Sabtu, 24 Agustus 2019

Hirarki Dalam Gereja Katolik

Pengertian

Kata “hirarki” berasal dari bahasa Yunani “hierarchy” yang terdiri dari 2 kata, yakni jabatan (hieros) dan suci (archos). Jadi hirarki adalah jabatan suci. Itu berarti bahwa yang termasuk dalam hirarki adalah mereka yang mempunyai jabatan karena mendapat penyucian melalui tahbisan. Maka mereka sering disebut sebagai kuasa tahbisan. Dan orang yang termasuk hirarki disebut sebagai para tertahbis. Namun, pada umumnya hirarki diartikan sebagai tata susunan. Hirarki sebagai pejabat umat beriman kristiani dipanggil untuk menghadirkan Kristus yang tidak kelihatan sebagai tubuh-Nya, yaitu Gereja. Dalam tingkatan hiraki tertahbis (hierarchia ordinis), Gereja terdiri dari Uskup, Imam, dan Diakon (KHK 330-572).

Menurut tata susunan yurisdiksi (hierarchia yurisdictionis), yurisdiksi ada pada Paus dan para Uskup yang disebut kolegialitas. Kekhasan hirarki terletak pada hubungan khusus mereka dengan Kristus sebagai gembala umat.

Dasar kepemimpinan (hirarki) dalam Gereja

Menurut ajaran resmi Gereja, kepemimpinan dalam Gereja diserahkan kepada hirarki, sebagai pengganti para rasul. Struktur hirarkis termasuk hakikat kehidupan-nya juga. Perutusan ilahi, yang dipercayakan Kristus kepada para rasul itu, akan berlangsung sampai akhir zaman (lih. Mat 28:20). Sebab Injil, yang harus mereka wartakan, bagi Gereja merupakan azas seluruh kehidupan untuk selamanya. Maka dari itu dalam himpunan yang tersusun secara hirarkis yaitu para Rasul telah berusaha mengangkat para pengganti mereka. Maka Konsili mengajarkan bahwa “atas penetapan ilahi para uskup menggantikan para rasul sebagai gembala Gereja” Kepada mereka itu para Rasul berpesan, agar mereka menjaga seluruh kawanan, tempat Roh Kudus mengangkat mereka untuk menggembalakan jemaat Allah (lih. Kis 20:28).(LG 20). Pengganti mereka yakni, para Uskup, dikehendaki-Nya menjadi gembala dalam Gereja-Nya hingga akhir jaman (LG 18).

Maksud dari “atas penetapan ilahi para uskup menggantikan para rasul sebagai gembala Gereja” ialah bahwa dari hidup dan kegiatan Yesus timbullah kelompok orang yang kemudian berkembang menjadi Gereja, seperti yang dikenal sekarang. Proses perkembangan pokok itu terjadi dalam Gereja perdana atau Gereja para rasul, yakni Gereja yang mengarang Kitab Suci Perjanjian Baru. Jadi, dalam kurun waktu antara kebangkitan Yesus dan kemartiran St. Ignatius dari Antiokhia pada awal abad kedua, secara prinsip terbentuklah hirarki Gereja sebagaimana dikenal dalam Gereja sekarang.

Sejarah hirarki

Struktur hirarki bukanlah suatu yang ditambahkan atau dikembangkan dalam sejarah Gereja. Menurut ajaran Konsili Vatikan II, struktur itu dikehendaki Tuhan dan akhirnya berasal dari Kristus sendiri. Hal ini dapat dilihat dalam sejarah hirarki di bawah ini:

Jaman Para Rasul

Awal perkembangan hirarki adalah kelompok kedua belas Rasul. Kelompok inilah yang pertama-tama disebut Rasul. Rasul atau “Apostolos” adalah utusan. Akan tetapi setelah kebangkitan Kristus, sebutan Rasul tidak hanya untuk kelompok kedua belas, melainkan juga utusan-utusan selain kelompok kedua belas itu. Bahkan akhirnya, semua “utusan jemaat” (2Kor 8:22) dan semua “utusan Kristus” (2Kor 5:20) disebut Rasul. Lama kelamaan, kelompok Rasul lebih luas dari pada kelompok kedua belas Rasul. Sesuai dengan namanya, Rasul diutus untuk mewartakan iman dan memberi kesaksian tentang kebangkitan Kristus.

Jaman sesudah Para Rasul

Setelah kedua belas Rasul tidak ada, muncul aneka sebutan, seperti “penatua-penatua” (Kis 15:2), dan “Rasul-Rasul”, “Nabi-Nabi”, “Pemberita-Pemberita Injil”, “Gembala-Gembala”, “Pengajar” (Ef 4:11), “Episkopos” (Kis 20:28), dan “Diakonos” (1Tim 4:14). Dari sebutan itu ada banyak hal yang tidak jelas arti dan maksudnya. Namun pada akhir perkembangannya, ada struktur dari Gereja St. Ignatius dari Antiokhia yang mengenal sebutan “Penilik” (Episkopos), “Penatua” (Presbyteros), dan “Pelayan” (Diakonos). Struktur inilah yang selanjutnya menjadi struktur hirarki Gereja yang menjadi Uskup, Imam, dan Diakon. Di sini yang penting, bukanlah kepemimpinan Gereja yang terbagi atas aneka fungsi dan peran, melainkan bahwa tugas pewartaan para Rasul lama-kelamaan menjadi tugas kepemimpinan jemaat.

Struktur kepemimpinan (hirarki) dalam Gereja

Struktur hirarkis Gereja yang sekarang terdiri dari dewan para Uskup dengan Paus sebagai kepalanya, para imam dan diakon sebagai pembantu uskup.

1. Dewan Para Uskup yang dipimpin oleh Paus

Pada akhir zaman Gereja perdana, sudah diterima cukup umum bahwa para uskup adalah pengganti para rasul, seperti juga dinyatakan dalam Konsili Vatikan II (LG 20). Tetapi hal itu tidak berarti bahwa hanya ada dua belas uskup (karena duabelas rasul). Di sini dimaksud bukan rasul satu persatu diganti oleh orang lain, tetapi kalangan para rasul sebagai pemimpin Gereja diganti oleh kalangan para uskup. hal tersebut juga dipertegas dalam Konsili Vatikan II (LG 20 dan LG 22).

Tegasnya, dewan para uskup menggantikan dewan para rasul. Yang menjadi pimpinan Gereja adalah dewan para uskup. Seseorang diterima menjadi uskup karena diterima ke dalam dewan itu. Itulah tahbisan Uskup, “Seorang menjadi anggota dewan para uskup dengan menerima tahbisan sakramental dan berdasarkan persekutuan hirarkis dengan kepala (Paus-red) maupun para anggota dewan” (LG 22). Mengingat sifat kolegial ini, tahbisan uskup selalu dilakukan oleh paling sedikit tiga uskup, sebab tahbisan uskup berarti bahwa seorang anggota baru diterima ke dalam dewan para uskup (LG 21).

Kristus mengangkat Petrus menjadi ketua para rasul lainnya untuk menggembalakan umat-Nya. Paus, pengganti Petrus adalah pemimpin para uskup.

Menurut kesaksian tradisi, Petrus adalah Uskup Roma pertama. Karena itu Roma selalu dipandang sebagai pusat dan pedoman seluruh Gereja. Maka menurut keyakinan tradisi, Uskup Roma itu pengganti Petrus, bukan hanya sebagai uskup lokal melainkan terutama dalam fungsinya sebagai ketua dewan pimpinan Gereja. Paus adalah uskup Roma, dan sebagai uskup Roma ia adalah pengganti Petrus dengan tugas dan kuasa yang serupa dengan Petrus. Hal ini dapat kita lihat dalam sabda Yesus sendiri :

“Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:17-19).

2. Uskup
Uskup adalah sebuah jabatan suci yang diberikan kepada seseorang yang telah menerima sakramen tahbisan tingkat ketiga. Paus adalah juga seorang uskup (Uskup Roma yang berkedudukan di Vatikan). Kekhususannya sebagai Paus, bahwa dia ketua dewan para uskup. Tugas pokok uskup di tempatnya sendiri dan Paus bagi seluruh Gereja adalah pemersatu. Tugas hierarki yang pertama dan utama adalah mempersatukan dan mempertemukan umat. Tugas itu boleh disebut tugas kepemimpinan, dan para uskup “dalam arti sesungguhnya disebut pembesar umat yang mereka bimbing” (LG 27).

Tugas pemersatu dibagi menjadi tiga tugas khusus menurut tiga bidang kehidupan Gereja. Komunikasi iman Gereja terjadi dalam pewartaan, perayaan dan pelayanan. Maka dalam tiga bidang itu para uskup, dan Paus untuk seluruh Gereja, menjalankan tugas kepemimpinannya. “Di antara tugas-tugas utama para uskup pewartaan Injillah yang terpenting” (LG 25). Dalam ketiga bidang kehidupan Gereja seorang Uskup bertindak sebagai pemersatu, yang mempertemukan orang dalam komunikasi iman. Dalam kesatuan dengan Uskup inilah kita sebagai umat dapat menghindari perpecahan, dan menjaga persatuan, sebagaimana dikehendaki oleh Kristus (lih. Yoh 17:20-21).

3. Imam

Imam adalah seorang yang ditahbiskan oleh Uskup atau menerima sakramen tahbisan tingkat kedua. Pada zaman dahulu, sebuah keuskupan tidak lebih besar daripada sekarang yang disebut paroki. Seorang uskup dapat disebut “pastor kepala” pada zaman itu dan imam-imam menjadi “pastor pembantu”. Lama kelamaan pastor pembantu mendapat daerahnya sendiri, khususnya di pedesaan. Makin lama daerah-daerah keuskupan makin besar. Dengan demikian, para uskup memiliki tugas dan tanggungjawab pelayanan yang semakin besar seiring pertumbuhan dinamika umat di wilayah keuskupannya.

Melihat perkembangan demikian, Uskup membutuhkan bantuan dewan kuria, komisi atau delegatus dan para imam agar pelayanan umat dapat dilaksanakan dengan baik sesuai tuntutan perkembangan umat dan konteks jaman ini. Uskup memberikan kepercayaan dan kewenangan (fakultas) kepada para imam untuk bertindak dalam kesatuan dan searah dengan kebijakan uskupnya. “Di masing-masing jemaat setempat dalam arti tertentu mereka menghadirkan uskup. Para imam dipanggil melayani umat Allah sebagai pembantu arif bagi badan para uskup, sebagai penolong dan organ mereka” (LG 28). Tugas konkret mereka sama seperti uskup: “Mereka ditahbiskan untuk mewartakan Injil serta menggembalakan umat beriman, dan untuk merayakan ibadat ilahi“

4. Diakon

“Pada tingkat hirarki yang lebih rendah terdapat para diakon, yang ditumpangi tangan oleh Uskup dan menerima sakramen tahbisan tingkat pertama. Tahbisan itu ‘bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan” (LG29). Mereka pembantu uskup tetapi tidak mewakilinya.
Para uskup mempunyai 2 macam pembantu, yaitu pembantu umum (disebut imam) dan pembantu khusus (disebut diakon). Bisa dikatakan juga diakon sebagai “pembantu dengan tugas terbatas”. Jadi diakon juga termasuk ke dalam anggota hirarki.

Tentang Kardinal:

Seorang kardinal adalah seorang uskup yang diberi tugas dan wewenang memilih Paus baru, bila ada seorang Paus yang meninggal. Sejarah awalnya, karena Paus adalah Uskup Roma, maka Paus baru sebetulnya dipilih oleh pastor-pastor kota Roma, khususnya pastor-pastor dari gereja-gereja “utama” (cardinalis). Dewasa ini para kardinal dipilih dan diangkat langsung oleh Paus dari uskup-uskup seluruh dunia. Lama kelamaan para kardinal juga berfungsi sebagai penasihat Paus, bahkan fungsi kardinal menjadi suatu jabatan kehormatan. Sejak abad ke 13 warna pakaian khas adalah merah lembayung.

Kardinal bukan jabatan hirarkis dan tidak termasuk struktur hirarkis. Jabatannya sebagai Uskup lah yang merupakan jabatan hirarkis dan masuk dalam struktur hirarki. Para Uskup yang dipilih oleh Paus sebagai Kardinal kemudian membentuk suatu Dewan Kardinal. Jumlah dewan yang berhak memilih Paus dibatasi sebanyak 120 orang dan di bawah usia 80 tahun.

Fungsi Khusus Hirarki

Seluruh umat Allah mengambil bagian di dalam tugas Kristus sebagai nabi (mengajar), Imam (menguduskan), dan Raja (memimpin / menggembalakan). Meskipun menjadi tugas umum dari seluruh umat beriman, namun Gereja atas dasar sejarahnya di mana Kristus memilih para rasul untuk melaksanakan tugas itu secara khusus, kemudian menetapkan pembagian tugas tiap komponen umat. Gereja menetapkan pembagian tugas tiap komponen umat (hirarki, biarawan/biarawati, dan kaum awam) untuk menjalankan tri-tugas dengan cara dan fungsi yang berbeda.

Berdasarkan keterangan yang telah diungkapkan di atas, fungsi khusus hirarki adalah:
  • Menjalankan tugas Gerejani, yakni tugas-tugas yang langsung dan eksplisit menyangkut kehidupan beriman Gereja, seperti: pelayanan sakramen-sakramen, mengajar, dan sebagainya.
  • Menjalankan tugas kepemimpinan dalam komunikasi iman. Hirarki mempersatukan umat dalam iman dengan petunjuk, nasihat dan teladan.

Corak Kepemimpinan dalam Gereja
  • Kepemimpinan dalam Gereja merupakan suatu panggilan khusus di mana campur tangan Tuhan merupakan unsur yang dominan. Kepemimpinan Gereja tidak diangkat oleh manusia berdasarkan bakat, kecakapan, atau prestasi tertentu. Kepemimpinan dalam Gereja tidak diperoleh oleh kekuatan manusia sendiri. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.”(Yoh 15:16).
  • Kepemimpinan dalam masyarakat dapat diperjuangkan oleh manusia, tetapi kepemimpinan dalam Gereja tidaklah demikian.
  • Kepemimpinan dalam Gereja bersifat mengabdi dan melayani dalam arti semurni-murninya, walaupun ia sungguh mempunyai wewenang yang berasal dari Kristus sendiri.
  • Kepemimpinan gerejani adalah kepemimpinan melayani, bukan untuk dilayani, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Yesus sendiri. Maka Paus disebut sebagai “Servus Servorum Dei” = Hamba dari Hamba-hamba Allah.
  • Kepemimpinan hirarki berasal dari Tuhan karena sakramen tahbisan yang diterimanya maka tidak dapat dihapuskan oleh manusia.Sedangkan kepemimpinan dalam masyarakat dapat diturunkan oleh manusia, karena ia memang diangkat dan diteguhkan oleh manusia.
Sumber: https://sanyospwt.com/2018/07/15/hirarki-dalam-gereja-katolik/

baca selanjutnya...

Jumat, 23 Agustus 2019

Api Penyucian

Menurut pandangan orang sebetulnya, setelah kematian (bukan pada hari kiamat kelak) setiap orang akan diadili secara pribadi. Dimana ada tiga kemungkinan dari pengadilan itu yaitu Surga, Api Penyucian (Purgatory) dan Neraka. Karena mereka yang menganggap diri kurang baik untuk surga, dan juga tidak mau masuk ke neraka, maka Api Penyucian dipandang sebagai pintu yang "normal". Tetapi api penyucian pun bukan pintu, juga bukan kemungkinan kemungkinan ketiga disamping surga dan neraka.

DASAR untuk keyakinan ini ialah:

Injil Lukas 16:22 : dimana digambarkan orang kaya berteriak kepada Abraham minta tolong; kisah ini memang suatu perumpamaan yang tidak benar-benar terjadi tetapi tetap mencerminkan keyakinan Lukas bahwa sebelum akhir zaman pun Abraham sudah "mulia disurga dan orang kaya yang sudah mati itu bisa berteriak minta tolong" demikian juga pada surat-surat Rasul paulus kepada jemaat di korintus dan Filipi 2Korintus 5:8 dan Filipi 1:23
dimana Paulus dengan jelas mengungkapkan keinginannya untuk segera mati saja, yakni berpisah dari tubuhnya yang fana untuk bersatu dengan Yesus Kristus dalam kebahagiaan, namun demi umatnya, Paulus lebih suka tetap hidup di dunia agar bisa membina umatnya. Keyakinan Paulus ini mencerminkan iman bahwa sebelum kebangkitan pada akhir zaman pun, orang yang sudah mati dapat bersama dengan Kristus di surga. Dengan kata lain kebangkitan badan pada akhir jaman, jiwa orang sudah diadili dan bisa mulia bersama Kristus.

Setelah Akhir zaman akan ada kebangkitan badan, jiwa orang mati akan dipersatukan kembali dengan badan, untuk diadili bersama-sama dengan seluruh umat manusia. Baik yang sudah diadili secara pribadi maupun yang belum, akan diadili secara bersama-sama (pengadilan umum). Tetapi hasil pengadilan pribadi yang sudah terjadi sebelum akhir zaman tetap berlaku dan hanya diteguhkan dalam pengadilan umum pada akhir zaman.

Dalam ajaran Resmi Gereja juga tidak disebut "api", hanya "penyucian" (purgatorium) saja, ialah adalanya tahap terakhir dalam proses pemurnian pada perjalanan kepada Allah. Kiranya proses pemurnian itu belum selesai pada saat kematian, maka kematian sendiri dapat menjadi pengallaman pemurnian itu.

Pada saat kematian manusia melihat dirinya sendiri dlam keadaan sesungguhnya. Khususnya karena kematian itu berarti penyerahan kepada Allah, maka pemurnian dialami sebagai ketidakcocokan yang menyakitkan. Apa yang lazim disebut "pengadilan", dialami sebagai siksaan dan juga pemurnian. Sekiranya itulah yang dimaksud dengan "Api Penyucian" yang terjadi pada saat kematian sendiri.

Demikian halnya doa-doa untuk untuk jiwa-jiwa dalam api penyucian adalah doa untuk orang-orang yang pada saat kematian sebetulnya belum siap menghadap Tuhan. Dimana orang itu meninggal dalam persekututan iman (Telah dibaptis, baptis keiinginan, baptis darah), yang disebut Gereja. Maka sudah sewajarnya "persekutuan para kudus" juga dihayati dalam doa untuk saudara-saudara kita, yang masih pada perjalanan menuju Tuhan.

Api penyucian bukanlah "neraka sementara" (dengan api yang tidak begitu panas). Api penyucian adalah pengalaman sedalam-dalamnya behwa seseorang "mendapat malu karena segala perbuatan durhaka yang dilakukan" dihadapan Tuhan.

Sumber: http://www.imankatolik.or.id/apipenyucian.html

baca selanjutnya...

Kamis, 22 Agustus 2019

Sekilas tentang Dokumen-dokumen Ajaran Sosial Gereja

Rerum Novarum (hal-hal baru), oleh Paus Leo XIII, 15 Mei 1891, tentang kondisi para buruh. Era modern ASG mulai dengan Rerum Novarum. Rerum Novarum merupakan ensiklik pertama yang menaruh perhatian pada masalah-masalah sosial secara sistematis. Juga pertama kali jalan pikiran ajaran sosial berangkat dari prinsip keadilan universal. Paus Leo XIII telah melihat parahnya kondisi kerja, karena eksploitasi oleh kapitalisme tanpa kontrol akibat revolusi industri, dan bangkitnya kekuatan sosialisme serta marxisme. Dengan berdasarkan hukum kodrat, Paus membela hak-hak buruh, pentingnya keadilan dan solidaritas, sekaligus juga meneguhkan hak kodrati atas kepemilikan pribadi.

Quadragessimo Anno (setelah 40 tahun), oleh Paus Pius XI, 15 Mei 1931, berbicara mengenai rekonstruksi tata sosial kemasyarakatan. Di tengah-tengah depresi parah, pada masa para diktator dan sistem-sistem totalitarian sayap kanan maupun kiri berjaya, Paus Pius XI merayakan 40 tahun Rerum Novarum dengan menerbitkan Quadragessimo Anno. Paus menegaskan kembali prinsip-prinsip dalam Rerum Novarum dan mengaplikasikannya dalam situasi masa itu. Paus menolak solusi komunisme yang menghilangkan hak-hak pribadi. Tetapi juga sekaligus mengkritik persaingan kapitalisme sebagai yang akan menghancurkan dirinya sendiri. Ajaran beliau menunjukkan bagaimana ASG berkembang dan menjadi lebih spesifik, terutama dalam mempertahankan prinsip-prinsip agung: kedamaian dan keadilan solidaritas, kesejahteraan umum, subsidiaritas, hak milik, hak untuk berserikat, dan peranan fundamental keluarga dalam masyarakat.

Mater et Magistra (ibu dan guru), oleh Paus Yohanes XXIII, 15 Mei 1961, tentang kemajuan sosial dalam terang ajaran kristiani. Diterbitkan pada peringatan 70 tahun Rerum Novarum, ensiklik ini mengungkapkan keprihatinan mendalam Paus akan keadilan. Paus mencermati tumbuhnya jurang antara negara kaya dan miskin, sebagai produk dari sistem tata dunia yang tidak adil dan akibat dari poenekanan yang terlalu kuat pada kemajuan industri, perdagangan, dan teknologi masa itu. Dalam ensiklik ini diajukan pula “jalan pikiran” Ajaran Sosial Gereja: see, judge, and act. Gereja Katolik didesak untuk berpartisipasi secara aktif dalam memajukan tata dunia yang adil.

Pacem in Terris (damai di bumi), oleh Paus Yohanes XXIII, 11 April 1963. Ajaran tentang perdamaian dan perang adalah tema penting dalam ajaran sosial dari seluruh Paus modern. Paus, menyerukan perdamaian kepada dunia. Pada saat itu baru terjadi krisis Kuba, salah satu masa paling menegangkan dalam perang dingin dengan ancaman nuklirnya. Masa itu juga ditandai dengan berakhirnya kolonialisme di banyak negara, yang diwarnai dengan perselisihan tragis, yang melibatkan rasisme, tribalisme, dan aplikasi brutal ideologi marxisme. Untuk memajukan tatanan sosial yang penuh damai, Paus mendukung partisipasi rakyat dalam proses pengambilan keputusan berkaitan dengan kesejahteraan umum, terutama melalui proses-proses demokratis.

Gaudium et Spes (kegembiraan dan harapan), merupakan dokumen Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam dunia modern, hasil Konsili Vatikan II, 7 Desember 1965. Dokumen ini merupakan refleksi para Bapa Konsili tentang kehadiran Gereja di tengah dunia modern. Dalam refleksi itu, mereka mengaplikasikan ajaran-ajaran Gereja tentang moral dan sosial pada harapan-harapan dan tantangan-tantangan yang dialami di banyak negara pada masa itu. Para Bapa Konsili sangat kuat mendorong partisipasi umat Katolik dalam berbagai dimensi kehidupan duniawi.

Populorum Progressio (kemajuan bangsa-bangsa), oleh Paus Paulus VI, 26 Maret 1967. Paus Paulus VI berbicara di pihak jutaan rakyat dari negara-negara berkembang. Berhadapan dengan semakin lebarnya jurang antara negara-negara kaya dan miskin, Paus menegaskan bahwa keadilan tidak bisa dipisahkan dari pembangunan dan kemajuan. Pembangunan dan kemajuan harus ditujukan pada perkembangan manusia yang integral. Isu tentang marginalisasi kaum miskin akibat pembangunan banyak dibahas. Ensiklik ini mendorong banyak umat Katolik untuk menjalankan option for the poor dan menghadapi sebab-sebab penindasan.

Octogesima Adveniens (penantian tahun ke delapan puluh), oleh Paus Paulus VI, 15 Mei 1971, tentang panggilan untuk bertindak. Dengan melanjutkan tradisi menandai peringatan terbitnya Rerum Novarum dengan dokumen kepausan, Paus membahas persoalan-persoalan khas tahun 70an dengan surat apostolik kepada Kardinal Maurice Roy. Surat tersebut memuji seruan kuat keadilan sosial dalam Populorum Progressio dengan memperhitungkan ancaman komunisme dan masalah-masalah serius lain, seperti urbanisasi, diskriminasi rasial, teknologi baru, dan peran umat Katolik dalam politik. Soal-soal yang berkaitan dengan urbanisasi dipandang menjadi salah satu sebab lahirnya “kemiskinan baru”. Paus mendorong umat untuk bertindak ambil bagian secara aktif dalam masalah-masalah politik dan mendesak untuk memperjuangkan nilai-nilai injili guna membangun keadilan sosial.

Justicia in Mundo (keadilan di dunia atau Justice in the World), dikenal juga dengan Convenientes ex Universo (berhimpun dari seluruh dunia). Dokumen ini merupakan hasil Sinode para uskup di Roma tahun 1971. Para uskup, yang berkumpul di Roma untuk sinode tahun 1971, menyuarakan jutaan orang yang tinggal di negara-negara berkembang. Mereka tidak hanya menyerukan diakhirinya kemiskinan dan penindasan, namun juga perdamaian abadi dan keadilan sejati. Dalam Gereja, sebagaimana di dalam dunia, keadilan harus dipertahankan dan dipromosikan. Misi Gereja tanpa ada suatu upaya konkret dan tegas mengenai tindakan perjuangan keadilan, tidaklah integral. Misi Kristus dalam mewartakan datangnya Kerajaan Allah mencakup pula datangnya keadilan. Keadilan merupakan dimensi konstitutif pewartaan Injil. Para uskup juga menyerukan dihormatinya hak untuk hidup, hak-hak perempuan, dan perlunya pendidikan keadilan. Dokumen ini banyak diinspirasikan oleh seruan keadilan dari Gereja-Gereja di Afrika, Asia, dan Latin Amerika, khususnya pengaruh pembahasan tema “pembebasan” oleh para uskup Amerika Latin di Medellin (Kolumbia).

Laborem Exercens (kerja manusia), oleh Paus Yohanes Paulus II, 14 September 1981. Ditulis dalam rangka peringatan 90 tahun Rerum Novarum, Paus berbicara tentang martabat kerja manusia dalam kerangka rencana ilahi. Ensiklik ini mengkritik tajam komunisme dan kapitalisme karena memperlakukan manusia sebagai alat produksi. Manusia berhak kerja, sekaligus berhak upah yang adil dan wajar, sekaligus berhak untuk makin hidup secara lebih manusiawi dengan kerjanya.

Sollicitudo Rei Socialis (keprihatinan akan masalah-masalah sosial), terbit 30 Desember 1987 dalam rangka memperingati 20 tahun Populorum Progressio. Ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II. Paus melukiskan kebutuhan akan solidaritas dan kebebasan, keadilan sejati dan jalan yang lebih baik daripada sosialisme ataupun pasar bebas kapitalisme. Ajaran Paus berfokus pada makna dan nilai pribadi manusia. Dengan visi global tentang perubahan-perubahan sosial, Paus mengamati relasi antar negara, mencela beban hutang pada negara-negara dunia ketiga dan imperialime baru.

Centesimus Annus (tahun ke seratus). Ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II dalam rangka 100 tahun Rerum Novarum. Terbit 15 Mei 1991. Masa itu ditandai dengan jatuhnya komunisme. Paus menunjukkan akar kekeliruan dari komunisme dan marxisme, namun sekaligus dengan sangat tegas tidak membenarkan liberalisme dan kapitalisme sebagai ideologi dan persepsi ekonomi yang akan mampu menyejahterakan manusia. Ensiklik ini merupakan salah satu dokumen kepausan yang paling banyak dibahas di akhir abad ke-20.

Caritas in Veritate (kasih dalam kebenaran). Ditulis oleh Paus Benediktus XVI dan terbit 29 Juni 2009. Ensiklik ini berbicara tentang perkembangan integral manusia dalam kasih dan kebenaran. Ensiklik ini mendiskusikan krisis finansial global dalam konteks meluasnya relativisme. Pandangan Paus melampaui kategori-kategori tradisional kekuasaan pasar sayap kanan (kapitalisme) dan kekuasaan negara sayap kiri (sosialisme). Dengan mengamati bahwa setiap keputusan ekonomi memiliki konsekuensi moral, Paus menekankan pengelolaan ekonomi yang berfokus pada martabat manusia.

Penjelasan tentang dokumen-dokumen disarikan dari Social Teaching of the Church dan tulisan Prof. Dr. Armada Riyanto CM, Sekilas tentang Dokumen-dokumen Ajaran Sosial Gereja.

Sumber: https://spiritualitaskatolik.wordpress.com/2017/06/04/ajaran-sosial-gereja/

baca selanjutnya...

Rabu, 21 Agustus 2019

Maria, Ratu Surga

Mengapa doa Angelus diganti dengan doa Regina Caeli pada masa Paskah? Apakah doa Regina Coeli berkaitan dengan dogma Maria diangkat ke surga?
Margaretha Maria Sasanty Andriani, Malang

Pertama, doa Regina Caeli (Ratu Surga) sudah sangat tua. Tidak mungkin menentukan siapa pengarang doa ini dan dari mana asal doa ini. Catatan dari abad XII sudah berbicara tentang doa ini. Teks musik tertua dari doa ini disimpan di Vatikan, yaitu sebuah manuskrip dari tahun 1171. Pada sekitar tahun 1200, doa Regina Caeli muncul dalam manuskrip nyanyian tradisional Romawi Kuno. Jadi, bukti-bukti historis menunjukkan bahwa doa Regina Caeli sudah lama menjadi kekayaan Gereja, jauh mendahului pernyataan dogmatis Maria diangkat ke surga pada tahun 1950.

Kedua, perubahan dari doa Angelus ke doa Regina Caeli ditetapkan secara universal pada tahun 1742 oleh Paus Benediktus XIV, yaitu bahwa selama masa Paskah, dari Hari Raya Paskah sampai dengan Hari Raya Pentakosta, Doa Ratu Surga harus didaraskan sebagai ganti doa Angelus. Sesudah itu muncullah komposisi lagu-lagu yang sangat indah untuk doa Ratu Surga.

Perubahan ini dilakukan karena kesesuaian tema. Doa Malaikat Tuhan merujuk pada misteri Inkarnasi Sabda, yaitu ketika “Sabda menjadi manusia dan tinggal di antara kita” sedangkan doa Ratu Surga merujuk pada misteri Paskah, yaitu pada Kristus yang “telah bangkit seperti disabdakanNya” dan bahwa “Tuhan sungguh telah bangkit.” Maka memang tepatlah jika doa Ratu Surga menggantikan doa Malaikat Tuhan. Doa Ratu Surga juga mengungkapkan suatu permohonan kepada Allah Bapa agar kita dimampukan untuk menikmati sukacita dalam kehidupan kekal bersama Maria di surga karena kebangkitan Yesus Kristus. Doa ini menunjukkan penerapan konkret rahmat Paskah untuk hidup kita yang percaya pada Kristus yang bangkit.

Ketiga, doa penutup dari doa Ratu Surga mencerminkan iman kita pada kebangkitan. Kebangkitan Kristus menunjukkan kemenangan dan kejayaan Kristus atas kuasa dosa dan kematian. Kejayaan Kristus mengikutsertakan semua orang yang percaya kepadaNya. Mereka akan “duduk di atas dua belas tahta untuk menghakimi kedua belas suku Israel” (Mat 19:28), malah “menghakimi dunia dan malaikat” (1 Kor 6:2-3). Mereka memerintah bersama Kristus, seperti dikatakan dalam sebuah kidung tua yang dikutip 2 Tim 2:12. Karena Maria adalah yang paling unggul di antara semua orang murid Tuhan, maka secara unggul pula dia diikutsertakan dalam kemenangan Kristus. Itulah artinya gelar “Ratu Surga” Maria sebagai ibu Yesus Kristus, ikut serta memerintah bersama dengan Kristus di surga. Gelar ini menyatakan kedekatan Maria dengan Kristus yang luar biasa, baik di dunia ini maupun di surga. Maria unggul di antara para kudus (bdk Pius XII, Ad Caeli Reginam, DS 3913-3917).

Gelar sebagai “Ratu Surga” tidak boleh dimengerti seolah Maria menjadi saingan Allah dengan kekuasaan surgawi-Nya. Maria dinyatakan sebagai Ratu justru karena kerendahan hatinya yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk melakukan kehendak Allah. Allah sungguh merajai seluruh diri Maria.

Keempat, keyakinan iman ini menunjukkan bahwa pengakuan akan Maria sebagai Ratu Surga sudah ada sejak lama dalam Gereja. Dogma Maria diangkat ke surga (1950 oleh Pius XII) sebenarnya hanya mengeksplisitkan kepercayaan Gereja yang sudah lama diungkapkan dalam praktik iman. Pernyataan dogmatis Gereja itu tidak mengubah kenyataan tetapi hanya mengungkapkan secara resmi pengenalan dan kesadaran Gereja dalam bentuk ajaran tentang Maria sebagai bagian dari iman yang diwahyukan, karena itu harus dipercayai. Jadi, fakta pengangkatan Maria ke surga sudah terjadi lama sebelum pernyataan dogmatisnya. Doa Ratu Surga mengingatkan kita akan apa yang terjadi pada Bunda kita. Itulah harapan nyata yang juga akan terjadi pada kita yang percaya kepada Putranya.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 18 Tanggal 3 Mei 2015

baca selanjutnya...

Selasa, 20 Agustus 2019

Bunda Maria, tetap Perawan, mungkinkah?

Pendahuluan

Pernahkah anda mendengar komentar-komentar seperti: “Bunda Maria tetap perawan? Ah, tidak mungkin…” atau “Bagi saya, tidak penting Bunda Maria perawan atau bukan…” atau “Bunda Maria itu yang tetap perawan jiwanya, bukan tubuhnya…” Semua komentar ini meragukan atau mempertanyakan keperawanan Maria, atau bahkan menganggapnya tidak penting. Gereja Katolik tidak mengajarkan demikian, karena keperawanan Maria membawa arti penting, yang menunjukkan kesempurnaan kasih Allah dalam melaksanakan rencana keselamatanNya, dan bahwa Yesus yang dilahirkan oleh Bunda Maria adalah sungguh-sungguh Allah. Karena itu, Gereja dipanggil untuk menjaga kemurnian ajarannya, dan mencontoh teladan hidup Maria yang murni jiwa dan raganya.

Bunda Maria, tetap perawan

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah tetap perawan, sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus. ((Lihat Michael O’Caroll C.S. Sp, Theotokos, A Theological Encyclopedia of the Blessed Virgin Mary, ( Michael Glazier Inc. Dublin, Ireland, reprint in 1982 in the USA), p. 357. “Mary of Nazareth conceived her Son Jesus while remaining a virgin; her virginity was not altered by childbirth; she remained a virgin in her marriage with St. Joseph.” Jadi, Maria tetap perawan sebelum, pada saat dan setelah melahirkan Yesus (virginitas ante partum, in partu, post partum) )) Semua orang Kristen percaya bahwa Bunda Maria adalah perawan sebelum melahirkan Yesus, dan banyak dari mereka percaya bahwa Maria tetap perawan pada saat melahirkan Yesus. Tetapi hanya sedikit umat gereja Kristen Protestan yang percaya bahwa Bunda Maria tetaplah perawan setelah melahirkan Yesus Kristus. Kenapa hal Maria yang tetap perawan ini menjadi penting? Karena menurut sejarah, penyangkalan terhadap Maria yang tetap perawan akan menuju kepada penyangkalan terhadap kelahiran Yesus melalui Perawan Maria (the virgin birth of Christ), yang kemudian menjadi penyangkalan akan keilahian Yesus. ((Robert Payesko, The Truth about Mary, A Summary of the Trilogy, (Queenship Publishing Company, CA, 1998), p.110)) Berikut ini kita lihat penjelasan mengenai hal keperawanan Maria menurut pengajaran Gereja Katolik, yang berdasarkan Kitab Suci, tulisan para Bapa Gereja, dan berdasarkan akal sehat. Juga kita lihat pengajaran dari para pendiri gereja Protestan, karena mereka semua sebenarnya juga mengakui keperawanan Maria.

Ayat dari Kitab Suci yang paling sering dikutip

1. Matius 13:55, Mrk 6:3 “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?”

Di dalam Alkitab, istilah “saudara” dipakai untuk menjelaskan banyak arti. Kata “saudara” memang dapat berarti saudara kandung, namun dapat juga berarti saudara seiman (Kis 21:7), saudara sebangsa (Kis 22:1), ataupun kerabat, seperti pada kitab asli bahasa Ibrani yang mengatakan Lot sebagai saudara Abraham (Kej 14:14), padahal Lot adalah keponakan Abraham.

Jadi untuk memeriksa apakah Yakobus dan Yusuf itu adalah saudara Yesus, kita melihat kepada ayat-ayat yang lain, yaitu ayat Matius 27:56 dan Markus 15:40, yang menuliskan nama-nama perempuan yang ‘melihat dari jauh’ ketika Yesus disalibkan. Mereka adalah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yohanes, dan ibu anak-anak Zebedeus (Mat 27:56); atau Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda, Yoses dan Salome (Mar 15:40). Alkitab menunjukkan bahwa Maria ibu Yakobus ini tidak sama dengan Bunda Maria. ((Maria ibu Yakobus dan Yoses (Yusuf) dicatat dalam Alkitab sebagai salah satu wanita yang menyaksikan penyaliban Kristus (Mt 25:56; Mk 15:40) dan kubur Yesus yang kosong/ kebangkitan Yesus (Mk 16:1; Lk 24:10) ))

Mungkin yang paling jelas adalah kutipan dari Injil Yohanes, yang menyebutkan bahwa yang hadir dekat salib Yesus adalah, Bunda Maria, saudara Bunda Maria yang juga bernama Maria, istri dari Klopas, dan Maria Magdalena (Yoh 19:25). Jadi di sini jelaslah bahwa Maria (saudara Bunda Maria) ini adalah istri Klopas/ Kleopas ((Kleopas adalah salah satu dari murid-murid Yesus yang berjalan ke Emmaus dan mengalami penampakan diri Yesus setelah kebangkitan-Nya (Luk 24:18) )), yang adalah juga ibu dari Yakobus dan Yoses. Kesimpulannya, Yakobus dan Yoses ini bukanlah saudara kandung Yesus.

2. Mat 1:24-25: Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki …

Banyak saudara-saudari kita dari gereja lain mengartikan ayat ini bahwa Maria tidak lagi perawan setelah melahirkan Yesus. Kata kuncinya di sini adalah kata ‘sampai’. Di dalam Alkitab, kata ‘sampai‘ ini tidak selalu berarti diikuti oleh perubahan kondisi. Contoh, pada 1 Kor 15:25, dikatakan, “Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya.” Hal ini tidak bermaksud bahwa setelah Yesus mengalahkan musuh-Nya Ia tidak lagi menjadi Raja.

3. Luk 2:7: …dan ia (Maria) melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin…

Kata kunci di sini adalah, ‘sulung’. Sulung di sini tidak berarti bahwa Yesus kemudian mempunyai adik-adik. ‘Sulung’ di dalam Alkitab menerangkan hak istimewa dari seseorang. Contoh, pada Kitab Mazmur, Allah menyebut Daud ‘anak sulung’ (Mzm 89:28), meskipun Daud adalah anak ke-8 dari Isai (1 Sam 16).

Allah menyebut bangsa Israel disebut sebagai anak yang sulung (Kel 4:22). Kristus disebut ‘sulung’ adalah untuk menunjukkan bahwa Ia adalah ‘Israel’ yang baru, yang menjadi yang sulung dari banyak saudara (Rom 8:29), yang sulung dari segala ciptaan (Kol 1:15).

4. Mat 15:1-9 dan Yoh 19:27: Dalam Injil Matius bab 15, Yesus mengecam orang-orang Farisi yang mempersembahkan korban tetapi kemudian menelantarkan orang tua mereka. Hukum pada Perjanjian Lama seharusnya mewajibkan seorang anak untuk menanggung orang tuanya, sehingga praktek orang Farisi yang melanggar hal ini membuat Yesus menyebut mereka sebagai ‘munafik’ (Mat 15:1-7).

Dalam Yoh 19:26-27, pada saat Yesus disalibkan, Yesus memberikan Maria ibu-Nya kepada Yohanes (anak Zebedeus) rasul yang dikasihi-Nya, yang bukan saudara-Nya. Seandainya Yesus mempunyai adik-adik, seperti yang dianggap oleh gereja Protestan, perbuatan Yesus ini sungguh tidak masuk di akal. Yesus yang mengecam orang Farisi yang menelantarkan orang tuanya tidak mungkin menyebabkan saudara-Nya sendiri menelantarkan ibu-Nya. Kenyataan bahwa Yesus mempercayakan Maria kepada Yohanes adalah karena Ia tidak mempunyai saudara kandung, karena Bapa Yusuf-pun telah meninggal dunia, dan Yesus tidak mau meninggalkan ibu-Nya sebatang kara.

5. Luk 1:34: Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami?”

Ayat ini sesungguhnya merupakan terjemahan dari “How shall this be, since I have no husband” (RSV) atau, “I am a virgin” (Jerusalem Bible), atau “I know not man” (Douay -Rheims terjemahan dari Vulgate). Sesungguhnya terjemahan yang benar adalah aku tidak bersuami (jika mengikuti RSV), atau aku seorang perawan (Jerusalem Bible) atau aku tidak mengenal/ berhubungan dengan laki-laki (D-R). Kalimat ini hanya masuk akal jika Maria telah memiliki kaul keperawanan -meskipun pada saat itu ia sudah bertunangan dengan Yusuf- karena, jika tidak demikian, pernyataan ini akan terdengar ‘ganjil’. Sebagai contoh, jika seseorang ditawari rokok, dan ia menjawab ‘saya tidak merokok’, maka maksudnya adalah ‘saya tidak pernah merokok’, dan bukan ‘saya tidak sedang merokok sekarang’. ((Lihat Rene Laurentine, A Short Treatise on the Virgin Mary, (Washington, New Jersey: AMI Press, 1991),p 285))

Pengajaran Bapa Gereja dari Gereja awal

Para Bapa Gereja secara konsisten mengajarkan Maria tetap Perawan (Perpetual Virginity of Mary). Sejarah membuktikan bahwa pengajaran tentang keperawanan Maria ini telah berakar dari sejak Gereja awal, seperti pengajaran dari:

1. Ignatius dari Antiokhia (meninggal tahun 110), Origen (233), Hilarius dari Poiters (m. 367) dan Gregorius Nissa (m. 394). ((Robert Payesko, The Truth about Mary, Volume II, p. 2-155))

2. St. Athanasius (293-373) menyebutkan Maria sebagai Perawan selamanya (Ever Virgin) ((St. Athanasius, Discourses Against the Arians, 2, 70, Jurgens, Vol.1, n. 767a)) dalam bukunya Discourses Against the Arians.

3. St. Jerome (347- 420) tidak hanya menyebutkan keperawanan Maria, tetapi juga keperawanan Yusuf. Ia menulis, “…You say that Mary did nor continue a virgin: I claim still more, that Joseph himself on account of Mary was (also) a virgin, so that from wedlock a virgin son was born.” ((St. Jerome, The Perpetual Virginity of Blessed Mary, Chap 21, seperti dikutip oleh John R. Willis, SJ, The Teaching of the Church Fathers (Ignatius Press, San Francisco, 2002 reprint, original print by Herder and Herder, 1966) p. 358))

4. St. Agustinus dan St. Ambrosius (akhir abad ke- 4), mengajarkan keperawanan Maria sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus Kristus, sehingga Maria adalah perawan selamanya. ((Lihat St. Agustinus, Sermons, 186, Heresies, 56; Jurgens, vol.3, n. 1518 dan 1974d.)) Dengan kuasa Roh Kudus yang sama, Yesus lahir tanpa merusak keperawanan Bunda Maria, seperti halnya setelah kebangkitan-Nya, Dia dapat datang ke dalam ruang tempat para murid-Nya berdoa, tanpa merusak semua pintu yang terkunci (Lih. Yoh 20:26). ((St. Agustinus, Letters no. 137., seperti dikutip oleh John R. Willis, SJ, The Teaching of the Church Fathers, p. 360.)) Roh Kudus yang membangkitkan Yesus dari mati adalah Roh Kudus yang sama yang membentuk Yesus dalam rahim Bunda Maria. Maka kelahiran Yesus dan kebangkitan-Nya merupakan peristiwa yang ajaib: kelahirannya tidak merusak keperawanan Maria, seperti kebangkitan-Nya tidak merusak pintu yang terkunci.

St. Agustinus mengajarkan, “It is not right that He who came to heal corruption should by His advent violate integrity.” (Adalah tidak mungkin bahwa Ia yang datang untuk menyembuhkan korupsi/kerusakan, malah merusak keutuhan.” ((St. Agustinus, Serm. 189, n.2; PL 38, 1005))

4. St. Petrus Kristologus (406- 450), St. Paus Leo Agung (440-461)dan St. Yohanes Damaskus (676- 749) juga mengatakan hal yang sama. ((St Petrus Kristologus, “The Virgin conceives, the Virgin brings forth her child, and she remains a virgin.” (Sermons, no. 117); St Leo Agung, “…a Virgin conceived, a Virgin bare and a Virgin she remained.”))

5. Konsili Konstantinopel II (553) menyebutkan Bunda Maria sebagai, “kudus, mulia, dan tetap-Perawan Maria”. ((Robert Payesko, The Truth about Mary, Volume II, Mary in Scripture and the Historic of Christian Faith, (Queenship Publishing Company, CA, 1998), p.2-155,

Salah satu butir pengajaran untuk menjawab ajaran yang keliru tentang Bunda Maria di dalam Konsili Konstantinopel II, butir 6, “If anyone declares that it can be only inexactly and not truly said that the holy and glorious ever-virgin Mary is the mother of God, or says that she is so only in some relative way, considering that she bore a mere man and that God the Word was not made into human flesh in her, holding rather that the nativity of a man from her was referred, as they say, to God the Word as he was with the man who came into being; if anyone misrepresents the holy synod of Chalcedon, alleging that it claimed that the virgin was the mother of God only according to that heretical understanding which the blasphemous Theodore put forward; or if anyone says that she is the mother of a man or the Christ-bearer, that is the mother of Christ, suggesting that Christ is not God; and does not formally confess that she is properly and truly the mother of God, because he who before all ages was born of the Father, God the Word, has been made into human flesh in these latter days and has been born to her, and it was in this religious understanding that the holy synod of Chalcedon formally stated its belief that she was the mother of God: let him be anathema.”))

Konsili ini merangkum ajaran-ajaran penting berkaitan dengan bahwa Yesus, adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Termasuk dalam ajaran ini adalah tentang keperawanan Maria.

Pengajaran Magisterium Gereja Katolik

Doktrin dari keperawanan Maria, sebelum, pada saat dan sesudah kelahiran Yesus dinyatakan secara defintif oleh Paus St. Martin I di Sinode Lateran tahun 649, yang berbunyi:

“The blessed ever-virginal and immaculate Mary conceived, without seed, by the Holy Spirit and without loss of integrity brought Him forth, and after His birth preserved her virginity inviolate.” ((Denzinger’s Enchiridion Symbolorum (DS, 256)).

Terjemahannya:

Maria yang tetap perawan dan tak bernoda yang terberkati, mengandung tanpa benih manusia, oleh Roh Kudus, dan tanpa kehilangan keutuhan melahirkan Dia dan sesudahnya tetap perawan (keperawanannya tidak ‘rusak’).

Maka, seperti Kritus yang bangkit dengan tubuh-Nya dapat menembus pintu-pintu rumah yang terkunci (lihat Yoh 20: 26), maka pada saat kelahiran-Nya, Ia pun lahir dengan tidak merusak keperawanan ibu-Nya, yaitu Bunda Maria.

Pengajaran dari para pendiri gereja Protestan

Mungkin banyak dari saudara-saudari yang kita yang beragama Kristen non-Katolik tidak mengetahui bahwa para pendiri gereja Protestan awal juga mengajarkan mengenai hal Maria yang tetap perawan, seperti berikut ini:

1. Martin Luther (1483-1546): “Sudah menjadi iman kita bahwa Maria adalah Ibu Tuhan dan tetap perawan…. Kristus, kita percaya, lahir dari rahim yang tetap sempurna (‘a womb left perfectly intact’).” ((Diterjemahkan dari Martin Luther, Works of Luther, Vol. 11, p. 319-320; Vol. 6, p. 510.))

2. John Calvin (1509-1564): “Ada orang-orang yang ingin mengartikan dari perikop Mat 1:25 bahwa Perawan Maria mempunyai anak-anak selain dari Kristus, Putera Allah, dan bahwa Yusuf berhubungan dengannya kemudian, tetapi, betapa bodohnya pemikiran seperti ini! Sebab penulis Injil tidak bermaksud merekam apa yang terjadi sesudahnya; ia hanya mau menyampaikan dengan jelas hal ketaatan Yusuf dan untuk menyatakan bahwa Yusuf telah diyakinkan bahwa Tuhanlah yang mengirimkan malaikatNya kepada Maria. Yusuf tidak pernah berhubungan dengan Maria …(He had therefore never dwelt with her nor had he shared her company)… Dan selanjutnya Tuhan kita Yesus Kristus dikatakan sebagai yang sulung. Hal ini bukan berarti bahwa ada anak yang kedua dan ketiga, tetapi karena penulis Injil ingin menyampaikan hak-hak yang lebih tinggi (precedence). Alkitab menyebutkan hal ‘sulung’ (firstborn), baik ada atau tidaknya anak yang kedua.” ((Diterjemahkan dari John Calvin, Sermon on Matthew, 1:22-25, published in 1562.))

John Calvin bahkan mengecam Helvidius, yang mengatakan bahwa Maria mempunyai banyak anak. ((Lihat Bernard Leeming, “Protestants and Our Lady“, Marian Library Studies, January 1967, p.9.))

3. Ulrich Zwingli (1484-1531): “Saya yakin dan percaya bahwa Maria, sesuai dengan perkataan Injil, sebagai Perawan murni melahirkan Putera Allah dan pada saat melahirkan dan sesudahnya selalu tetap murni dan tetap perawan (‘forever remained a pure, intact Virgin’).” ((Diterjemahkan dari Zwingli Opera, Vol. 1, p. 424.))

4. John Wesley (1703-1791)menulis: “Saya percaya bahwa Dia (Tuhan Yesus) telah menjadi manusia, menyatukan kemanusiaan dengan keilahian dalam satu Pribadi; dikandung oleh satu kuasa Roh-Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria yang terberkati, yang setelah melahirkan-Nya tetap murni dan tetap perawan tak bernoda.” ((Diterjemahkan dari John Wesley, Letter to a Roman Catholic, July 18, 1749.))

Pentingnya Keperawanan Maria bagi Gereja

Keperawanan Maria berakibat penting pada Gereja karena Maria adalah ‘model’/ teladan bagi Gereja. Misteri keperawanan Maria dilanjutkan oleh Gereja dalam dua hal. Yang pertama Gereja menjaga kemurnian pengajarannya terhadap ajaran yang menyimpang (“heresy“). Kedua, Gereja memberikan tempat khusus pada penerapan ‘keperawanan’ secara jasmani, sepanjang sejarah Gereja. ((Lihat Hugo Rahner, SJ., Our Lady and the Church, (Zaccheus Press, 2004, reprint, original print by Tyrolia- Verlag, Innsbruck, Vienna, 1961), p. 32-33)) Keperawanan jasmani ini bukan dimaksudkan untuk merendahkan arti perkawinan, tetapi untuk menunjukkan kesempurnaan sesuai dengan teladan yang dicontohkan oleh Yesus sendiri yang mempersembahkan seluruh tubuh dan jiwa untuk pemenuhan rencana keselamatan Allah.

Roh Kudus yang bekerja menaungi Bunda Maria untuk mengandung dan melahirkan Yesus itu juga bekerja menaungi kita saat kita menerima Sakramen Pembaptisan. Dengan demikian, Kristus juga menjadikan Gereja-Nya sebagai Perawan, sebagaimana Bunda Maria adalah Perawan.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa pengajaran Gereja Katolik tentang Bunda Maria yang tetap Perawan memiliki dasar yang kuat. Sebagai orang Katolik kitapun harus meyakini tentang keperawanan Bunda Maria ini, dan mensyukuri teladan kemurniannya. Maka, janganlah kita sampai meragukan keperawanan Maria, hanya karena kita berpikir itu tidaklah mungkin dari kacamata kita sebagai manusia. Karena tiada yang mustahil bagi Allah, apalagi jika itu menyangkut segala pernyataan tentang Diri-Nya yang kudus dan penuh kasih. Dengan perbuatan-Nya menguduskan Maria sedemikian rupa, Ia menunjukkan betapa kasih-Nya yang sempurna tidak meninggalkan sedikitpun cacat dan noda pada kemurnian Bunda Maria. Bunda Maria menjadi teladan bagi Gereja yang menjunjung tinggi nilai kemurnian tubuh dan jiwa dalam mengabdi Tuhan, dan memberi contoh bagi kita bagaimana memberikan diri seutuhnya bagi rencana Keselamatan Allah.

Sumber: http://www.katolisitas.org/bunda-maria-tetap-perawan-mungkinkah/

baca selanjutnya...

Senin, 19 Agustus 2019

Homili Ibadat Midodareni:
Komunikasi Mengatasi Salah Paham

Bacaan I: Tobit 8:4b-9
Bacaan Injil: Yoh.15:9-13

Saya ingin mengawali renungan ini dengan menceritakan sebuah cerita yang mungkin sudah pernah anda dengar sebelumnya.

Pada suatu hari, ada sepasang suami istri pejabat senior yang mengadakan perayaan syukuran pesta emas perkawinan di sebuah hotel mewah. Banyak pejabat, artis, serta tokoh-tokoh masyarakat yang hadir, dan mereka semua terkagum-kagum melihat kemesraan di antara pasangan suami istri yang sudah lanjut usia itu. Akhirnya jamuan makan malam yang ditunggu-tunggu tiba. Koki dan para pelayan masuk membawa hidangan utama, yaitu sup ikan emas. Melihat hal itu, si suami segera bangkit berdiri dan memberikan sambutan, “Para hadirin sekalian, ikan emas bukanlah ikan mahal. Namun inilah kesukaan kami selama 50 tahun menikah, sejak kami masih miskin sampai dengan saat ini. Ikan emas adalah symbol kedekatan, kemesraan dan cinta di antara kami.” Semua tamu pun bertepuk tangan. Lalu si suami segera memotong ikan emas itu, dan memberikan bagian kepala dan ekor kepada istrinya dengan mesra. Semua tamu terdiam dalam kekaguman.
Tiba-tiba terdengar suara isak tangis yang semakin lama semakin keras. Ternyata sang istri yang menangis, sehingga si suami menjadi bingung. “Mengapa kau menangis, istriku?” tanyanya. Sang istri pun berdiri dan angkat bicara, “Suamiku, sudah 50 tahun kita menikah. Aku pun telah melayanimu dalam suka dan duka tanpa pernah mengeluh. Demi cintaku padamu, aku telah rela makan kepala dan ekor ikan emas selama 50 tahun ini. Tapi sungguh tak kusangka, dalam perayaan pesta emas ini, kau masih memintaku menyantap kepala dan ekor ikan emas lagi. Ketahuilah, suamiku, kedua bagian itu adalah yang paling tidak kusukai.” Pejabat senior itu terdiam sejenak, lalu ia berkata, “Istriku yang kucinta, 50 tahun lalu ketika kau bersedia menikah denganku, aku sungguh sangat bahagia. Aku sungguh sangat mencintaimu. Oleh sebab itu, aku bersumpah pada diriku sendiri, bahwa seumur hidup aku akan bekerja keras demi membahagiakanmu. Dan demi Tuhan, setiap kali makan ikan emas, bagian yang paling kusukai sebenarnya adalah kepala dan ekor. Namun sejak kita menikah, aku tidak pernah lagi makan kedua bagian itu, karena aku ingin memenuhi sumpahku untuk memberikan yang paling baik dan berharga bagimu. Walaupun kita telah hidup bersama selama 50 tahun dan selalu saling mencintai, ternyata kita tidak cukup saling memahami. Maafkan aku, karena hingga detik ini aku belum tahu bagaimana caranya membuatmu bahagia.” Judul cerita tersebut adalah “50 Tahun Salah Paham”.

Pandangan kita mengenai cerita tadi mungkin bermacam-macam: ada yang tersentuh, ada yang tertawa, ada juga yang menganggap tidak masuk akal. Namun yang ingin saya garis bawahi di sini adalah tentang kesalahpahaman, yang mungkin terjadi ketika menjalani hidup perkawinan dan berumah tangga. Bahkan kebersamaan hidup pun tidak menjamin bahwa kesalahpahaman tidak akan terjadi. Dalam hal inilah, kita bisa merefleksikan bacaan I pertama dari kitab Tobit tadi. Kalau kita hanya membaca atau mendengar perikop tadi, kita akan memperoleh kesan biasa-biasa saja, sekedar perbuatan saleh bahwa suami istri Tobia dan Sara berdoa menjelang hari pernikahannya. Namun kalau kita baca seluruh kitab Tobit sungguh-sungguh, kita akan temukan sebuah kisah yang mendebarkan dan mencengangkan. Sara dikuasai oleh iblis yang menghancurkan hidupnya. Sudah tujuh kali ia menikah, tetapi setiap kali suaminya meninggal, sebelum pagi hari tiba. Semua prihatin dengan keadaan ini namun tak bisa berbuat apa-apa. Sara yang cantik itu ternyata gagal melaksanakan tugasnya sebagai isteri dengan baik, malahan ia membawa sengsara bagi suaminya.

Apa yang menyebabkan Sara selalu gagal membangun hidup bahagia bersama suaminya? Sebab Sara memelihara iblis dan tidak pernah berdoa kepada Tuhan. Dan setiapkali menikah, iblis mengambil nyawa suaminya. Tujuh kali hal ini berlangsung. Sarapun menjadi sedih. Barulah dalam perkawinannya yang ke delapan, perkawinan dengan Tobia, cengkeraman setan dapat diatasi. Sebabnya, Sara dan Tobia mengikuti bisikan malaekat Rafael untuk berdoa pada hari perkawinan mereka dan menghancurkan insang ikan untuk mengusir si iblis tadi. Dan memang, setannya lalu meninggalkan Sara. Sara bahagia, suaminya bahagia, keluarganya juga bahagia, maka terbangunlah keluarga yang sejahtera.

Bacaan I tadi menjadi semacam gambaran bahwa hidup perkawinan itu seringkali mengandung tantangan yang berat. Lebih dari itu, setiap calon mempelai membawa egoisme, perbedaan-perbedaan serta kekurangan-kekurangan yang bila tidak dibuka, dibicarakan dan diatasi bersama, maka hal-hal tersebut bisa menjadi iblis yang merusak kebahagiaan hidup rumah tangga. Perlu diperhatikan bahwa masa perkawinan yang panjang yang sudah dilalui tidak bisa menjamin bahwa kesalahpahaman tidak akan terjadi dan bahwa iblis perusak tadi sudah benar-benar diusir pergi. Maka dari bacaan I tadi kita bisa belajar tentang 2 hal: Pertama, Tobia dan Sara menghadapi persoalannya secara bersama dalam keterbukaan. Hal itu bisa kita lihat dari inisiatif Tobia untuk mengajak Sara berdoa bersama. Dan hal yang kedua adalah, mereka berdua memohon campur tangan Tuhan untuk menolong mereka mengatasi segala tantangan dalam perkawinan. Sebab Allah sungguh menjawab doa mereka dan menolong mereka.

Maka kalau boleh saya rangkum menjadi 1 kata, pesan dari renungan malam ini hanyalah 1 kata: komunikasi. Ini berlaku baik komunikasi dengan Allah maupun dengan pasangan. Dan komunikasi ini bisa jadi akan menyangkut berbagai hal. Mulai dari soal mengurus anak, siapa mencari nafkah, pembagian tugas mengurus rumah, bahkan termasuk juga rekening bank, pin kartu kredit, slip gaji dan pesan-pesan yang tersimpan dalam handphone. Ini bukan berarti kebebasan atau privasi anda pribadi hilang, tapi ini merupakan konsekuensi dari hidup berkeluarga yang telah kalian pilih. Dan perlu kalian tanamkan juga, bahwa jika suami atau istri anda bertanya mengenai hal-hal itu, bukan karena ia curiga, melainkan karena ia mencintai anda. Sebab sebagaimana cinta tumbuh lewat komunikasi; keluarga pun hanya bisa bertahan dengan komunikasi. Jadi, selamat berkomunikasi dengan Tuhan, pasangan, dan anak-anak kita masing-masing.

Semoga Allah yang mahakuasa selalu memberkati kita semua. Amin.

Bacaan Pertama: Tobit 8:4b-9

Kemudian Tobia bangkit dari tempat tidur dan berkata kepada Sara: "Bangunlah, adinda, mari kita berdoa dan mohon kepada Tuhan kita, semoga dianugerahkan-Nya belas kasihan serta perlindungan." Maka bangunlah Sara dan mereka berdua mulai berdoa dan mohon, supaya mereka mendapat perlindungan. Mereka angkat doa sebagai berikut: "Terpujilah Engkau, ya Allah nenek moyang kami, dan terpujilah nama-Mu sepanjang sekalian abad. Hendaknya sekalian langit memuji Engkau dan juga segenap ciptaan-Mu untuk selama-lamanya. Engkaulah yang telah menjadikan Adam dan baginya telah Kaubuat Hawa isterinya sebagai pembantu serta penopang; dari mereka berdua lahirlah umat manusia seluruhnya. Engkaupun bersabda pula: Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja, mari Kita menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia. Bukan karena nafsu berahi sekarang kuambil saudariku ini, melainkan dengan hati benar. Sudilah kiranya mengasihani aku ini dan dia dan membuat kami menjadi tua bersama." Serentak berkatalah mereka: "Amin! Amin!" Kemudian mereka tidur semalam-malaman.

Bacaan Injil: Yohanes 15:9-13

Yesus berkata: ”Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Ku-katakan kepadamu, supaya sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

Sumber: http://sangmurid.blogspot.com/2014/04/renungan-ibadat-midodareni-pre-wedding.html

baca selanjutnya...

Minggu, 18 Agustus 2019

Novena Roh Kudus (untuk pribadi)

DOA PEMBUKAAN (selama 9 hari)

Tanda Salib
Datanglah Roh Kudus, penuhilah hati umatMu dan nyalakanlah di dalamnya api cintaMu. Utuslah RohMu maka semuanya akan dijadikan lagi, dan Engkau akan membaharui muka bumi.

Aku Percaya
(...sebutkan permohonan/ujud/intensi pribadi...)

HARI PERTAMA (KASIH)
“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1Yoh 4:8)

Ya Roh Kudus, sumber segala kasih, kebaikan, kebenaran dan kesucian. Engkau telah dianugerahkan Bapa dan Putra kepada kami, umatMu. Aku bersyukur atas kehadiranMu dalam diriku. Semoga segala anugerah yang Engkau curahkan dapat kutebarkan, membawa keharuman kasih dalam sikap dan tindakanku. Sempga juga kehadiranMu berupa Roh Kasih membawa kesegarand alam hidupku. Semoga aku dapat memancarkan kasihMu itu, sehingga orang-orang yang berjumpa denganku mengalami kasihMu yang tanpa syarat.

HARI KEDUA (SUKACITA)
“Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu” (Neh 8:11b)

Ya Roh Kudus, Engkau telah dicurahkan ke dalam hidup kami, umatMu sebagai pribadi dengan rahmat sukacita. Semoga Engkau senantiasa mendampingi, membimbing dan mengarahkan hidupku, sehingga suasana hatiku penuh kegembiraan, dan segala langkahku dapat berjalan seturut dengan kehendakMu. Limpahilah aku selalu dengan buah-buah RohMu, sehingga aku dapat membawa dan menularkan sukacita itu bagi orang-orang di sekitarku.

HARI KETIGA (DAMAI SEJAHTERA)
“Yang hatinya teguh Kau jagai dengan damai sejahtera, sebab kepadaMu-lah ia percaya” (Yes 26:3)

Ya Roh Kudus, Pembawa damai sejahtera, Pemersatu bagi yang tercerai-berai, penuhilah hatiku yang kadang merintih sedih. Pancarkanlah dalam hatiku suatu kebaikan, kegembiraan, sukacita dan damai sejahtera. Tolonglah aku agar tetap setiamembenamkan diri ke dalam kehangatan kasih setiaMu. Semoga karunia damai sejahteraMu membuat hatiku lebih lembut dan membawa damai bagi sesamaku.

HARI KEEMPAT (KESABARAN)
“Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan” (Amsal 14:29)

Ya Roh Kudus, jadikanlah aku umatMu yang dimerdekakan daya kuasaMu dan dipenuhi dengan Roh Kesabaran. Kuatkanlah aku dalam kelemahanku, sehingga aku dapat mewartakan kebaikan Allah dengan penuh kasih dan sukacita, Kobarkan nyala api RohMu agar aku tidak terbelengu oleh dosa-dosaku, jauhkan aku dari segala tipu daya roh jahat yang mendatangkan maut. Semoga kesabaranMu senantiasa menuntun aku untuk dapat menahan diri, selalu sabar, tidak cepat marah dan membawaku bertobat.

HARI KELIMA (KEMURAHAN HARI)
“Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri (Amsal 11:17)

Ya Roh Kudus, Jiwa kehidupan kami dan Roh yang jaya, berilah aku Roh Kemurahan yang berguna bagi hidupku. Dengan rahmat itu jadikanlah aku semakins etia, penuh kasih, tulus, ramah terhadap orang lain dan bertekun dalam membangun pengharapan dan persaudaraan di antara kami seturut kehendakMu. Rahmatilah aku dengan anugerahMu yang tanpa batas untuk selalu berbelarasa, sehingga hidupku menjadi subur dan menghasilkan buah-buah RohMu.

HARI KEENAM (KEBAIKAN)
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang disurga” (Mat 5:16)

Ya Roh Kudus, biarkanlah sinar kebenaran, keadilan dan kescian serta kemurnian terus menerus menguatkan hidupku dalam mengadapi saat-saat sulit. Curahkanlah karunia Roh KebaikanMu. Biarkanlah sumber terang kebenaran, kemurahan, dan kebaikanMu, senantiasa membimbing dan memimpin hidupku, agar hidupku selalu diperbaharui kembali dengan daya Kuasa RohMu untuk selalu melakukan pekerjaan baik dan amal kasih.

HARI KETUJUH (KESETIAAN)
“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Matius 25:21)

Ya Roh Kudus, berikanlah kepadaku semangat persaudaraan yang mendalam. Curahkanlah kembali Roh Kesetiaan, ketulusan dan kebijaksanaan sebagai kekuatan utama hidupku. Terimalah penyerahan diriku padaMu. Penuhilah budiku dengan kasih yang sejati, kemurnian cinta, dan kesetiaan yang tulus, sehingga aku dapat semakin menintaiMu dan sesamaku.

HARI KEDELAPAN (KELEMAH-LEMBUTAN)
“Berbahagialah orang yanng lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi” (Matius 5:5)

Ya Roh Kudus, perbaharuilah keajaiban-keajaibanMu pada hari ini. Datanglah kembali suatu Pentakosta baru. Buatlah kami para anggota GerejaMu agar selalu bersatu hati, bertekun dalam doa bersama Maria, Bunda Gereja. Naungilah GerejaMu dalam hidup berbangsa dan bernegara, agar kami anggotanya semakin mampu menjadi warga negara yang berbelarasa, rendah hati, bersahabat, dan bersaudara dengan siapa saja. Curahkanlah Roh kelemah-lembutan dalam diriku, agar aku menjadi semakin ramah dan murah hati pada mereka yang hidup bersamaku.

HARI KESEMBILAN (PENGUASAAN DIRI)
“Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup” (Roma 8:13)

Ya Roh Kudus, Engkau yang mengajar kami dan menerangi hati umatMu dengan terang IlahiMu. Berilah aku Roh penguasaan diri dalam segala sesuatu, agar semakin setia mengikuti PutraMu. Buatlah diriku menjadi orang yang selalu bijaksana, berbelas kasih dan membawa damai, sehingga hidupku semakin menjadi berkat bagi dunia, Gereja dan masyarakat.

DOA PENUTUP (selama 9 hari)
Ya Allah, Bapa yang Maha Kudus, aku bersyukur kepadaMu, karena Novena Roh Kudus ini. Kabulkanlah doa permohonanku dalam Novena ini (...sebutkan permohonan...). Semoga hidupku selalu memancarkan buah-buah Roh KudusMu itu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan hati, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, dan penguasaan diri. Buatlah aku agar semakin beriman dan berbela rasa. Bantulah aku agar lebih terlibat dalam membangun persaudaraan dan pelayanan kasih yang berkobar-kobar. Semoga Roh persaudaraan makin terwujud dalam persekutuan kasih persaudaraan Gereja, dan kami yang Kau persatukan mejadi saudara/i satu sama lain. Dan semoga GerejaMu dimampukan untuk menghadirkan datangnya Kerajaan Penyelamatan Ilahi di muka bumi ini serta menumbuhkan Kerajaan Ilahi, Kerajaan Cinta, Kebenaran, Keadilan, dan Damai. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

Doa Bapa Kami
Do Salam Maria (3x)
Kemuliaan
Terpujilah
Sumber: http://mylovehopeandfaith.blogspot.com/2013/05/novena-roh-kudus-untuk-pribadi.html

baca selanjutnya...

Jumat, 16 Agustus 2019

Bunda Maria Diangkat Ke Surga

Dogma ini menetapkan bahwa setelah Maria menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, ia diangkat ke surga secara utuh (badan dan jiwanya, Katekismus 966). Pengertian ‘pengangkatan’ Maria tidak bisa disamakan dengan kenaikan Yesus ke Surga. Harus kita bedakan antara ‘Kenaikan’ dan ‘Diangkat’. Yesus naik ke surga dengan kuasaNya sendiri karena Yesus adalah Tuhan. Sedangkan Maria adalah ciptaanNya yang diangkat ke surge oleh kuasa Tuhan.

Saya tidak habis berpikir mengapa dogma ini sering sekali diprotest. Apakah yang tidak ‘disukai’ dengan dogma ini? Siapa yang tidak setuju bahwa Maria diangkat secara utuh (jasad dan roh) ke surga?

Ternyata banyak orang yang protest karena mereka salah mengartikan ayat-ayat di 1 Kor 15:52-54.

1Kor 15:52 dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah.

1Kor 15:53 Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati.

1Kor 15:54 Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan.”

Dengan memandang ayat-ayat diatas, orang-orangini mengira bahwa jasad yang mati baru akandibangkitkan pada waktu kedatangan Yesus di akhirjaman. Pengertian seperti ini tidak sepenuhnyakeliru. Akan menjadi salah bila kita menguncipengertian kita sedemikian rupa sehingga Tuhantidak lagi memiliki ‘kebebasan’ untuk berkarya.Sebagai contoh, bila atas kehendak Tuhan, besokpagi semua orang yang mati dibangkitkan dandiangkat ke surga, siapa yang dapat berkata “Lho? Bukankah itu HARUS terjadi nanti sesudahYesus datang?”. Dengan cara berpikir seperti ini,sama saja kita telah mengecilkan ke-maha kuasa-anTuhan. Tentu pandangan seperti ini adalah sempitdan tidak sehat (lihat Mat 27:52-53).

Mat 27:52 dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.

Mat 27:53 Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.

Ini adalah bukti bahwa ada orang mati yang sudah diangkat ke surga jauh sebelum akhir jaman. Baca juga bagaimana Henokh diangkat ke surga dalam kitab Kej 5:2.

Kej 5:24 Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.

Ibr 11:5 Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.

Henokh diangkat ke surga sewaktu dia masih hidup. Dan penjelasan yang lebih mendalam mengenai pengangkatan Henokh yang terdapat dalam PB merupakan satu lagi bukti bahwa pengertian tipelogi adalah sangat penting. Dengan pengertian tipelogi Alkitab menunjukkan bahwa Maria diangkat ke surga secara utuh. Apabila Henokh sudah memenuhi syarat hingga Tuhan mengangkatnya ke surga, tentu Maria jauh lebih memenuhi syarat dibanding Henokh.

Bila kita membaca 2 Raj 2:11, kita juga akan menemukan bahwa Elia juga diangkat ke surga.

2Raj 2:11 Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai.

Jadi sekali lagi kita diingatkan bahwa bila Tuhan bisa memilih untuk mengangkat Henokh dan Elia ke surga, apa yang tidak dapat dimengerti bila Yesus telah mengangkat ibu-Nya sendiri ke surga? Bila Tuhan telah menjaga keperawanan Maria agar Maria tetap sempurna, mengapa Tuhan tidak menjaga keuTuhan jasad Maria dan mengangkatnya dalam keadaan utuh ke surga? St. Yohanes menceritakan kepada kita apa yang dilihatnya di surga dalam kitab Wahyu bab 11 dan 12 dimana St. Yohanes melihat Tabut Allah (Peti Perjanjian) dan juga Maria dengan jubah matahari. Apa maksud St. Yohanes menuliskan wahyu ini (Why 11:19, 12:1,17)?

Why 11:19 Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat.

Why 12:1 Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.

Why 12:17 Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.

St. Yohanes telah memberikan kesaksian bahwa Peti Perjanjian dan Maria SUDAH berada di surga! Ingat bahwa Maria adalah Peti Perjanjian Baru.

Keterangan:
Tulisan ini adalah salinan dari Chapter IV buku "Maria Dalam Kitab Suci" karya Tony Bamboe.

Sumber: http://katolisitas-indonesia.blogspot.com/2012/08/bunda-maria-diangkat-ke-surga.html

baca selanjutnya...

Kamis, 15 Agustus 2019

Secangkir Kopi Pagi: Hal Pengampunan

Selamat pagi sahabatku, semoga kita semua senantiasa dikaruniai kesehatan, kedamaian, dan kesejahteraan.

Sahabatku yang dikasihi Tuhan, bacaan Injil pagi ini yang diambil dari Injil Matius mengingatkan kita agar kita saling mengasihi dan saling mengampuni sesama kita. Sebagai murid Tuhan Yesus, semoga kita mampu melaksanakan perintahNya.

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”
Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:21-35)

Marilah berdoa:
Tuhan Yesus, curahkanlah Roh cinta kasihMu ke dunia khususnya kepada bangsa kami yang sebentar lagi akan merayakan hari kemerdekaan. Semoga kami mampu menghargai perbedaan dan senantiasa mengembangkan sikap saling mengampuni dan saling mengasihi.
Amin.

Selamat pagi sahabatku, selamat beraktivitas.
Tuhan Yesus memberkati.

baca selanjutnya...

Rabu, 14 Agustus 2019

Devosi, Pengembang Spiritualitas Umat Beriman

Oleh: Alexander Ivan P.P,dkk.

Pengantar
Tentu kita tidak asing lagi dengan istilah ‘devosi’. Sejak kecil secara tidak sadar kita telah diajarkan untuk berdevosi baik itu kepada Yesus, Bunda Maria atau pun orang kudus. Dalam devosi kepada Yesus, para kudus atau Santa Maria, kita biasanya diajak untuk memohon pertolongan seperti antara lain: penyembuhan , keberhasilan pekerjaan, jodoh, lulus ujian, tambahan penghasilan, pertobatan, bebas dari hama, wabah, perang dan bencana alam. Akan tetapi, apakah kita mengetahui makna sesungguhnya dari devosi ini? Bagaimana menyikapi kebiasaan-kebiasaan devosional yang sering dilakukan apabila berhadapan dengan liturgi Gereja? Paper ini akan secara ringkas menjawab dua pertanyaan tersebut.

Pengertian Devosi
Devosi itu berasal dari bahasa latin yang berarti penghormatan. Dalam Direktorium Tentang Kesalehan Umat Dan Liturgi. Asas-Asas Dan Pedoman, yang diterbitkan Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen no 8, istilah devosi digunakan untuk melukiskan “aneka kebiasaan eksternal (misalnya doa, madah, kebiasaan yang dikaitkan dengan waktu atau tempat tertentu, panji-panji, medali, busana, atau kebiasaan. Dijiwai oleh sikap iman, kebiasaan-kebiasaan eksternal seperti ini mengungkapkan hubungan khusus kaum beriman dengan ketiga Pribadi Ilahi; juga hubungan mereka dengan Santa Perawan yang mendapat karunia istimewa dan gelar-gelar yang mengungkapkan karunia itu, orang-orang kudus yang sudah berbahagia seperti Kristus yang memiliki peran khusus dalam kehidupan Gereja”.

Sejarah Perkembangan Devosi
Devosi tampaknya sudah berkembang dalam Gereja sejak awal. Di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, kita dapat melihat kegiatan devosional seperti kisah perziarahan umat Israel ke Bait Allah. Sekitar tahun 150, umat mulai menyertakan para martir dalam kebaktian. Bahkan sejak abad II, patung dan gambar Kristus dipasang pada kuburan dan tempat berdoa. Selanjutnya sekitar tahun 200, berkembang devosi rakyat secara khusus kepada para martir, yang rupanya semakin kurang tertuju kepada Allah. Selama abad IV sampai dengan abad VI, muncul kebiasaan ziarah ke makam para martir. Patung dan gambar orang kudus semakin besar peranannya dan dihormati. Sejak abad VII sampai zaman pertengahan, devosi berkembang pesat, bahkan tanpa kendali. Secara khusus sejak abad XIII, devosi kepada Santa Maria cenderung menjadi liar.

Macam-macam Devosi
Hingga saat ini, kita dapat melihat banyak macam devosi yang biasanya dikelompokkan dalam dua jenis menurut objek yang didevosikan yakni, devosi kepada Yesus Kristus dan kepada Orang Kudus termasuk Maria. Walaupun begitu ada pula macam devosi di luar dua kelompok besar tersebut. Antara lain: devosi kepada Tritunggal Mahakudus, devosi kepada Roh Kudus, devosi kepada Para Malaikat, devosi kepada jiwa-jiwa di api penyucian, devosi kepada Gereja dan Bapa suci.

Kita dapat melihat tiga kelompok besar devosi dalam Puji Syukur.[3] Devosi kepada Yesus, jika kita hitung di dalam Puji Syukur jumlahnya sembilan buah. Devosi kepada Orang Kudus ada sepuluh buah. Itu pun belum termasuk doa-doa yang diletakkan di luar kelompok tersebut, seperti doa Malaikat Tuhan dan Ratu Surga yang biasa didoakan 3 kali sehari (setiap jam enam pagi, siang dan sore).

Kesalehan yang Merakyat
Devosi merupakan salah satu sarana selain Liturgi yang bertujuan untuk meningkatkan spiritualitas umat beriman. Spiritualitas umat beriman itu adalah suatu kesadaran akan kehadiran Roh Allah dalam diri orang beriman, dengan demikian batin orang terarah kepada Allah dalam melaksanakan panggilan hidup sesuai dengan nilai-nilai Injil. Di sini terlihat sisi religiositas dari kegiatan devosional. Dengan melakukan kegiatan devosional dalam bentuk ulah kesalehan seperti yang telah ditunjukkan macam-macamnya di atas, kehidupan spiritualitas umat mendapat tempatnya untuk bertumbuh selain dalam liturgi.

Di dalam SC. art. 12-13 dijelaskan bahwa hidup rohani tidak tercakup seluruhnya dengan hanya ikut serta dalam liturgi. Oleh karena manusia Kristiani, yang memang dipanggil untuk berdoa bersama, harus memasuki biliknya juga untuk berdoa kepada Bapa ditempat yang tersembunyi. Bahkan menurut amanat Rasul (Paulus), umat beriman harus berkanjang dalam doa (1Tes.5:17). Oleh karena itu, di luar liturgi, seluruh umat Kristiani hendaknya mengembangkan ulah kesalehannya. Dalam melaksanakan ulah kesalehannya umat Kristiani juga perlu menyesuaikannya dengan dengan hukum-hukum dan norma-norma gereja; hal ini sangat dianjurkan terutama bila dijalankan atas penetapan takhta apostolik.

Devosi merupakan gerakan yang merakyat karena telah berkembang pesat di kalangan umat beriman khususnya para awam. Timbulnya gerakan kesalehan ini tidak terlepas dari refleksi iman umat akan karunia Allah dalam hidup mereka. Melalui gerakan devosional ini umat beriman berupaya untuk menerjemahkan karunia Allah ke dalam hidupnya sendiri sekaligus mewartakannya. Umat berupaya memberikan kesaksian tentang iman yang telah diterimanya dan memperkayanya dengan ungkapan-ungkapan baru dan fasih. Dapat dikatakan bahwa gerakan kesalehan yang merakyat ini merupakan ungkapan sejati kegiatan perutusan yang spontan dari umat Allah yang didorong oleh Roh Kudus; Roh Kuduslah pelaku utamanya. Inilah yang menurut Paus Fransiskus I sebagai usaha umat beriman di suatu bangsa untuk terus menerus mengevangelisasi dirinya sendiri.

Dijiwai sikap iman, kebiasan-kebiasaan ulah kesalehan seperti ini mengungkapkan hubungan khusus kaum beriman dengan Ketiga Pribadi Ilahi; juga hubungan mereka dengan Santa Perawan Maria juga orang-orang kudus yang sudah berbahagia. Hal ini dapat dilihat dari macam-macam devosi yang telah ditunjukkan sedikit di atas. Melalui devosi, umat secara terus-menerus memperdalam iman kepercayaan mereka dan mempererat hubungan mereka dengan Tritunggal Mahakudus. Lagi pula, dengan berdevosi kepada para kudus dan Santa Perawan Maria, umat beriman memperoleh rahmat untuk mempererat hubungannya dengan Allah Tritunggal; sesuai dengan gelar Maria sang pengantara (mediatrix) kita diantar kepada Putranya Yesus Kristus dalam persekutuannya dengan Bapa dan Roh Kudus.

Begitu pula ulah kesalehan lain yang khas bagi gereja-gereja setempat memiliki makna istimewa bila dilakukan atas penetapan para uskup menurut adat kebiasaan buku-buku yang telah disahkan. Akan tetapi, sambil mengindahkan masa-masa liturgi, ulah kesalehan perlu diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan liturgi suci, sedikit banyak harus bersumber pada liturgi dan mengantar umat kepada liturgi sebab menurut hakekatnya liturgi memang jauh lebih unggul dari semua ulah kesalehan itu.

Walaupun banyak manfaat yang diperoleh umat dengan berdevosi, tidak sedikit pula kritik ditujukan kepada kegiatan devosional. Pertama, banyak umat tidak dapat membedakan doa rosario dengan ekaristi. Barangkali umat tidak sadar bahwa Ekaristi nilainya lebih tinggi dibanding doa rosario. Kedua, kita diajak untuk waspada terhadap praktek-praktek ziarah dan novena yang sering bergandengan dengan turisme. Berikut ini akan kita lihat bagaimana seharusnya gerakan devosional yang kita lakukan di hadapan Liturgi dan bagaimana kita seharusnya merefleksikan kegiatan ziarah agar terhindar dari turisme semata.

Keunggulan Liturgi dari Devosi
Devosi, dapat dikatakan sifatnya turunan dari Liturgi. Dengan demikian, devosi haruslah seolah-olah mengantar umat kepada Liturgi. Hal ini dikarenakan Liturgi adalah puncak yang dituju oleh kegiatan Gereja dan serentak sebagai sumber asal semua kekuatan Gereja. Oleh karena itu, devosi haruslah ditata sedemikian rupa agar terlihat perannya sebagai pengantar umat kepada Liturgi; menunjukkan hakekat liturgi yang jauh mengungguli devosi dan tidak sebaliknya.

Devosi yang benar seharusnya mengantarkan umat kepada penghayatan yang mendalam akan tujuh sakramen Gereja, khususnya perayaan Ekaristi. Melalui devosi ini, umat dibantu dalam menghayati makna simbolis dari sakramen-sakramen. Melalui devosi, umat diajak untuk terus menggali makna yang terdalam dari sakramen-sakramen khususnya sakramen Ekaristi. Oleh karena itu penting untuk diketahui, “kegiatan adorasi di luar misa memperpanjang dan mengintensifkan segala yang terjadi dalam perayaan Ekaristi sendiri.”

Makna ziarah dan tempat ziarah
Ziarah merupakan fenomena religius yang umum. Ziarah dipandang umat beriman sebagai jalan pemenuhan iman rohani pada dirinya sehingga ziarah merupakan bagian yang paling penting untuk dijalankan. Dalam sejarahnya gereja memahami bahwa ziarah merupakan jalan tobat, olah askes, dan puasa. Ziarah dipandang umat beriman sebagai ungkapan iman akan makna gereja yang harus berjalan ke tanah air surgawi.

Dalam berbagai kesempatan, umat beriman memiliki cara pandang yang berbeda tentang ziarah. Umat beriman berpandangan bahwa tempat-tempat ziarah memiliki sesuatu yang paling bermakna yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan camping-camping rohani. Tempat-tempat ziarah seperti merupakan tempat yang keramat bagi umat beriman yang dikuduskan bagi umat kristiani, seperti tanah suci (tempat di mana Yesus lahir, hidup dan wafat), Roma (tempat Paulus menjadi martir) dan Santiago de Compostella (tempat makam Santo Jakobus berada). Sekarang pun telah berkembang tempat-tempat ziarah lokal seperti sendang sono, sriningsih dan sebagainya. Sama seperti bentuk devosi yang lain, ziarah merupakan suatu ulah kesalehan yang dilakukan umat beriman untuk mengembangkan spiritualitas mereka. Seperti yang dikawatirkan Romo Jacobus, kita harus waspada kalau-kalau suatu ziarah merupakan kegiatan turisme biasa. Kadang kala kita dapat terjebak dalam pelbagai macam maniulasi ziarah; di mana nilai dari kegiatan ziarah hanya dirasakan sebagai rekreasi semata bahkan hanya dimaknai sebagai sumber penghasilan ekonomi.

Penutup
Devosi sebagai sarana untuk meningkatkan spiritualitas umat telah hidup dan berkembang sejak awal sejarah kekristenan. Devosi ini berkembang sejalan dengan perkembangan refleksi umat atas imannya akan Allah. Melalui gerakan devosional ini umat beriman berupaya untuk menerjemahkan karunia Allah ke dalam hidupnya sendiri sekaligus mewartakannya. Oleh karena itu, devosi haruslah mengantarkan umat kepada liturgi dimana karunia Allah Tritunggal dihadirkan dalam sakramen-sakramen khususnya sakramen Ekaristi. Dengan demikian, dapat dikatakan pula bahwa kegiatan adorasi di luar misa memperpanjang dan mengintensifkan segala yang terjadi dalam perayaan Ekaristi sendiri.

Daftar Pustaka
Martasudjita, E. Pr. Pengantar Liturgi:Makna, Sejarah, dan Teologi Liturgi. Kanisius:Yogyakarta, 1999
Tarigan, Jacobus, Pr. Ritus Kehidupan. Cahaya Pineleng: Jakarta, 2011.
Harun, Martin, OFM., T.Krispurwana Cahyadi, SJ. (editor). Evangelii Gaudium. Edisi Indonesia. Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI:Jakarta. 2014.
Joseph Ratzinger. Sacramentum Caritatis. Edisi Indonesia. Komisi Liturgi KWI:Jakarta. 2007.

Sumber: http://fraterxaverian.org/blog/2017/11/18/devosi-pengembang-spiritualitas-umat-beriman/

baca selanjutnya...

Selasa, 13 Agustus 2019

Devosi kepada Bunda Maria dalam tradisi iman Gereja Katolik

Pengertian DEVOSI

Devosi bukanlah liturgi. Devosi adalah suatu sikap bakti yang berupa penyerahan seluruh pribadi kepada Allah dan kehendak-Nya sebagai perwujudan cinta kasih, Atau yang lebih lazim: devosi adalah kebaktian khusus kepada berbagai misteri iman yang dikaitkan dengan pribadi tertentu: devosi kepada sengsara Yesus, devosi kepada Hati Yesus, devosi kepada Sakramen Mahakudus, devosi kepada Maria, dan lain-lain.

Semua devosi harus diatur sedemikian rupa sehingga selaras dengan liturgi kudus: sesuai dengan nuansa liturgi, bersumber pada liturgi, dan mengantar umat kepada liturgi, sebab menurut hakekatnya liturgi jauh mengungguli semua bentuk devosi (lihat: KL13).

Tujuan dari devosi antara lain:
menggairahkan iman dan kasih kepada Allah;
mengantar umat pada penghayatan iman yang benar akan misteri karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus;
mengungkapkan dan meneguhkan iman terhadap salah satu kebenaran misteri iman; memperoleh buah-buah rohani.

Definisi dan inti Devosi kepada
Bunda Maria dalam tradisi Iman Gereja Katolik.

I. DEFINISI:
Devosi Marial (hyperdulia) adalah seluruh kebaktian kepada Maria Ibu Yesus dari Nazaret dalam bentuk puji-pujian, kagum, hormat dan cinta dengan meneladani cara hidupnya sambil memohon bantuan pengantaraan doanya bagi Gereja yang masih sedang dalam perjalanan ziarah menuju persatuan dengan Allah di tanah air surgawi (bdk.LG No. 66) Setelah mendapat khabar gembira dari Malaikat Tuhan (Lukas 1:26-38), Maria amat bersukacita dan bernubuat: “Yes, from this day forward all generations will call me blessed, for the Almighty has done a great things for me” (Lukas 1:48).

Secara singkat kita dapat menyebut beberapa alasan pokok mengapa Maria dapat dihormati khusus dan dapat dimintakan pengantaraan doanya oleh umat beriman: Pertama, Maria dipilih Tuhan secara istimewa untuk menjadi Bunda Tuhan Yesus Kristus juru selamat manusia. Pemilihan yang istimewa ini sangat dirasakan akibatnya yang membahagiakan oleh Gereja sepanjang masa.

Kedua, seperti yang dijelaskan oleh Lumen Gentium No.62, keibuan Maria dalam tata rahmat berlangsung terus tanpa putus, mulai dari persetujuan yang diberikannya dengan setia pada saat menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel dan yang dipertahankannya tanpa ragu sampai di kaki salib sampai kepada kesempurnaan abadi semua orang beriman. Karena setelah diangkat ke surga, Maria tidak meninggalkan tugas ini, melainkan melanjutkannya melalui peraantaraan limpah dengan memberikan kita anugerah keselamatan abadi. Hal itu menunjukkan bahwa peran Maria dalam tata penyelamatan tetap aktual sepanjang sejarah Gereja tanpa terhenti oleh hilangnya Maria secara fisik dari panggung sejarah dunia. Karena itu Maria sungguh melebihi segala makluk di surga maupun di bumi, dan keunggulan ini sekaligus menjadi alasan bagi umat beriman untuk memuji, mencinta khusus, mengagumi dan menghormati Maria sambil meneladani dan memohon bantuan pengantaraan doanya pada Allah.

II. INTI DEVOSI KEPADA MARIA:
Kalau diperiksa dengan teliti, maka kita akan menemukan tiga elemen yang membentuk kesatuan inti devosi kepada Maria, yaitu: puja-puji Maria, mencontoh Maria dan memohon bantuan pengantaraan doa Maria.

Memuji Maria
Puja-puji merupakan salah satu elemen inti devosi kepada Maria. Kitab Suci sendiri mencatat pujian Elisabet dan anak dalam rahimnya sebagai pujian paling pertama bagi Maria: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai IBU TUHANKU datang mengunjungi aku?…anak di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia yang telah percaya” (Luk 1:42-45). Dalam devosi marial, umat beriman, sama seperti dilakukan Eliabeth dan anak dalam rahimnya, mengagumi dan menghormati Maria karena perannya menjadi ibu Tuhan, Bunda Mesias. Bunda Maria dipuji karena karya agung Allah dalam diriNya. Maria tidak dihormati seakan dia berprestasi atas usaha-usahanya sendiri, melainkan karena di dalam dia Allah berkarya secara luar biasa St. Chrisostomus memberikan contoh tentang bagaimana dan apa alasan Maria dipuji: “Sungguh pantas dan wajarlah kami memuji dikau, o Bunda Allah yang amat kudus, suci murni dan bunda Tuhan kami. Kami menghormati engkau yang seharusnya dipuji melebihi Kerubim dan Seraphim. Engkau yang tanpa kehilangan keperawananmu melahirman Sabda Tuhan. Engkaulah sungguh-sungguh Bunda Allah.

Mencontoh Maria
Dalam devosi marial, kita tidak hanya cukup sampai pada sikap heran, kagum dan puji Maria karena karya Agung Allah dalam dirinya, tapi kita, umat beriman juga harus mencontohi Maria sebagai citra dalam hal iman, cintakasih persatuan yang sempurna dengan Kristus. Gereja mengajarkan bahwa Maria adalah typos Gereja (gambaran Gereja), gambaran umat beriman dalam perjalanan menuju Allah. Itu berarti dalam usaha menjawab panggilan Allah, kita bisa belajar pada Maria tentang bagaimana menjawab panggilan Allah dan hidup seturut firmanNya, tentang bagaimana mengikuti Yesus secara sempurna, dan bagiamana melaksanakan kehendak Allah dengan setia.

Memohon pengantaraan doa Maria:
Di samping memuji dan mencontohi berbagai keutamaan Maria, umat beriman dapat berdoa kepada Maria. Akan tetapi diusahakan sekian sehingga doa-doa itu tidak bercorak seakan-akan Maria dapat menganugerahi sesuatu tanpa diketahui Allah sendiri. Doa kepada Maria lebih berarti DENGAN ALLAH. Tentang ini St. Thomas Aquninas menjelaskan, doa dalam artinya sebenarnya memang hanya ditujukan kepada Allah karena hanya Allah yang patut disembah. Selain itu doa kita dimaksudkan untuk memperoleh rahmat yang hanya bisa diberikan oleh Allah seorang diri. Tapi kalau doa-doa kita ditujukan kepada para malaikat dan orang kudus, maka hal itu terjadi karena mereka sudah dipersatukan secara erat dengan Allah dan doa-doa kita akan menjadi lebih efektif melalui doa-doa dan jasa kepengantaraan mereka. Jadi para kudus sendiri tidak mengabulkan doa kita, tapi mereka dapat mendoakan kita pada Allah, atau menyampaikan doa-doa kita kepada Allah.

III. MACAM-MACAM GEJALA PRAKTEK DEVOSI MARIAL:
Berdasarkan alasan-alasan di atas, maka diperkirakan bertumbuhlah kepercayaan akan perlindungan Maria dan bentuk-bentuk devosi kepadanya, seperti:

A. Doa kepada Maria:
Seperti Doa Salam Maria, Sabtu sebagai Hari Maria dan Mei sebagai Bulan Maria.
Doa Salam Maria:
Doa salam Maria berasal dari Salam Malaikat Gabriel (Lk 1:28) dan pujian Elisabet (Lk 1:42). ada abad ke-VI untuk pertama kalinya di Gereja Timur (Yunani) “Salam Malaikat Gabriel dan pujian Elisabeth” digabungkan: “Salam Maria penuh rahmat. Tuhan sertamu. Terpujilah Engkau di antara semua wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus”. Rumusan doa ini dijadikan sebagai doa antiphon dan didaraskan secara berulang-ulang. Baru setelah beberapa tahun kemudian, antiphon yang berasal dari salam malaikat dan Elisabeth ini disatukan dengan doa permohonan Gereja (umat beriman): “Santa Maria Bunda Allah, doakan kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati. Amin.”

Sabtu sebagai Hari Maria:
Pada abad yang sama (IV) Hari Sabtu juga dipersembahkan kepada Maria untuk mperingati kedukaan Maria yang sangat dalam atas kematian PuteraNya Yesus Kristus.

Mei sebagai Bulan Maria:
Mei masih merupakan bagian musim semi untuk Eropa. Karena itu umat Eropa dulu mempersembahkan bulan Mei kepada Maria agar bunga-bunga yang bersemua pada bulan ini mendorong kita untuk merenungkan kelimpahan harta rohani Bunda Maria. Seperti bunga-bunga musim semi menghiasi bumi, demikian juga umat beriman diharapkan secara alamiah bagai bunga-bunga bersemi menghormati maha pencipta bersama Maria.

B. Empat Antipon Utama Maria:
1. Alma Redemtoris Mater:
dinyanyikan pada masa Adventus.
dalam lagu ini Maria dipuji sebagai “gerbang surga dan bintang laut” karena menerima salam malaikat Gabriel dan akan melahirkan penebus manusia.

2. Ave Regina Caelorum
dinyanyikan sejak masa natal sampai pekan suci.
Isinya: semacan ajakan atau rayuan umat beriman agar Maria sudi bergembira bersama Gereja atas karunia penebusan melalui Yesus Kristus.

3. Regina Caeli
dinyanyikan pada masa paska.
Isinya: ajakan umat beriman agar Maria bergembira bersama Gereja atas kebangkitan Puteranya Yesus Kristus dari kematian

4. Salve Regina:
dinyanyikan pada masa biasa setelah masa paska sampai sebelum adventus.
Isinya: maria dipuji sebagai bunda pemurah, dan harapan umat beriman. Maria diyakini sebagai pembela umat beriman pada pengadilan terakhir di hadapan Kristus sebagai Hakim pada akhir jaman.

C. Litani St. Maria:
Dalam doa litani, Maria diberi gelar dan nama yang bermacam-macam, dan kemudian dia dipuji berdasarkan gelar-gelar itu.

IV. DOA ROSARIO DAN SEJARAHNYA:
Definisi:
Doa Rosario: doa kepada atau melalaui Maria dengan mendaraskan 150 kali Salam Maria sambil merenungkan peristiwa-peristiwa inti hidup Yesus dan Maria sambil menghitung biji rosario (to keep truck).

Rosario dalam sejumlah agama:
Kebiasaan berdoa dengan menggunakan hitungan biji-bijian sudah sangat tua usianya.
Orang peru kuno sudah memakai hitungan manil-manik dalam doa mereka.
Di Ninive (abad IX BC) ditemukan angka pahatan yang memperlihatkan sebuah untaian manik-manik.
Orang Islam, Hindu, Bunda di Cina, India dan Jepang sudah lama mengenal kebiasaan berdoa sambil memakai hitungan biji-bijian.
Umat Islam khususnya mengenal doa yang disebut “doa tasbih”, yaitu doa yang terdiri atas sebuah untaian 99 butir untuk menyebut nama Allah yang Mahaesa.
Tasbih yang sama sudah ada pada umat Kristen Timur (Yunani) sejak lama yang mengulang-ulang doa pendek tertentu dengan menyebut nama Allah dan Yesus Kristus.
Rangkaian doa tasbih ditemukan dalam kubur Santa Getrudis dari Nivella pada abad yang ke IV.
Para pertapa di padang gurung dulu juga biasa memakai hitungan biji tasbih dalam doa mereka. Para pertapa itu mempunyai sebuah bakul yang berisikan kelereng yang berfungsi untuk menghubungkan doa-doa mereka yang mereka ucapkan setiap hari.
Itu berarti, pemakaian hitungan biji tasbih dalam doa-doa sudah sangat tua usia nya dan merupakan suatu gejala umum pada setiap agama, dan umumnya bertujuan untuk MENGHITUNG DOA-DOA TERTENTU SEHINGGA MUDAH DIDARASKAN BERSAMA DAN UNTUK MENCIPTAKAN KONSENTRASI WAKTU BERDOA.

Doa Rosario pada Abad Pertengahan:
“Rosario” berasal dari kata bahasa Latin “rosa”, artinya “bunga mawar”. Sedangkan “rosario” artinya “rangkaian atau untaian karangan bunga mawar”. Di Eropa dulu (dan sampai sekarang), bunga mempunyai arti yang sangat penting. Bunga bisa diberikan kepada seseorang sebagai tanda cinta, sayang atau hormat.Pada abad pertengahan khususnya, seorang hamba mempunyai kebiasaan merangkaikan karangan bunga mawar untuk kemudian dipersembahkan kepada tuannya. Diperkirakan bahwa umat Kristen pada zaman ini secara imitatif mengambil alih kebiasaan ini. Dalam devosi kepada Maria, umat Kristen menyadari diri sebagai hamba-hamba Maria.
Lalu sebagai pelayaan Maria, mereka merangkaikan bunga mawar (wreaths and crowns of roses) untuk dipersembahkan kpd Maria. Demikianlah devosi marial pada abad pertengahan berpusat pada simbol bunga mawar. Caranya: Umat Kristen merangkaikan bunga mawar itu semacam mahkota, lalu meletakannya di rumah ibadat di depan gambar atau patung St. Maria. Dalam proses merangkaikan bunga mawar itu, mereka mengucapkan litani pujian kepada Maria. Dengan itu tidak terlalu sulit untuk memahami bahwa biji tasbih atau mani-manik yang sekarang lebih dikenal dengan nama BIJI ROSARIO merupakan perkembangan untaian mahkota bunga mawar itu.

Hubungan Doa Rosario dan 150 Mazmur Daud:
Pada mulanya doa Gereja perdana berpusat sekitar 150 mazmur Daud. Pada jaman Renainsance pada umumnya umat beriman, yang dapat membaca, memiliki buku doa mazmur. Pada rahib biasanya membagi 150 mazmur itu atas tiga bagian berdasarkan atas tiga pembagian waktu doa yaitu pagi, siang dan malam., sehingga menjadi 3 kali 50 mazmur. Sedangkan umat beriman, yang tidak dapat membaca, dapat mendaraskan 150 kali Doa Bapa Kami dan Salam Maria sebagai ganti 150 mazmur Daud ( 3 kali 50) dalam waktu sehari. Dan untuk menjamin konsetrasi dalam berdoa, mereka memakai bantuan hitungan tasbih. Dengan demikan, pada mulanya doa rosario menjadi doa pengganti doa mazmur bagi saudara-saudara yang tidak dapat membaca. Sebab itu, waktu kerap kali doa Rosario disebut “Kitab mazmur Maria” (the Psalter of Our Lady). Doa Rosario dalam paralelitasnya dengan doa Mazmur dapat dirincikan sebagai berikut:
“Bapa Kami” sebagai pengganti Antiphon mazmur,
Sepuluh kali doa “Salam Maria” berperan sebagai pengganti pendarasan Mazmur,
dan “kemuliaan kepada Bapa…” berperan sebagai doa tanggapan.

Bulan Oktober sebagai Bulan Rosario:
Semangat dan minat umat Kristen Katolik terhadap doa rosario mendorong sejumlah Paus untuk menetapakan bulan Oktober sebagai bulan Rosario. Paus Leo XIII secara resmi yang secara resmi menetapkan bulan Oktober sebagai bulan rosario, menulis: “Kepada Bunda Surgawi ini kita telah persembahkan kembang-kembang mawar pada bulan Mei, maka kepadanya kita juga hendak mempersembahkan paneh buah-buahan yang berlimpah bulan Oktober dengan hati yang penuh ikhlas.” Pada tahun 1883, dalam Eksikliknya “Supremasi Apostolatus” Paus Leo XIII menetapkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario bagai semua Gereja Kristen Katolik. Pada tahun 1885 malah Paus ini mengatakan bahwa umat dapat memperoleh indulgensi dengan berdoa Rosario pada bulan Oktober. Dalam sebuah suratnya, Paus Leo XIII lagi-lagi mengijinkan para petani, yang pada umumnya sangat sibuk mengumpulkan panenan pada bulan Oktober, untuk menunda berdoa Rosario pada bulan November atau Desember.
doa rosario dan Tarekat Dominikan: Ada yang berpendapat bahwa Doa Rosario ditemukan (diciptakan) oleh Tarekat Dominikan di bawah pimpinan Alanus De Rupe. Pendapat ini tidak benar seluruhnya. Tapi yang jelas bahwa dalam sejarah Gereja, Tarekat Dominikan dikenal berjasa dalam menyebarluaskan dan mempopulerkan Doa rosario di sebagian besar wilayah Eropa pada Abad Pertengahan. Pada tahun 1470 Alanus de Rupe (Dominikan) mendirikan sebuah Tarekat Religius bernama “Serikat Mazmur Yesus dan Maria” (Conferternity of the Psalter of Jesus and Mary”. Di dalam dan melalui tarekat ini Alanus de Rupe menunjukan semangat dan kecintaannya yang sangat besar kepada Bunda Maria.Pada abad yang sama di Eropa, terutama di Perancis dan Italia, munculah sebuah kelompok heretis yang disebut Kaum Albigensis. Malalui kothbah yang berapi-api dan semangat doa yang tinggi, termasuk secara khusus doa-doa kepada Bunda Maria, Alanus de Rupe dan kaum biarawan Dominikan lainnya berhasil mentobatkan kaum Albigensis dan membawa mereka kembali kepada ajaran Gereja yang benar.

Rm. Alex Jebadu, SVD

Sumber: https://spiritualitaskatolik.wordpress.com/2017/05/27/devosi-kepada-bunda-maria-dalam-tradisi-iman-gereja-katolik/

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP