%">PS "GITA BAKTI HERKULANUS" berlatih tiap Minggu sore

Sabtu, 31 Maret 2012

Contoh Renungan Tuguran Kamis Putih Malam

Bagi Pemimpin Ibadat
Setelah Perayaan Hari Kamis Putih Malam, setelah altar dilucuti, Gereja mengadakan ibadat tuguran untuk berjaga-jaga selama kurang lebih 1 jam sambil berdoa bersama Yesus. Dalam ibadat tuguran banyak terjadi suasana hening untuk melakukan renungan dan refleksi. Berikut adalah contoh renungan yang pernah saya bawakan dalam Ibadat Tuguran Kamis Putih malam. Renungan berikut baik bila dibawakan dengan perlahan (tidak terburu-buru) namun tegas, sambil diiringi musik instrumental reflektif. Renungan ini dapat Anda modifikasi sendiri, terutama di bagian pertanyaan-pertanyaan reflektif, dengan memperhatikan : Tema APP Keuskupan ybs atau situasi dan kondisi umat setempat. Semoga bermanfaat.

“BETAPA LEBAR DAN PANJANGNYA, BETAPA TINGGI DAN DALAMNYA KASIH KRISTUS" (Ef 3:18b)

Bapak Ibu dan Saudara-saudari yang terkasih, malam ini kita bersama-sama dengan Yesus, berjaga bersamaNya, menemaniNya dalam kesendirian dan kegelisahannya, kita mempersatukan hati dengan hatiNya yang kini diliputi ketakutan dan dukacita yang mendalam. Lihatlah Ia yang sendirian, gentar dan ketakutan dalam doaNya.

"Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."

Kita mau malam ini bersama-sama berjaga bersama Yesus, menemaniNya yang sedang mengambil keputusan tersulit dalam tugas dan perutusanNya ke dunia, yaitu untuk menyelamatkan kita dengan menderita dan wafat di kayu salib. Itu sebabNya Yesus sangat ketakutan, peluhNya menjadi seperti tetes-tetes darah. Ia sangat sedih dan gentar. Tetapi dalam ketakutan dan kegelisahanNya, Yesus telah mengambil keputusan yang luar biasa: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"

Yesus telah menunjukkan tanggung jawab yang luar biasa akan tugas dan perutusan yang diembanNya dari Bapa. Ia menyerahkan seluruh kekuatan, kehendak, dan bahkan hidupnya sendiri Ia serahkan untuk menyelesaikan tugas dan tanggungjawab yang telah diterimaNya dari Bapa. Saat-saat terakhir hidupNya saat tergantung di kayu salib Ia berkata: “Sudah selesai". Ia telah menyelesaikan dengan sempurna tugas perutusanNya di dunia, dan terlaksanalah karya penyelamatan Allah lewat penderitaan dan kematian Yesus itu. Kita diselamatkan karena Yesus telah mati untuk kita. Sungguh “Betapa lebar dan panjangnya, betapa tinggi dan dalamnya kasih Kristus”. tak terukur kasihNya… Tak terhingga kebaikanNya… Telah dibuktikanNya kesetiaan dan kasihNya… Yesus telah menyerahkan segala-galanya demi cinta kasihNya kepada kita. Ia ingin kita selamat, Yesus menghendaki kita menerima hidup yang baru sebagai putera-puteri Allah, serupa dengan Ia yang telah setia sampai menyerahkan semuanya demi kehendak BapaNya.

Malam ini kita melaksanakan apa yang diperintahkan Yesus kepada kita, para muridNya :

“Berjaga-jagalah dan berdoalah ……..
Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan:
roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

Yesus telah memberikan segala-galanya untuk kita. Sudahkah Anda merasakan itu?
Ia telah berkurban sehabis-habisnya untuk engkau, tidakkah kau perhatikan itu?

Janganlah kita melalaikan apa yang diperintahkanNya kepada kita. Janganlah kita didapatiNya tertidur, melupakan tugas dan tanggung jawab yang telah dipercayakanNya kepada kita.:
"Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam saja dengan Aku?"

Tidakkah kita sanggup melaksanakan perintah Tuhan?
Tidakkah kita sanggup memanggul salib hidup kita?
Apakah Kita sudah menjadi pribadi seperti yang dikehendakiNya?
Sudahkah kita membalas Cinta kasih yang telah ditunjukkanNya bagi kita ?
Tidak sanggupkah kamu berjaga-jaga?
Tidak sanggupkah kamu melaksanakan apa yang telah kuperintahkan kepadaMu?
Tidak sanggupkah kamu menjalankan tugas yang telah dipercayakan kepada kamu?
Tidak sanggupkah kamu memikul tanggung jawab akan tugas dan kewajiban yang telah Engkau pilih sendiri?
Apakah Engkau sudah menjadi anggota keluarga yang baik? …………………
(dapat ditambahkan pertanyaan reflektif lainnya)

Apakah Engkau telah menjadi umat Katolik yang baik?
Pengurus lingkungan/wilayah yang baik?
Pemimpin yang baik? Dimana tanggung jawabmu?!!
Sudahkah Engkau menjadi orang yang berguna bagi orang-orang disekitarMu?
Menjadi terang bagi mereka yang berada di kegelapan?
atau tongkat bagi mereka yang tidak tahu arah?
Sudahkan kita peduli pada yang menderita?
Pada yang miskin dan kekurangan?
Sudahkah kita menolong yang membutuhkan?
Pernahkah kita pada masa pertobatan ini berbuat sesuatu untuk sesama kita?

Atau …………….
Masih saja kita menunjukkan keegoisan hati kita?
Menomor satukan kehendak kita?
Tidak peduli pada keluarga, sesama, lingkungan dan masyarakt kita ?

58:5 Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN?
Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu.
58:4 Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.
58:6 Bukan! Sabda Tuhan Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,
58:7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!
58:8. Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.

Bapak Ibu dan saudara-saudari yang terkasih, Mari kita mulai saat ini membangun niat sungguh-sungguh untuk berubah, untuk mengawali semua, membuat semuanya menjadi baik, berbuat sesuatu untuk sesama Demi kemuliaan nama Tuhan.

Kita percaya bahwa

53:4. penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.
53:5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

Tundukkanlah diri sedalam-dalamnya pada Tuhan, dan mohonkanlah berkat untuk semua niat hatimu untuk memperbaiki hidup, untuk lebih bertangggung jawab kepada tugas dan perutusan yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita.

Amin.

baca selanjutnya...

Jumat, 30 Maret 2012

Memahami Makna Tri Hari Suci

Trihari Suci dimulai dengan Ekaristi petang pada Kamis Putih, memuncak pada perayaan Malam Paskah, dan berakhir pada Ibadat Sore Minggu Paskah. Selama tiga hari suci ini, Gereja merayakan misteri terbesar karya penebusan: sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus.

KAMIS PUTIH
Pada hari Kamis Putih, seluruh umat beriman mengenang Perjamuan Malam Terakhir yang diadakan Yesus bersama murid-murid-Nya. Pada hari ini, kita mengenangkan penetapan Ekaristi, wujud pengurbanan Yesus. Di dalamnya, Ia menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya, yakni seluruh diri-Nya demi keselamatan kita. Maka setiap perayaan Ekaristi merupakan kenangan akan Perjamuan Paskah dan pengurbanan Kristus. Dalam perjamuan itu, Ia memberikan teladan pelayanan dengan membasuh kaki para murid, dan memberikan perintah baru agar kita saling mengasihi.

Kamis Putih juga merupakan hari rekonsiliasi. Pada hari ini Gereja menyambut para petobat yang kembali berdamai dengan Allah dan jemaat.

Sesudah Perayaan Ekaristi meriah, diadakan perarakan Sakramen Mahakudus dan tuguran (malam berjaga) di hadapan Sakramen Mahakudus.

Perayaan Kamis Putih ditata sebagai berikut: Pembukaan, Liturgi Sabda, Pembasuhan Kaki, Liturgi Ekaristi, Pemindahan Sakramen Mahakudus.

JUMAT AGUNG
Pada hari ini, Kristus - Anakdomba Paskah kita dikurbankan. Dalam Ibadat Sabda sesudah tengah hari (pukul 15.00), Gereja mengenangkan sengsara dan wafat Yesus, menghormati salib dan mengenang kembali kelahirannya dari lambung Yesus yang tergantung di salib.

Pada hari ini tidak ada perayaan Ekaristi; Gereja menjalani puasa Paskah yang dipandang penting. Bila mungkin, puasa ini diperpanjang sampai hari Sabtu Suci supaya kita dapat merayakan kegembiraan kebangkitan Tuhan.

Ibadat Jumat Agung terdiri dari tiga bagian: Liturgi Sabda, Penghormatan Salib dan Komuni.

MALAM PASKAH
Malam Paskah adalah malam suci kebangkitan Tuhan, yang merupakan puncak perayaan Trihari Suci. Pada malam ini Gereja berjaga, menantikan kebangkitan Kristus dan merayakannya dalam ibadat suci.

Pada Malam Paskah ini, Gereja juga membaptis para katekumen. Kebiasaan ini didasarkan pada keyakinan bahwa dengan dibaptis, pada katekumen ambil bagian dalam misteri Paskah: mati dan bangkit bersama Kristus. Sebagaimana Kristus wafat, dikubur, lalu bangkit, demikian pula para baptisan mati terhadap dosa, dikuburkan (ditenggelamkan dalam air), dan bangkit (keluar dari air) untuk hidup baru sebagai anak Allah.

Dalam hubungan ini pula, kaum beriman diajak membarui janji baptis dalam Perayaan Malam Paskah. Maka Perayaan (Malam) Paskah juga selalu menjadi perayaan kebangkitan kita sebagai orang beriman: mati terhadap dosa, dan hidup baru sebagai anak Allah.

Liturgi Malam Paskah disusun sebagai berikut.
Upacara Cahaya yang berpusat pada Kristus Sang Cahaya.
Liturgi Sabda , yaitu merenungkan karya-karya agung Allah sejak awal mula.
Liturgi Baptis , di sini Gereja membaptis para katekumen dan membarui janji baptis.
Liturgi Ekaristi , dimana kita diundang ke perjamuan Tuhan, yakni perjamuan sukacita karena kebangkitan-Nya.

Masing-masing liturgi Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Paskah tidak dipandang sekedar sebagai perayaan dari peristiwa-peristiwa yang terpisah, melainkan ketiganya sungguh dipandang sebagai satu misteri keselamatan. Oleh sebab itu, Misa Perjamuan Malam Terakhir Tuhan pada hari Kamis Putih tidak diakhiri dengan berkat penutup; melainkan berkat diberikan di akhir Misa Malam Paskah.
Semoga kita semakin menghayati Pekan Suci ini dalam mempersiapkan hati menyambut kebangkitan Kristus. Marilah kita kuburkan segala dosa kita dan bangkit bersama Kristus... Alleluya!

Sumber : http://santovincentius.sch.id/component/content/article/111-tri-hari-suci.html

baca selanjutnya...

Senin, 26 Maret 2012

Sejarah dan Asal Mula Jalan Salib

Umat Kristen abad pertama sangat menghormati tempat-tempat yang berhubungan dengan kehidupan, karya, dan kematian Yesus. Di tempat-tempat yang suci itu didirikan kapel/gereja ataupun diletakkan batu khusus. Berdasarkan sebuah tulisan kuno dari Siria (abad V), Bunda Maria sendiri mengunjungi tempat-tempat itu.

Umat Kristen tinggal di kota Yerusalem hingga kira-kira tahun 70M. Menjelang serangan tentara Romawi terhadap bangsa Yahudi, mereka melarikan diri. Akibat serangan Roma, hancurlah Yerusalem serta Bait Sucinya. Serangan kedua, yang lebih dahsyat dilancarkan oleh Roma pada tahun 135M. Di atas puing-puing Yerusalem lama, Roma mendirikan sebuah kota baru dan beberapa kuil untuk dewa-dewi mereka.

Sesudahnya, semua orang Yahudi diusir dari Yerusalem dan dilarang berdiam di sana lagi. Dengan sendirinya semua orang Yahudi yang beriman Kristen terpaksa meninggalkan kota itu. Mereka mengungsi ke berbagai negara tetangga.

Nasib semua orang Kristen menjadi lebih baik pada awal abad IV setelah Konstantinus menjadi Kaisar Roma. Ia penguasa Romawi pertama yang berani mendukung umat Kristen. Ia memerintahkan bawahannya untuk mendirikan gereja yang indah di tempat Yesus pernah disalibkan dan dimakamkan. Gereja itu dikonsekrasikan pada tahun 335M dan dipandang sebagai gereja terindah di bumi zaman itu.

Tidak lama sesudahnya, kota Yerusalem dan tempat-tempat yang dikuduskan oleh Yesus, Maria (Bunda Yesus), dan para rasul mulai diziarahi oleh umat Kristen. Pada hari Kamis Putih, para peziarah dan umat Kristen yang tinggal di Yerusalem berkumpul di Taman Zaitun. Kemudian, mereka secara bersama-sama mengenang sengsara Yesus dengan menyusuri jalan dari Taman Getsemani hingga Bukit Golgota. Inilah catatan pertama tentang awal devosi yang kini dikenal sebagai Jalan Salib.

Mula-mula tidak ada perhentian-perhentian Jalan Salib seperti sekarang. Rute yang ditempuh dalam rangka Jalan Salib berubah dari waktu ke waktu. Malahan, masing-masing kelompok umat menawarkan sejumlah perhentian berbeda dan menetapkannya pada lokasi yang berbeda pula.

Pada abad XI—XIII, demi merebut tempat-tempat suci dari tangan bangsa asing yang menduduki Tanah Suci, umat Kristen melancarkan serangkaian perang yang dikenal dengan nama Crusade atau Perang Salib. Sejak itulah mulai ditunjuk sejumlah tempat yang berhubungan dengan Jalan Salib, antara lain Pintu Gerbang yang dilalui Yesus pada saat Ia keluar dari Yerusalem menuju Golgota, istana Herodes, tempat Pilatus mengadili Yesus, tempat Yesus disalibkan, lubang tempat berdirinya salib Yesus, lokasi makam Yesus, tempat Yesus menyapa perempuan-perempuan Yerusalem yang menangisi-Nya, tempat Yesus berjumpa dengan bunda-Nya, tempat Veronika mengusap wajah Yesus.

Sejak tahun 1320 Ordo Fransiskan (OFM) diangkat sebagai ordo yang secara resmi wajib melindungi semua tempat suci di Tanah Suci. Sejak itu OFM rajin mempopulerkan devosi Jalan Salib, lebih-lebih karena St. Fransiskus Asisi mengalami stigmata.

Para biarawan Fransiskan mulai menetapkan nama dan tempat perhentian pada Jalan Salib. Mereka biasa memulai kebaktian Jalan Salib di Bukit Golgota dan mengakhirinya di istana yang dulu ditempati oleh Pilatus. Jumlah perhentiannya agak banyak. Dulu ada perhentian di tempat Yesus dicambuk, Yesus dimahkotai duri, Yesus diperlihatkan kepada rakyat oleh Pilatus (Ecce Homo), dan lain-lain.

Sejak abad XVI rute Jalan Salib dibalik sehingga Gereja Makam Suci di Golgota menjadi perhentian yang terakhir. Pada abad XVIII (tahun 1731) Paus Klemens XII baru menetapkan jumlah dan lokasi perhentian Jalan Salib secara definitif.

Sampai sekarang devosi Jalan Salib menjadi salah satu kebaktian utama para peziarah di Tanah Suci. Kebaktian itu diadakan di jalan-jalan Yerusalem yang sangat ramai dari dulu hingga sekarang. Oleh karena itu, kebanyakan peziarah memilih untuk melakukan Jalan Salib ketika masih sangat pagi agar terhindar dari berbagai gangguan pada jam-jam ramai.

Ibadat Jalan Salib juga kini menjadi bagian tak terpisahkan dari tempat-tempat peziarahan katolik, misalnya Gua Maria atau Gereja. Jarak antar perhentian dimodifikasi disesuaikan dengan situasi dan kondisi tempat peziarahan. Tetapi yang terpenting dalam melakukan setiap ziarah dan/atau jalan salib adalah kesadaran bahwa hidup kita di dunia inipun adalah sebuah peziarahan, sebuah perjalanan menuju Tuhan, maka Tuhanlah seharusnya yang menjadi tujuan dari setiap kegiatan/karya dalam peziarahan ini, dalam kesadaran itu pula dibangun semangat untuk peduli pada sesama teman sepeziarahan di dunia ini.

Sumber : http://programkatekese.blogspot.com/2011/03/sejarah-dan-asal-mula-jalan-salib.html

baca selanjutnya...

Minggu, 25 Maret 2012

Minggu Palma: Kemenangan dari Kerendahan Hati

Minggu Palma di banyak Gereja Kristiani melibatkan pohon palma dan peringatan masuknya Yesus ke Yerusalem, ditengah-tengah sorakan Hosanna (bhs Ibrani artinya Tuhan menyelamatkan). Tapi apa arti dari perjalanan-Nya ke Yerusalem dengan menunggangi keledai?

Minggu Palma – Ketika seorang pahlawan penakluk dari dunia kuno berkendara memasuki kota dengan kemenangan, dengan menggunakan kereta kerajaan atau menunggangi kuda jantan yang agung. Legiun tentara menemaninya didalam arak-arakan kemenangan. Membuat lengkungan kemenangan, dihiasi oleh patung yang sudah diukir, yang telah didirikan untuk mengabadikan kemenangannya yang gagah berani.

Setelah mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, dan membangkitkan yang mati, sudah waktunya Raja dari segala Raja untuk memasuki Kota Suci. Tapi untuk melakukan itu, Ia tidak menunggangi kuda perang, tapi seekor keledai. Teman-teman-Nya menemani Dia bukan dengan mengacungkan pedang, tapi ranting pohon palma. Monument kemenangan-Nya, didirikan seminggu kemudian, bukan sebuah monumen, tapi sebuah kayu salib.

Kehidupan awal-Nya didunia sangatlah penuh dengan kesulitan serta hina. Dan akhir hidup-Nya pun tidak ada bedanya. Kayu dari palung menggambarkan terlebih dahulu kayu dari salib.

Dari awal sampai akhir, detailnya sangat memalukan. Tidak mendapatkan kamar dipenginapan. Lahir ditengah-tengah bau busuk dari kandang. Diburu oleh pengikut Herodes. Tumbuh besar di sebuah propinsi dari Kerajaan Roma yang sangat terpencil-Galilea, dimana aksen kota sangat tebal, dimana anda bisa memotongnya dengan sebuah pisau. Bagaimana pelayan perempuan dari Imam Besar bisa mengetahui Petrus adalah murid dari Yesus? aksen orang udik yang membuatnya dikenali (Mat 26:73). Murid-murid Yesus bukanlah orang berbudaya, orang terpelajar yang berbakat. Mereka ditarik dari tempat daerah terpencil yang hidup secara sederhana.

Ketika satu dari teman terdekat-Nya menawarkan untuk mengkhianati-Nya, Dia tidak membutuhkan jutaan uang. Harga Yesus dikenali tidak lebih seperti di Perjanjian Lama “book value” untuk seorang budak–tiga puluh keping perak (Kel 21:32). Ketika Dia telah diserahkan ke orang Roma, Ia tidak diberi hukuman seperti yang dijatuhkan kepada warga negara Roma. Memenggal kepala adalah cara cepat, cara bermartabat untuk mengeksekusi seseorang. Sebaliknya Yesus malah diberikan hukuman yang diperuntukkan bagi budak dan anggota pemberontak dari masyarakat yang terbuang – pencambukan dan penyaliban. Kedua hukuman ini bukan hanya tentang rasa sakit, tapi tentang penghinaan. Pada Palestina abad pertama, pria dan wanita biasanya menutupi diri mereka sendiri dari kepala sampai kaki, bahkan ditengah panas yang menghanguskan. Orang yang disalib ditanggalkan pakaiannya dan dipertontonkan kepada semua untuk dilihat.

Tapi ini bukanlah cerita utama dari kekerasan dan penghinaan. Minggu Suci ini lebih banyak bercerita tentang cinta dan kerendahan hati.

Itulah kenapa di Sabtu Paskah kita membaca perkataan yang sangat kuat dari surat Paulus dari Filipi (2:6-11). Walaupun Firman itu Allah, tinggal diatas kemuliaan surgawi, Dia dengan bebas terjun kedalam kesengsaraan manusia, menggabungkan dirinya sendiri kepada sifat lemah kita, memasuki kedalam dunia kita yang bergolak. Seolah olah jika tindakan kerendahan hati ini tidaklah cukup, Ia lebih jauh lagi merendahkan diri-Nya sendiri, menerima status sebagai seorang budak. Tindakan-Nya membungkuk untuk mencuci kaki murid-murid-Nya (Yoh 13) adalah perumpamaan dari kehadiran utuh manusia -Nya, atas tindakan ini dianggap sangat tidak bermartabat bahkan budak Israel tidak dipaksa untuk melakukannya.

Tapi bukan hanya itu. Yesus tidak dipaksa untuk melakukannya. Ia secara sukarela merendahkan diri-Nya didalam kelahiran-Nya, didalam karya pelayanan-Nya, di dalam kematian-Nya. Tidak ada seorang pun yang menggambil nyawa-Nya. Ia dengan sukarela menyerahkan nyawa-Nya sendiri (Yoh 10:18). Orang lain tidak mempunyai kesempatan untuk merendahkan diri-Nya; Ia merendahkan dirinya sendiri.

Ini harus terjadi. Adam yang kedua harus memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh yang pertama. Apa dosa orang tua kita yang pertama? Mereka tidak taat karena mereka ingin tahu apa yang Allah tahu, ingin menjadi seperti Allah, untuk memuliakan diri mereka sendiri diatas Allah (Kej 3). Mereka digigit oleh ular, dan disuntik dengan bisa yang mematikan dari rasa angkuh. Penawarnya, anti-racunnya tiada lain adalah kerendahan hati. Pencucian kaki, mengendarai keledai, Adam Baru akan mengancurkan kepala ular yang mematikan dengan cara mencintai, kerendahan hati, ketaatan.

Yang sulung lahir dari banyak saudara merendahkan diri-Nya sendiri untuk menjadi debu dari mana Adam Pertama dibuat-tentu saja kerendahan hati datang dari kata “humus” (bhs latin artinya, tanah). Tapi Allah menanggapi kerendah hati-Nya dengan mengagungkan Ia jauh diatas Caesar, raja-raja, dan bahkan bintang hollywood. Dan Ia mengundang kita untuk membagi kemuliaan-Nya bersama-sama dengan-Nya. Tapi pertama-tama kita harus berjalan dijalan-Nya menuju kemuliaan, jalan kerajaan dari salib.

Artikel Minggu Palma ini adalah refleksi dari bacaan Minggu Palma, Tahun A (Matius 21:1-11, Yesaya 50:4-7; Mazmur 22; Filipi 2:6-11; Matius 27:14-27:66)

Sumber : http://luxveritatis7.wordpress.com/2011/04/15/minggu-palma-kemenangan-dari-kerendahan-hati/

baca selanjutnya...

Sabtu, 17 Maret 2012

Mengenal Masa Prapaskah

Masa Prapaskah dimulai dengan perayaan Rabu Abu di Gereja. Dengan menerima abu, setiap umat beriman diingatkan untuk kembali kepada Tuhan. “Kamu berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu.” (Kej 2:7).

Forma ini mengingatkan kita akan kematian dan/atau kedatangan Tuhan yang dapat terjadi sewaktu-waktu seumpama pencuri di waktu malam, oleh karena itu diperlukan sikap berjaga-jaga dan bertobat: “Bertobatlah dan percayalah pada Injil.” Abu merupakan tanda yang mengingatkan kepada kita bahwa kita berasal dari debu tanah dan akan kembali ke abu/ debu tanah. Kita ketahui bahwa manusia pertama diciptakan Allah dari debu tanah dan semua manusia akan meninggal, dan tubuhnya akan kembali terurai menjadi debu tanah. Pada saat kita menerima tanda salib dari abu di dahi kita pada hari Rabu Abu, kita diingatkan bahwa suatu saat nanti kita akan kembali ke tanah, yaitu bahwa hidup kita di dunia ini adalah sementara. Maka kita diajak untuk mengarahkan hati kepada Allah yang menciptakan kita, sebab Dia berada di atas kita dan segala kesenangan dunia sifatnya sementara.

Masa Prapaskah mempunyai dua ciri khas yaitu mengenangkan atau mempersiapkan pembaptisan dan membina pertobatan. Warna Liturgi secara Umum adalah Ungu: lambang pertobatan, kecuali Tri Hari Suci atau Perayaan Wajib Selama Masa Prapaskah.

Pada tahun 2011 ini, Hari Rabu Abu diperingati pada tanggal 9 Maret 2011, di setiap Gereja Katolik akan dilaksanakan Ekaristi Rabu Abu beberapa kali untuk menerimakan abu kepada Umat. Masa Prapaskah akan dilaksanakan selama 40 hari (di luar hari Minggu, yang dipandang sebagai Hari Tuhan) mulai tanggal 9 Maret 2011 sampai dengan Hari Sabtu Vigili tgl. 23 April 2011.

Angka 40 (hari) diperoleh dari beberapa referensi dari Alkitab, yaitu: hujan selama 40 hari pada jaman Nabi Nuh sebelum Tuhan membuat perjanjian pada keluarga Nuh dan keturunannya (Kej 7:4); selama 40 hari Musa berada di puncak gunung Sinai sebelum menerima kesepuluh perintah Allah yang menjadi tanda Perjanjian Lama dengan umat Israel (Kel 24:18); perjalanan bangsa Israel menuju Tanah Terjanji selama 40 tahun (Bil 14:33). Kesemuanya menandai masa pertobatan menuju suatu ‘kelahiran’ baru. Dalam Injil kitapun membaca bagaimana Yesus berpuasa 40 hari sebelum memulai pelayanan-Nya memberitakan kabar keselamatan (Mat 4:1-2; Mrk 1:12-13; Luk 4:1-2).

St. Leo (461) adalah Bapa Gereja yang menyatakan bahwa tradisi berpuasa selama 40 hari ini merupakan tradisi dari para rasul dan ahli sejarah Socrates (433) dan St. Hieronimus Agung (420) juga mengatakan hal serupa.

Dalam semangat pertobatan itulah ada beberapa hal yang harus diperhatikan selama masa Prapaskah sebagai berikut :

1. MASA PRAPASKAH adalah MASA RETRET AGUNG UMAT

* Masa Prapaskah sering disebut sebagai Retret Agung Umat, maka dalam masa Prapaskah umat diharapkan mendalami iman, pribadi maupun dalam komunitas, serta membiasakan diri dengan doa/renungan serta ibadat yang lebih intens.

* Masa pembinaan pertobatan dan penerimaan kembali mereka yang telah berdosa berat. Mereka yang terkena ekskomunikasi dibina untuk dibimbing kembali ke pangkuan Gereja. Paroki perlu mempersiapkan seorang yang khusus yang bijaksana dan berpengalaman dalam mendampingi para petobat yang hendak kembali dan akan diterima kembali dalam Gereja Katolik.

* Penerimaan Sakramen Tobat bagi umat biasanya dilaksanakan sebelum Pekan Suci. Dianjurkan penerimaan Sakramen Tobat juga diadakan di lingkungan-lingkungan untuk melayani mereka yang sakit, lanjut usia atau yang cacat. Untuk hal ini perlu koordinasi antara Pastor Paroki setempat dan ketua lingkungan setempat untuk mempersiapkan tempat dengan memperhatikan situasi dan kondisi umat lingkungan.

* Cara-cara mendekatkan diri pada Tuhan selama Masa Retret Agung Umat ini dapat pula dilaksanakan dengan menyangkal diri dengan membiasakan diri melakukan hal-hal baik, misalnya: Mengikuti Misa Harian (di samping Misa hari Minggu, tentu saja). Menyangkal kemalasan bangun pagi dan mengikuti Misa dan menyambut Kristus dalam Ekaristi adalah bukti yang nyata bahwa kita sungguh menghargai apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita di kayu salib demi keselamatan kita. Dapat pula meluangkan waktu untuk doa Adorasi, di hadapan Sakramen Maha Kudus, atau kita dapat mulai berdoa Rosario setiap hari. Atau mulai dengan setia meluangkan waktu untuk merenungkan Kitab Suci atau mempelajari Katekismus Gereja Katolik.

* Diadakan pertemuan-pertemuan untuk sharing iman / ibadat / pendalaman iman di lingkungan setepat sejalan dengan tema yang telah ditetapkan oleh masing-masing keuskupan. Untuk Keuskupan Agung Jakarta telah ditetapkan tema APP Tahun 2011: “Mari Berbagi”, yang dijabarkan dalam 4 sub tema :

* Aku Diberi maka Aku Memberi
* Berbagi dalam Kekurangan
* Ekaristi Sumber Berbagi
* Komunitas Kristiani: Komunitas yang berbagi

2. PUASA DAN PANTANG sebagai bentuk MATI RAGA

* Pertama-tama perlu diketahui alasan mengapa kita berpuasa dan berpantang. Bagi kita orang Katolik, puasa dan pantang adalah tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda kita mempersatukan sedikit pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai silih dosa kita dan demi mendoakan keselamatan dunia. Jadi puasa dan pantang bagi kita tak pernah terlepas dari doa. Dalam masa prapaska, maka puasa, pantang dan doa disertai juga dengan perbuatan amal kasih bersama-sama dengan anggota Gereja yang lain. Dengan demikian, pantang dan puasa bagi kita orang Katolik merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama, dan bukan untuk hal lain, seperti diit/ supaya kurus, menghemat, dll. Dengan mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan, maka kehendak-Nya menjadi kehendak kita. Kita pun dapat mulai mendoakan keselamatan dunia dengan mulai mendoakan bagi keselamatan orang-orang yang terdekat dengan kita: orang tua, suami/ istri, anak-anak, saudara, teman, dan juga kepada para imam, pemimpin Gereja, pemimpin negara, dst.

* Pantang dan Puasa bukanlah alasan untuk malas atau segan untuk melakukan karya amal dan kebaikan bagi sesama. Justru pantang dan puasa seharusnya mengobarkan semangat untuk mulai peduli pada sesama, bekerja lebih giat dan rajin tanpa pamrih, tidak mudah mengeluh, tidak mudah putus asa, lebih memperhatikan tetangga/ kerabat yang kesusahan, menghibur mereka yang sedang sakit/ terkena musibah, semua hal ini juga dapat dilakukan. Selalu ada yang dapat kita lakukan sebagai bentuk pertobatan, (dan tidak terbatas pada tidak makan daging dan ikan), dan inilah esensi dari Masa Prapaska.

* Makna berpuasa dan berpantang : Secara kejiwaan, berpuasa memurnikan hati orang dan mempermudah pemusatan perhatian waktu bersemadi dan berdoa. Puasa juga dapat merupakan korban atau persembahan. Puasa pantas disebut doa dengan tubuh, karena dengan berpuasa orang menata hidup dan tingkah laku rohaninya. Dengan berpuasa, orang mengungkapkan rasa lapar akan Tuhan dan kehendakNya. Ia mengorbankan kesenangan dan keuntungan sesaat, dengan penuh syukur atas kelimpahan karunia Tuhan. Demikian, orang mengurangi keserakahan dan mewujudkan penyesalan atas dosa-dosanya di masa lampau. Dengan berpuasa, orang menemukan diri yang sebenarnya untuk membangun pribadi yang selaras. Puasa membebaskan diri dari ketergantungan jasmani dan ketidakseimbangan emosi. Puasa membantu orang untuk mengarahkan diri kepada sesama dan kepada Tuhan.

* Hari Puasa dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama Masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.

* Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berusia 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berusia genap 14 tahun ke atas.

* Puasa (dalam arti yuridis) berarti makan kenyang hanya satu sehari, penulis menganjurkan makan kenyang pada waktu pagi atau siang hari, agar makanan dapat diolah menjadi tenaga untuk memenuhi aktifitas harian kita. Pantang (dalam arti yuridis) berarti memilih pantang daging, atau ikan atau garam, atau jajan atau rokok.

* Karena begitu ringannya, kewajiban berpuasa dan berpantang, sesuai dengan semangat tobat yang hendak dibangun, umat beriman, baik secara pribadi, keluarga, atau pun kelompok, dianjurkan untuk menetapkan cara berpuasa dan berpantang yang lebih berat. Bila dikehendaki masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi, tanpa dibebani dengan dosa bila melanggarnya. Artinya setiap orang Katolik sangat dianjurkan untuk memilih wujud pantangnya yang lebih tepat dan bermanfaat untuk membangun sikap tobat yang berguna untuk pengembangan imannya. Dengan demikian kita dijauhkan dari semangat legalistis dan minimalistis, dan dengan kesadaran pribadi berusaha mewujudkan hidup pertobatan kita, serta mengarahkan diri menuju hidup seorang beriman yang lebih berkualitas.

* Pantang tidak terbatas hanya makanan, namun pantang makanan dapat dianggap sebagai hal yang paling mendasar dan dapat dilakukan oleh semua orang. Namun jika satu dan lain hal tidak dapat dilakukan, terdapat pilihan lain, seperti pantang kebiasaan yang paling mengikat, seperti pantang nonton TV, pantang ’shopping’, pantang ke bioskop, pantang ‘gossip’, pantang main ‘game’ dll. Jika memungkinkan tentu kita dapat melakukan gabungan antara pantang makanan/ minuman dan pantang kebiasaan ini.

* Waktu berpuasa, kita makan kenyang satu kali, dapat dipilih sendiri pagi, siang atau malam. Harap dibedakan makan kenyang dengan makan sekenyang-kenyangnya. Karena maksud berpantang juga adalah untuk melatih pengendalian diri, maka jika kita berbuka puasa/ pada saat makan kenyang, kita juga tetap makan seperti biasa, tidak berlebihan. Juga makan kenyang satu kali sehari bukan berarti kita boleh makan snack/ cemilan berkali-kali sehari. Ingatlah tolok ukurnya adalah pengendalian diri dan keinginan untuk turut merasakan sedikit penderitaan Yesus, dan mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib demi keselamatan dunia.

* Maka pada saat kita berpuasa, kita dapat mendoakan untuk pertobatan seseorang, atau mohon pengampunan atas dosa kita. Doa-doa seperti inilah yang sebaiknya mendahului puasa, kita ucapkan di tengah-tengah kita berpuasa, terutama saat kita merasa haus/ lapar, dan doa ini pula yang menutup puasa kita/ sesaat sebelum kita makan. Di sela-sela kesibukan sehari-hari kita dapat mengucapkan doa sederhana,“Ampunilah aku, ya Tuhan. Aku mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Mohon selamatkanlah …..” (sebutkan nama orang yang kita kasihi)

3. PENYISIHAN DERMA dalam KOTAK APP (Aksi Puasa Pembangunan)

* Sejalan dengan semangat makna Masa Prapaskah ialah bermatiraga dalam rangak pertobatan yang diwujudnyatakan dalam semangat doa dan kepedulian pada sesama, maka dalam Masa Prapaskah dibagikan kotak APP untuk menunjukkan kepedulian kepada sesama. Kotak APP akan didistribusikan melalui ketua lingkungan masing-masing, atau melalui kelompok-kelompok kategorial atau komunitas-komunitas yang lain, misalnya sekolah, bina iman, kelompok katekumen dan lain-lain.

* Kotak APP dapat diperoleh untuk setiap keluarga (1 kotak untuk tiap keluarga) atau dapat juga perorangan (1 kotak APP untuk setiap orang), semuanya tergantung dari besarnya semangat berkorban, semangat berbagi dalam menjalankan APP dalam keluarga atau pribadi masing-masing. Bila kotak APP sudah penuh sementara masa Prapaskah masih berjalan dan dibutuhkan kotak APP lagi, silahkan menghubungi ketua lingkungan setempat atau pemimpin komunitas/kelompok ketegorial yang bersangkutan. Para ketua lingkungan harus dengan bijaksana memenuhi kebutuhan umat akan Kotak APP.

* Cara pengisian Kotak APP yang benar adalah dengan menyisihkan uang hasil dari berpantang dan berpuasa. Misalnya: bagi yang berpantang rokok, pada hari berpantang uang yang sedianya dipergunaka untuk membeli rokok maka dalam hari berpantang uang tersebut dimasukkan ke dalam kotak APP, atau misalnya dalam keluarga memutuskan makan daging, karena hari berpantang, maka uang belanja pastinya ada kelebihan karena tidak membeli daging, kelebihan inilah yang dimasukkan ke dalam Kotak APP. Para orangtua, guru, ketua lingkungan dan ketua komunitas harus memberikan penjelasan yang baik kepada anak-anak sehubungan dengan pengumpulan dana APP dalam kotak APP. Saya pribadi yakin anak-anak memiliki ketulusan dan semangat berbagi yang lebih besar bila diberi pengertian untuk menyisihkan uang jajan atau uang saku selama masa Prapaskah ini.

* Kotak APP akan dikumpulkan di akhir Masa Prapaskah, atau di awal Masa Paskah, tergantung kebijaksanaan masing-masing Paroki, untuk nantinya Dana APP dari seluruh paroki dikumpulkan ke Keuskupan, untuk dipergunakan bagi pelayanan warga miskin dan/atau pengembangan umat basis.

4. AMAL DAN KARYA SOSIAL selama MASA PRAPASKAH

* Dengan merenungkan sengsara Tuhan Yesus, maka kita diajak untuk lebih peka terhadap kebutuhan sesama, dalam hal ini semangat berbagi kepada yang miskin sangat dianjurkan untuk menjadi kegiatan prbadi atau kelompok. Pertama-tama memang harus mengevaluasi sikap pribadi kita kepada yang paling dekat misalnya pembantu rumah tangga dan supir. Kepedulian kepada sesama dapat pula diwujudkan dengan membagikan rejeki kita kepada orang miskin secara pribadi. Kegiatan amal pribadi ini sangat baik bila dilakukan tanpa diketahui oleh orang lain. Sabda Yesus dapat menjadi pedoman di sini: “Apa yang diperbuat oleh tangan kananmu janganlah diketahui oleh tangan kirimu.” Juga kutipan dari Nabi Yesaya tentang Kesalehan yang sejati dapat menjadi pedoman : “

* Secara komunitas, kegiatan amal dan karya sosial kepada orang miskin sangat dianjurkan pada masa Prapaskah. Misalnya sebuah komunitas atau lingkungan melakukan karya sosial kepada yang miskin dalam Masa Prapaskah ini.

* Banyak sekali sesungguhnya yang dapat kita lakukan, jika kita sungguh ingin bertumbuh di dalam iman. Namun seungguhnya, mulailah saja dengan langkah kecil dan sederhana. St. Theresia dari Liseux pernah mengatakan tipsnya, yaitu, “Lakukanlah perbuatan-perbuatan yang kecil dan sederhana, namun dengan kasih yang besar.”

5. IBADAT JALAN SALIB selama MASA PRAPASKAH

* Jalan Salib disusun berdasarkan meditasi St. Bernard, St. Fransiskus Asisi dan St. Bonaventura di abad pertengahan, yang kemudian dituangkan dalam 14 pemberhentian seperti yang kita kenal sekarang dari komunitas Fransiskan di abad ke 17. Tujuan renungan/ meditasi ini adalah supaya umat dapat merenungkan kisah sengsara Yesus dari saat sebelum wafat-Nya sampai Ia dikuburkan.

* Ibadat Jalan Salib diadakan setiap Hari Jumat selama Masa Prapaskah, Ibadat ini dapat dilaksanakan di Gereja atau dapat juga dilaksanakan di di setiap lingkungan di tempat yang sesuai. Doa jalan Salib pribadi atau bersama keluarga juga dianjurkan untuk dilaksanakan selama Masa Prapaskah.

* Doa Jalan Salib biasanya disesuaikan dengan tema APP di setiap Keuskupan.

* Jalan Salib juga dapat diadakan dengan sedikit improvisasi dan modifikasi agar lebih menghasilkan buah-buah kebaikan selama Masa Prapaskah atau lebih menguatkan tujuan tentang makna sebenarnya dari Masa Prapaskah. Satu hal yang pernah kami laksanakan ialah Jalan Salib dengan perhentian rumah-rumah orang sakit dan lansia. Dlam setiap rumah yang kami “pandang” sebagai sebuah perhentian Jalan Salib, kami bertemu Yesus yang sengsara dalam diri mereka yang sakit dan jompo, disitulah kami “membalut luka-luka Tuhan” dengan menghibur dan mendoakan orang-orang sakit dan jompo tersebut.

6. LITURGI YANG BERBEDA selama MASA PRAPASKAH

* Kemuliaan dan Alleluia tidak dinyanyikan selama masa Prapaskah, kecuali pada hari raya wajib selama masa Prapaskah, yaitu HR St. Yusuf (tgl. 19 Maret) dan HR Kabar Sukacita (tgl. 25 Maret)

* Ikon-ikon kudus ditutupi, menandakan masa “umat di padang gurun”, hiasan-hiasan sebaiknya tidak dibuat mewah, hiasan bunga ditiadakan selama masa Prapaskah. Alat-alat musik hanya boleh dimainkan secara sederhana untuk mengiringi nyanyian dan yang menggarisbawahi ciri tobat.

* Sejalan dengan itu, maka Perayaan-perayaan atau pesta-pesta dan resepsi tidak dianjurkan selama masa Prapaskah. Demikian biasanya penerimaan Sakramen Perkawinan dan Imamat ditiadakan selama masa Prapaskah. Tetapi pemberesan perkawinan bagi mereka yang terkena ekskomunikasi sangat dianjurkan selama Masa Prapaskah (lihat poin di atas). Pastor paroki dimohon secara bijaksana mencermati dan mengambil kebijakan sebaik mungkin dalam situasi dan kebutuhan pelayanan umat ini.

* Hari Minggu Palma : Mengenangkan Sengsara Tuhan. Liturgi dimulai dengan upacara di luar Gereja, dilanjutkan perarakan menuju Gereja sambil membawa daun-daun palma yang telah diberkati. Dalam Bacaan terdapat Kisah Sengsara Yesus, untuk tahun 2011 (Tahun Liturgi A), dibacakan Kisah Sengsara menurut St. Matius

Liturgi Tri Hari Suci.

* Kamis Putih: Penetapan Perjamuan Suci / Peringatan Perjamuan Malam Terakhir.
Pagi hari di Katedral: Misa Krisma
warna liturgi : Putih, ada pembasuhan kaki, perarakan dan pentahtaan Sakramen Mahakudus, hiasan altar “dilucuti” setelah Ekaristi (terakhir).
ibadat tuguran: satu jam bersama Yesus, ibadat ini dapat dilaksanakan secara umum setiap jam atau bergiliran tiap lingkungan.

* Jumat Agung : Peringatan Sengsara dan Wafat Tuhan Yesus Kristus.
Altar polos dan bersih dari segala hiasan, tabernakel kosong dan terbuka.
Warna liturgi: Merah, tidak ada Ekaristi, tidak ada Tanda Salib, tidak ada nyanyian, kecuali Bait Pengantar Injil, langsung pembacaan KS, Pasio (Kisah Sengsara Tuhan) dari Injil Yohanes, Penghormatan Salib, Doa Umat meriah, Berkat meriah.
Dapat diterimakan komuni setelah penghormatan Salib.

* Sabtu Vigili: Malam Tirakatan Kebangkitan Tuhan: Merenungkan Tuhan yang Bangkit dan mengalahkan maut, membawa Terang dan memperbaharui hidup umat manusia.
Liturgi Cahaya: Upacara Lilin Paskah dan Pujian Paskah
Liturgi Bacaan: Dibacakan 9 Bacaan Kitab Suci : 7 dari PL dan 1 Surat St Paulus dan Kutipan Injil Matius (Tahun A)
Liturgi Baptis: Pemberkatan Air dan Pembaharuan Janji Baptis, Pemercikan Air Baptis kepada seluruh umat, malam paling tepat bila mau mengadakan pembaptisan.
Liturgi Ekaristi dan Berkat Paskah meriah dengan Alleluia.

* HR Paskah Kebangkitan Tuhan: Bersukacita karena Tuhan telah bangkit,
Ekaristi Pagi : Resurrexit, Kabar Sukacita karena Tuhan telah bangkit (Yoh 20:1-9)
Ekaristi Sore : Kebangkitan Tuhan Mengobarkan Semangat bagi yang Putus Asa (Luk 24:13-35)

Sumber : http://parokiyakobus.wordpress.com/2011/03/11/3774/

baca selanjutnya...

Jumat, 16 Maret 2012

Apa Itu Rabu Abu ?

Rabu Abu adalah permulaan Masa Prapaskah, yaitu masa pertobatan, pemeriksaan batin dan berpantang guna mempersiapkan diri untuk Kebangkitan Kristus dan Penebusan dosa kita.

Mengapa pada Hari Rabu Abu kita menerima abu di kening kita? Sejak lama, bahkan berabad-abad sebelum Kristus, abu telah menjadi tanda tobat. Misalnya, dalam Kitab Yunus dan Kitab Ester. Ketika Raja Niniwe mendengar nubuat Yunus bahwa Niniwe akan ditunggangbalikkan, maka turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. (Yunus 3:6). Dan ketika Ester menerima kabar dari Mordekhai, anak dari saudara ayahnya, bahwa ia harus menghadap raja untuk menyelamatkan bangsanya, Ester menaburi kepalanya dengan abu (Ester 4C:13). Bapa Pius Parsch, dalam bukunya "The Church's Year of Grace" menyatakan bahwa "Rabu Abu Pertama" terjadi di Taman Eden setelah Adam dan Hawa berbuat dosa. Tuhan mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu. Oleh karena itu, imam atau diakon membubuhkan abu pada dahi kita sambil berkata: "Ingatlah, kita ini abu dan akan kembali menjadi abu" atau "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil".

Abu yang digunakan pada Hari Rabu Abu berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar. Setelah Pembacaan Injil dan Homili abu diberkati. Abu yang telah diberkati oleh gereja menjadi benda sakramentali.

Dalam upacara kuno, orang-orang Kristen yang melakukan dosa berat diwajibkan untuk menyatakan tobat mereka di hadapan umum. Pada Hari Rabu Abu, Uskup memberkati kain kabung yang harus mereka kenakan selama empat puluh hari serta menaburi mereka dengan abu. Kemudian sementara umat mendaraskan Tujuh Mazmur Tobat, orang-orang yang berdosa berat itu diusir dari gereja, sama seperti Adam yang diusir dari Taman Eden karena ketidaktaatannya. Mereka tidak diperkenankan masuk gereja sampai Hari Kamis Putih setelah mereka memperoleh rekonsiliasi dengan bertobat sungguh-sungguh selama empat puluh hari dan menerima Sakramen Pengakuan Dosa. Sesudah itu semua umat, baik umum maupun mereka yang baru saja memperoleh rekonsiliasi, bersama-sama mengikuti Misa untuk menerima abu.

Sekarang semua umat menerima abu pada Hari Rabu Abu. Yaitu sebagai tanda untuk mengingatkan kita untuk bertobat, tanda akan ketidakabadian dunia, dan tanda bahwa satu-satunya Keselamatan ialah dari Tuhan Allah kita.

sumber : Catholic Online Lenten Pages; www.catholic.org/lent/lent.html &
Ask A Franciscan; St. Anthony Messenger Magazine; www.americancatholic.org

baca selanjutnya...

Sabtu, 10 Maret 2012

Spiritualitas dan Liturgi Tri Hari Suci

Gereja merayakan misteri terbesar penebusan manusia setiap tahun pada trihari yang berlangsung dari : Misa Perjamuan Malam Terakhir pada Kamis Putih sampai dengan ibadat sore Minggu Paskah. Disebut “Trihari Paskah”, karena di dalamnya dipentaskan dan diwujudkan misteri Paskah, artinya, peralihan Tuhan dari dunia ini kepada Bapa (bdk FPPC. 37).

Pada kedua pertama hari-hari ini (Jumat Agung dan Sabtu Paskah) adalah puasa suci; Gereja berpuasa, menurut tradisi kuno, “karena mempelainya diambil daripadanya". Sehingga Gereja dengan hati gembira dan terbuka mencapai sukacita Kebangkitan Tuhan (bdk FPPC. 39).

(bdk FPPC. Art 42) Nyanyian-nyanyian (Umat, imam dan petugas lainnya) dalam perayaan Pekan Suci, khususnya Trihari Suci, amat bermakna antara lain :
– Doa permohonan pada Jumat Agung; eventual juga seruan diakon dan jawaban umat;
– Nyanyian pengangkatan dan penghormatan salib;
– Aklamasi prosesi Lilin Paskah dan Madah Paskah, aleluya sesudah bacaan, litani dan aklamasi pemberkatan air baptis.
– Nyanyian pada pemberkatan dan prosesi Palma dan masuk ke gereja;
– Nyanyian prosesi dengan minyak-minyak suci;
– Nyanyian prosesi persembahan dalam Misa Perjamuan Malam Terakhir Kamis Putih dan Madah untuk pemindahan Sakramen Mahakudus;
– Tanggapan atas mazmur tanggapan dalam perayaan Malam Paskah dan nyanyian untuk pemercikan air suci.
– Pantaslah juga Kisah Sengsara,
– Madah Paskah
– pemberkatan air baptis disertai lagu yang mempermudah menyanyikan teks-teks itu.

Teks liturgi nyanyian umat janganlah mudah diabaikan. Dalam pada itu hendaknya selalu ada kesempatan partisipasi umat.
Demikian pula di mana kurang peserta, putra altar atau penyanyi, perayaan Trihari Suci jangan diadakan, dan kaum beriman hendaknya bergabung pada jemaat lebih besar.

A. KAMIS PUTIH

Liturgi pada Kamis Putih terbagi dua :
– Liturgi Pagi Hari : Misa Krisma
– Liturgi Malam Hari : Perjamuan Malam terakhir Yesus (Penetapan Ekaristi, Imamat Perjanjian Baru dan Pembasuhan kaki)

1. LITURGI PAGI HARI : MISA KRISMA

* Pada Kamis Putih pagi tidak ada misa pagi di gereja-gereja Paroki. Satu-satunya misa diadakan di Katedral keuskupan oleh uskup bersama para imam sekeuskupannya.
* Dalam Misa Konselebrasi ini uskup memberkati minyak suci, oleh karena itu disebut Misa Krisma
* Dalam misa ini ditampakkan dengan jelas kesatuan imam dan uskup dalam satu imamat Kristus – karenanya sedapat mungkin semua imam mengambil bagian dalam misa ini dan menerima komuni dalam dua rupa.
* Dalam misa ini para imam membaharui janji imamat mereka.
* Kaum beriman juga diundang untuk hadir dalam Misa ini dan menyambut Ekaristi.
* Karena alasan tertentu, Misa krisma bisa diajukan pada hari lain, yang harus dekat dengan Paskah. Namun minyak Krisma dan katekumen yang akan dipakai pada Malam Paskah haruslah dipakai dari Misa Krisma tersebut (bdk FPPC 35)
* Misa Krisma dirayakan hanya satu kali karena maknanya bagi kehidupan keuskupan; harus di katedral (atau karena alasan pastoral bisa di gereja lain yang penting) – bdk FPPC 36

Ada tiga macam minyak suci yang diberkati pada hari kamis Putih itu :

a. Minyak Krisma :
* secara liturgis mempunyai derajat paling tinggi sebab melambangkan pengurapan RK. Dahulu disimpan dengan lampu bernyala di depannya. Daya lambang krisma terletak pada baunya yang harum mewangi sebagai lambang RK yang memenuhi segala sesuatu
* Bahan baku : balsam halus dan mahal dicampur dengan zaitun. Dengan minyak ini, orang Kristen diurapi menjadi “imamat yang rajawi” (1Prt 2:9).
* Minyak Krisma dipakai : pengurapan setelah baptis, sakramen Krisma (penguatan), pengurapan pentahbisan Uskup, pemberkatan Gereja, Altar, Lonceng gereja dan Piala Misa.

b. Minyak Orang sakit :
Sebagai makna simbolik pengurapan sebagai pengobatan

c. Minyak Katekumen :
* Dipakai untuk pengurapan sebelum permandian, pengurapan tangan imam yang baru ditahbiskan dan utuk pemberkatan air baptis, gedung gereja dan altar.
* Makna simbolisnya berasal dari duania atletik dimana otot para atlet digosok dengan minyak agar lincah dan kuat

2. LITURGI MALAM HARI : Misa Perjamuan Malam Terakhir Kamis Putih

* Dengan Misa petang Kamis Putih “Gereja mengawali Trihari Suci Paskah dan memperingati Perjamuan Malam Terakhir; pada malam Kristus dikhianati, karena cinta akan orang-orangnya yang di dunia, la mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya dalam rupa roti dan anggur kepada Bapa dan para Rasul sebagai makanan dan minuman dan menugaskan mereka serta para penggantinya dalam imamat, juga mempersembahkannya sebagai kurban“ (bdk FPPC. 44)

* Perhatian sepenuhnya harus diberikan kepada misteri-misteri yang peringatannya dirayakan dalam Misa ini:
– Pengadaan Ekaristi dan Imamat
– Serta perintah kasih persaudaraan

* Itulah yang juga harus menjadi bahan homili hari ini.
* Misa Perjamuan Malam Terakhir dirayakan petang hari, pada waktu yang paling sesuai untuk partisipasi seluruh jemaat. Semua imam dapat berkonselebrasi dalam Misa petang. (bdk FPPC. 46)
* Bila dituntut keadaan pastoral, Ordinaris wilayah dapat memperkenankan Misa petang kedua di gereja-gereja dan kapel-kapel umum. Bagi kaum beriman yang tak dapat mengambil bagian dalam Misa petang, ia dapat, bila perlu, memperkenankan Misa juga pagi hari.
* Misa demikian itu tak pernah boleh diperkenankan untuk orang perorangan atau kelompok-kelompok kecil atau mempengaruhi partisipasi Misa utama petang hari.
* Menurut tradisi kuno Gereja pada hari ini semua Misa tanpa jemaat dilarang. (bdk FPPC 47)
* Saat “Gloria” dinyanyikan, lonceng-lonceng dibunyikan, bila lazim, dan setelah itu hening sampai Gloria di malam Paskah. Selama waktu itu juga orgel dan alat musik lain hanya boleh dipakai untuk mendukung nyanyian. (bdk FPPC 50)
* Bacaan pertama diambil dari salah satu teks tertua mengenai Ekaristi, yaitu 1 Kor 11:20-32; sedangkan bacaan Injil dari Injil Yohanes tentang Yesus membasuh kaki para muridNya
* Setelah Injil dibacakan, perintah Yesus “maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu” langsung diperagakan dalam liturgi: imam membasuh kaki 12 pria-pria yang terpilih; maksudnya ialah untuk menunjukkan semangat pelayanan dan kasih Kristus yang datang, “tidak untuk dilayani, melainkan untuk melayani”. Kebiasan ini hendaknya dipertahankan dan maksudnya diterangkan kepada kaum beriman. (bdk FPPC 51)
* Jika Doa Syukur Agung I yang dipakai (kanon Romawi) maka setelah kata-kata “pada hari sebelum Ia menderita ….” disisipkan kata-kata berikut : “yaitu pada hari ini”. Ungkapan ini dimaksudkan untuk mencegah pikiran melayang ke masa lampau (peristiwa yang telah lalu) sebab perbuatan penyelamatan yang kita rayakan dalam liturgi itu hadir sekarang ini !
* Sebelum perayaan tabernakel harus kosong sama sekali. Hosti untuk komuni kaum beriman harus dikonsekrir dalam perayaan kurban ini. Jumlah hosti yang harus dikonsekrir harus cukup juga untuk komuni pada Jumat Agung (bdk FPPC 48)
* Untuk menyimpan Sakramen Mahakudus harus dipersiapkan kapel dan dihias dengan pantas yang mengundang untuk doa dan meditasi; dianjurkan suatu kesederhanaan yang sesuai dengan hari-hari ini, sedangkan semua penyelewengan harus dihindari. Bila tabernakel berada dalam kapel tersendiri yang terpisah dari ruang utama gereja, dianjurkan menyediakan tempat penyimpanan dan penyembahan di situ. (bdk FPPC 49)
* Amat layaklah pada hari ini para diakon, akolit atau pembantu komuni menyambut komuni langsung dari altar, pada saat komuni, untuk kemudian membawanya kepada orang sakit, agar mereka ini lebih erat dihubungkan dengan Gereja yang merayakan (bdk FPPC 53).
* Setelah doa penutup diadakan prosesi. Sakramen Mahakudus dibawa ke tempat penyimpanan; pembawa salib terdepan, diikuti pembawa Jilin dan dupa; Madah “Pange lingua” atau nyanyian ekaristis lain dinyanyikan. Pemindahan Sakramen Mahakudus tidak dilaksanakan, bila keesokan harinya pada Jumat Agung tidak diadakan perayaan Sengsara dan Wafat Kristus (bdk FPPC 54).
* Imam membawa hosti dalam sibori dengan memakai kain bernama VELUM (har = layar, kk = menutupi/menudungi). VELUM adalah simbol penghormatan dan rasa respek yg besar… yg dalam hal ini ditujukkan kepada Sakramen Mahakudus.
* Karena rasa hormat maka Sakramen Mahakudus tidak dipegang langsung dengan tangan melainkan dengan cara mengalas tangan dengan VELUM.
* Sikap pada saat ada Sakramen Maha Kudus ditahtakan (Eksposition), biasanya berlutut dengan kedua kaki sebagai ungkapan sikap menyembah. Tradisi ini berdasar tradisi sejak Perjanjian Lama, di mana setiap kali Allah menampakkan DiriNya, entah dalam rupa tiang awan, Api yang bernyala, gulungan awan di gunung Sinai, dsb, bangsa Israel terbiasa untuk berlutut dengan mukanya sampai ke tanah (bdk …). Bahkan dulu ada pandangan di kalangan orang Israel bahwa memandang ‘wajah Allah’ adalah hal yang terlarang dan tidak pantas, bahkan bisa menyebabkan kematian (bdk ….)
* Kita melakukannya dengan kedua kaki berlutut/bertelut di hadapan Sakramen Mahakudus yang menjadi tanda kehadiran Allah secara nyata dan berhadapan langsung dengan kita(secara kasat mata). Itulah kiranya sikap badan kita yang sepantasnya; karena berlutut itu juga berarti tanda menyerah, mengakui kekerdilan kita dan kelemahan kita di hadapan Allah, juga sekaligus ungkapan kita yang mengharapkan kemurahan belaskasih Allah yang hadir secara kelihatan bagi umatNya.
* Sikap ini bisa kita bandingkan secara sederhana dengan sikap kita sendiri terhadap atasan atau pimpinan atau orang yang lebih tinggi dari kita. Kadang tanpa sadar, dalam pembicaraan lewat telpon pun kita membungkuk-bungkukkan diri sebagai sikap hormat.
* Bukankah terhadap Tuhan junjungan kita kita lebih sepatutnya lagi merendahkan diri lewat sikap dan bahasa tubuh yang sepantasnya??
* Setelah Misa altar ditutupi. Salib-salib bila mungkin diselubungi dengan kain merah atau ungu, bila tidak sudah terjadi Sabtu sebelum Minggu Prapaskah ke 5. Di depan gambar para Kudus tak boleh dinyalakan Jilin. (bdk FPPC. 57)
* Sakramen Mahakudus ditempatkan dalam tabernakel yang kemudian ditutup. Pentakhtaan dengan monstrans tak diperkenankan. (bdk FPPC 55).
* Tempat penyimpanan tak boleh berbentuk “makam suci”; hendaknya juga dihindari ungkapan “makam suci”; tempat penyimpanan tidak dimaksudkan untuk menunjukkan pemakaman Tuhan, melainkan untuk menyimpan hosti suci untuk komuni pada Jumat Agung.
* Kaum beriman hendaknya diajak untuk setelah Misa Kamis Putih mengadakan adorasi malam di hadapan Sakramen Mahakudus dalam gereja. Dalam pada itu dapat dibacakan sebagian dari Injil Yohanes (bab 13-17). Adorasi ini setelah tengah malam tanpa upacara, karena hari Sengsara Tuhan sudah mulai (bdk FPPC. 56).
* Saat ini adalah saat pergumulan Yesus di taman zaitun. “tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan aku?” (Mat 26:40). Jadi inti tuguran adalah berjaga-jaga denganNya.

B. JUMAT AGUNG

* Pada hari ini, waktu Kristus, domba kurban kita dikurbankan. Saat ini, Gereja merenungkan sengsara Tuhan dan Mempelainya dan menyembah Salib-Nya; dalam pada itu ia merenungkan asal-usulnya dari luka sisi Kristus yang wafat pada salib dan berdoa bagi keselamatan seluruh dunia. (bdk FPPC 58)
* Menurut tradisi kuno pada hari ini Gereja tidak merayakan Ekaristi; komuni suci dibagikan kepada kaum beriman hanya selama perayaan Sengsara dan Wafat Kristus, tetapi mereka yang sakit yang tak dapat mengikuti perayaan ini, dapat menerimanya pada setiap saat. (bdk FPPC 59)
* Jumat Agung ini seluruh Gereja harus dijalani sebagai hari tobat, dan puasa serta pantang wajib (bdk FPPC. 60). Perayaan sakramen-sakramen pada hari ini juga dilarang keras, kecuali sakramen tobat dan orang sakit. Pemakaman diadakan tanpa nyanyian, orgel dan lonceng. (bdk FPPC. 61).
* Perayaan Sengsara dan Wafat Kristus diadakan siang menjelang jam 15.00. Karena alasan pastoral dapat ditentukan waktu lain, yang memudahkan umat berkumpul, misalnya langsung setelah siang atau petang, tetapi tidak sesudah jam 21 .00. (bdk FPPC 63).
* Tata perayaan Sengsara dan Wafat Kristus yang berasal dari tradisi kuno Gereja, (yakni: ibadat Sabda, penghormatan salib, perayaan komuni) harus diadakan dengan tepat dan setia, dan tak boleh diubah sesukanya (bdk FPPC 64)

Liturgi Jumat Agung :
1. Perarakan masuk – hening – di depan altar imam tiarap – umat berlutut : doa dalam keheningan
2. Doa kolekta (pembuka)
3. Liturgi Sabda – Kisah Sengsara Tuhan Yesus
4. Doa umat meriah
5. Perarakan Salib sambil membuka selubung salib – Penyembahan Salib
6. Bapa kami – komuni
7. Doa post-komuni
8. Berkat meriah

1. Perarakan Masuk hingga Oratio Collecta
* Imam dan asistennya pergi dengan diam ke altar, tanpa nyanyian. Bila perlu diadakan pengantar, yang diadakan sebelum imam masuk.
* Imam dan asistennya tunduk di depan altar dan menelungkupkan diri. Ritus ini khas bagi Jumat Agung dan hendaknya dipertahankan, baik karena sikap rendah hati pantas bagi manusia”, maupun mengungkapkan kedukaan Gereja.
* Kaum beriman berdiri selama masuknya imam dan setelahnya berlutut dan hening sejenak dalam doa. (bdk FPPC 65)
* Hari Jumat Agung bukan hari biasa melainkan hari dimana kita mengenangkan : Kemanusiaan Yesus yang dihancurkan total nya oleh dosa dan kelemahan kita.
* Dengan berdoa hening sambil bertiarap, Imam mengungkapkan kehadiran Kristus yang “nothing”, bahkan ‘tak ada rupa padaNya’. Dan dalam doa itu sikap Imam yang biasanya sebagai pemimpin agung dalam Ekaristi juga perlu menghadirkan dirinya sebagai ‘nothing’, supaya lebih membantu menghadirkan gambar wajah Allah yang tersalib dan wafat dalam kesengsaraan Yesus di salib.

2. Liturgi Sabda
* (bdk FPPC 66) Bacaan yang tersedia harus dibacakan lengkap:
– Bacaan I : Yesaya Madah tentang Hamba Allah yang menderita “Ia ditikam karena kedurhakaan kita” (Yes 53:5)
– Bacaan II : Surat Ibrani 4:14-16; 5:7-9 “Yesus yang tetap taat dan menjadi sumber keselamatan abadi bagi semua orang yang patuh kepada-Nya”
– Kisah Sengsara menurut Yohanes dinyanyikan atau dibacakan seperti pada Minggu Palma (bdk FPPC.no.33).

* Setelah Kisah Sengsara ada homili yang diakhiri dengan keheningan doa sejenak.
Catatan : Passio pada Hari Jumat Agung (juga Minggu Palma), tidak boleh diganti dengan peragaan, dramatisasi, dll. Passio adalah Sabda Tuhan, dan untuk Hari Jumat diambil dari Injil Yohanes, maka kalau didramakan, tidak ada bedanya itu drama Injil Yohanes atau Injil Sinoptik lain.

3. Doa Umat Meriah
* (bdk FPPC 67) Doa permohonan hendaknya dilaksanakan menurut teks dan bentuk yang berasal dari tradisi kuno dengan segala intensi, karena mengacu kepada daya universal sengsara Kristus, yang tergantung pada kayu salib untuk keselamatan seluruh dunia.
* Doa Umat Meriah ini telah dikenal sejak jaman Yustinus Martir (tahun 165).

4. Perarakan dan Penyembahan Salib
* Untuk pengangkatan salib hendaknya cukup besar dan indah. Ritus ini hendaknya dibawakan dengan meriah, sesuai dengan misteri penebusan kita: baik seruan pada pengangkatan salib maupun jawaban umat harus dinyanyikan, dan keheningan penuh hormat setelah ketiga kali berlutut jangan diabaikan, sementara imam sambil berdiri menjunjung salib. (bdk FPPC 68).
* Salib harus disajikan kepada setiap orang beriman untuk dihormati, karena penghormatan pribadi adalah unsur hakiki perayaan ini; hanya bila hadir jemaat yang amat besar, ritus penghormatan bersama dapat dilaksanakan (bdk FPPC 69)
* Hanya SATU salib disediakan untuk dihormati, karena dituntut kesejatian tanda. Pada penghormatan salib dinyanyikan antifon, improperia dan madah, yang mengingatkan sejarah keselamatan dalam bentuk lirik; tetapi dapat juga diambil nyanyian lain yang sesuai (bdk FPPC 69)
* (bdk FPPC. FB. SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA)
* Perarakan Salib yang diselubungi kain menuju panti imam, dan selama perarakan itu imam / pemimpin upacara menyerukan aklamasi tiga kali : “Lihatlah kayu salib, di sini tergantung Kristus, Penyelamat dunia”. Umat menjawab dengan aklamasi : “Mari kita bersembah sujud kepadaNya”, kain selubung salib dibuka sedikit demi sedikit.
* Dalam Ekaristi bahan persembahan roti dan anggur dibawa ke meja Altar dan disiapkan. Pembukaan kain selubung salib memberi makna perubahan sebagaimana konsenkrasi roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus yang hadir secara substansial.
* Salib yang dalam perarakan memang bukan substasi Kristus, namun memberi simbolisasi nyata dan sempurna dari apa yang ditandakan : Salib menandakan sengsara Kristus, sebagaimana pengorbanan dan sengsara Kristus dihadirkan dalam tanda roti dan anggur menjadi Tubuh Dan Darah Kristus, tetapi dalam Ekaristi lebih menunjukkan substasi sengsara dan kebangkitan.
* Dan akhirnya ketika kain selubung selesai dibuka, salib diangkat dan ditunjukkan, kita memandang salib tempat bergantung Yesus penyelamat dunia, tubuhNya berlumuran darah, “Inilah TubuhKu …. inilah darahKu” (seraya kita memeditasikan kembali kisah sengsara Kristus).
* Inilah makna salib dalam upacara Jumat Agung, dan analogi sederhana dengan Ekaristi.
* Lalu bagaimana cara dan sikap kita untuk memberi penghormatan (menyembah) salib ini? Analoginya dalam Ekaristi adalah saat anamnese. Imam menyerukan Mysterium fidei : “Marilah menyatakan misteri iman kita”. Umat menjawab dengan seruan “wafat Kristus kita maklumkan… (mortem tuam)”
* Dalam penghormatan salib, lagu yang dinyanyikan dalam tradisi Gereja adalah Crucem tuam… yang mengingatkan kita saat kita memberi penghormatan di setiap perhentian Jalan Salib : “Kami menyembah Dikau, ya Tuhan dan bersyukur kepadaMu! Sebab dengan salibMu yang suci Engkau telah menebus dunia”.
* Dengan menghormati dan menyembah salib Kristus, kita mengungkapkan iman kita dalam tanda penebusan dan penyelamatan; sebagaimana Gereja berdoa dan mempersembahkan kepada Bapa surgawi Tubuh dan Darah PuteraNya seraya memohon anugerah Roh Kudus dalam iman dan pengharapan (doa epiklesis).
* Lagu “Improperia” dinyanyikan (har: celaan – karena dalam lagu itu Tuhan mencela umatNya yang tak tahu terima kasih): hai umatKu apa salah-Ku padamu? Jawablah Aku : kapan kau kusakiti? …………….
* Nada teks itu begitu pribadi sehingga tiada taranya di seluruh liturgi Romawi.
* Jadi penghormatan Salib mengungkapan iman, cinta dan pengharapan kita kepada Yesus Kristus; bukan sekedar kenangan bahwa Yesus sudah wafat di salib. Tindakan cinta dengan penuh iman dan pengharapan ini diungkapkan dengan cara mencium atau memberi kecupan pada salib Kristus, sebagaimana kecupan kasih sayang orang tua kepada anaknya atau kecupan cinta suami-istri.
* Dengan analogi ini (penghormatan salib dan Ekaristi), bagaimana sikap dan cara kita menghormati salib, sama dengan sikap hormat kita saat Doa syukur Agung dalam Ekaristi.

5. Bapa Kami – Komuni
* Selanjutnya, Imam menyanyikan pengantar doa Bapa Kami, yang kemudian dinyanyikan oleh semua. Salam damai tak dipakai. Komuni dilaksanakan seperti diatur dalam Buku Misa. Sementara komuni dibagikan, dapat dinyanyikan mazmur 22 (21) atau nyanyian lain yang sesuai. Setelah pembagian komuni, bejana dengan hosti yang lebih dibawa ke tempat yang disediakan di luar gereja (bdk FPPC 70)
* Setelah perayaan altar dilucuti, tetapi salib dan keempat kandelar dibiarkan. Dalam gereja dapat disediakan tempat bagi salib (misalnya di kapel, di mana pada hari Kamis Putih Sakramen Mahakudus disimpan), di mana kaum beriman menghormatinya dan mengucupnya dan meluangkan waktu untuk merenung. (bdk FPPC. 71).
* Kegiatan devosi, misalnya Jalan Salib, prosesi sengsara atau kebaktian terhadap Santa Perawan Maria yang berduka, janganlah diabaikan karena alasan pastoral, tetapi teks dan nyanyiannya hendaknya sesuai dengan liturgi. Waktu untuk kebaktian itu hendaknya ditetapkan sedemikian rupa, sehingga tak mengganggu ibadat utama, sehingga menjadi jelas bahwa perayaan liturgi jauh lebih penting daripada kebaktian itu (bdk FPPC 72)
* PERAYAAN Jumat Agung merupakan perayaan KESEDIHAN dan KEHILANGAN yg mendalam. Gereja BERDUKA (bdk FPPC. FPPC 65) dan diajak merenungkan SENGSARA Tuhan (Lih. Missale Romanum). Namun perlu ditegaskan juga bahwa hari Jumat Agung bagi kita merupakan hari kontemplasi penuh cinta akan Kristus yang mengurbankan diri untuk menyelamatkan manusia.
* Itu diwujudkan dgn: masuk/keluar imam TIDAK diiringi dgn nyanyian (Lih. FPPC 65); altar dibersihkan/dilucuti (lih. FPPC 71); patung dan salib [masih] diselubungi kain (Lih. FPPC 26) berwarna ungu atau merah (FPPC 57). Kecuali itu, pantang dan puasa diwajibkan pada hari ini (FPPC 60). Banyak bagian dalam upacara ini wajib diselingi/diakhiri dgn keheningan penuh hormat (FPPC 65, 66, 68). JIWA dari PERAYAAN Jumat Agung adalah KONTEMPLASI bukan KEMERIAHAN.

C. SABTU PASKAH

* Pada hari Sabtu Paskah Gereja tinggal di makam Tuhan, merenungkan Penderitaan, Wafat dan turun-Nya ke alam maut dan menantikan Kebangkitan-Nya dengan puasa dan doa. Amat dianjurkan, untuk merayakan ibadat bacaan dan ibadat pagi bersama jemaat (bdk FPPC.no.40). Di mana hal ini tak mungkin, hendaknya diadakan ibadat Sabda atau kebaktian yang sesuai dengan misteri hari ini. (bdk FPPC. 73).
* Sejak abad II, hari Sabtu Paskah merupakan hari pantang dan puasa yang keras, tanpa Ekaristi. Namun lama kelamaan mengalami kekaburan.
* Tahun 1955 Paus Pius XII menyatakan hari sabtu suci merupakan hari “sepi / nyepi” merenungkan misteri Yesus yang kini berada di dalam makam; umat sekalian diajak berkumpul untuk merayakan ibadat harian.
* Pada hari ini Gereja tak merayakan Kurban Misa . Komuni suci hanya dapat diberikan sebagai bekal suci. Perayaan sakramen perkawinan dan sakramen-sakramen lain, kecuali sakramen tobat dan orang sakit, tak boleh diberikan. (bdk FPPC. 75)
* Gambar Kristus – pada salib, beristirahat di makam atau turun ke alam maut – yang menjelaskan misteri Sabtu Paskah, atau juga gambar Bunda berduka, dapat dipasang dalam Gereja untuk dihormati kaum beriman (bdk FPPC. 74)
* Kaum beriman harus diajar tentang ciri Sabtu Paskah. Kebiasaan yang terkait dengan hari ini, karena dahulu waktu perayaan Paskah dimajukan, harus dikhususkan bagi malam Paskah dan Minggu Paskah. (bdk FPPC. 76)

D. Hari Raya Kebangkitan Tuhan

1. Perayaan Malam Paskah
* Malam Paskah menurut tradisi kuno adalah “malam tirakatan(vigili) bagi Tuhan” ; tirakatan yang diadakan mengenang malam kudus Tuhan bangkit dan karena itu dipandang sebagai “induk semua tirakatan”. Di malam ini Gereja menantikan, dalam doa, Kebangkitan Tuhan dan merayakannya dengan sakramen baptis, krisma dan ekaristi. (bdk FPPC 77)
* Malam Paskah adalah malam paling suci, sepanjang tahun liturgi tidak ada malam lebih suci dibandingkan malam Paskah
* Malam Paskah berarti malam menjelang Hari Raya Paskah, tepatnya malam Minggu.
* Malam Paskah disebut juga “Vigili Paskah”. Istilah “vigili” berasal dari bahasa Latin “Vigilis”, yang berarti “Berjaga-jaga, siap siaga”. Oleh karena itu, Vigili Paskah berarti berjaga bersama Yesus Kristus yang yang beralih dari kematian menuju kebangkitan.
* Sesuai dengan penghayatan iman kristiani, maka peringatan akan kemenangan Kristus atas dosa dan maut, telah dimulai pada upacara liturgi Malam Paskah. Pada Malam Paskah, Yesus melewati pintu gerbang kematian menuju kehidupan.

i. Malam Paskah sebagai Perayaan Malam
* Seluruh perayaan Malam Paskah dilaksanakan waktu malam: tak boleh diadakan sebelum gelap atau berakhir setelah fajar Minggu‘. Peraturan ini harus ditepati secara ketat. Penyelewengan dan kebiasaan yang terjadi di sana-sini, yakni merayakan Malam Paskah pada waktu biasanya diadakan Misa Sabtu sore, tak dibenarkan. (bdk FPPC. 78)
* Malam Pesta Paskah yang dijalani orang-orang Ibrani dalam menantikan peralihan Tuhan yang membebaskan mereka dari perbudakan firaun, dijadikan kenangan tahunan akan peristiwa ini adalah gambar yang mewartakan Paskah sejati Kristus, sekaligus gambar pemerdekaan sejati: “Kristus mematahkan rantai kematian dan naik dari alam maul sebagai pemenang‘(bdk FPPC. 79)
* Sejak semula Gereja menjalani Paskah tahunan, hari raya tertinggi, dalam perayaan malam. Karena Kebangkitan Kristus adalah dasar iman kita dan harapan kita; oleh baptis dan krisma kita dimasukkan ke dalam misteri Paskah: mati bersama Dia, dimakamkan bersama Dia, dibangkitkan bersama Dia dan akan berkuasa bersama Dia juga. Tirakatan ini juga ditujukan kepada penantian kedatangan Tuhan kembali (bdk FPPC 80).

ii. Struktur Perayaan Malam Paskah dan Maknanya
* (bdk FPPC 81) Malam Paskah mempunyai struktur sebagai berikut:
– Bagian 1 : Perayaan cahaya pendek dan madah Paskah
– Bagian 2 : Liturgi Sabda : Gereja Kudus merenungkan karya agung yang dilaksanakan Allah Tuhan pada umat­Nya sejak semula,
– Bagian 3 : Liturgi Babtis : sampai ia bersama anggota-anggota baru yang dilahirkan kembali dalam baptis
– Bagian 4 : Liturgi Ekaristi : dan diundang Tuhan ke meja yang disediakan-Nya bagi umat-Nya, sebagai kenangan akan wafat dan Kebangkitan-Nya, sampai ia datang kembali

* Urutan tata perayaan ini tak boleh diubah atas kuasa sendiri.

a. Bagian I : Upacara Cahaya dan Madah Paskah
* Perayaan di mulai ketika Gereja telah menjadi Gelap, tanpa cahaya lampu / lilin. Suasana gelap ini mensimbolkan keadaan manusia, sebelum kebangkitan Kristus, yang ada dalam kegelapan dosa
* Dalam upacara cahaya, imam memberkati Api Baru di luar Gereja di depan pintu gerbang utama, menandai Lilin Paskah dengan tanda salib angka tahun yang bersangkutan, menancapkan 5 biji dupa simbol luka-luka Kristus, melingkari dua abjad Yunani yakni Alpha dan Omega (Awal dan Akhir).
* Lilin Paskah harus sungguh lilin (dari malam) dan setiap tahun lilin baru; hanya boleh dipakai satu Lilin Paskah, cukup besar tetapi tak pernah boleh buatan, agar dapat menjadi tanda bagi Kristus, yang adalah cahaya dunia. (bdk FPPC 82)
* Dari lilin Paskah cahaya dibagikan kepada lilin-lilin yang dibawa semua, sementara cahaya listrik masih belum dinyalakan. (bdk FPPC 83) kita turut ambil bagian dalam Terang Kristus.
* Dengan prosesi umat memasuki gereja dan diterangi hanya oleh cahaya lilin Paskah. Seperti putra-putra Israel di malam dibimbing oleh tiang api, demikian pula orang-orang kristiani pada gilirannya mengikuti Kristus dalam kebangkitan-Nya.
* Diakon membawa Lilin Paskah tersebut (jika tidak ada diakon, berarti imam itu sendiri), tiga kali berhenti seraya menyanyikan “Lumen Christi” (Cahaya Kristus) di tengah kegelapan ruangan gereja, maka umat serentak menjawab “Deo Gratias” (Syukur kepada Allah), seraya menyalakan lilin-lilin yang dipegang dan berlutut tanda hormat ke arah lilin utama tersebut.
* Setelah tiba di panti imam, maka lampu-lampu dinyalakan, dilanjutkan dengan “Exultet” (Madah Pujian Paskah) oleh diakon atau oleh imam dalam kata-kata puitis, di dalamnya tertampung seluruh sejarah keselamatan. Bila tiada diakon, dan bukan imam sendiri yang dapat menyanyikan madah Paskah, dapat diserahkan kepada seorang penyanyi. (bdk FPPC 84)
* Exultet merupakan suatu pemakluman atau proklamasi yang meriah dan penuh hikmad tentang Paskah Kristus. Yesus Kristus telah bangkit, mengalakan dosa dan maut dan umat manusia memperoleh keselamatan.
* Berhadapan dengan peristiwa yang menyelamatkan ini kita patut bersuka cita dengan gembira. Refrein lagu exultet bisa memberi makna suka cita ini : “Bersoraklah, nyanyikan lagu gembira bagi Kristus Sang Penebus kita; bersyukurlah kepada Allah, kita bangkit bersama Kristus”.
* Semacam yel… kemenangan … berdiri dengan mengacungkan lilin bernyala di tangan sebagai tanda kemenangan…. simbol Terang Kristus.
* Maka supaya simbol Terang Kristus ini bisa bermakna, petugas yang membawakan exultet berada dekat Lilin Paskah, lampu gereja belum dihidupkan, penerangan hanya dari Terang Paskah Kristus dari nyala lilin Paskah dan nyala lilin-lilin yang ada di tangan umat…
* Nyala lilin umat harus dari lilin Paskah, bukan dinyalakan sendiri dari korek api… setelah umat berdiri dengan lilin yg bernyala di tangan baru lagu exultet.
* Sejak abad ke 4, upacara Jumat Agung telah dipisahkan dari liturgi Malam Paskah dan Hari Raya Paskah.
* Malam Paskah merupakan rangkuman dari Triduum hari ketiga, berakhirnya masa puasa, namun tercipta saat rekonsiliasi, yang memuncak pada Hari Raya Paskah. Pada waktu itu, telah ditata bentuk liturgi Malam Paskah yang dikenal dengan upacara “Lilin Paskah” sebagai simbol Cahaya Kristus yang mengalahkan dosa dan maut.
* Tradisi tersebut berlangsung sampai abad ke 14, namun upacara cahaya diadakan pada pagi hari, sehingga simboliknya menghilang dari penghayatan iman umat.
* Pada tahun 1951, abad ke 20, Paus Pius XII melalui dekritnya “Ad Vigiliam Paschalem” (tentang Vigili Paskah), tepatnya 9-Februari-1951, menetapkan bentuk upacara liturgi Malam Paskah yang dikenal hingga saat ini dalam liturgi Gereja.

b. Bagian II : Liturgi Sabda
* (bdk FPPC 85) Bacaan-bacaan dari Kitab Suci merupakan bagian kedua perayaan Malam Paskah. Di dalamnya dilukiskan karya-karya agung sejarah keselamatan yang harus direnungkan kaum beriman dengan tenang; mereka dibantu nyanyian mazmur tanggapan, keheningan meditatif dan doa-doa setelah bacaan.

* Bacaan Sabda Perayaan Malam Paskah terdiri :
– Tujuh bacaan dari Perjanjian Lama, yakni dari Taurat dan para Nabi, yang sebagian besar berasal dari tradisi kuno Timur dan Barat, tiga kutipan wajib yakni Kisah Penciptaan, Kisah Pengorbanan Ishak dan Penyeberangan Laut Merah. Sedangkan empat bacaan lainnya diambil dari kutipan Kitab Para Nabi, namun sifatnya fakultatif.
– Dua bacaan dari Perjanjian Baru, satu bacaan surat Rasul dan Injil. Untuk bacaan dari PL kisah tentang sejarah keselamatan Tuhan dgn strukturnya 4 + 3 :
– 4 teks pertama berkaitan dengan malam (kegelapan) dari kehidupan kita menuju ke terang, yakni malam kisah penciptaan, pengurbanan Abraham, malam pembebasan Israel menyeberangi Laut Merah (Paskah Israel) dan pembentukan umat pilihan Allah yg baru setelah pembuangan.
– 3 teks berikutnya berkaitan dengan pembabtisan : perjamuan (Yes 55), Kebebasan dalam Allah (Bar 3) dan menjadi anak angkat Allah (Yeh 36).
* Setiap bacaan ditanggapi umat beriman dengan bermazmur: kita menanggapi Sabda Allah dengan mazmur yg juga adalah Firman Allah sendiri; artinya kita berseru kepada Tuhan yang terlibat langsung dalam sejarah kemanusiaan, dgn bermazmur.
* Lalu setelah setiap mazmur ada doa dari pemimpin perayaan (imam) yang memaknai Sabda Allah itu dalam terang Yesus Kristus, Putera Allah.
* Jadi teks bacaan Kitab Suci PL ada 7, namun boleh dikuangai sampai 3. Tetapi syaratnya : urutan bacaan tidak boleh diubah dan kisah pembebasan bangsa Israel di Keluaran bab 14 harus tetap dibacakan.
* Demikianlah Gereja menjelaskan misteri Paskah Kristus “dengan berpangkal pada Musa clan semua Nabi”. Maka dari itu haruslah dibacakan semua bacaan, di mana mungkin, agar terpelihara ciri tirakatan yang memang memerlukan waktu yang lebih lama.
* Tetapi bila ada alasan pastoral untuk mengurangi jumlah bacaan itu, haruslah sekurang-kurangnya dipakai tiga bacaan dari Perjanjian Lama, yakni dari kitab Taurat dan Nabi-nabi; dalam pada itu harus ada bacaan dari bab ke 14 dari Kitab Keluaran dengan kantikumnya9
* (bdk FPPC 86) Arti tipologis teks-teks Perjanjian Lama berakar dalam Perjanjian Baru dan dijelaskan dalam doa yang dibawakan imam setelah setiap bacaan; kiranya dapat membantu, bila kaum beriman dengan pengantar pendek oleh imam atau diakon dihantar untuk mengerti arti tipologis itu.
* Setelah setiap bacaan dinyanyikan mazmur tanggapan, jemaat menjawab dengan refren. Pengulangan unsur-unsur itu dimaksudkan untuk mempertahankan irama yang membantu kaum beriman mengikutinya dengan batin penuh perhatian dan kesalehan. Hendaknya dengan seksama diusahakan agar mazmur jangan diganti dengan nyanyian yang kurang pantas bagi liturgi.
* (bdk FPPC 87) Setelah bacaan Perjanjian Lama lilin altar dinyalakan dan dinyanyikan gloria serta lonceng­lonceng dibunyikan; lalu diikuti doa pembukaan dan orang beralih kepada bacaan-bacaan dari Perjanjian Baru. Sebagai epistola dibacakan nasihat Rasul Paulus tentang baptis sebagai inisiasi ke dalam misteri Paskah Kristus.
* “Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab Anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus” (1 Kor 5, 7)
* Kemudian semua berdiri dan dengan meriah imam menyanyikan Aleluia, tiga kali dan setiap kali lebih tinggi, dan umat mengulanginya. Bila perlu, Alelluia dinyanyikan pemazmur atau penyanyi; umat mengulanginya sebagai sisipan antara ayat-ayat mazmur 118 (117), yang begitu sering dipakai para Rasul dalam kotbah Paskah.
* Alleluia yang semakin meninggi ini mengungkapkan rasa sukacita, damai dan pembebasan sehingga pernah diibaratkan dengasn “uluran sayap pertama kali dari burung merpati yang terbang keluar sarang”: tanda Roh Kudus yang mulai dicurahkan atas kita oleh Tuhan yang bangkit
* Pemakluman Kebangkitan Tuhan dalam Injil merupakan puncak seluruh Liturgi Sabda. Injil diikuti homili, meskipun pendek dan tak boleh diabaikan.

c. Bagian III : Liturgi Baptis
* Sesudah homili singkat, dilanjutkan dengan upacara pemberkatan air baptis dan air suci, yang diawali dengan “Litani Para Kudus”.
* Sejak dahulu orang dibaptis pada malam cahaya baru ini. Malam ini adalah malam paling cocok untuk menerima Sakramen Baptis.
* Pemberkatan air baptis dilakukan dengan mencelupkan lilin Paskah kedalam air, seraya berkata (imam) : “kami mohon ya Tuhan, semoga dengan perantaraan PuteraMu kekuatan Roh Kudus turun ke dalam bejana ini”
* Sambil memegang lilin Paskah dalam air ia berkata: “semoga semua orang yang dalam air dibaptis dikubur bersama Kristus yang wafat, diperkenankan pula hidup bersama Kristus yang bangkit”
* Jika ada katekumen yang akan dibaptis, maka diterimakan Sakramen Permandian (dan Krisma jika upacara dipimpin seorang Uskup).
* Setelah itu dilaksanakan pembaharuan janji baptis, Imam mengatakan beberapa kata pengantar. Kaum beriman sambil berdiri memegang lilin yang menyala dan menjawab atas pertanyaan yang diajukan. Lalu mereka diperciki dengan air suci.
* Demikianlah dengan tanda dan kata mereka diingatkan akan baptis yang telah mereka terima. Imam menelusuri gereja dan memerciki jemaat, sementara semua menyanyi­kan antifon; “Vidi aquam” – “Aku melihat air” atau nyanyian lain dengan ciri baptis (bdk FPPC 89).
* Pada abad ke 3 ibadat Malam Paskah berlangsung pada malam hari. Pada malam itu pula diadakan upacara pembaptisan bagi para katekumen. Teks Rom 6 tentang makna “mati dan bangkit bersama Kristus dan dua jenis perhambaan”, diwartakan dan direnungkan
* Menurut data buku “Traditio Apostolica” (Sejarah Tradisi Para Rasul), yang dikarang oleh Hippolitus, maka Malam Paskah dan upacara pembaptisan berlangsung sampai ayam berkokok, dilanjutkan dengan perayaan Ekaristi pada pagi hari.

d. Bagian IV : Liturgi Ekaristi
* Perayaan ekaristi adalah bagian IV perayaan Malam Paskah dan juga puncaknya, karena ekaristi adalah sakramen Paskah, kenangan akan kurban salib Kristus, kehadiran Tuhan yang Bangkit, penyelesaian inisiasi ke dalam Gereja dan antisipasi pesta Paskah abadi (
* (bdk FPPC 91). Harus diusahakan agar perayaan ekaristi jangan cepat-cepat dan tergesa-gesa; sebaliknya, semua ritus dan perkataan harus diungkapkan dengan tegas :
– Doa permohonan yang dilaksanakan mereka yang baru dibaptis untuk pertama kalinya sebagai kaum beriman yang mewujudkan imamat rajawi
– Persiapan persembahan yang melibatkan peran mereka yang baru dibaptis,
– Doa Syukur Agung I, atau II, atau III dengan sisipan masing­masing, yang sebaiknya dinyanyikan.
– Akhirnya Komuni sebagai saat partisipasi paling mendalam pada misteri yang dirayakan. Pada komuni bila mungkin, hendaknya dinyanyikan Mazmur 118 (117) dengan antifon “Anak domba kita“

e. Beberapa Petunjuk-petunjuk Pastoral
* Perayaan Malam Paskah harus dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga memungkinkan jemaat memahami seluruh kekayaan teks clan ritus. Maka dari itu harus diperhatikan, agar semuanya penuh makna dan tepat, agar kaum beriman berperan aktif dan diusahakan agar ada cukup misdinar serta lektor dan paduan suara. (bdk FPPC 93).
* Bila jemaat-jemaat ini amat berdekatan atau terlalu kecil diharapkan berhimpun dalam satu Gereja, sehingga perayaan meriah dimungkinkan. Partisipasi kelompok­kelompok dalam perayaan bersama Malam Paskah hendaknya dikembangkan agar dengan demikian semua orang beriman mendapat pengalaman yang lebih mendalam persekutuan dalam Gereja. (bdk FPPC 94).
* (bdk FPPC 95). Bila perayaan Malam Paskah diumumkan, hendaknya dihindari memberi kesan seolah-olah itu petang Sabtu Paskah. Sebaliknya harus dikatakan bahwa perayaan Malam Paskah terjadi “pada malam Paskah” sebagai satu-satunya ibadat. Para gembala hendaknya mengajak kaum beriman untuk mengambil bagian dalam seluruh perayaan Malam Paskah
* Barang siapa tidak ikut dalam perayaan Malam Paskah namun merayakannya pada esok harinya (Minggu) tetap telah merayakan paskah. Namun inti pusat dan jantung perayaan Paskah terletak dalam malam Paskah.

2. Minggu HARI RAYA Paskah

* (bdk FPPC 97) Misa Minggu Paskah harus dirayakan dengan meriah. Sebagai tobat dianjurkan hari ini pemercikan dengan air, yang diberkati pada Malam Paskah; sementara itu dinyanyikan antifon “Vidi aquam” — “Aku melihat air” atau nyanyian lain dengan ciri baptis. Dengan air berkat ini juga tempat air pada pintu gereja diisi.
* Lilin Paskah ditempatkan di sisi mimbar atau di sisi altar; lilin itu sekurang-kurangnya pada semua perayaan liturgi agak besar dinyalakan, pada Misa, ibadat pagi atau ibadat sore, sampai dengan Minggu Pentakosta.
* Setelah itu lilin Paskah itu disimpan dengan hormat dalam kapel baptis, dan pada perayaan baptis lilin baptis dinyalakan padanya. Pada Misa Arwah pada hari pemakaman lilin Paskah hendaknya ditempatkan pada peti sebagai tanda bahwa kematian orang kristiani adalah paskah pribadinya.
* Di luar masa Paskah lilin Paskah tak boleh dinyalakan dan juga tidak tinggal yang di altar (bdk FPPC 99).
* Untuk kita renungkan :

Pada Malam Paskah,kita menantikan dan menyongsong Yesus Kristus Tuhan kita yang akan beralih dari kematian menuju kepada hidup. Kita memperoleh hidup baru lewat Air Sakramen Permandian atau Baptisan. Kita memperoleh pemahaman baru mengenai hidup lewat Terang Kristus melalui simbolik Lilin Paskah, dan dalam semangat hidup yang baru berkat cahaya Kristus yang kita terima, kita sambut Kristus yang akan bangkit pada Hari Minggu Paskah. Hari raya dari segala hari raya.

Minggu Hari Raya Paska tetap wajib bagi mereka yang telah mengikuti misa malam paskah.
* Kesimpulannya, Paskah adalah hari-raya-nya Natal (dan semua hari Minggu dan hari raya lainnya…). Mengapa bisa demikian? Karena perayaan Natal, perayaan hari Minggu, dan hari raya lainnya bersumber dari perayaan Paskah.
* Ekaristi yang merupakan SUMBER dan PUNCAK kehidupan Gereja, dirayakan sebagai pengenangan akan Kristus yang wafat, bangkit, dan kelak akan datang kembali. Misteri iman ini yang diungkapkan kembali pada setiap misa dalam anamnesis.
* Jadi sumber iman kita memang bukan pada perayaan kelahiran melainkan pada peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus.
* Kenapa Natal terkesan lebih populer dari Paskah? Jawabannya: INDUSTRI. Dan kebanyakan umat katolik sudah menjadi korban industri ini, sehingga kalau misa Natal biasanya pakai baju baru, sepatu baru, dll, sedangkan kalau misa Paskah pakai yang apa adanya.
* Saran saya untuk mengubah pandangan yang salah kaprah ini, mulailah dari yang paling sederhana, yakni menghadiri misa Paskah bersama keluarga, dan gunakan baju terbaik yang keluarga anda miliki.

Sumber : http://parokisalibsuci.org/2011/04/25/spiritualitas-liturgi-tri-hari-suci/

baca selanjutnya...

Minggu, 04 Maret 2012

Pantang dan Puasa

Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus. Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.(KHK 1251-1252)

Jadi sebagai orang Katolik wajib berpuasa pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Jadi, selama masa Prapaskah, kewajiban puasa hanya dua hari saja. Yang wajib berpuasa adalah semua orang beriman yang berumur antara delapan belas (18) tahun sampai awal enam puluh (60) tahun.

PUASA berarti:
makan kenyang hanya satu kali dalam sehari.
Untuk yang biasa makan tiga kali sehari, dapat memilih
• Kenyang, tak kenyang, tak kenyang, atau
• Tak kenyang, kenyang, tak kenyang, atau
• Tak kenyang, tak kenyang, kenyang

Orang Katolik wajib berpantang pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat sampai Jumat Suci. Jadi hanya 7 hari selama masa PraPaskah.
Yang wajib berpantang adalah semua orang katolik yang berusia empat belas (14) tahun ke atas.

PANTANG berarti
• Pantang daging, dan atau
• Pantang rokok, dan atau
• Pantang garam, dan atau
• Pantang gula dan semua manisan seperti permen, dan atau
• Pantang hiburan seperti radio, televisi, bioskop, film.

Karena begitu ringannya, kewajiban berpuasa dan berpantang,
sesuai dengan semangat tobat yang hendak dibangun,
umat beriman,
baik secara pribadi, keluarga, atau pun kelompok,
dianjurkan untuk menetapkan cara berpuasa dan berpantang yang lebih berat. Penetapan yang dilakukan diluar kewajiban dari Gereja, tidak mengikat dengan sangsi dosa.

Dalam rangka masa tobat, maka pelaksanaan perkawinan juga disesuaikan. Perkawinan tidak boleh dirayakan secara meriah.

ARTI PUASA dan PANTANG

PUASA adalah tindakan sukarela Tidak makan atau tidak minum Seluruhnya, yang berarti sama sekali tidak makan atau minum apapun Atau sebagian, yang berarti mengurangi makan atau minum.

* Secara kejiwaan, Berpuasa memurnikan hati orang dan mempermudah pemusatan perhatian waktu bersemadi dan berdoa.
* Puasa juga dapat merupakan korban atau persembahan.
* Puasa pantas disebut doa dengan tubuh, karena dengan berpuasa orang menata hidup dan tingkah laku rohaninya.
* Dengan berpuasa, orang mengungkapkan rasa lapar akan Tuhan dan kehendakNya. Ia mengorbankan kesenangan dan keuntungan sesaat, dengan penuh syukur atas kelimpahan karunia Tuhan. Demikian, orang mengurangi keserakahan dan mewujudkan penyesalan atas dosa-dosanya di masa lampau.
* Dengan berpuasa, orang menemukan diri yang sebenarnya untuk membangun pribadi yang selaras. Puasa membebaskan diri dari ketergantungan jasmani dan ketidakseimbangan emosi. Puasa membantu orang untuk mengarahkan diri kepada sesama dan kepada Tuhan.

Itulah sebabnya, puasa Katolik selalu terlaksana bersamaan dengan doa dan derma, yang terwujud dalam Aksi Puasa Pembangunan.
Semangat yang sama berlaku pula untuk laku PANTANG.

Yang bukan semangat puasa dan pantang Katolik adalah:
* Berpuasa dan berpantang sekedar untuk kesehatan: diet, mengurangi makan dan minum atau makanan dan minuman tertentu untuk mencegah atau mengatasi penyakit tertentu.
* Berpuasa dan berpantang untuk memperoleh kesaktian baik itu tubuh maupun rohani.

SABDA TUHAN SEHUBUNGAN DENGAN PUASA

"Melalui nabi Yesaya, Tuhan bersabda:
Berpuasa yang Kukehendaki ialah,
Supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman
Dan mematahkan setiap kuk
Supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya
Dan mematahkan setiap kuk,
Supaya engkau memecah-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar
Dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tidak mempunyai rumah
Dan apabila kamu melihat orang telanjang
Supaya engkau memberi dia pakaian
Dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri.
Pada waktu itulah
Engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab
Engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku
Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu
Dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah
Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri
Dan memuaskan hati orang tertindas
Maka terangmu akan terbit dalam gelap
Dan kegelapanmu akan seperti bintang rembang tengah hari"
Dalam kotbah di bukit, Yesus bersabda tentang puasa:

“Apabila kamu berpuasa,
Janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Tetapi apabila engkau berpuasa,
minyakilah kepalamu
Dan cucilah mukamu
Supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa

Melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang ters

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/pantang-dan-puasa.html

baca selanjutnya...

Sabtu, 03 Maret 2012

Makna Kekayaan Tata Gerak dan Sikap Tubuh Dalam Liturgi Ekaristi

Tata gerak atau sikap tubuh seluruh umat dan para pelayannya juga menjadi bagian terpenting dalam simbolisasi kebersamaan dan kesatuan Gereja yang sedang berdoa. Tata gerak dan sikap tubuh imam, diakon, para pelayan, dan jemaat tentu punya maksud. Sikap tubuh yang seragam menandakan kesatuan seluruh jemaat yang berhimpun untuk merayakan Liturgi Suci. Sebab sikap tubuh yang sama mencerminkan dan membangun sikap batin yang sama pula. Maka, jika dilakukan dengan baik:
(1) seluruh perayaan memancarkan keindahan dan sekaligus kesederhanaan yang anggun;
(2) makna aneka bagian perayaan dipahami secara tepat dan penuh; dan
(3) partisipasi seluruh jemaat ditingkatkan (PUMR 42).

“Berkumpul” dan maknanya
Berkat pembaptisan kita dijadikan satu keluarga dalam Gereja yang kudus. Orang kristiani adalah pribadi yang komuniter, selalu terpaut dalam kebersamaan. Kita tidak sendirian. Dalam nama Bapa dan Putra, kita juga dipersatukan oleh Roh Kudus. Itu tampak ketika kita berkumpul, khususnya dalam “tempat kudus”. Kita berkumpul sebagai orang-orang pilihan, yang terpanggil, yang dicintai Allah. Liturgi mengundang kita untuk menemukan kembali panggilan kita, yakni tumbuh dalam kesatuan, menjadi umat Allah, berkarya dengan dan bagi saudara-saudari dalam perayaan yang dinamis. Maka, berkumpul adalah bagian dari tata gerak kolektif. Agar pertemuan itu tidak kacau, tidak anarkis, tetap utuh, maka diperlukanlah keyakinan dan sikap yang sama. Di sinilah letak pentingnya suatu pedoman atau aturan bersama. Kita berkumpul untuk merayakan Ekaristi, suatu perayaan bersama yang bukan tanpa aturan. Selain itu, berkumpul juga menjadi tanda kehadiran Kristus sendiri: “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

Makna “berdiri”
Sikap tubuh kita mengungkapkan kegembiraan. Gembira atas kebersamaan dan persaudaraan di dalam Kristus. Berdiri menyatakan keyakinan dan perasaan yang utuh, jiwa yang siaga di hadapan Allah, siap bertemu dan berdialog dengan yang Ilahi. Kita berdiri karena kita berada di hadapan yang menentukan dan menguasai hidup kita, yang memberi kekuatan dan menjaga kita. Berdiri untuk menyatakan bahwa Dia adalah satu-satunya Allah Tuhan kita. Kita berdiri untuk menghormati Allah yang Mahatinggi itu (bdk. Kej 18:8). Jemaat yang berdiri menunjukkan rasa syukurnya dan keakrabannya dengan Allah. Umat yang berdiri juga mengungkapkan persaudaraan yang hidup, yang dipersatukan bagi dan oleh Allah. Maka sangatlah tepat bila kita berdiri khususnya pada saat menyatakan iman (syahadat) dan Doa Syukur Agung. Kita mengakui secara terbuka bahwa wafat dan kebangkitan Kristus (misteri Paskah) adalah dasar kehidupan kita. Inilah dasar kegembiraan kita. Kegembiraan Paskah mengantar perjalanan kita menuju Allah. Kita berdiri seolah bersama Kristus berada di dalam Yerusalem surgawi.

Saat dan Makna “duduk”
Umat hendaknya duduk (a) selama bacaan-bacaan sebelum Injil dan selama Mazmur Tanggapan; (b) selama Homili; [c] selama persiapan persembahan; [d] selama saat hening sesudah komuni. Khusus untuk yang berkaitan dengan Liturgi Sabda, sikap ini ada dasar biblisnya. Misalnya, saat Yesus mengajar, orang-orang mendengarkan Dia dengan duduk memperhatikan (Mat 5:1). Atau, saat Maria yang sedang duduk mendengarkan Yesus, sementara Marta sibuk melayani para tamunya. Yesus berkata: “Maria telah mengambil bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya” (Luk 10:39).

Maknanya sungguh luas. Sikap duduk bisa menggambarkan saat orang mengharapkan sesuatu; ia sedang mendengarkan atau mencerna suatu pesan. Keadaan batin tertentu juga bisa digambarkan dengan duduk. Orang seolah mendambakan untuk menemukan makna hidupnya yang sejati. Pada saat kita duduk, kita pun berharap agar Allah berbicara atau menyatakan diri-Nya kepada kita. Ini adalah saat epiklesis juga. Dengan duduk pun kita menyambut sabda-sabda Allah itu dengan hati terbuka. Kita berharap agar sabda Allah sungguh menyirami dan menyegarkan hati kita. Allah sendiri ingin agar kita dapat subur dan berbuah berkat sabda-Nya. Maka, duduk juga berarti kesediaan untuk saling mendengarkan, saling berbagi pengalaman, saling mempersatukan diri. Duduk menerbitkan rasa damai, aman, percaya, karena kita memang sedang bersatu dengan Allah. Ini menggambarkan dimensi eskatologis, saat istirahat nanti, setelah perjalanan panjang dan perjuangan hidup di dunia: “barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas tahta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan bapaKu di atas tahtaNya (Why 3: 21). Setiap kali duduk, jiwa kita memasuki kedamaian yang membantu kita untuk menerima sabda Ilahi dan mencicipi komunikasi dengan Allah nanti.

Ada juga makna tersendiri untuk “berlutut lama”
Biasanya orang berlutut lama untuk berdoa secara pribadi. Ada banyak motivasi atau alasan mengapa orang itu berlutut. Berlutut bisa menandakan “kegagalan, kekalahan”. Kita pasrah dan mengakui kelemahan kita di hadapan Allah. Sikap tubuh ini menunjukkan semangat kerendahan diri yang menguasai hati dan jiwa kita. Di hadapan Allah, Sang Sumber Hidup, kita ini tidak ada apa-apanya. Saat itu pula, dengan sikap tubuh itu, kita mengungkapkan isi batin kita dan menyembah Allah. Kita juga ingin menyelaraskan diri dengan Kristus, Putra-Nya. Berlutut semacam ini juga mengungkapkan keyakinan kita bahwa Allah yang telah memulai itu akan juga menggenapi semua karya­Nya di dalam diri kita. Secara lebih dramatis lagi, bentuk kepasrahan diri ini diungkapkan dalam sikap tubuh “tiarap” atau “merebahkan diri” untuk mereka yang akan ditahbiskan atau oleh Imam pada awal Liturgi Pengenangan Sengsara Tuhan, Jumat Agung.

Kapan lagi harus “berlutut”?
Saat kita masuk ke gedung gereja, setelah membuat tanda salib dengan air suci, sebelum duduk, biasanya kita berlutut sejenak. Mengapa? Sebenarnya kita hendak menghormati tabernakel, terutama jika di dalamnya terdapat Sakramen Mahakudus. Jika tidak ada tabernakelnya (tempat Sakramen Mahakudus yang menjadi simbol kehadiran Kristus yang abadi), dapat diartikan kita menghormati gereja sebagai tempat yang kudus. Sikap ini memang belum termasuk tata gerak dalam Perayaan Ekaristi. Namun, pada prinsipnya setiap kita mendekati atau melewati tabernakel dengan Sakramen Mahakudus di dalamnya, kita diharapkan memberi penghormatan dengan cara berlutut; kecuali pada saat dalam perarakan. “Berlutut” diganti “menundukkan kepala” ntuk kesempatan tertentu, “berlutut” (juga “membungkuk”) bisa diganti dengan “menundukkan kepala”. Misalnya, ketika para pelayan Misa (putra altar, lektor, diakon) sedang membawa salib, lilin, dupa, atau Kitab Injil harus menghormati Sakramen Mahakudus atau altar. Menurut PUMR 275a, “menundukkan kepala’ dilakukan juga ketika mengucapkari nama Tritunggal Mahakudus, nama Yesus, nama Santa Perawan Maria, dan nama para orang kudus yang diperingati dalam Misa yang bersangkutan.

Demikianlah ajakan Gereja untuk melibatkan seluruh gerak dan hidup kita dalam Liturgi Ekaristi. Mari kita maknai dengan lebih dalam lagi keterlibatan kita dalam Ekaristi. Sehingga peran serta dan campur tangan Allah selalu kita yakini dan imani dalam seluruh gerak dan hidup kita.

Sumber : http://parokiyakobus.wordpress.com/informasi-iman-katolik/makna-kekayaan-tata-gerak-dan-sikap-tubuh-dalam-liturgi-ekaristi/

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP