Ada 3 kelompok Paduan Suara tingkat Paroki di Paroki St. Herkulanus, yaitu: (1) P.S. GITA BAKTI HERKULANUS yang berlatih rutin tiap minggu sore, (2) P.S. IUVENISH CHORUS yang beranggotakan para OMK Paroki Santo Herkulanus, (3) P.S. SERAFIM yang beranggotakan para Pengurus dan Karyawan Yayasan Yohanes Paulus Depok.

Minggu, 12 September 2010

Doa dengan istilah “semoga”, salahkah?

Print Friendly and PDF

Pertanyaan saya adalah :

1. kata “semoga…” adalah ciri khas doa kita orang khatolik (Pastur selalu menggunakan kata ini) apapun yang dipanjatkan selalu ada kata semoga …
Sangat kontras dengan ayat firman Luk 11:23-24 Mat 21:22
Sepertinya kita itu tidak yakin BAPA kita di Surga mengabulkan doa kita.
Seperti kata sopan santun. Padahal banyak sekali firman Tuhan yang menunjukkan BAPA selalu bersedia memberkati kita.

2. Saya paling jarang berdoa kepada Bunda Maria kecuali bulan mei dan oktober (=bulan Maria) banyak orang berdoa sangat yakin melalui perantaraan Bunda Maria mengabulkan doa mereka.
Saya coba mengamati tingkat keberhasilan doa melalui ungkapan syukur dalam perayaan ekaristi boleh dibilang cukup banyak yang terkabul doanya. Jarang sekali ada ungkapan syukur kepada BAPA atas terkabulnya doa permohonan.
Mengapa demikian ?

3. Memang tidak ada rumusan tertentu sebuah doa dikabulkan sebab itu hak privelege BAPA. Namun banyak yang mengatakan bahwa doa yang tidak berpusat kepada pemenuhan diri sendiri biasanya sering dikabulkan. Kenyataannya hidup kita ini banyak sekali kebutuhan untuk pribadi maupun untuk keluarga. Kalau demikian menurut pengalaman iman Ibu, doa yang seperti bgmn yang paling menyentuh hati BAPA segera mengabulkan permohonan doa kita.

Contoh begini : ada seseorang berdoa mohon dapat pekerjaan yang tidak berhubungan dengan pajak karena dia seorang lulusan sarjana akuntansi. Dari beberapa pengalaman kerja sebelumnya selalu diperintahkan oleh pimpinan perusahaan untuk membuat double pembukuan yaitu untuk intern dan untuk extern (=laporan ke pajak atau buat minta kredit bank). Pembukuan extern selalu berbeda dengan intern…sering dia harus mengundurkan diri atau menolak pekerjaan seperti itu. Akhirnya dia memutuskan untuk memohon melalui doa dan juga melalui surat lamaran. Sudah 2 tahun lamanya tidak ada satupun yang bersedia menerimanya kalau tidak mau mengerjakan pembukuan eksteren. Sering menangis mohon pertolongan BAPA namun seperti kenyataan
dia harus menunggu … bersabar…. dan selalu berharap ….

Suatu kali temannya dari kristen mengajarkan cara berdoa kurang lebih seperti ini :
” Dalam nama Yesus, aku perkatakan aku sudah menerima pekerjaan yang tidak berhubungan dengan pajak. Terima kasih Yesus….amin ” selama ini cara berdoanya seperti ini :
” BAPA, Engkau tahu apa yang aku butuhkan… aku mohon ya BAPA semoga Engkau berkenan mengabulkan permohonanku. Kemuliaan ….amin”
Dalam waktu kurang lebih 1 bulan dia dipanggil sebuah perusahaan dan diterima bekerja sesuai permohonannya….
Saya tidak menitik-beratkan waktu 1 bulan dibandingkan 2 tahun… tapi pada cara penghayatan doa.
Kejadian ini sering saya lihat terjadi pada teman-teman dari kristen… cara berdoa mereka sangat kontras berbeda dengan cara doa kita…. kemudian mereka sangat aktif memperkatakan ayat-ayat dirman Tuhan didalam doa mereka sedangkan cara doa kita sangat tersusun rapi dalam standard baku yang telah dicetak dalam sebuah buku panduan.

Terima kasih. Saya sangat menunggu jawaban Ibu.
Notes : Sekedar usul, jawaban atas pertanyaan dalam katolisitas … mohon diusahakan tidak lama sekitar 1 minggu sejak pertanyaan diajukan.
Buka forum chatting tanya jawab… pengasuh chatting tidak harus anda berdua suami-istri
bisa menunjukkan staff lain yang kompeten jika anda sedang sibuk dengan kegiatan rohani lainnya (ingat…Musa pernah menangani semuanya sendiri namun akhirnya tidak sanggup)

Salam Sejahtera Selalu,
Surya Darma
Jawaban:

Shalom Surya Darma,
1. Berdoa dengan kata “semoga” artinya tidak yakin?

Kata “semoga” ini hendaknya jangan disalahartikan sebagai ungkapan kurangnya iman. Sebab kata “semoga” ini mengungkapkan pengharapan kita, yang dengan kerendahan hati di hadapan Allah, dan mengakui bahwa Allah- lah yang akhirnya memutuskan, perihal pengabulan doa kita. Atau juga “semoga” ini mengungkapkan harapan akan sesuatu yang baik dapat terjadi pada orang yang kita doakan. Kitab Suci mencatat bahwa ungkapan doa semacam inilah yang diajarkan oleh para rasul, seperti Rasul Paulus dan Rasul Yohanes. Berikut ini kutipan contohnya:

“Aku berdoa, semoga dengan kehendak Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu.” (Rom 1:10)

“Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus…. Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.” (Rom 15:5, 13)

“Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!” (Rom 16:20)

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian… (Flp 1:9)

“Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Tes 5:23)

“Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” (3 Yoh 1:2)

Memang ada banyak cara berdoa, namun yang jelas, ungkapan “semoga” ini bukan ungkapan yang keliru. Janganlah sampai kita menuduh para Rasul ini, (Paulus dan Yohanes) sebagai orang yang ‘kurang iman/ kurang yakin akan pertolongan Allah Bapa’ karena mereka berdoa dengan menggunakan kata “semoga”. Jika kita berpikir demikian, sudah saatnya memohon ampun kepada Tuhan karena kita telah menjadi sombong rohani, dengan menganggap bahwa seolah doa kita menjadi lebih baik daripada doa para Rasul, atau kita ini lebih beriman daripada para rasul. Jangan lupa, doa dengan kata “semoga” itu dicatat di dalam Kitab Suci, yang sama- sama kita yakini sebagai “Sabda Allah”, maka kita yakini juga bahwa Allah menghendaki kita untuk berdoa dengan kata “semoga”. Bukan karena kita kurang percaya, tetapi karena kita mempunyai iman bahwa Allah Bapa yang mengasihi kita adalah yang paling berkuasa untuk menentukan segala sesuatunya di dalam hidup kita; dan Ia yang paling tahu kapan saatnya yang terbaik untuk pengabulan doa kita; atau bagaimana Ia dapat memberikan hal yang lebih baik daripada yang kita mohonkan.

Lalu apakah penggunaan kata ’semoga’ ini bertentangan dengan ayat Mrk 11:23-24 dan Mat 21:22? Tentu jawabnya: tidak. Sebab yang disebutkan dalam ayat- ayat tersebut adalah sikap batin pada saat berdoa, yang memang harus yakin akan pertolongan Tuhan, namun juga tetap rendah hati mengakui bahwa Tuhanlah yang akhirnya menentukan.
2. Jarang ada ungkapan syukur kepada Bapa atas pengabulan doa?

Puncak ucapan syukur bagi kita umat Katolik adalah perayaan Ekaristi Kudus. Sebab kata ‘Ekaristi’ sendiri artinya adalah ucapan syukur, tentu di sini konteksnya adalah ucapan syukur kepada Tuhan. Katekismus mengajarkan:

KGK 1360 Ekaristi adalah kurban syukur kepada Bapa. Ia adalah pujian, yang olehnya Gereja menyatakan terima kasihnya kepada Allah untuk segala kebaikan-Nya: untuk segala sesuatu, yang Ia laksanakan dalam penciptaan, penebusan, dan pengudusan. Jadi, Ekaristi pertama-tama merupakan ucapan syukur.

KGK 1407 Ekaristi adalah pusat dan puncak kehidupan Gereja. Lewat Ekaristi Kristus mengikutsertakan Gereja-Nya dan semua anggota-Nya di dalam kurban pujian dan syukur yang Ia persembahkan di salib kepada Bapa-Nya satu kali untuk selama-lamanya. Melalui kurban ini Ia mengalirkan rahmat keselamatan kepada tubuh-Nya yaitu Gereja.

Jadi kenyataan bahwa Gereja Katolik mengadakan perayaan Ekaristi (Misa kudus) setiap hari, dan pada hari biasapun dapat dipersembahkan Misa lebih dari sekali. Artinya ucapan syukur kepada Allah Bapa itu diwartakan setiap hari oleh Gereja Katolik di seluruh penjuru dunia. Silakan, jika anda mau bersyukur kepada Allah Bapa secara khusus, untuk menghadiri perayaan Ekaristi Kudus, dan ajukanlah ujud ucapan syukur di dalam Misa tersebut.

Devosi kepada Bunda Maria merupakan sesuatu yang baik yang dianjurkan oleh Gereja, karena jika dilakukan dengan benar, devosi ini dapat membantu seseorang untuk bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih kepada Tuhan Yesus, [karena Bunda Maria akan membawa orang itu untuk lebih dekat kepada Puteranya Yesus]. Jika anda belum mengalaminya, tidak ada salahnya anda coba.
3. Doa seperti apa yang paling menyentuh Allah Bapa?

Anda mengajukan contoh tentang pengabulan doa. Dan dari contoh itu anda membandingkan dua cara doa antara perkataan, “Dalam nama Yesus, aku perkatakan aku sudah menerima pekerjaan yang tidak berhubungan dengan pajak. Terima kasih Yesus….amin.” dengan, “BAPA, Engkau tahu apa yang aku butuhkan… aku mohon ya BAPA semoga Engkau berkenan mengabulkan permohonanku. Kemuliaan ….amin”

Memang ada banyak cara berdoa. Cara yang pertama, kemungkinan dilakukan karena mengingat ayat ini, “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Mrk 11:24). Namun jika diperhatikan, Tuhan Yesus tidak mengajarkan untuk secara eksplisit berdoa demikian. Yang diajarkan-Nya adalah sikap batin di dalam doa, yaitu untuk menaruh kepercayaan total kepada Allah bahwa Ia sanggup mengabulkan apa yang kita doakan. Cara doa permohonan yang eksplisit diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam doa Bapa Kami (Mat 6: 9-13) adalah, “Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti disurga” (ay.10). Pernyataan ini tentu bukan untuk diartikan sebagai “kurang iman”, tetapi justru “penuh iman” bahwa Allah yang adalah Bapa kita yang Maha Pengasih pasti mengetahui yang terbaik dan pasti menghendaki yang terbaik terjadi di dalam kehidupan kita.

Sekarang tentang cara berdoa yang kedua. Cara ini mengungkapkan kepercayaan kepada Tuhan bahwa Ia telah mengetahui segala sesuatu yang kita butuhkan, ini tentu baik. Tetapi sesungguhnya, adalah baik jika di dalam doa kita menyebutkan juga secara spesifik apa yang kita mohon. Berani mengakui pergumulan/ kesulitan kita di hadapan Tuhan adalah ungkapan yang menunjukkan ‘kemiskinan rohani’ kita di hadapan Tuhan. Kita mengakui kebesaran-Nya, dan sekaligus kita mengakui ketidakberdayaan kita. Ibaratnya, kita mengangkat tangan kepada-Nya minta tolong, dan pada saat itulah Tuhan turun tangan untuk menolong kita. Maka, jika memang pergumulan orang itu adalah pekerjaaannya, ia selayaknya menyatakan kepada Tuhan permohonannya ini, dan dengan rendah hati mohon agar Tuhan campur tangan untuk membantunya menemukan pekerjaan baru yang lebih sesuai. Ingatlah bahwa Sabda Tuhan mengajarkan kita, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Flp 4:6).

Jadi fakta bahwa Tuhan mengabulkan doa orang itu setelah berdoa dengan cara doa yang pertama, sebenarnya bukan karena cara berdoanya, tetapi karena Tuhan melihat sikap batin orang itu yang sudah siap untuk menerima pengabulan doanya. Janganlah dilihat proses doa itu hanya sebulan sesudah ia mengganti cara berdoanya. Sebab Tuhan yang menilik hati orang itu, melihat sikap batinnya dalam dua tahun plus satu bulan itu (atau bahkan termasuk waktu- waktu sebelumnya). Sebab Tuhan melihat apa yang tidak nampak di mata manusia, sedangkan kita manusia cenderung melihat yang sebaliknya. Maka doa yang paling menyentuh hati Allah Bapa, adalah doa yang keluar dari hati kita, entah itu doa spontan, ataupun doa yang dibacakan. Tuhan Yesus juga telah mengajarkan kepada kita doa Bapa Kami, maka alangkah baik jika dapat menghayati doa ini dengan sungguh- sungguh, agar setiap kali kita mendoakannya, doa ini dapat keluar sebagai ungkapan hati. Jika kita melakukan hal ini, tentu kita menyenangkan hati Allah Bapa dan Tuhan Yesus yang mengajarkannya.

Silakan anda membaca lebih lanjut di artikel seri Apakah berdoa percuma? di sini, silakan klik, untuk melihat prinsip ajaran Gereja katolik tentang doa dan pengabulan doa.

Apakah Berdoa itu Percuma (bagian 1)
Apakah Berdoa itu Percuma (bagian 2)
Apakah Berdoa itu Percuma (bagian 3)
Apakah Berdoa itu Percuma (bagian 4 – Selesai)
Doa Bapa Kami, doa yang sempurna
4. Usul agar jawaban pertanyaan tidak lebih dari satu minggu sejak pertanyaan diajukan dan buka forum chatting, tambahkan staff lain yang kompeten.

Untuk ini saya dan Stef mohon maaf, bahwa memang kami tidak dapat berjanji untuk menjawab semua pertanyaan dengan cepat, kurang dari satu minggu. Kami akan mengusahakannya, namun jika tidak memungkinkan karena keterbatasan kami, kami mohon pengertian anda. Membuka forum chatting, belum dapat kami lakukan, karena terbatasnya tenaga/ resources kami. Selanjutnya, tidak mudah untuk merekrut staff, karena komitmen kami di Katolisitas untuk memberikan informasi pengajaran yang benar- benar sesuai dengan ajaran Gereja Katolik dan bukan atas dasar pandangan pribadi; sehingga staff yang menjawab di sini hendaknya mempunyai ‘bekal’ formasi yang baik dalam hal pemahaman akan ajaran Gereja Katolik. Hal inilah yang menjadi kendala, apalagi karya kerasulan ini sifatnya bukan komersial, sehingga kami juga tidak dapat dengan mudah merekrut karyawan seperti pada perusahaan sekular.

Karya kerasulan Katolisitas adalah hanya setitik air saja dalam ’samudra’ Gereja Katolik. Memang masih kecil dan terbatas dalam segala hal, namun baru inilah yang dapat kami bagikan kepada para pembaca pada saat ini. Semoga anda juga dapat memahami situasi kami dan mendukung kami dalam doa. Jika anda mempunyai usulan yang lebih konkret silakan disampaikan di rubrik Berpartisipasi dalam karya kerasulan Katolisitas.org.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Sumber : http://katolisitas.org/2010/09/10/doa-dengan-istilah-semoga-salahkah/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP