulai pada tahun 1923. Beatifikasinya dilakukan pada tahun 1951 dan kanonisasinya dilakukan pada tahun 1954.

Sumber : http://www.mirifica.net/2014/08/20/peringatan-wajib-santo-pius-x-21-agustus/

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP