Ada 3 kelompok Paduan Suara tingkat Paroki di Paroki St. Herkulanus, yaitu: (1) P.S. GITA BAKTI HERKULANUS yang berlatih rutin tiap minggu sore, (2) P.S. IUVENISH CHORUS yang beranggotakan para OMK Paroki Santo Herkulanus, (3) P.S. SERAFIM yang beranggotakan para Pengurus dan Karyawan Yayasan Yohanes Paulus Depok.

Minggu, 15 April 2012

Menyelami Misteri Kristus Dalam Tahun Liturgi

Print Friendly and PDF

TAHUN liturgi merupakan suatu siklus waktu yang secara ritual sakramental dirayakan misteri penyelamatan Kristus. Sehingga tahun liturgi tidak saja dipahami sebatas suatu siklus waktu tetapi juga sebagai suatu peristiwa iman gereja dalam mengaktualisasikan kembali misteri penebusan Kristus. Tahun liturgi adalah suatu siklus waktu di dalamnya karya keselamatan Kristus sungguh dihadirkan kembali dan manusia pun sungguh mengalami karya keselamatan itu. Oleh sebab itu tahun liturgi dan aneka ritual di dalamnya tidak dipandang sebagai suatu perayaan formalitas melainkan suatu perayaan yang hidup.

Di sini dapat dipahami bahwa yang menjadi hakekat dari tahun liturgi itu sendiri bukanlah rentetan pesta-pesta yang dirayakan menurut urutan waktu spiral, melainkan isi dari perayaan itu sendiri. Yang dirayakan di dalam tahun liturgi adalah Kristus sendiri. Pribadi Kristus sendiri yang menjadi inti dari tahun liturgi. Dan pribadi yang sama itu yang dirayakan di dalam pesta-pesta liturgis. Di sini pula sebenarnya menunjukkan hakekat dari waktu itu sendiri. Kristus sendiri mengatakan; Akulah alfa dan omega. Ia adalah awal dan akhir, maka sesungguhnya Kristus itu adalah waktu itu sendiri. Ia adalah keabadian. Tidak ada sesuatu yang ada berada dari dan di luar diriNya.

Oleh sebab itu saya merefleksikan misteri Kristus yang dirayakan di dalam tahun liturgi gereja Katolik, untuk menemukan hakekat atau inti dari tiap masa yang dirangkai di dalam tahun liturgi itu.

Masa Advent-Natal
a.Masa Advent

Sebelum merayakan Natal, pesta kelahiran Kristus, semua orang yang berdosa perlu mempersiapkan diri untuk menyambut kedatanganNya. Di dalam tahun liturgi waktu untuk mempersiapkan diri menyongsong kelahiran Kristus ini kita kenal sebagai masa advent, yaitu masa penantian. Di masa adven ini sesungguhnya merupakan masa penuh refleksi. Kita merefleksikan kehidupan kita dengan jujur untuk menemukan kenyataan diri kita di hadapan Tuhan yang maha agung. Di dalam proses persiapan diri ini, kita akan menemukan diri kita sebagai orang yang berdosa yang membutuhkan penyelamatan dari Tuhan. Oleh sebab itu dalam arti tertentu, masa advent merupakan masa pemurnian diri. Masa dimana kita menyadari keberdosaan kita dan di dalam penyesalan, kita berbalik kembali dari kenyataan keberdoasaan kita menuju jalan kebenaran. Inilah yang dinamakan jalan pertobatan. Sehingga di dalam masa advent yang berlangsung kurang lebih empat minggu ini, secara liturgis kita akan disuguhkan dengan berbagai bacaan sehubungan dengan pertobatan sebagai jalan menuju keselamatan.

Hal-hal yang ditekankan di dalam masa ini menyangkut hakekat diri Allah sebagai hakim yang adil, sebagai penebus, Tuhan yang berkuasa, Tuhan yang mulia, Tuhan yang membabtis dengan Roh Kudus. Dan Tuhan yang demikian akan dilahirkan oleh seorang perawan yang bernama Maria. Perempuan itu adalah Eva baru yang melahirkan Putra Allah untuk menebus dunia yang telah dirusakkan oleh Eva dan Adam lama serta keturunannya.

Oleh sebab itu dalam masa ini dimensi-dimensi yang mau ditekankan berkenaan dengan persoalan berjaga-jaga dan berdoa, kehidupan spiritual yang penuh kegembiraan karena akan lahir seorang penebus, kegembiraan ini sebagaimana yang ditunjukan oleh Maria sendiri lewat kata-katanya; “jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah penyelamatku”

Di sini saya menemukan bahwa inti terdalam dari masa advent sendiri adalah manusia diberi waktu untuk melihat dirinya di hadapan Tuhan, dan di dalam penemuan dirinya itu, ia berusaha terbuka kepada tawaran keselamatan Allah yang dapat diperolehnya lewat jalan pertobatan. Dengan demikian hemat saya setiap kita yang telah berbalik dari laku kita yang salah layak untuk menyambut Kelahiran Kristus di dalam hati kita.

b.Masa Natal
Secara harafiah Natal merupakan hari kelahiran Kristus. Di dalam tahun liturgi Natal menjadi perayaan istimewa. Sebab, Natal menjadi saat dimana Allah mengambil rupa manusia di dalam misteri inkarnasi. Kelahiran Kristus ke dunia menjadi titik awal misi keselamatan Kristus di dunia (Mirabilis Sacramentum). Di dalam masa Natal ini, kita merenungkan kelahiran putra Allah yang penuh misteri. Ia dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh perawan Maria. Suatu proses kelahiran yang melampaui akal sehat manusia. Sehingga di dalam masa Natal ini gereja sesungguhnya hendak merayakan misteri Agung Allah yang bekerja sama dengan manusia untuk menyelamatkan manusia dan segala isinya dari kuasa setan. Allah sendiri turun ke dunia untuk membangun kembali relasi yang telah dirusakan oleh manusia yang menyangkali cintaNya.

Dengan kata lain di dalam perayaan Natal, kita merayakan peristiwa pemberian Allah bagi kita. Dengan kata lain Natal merupakan realisasi paling nyata cinta Allah kepada kita. CintaNya melampaui besarnya dosa kita. Di dalam peristiwa Natal ini, kita berjumpa dengan Allah yang bukan Allah pendendam, bukan Allah yang selalu memperhitungkan dosa kita, melainkan Allah yang penuh belaskasihan, Allah yang turut mengambil bagian di dalam penderitaan kita. Partisipasi diri Allah di dalam kenyataan hidup kita ditunjukkanNya di dalam keadaan kelahiranNya. Allah di lahirkan di kandang yang hina yang dapat kita dengarkan di dalam bacaan-bacaan suci, atau melalui simbol-simbol yang menjadi ekspresi iman kita di dalam pembuatan kandang Natal. Allah yang solider dengan kita inilah yang di dalam perayaan Natal kita rayakan. Sebab Dia yang sama dengan kita dalam segala hal kecuali dalam hal dosa, Dialah yang juga menyelamatkan kita.

Oleh sebab itu perayaan Natal yang terus dirayakan tiap tahun, merupakan suatu pernyataan iman gereja akan sikap solider Allah yang selalu datang untuk menyelamatkan manusia dari kungkungan dosa. Dan pada pemahaman yang sama, manusia juga dituntut untuk selalu terbuka kepada tawaran keselamatan Allah ini. Sebab hanya melalui kerjasama antara Allah dan manusia, keselamatan itu sungguh menggembirakan. Sebab melalui kerja sama ini manusia tidak lagi disebut hamba dosa, melainkan anak-anak Allah yang telah diselamatkan.

Masa Prapaskah-Masa Paskah
a.Masa Prapaskah

Sebelum memasuki masa paskah, dalam kelender liturgi menyiapkan suatu masa yang kita kenal dengan masa Prapaskah. Masa prapaskah ini diawali dengan perayaan hari Rabu Abu. Di dalam masa Prapaskah ini memiliki warna dan nuansa yang sangat unik. Masa dimana menjadi masa penuh refleksi. Orang-orang diberi waktu untuk memeriksa batinnya, diberi waktu untuk menyatakan sesal dan tobatnya di dalam batin, kata dan perbuatannya. Pada masa ini juga orang diberi kesempatan untuk melakukan aktifitas mati raga (berpantang dan berpuasa) dan karya amal sebagai suatu perwujudan nyata dari dirinya yang mau bersolider dengan sesamanya yang menderita dan juga sebagai tahap dalam diri untuk mengalami misteri kebangkitan dan penebusan Kristus.

Sebagai tanda pertobatan sekaligus memasuki masa pertobatan ini, kita sebagai umat Katolik mendapatkan abu di dahi sebagai tanda yang mengingatkan kita untuk bertobat, sekaligus tanda akan kerapuhan diri kita sebagai manusia dan sebagai tanda ketidak abadian dunia. Oleh sebab itu tanda abu ini juga mengingatkan kita bahwa keselamatan hanya bersumber dari Tuhan.

Masa prapaskah yang dirayakan selama 40 hari ini sering dihayati sebagai hari ret-ret agung. Sebagaimana Musa berpuasa dan memurnikan diri di gunung Sinai dan Elia di gunung Horeb, (bdk. Kel 24:18, I Raj 19:8). Atau Yesus berpuasa selama 40 hari sebelum Ia tampil dan mengajar di depan umum. Masa prapaskah yang dirayakan selama 40 hari ini juga, menjadi saat dimana kita memurnikan diri dan mempererat diri dengan Tuhan. Di masa ini juga kita merenungkan sabdaNya, sebagaimana ketika Yesus di padang gurun Ia mengatakan kepada iblis yang menggodaNya untuk mengubah batu menjadi roti. Yesus mengatakan: “manusia tidak hidup dari roti saja melainkan dari sabda Tuhan”. Inilah alasan mengapa masa prapaskah adalah masa dimana kita belajar untuk semakin mengenal kehendak Tuhan yang termaktub di dalam kitab suci.

Di masa prapaskah ini juga, orang tidak saja memperbaharui relasinya dengan Tuhan tetapi juga dengan sesamanya. Sikap menjalin hubungan yang baik dengan sesama merupakan ekspresi nyata dari mengamalkan sabda dan kehendak Tuhan di dalam hidup berkemanusiaan.

Sesungguhnya di dalam masa prapaskah ini kita mengambil bagian di dalam penderitaan Kristus, dimana kita tidak saja mengadakan ziarah iman tentang peristiwa jalan salib Yesus dari kelahiran hingga kematianNya, tetapi juga mau sedikit merasakan secara konkret penderitaan yang pernah dialamiNya.

b.Masa Paskah
Paskah merupakan perayaan terpenting dalam tahun liturgi gerejawi Kristen. Di dalam peristiwa paskah ini, kita merayakan peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Kristus menjadi anak domba Paskah yang dikorbankan. Memasuki masa Paskah, menandakan bahwa masa Prapaskah telah berakhir. Kita sekalian memasuki masa Paskah dengan terlebih dahulu merayakan pekas suci yaitu Minggu Palma. Sebuah perayaan mengenang masuknya Yesus ke Yerusalem dengan menggunakan keledai yang disambut dengan sorak-sorai.

Tiga hari sebelum Minggu Paskah kita merayakan tiga hari suci (Tri Hari Suci) yaitu: hari Kamis Putih (warna liturgi putih), hari Jumat Agung (warna liturgi merah), dan hari Sabtu Suci (warna liturgi putih). Pada hari Kamis Putih, kita mengenang peristiwa perjamuan terakhir Yesus bersama murid-muridNya. Peristiwa Kamis Putih ini juga menjadi peristiwa penetapan Ekaristi dimana Yesus sendiri memberikan amanatNya kepada para murid untuk terus mengenang diriNya di dalam perjamuan selanjutnya. Di sini saya merefleksikan bahwa Kristus selalu hadir secara nyata di dalam perayaan ekaristi yang kita rayakan. Sebagaimana Ia mengatakan “inilah tubuhKu, inilah darahKu, lakukan ini sebagai peringatan akan Daku”, Kristus yang sama juga yang mengatakan “inilah tubuhKu, inilah darahKu, lakukan ini sebagai peringatan akan Daku” ketika imam mengucapkannya di dalam perayaan ekaristi. Perayaan ekaristi sungguh menghadirkan Kristus secara nyata dan hidup.

Usai Yesus merayakan perjamuan paskah bersama-murid-muridNya, ia ditangkap, diadili dan disiksa. Peristiwa penderitaan Yesus ini kita rayakan pada hari jumat Sengsara. Di hari Jumat ini kita mengikuti perjalanan salib Yesus dari peristiwa penangkapan Yesus, pengadilan, siksaan, menuju bukit Golgota dan akhirnya sampai pada kematianNya di kayu salib. Ketika mengikuti merenungkan perjalanan salib Yesus ini dengan penuh iman, kita pun akan merasakan bagaimana kemanusiaan Yesus dirampas habis-habisan oleh ciptaanNya sendiri. Bagaimana kita sebagai ciptaan mengadili dan menyiksa pencipta kita. Suatu peristiwa yang paling menyakitkan.

Perayaan Jumat sengsara ini menghantar kita untuk sampai pada refleksi yang mendalam akan cinta Tuhan yang paling agung, dimana Ia mengorbankan nyawa-Nya sendiri demi menebus dosa-dosa kita. Ia rela menanggung dosa-dosa kita bahkan rela untuk mati bahkan mati di salib yang hina. Peristiwa kematian Kristus di salib ini mengajarkan kita akan makna sebuah salib. Lewat salib itulah kita diselamatkan Tuhan. Oleh sebab itu lewat salib pun kita diajarkan Tuhan untuk tetap setia menanggung salib kita masing-masing. Di dalam kesetiaan kita dalam memanggul salib kita seraya tetap menaruh kepercayaan kepada Kristus kita pasti diselamatkanNya.

Walaupun demikian sejarah Yesus Kristus tidak berhenti pada kematianNya. Pada hari selanjutnya, Ia bangkit. Kebangkitan Kristus menjadi suatu peristiwa mulia dimana kita kembali mendapatkan harapan, bahwa Yesus itu Tuhan yang hidup. Ia dapat mengalahkan dosa dan maut lewat peristiwa kebangkitanNya. Di dalam dan melalui peristiwa kebangkitan Kristus ini iman kita memiliki dasar yang kokoh dan iman kita kepadaNya tidak pernah sia-sia dan para murid adalah saksiNya. Setelah triduum Paskah ini di sebut oktaf paskah hingga hari minggu setelah Minggu paskah. Selanjutnya pekan paskah yang berlangsung selama 7 Minggu dan berakhir pada hari pentekosta.

Masa Biasa
Masa biasa di dalam tahun liturgi dimulai setelah hari penampakan Tuhan (Epifani) dan berakhir pada hari raya Kristus raja semesta alam. Warna khas liturgi pada masa biasa ini adalah hijau yang menandakan masa yang penuh harapan. Disebut Masa Biasa karena di dalam masa ini tidak terdapat Misteri Kristus yang dirayakan secara khusus. Masa biasa memberi kesan bahwa masa itu tidak ada perayaan yang terjadi secara luar biasa. Misteri Kristus dirayakan secara meriah hanya di hari Minggu. Dimana tema utama di dalam bacaan-bacaan pada hari Minggu, selalu menyangkut misteri Kristus.

Akan tetapi perayaan masa biasa ini jangan dilihat sebagai suatu perayaan yang kurang nilai keselamatannya. Atau suatu perayaan yang tidak lengkap. Perayaan ekaristi pada masa biasa juga adalah suatu perayaan yang penuh, yakni di dalamnya, dirayakan secara utuh misteri penyelamatan Yesus. Oleh sebab itu tidak dibenarkan jika kita menyepelehkan misteri iman yang kita rayakan dalam ekaristi di masa biasa ini. Sebagaimanapun Ekaristi itu dirayakan, Ekaristi tetap menjadi sumber dan puncak kehidupan kita. Maka sangatlah tidak benar jika kita hanya mengambil bagian di dalam perayaan Ekaristi secara aktif pada masa-masa Natal dan Paskah.

Perayaan keselamatan Allah itu terjadi secara terus menerus. Oleh sebab itu, kita pun harus merayakannya tanpa henti. Bukan berarti juga kita menyangkali hari-hari khusus yang telah ditetapkan gereja di dalam tahun liturgi. Tetapi bahwa di dalam masa biasapun kita tetap merayakan misteri yang sama walau tak dirayakan secara istimewa, yaitu ucapan syukur atas karya penebusan dan kenangan akan sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus.

Lebih dari itu hari minggu pun disejajarkan dengan hari-hari raya lainnya. Dimana pada hari Minggu, bersama seluruh umat beriman kita merayakan dengan penuh syukur karya penyelamatan Allah yang hadir dalam diri Yesus Kristus lewat peristiwa wafat dan kebangkitanNya. Bersama umat beriman juga kita mengucap syukur karena selama sepekan kita mendapatkan perlindungan dan kasih karunia Tuhan. Dan dengan merayakannya kita sesungguhnya menguduskan hari Tuhan sesuai perintah Allah yang ke tiga serta menunaikan lima perintah Gereja yang mengatakan rayakanlah Ekaristi pada hari Minggu dan Hari Raya yang diwajibkan, dan janganlah melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari itu.

Sumber : http://lawarik.wordpress.com/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP