Ada 3 kelompok Paduan Suara tingkat Paroki di Paroki St. Herkulanus, yaitu: (1) P.S. GITA BAKTI HERKULANUS yang berlatih rutin tiap minggu sore, (2) P.S. IUVENISH CHORUS yang beranggotakan para OMK Paroki Santo Herkulanus, (3) P.S. SERAFIM yang beranggotakan para Pengurus dan Karyawan Yayasan Yohanes Paulus Depok.

Senin, 05 Juli 2010

Bilamanakah Imam Mempergunakan Dupa dalam Misa?

Print Friendly and PDF

oleh: Romo William P. Saunders *

Mengapakah dan bilamanakah imam mempergunakan dupa dalam Misa?
~ seorang pembaca di Crystal City


Dupa adalah suatu bahan aromatik yang adalah getah dari pepohonan tertentu. Apabila dibakar di atas arang, dupa menghasilkan aroma yang harum. Guna menghasilkan asap yang lebih tebal dan guna menambah harumnya, terkadang wangi-wangian lain dicampurkan ke dalam dupa.

Penggunaan dupa (= ukupan) di masa lampau merupakan hal yang biasa, teristimewa dalam ritus-ritus keagamaan di mana dupa dipercayai dapat menghalau roh-roh jahat. Herodotus, sejarahwan Yunani, mencatat bahwa dupa umum dipergunakan di kalangan masyarakat Assyria, Babilonia dan Mesir. Di kalangan Yahudi, dupa termasuk dalam persembahan syukur minyak, biji-bijian, buah-buahan dan anggur (bdk Bil 7:13-17). Tuhan memerintahkan Musa untuk membangun sebuah mezbah emas tempat pembakaran ukupan (bdk Kel 30:1-10), yang ditempatkan di depan tabir penutup tabut hukum, di depan tutup pendamaian yang di atas loh hukum.

Kita tidak tahu kapan tepatnya penggunakan dupa dimasukkan ke dalam Misa atau ke dalam ritus-ritus liturgis lainnya. Pada masa Gereja perdana, kaum Yahudi terus mempergunakan dupa dalam ritual Bait Suci mereka, jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa dari sanalah umat Kristiani menerapkan penggunaan dupa dalam ritual mereka.
copy atau
Dalam liturgi-liturgi St Yakobus dan St Markus, yang dalam bentuknya sekarang berasal dari abad kelima, ada disebutkan mengenai penggunaan dupa. Ritual Romawi dari abad ketujuh mempergunakan dupa dalam prosesi uskup ke altar dan pada hari Jumat Agung. Di samping itu, dalam Misa, pendupaan Injil muncul sangat awal; penggunaannya dalam persembahan, pada abad kesebelas; dan dalam Introitus (= antifon pembukaan), pada abad keduabelas. Dupa juga dipergunakan dalam Benedictus dan Magnificat pada waktu Laudes dan Vesper sekitar abad ketigabelas, dan pada pentahtaan dan pemberkatan dengan Sakramen Mahakudus sekitar abad keempat belas. Lama-kelamaan, penggunaan dupa diperluas hingga ke pendupaan selebran dan klerus yang melayaninya.

Tujuan pendupaan dan nilai simbolik dari asap adalah pemurnian dan pengudusan. Misalnya, dalam Ritus Timur, pada permulaan Misa, bagian altar dan panti imam didupai sementara Mazmur 50, “Miserere,” dimadahkan demi memohon belas kasihan Tuhan. Asap melambangkan doa-doa umat beriman yang membubung ke surga. Pemazmur bermadah, “Biarlah doaku adalah bagi-Mu seperti persembahan ukupan, dan tanganku yang terangkat seperti persembahan korban pada waktu petang” (141:2). Dupa juga menciptakan suasana surgawi. Kitab Wahyu menggambarkan sembah sujud surgawi sebagai berikut, “Datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah” (8:3-4).

Dalam Pedoman Umum Misale Romawi, dupa dapat dipergunakan selama perarakan masuk; pada permulaan Misa untuk menghormati salib dan altar; waktu perarakan dan pewartaan Injil; sesudah roti dan anggur disiapkan di altar untuk mendupai bahan persembahan, salib, dan altar, juga imam dan jemaat; waktu Hosti dan Piala diperlihatkan kepada umat sesudah konsekrasi masing-masing. Imam juga dapat mendupai Salib dan Lilin Paskah. Dalam Misa Pemakaman, pada saat pelepasan jenazah, imam dapat mendupai peti jenazah, sebagai tanda hormat kepada tubuh orang yang meninggal dunia yang telah menjadi bait Roh Kudus pada saat pembaptisan, dan sebagai tanda doa-doa umat beriman agar orang yang meninggal dunia naik kepada Tuhan.

Penggunaan dupa menambah rasa khidmad dan sakral dalam Misa. Kesan yang ditimbulkan oleh asap yang membubung dan harum dupa mengingatkan kita akan keagungan Misa yang menghubungkan surga dan bumi, dan yang menghantar kita masuk ke dalam hadirat Allah.

* Fr. Saunders is pastor of Queen of Apostles Parish and dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College, both in Alexandria.

sumber : “Straight Answers: When Do Priests Use Incense at Mass?” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1999 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP