Ada 3 kelompok Paduan Suara tingkat Paroki di Paroki St. Herkulanus, yaitu: (1) P.S. GITA BAKTI HERKULANUS yang berlatih rutin tiap minggu sore, (2) P.S. IUVENISH CHORUS yang beranggotakan para OMK Paroki Santo Herkulanus, (3) P.S. SERAFIM yang beranggotakan para Pengurus dan Karyawan Yayasan Yohanes Paulus Depok.

Minggu, 12 Mei 2013

Katekese Liturgi Minggu Pertama Bulan Mei Dengan Topik PEMBUKAAN EKARISTI

Print Friendly and PDF

Umum:
Bapak/Ibu/Saudara/i yg terkasih dalam Yesus Kristus, bulan Mei adalah Bulan Liturgi Nasional (disingkat BULINAS). Tahun 2013 ini, selama bulan Mei, setiap kali misa mingguan, 10-15 menit sebelumnya, akan diadakan katekese liturgi, khususnya tentang Tata Perayaan Ekaristi, sehingga seluruh umat dapat mengikuti perayaan Ekaristi dengan sadar, aktif dan berpartisipasi sesuai dengan fungsi dan peranannya.

Bulan Mei terdiri dari 4 minggu. Ada 4 topik yang akan dibahas, yakni: Pembukaan, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi dan Penutupan.

Khusus:
Pada minggu pertama ini, topik katekese tentang PEMBUKAAN akan membahas persiapan mengikuti perayaan Ekaristi sampai dengan Doa Pembukaan.

1. Perayaan Ekaristi adalah puncak hidup kita sebagai umat kristiani, dimana kita dipertemukan dengan Allah Bapa yang mahakuasa, mahatinggi, pencipta langit dan bumi, serta pemelihara alam semesta. Kita bersama dengan Yesus Kristus mempersembahkan kurban yang suci murni, demi keselamatan umat manusia. Maka persiapan yang cukup harus kita lakukan, agar kita layak mengikuti perayaan yang suci ini. Kita dianjurkan membersihkan diri, lahir dan batin, jasmani dan rohani. Kita dianjurkan untuk berpuasa (minimal sejam sebelum misa), berpantang, atau mengaku dosa sebelum Misa. Kita dianjurkan untuk mengenakan pakaian rapi, bersih, resmi, sopan, sebagaimana layaknya kita kenakan dalam perjamuan bersama, untuk menghormati siapa saja yang hadir di situ, terutama Tuhan Yesus dan Allah Bapa yang maha-agung. Kita dianjurkan mengenakan sepatu, baju ber-krah, panjang rok di bawah lutut; dan tidak dianjurkan mengenakan sandal jepit, kaos oblong, baju tanpa lengan, “you can see”, atau pakaian santai (bdk.Kel 3:2 Musa melepas sandalnya di hadapan Yahwe). Dasarnya: aspek kepantasan dan kebersamaan; berfokus pada Kristus dan tidak mempertontonkan diri.

2. Kita masuk ke dalam gedung gereja berarti memasuki rumah Tuhan yang suci. Ada “batas suci” meski tidak tertulis. Di kanan-kiri pintu ada air suci, kita bisa mengambilnya dengan tangan kanan, dan kita buat tanda salib, sebagai tanda bahwa kita memasukkan diri ke dalam persekutuan ilahi Bapa-Putera-Roh Kudus; kita masuk dalam kesucian, persis seperti waktu kita dibaptis dengan air suci. Dengan demikian kita masuki suasana surgawi, tenang, hening, damai, dan kita tinggalkan suasana duniawi yang ramai. Maka suasana di dalam gereja kita jaga tetap HENING. Alat komunikasi seperti Handphone sebaiknya di-silent-kan. Makanan & minuman sebaiknya ditinggal di luar gereja. Anak-anak sebaiknya dijaga orangtuanya supaya tidak lari-lari dan berteriak.

3. Kita menuju bangku yang kosong, dengan terlebih dulu menghormati Altar sebagai tempat yang suci, dimana Yesus mempersembahkan diriNya kepada Allah Bapa; atau menghormati Tabernakel, dimana Yesus bertahta dalam sakramen Mahakudus. Penghormatan bisa dengan MEMBUNGKUK, atau BERLUTUT dengan satu kaki menyentuh lantai. Membungkukkan badan artinya menghormat dan siap melaksanakan tugas dari Allah. Berlutut artinya menghormat dan mengakui kerendahan kita di hadapanNya. Selanjutnya di bangku kita bisa berdoa secara pribadi, atau membaca Kitab Suci, sambil menunggu dimulainya perayaan Ekaristi. Dalam posisi duduk, kita tidak mengobrol atau berisik, tidak main game/SMS yang tidak perlu, karena kita bertatap muka dengan Tuhan.

4. Perayaan Ekaristi dimulai dengan perarakan rombongan Imam memasuki gereja. Paduan suara kelompok koor dan Umat sambil BERDIRI, menyambut kehadiran Allah yang diwujudkan dengan kehadiran pribadi Imam (=in persona Christi); juga dengan kitab suci Evangeliarium yang dibawa tinggi-tinggi oleh Diakon dalam perarakan. Lagu perarakan pembukaan ini memasukkan kita ke dalam suasana surgawi (pada Hari Raya, misdinar membawa pedupaan bernyala yang menyebarkan asap ke dalam gereja).

5. Rombongan Imam sesudah menghormati Altar, bisa dengan membungkukkan badan atau berlutut satu kaki, kemudian menuju bangku atau posisi masing-masing sesuai dengan fungsinya.

6. Imam membuka perayaan dengan Tanda Salib meriah/dinyanyikan, dan Salam, serta mengantarkan thema perayaan. Umat membuat tanda salib dengan mantab: di dahi, di perut/pusar, di pundak kiri dan pundak kanan, sambil menjawab mantab “Amin”, artinya menyetujui, meyakini. Umat menyimak pengantar thema dengan penuh perhatian.

7. Agar layak mengikuti perayaan Ekaristi, Imam memimpin Umat untuk mengadakan penelitian diri, mengakukan kesalahan, bisa dengan menyanyikan lagu Tuhan Kasihanilah Kami. Sikap Umat BERLUTUT, sebagai sikap ketidakpantasan di hadapan Tuhan. Mengakui kesalahan bisa dengan menepuk-nepuk dada, sebagai ungkapan kerendahan di hadapan Allah. Kemudian Imam mengajak Umat, untuk bersama-sama melambungkan madah pujian Gloria dengan mantab. Sesudah Gloria, Imam melanjutkannya dengan Doa Pembukaan yang dijawab umat dengan “Amin”. Sesudah itu Imam dan Umat DUDUK untuk mendengarkan Sabda Tuhan dengan hormat dan khidmat. Duduk artinya siap sedia menyimak bacaan demi bacaan, sebab dalam pembacaan Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Kristus hadir di dalamnya. Kita bertatap muka dengan Tuhan.

Sumber:
Bahan Katekese Liturgi di Paroki St. Herkulanus Depok.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP