Ada 3 kelompok Paduan Suara tingkat Paroki di Paroki St. Herkulanus, yaitu: (1) P.S. GITA BAKTI HERKULANUS yang berlatih rutin tiap minggu sore, (2) P.S. IUVENISH CHORUS yang beranggotakan para OMK Paroki Santo Herkulanus, (3) P.S. SERAFIM yang beranggotakan para Pengurus dan Karyawan Yayasan Yohanes Paulus Depok.

Minggu, 03 April 2016

Novena Kerahiman Ilahi


Paus Fransiskus menetapkan Tahun Kerahiman Allah dari tanggal 8 Desember 2015 hingga tanggal 20 Nopember 2016. Pembukaan Tahun Kerahiman Allah berlangsung pada tanggal 8 Desember 2015 bertepatan dengan Hari Raya Santa Maria Dikandung Tanpa Dosa dan peringatan 50 tahun penutupan Konsili Vatikan II. Penutupannya pada tanggal 20 Nopember 2016 karena tanggal itu merupakan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Dalam penetapan Tahun Kerahiman Allah itu, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Yesus merupakan “wajah” belas kasihan Bapa-Nya.

Agar dapat menghayati Kerahiman Allah, kita perlu mendalami dan melaksanakan Devosi Kerahiman Ilahi, terutama bagaimana mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Devosi kepada Kerahiman Ilahi ini didasarkan pada pesan-pesan Tuhan Yesus kepada Santa Faustina. Melaksanakan Devosi Kerahiman Ilahi adalah melaksanakan devosi kepada belas kasih Allah yang tak terbatas kepada umat-Nya. Melalui devosi Kerahiman Ilahi, kita juga bersedia menjadi bejana-bejana kerahiman-Nya. Menjadi bejana kerahiman-Nya berarti bersedia untuk membiarkan belas kasih-Nya mengalir melalui diri kita bagi orang-orang yang membutuhkannya.

Devosi Kerahiman Ilahi tidak pernah dipisahkan dari penghormatan kepada Lukisan Kerahiman Ilahi. Lukisan tersebut memancarkan Kerahiman Allah. Kerahiman Allah dilambangkan dengan dua sinar, yaitu warna merah dan warna putih pucat. Kedua sinar itu memancar dari Hati Tuhan Yesus. Kedua sinar tersebut melambangkan Darah dan Air. Darah dan Air yang mengalir dari Hati Tuhan Yesus itu memberi kehidupan kepada jiwa-jiwa karena jiwa-jiwa itu telah dikuduskan-Nya.

Sebagai jembatan kasih, Paroki Santo Herkulanus akan menyelenggarakan Novena Kerahiman Ilahi yang disatukan dalam Perayaan Ekaristi. Novena ini akan dimulai pada hari Sabtu 2 April 2016 selama sembilan hari berturut-turut, dan akan ditutup pada tanggal 10 April 2016 dengan Adorasi Sakramen Mahakudus.

Secara keseluruhan, Novena Kerahiman Ilahi diselenggarakan dengan susunan tema sebagai berikut:
Hari 1 : Doa untuk seluruh umat manusia khususnya orang-orang berdosa
Hari 2 : Doa untuk para Imam dan kaum religius
Hari 3 : Doa untuk jiwa- jiwa yang saleh dan setia
Hari 4 : Doa untuk orang-orang tidak beriman dan mereka yang belum mengenal Yesus
Hari 5 : Doa untuk jiwa orang-orang sesat dan memisahkan diri dari Gereja
Hari 6 : Doa untuk jiwa-jiwa yang lemah lembut dan rendah hati serta jiwa anak-anak kecil
Hari 7 : Doa untuk jiwa-jiwa yang secara khusus menghormati dan memuliakan Kerahiman Ilahi
Hari 8 : Doa untuk jiwa-jiwa yang dipenjarakan di Purgatorium
Hari 9 : Doa untuk jiwa-jiwa yang suam-suam kuku

Novena hari pertama dilaksanakan dengan perarakan Lukisan Kerahiman Ilahi. Kita yang memberikan penghormatan terhadap Lukisan Kerahiman Ilahi berada dalam belas kasih-Nya di bumi dan khususnya saat ajal. Lukisan Kerahiman Ilahi menjadi Pengingat akan Tuhan yang senantiasa menyalurkan belas kasih-Nya kepada umat manusia.

Semoga dengan penghayatan kita melalui Doa Novena Kerahiman Ilahi, semakin banyak umat mendevosikan diri kepada Kerahiman Ilahi sehingga banyak jiwa-jiwa mendapatkan anugerah belas kasih-Nya.

Tuhan memberkati.

25 Maret 2016
Seksi Liturgi Paroki Santo Herkulanus.

baca selanjutnya...

Sabtu, 24 Oktober 2015

Fenomena Misa Latin Tridentin

Misa Tridentin merupakan salah satu bentuk Misa Ritus Romawi yang mengacu pada Missale Romanum yang diterbitkan Paus Yohanes XXIII pada 1962. Di Indonesia, Misa ini masih dipraktikkan.

Mereka yang menghayati tata liturgi yang tidak biasa (for­ma extraordinaria) ini tergabung dalam kelompok-kelompok kecil yang tersebar. Dari pengamatan HIDUP, setidaknya praktik Misa ini berlangsung di Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Bahkan, tidak hanya Misa Tridentin tetapi juga pemberkatan perkawinan, pemberkatan ibu-ibu hamil, dan pemberkatan rumah. Keberadaan komunitas ini dan informasi tentang Misa Tridentin juga dapat ditemukan di akun facebook “Kami Cinta Ritus Tridentin”, situs “www.misa1962.org”, dan blog "http://tradisikatolik.blogspot.com”.

Sutradara dan aktor kondang Mel Gibson, kabarnya secara rutin juga merayakan Misa Tridentin di gereja tradisional dekat rumahnya di Malibu, California. Tetapi, ia mengikuti ajaran komunitas Society of Pius X (SSPX), pengikut Marcel Lefebvre, uskup agung yang diekskomunikasi Gereja Katolik pada 1998. Tetapi, pada 2008, Paus Benediktus XVI telah mencabut ekskomunikasi tersebut.

Misa Tridentin sebenarnya adalah bentuk liturgi Misa yang digunakan oleh Gereja di seluruh dunia sejak 1570. Liturgi Misa Tridentin yang sekarang digunakan adalah Missale Romanum yang diterbitkan Paus Yohanes XXIII. Misa Tridentin dirayakan dengan menggunakan bahasa Latin. Sedangkan liturgi Misa yang umum dipakai sekarang mengacu pada Missale Romanum Paulus VI yang diterbitkan setelah Konsili Vatikan II (1962-1965). Liturgi Misa Paulus VI ini disebut bentuk liturgi biasa (forma ordinaria), dengan menggunakan berbagai bahasa sesuai kebutuhan umat setempat.

Trend di Indonesia

Di Indonesia sudah terbentuk beberapa komunitas pencinta Misa Tridentin. Misalnya, Kelompok Studi Liturgi Santo Petrus di Jakarta. Andre Prasetya dipilih sebagai koordinator kelompok ini. Pada 2009 Andre mengenal Misa Tridentin tatkala diajak adiknya untuk mengikuti Misa Tridentin yang diorganisasi oleh Thomas Rudy Haryanto. Andre mengatakan, jumlah umat yang hadir sangat tergantung pada tempat di mana Misa diselenggarakan. Misalnya, di Kembang Wangi, biasanya dihadiri 10-20 orang; ketika diselenggarakan di Inti College, jumlah umat sekitar 15-40 orang. Jumlah umat yang hadir bisa mencapai 5.000 orang, ketika Misa diadakan di gereja.

Dalam Misa biasa, Doa Syukur Agung dibacakan secara lantang oleh imam. Sedangkan dalam Misa Tridentin, imam membacakannya secara ‘bisik-bisik’. Selain itu, bacaan epistola hanya ada satu, sedangkan bacaan Injil ada dua. Injil kedua dibacakan di akhir Misa dan selalu diambil dari Injil Yohanes 1.

Aktivis Misa Tridentin dari Kelompok Studi Liturgi Santo Petrus, Thomas Rudy Haryanto, mengenal Misa Tridentin melalui buku maupun internet. Ia menemukan, ternyata ada bentuk liturgi lain yang tidak biasa yang digunakan sebelum Konsili Vatikan II, yaitu Tridentin. Kemudian, pada 2007 muncul peraturan yang menyatakan dapat menggunakan bentuk liturgi yang tidak biasa tersebut. Selanjutnya, ia minta seorang imam untuk mempersembahkan Misa Tridentin. Misa perdana dirayakan di rumahnya pada 2008, atas izin pastor Kepala Paroki St Thomas Rasul, Bojong Indah, Jakarta Barat. Dan, Misa Tridentin ini berlanjut di rumah orangtuanya di Puri Kembangan, Jakarta Barat.

Rudy berpendapat, ada perbedaan aspek teologis antara Misa biasa dan Misa Tridentin. Misa biasa menekankan pada aspek kebersamaan, sedangkan Misa Tridentin menekankan pada aspek kurban. Misa Tridentin banyak membuat tanda salib, karena yang ingin ditonjolkan adalah kurban Kristus yang disalib. Ada sekitar 20 kali membuat tanda salib selama Misa. Selain itu, ada ‘acara’ penciuman altar yang dilakukan sekitar 10 kali. Peran imam sangat mencolok dalam Misa ini, karena ingin menonjolkan imam sebagai yang serupa dengan Kristus sendiri (in persona Christi). Hal ini berarti menekankan ajaran mengenai pentingnya Imamat Jabatan, dan perbedaannya dengan Imamat Umum kaum beriman. Lebih lanjut Rudy menjelaskan, Imamat Jabatan ditonjolkan agar kurban salib dapat terlaksana, yakni tanpa imam, tidak ada Misa.

Sementara di Surabaya, ada Kelompok Studi dan Koor Gregorian Schola Cantorum Surabaiensis (SCS) yang telah diberkati oleh Uskup Surabaya, Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono, pada Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus, 30 Mei 2008. Anggota SCS berasal dari berbagai paroki di Surabaya, antara lain Paroki Katedral Surabaya, St Yusup Karang Pilang, dan Salib Suci Sidoarjo. Umur anggotanya pun bervariasi, berkisar antara 18 sampai 66 tahun. Kelompok ini berkumpul seminggu sekali untuk belajar bersama tentang tradisi musik Gregorian dan liturgi Gereja. Di samping itu, atas prakarsa Romo Eko Budi Susilo Pr, SCS juga mendaraskan Ibadat Penutup (Completorium) di Katedral setiap hari Minggu pukul 21.00-21.30.

Peminat liturgi dan tradisi Katolik asal Surabaya, Albert Wibisono mengatakan, baik Misa dengan tata cara biasa maupun yang tidak biasa, baik dan sah menurut Takhta Suci. Namun, yang hendaknya diperhatikan adalah peningkatan kualitas dan keterampilan imam, pelayan katekese umat, dan syarat untuk bisa merayakan Ekaristi.

Albert menambahkan, partisipasi aktif yang diamanatkan dalam Konsili Vatikan II tidaklah berarti bahwa umat harus ikut serta mengucapkan semua doa dan/atau menyanyikan semua lagu dalam Misa. Ada doa-doa yang diucapkan hanya oleh imam, dan ada aklamasi-aklamasi yang merupakan bagian umat, misalnya aklamasi “Amin”. Ada saatnya lektor membaca Sabda Tuhan dan umat mendengarkan (bukan ikut membaca teks). Hal nyanyian, ada bagian-bagian yang dinyanyikan koor dan ada pula bagian yang dinyanyikan umat. Sikap diam dan khusyuk mendengarkan serta menghayati doa, bacaan Kitab Suci serta nyanyian yang dibawakan koor pun merupakan bentuk partisipasi aktif dalam Misa. Mendengarkan mungkin menjadi bentuk partisipasi aktif yang tersulit. Akhirnya, partisipasi batiniah lebih penting daripada partisipasi lahiriah.

Tanggapan hirarki

Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (Komlit KWI), Pastor Bosco da Cunha OCarm, mengatakan, Paus Benediktus XVI telah menerbitkan Surat Apostolik Summorum Pontificum, melanjutkan apa yang sudah direstui oleh para paus pendahulunya. Pada 1991 Paus Yohanes Paulus II membentuk Komisi Kepausan Ecclesia Dei, sebuah komisi khusus untuk mengurusi dan menangani realisasi Misa Tridentin. Segala hal atau persoalan yang terkait dengan pelaksanaan Misa Tridentin dari seluruh Gereja universal ditampung dan diolah dalam komisi ini.

Menurut Romo Bosco, Sri Paus melihat, masih ada kelompok-kelompok yang ingin bernostalgia dan merasa cocok hatinya dengan gaya liturgi lama (lagu-lagu Latin, penggunaan bahasa Latin, perayaan dengan imam yang terkesan sangat sakral). Mereka juga harus tetap dihormati dan dilayani.

Komlit KWI, demikian Romo Bosco, tidak mengurusi persoalan-persoalan tentang tridentin. Persoalan tersebut langsung diserahkan pada kewenangan para uskup diosesan di keuskupan masing-masing. Dalam Surat Apostolik juga tidak dijelaskan bahwa KWI harus mendukung. Namun, ada poin yang mengatakan bahwa uskup hendaknya memberikan pelayanan. “Seorang uskup yang ingin memenuhi permintaan dari umat, tetapi karena berbagai alasan tidak dapat memenuhinya, dapat langsung melaporkan kepada Komisi Ecclesia Dei di Roma yang akan memberikan bimbingan dan pemberitahuan lebih lanjut,” jelasnya.

Sedangkan pakar sejarah Gereja dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Prof Dr A. Eddy Kristiyanto OFM mengatakan bahwa tujuan Misa Tridentin adalah ingin mengakomodasi kelompok Santo Pius X yang dulu memisahkan diri atau dipisahkan dari Gereja Katolik Roma, karena Uskup Agung Marcel Lefebvre tidak mau menandatangani Konsili Vatikan II. Maka, Paus Benediktus XVI berusaha merangkul kembali. “Sri Paus ini sangat cerdas, mengarah ke suci, tapi juga sangat konservatif,” kata imam Fransiskan ini. Dalam motu proprio, yakni inisiatif pribadi Bendiktus XVI, dijelaskan bahwa Misa Tridentin tidak dianjurkan, tetapi apabila ada yang berkeinginan menyelenggarakan, kebijakannya diserahkan masing-masing keuskupan. Problem yang muncul, demikian Romo Eddy, adalah umat tidak menguasai bahasa Latin. Tetapi, jika ada orang yang merasa lebih tenang dengan misa ini, haruslah dilayani hanya sesekali saja. Jadi, kendalanya bukan pada perayaannya, melainkan pada bahasanya.

Di tempat terpisah, seorang imam di Malang mengatakan, Misa Tridentin itu mengacaukan liturgi. Maksudnya, umat sudah terbiasa dengan pembaruan liturgi Konsili Vatikan II, dengan segala pengetahuan liturgi yang begitu luas, tetapi justru diajak kembali ke belakang lagi. Seolah-olah Gereja mengalami kemunduran dan kembali ke zaman pra Konsili Vatikan II.

Sumber :
http://www.hidupkatolik.com/2011/11/24/fenomena-misa-tridentin

baca selanjutnya...

Kamis, 22 Oktober 2015

Misa Latin adalah kekayaan Gereja Katolik

Ketika Paus Fransiskus pertama kali muncul di depan kerumunan massa di Lapangan Santo Petrus tanpa jubah merah pendek sepanjang siku yang menutupi bahu atau mozzetta, sejumlah umat Katolik merasa khawatir keputusan Paus ini melupakan pakaian resmi kepausan akan menghilangan tradisi.

Secara khusus, mereka merasa khawatir dengan Misa Latin Tradisional atau Misa Tridentin, yang kini berada di tangan kepausannya yang tampaknya mengabaikan kemegahan.

Tapi lebih dari setahun setelah ia memimpin Gereja Katolik, Misa Tridentin tampaknya tetap hidup dan berjalan baik.

Beberapa dekade setelah Gereja Katolik tidak merayakan Misa dalam bahasa Latin, pertumbuhan menurun, dalam banyak kasus dimana orang muda tidak berminat.

Pada 5 Agustus empat pria ditahbiskan menjadi imam di Oratorium St. Fransikus de Sales, Gereja St. Louis dikenal karena mempraktekkan liturgi Latin ini.

Komunitas religius itu didirikan di Afrika tahun 1990, secara teratur merayakan gaya Misa tradisional tersebut. Pentahbisan terakhir di AS untuk lembaga itu tahun 2007 dan dua diakon ditahbiskan.

Tahun ini kelompok itu menahbiskan sejumlah orang. Empat orang ditahbiskan awal tahun ini di Italia, dimana lembaga ini berbasis. Mantan Uskup Agung St. Louis Mgr Raymond Burke, salah satu pendukung ritus Latin di kalangan para uskup AS, datang ke Roma untuk memimpin pentahbisan itu.

Mary Kraychy dari Koalisi Mendukung Ecclesia Dei, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Glenview, Illinois., yang mempromosikan Misa Latin, mengatakan dia melihat kelambanan, tapi stabil dalam praktek, dengan lebih dari 400 gereja yang menawarkan liturgi ini.

Organisasi itu menjual buku Misa yang menampilkan teks Misa berbahasa Latin bersama terjemahan bahasa Inggris.

Tahun 1969, Paus Paulus VI menyatakan Gereja harus mengadakan Misa dalam bahasa asli umat, yang menyebabkan Misa Tridentin itu digantikan.

Pada 5 Agustus, Francis Altiere, 32, dan tiga diakon lainnya berlutut di depan Mgr Burke, memegang lilin di tangan kanan mereka. Mereka bersujud di depan altar sementara Mgr Burke berlutut membelakangi umat.

Koor menyanyikan Litani Orang Kudus, berdoa kepada orang-orang kudus, martir dan malaikat untuk perlindungan dan bantuan Tuhan. Pastor Altiere berasal dari Pennsylvania dengan gelar dari Harvard University.

Dia mengatakan keputusannya menjadi seorang imam karena ingin merayakan Misa Latin tradisional seperti yang ia sering ikut di sebuah gereja di pusat kota Boston.

“Dalam Misa ini saya benar-benar memahami imamat untuk pertama kalinya,” kata Pastor Altiere.

“Alasan utama adalah untuk keindahan Gereja kita dan upacara liturgi adalah untuk memuliakan Allah, tetapi juga sebagai sarana ampuh evangelisasi.”

Mereka yang menghadiri Misa itu di Oratorium St. Fransiskus de Sales mengatakan iman mereka diteguhkan dengan liturgi itu dan dengan rasa solidaritas yang dialami oleh orang-orang yang menghadiri Misa itu.

“Semua orang di sini percaya apa yang mereka lakukan adalah benar, nyata,” kata Tom Leith, 55, seorang umat dari St. Louis.

“Anda berada di kalangan orang-orang yang percaya apa yang diajarkan Gereja.”

St. Fransiskus de Sales yang taat menyampaikan sebuah kombinasi dan visual yang mengizinkan bahasa isyarat bagi mereka yang sedikit mengetahui bahasa Latin untuk mengikuti Misa.

Jim Kahre memimpin 40 menit bersama sembilan anaknya dari High Ridge untuk mengunjungi gereja setiap hari Minggu.

“Saya hampir merinding,” kata Kahre, yang bekerja di bidang IT di sebuah perusahaan akuntansi. “Saya belum pernah melihat sesuatu seperti itu sampai saya datang ke sini.”

Tahun 1980-an, setelah beralih ke bahasa-bahasa lokal, Paus Yohanes Paulus II memperbolehkan para imam untuk merayakan Misa Latin tradisional ini, tapi hanya dengan persetujuan dari uskup lokal.

Namun, hingga tahun 2007, Paus Benediktus XVI telah mempermudahkan pembatasan itu, memberikan kewenangan kepada paroki-paroki untuk merayakan Misa Latin tanpa memperoleh izin dari uskup mereka.

Tahun 2011, umat Katolik berbahasa Inggris diperkenalkan ke terjemahan baru dari Misa itu yang dikatakan lebih sesuai dengan Misa Latin yang aslinya.

Pastor Altiere mengatakan ia akan menggunakan hadiah barunya sebagai seorang imam tidak hanya untuk merayakan Misa dalam bahasa Latin, tetapi juga menyelamatkan jiwa-jiwa.

“Ada sebuah pepatah bahwa imam tidak masuk surga sendiri,” kata Pastor Altiere. “Maksud saya, seorang imam hanya memimpin agar banyak jiwa bisa ke surga.”

Sumber: UCA News

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP