%">PS "GITA BAKTI HERKULANUS" berlatih tiap Minggu sore

Kamis, 31 Maret 2011

Spiritualitas Prodiakon : Nasehat Sikap Hidup Prodiakon

Sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa, tidak seorang pun manusia yang sempurna atau dapat mencapai kesempurnaan. Hal ini mencakup juga orang-orang yang ditebus Tuhan, termasuk para pemimpin atau pelayan Tuhan dalam gereja.

Oleh karena itu kesempurnaan bukan tuntutan bagi Prodiakon. Jika dituntut maka tidak seorang pun layak dan dapat menjadi Prodiakon. Meskipun demikian bukan berarti sembarang orang dapat diangkat sebagai Prodiakon. Hal ini perlu diperhatikan, karena para Prodiakon adalah contoh hidup bagi jemaat. Atau dapat dikatakan bahwa Prodiakon adalah alat peraga Tuhan untuk mengajar para anggota jemaatNya. Di dalam Kitab Suci ditemukan syarat-syarat tertentu bagi para diakon jemaat yang didirikan oleh Paulus. Dalam arti tertentu, syarat atau tuntutan tersebut dapat diterapkan kepada Prodiakon. Paulus menuliskan hal ini dalam 1 Timotius 3:8-13, yang kiranya baik kita jadikan bahan permenungan dan refleksi.

Dikemukakan antara lain, bahwa seorang diakon/prodiakon adalah:

1. Orang yang terhormat (1 Timotius 3:8), maksudnya:
• orang yang menghargai hal-hal rohani
• hidup kerohaniannya tidak dangkal
• mempunyai tujuan hidup yang sesuai dengan iman kristiani
• dapat bersikap serius walaupun kadang kala bisa juga bersenda gurau
• bersikap dewasa dan memiliki wibawa.

2. Pembicara yang jujur (1 Timotius 3:8)
Perlu memiliki kejujuran dalam berbicara, tidak terlalu mudah berjanji. Tetapi bila ia berjanji, ia akan menepatinya. Harus mempunyai prinsip: ya adalah ya, tidak adalah tidak. Bukan seorang yang bercabang lidah atau plin-plan. Senang gosip, pembicaraan yang sia-sia, bohong, fitnah, membuka rahasia pribadi orang tidak boleh melekat pada dirinya. Ia hendaknya seorang yang tahu menyampaikan berita yang bermanfaat, bukan yang sensasional. Hal ini perlu diperhatikan karena berita negatif dapat membuat seseorang atau beberapa orang mendapat malu.

3. Bukan seorang peminum (1 Timotius 3:8)
Cara hidup seorang Prodiakon menjadi perhatian anggota jemaat. Bahkan mata semua orang tertuju kepadanya. Sebab itu ia harus hidup bebas dari ekses-ekses yang dapat menjatuhkan martabatnya di mata masyarakat luas. Salah satunya adalah suka minuman keras. Ia harus menjauhkan diri dari mabuk-mabukan. Paulus memberi nasehat, “Karena itu perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, jangan seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari ini adalah jahat … Jangan kamu bodoh, tetapi usahakanlah mengerti kehendak Tuhan. Dan janganlah kamu mabuk anggur … tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh” (Efesus 5:15-18).

4. Seorang pengabdi yang setia (1 Timotius 3:8)
“Tidak serakah”, itulah nasehat Paulus kepada Timotius tentang sikap seorang pengabdi terhadap harta dan kedudukan. Keserakahan selalu berhubungan dengan mementingkan diri sendiri. Tak pernah memikirkan orang lain. Serakah dapat mencakup dua bidang dalam pelayanan yaitu serakah terhadap harta benda dan serakah terhadap kedudukan.

Tentang keserakahan terhadap harta, paulus menjelaskan bahwa seorang hamba Tuhan jangan cinta akan uang, karena cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan (1 Timotius 3:6-10). Tentang keserakahan terhadap kedudukan, Tuhan Yesus bersabda, “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan” (Lukas 14:11). Karena seorang prodiakon adalah abdi Tuhan, maka ia hendaknya rela dan ikhlas ditempatkan dimana saja yang dikehendaki Tuhan. Sikapnya terhadap uang dan kedudukan merupakan ukuran kesetiaan pengabdiannya kepada Tuhan.

5. Menjadi teladan dalam iman (1 Timotius 3:3)
Orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang murni (1 Timotius 3:9). Seorang prodiakon wajib menjadi teladan dalam kedewasaan iman, supaya dapat: “… memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan Tubuh Kristus, sampai kita semua mencapai kesatuan dan pengetahuan yang benar tentang anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia. Kristus …” (Efesus 4:12-15).

Jadi seorang Prodiakon memelihara rahasia iman bukan karena maksud-maksud tertentu, seperti: ingin dihormati, ingin dipuji atau ingin menjadi orang terpandang, melainkan bagi kemuliaan nama Tuhan Yesus dan guna menguatkan serta mempererat persekutuan umat beriman berdasarkan firman Allah.

6. Merupakan keluarga Kristen yang baik.
Seorang Prodiakon haruslah suami dari satu istri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik (1 Timotius 3:12). Ayat ini bukan suatu kebetulan termuat dalam Alkitab, melainkan ayat ini merupakan bagian hidup yang banyak mengundang pertanyaan dan diskusi dalam memilih calon Prodiakon. Kita coba telusuri ayat ini lebih dalam dengan melihat dari: Hidup pernikahan seorang Prodiakon.

Ada tiga alasan mengapa ayat ini diuliskan:
Pertama, merupakan tuntutan agar Prodiakon mengambil sikap dan menetapkan satu pandangan yang sehat tentang pernikahan dan berumah tangga. Pada Gereja abad permulaan ada beberapa orang yang menolak berumah tangga karena memandang perkawinan sebagai suatu kejahatan di mata Allah (1 Timotius 4:3). Para Prodiakon diwajibkan menolak pandangan yang demikian ini dengan jalan menerapkan dasar Alkitabiah dalam pernikahan mereka.

Kedua, ayat ini menolak dengan tegas dasar perkawinan para pemuja dewata yang bigami dan poligami. Di samping itu, segala tindakan amoral, pergundikan, dan perceraian ditolak. Prodiakon harus menjadi contoh dalam kesetiaan kepada istrinya.

Ketiga, ayat ini juga mengingatkan tentang ikatan perkawinan yang suci. Di dalam Injil Markus 10:2-12 dikatakan bahwa ajaran Tuhan Yesus dengan jelas menolak keras perceraian. Bukan hanya perceraian saja yang harus ditolak oleh Prodiakon, melainkan juga segala macam hal yang dapat merongrong dan menghancurkan hidup pernikahannya. Dan pada dasarnya seorang Prodiakon harus memiliki kestabilan dalam hidup berumah tangga.

Bapak yang mengurus anak-anaknya dengan baik.
Selain sebagai seorang suami yang baik, Prodiakon adalah seorang bapak yang mengasihi anak-anaknya, menyediakan apa yang mereka perlukan, memberikan pendidikan dan disiplin yang selayaknya bagi anak-anak. Seorang Prodiakon harus dapat memimpin anak-anak beriman kepada Tuhan Yesus Kristus sehingga “anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib” (Titus 1:6).

7. Orang yang terkenal baik, artinya:
a. Memiliki nama yang baik, dalam hubungan sehari-hari dengan orang lain, prodiakon wajib memiliki nama yang baik. Tidak boleh ada kebiasaan buruk yang dibiarkannya tinggal dalam dirinya. Segala hal yang dapat mencemarkan nama baiknya harus dijauhi.
b. Bukan orang yang baru bertobat, Rasul Paulus menjelaskan, “janganlah orang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong …” (1 Timotius 3:6). Seorang yang akan menjadi Prodiakon wajib memiliki pengalaman hidup sebagai orang kristen yang cukup. Hal ini dapat terlihat dari iman dan kesetiaannya kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari. Paling tidak ia memiliki pengalaman keselamatan, kepastian tentang keselamatannya dan mempunyai pengalaman kemenangan terhadap godaan atau cobaan hidup. Selain itu baik kalau dia sudah mengalami panas dan dinginnya pelayanan, pasang surut imannya juga cara mengatasinya. Maka dengan demikian ia telah membuktikan diri sebagai orang yang tahan uji dan teruji.

8. Orang yang penuh dengan Roh (Kisah Para Rasul 6:3)
Hubungan dengan Tuhan adalah merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan Prodiakon Paroki. Keberhasilan pelayanannya terletak pada kerelaannya dipimpin dan dibimbing oleh Roh Kudus, ini berarti hanya bersandar pada Tuhan Yesus Kristus. Dan orang yang dipenuhi oleh Roh adalah orang yang telah menobatkan Yesus sebagai Raja dalam hidupnya, sehingga ia berani berkata seperti Paulus, “… Aku hidup, namun bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Galatia 2:20). Orang yang dipenuhi Roh akan menampilkan buah Roh dalam hidupnya, Tuhan Yesus bersabda, “… setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik … dari buahnyalah kamu mengenali mereka” (Matius 7:7-20). “Adapun buah Roh adalah kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Galatia 5:22-23). “Sebab itu … jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Galatia 5:26).

9. Orang yang penuh hikmat (Kisah Para Rasul 6:3)
Kata “hikmat” dalam kamus umum Bahasa Indonesia artinya: kebijaksanaan atau kepandaian untuk memutuskan masalah sehari-hari yang dihadapinya. Seorang Prodiakon harus penuh hikmat, karena ia akan banyak berhadapan dengan masalah-masalah harian yang perlu diselesaikan. Dan sumber hikmat bagi anak-anak Tuhan adalah Allah sendiri, itulah sebabnya Alkitab menasehati supaya “… apabila di antara kami ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia meminta kepada Allah, hendaklah ia meminta dengan iman, dan sama-sekali jangan bimbang sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan” (Yakobus 1:5-7). Dan sumber hikmat yang lain adalah dunia ini, hikmat ini dapat dipelajari, dicari atau dibeli. Tetapi hikmat dunia tidak dapat mengerti kehendak Allah, bahkan hikmat dunia merupakan kebodohan mengenai Allah (1 Korintus1:18-25). Hikmat dunia menuju kepada sifat: iri, mementingkan diri dan menyombongkan diri (Yakobus 3:14-15). “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan yang mengadakan damai” (Yakobus 3:17-18). Prodiakon perlu memahami hikmat dari atas, memohon kepadanya yang memberi dengan tidak pernah mengungkit kembali. Prodiakon memerlukan karunia hikmat demi pelayanan dalam membangun umat Allah di bumi ini.

10. Orang yang penuh iman (Kisah Para Rasul 6:5)
Seorang Prodiakon diharuskan selalu berharap kepada Tuhan dan tidak bersandar pada pengertiannya sendiri: ini merupakan syarat yang wajib dipenuhi oleh Prodiakon. Karena pekerjaan yang menanti para Prodiakon menuntut penyerahan kepada Tuhan. Dan liku-liku pelayanan Prodiakon memang sebenarnya serba kompleks dan beraneka ragam. Kita sadar akan keterbatasan kemampuan dan kelemahan kita, maka marilah dengan jujur dan rendah hati kita akui bahwa banyak pelayanan dan persoalan gereja yang tidak dapat kita atasi. Tetapi meskipun demikian kita tak perlu berkecil hati sebab bukankah: “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya (Markus 9:23). Karena itulah kita berpegang teguh pada Firman Tuhan Yesus ini: “… di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5). Maka ada suatu ungkapan yang mengatakan TANPA TUHAN KITA LEMAH, DENGAN TUHAN KITA PERKASA.

Dalam Alkitab 1 Timotius 3:13 berbunyi, “Mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Yesus Kristus mereka dapat bersaksi dengan leluasa”. Oleh karena itulah kita sebagai Prodiakon perlu pasrah dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Yesus Kristus, dan dengan semangat in Te Confide (pada-Mu aku percaya) kita terima panggilan sebagai Prodiakon, dan dengan jiwa in Te Confide pula yang disertai kerendahan dan kerelaan hati, kita jalankan tugas mulia ini dengan sepenuh hati.

Gratia Dei sum id quod sum procedamus in pace, in nomine Domine, berkat rahmat Tuhan aku menjadi seperti ini, mari kita mulai dalam damai dan dalam nama Tuhan.

Sumber : http://keuskupan-malang.web.id/?p=3450

baca selanjutnya...

Minggu, 27 Maret 2011

Sejarah Terbentuknya Prodiakon Paroki

Bertambahnya jumlah umat katolik yang begitu pesat dari tahun ke tahun tidak sebanding dengan jumlah imam. Kurangnya tenaga imam sangat dirasakan saat perayaan ekaristi pada hari minggu, baik untuk membagikan komuni kepada umat maupun untuk kegiatan-kegiatan liturgi lainnya.

Memperhatikan dan mencermati keadaan demikian, maka tahun 1966 Yustinus Kardinal Darmayuwana (pada waktu itu Uskup Agung Semarang) mengajukan permohonan ijin ke Roma melalui Propaganda Fide. Konggregasi untuk Penyebaran Iman, agar Uskup diperkenankan menunjuk beberapa pelayan awam yang dinilai pantas untuk membantu Imam membagikan komuni baik di dalam maupun di luar Perayaan Ekaristi.

Konggregasi Propaganda Fide menanggapi secara positif permohonan itu dan memberi ijin ad experimentum (=untuk percobaan) selama 1 (satu) tahun, dan apabila dirasa perlu dan berjalan dengan baik ijin dapat diperpanjang. Dalam perjalanan waktu dirasakan bahwa para pembantu imam ini semakin besar peranannya, sehingga Propaganda Fide memberi ijin untuk melanjutkan bentuk pelayanan ini dan hal tersebut berlaku hingga sekarang.

Pada mulanya para awam yang dipilih dan bersedia membantu imam ini dinamakan “Diakon Awam”. Kata “diakon” bukan jabatan mulia, melainkan jabatan yang hina. Tetapi pada jaman para rasul, istilah itu diangkat artinya, kata diakonos mendapat arti baru.

Diakon diangkat menjadi suatu jabatan yang mulia, karena yang dilayani adalah Tubuh Kristus, yaitu jemaat. “Diakon Awam” adalah awam yang menerima tugas dari Uskup, bukan “expotestate ordinis” atau “jurisdictionis” (berkat kuasa tahbisan atau hukum), melainkan berkat anugerah istimewa gereja melalui Konggregasi Propaganda Fide.

Akhir tahun 1983, nama “Diakon Awam” digandi menjadi “Diakon Paroki”, karena dirasakan bahwa istilah “Diakon Awam” kurang tepat. Pengertian “diakon” lebih tepat dikenakan kepada seseorang yang telah ditahbiskan (=tertahbis) dan karena tahbisannya itu ia bukan lagi seorang “awam”. Dia termasuk klerus. Dalam istilah “Diakon Paroki” kecuali kata “Awam” dihilangkan, juga jangkauan tugasnya dirinci jelas. Diakon Paroki bukan Diakon Tertahbis, tetapi diharapkan dapat menjalankan tugas yang sebenarnya menjadi tugas Diakon Tertahbis. Kalau Diakon Tertahbis bersifaf kekal dan universal, maka diakon paroki bersifat sementara dalam menjalankan tugasnya dan bertugas dalam lingkup paroki tertentu. Masa tugas umumnya tiga tahun dan dapat diperpanjang.

Dalam rapat Konsultores Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 5-6 Agustus 1985 di Girisonta diputuskan bahwa istilah “Diakon Paroki” diubah menjadi “Prodiakon Paroki”. Istilah Prodiakon Paroki berarti seseorang yang menjalankan tugas diakon dalam lingkup paroki. Prodiakon Paroki berarti seseorang yang menjalankan tugas diakon dalam lingkup paroki. Prodiakon Paroki diangkat oleh Uskup atas usul Pastor Paroki untuk menerimakan komuni, memimpin upacara pemakaman, dan lain-lain. Dalam menjalankan tugasnya, Prodiakon Paroki tergantung pada pastor paroki. Dalam perkembangan waktu nampak jelas bahwa kehadiran Prodiakon Paroki sangat diperlukan oleh gereja dan dapat diterima oleh umat dengan baik.

Di Keuskupan Agung Jakarta pembentukan Prodiakon Paroki direstui bahkan dianjurkan oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, karena didasari manfaat dan kegunaannya. Kebijaksanaan ini dilanjutkan oleh Uskup Agung Jakarta yang sekarang, Yulius Kardinal Darmaatmadja, sehingga semakin banyak paroki yang memiliki Prodiakon Paroki.

Komisi Liturgi Keuskupan Malang
Sumber : http://keuskupan-malang.web.id/?p=3222

baca selanjutnya...

Sabtu, 19 Maret 2011

Macam-macam istilah Misa

Pertanyaan:
Pada laman terbaru, ada pembahasan tentang Misa Jumat Pertama, Wah judul yang pas dengan apa yang frans pengen tahu, yakni tentang Misa Jumat pertama.
Terima kasih buat admin, yang sudah memjawab dengan jelas.

Selain Misa Jumat pertama, ada beberapa misa yang ingin frans ketahui lebih banyak.
yakni pemahaman dari
1.Misa hari minggu,
2.Misa salve
3.Misa harian pagi
4.misa sabtu sore

Kiranya admin bisa beri perbedaan di antara Misa di atas, karena berdasarkan obrolan dengan teman2-sobat muda, kadang mereka merasa cukup bila sudah mengikuti misa pada jumat pertama, dan mengindahkan Misa minggu (karena berpendapat misa intinya adalah penerimaan komuni saja, jadi dengan jarak hari yang dekat) ini pula terjadi bila pada sabtu malam di adakan Misa syukur di rumah keluarga.
jadi bisa di bilang penerimaan Komuni jadi alasan dalam Misa Minggu dan lainnya. mohon pemahamannya.

Tentang Misa salve juga mohon di terangkan, karena minggu ini (23/1), pastor paroki kami menunda misa salve sampai batas waktu yang belum pasti di adakan, hal ini karena umat yang hadir sedikit (di gereja pukul 18.00, tiap jumat terakhir bulan berjalan). Menurut frans selain di adakan pada sore hari dan masih pada hari kerja, tapi yang paling mendasar ialah umat belum tanya banyak dengan misa salve. jadi mohon di sarikan di laman ini.

Kiranya mohon di sarikan juga pemahaman tentang Misa Minggu yang di adakan pada sabtu sore. Walaupun di buat dengan alasan agar umat bisa mempunyai alternatif dalam mengikuti misa, namun masih juga ada obrolan tentang ketidaklayaknya, misa sabtu sore. atau memang tak boleh ada misa minggu selain pada hari minggu ?

Bila berkenan, jawaban ini merupakan postingan yang akan frans sarikan di laman blog OMK Paroki yang frans kelola, dimana menjadi sumber alternatif rujukan akan pertanyaan seputar orang muda yang kian kritis tt pemahaman katolik.
Tentunya akan di tampilkan sumber artkel dari katolisitas.org.

salam
frans, di jayapura, papua

Jawaban:

Shalom Frans Benedict,

Berikut ini adalah sekilas keterangan tentang bermacam istilah Misa:

1. Misa hari Minggu
Seperti namanya, maka Misa Hari Minggu adalah Misa/ perayaan Ekaristi yang diadakan pada hari Minggu. Umat Kristiani merayakan hari Tuhan pada hari Minggu, karena mengikuti teladan para rasul yang mengadakan ibadah Hari Tuhan tersebut pada hari Minggu [hari pertama di dalam minggu] untuk memperingati hari kebangkitan Kristus.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 1166 “Berdasarkan tradisi para Rasul yang berasal mula pada hari kebangkitan Kristus sendiri, Gereja merayakan misteri Paska sekali seminggu, pada hari yang tepat sekali disebut Hari Tuhan atau Hari Minggu” (Sacrosanctum Concilium 106). Hari kebangkitan Tuhan adalah serentak “hari pertama dalam minggu”, mengenangkan hari pertama ciptaan, dan “hari kedelapan” di mana Kristus sesudah “istirahat”-Nya pada Sabtu agung menerbitkan hari “yang Tuhan janjikan”, “hari yang tidak mengenal malam” (Liturgi Bisantin). “Perjamuan Tuhan” adalah sentrumnya, karena di sana seluruh persekutuan umat beriman menemui Tuhan yang telah bangkit, yang mengundang mereka ke pesta pedamuan-Nya (Bdk. Yoh 21:12; Luk 24:9b)….

KGK 1167 Benarlah bahwa hari Minggu adalah hari, di mana umat beriman berkumpul untuk perayaan liturgi, “untuk mendengarkan Sabda Allah dan ikut serta dalam perayaan Ekaristi, dan dengan demikian mengenangkan sengsara, kebangkitan dan kemuliaan Tuhan Yesus, serta mengucap syukur kepada Allah, yang melahirkan mereka kembali ke dalam pengharapan yang hidup berkat kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati” (Sacrosanctum Concilium 106).

KGK 1193 Hari Minggu, “hari Tuhan” adalah hari perayaan Ekaristi yang utama, karena ia adalah hari kebangkitan. Ia adalah hari perhimpunan liturgi, hari keluarga Kristen, hari kegembiraan dan hari senggang. Ia adalail “inti dan dasar seluruh tahun liturgi” (SC 106).

KGK 2175 Hari Minggu jelas berbeda dari hari Sabat, sebagai gantinya ia – dalam memenuhi perintah hari Sabat – dirayakan oleh orang Kristen setiap minggu pada hari sesudah hari Sabat. Dalam Paska Kristus, hari Minggu memenuhi arti rohani dari hari Sabat Yahudi dan memberitakan istirahat manusia abadi di dalam Allah. Tatanan hukum mempersiapkan misteri Kristus dan ritus-ritusnya menunjukkan lebih dahulu kehidupan Kristus (Bdk. 1Kor 10:11)….

KGK 2177 Perayaan hari Minggu yakni hari Tuhan dan Ekaristi-Nya merupakan pusat kehidupan Gereja. “Hari Minggu di mana dirayakan misteri Paska dari tradisi apostolik, harus dipertahankan sebagai hari pesta wajib yang paling pertama di seluruh Gereja” (CIC, can. 1246, 1)….

KGK 2042 Perintah pertama (“Engkau harus mengikuti misa kudus dengan khidmat pada hari Minggu dan hari raya“) menuntut umat beriman supaya mengambil bagian dalam Ekaristi, manakala persekutuan Kristen berkumpul pada hari peringatan kebangkitan Tuhan (Bdk. CIC, cann. 1246-1248; CCEO, can. 881, 1.2.4)

Maka mengikuti Misa Kudus dengan khidmat pada hari Minggu merupakan perintah pertama Gereja, yang mengambil dasar dari perintah Allah yang utama, yaitu agar kita menyembah dan mengasihi Tuhan Allah kita dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita (lih Kel 20:3-5). Sebagai ungkapan kasih ini, kita diberi perintah oleh Allah untuk menguduskan hari Tuhan (lih. Kel 20:8-11); seperti yang telah dicontohkan oleh para rasul dan jemaat Kristen awal merayakan hari Tuhan pada hari Minggu (Kis 20:7; 1 Kor 16:2). Selanjutnya, maka perayaan hari Tuhan bagi umat Kristen adalah hari Minggu yang dikatakan sebagai hari pertama di dalam minggu, dan bukan hari terakhir dalam minggu (bukan Sabat, karena Rasul Paulus mengatakan bahwa hari Sabat tidak mengikat umat Kristen (Kol 2:16; lih. Gal 4:9-10; Rom 14:5). Dengan kebangkitan Kristus, maka hari Tuhan tidak semata dihayati sebagai hari Tuhan beristirahat, namun lebih kepada hari penciptaan baru, di mana manusia yang telah mengimani Kristus diubah oleh Allah menjadi manusia baru. Selanjutnya tentang hal ini sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik.

“Menghadiri Misa Kudus pada hari Minggu dan pada hari- hari perayaan dan beristirahat dari pekerjaan yang berat” adalah perintah pertama dari kelima perintah Gereja. Pada hari Minggu diadakan perjamuan Ekaristi yang utama, karena diadakan bertepatan dengan hari kebangkitan Kristus.

2. Misa Sabtu Sore
Misa Sabtu Sore umum sering diartikan sebagai ‘Anticipated Mass‘, atau Misa Antisipasi perayaan Misa pada hari Minggu. Namun sebenarnya, menurut General Norms of the Liturgical Year and the Calendar, dikatakan demikian:

#3. “The liturgical day runs from midnight to midnight, but the observance of Sunday and solemnities begins with the evening of the preceding day.”

(terjemahannya)

#3. “Hari liturgis dihitung dari tengah malam ke tengah malam, tetapi pemenuhan kewajiban pada Minggu dan Hari Raya dimulai dari sore hari sebelum hari tersebut.”

Paus Benediktus http://www.adoremus.org/SacramentumCaritatis.html mengatakan, “… mengenali Sabtu sore, dimulai dari doa Vespers yang pertama, adalah sudah merupakan bagian dari Minggu, dan waktu di mana kewajiban hari Minggu dapat dilakukan…”

Maka kebijaksanaan Gereja Katolik untuk mengadakan Misa Sabtu Sore untuk pemenuhan kewajiban menguduskan hari Tuhan adalah untuk memberi kesempatan kepada umat yang karena alasan tertentu/ genting tidak dapat memenuhi kewajiban untuk mengikuti Misa pada hari Minggu. Namun jangan sampai kemudahan ini dijadikan alasan, bahwa ‘karena malas bangun pagi pada hari Minggu, maka saya memilih untuk ikut misa Sabtu sore’; padahal pada hari Minggu-nya ia tidak mempunyai halangan yang mendesak. Jika ini motivasinya, maka sesungguhnya orang tersebut memiliki sikap batin yang keliru untuk memenuhi perintah Allah dalam menguduskan hari Tuhan. Sebab dalam menguduskan hari Tuhan, sudah selayaknya kita mempersembahkan dan mengorbankan waktu dan diri kita seutuhnya kepada Tuhan dalam kesatuan dengan Gereja-Nya dalam perayaan Ekaristi.

3. Misa Harian
Misa harian tetap merupakan perayaan Ekaristi yang mempunyai efek yang sama dengan Misa yang dilakukan pada hari Minggu ataupun hari- hari lainnya, karena kurban yang dihadirkan adalah sama, yaitu kurban Kristus. Namun demikian, mengikuti misa harian tidak dapat menggantikan kewajiban mengikuti Misa pada hari Minggu, karena hari Minggu adalah hari Tuhan, di mana semua orang Kristen diajak untuk menguduskan hari itu dengan merenungkan pengorbanan Kristus dan kebangkitan-Nya yang menebus dosa- dosa umat manusia.

Mengikuti Misa Harian dan menerima Ekaristi setiap hari merupakan hal yang sangat indah yang dapat dilakukan oleh setiap umat Katolik. Mengapa? Karena dengan menerima Kristus sendiri setiap hari kita akan dipimpin olehNya untuk bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih. Jadi jika seseorang ingin bertumbuh secara rohani, selain ia perlu berdoa dan merenungkan Sabda Tuhan, ia dapat menimba kekuatan dari Kristus sendiri, yang hadir dalam Ekaristi Kudus.

Katekismus mengajarkan:

KGK 1389 Gereja mewajibkan umat beriman, “menghadiri ibadat ilahi pada hari Minggu dan hari raya” (OE 15) dan sesudah mempersiapkan diri melalui Sakramen Pengakuan, sekurang-kurangnya satu kali setahun menerima komuni suci, sedapat mungkin dalam masa Paska (bdk. CIC, can. 920). Tetapi Gereja menganjurkan dengan tegas kepada umat beriman, supaya menerima komuni suci pada hari Minggu dan hari raya atau lebih sering lagi, malahan setiap hari.

4. Misa Salve
Terus terang saya kurang memahami istilah ini. Apakah ini Misa didahului/ dilanjutkan dengan doa Salve Regina, ataukah Misa dilanjutkan dengan Benediction/ Adorasi Sakramen Mahakudus?

Sementara kita menunggu jawaban dari Romo Boli, inilah jawaban yang dapat kami berikan:

Jika maksudnya Misa diikuti doa Salve Regina, silakan anda membaca tanya jawab di link ini, silakan klik. Jika maksudnya Misa yang diikuti oleh Benediction/ Adorasi sakramen Maha Kudus: Sebenarnya setelah menerima Komuni kudus, kita selayaknya meresapkan kehadiran Tuhan Yesus sendiri di dalam tubuh kita, sehingga dalam konteks ini, kita pertama- tama harus menyembah Kristus yang telah kita sambut dan menyatu dalam tubuh kita. Katekismus mengajarkan kehadiran Kristus dalam Ekaristi dimulai pada saat konsekrasi dan bertahan sampai wujud Ekaristi masih ada di dalam tubuh kita (lihat KGK 1377). Maka diperkirakan kehadiran Yesus dalam rupa Ekaristi di dalam tubuh kita bertahan selama sekitar 10 menit. Pada saat itu, sebaiknya kita menyembah Tuhan Yesus yang sungguh hadir dalam diri kita.

Dengan demikian, Benediction/ penyembahan dan berkat sakramen Mahakudus di altar dapat dilakukan setelah Misa Kudus, namun tidak langsung setelah Komuni, karena saat setelah Komuni seharusnya diberikan untuk tiap- tiap orang secara pribadi untuk menyembah Tuhan Yesus yang hadir secara khusus dalam rupa Ekaristi di dalam tubuhnya.

Demikian sekilas pengertian tentang bermacam istilah Misa, semoga berguna. Silakan anda mengutip tulisan ini untuk diedarkan di kalangan OMK paroki anda, dengan menyebutkan sumbernya, yaitu www.katolisitas.org. Sampaikan salam hangat kami kepada saudara/saudari seiman di Papua.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Dikutip dari : http://katolisitas.org/2011/02/15/macam-macam-istilah-misa/

baca selanjutnya...

Kamis, 17 Maret 2011

Makna Perarakan Dalam Liturgi

Pengantar
Salah satu gerak liturgi yang paling umum dilakukan dalam ibadat adalah berjalan. Berjalan merupakan gerakan manusia yang sangat elementer. Boleh dikatakan berjalan adalah gerak natural yang selalu ada dalam setiap perayaan. Dalam paper ini, akan dibahas mengenai gerak berjalan dalam liturgi yang lebih mengarah pada perarakan (prosesi).

Perarakan berarti gerak beberapa atau banyak orang dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Gerak yang dimaksud bukanlah gerak sembarangan, tetapi bergerak dengan teratur dari satu tempat ke tempat lain dalam liturgi, yang biasanya diiringi dengan nyanyian. Berjalan dilakukan dengan badan dan kepala yang tegak, tenang dan agung. Berjalan juga bisa dipahami sebagai ungkapan kesiapsediaan kita menanggapi tawaran kasih karunia Allah yang selalu ada di hadapan kita.

Perarakan dan Makna Teologi
Perarakan (prosesi) adalah satu elemen yang ada dalam seluruh perayaan, yang kita temukan hampir dalam setiap bentuk ibadah keagamaan. Menurut para ahli, prosesi adalah sebuah praktek liturgi kuno yang diadopsi dari perarakan kerajaan duniawi, namun ide berjalan dan berdoa mendahului Kekristenan dan mungkin juga pawai kerajaan Eropa, juga ada di Amerika. Dalam tradisi kuno Babilonia, Hindu, Yunani dan Romawi melakukan prosesi yang penuh doa, dan tradisi Amerika asli juga berjalan ke tempat yang suci dengan ritual khusus. Akan tetapi, prosesi lebih erat dihubungkan dengan kekristenan, satu agama yang mengadaptasi praktek tersebut dari tradisi Romawi.

Gambaran biblis yang utama diambil dari Kitab Keluaran, yaitu perarakan bangsa Israel yang keluar dari Mesir melewati Laut Merah menuju ke tanah terjanji. Dari tempat perhambaan ke tempat kebebasan, terlepas dari penindasan dan penderitaan dan masuk ke “tanah yang penuh dengan susu dan madu”. Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel menjadi umat Allah, dan status itu sungguh-sungguh suatu rahmat Allah. Bangsa Israel yang dipilih Allah menjadi umat-Nya mengungkapkan kontinuitasnya dengan Kekristenan.

Hubungan antara Misteri Israel dengan Misteri Gereja hanya dapat digambarkan dalam perspektif sejarah keselamatan. Peristiwa keluaran menjelaskan kepada kita pemahaman atas pembaptisan sebagai sebuah pencucian dengan air yang membersihkan kita dari dosa dan maut (tempat perhambaan) dan membawa kita masuk pada hidup kebangkitan (tanah terjanji). Perarakan liturgis Katolik melambangkan perjalanan kehidupan kita kepada mati dan kemudian menuju hidup yang kekal, dari dosa kepada pengampunan dan hidup baru. Ekaristi digambarkan sebagai “manna dari surga” sebagai makanan selama perjalanan bangsa Israel di padang gurun ke tanah terjanji. Sakramen-sakramen Gereja merayakan rahmat Allah atas perjalanan peziarahan iman kita menuju rumah Bapa.
Dalam Perjanjian Lama, prosesi biasanya diiringi dengan nyanyian, seperti tampak dalam Mazmur mengenai Keluaran, dan juga dalam perarakan peziarahan tahunan masuk Bait Allah di Yerusalem. Yerusalem surgawi ialah gambaran hari terakhir dari tujuan iman kita. Kemudian prosesi mengingatkan kita bahwa hidup kita adalah sebuah peziarahan menuju tujuan terakhir kita. Kita sekarang berada dalam perjalanan rohani dari hidup kita di dunia ini menuju rumah Bapa dalam kerajaan Surga.

Perarakan dalam Liturgi
Dalam liturgi ada banyak perarakan yang dilaksanakan. Dalam Perayaan Ekaristi dikenal empat prosesi utama: perarakan masuk, perarakan Injil, perarakan persembahan, dan perarakan Komuni Suci. Dan dalam liturgi khusus sering ada perarakan yang dilakukan secara meriah, seperti perarakan pada waktu pekan suci yaitu perarakan palma pada Minggu Palma, perarakan Sakramen Mahakudus sesudah Ekaristi pada Kamis Putih, perarakan Lilin Paskah pada malam Paskah.

1. Perarakan Masuk
Perarakan Masuk adalah perarakan memasuki ruang ibadat yang melibatkan rombongan pemimpin ibadat dan para pembantunya. Perarakan ini dilaksanakan dari sakristi atau tempat lain ke ruang ibadat. Sedangkan perarakan masuk meriah sering diselenggarakan pada hari raya. Dalam perarakan ini para putra altar membawa pendupaan, salib dan lilin. Pada perarakan ini biasanya diiringi dengan nyanyian pembuka. Pada Minggu Palma yang dimaksud dengan perarakan meriah adalah perarakan panjang dari tempat pemberkatan daun palma ke gereja. Perarakan ini diikuti seluruh umat yang membawa daun palma. Sepanjang perarakan ini umat melambungkan nyanyian-nyanyian pujian bagi Kristus yang datang dalam nama Tuhan.

2. Perarakan Injil
Dalam perayaan Ekaristi sering juga dilaksanakan perarakan Injil. Sebelum Injil dibacakan, Injil diarak ke tempat pewartaan. Umat menyanyikan Alleluia atau Bait Pengantar Injil. Perarakan ini melibatkan diakon atau imam dan sejumlah putra altar.

3. Perarakan Persembahan
Perarakan persembahan dilakukan oleh sejumlah wakil umat yang berarak dengan membawa bahan persembahan seperti roti, anggur dan lain-lain kepada imam. Wakil-wakil umat maju sampai ke kaki ruang pemimpin dan di sana imam menyambut mereka serta menerima persembahan itu. Perarakan persembahan merupakan ungkapan partisipasi personal dalam kurban Yesus Kristus. Perarakan persembahan juga mengingatkan bahwa Ekaristi adalah kurban dari semua umat yang hadir.

4. Perarakan Komuni
Dalam perarakan komuni, umat yang hendak menyambut komuni suci berbaris dengan teratur. Umat yang menerima komuni adalah mereka yang telah menyambut komuni pertama dan biasa juga anak-anak yang ikut berbaris menerima berkat dari pelayan yang membagikan komuni suci.

5. Perarakan Sakramen Mahakudus
Perarakan ini dilaksanakan setelah Perayaan Ekaristi pada Kamis Putih. Imam Selebran membawa Komuni Suci dari altar dan putra altar mendupai sakramen sepanjang perarakan itu. Kemudian imam mentahtakannya di tempat yang telah disediakan, dan umat datang untuk berdoa di hadapan sakramen Mahakudus.

6. Perarakan Lilin Paskah
Perarakan ini dimulai dengan liturgi cahaya di luar gereja. Kemudian lilin dinyalakan dari api unggun, dan dari lilin itu lilin-lilin yang lain juga dinyalakan. Perarakan dilakukan dengan lilin di depan dan diikuti oleh umat, memasuki gereja. Ini melambangkan umat Israel baru yang berjalan dan diterangi oleh cahaya Kristus yang telah bangkit.

Penutup
Berjalan merupakan gerakan manusia yang amat elementer. Prosesi ini bukanlah suatu pertunjukan atau parade. Secara liturgis berjalan menjadi ungkapan hakikat umat Allah yang sedang berziarah dan berjalan menuju tanah Yerusalem surgawi, tanah terjanji, tanah air sejati. Prosesi dilaksanakan secara bersama oleh seluruh atau sekelompok umat. Dalam bingkai kebersamaan ini tampaklah dimensi kebersamaan umat Allah yang sedang berziarah.

Daftar Pustaka
Codd, Kevin A. I am a Pilgrim on the Earth: The Pilgrim Way dalam Worship, Vol. 84, No. 2. March 2010, Collegeville: Order Saint of Benedict, 2010, hlm. 154-170.
Martasudjita, M. Pengantar Liturgi, Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi, Yogyakarta: Kanisius, 1999.
Maryanto, Ernest. Kamus Liturgi Sederhana, Yogyakarta: Kanisius, 2004, hlm. 171-172.
Sipayung, Kornelus. The Idea of Pilgrim Church in the Works of George Henry Tavard (Tesis), Roma: Pontifical Gregoriana University Faculty of Theology, 2004.

Dikutip dari : http://andosipayung.wordpress.com/2010/07/09/perarakan-dalam-liturgi/

baca selanjutnya...

Minggu, 13 Maret 2011

Asal-mula Masa Prapaskah

oleh: P. William P. Saunders *

Bagaimanakah asal-mula Masa Prapaskah? Apakah Gereja selalu merayakannya sebelum Paskah?

~ seorang pembaca di Falls Church

Masa Prapasakah merupakan masa istimewa untuk berdoa, bertobat, bermatiraga dan melakukan karya belas kasihan sebagai persiapan menyambut perayaan Paskah. Dalam kerinduannya untuk memperbaharui praktek-praktek liturgi Gereja, Konstitusi tentang Liturgi Kudus Konsili Vatikan II menyatakan, “Dua ciri khas Masa Prapaskah - mengenang atau mempersiapkan pembaptisan, dan membina tobat - haruslah diberi penekanan yang lebih besar dalam liturgi dan dalam katekese liturgi. Masa Prapaskah merupakan sarana Gereja dalam mempersiapkan umat beriman untuk merayakan Paskah, sementara mereka mendengarkan Sabda Tuhan dengan lebih sering dan meluangkan lebih banyak waktu untuk berdoa.” (no. 109).

Sejak masa awal Gereja, terdapat bukti akan adanya semacam masa persiapan menyambut Paskah. Sebagai contoh, St. Ireneus (wafat 203) menulis kepada Paus St. Victor I, perihal perayaan Paskah dan perbedaan-perbedaan dalam perayaannya antara Timur dan Barat, “Perbedaan tidak hanya sebatas hari, tetapi juga ciri puasa yang sesungguhnya. Sebagian berpendapat bahwa mereka wajib berpuasa selama satu hari, sebagian berpuasa selama dua hari, lainnya lebih lama lagi; sebagian menetapkan 'masa' mereka selama 40 jam. Berbagai perbedaan dalam perayaan tersebut bukan berasal dari masa kita, melainkan jauh sebelumnya, yaitu sejak masa para leluhur kita.” (Eusebius, Sejarah Gereja, V, 24). Ketika Rufinus menerjemahkan bagian berikut ini dari bahasa Yunani ke bahasa Latin, tanda baca yang dibubuhkan antara “40” dan “jam” menjadikan maknanya tampak seperti “40 hari, dua puluh empat jam sehari.” Namun demikian, maksud pernyataan di atas adalah bahwa sejak masa “para leluhur kita” - sebutan bagi para rasul - suatu masa persiapan selama 40 hari telah ada. Tetapi, praktek nyata dan lamanya Masa Prapaskah masih belum seragam di seluruh Gereja.

Masa Prapaskah diatur secara lebih mantap setelah legalisasi agama Kristen pada tahun 313. Konsili Nicea (tahun 325), dalam hukum kanonnya, mencatat bahwa dua sinode provincial haruslah diselenggarakan setiap tahun, “satu sebelum Masa Prapaskah selama 40 hari.” St. Atanasius (wafat 373) dalam “Surat-surat Festal” meminta umatnya melakukan puasa selama 40 hari sebelum puasa yang lebih khusuk selama Pekan Suci. St. Sirilus dari Yerusalem (wafat 386) dalam Pelajaran Katekese, mengajukan 18 instruksi sebelum pembaptisan yang diberikan kepada para katekumen selama Masa Prapaskah. St. Sirilus dari Alexandria (wafat 444) dalam serial “Surat-surat Festal” juga mencatat praktek dan lamanya Masa Prapaskah dengan menekankan masa puasa selama 40 hari. Dan akhirnya, Paus St. Leo (wafat 461) menyampaikan khotbahnya bahwa umat beriman wajib “melaksanakan puasa mereka sesuai tradisi Apostolik selama 40 hari”. Orang dapat menyimpulkan bahwa pada akhir abad keempat, masa persiapan selama 40 hari menyambut Paskah yang disebut sebagai Masa Prapaskah telah ada, dan bahwa doa dan puasa merupakan latihan-latihan rohaninya yang utama.

Tentu saja, angka “40” selalu mempunyai makna spiritual khusus sehubungan dengan persiapan. Di gunung Sinai, sebagai persiapan untuk menerima Sepuluh Perintah Allah, “Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air” (Kel 34:28). Elia berjalan selama “40 hari dan 40 malam” ke gunung Allah, yakni gunung Horeb (nama lain Sinai) (1 Raj 19:8). Dan yang terutama, Yesus berpuasa dan berdoa selama “40 hari dan 40 malam” di padang gurun sebelum Ia memulai pewartaan-Nya di hadapan orang banyak (Mat 4:2).

Begitu Masa Prapaskah selama 40 hari ditetapkan, perkembangan berikutnya adalah menyangkut berapa banyak puasa yang harus dilakukan. Di Yerusalem, misalnya, orang berpuasa selama 40 hari, mulai hari Senin hingga hari Jumat, tetapi tidak pada hari Sabtu dan hari Minggu, dengan demikian Masa Prapaskah berlangsung selama delapan minggu. Di Roma dan di Barat, orang berpuasa selama enam minggu, mulai hari Senin hingga hari Sabtu, dengan demikian Masa Prapaskah berlangsung selama enam minggu. Akhirnya, diberlakukan praktek puasa selama enam hari dalam satu minggu, selama masa enam minggu, dan Rabu Abu ditetapkan untuk menggenapkan hari-hari puasa sebelum Paskah menjadi 40 hari. Peraturan-peraturan puasa bervariasi pula.

Pertama, sebagian wilayah Gereja berpantang dari segala bentuk daging dan produk hewani, sementara yang lain berpantang makanan tertentu seperti ikan. Sebagai contoh, Paus St. Gregorius (wafat 604), menulis kepada St. Agustinus dari Canterbury, perihal peraturan berikut: “Kami berpantang lemak, daging, dan segala makanan yang berasal dari hewan seperti susu, keju dan telur.”

Kedua, peraturan umum adalah orang makan satu kali dalam satu hari, yaitu pada sore hari atau pada pukul 3 petang.

Peraturan-peraturan puasa Masa Prapaskah juga mengalami perkembangan. Pada akhirnya, makan sedikit pada waktu siang diperbolehkan guna menjaga daya tahan tubuh selama melakukan pekerjaan sehari-hari. Makan ikan diperbolehkan, dan akhirnya makan daging juga diperbolehkan sepanjang minggu kecuali pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat. Dispensasi diberikan untuk mengkonsumsi produk-produk hewani jika orang melakukan kerja berat, dan akhirnya peraturan ini pun sepenuhnya dihapuskan.

Selama bertahun-tahun perubahan-perubahan terus dilakukan dalam merayakan Masa Prapaskah, menjadikan praktek kita sekarang tidak saja sederhana, tetapi juga ringan. Rabu Abu masih menandai dimulainya Masa Papaskah, yang berlangsung selama 40 hari, tidak termasuk hari Minggu. Peraturan-peraturan pantang dan puasa yang berlaku sekarang amatlah sederhana: Pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung, umat beriman berpuasa (makan kenyang hanya satu kali dalam sehari, ditambah makan sedikit untuk menjaga daya tahan tubuh) dan berpantang setiap hari Jumat selama Masa Prapaskah. Umat masih dianjurkan untuk “merelakan sesuatu” sesuatu selama Masa Prapaskah sebagai mati raga. (Catatan menarik adalah bahwa pada hari Minggu dan hari-hari raya, seperti Hari Raya St. Yusuf (19 Maret) dan Hari Raya Kabar Sukacita (25 Maret), orang bebas dan diperbolehkan makan / melakukan apa yang telah dikorbankan sebagai mati raga selama Masa Prapaskah).

Namun demikian, senantiasa diajarkan kepada saya, “Jika kamu berpantang sesuatu demi Tuhan, teguhkan hatimu. Janganlah berlaku seperti orang Farisi yang suka mencari-cari kesempatan.” Lagipula, penekanan haruslah dititikberatkan pada melakukan kegiatan-kegiatan rohani, seperti ikut serta dalam Jalan Salib, ambil bagian dalam Misa, adorasi di hadapan Sakramen Mahakudus, meluangkan waktu untuk berdoa secara prbadi, membaca bacaan-bacaan rohani, dan yang terutama menerima Sakramen Tobat dengan baik dan memperoleh absolusi. Meskipun praktek perayaan dapat berubah dan berkembang dari jaman ke jaman, namun fokus Masa Prapaskah tetap sama: yaitu menyesali dosa, memperbaharui iman, serta mempersiapkan diri menyambut perayaan sukacita misteri keselamatan kita.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.
sumber : “Straight Answers: History of Lent” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2002 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

baca selanjutnya...

Jumat, 11 Maret 2011

Rabu Abu : Asal Mula Perayaan & Penggunaan Abu

oleh: Romo William P. Saunders *
Seorang teman Protestan bertanya mengapa orang Katolik mengenakan abu pada hari Rabu Abu. Bagaimanakah asal mula perayaan dan penggunaan abu?

seorang pembaca di Purcellville

Penggunaan abu dalam liturgi berasal dari jaman Perjanjian Lama. Abu melambangkan perkabungan, ketidakabadian, dan sesal / tobat. Sebagai contoh, dalam Buku Ester, Mordekhai mengenakan kain kabung dan abu ketika ia mendengar perintah Raja Ahasyweros (485-464 SM) dari Persia untuk membunuh semua orang Yahudi dalam kerajaan Persia (Est 4:1). Ayub (yang kisahnya ditulis antara abad ketujuh dan abad kelima SM) menyatakan sesalnya dengan duduk dalam debu dan abu (Ayb 42:6). Dalam nubuatnya tentang penawanan Yerusalem ke Babel, Daniel (sekitar 550 SM) menulis, “Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.” (Dan 9:3). Dalam abad kelima SM, sesudah Yunus menyerukan agar orang berbalik kepada Tuhan dan bertobat, kota Niniwe memaklumkan puasa dan mengenakan kain kabung, dan raja menyelubungi diri dengan kain kabung lalu duduk di atas abu (Yun 3:5-6). Contoh-contoh dari Perjanjian Lama di atas merupakan bukti atas praktek penggunaan abu dan pengertian umum akan makna yang dilambangkannya.

Yesus Sendiri juga menyinggung soal penggunaan abu: kepada kota-kota yang menolak untuk bertobat dari dosa-dosa mereka meskipun mereka telah menyaksikan mukjizat-mukjizat dan mendengar kabar gembira, Kristus berkata, “Seandainya mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu terjadi di Tirus dan Sidon, maka sudah lama orang-orang di situ bertobat dengan memakai pakaian kabung dan abu.” (Mat 11:21)*

Gereja Perdana mewariskan penggunaan abu untuk alasan simbolik yang sama. Dalam bukunya “De Poenitentia”, Tertulianus (sekitar 160-220) menulis bahwa pendosa yang bertobat haruslah “hidup tanpa bersenang-senang dengan mengenakan kain kabung dan abu.” Eusebius (260-340), sejarahwan Gereja perdana yang terkenal, menceritakan dalam bukunya “Sejarah Gereja” bagaimana seorang murtad bernama Natalis datang kepada Paus Zephyrinus dengan mengenakan kain kabung dan abu untuk memohon pengampunan. Juga, dalam masa yang sama, bagi mereka yang diwajibkan untuk menyatakan tobat di hadapan umum, imam akan mengenakan abu ke kepala mereka setelah pengakuan.

Dalam abad pertengahan (setidak-tidaknya abad kedelapan), mereka yang menghadapi ajal dibaringkan di tanah di atas kain kabung dan diperciki abu. Imam akan memberkati orang yang menjelang ajal tersebut dengan air suci, sambil mengatakan “Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Setelah memercikkan air suci, imam bertanya, “Puaskah engkau dengan kain kabung dan abu sebagai pernyataan tobatmu di hadapan Tuhan pada hari penghakiman?” Yang mana akan dijawab orang tersebut dengan, “Saya puas.” Dalam contoh-contoh di atas, tampak jelas makna abu sebagai lambang perkabungan, ketidakabadian dan tobat.

Akhirnya, abu dipergunakan untuk menandai permulaan Masa Prapaskah, yaitu masa persiapan selama 40 hari (tidak termasuk hari Minggu) menyambut Paskah. Ritual perayaan “Rabu Abu” ditemukan dalam edisi awal Gregorian Sacramentary yang diterbitkan sekitar abad kedelapan. Sekitar tahun 1000, seorang imam Anglo-Saxon bernama Aelfric menyampaikan khotbahnya, “Kita membaca dalam kitab-kitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, bahwa mereka yang menyesali dosa-dosanya menaburi diri dengan abu serta membalut tubuh mereka dengan kain kabung. Sekarang, marilah kita melakukannya sedikit pada awal Masa Prapaskah kita, kita menaburkan abu di kepala kita sebagai tanda bahwa kita wajib menyesali dosa-dosa kita terutama selama Masa Prapaskah.” Setidak-tidaknya sejak abad pertengahan, Gereja telah mempergunakan abu untuk menandai permulaan masa tobat Prapaskah, kita ingat akan ketidakabadian kita dan menyesali dosa-dosa kita.

Dalam liturgi kita sekarang, dalam perayaan Rabu Abu, kita mempergunakan abu yang berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar. Imam memberkati abu dan mengenakannya pada dahi umat beriman dengan membuat tanda salib dan berkata, “Ingat, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu,” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Sementara kita memasuki Masa Prapaskah yang kudus ini guna menyambut Paskah, patutlah kita ingat akan makna abu yang telah kita terima: kita menyesali dosa dan melakukan silih bagi dosa-dosa kita. Kita mengarahkan hati kepada Kristus, yang sengsara, wafat dan bangkit demi keselamatan kita. Kita memperbaharui janji-janji yang kita ucapkan dalam pembaptisan, yaitu ketika kita mati atas hidup kita yang lama dan bangkit kembali dalam hidup yang baru bersama Kristus. Dan yang terakhir, kita menyadari bahwa kerajaan dunia ini segera berlalu, kita berjuang untuk hidup dalam kerajaan Allah sekarang ini serta merindukan kepenuhannya di surga kelak. Pada intinya, kita mati bagi diri kita sendiri, dan bangkit kembali dalam hidup yang baru dalam Kristus.

Sementara kita mencamkan makna abu ini dan berjuang untuk menghayatinya terutama sepanjang Masa Prapaskah, patutlah kita mempersilakan Roh Kudus untuk menggerakkan kita dalam karya dan amal belas kasihan terhadap sesama. Bapa Suci dalam pesan Masa Prapaskah tahun 2003 mengatakan, “Merupakan harapan saya yang terdalam bahwa umat beriman akan mendapati Masa Prapaskah ini sebagai masa yang menyenangkan untuk menjadi saksi belas kasih Injil di segala tempat, karena panggilan untuk berbelas kasihan merupakan inti dari segala pewartaan Injil yang sejati.” Beliau juga menyesali bahwa “abad kita, sungguh sangat disayangkan, terutama rentan terhadap godaan akan kepentingan diri sendiri yang senantiasa berkeriapan dalam hati manusia … Suatu hasrat berlebihan untuk memiliki akan menghambat manusia dalam membuka diri terhadap Pencipta mereka dan terhadap saudara-saudari mereka.”

Dalam Masa Prapaskah ini, tindakan belas kasihan yang tulus, yang dinyatakan kepada mereka yang berkekurangan, haruslah menjadi bagian dari silih kita, tobat kita, dan pembaharuan hidup kita, karena tindakan-tindakan belas kasihan semacam itu mencerminkan kesetiakawanan dan keadilan yang teramat penting bagi datangnya Kerajaan Allah di dunia ini.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Ashen Cross” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
* ayat dikutip dari Kitab Suci Komunitas Kristiani, Edisi Pastoral Katolik
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

baca selanjutnya...

Selasa, 08 Maret 2011

Ketentuan Puasa dan Pantang

1. KETENTUAN

Sesuai dengan Kitab Hukum Kanonik kanon 1249 bahwa semua umat beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi hukum ilahi; tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari-hari tobat, di mana umat beriman kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa, menjalankan karya kesalehan dan amal kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang menurut norma kanon-kanon berikut :

Kanon 1250 – Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari Jumat sepanjang tahun, dan juga masa prapaskah.

Kanon 1251 – Pantang makan daging atau makan lain menurut ketentuan Konferensi Para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus.

Kanon 1252 – Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orang tua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.

2. PETUNJUK

a. Masa Prapaskah Tahun 2011 sebagai hari tobat berlangsung mulai hari Rabu Abu, tanggal 9 Maret 2011 sampai dengan Jumat Agung, tanggal 22 April 2011.

b. Pantang berarti tidak makan makanan tertentu yang menjadi kesukaannya dan juga tidak melakukan kebiasaan buruk, misalnya: marah, boros, dsb. Dan lebih mengutamakan dan memperbanyak perbuatan baik bagi sesama.

c. Puasa berarti makan kenyang tidak lebih dari satu kali dalam sehari

3. CARA MEWUJUDKAN PERTOBATAN

a. Doa

Selama masa Prapaskah hendaknya menjadi hari-hari istimewa untuk meningkatkan semangat berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan dengan tekun mendengarkan dan merenungkan sabda Tuhan serta melaksanakannya dengan setia.

b. Karya amal kasih

Pantang dan puasa selayaknya dilanjutkan dengan perbuatan amal kasih yakni membantu sesama yang menderita dan berkekurangan. Kami mengajak Anda sekalian untuk melakukan aksi nyata amal kasih baik pribadi maupun bersama-sama di lingkungan maupun wilayah.

c. Penyangkalan diri

Dengan berpantang dan berpuasa sesungguhnya kita meneladan Kristus yang rela menderita demi keselamatan kita. Kita mengatur kembali pola hidup dan tingkah laku sehari-hari agar semakin menyerupai Kristus.

4. HIMBAUAN

Selama masa Prapaskah, apabila akan melangsungkan perkawinan hendaknya memperhatikan masa tobat. Dalam keadaan terpaksa seyogyanya pesta dan keramaian ditunda.

Ditetapkan di Bogor

Tanggal 14 Februari 2011

Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM
Uskup Keuskupan Bogor

Sumber : http://www.keuskupanbogor.org

baca selanjutnya...

Minggu, 06 Maret 2011

Surat Gembala Prapaskah Uskup Bogor 2011

Saudara-saudari, Umat Keuskupan Bogor,
Salam dan berkat apostolik

kita akan memasuki masa Paskah yang diawali dengan masa puasa selama 40 hari atau yang dinamakan masa Prapaskah. Selama masa puasa itu kita diajak untuk lebih serius memperhatikan hidup rohani kita dengan merenungkan sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Ia menderita dan wafat karena dosa kita, dan Ia bangkit demi kebahagiaan kita.

Masa puasa 40 hari adalah kesempatan yang sangat baik dan saat penuh rahmat bagi kita semua. Kita diundang mengikuti perjalanan Tuhan Yesus dari Galilea menuju Yerusalem dan dalam iman menyaksikan drama kesengsaraan dan penyalibanNya, yang disusul dengan kebangkitanNya pada hari ketiga.

Gereja tak henti-hentinya mengajak seluruh umat beriman agar mereka sadar akan kejinya dosa dan akan perlunya pengampunan serta belas kasihan dari Allah. Oleh karena itulah masa puasa hendaknya menjadi kesempatan untuk bertobat dari dosa dan dari cara hidup yang tak berkenan pada Allah. Kita diajak membarui diri dan mengambil sikap beralih dari hidup lama ke hidup baru yang lebih berkenan pada Allah.

Masa tobat itu kita awali dengan penerimaan abu di kepala pada hari Rabu Abu. Penerimaan abu tersebut tak lain adalah ungkapan atau tanda lahiriah bahwa secara batin kita setuju dengan pertobatan dan siap membarui diri. Abu yang kita terima mengandung makna bahwa kita ini adalah manusia yang rapuh dan berdosa namun tetap disayangi oleh Allah. Belas kasihan Allah itu nampak dalam PuteraNya Yesus yang rela menderita sengsara dan wafat di salib untuk menebus dosa kita dan membebaskan kita dari hukuman dan kematian kekal. Apa yang harus kita lakukan dalam rangka pembaharuan diri tersebut di atas?

Pertama, kita disadarkan kembali akan makna yang terkandung dalam pembaptisan. Gereja mempersiapkan pembaptisan bagi warga baru yang akan dibaptis pada malam Paskah dan mengajak umat agar mengingat kembali pembaptisan yang sudah mereka terima. Saat kita dibenamkan di dalam bejana permandian kita mati bersama Kristus dan keluar dari bejana kita bangkit bersama Dia. Sudah sepatutnyalah kita menyelaraskan hidup kita dengan hidup Kristus.

Kedua, masa puasa saat yang tepat untuk lebih serius menjadikan Allah arah hidup dan pusat berarti percaya, berharap, dan lebih bertaqwa kepadaNya. Dengan demikian, orang yang bertobat akan menjadi tanda berkat dan belas kasihan Allah. Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali ke pangkuanNya bila sudah pergi jauh, untuk berbalik dan berdamai denganNya dan dengan sesama. Kita mengikuti contoh Yesus yang juga berpuasa selama 40 hari. Ia tidak makan, tidak minum, berdoa, mati raga, dan berpantang demi memenuhi kehendak Allah BapaNya.

Ketiga, agar supaya masa ber-rahmat ini menghasilkan buah untuk kehidupan rohani, Ibu Gereja menawarkan kepada kita bermacam-macam cara seperti praksis taqwa kepada Allah dan mengungkapkan kesediaannya untuk melaksanakan kasih melalui doa, olah tapa, dan memberi derma.

Injil Matius memberikan kita ajakan supaya jangan melakukan kewajiban agama agar dilihat orang dan bila memberi sedekah, lakukanlah itu dengan sembunyi-sembunyi dan diam-diam agar tidak dipuji orang. Dan bila berpuasa jangan bermuka muram, berpura-pura seperti orang munafik (bdk. Mat 6:1-4).

Berdoa adalah saat bertemu dengan Kristus yang pasti membawa kegembiraan, memperkaya hidup rohani dan membuat kita menjadi lebih serupa dengan Kristus. Hal itu diperoleh melalui askese (tahan diri) dan olah tapa. Doa yang benar adalah bukan untuk memuaskan diri sendiri, bukan pula untuk merayu-rayu Tuhan agar permohonan dikabulkan, melainkan memberi waktu untuk menyadarkan diri kita sendiri akan karya keselamatan Allah yang harus terlaksana dalam diri kita masing-masing. Orang yang rajin berdoa dan berdoa secara benar adalah orang yang mengakui bahwa Tuhan adalah Tuhan hidupnya dan ia menjadikan Allah itu pusat dan sumber. Kristus menghendaki hati yang terarah pada Tuhan, membangun diri dari dalam dan dari hati nurani. “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu.” (bdk. Yl 2:13).

Mengekang dan mengendalikan diri dari hal yang kita sukai tetapi yang sebenarnya bertentangan dengan kehendak Allah dan kebutuhan jiwa kita sendiri. Maka puasa berarti berorientasi dan berbalik kepada Kristus dan bertemu denganNya secara pribadi. Kita harus sadar juga bahwa hidup di dunia ini bukanlah tujuan akhir peziarahan ini. Perlu kita sadari bahwa pada suatu saat kita harus mati dan harus menghadapi pengadilan Allah untuk menerima ganjaran atau hukuman setimpal dengan amal bakti kita. Suatu saat kita menghadapi hari Yahwe, hari yang mungkin mengenaskan bagi yang tak siap. Allah datang menyadarkan manusia yang gagal namun yang tetap Ia kasihani. Paskah mengajak kita : “bangunlah kamu yang tidur dan bangkitlah dari maut”, dan Kristus akan bercahaya atasmu.

Inilah saatnya pula kita diingatkan akan tugas panggilan penyelamatan manusia bersama Kristus. Tugas menyelamatkan manusia tak cukup dengan kata-kata indah tapi harus disertai dengan tindakan sosial yang nyata. Allah yang mengasihi harus nampak dalam tindakan kita melalui perbuatan kasih, melalui perhatian terhadap sesama yang berkekurangan seperti dengan sukarela memberi derma untuk meringankan beban sesama yang sedang menderita. Kita mencontohi kasih Kristus yang siap berkorban, berbagi dengan yang berkekurangan, yang menderita, yang menantikan uluran tangan dan penghiburan.

Saudara-saudari seiman,

Melalui surat gembala ini saya ingin menyampaikan pula tiga hal yang patut menjadi perhatian kita, yaitu :

1. Tahun 2011 ini kita memperingati yubileum berdirinya hirarki, 50 tahun hirarki Gereja Indonesia, termasuk keuskupan kita. Kita patut berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh pimpinan Gereja di Roma untuk membangun diri kita sendiri pada tanggal 11 Februari 1961. Kita patut bersyukur atas penyertaan Tuhan selama 50 tahun yang silam karena kita menyaksikan Gereja kita bertumbuh dan berkembang, namun kita pun juga mohon agar di hari-hari mendatang menjadi lebih baik.

2. Patut juga saya sampaikan hasil dan pesan SAGKI yang telah dikeluarkan melalui KWI antara lain kita diajak untuk giat mewartakan Kabar Sukacita dan menemukan cara-cara yang tepat melalui metode narasi, kisah dan tutur yang baik tentang Yesus kepada anak-anak dan umat kita. Kita diajak untuk menemukan wajah Yesus dalam tiga kenyataan hidup sehari-hari di bidang sosial budaya, sosial religius, dan sosial ekonomi.

Kita semua disadarkan tentang nilai-nilai budaya dan kearifan lokal serta diajak untuk menjunjung tinggi, memelihara, dan mengembangkannya untuk menghadapi budaya-budaya modern yang merusak kehidupan iman dan kehidupan lokal. Kasih persaudaraan, kebaikan dan kebenaran hendak kita bangun dalam keanekaragaman budaya kita.

Berdasarkan iman yang kita anuti, kita juga harus mampu menemukan nilai-nilai luhur dan injili yang terdapat dan dihayati oleh para penganut pelbagai agama. Kita diajak untuk hidup rukun dan berdamai dengan setiap orang. Gejala kemiskinan yang merebak, bencana-bencana alam yang kita hadapi telah pula menimpa banyak warga. Peristiwa-peristiwa itu harus mampu menggugah setiap pengikut Yesus agar menaruh kepedulian dan tidak menutup mata. Dalam masa Prapaskah ini kesampingkanlah teori-teori dan lakukanlah kegiatan nyata dalam menolong sesama yang susah dan sesama yang miskin. Melalui SAGKI 2010, semoga mata hati dan iman kita mampu melihat dalam diri orang miskin, menderita, dan putus asa sebagai “pewahyu” Wajah Yesus yang sedang menderita, yang berlumuran darah, yang menangis, yang tabah, haus dan lapar (bdk. Mat 25). Kita juga harus ikut berupaya untuk mengurangi kemiskinan dengan berbagai upaya pemberdayaan ekonomi serta melawan segala bentuk perampasan hak milik sesama dan korupsi yang sedang merajalela di negeri kita.

3. Seperti telah kami umumkan tahun yang lalu bahwa kita ingin memfokuskan perhatian pada tahun 2011 pada kaum muda kita sebagai Gereja masa depan. Kita diminta untuk lebih serius memperhatikan mereka dan memberikan pendampingan, agar mereka mampu menghadapi tantangan jaman ini dan beriman teguh pada Kristus yang telah dipilih.

Saudara-saudari yang terkasih,

Mengakhiri Surat Gembala ini saya ingin mengutip Nabi Yesaya : “Berpuasa yang Kukehendaki ialah agar engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya ..., supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya memberi dia pakaian!” (Yes 58:6-7).

Akhirnya, semoga Tuhan menyertai anda sekalian selama masa Retret Agung ini, dan Selamat Paskah.

Dikeluarkan di Bogor, 14 Februari 2011

Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM

Uskup Keuskupan Bogor

baca selanjutnya...

Sabtu, 05 Maret 2011

Surat Gembala Prapaskah Kepausan 2011

“Kamu dikuburkan bersama Dia di dalam baptisan, di situ pula kamu dibangkitkan bersama Dia” (bdk Kol 2:12)

Saudara-saudari terkasih,

Masa Prapaskah, yang menuntun kita ke Perayaan Paskah, bagi Gereja senantiasa merupakan masa liturgis yang sangat berharga dan penting. Dalam rangka itu saya suka menyampaikan pesan khusus ini, agar masa prapaska itu dapat dihayati dengan layak dan sepantasnya. Sambil menantikan perjumpaannya yang definitif dengan Sang Mempelai dalam Paska Surgawi nanti, Gereja, sebagai komunitas yang rajin berdoa dan beramal, mengintensifkan perjalanan batin penyucian dirinya, agar supaya dapat menimba dengan lebih berlimpah dari Misteri Penebusan itu kehidupan baru di dalam Kristus Tuhannya (bdk Prefasi 1 Masa Prapaska).

1. Hidup itulah yang sudah dicurahkan kepada kita pada saat kita dibaptis, ketika kita “mengambil bagian di dalam wafat dan Kebangkitan Krisus”. Di situlah dimulainya bagi kita “pengalaman yang menggembirakan dan mengasyikkan dari para murid” (Khotbah pada Hari Pesta Pembaptisan Tuhan, 10 Januari 2010). Dalam surat-suratnya, berulang-ulang St. Paulus menekankan persekutuan khusus dengan Sang Putera Allah yang menjadi buah dari Baptisan itu. Fakta, bahwa pada umumnya Baptisan diterima orang ketika masih bayi, dengan jelas menunjukkan bahwa hidup kekal itu adalah sungguh-sungguh anugerah dari Allah, dan bukan apa yang diperoleh orang karena usahanya sendiri. Kerahiman Allah, yang menghapus dosa-dosa dan, pada saat yang sama, membuat kita bisa mengalami juga di dalam hidup kita “perasan-perasaan Kristus” (Flp. 2:5), sungguh-sungguh dianugerahkan secara cuma-cuma kepada semua orang, baik pria maupun wanita.

Dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi, Rasul St. Paulus mengungkapkan arti-makna perubahan mendasar yang terjadi dengan turut mengambil bagian di dalam wafat dan kebangkitan Kristus itu. Sambil menunjuk kepada tujuannya ia mengatakan, bahwa “yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati” (Flp. 3:10-11). Dengan demikian maka Baptisan bukanlah hanya sekedar upacara ritual yang sudah lampau, melainkan adalah perjumpaan dengan Kristus, yang membentuk seluruh keberadaan si terbaptis dengan pencurahan hidup ilahi serta dengan memanggilnya kepada pertobatan yang sejati. Diinisiasikan dan didukung dengan rakhmat. maka orang yang dibaptis mulai dimampukan untuk mencapai taraf kedewasaan Kristus.

Ada kaitan khusus yang menghubungkan Baptisan dengan masa Prapaska, sebagai masa yang tepat untuk mengalami rakhmat yang menyelamatkan itu. Bapa-bapa Konsili Vatikan Kedua menghimbau para Gembala Umat Gereja untuk semakin memanfaatkan “unsur-unsur liturgi masa Prapaskah yang berkenaan dengan baptisan” (Sacrosanctum Concilium, Konstusi tentang Liturgi, no 109). Pada kenyataannya Gereja senantiasa mengaitkan Malam Paskah dengan upacara Baptisan, karena Sakramen ini mengungkapkan misteri agung manusia yang, setelah dibebaskan dari dosa, menjadi pengambil-bagian dalam kehidupan baru dari Kristus-Yang-Bangkit dan menerima Roh Allah yang sama yang telah membangkitkan Yesus dari alam maut (bdk. Rom. 8:11). Anugerah cuma-cuma ini haruslah senantiasa dikobarkan kembali di dalam diri kita masing-masing dan masa Prapaskah justru memberi kita jalan seperti yang ada pada masa Katekumenat, yang bagi umat beriman dari Gereja Perdana dahulu, seperti juga halnya bagi para calon baptis jaman sekarang, adalah sekolah yang tak-tergantikan bagi iman dan kehidupan kristiani. Sungguh, mereka itu menghayati Baptisan mereka sebagai yang membentuk seluruh keberadaan mereka.

2. Untuk dapat menempuh perjalanan kita menuju Paskah itu secara lebih serius dan mempersiapkan diri merayakan Kebangkitan Tuhan, ─ini adalah hari raya yang paling menggembirakan dan paling mulia dalam seluruh tahun liturgi,─ kiranya tidak ada jalan yang lebih tepat selain membiarkan diri kita dibimbing oleh Sabda Allah sendiri. Untuk itulah, Gereja, melalui bacaan-bacaan Injil pada hari Minggu sepanjang masa Prapaskah, menuntun kita untuk bisa sampai pada perjumpaan khusus yang mesra dengan Tuhan, dengan mengajak kita napak-tilas lagkah-langkah insiasi Kristiani kita: bagi para calon baptis, untuk mempersiapkan penerimaan sakramen kelahiran kembali itu; dan bagi yang sudah dibaptis, untuk memantapkan diri dalam langkah baru dan definitif yang telah diambil untuk menjadi pengikut Kristus dan semakin berserah diri kepada-Nya.

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah mengungkapkan keberadaan kita sebagai manusia yang hidup di bumi ini. Kemenangan dari perjuangan melawan penggodaan yang menjadi titik awal perutusan Yesus, haruslah menjadi ajakan bagi kita untuk menyadari kerapuhan kita dalam menerima Rakhmat yang membebaskan kita dari dosa dan membcri pencurahan kekuatan baru di dalam Kristus, “jalan, kebenaran dan hidup” (bdk. Tatacara Inisiasi Kristiani bagi Orang Dewasa, no. 25). Hal itu harus menjadi peringatan yang keras bagi kita, bahwa iman kepercayaan Kristiani, sesuai dengan teladan dari dan dalam kesatuan dengan Kristus, mencakup juga perjuangan “melawan kuasa-kuasa kegelapan di dunia ini” (bdk. Ef. 6:12). Di sana si Setan, tanpa mengenal lelah senantiasa bekerja, juga sekarang ini, untuk menggoda siapa saja yang mau hidup dekat dengan Tuhan. Kristus yang akhirnya jaya terhadap godaan itu, membuka hati kita pada harapan baru dan membimbing kita juga untuk dapat mengalahkan bujukan-bujukan iblis itu.

Hari Minggu Kedua, dengan bacaan injil tentang Transfigurasi Tuhan, menampilkan di depan mata kita kemuliaan Kristus yang mengantisipasi kebangkitan-Nya dan mewartakan pengangkatan manusia kepada martabat ilahi. Persekutuan umat kristiani menjadi sadar, bahwa Tuhan Yesuslah yang membawanya, sama seperti dahulu Petrus, Yakobus dan Yohanes, “naik ke atas gunung yang tinggi” (Mat. 17:5) untuk sekali lagi di dalam Kristus menerima sebagai putera dan puteri di dalam diri Sang Putra sendiri, anugerah rakhmat Allah ini: “Inilah Putra-Ku yang terkasih, yang berkenan pada-Ku. Dengarkanlah Dia” (Mat 17:5). Hal ini harus menjadi ajakan bagi kita untuk mengambil jarak dari hiruk-pikuk hidup kita sehari-hari, agar kita dapat menceburkan diri masuk ke dalam hadirat Allah. Ia berkehendak untuk menyampaikan kepada kita, setiap hari, Sabda-Nya yang menembus lubuk hati kita, sehingga kita bisa membedakan yang baik dan yang jahat (bdk. Ibr. 4:12), dan dengan demikian memperkuat kehendak kita untuk mengikuti Tuhan.

Hari Minggu Ketiga menampilkan bagi kita di dalam liturginya Yesus yang mengajukan permintaan kepada Wanita Samaria: “Berilah Aku minum” (Yoh, 4:7). Sabda Tuhan itu mengungkapkan bela-rasa Allah terhadap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, dan mampu membangkitkan di dalam hati kita kerinduan akan anugerah “mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 4:14). Inilah anugerah Roh Kudus yang akan mengubah orang-orang kristiani menjadi “penyembah-penyembah yang sejati”, yang mampu berdoa kepada Bapa “dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:23). Hanya air inilah yang mampu memadamkan kehausan kita akan kebaikan, kebenaran dan keindahan, Hanya air inilah, yang dianugerahkan Putra kepada kita, dapat menyirami gurun kersang jiwa kita “yang tidak akan bisa tenang sebelum menemukan Allah”, sebagaimana kata-kata kesohor St Agustinus itu mengungkapkannya.

Hari Minggu Keempat, melalui kisah “orang yang buta sejak lahir” itu, menampilkan Kristus, Sang Cahaya Dunia. Injil hari ini mengkonfrontasikan masing-masing kita dengan pertanyaan ini: “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” “Ya, Tuhan, aku percaya” (Yoh. 9:35,39) seru orang yang buta sejak lahir itu dengan sukacita, dan dengan demikian ia menyuarakannya juga bagi semua orang beriman. Mukjijat penyembuhan ini menjadi tanda, bahwa Kristus berkehendak memberi kita, bukan saja kemampuan untuk melihat, tetapi juga membuka kemampuan kita melihat secara batin, sehingga iman kepercayaan kita juga semakin diperdalam dan kita mampu mengenali-Nya sebagai satu-satunya Juru Selamat kita. Ia menerangi apa saja yang merupakan kegelapan di dalam hidup dan membimbing semua orang laki-laki dan perempuan untuk hidup sebagai “anak-anak terang”

Pada Hari Minggu Kelima., ketika diwartakan pembangkitan Lazarus, kita diperhadapkan kepada misteri terakhir dari keberadaan kita: “Akulah kebangkitan dan kehidupan … Percayakan engkau akan hal itu?” (Yoh. 11:25-26). Bagi Komunitas Umat Beriman Kristiani inilah saatnya untuk dengan tulus-ikhlas, ─bersama dengan Martha,─ menaruhkan segenap harapannya kepada Yesus dari Nazaret itu: “Ya, Tuhan, saya percaya, bahwa engkaulah Kristus, Putra Allah, yang datang ke dalam dunia ini” (Yoh. 11:27). Persekutuan dengan Kristus di dalam hidup ini, mempersiapkan kita untuk dapat mengatasi batas-batas kematian, sehingga kita masuk ke dalam hidup abadi bersama dengan Dia. Iman kepercyaaan kepada kebangkitan orang mati dan harapan akan kehidupan kekal itu membuka mata kita kepada arti makna yang terdalam dari keberadaan kita: Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk kebangkitan dan kehidupan, dan kebenaran ini memberikan arti yang otentik dan pasti kepada sejarah manusia, kepada kehidupan pribadi dan social laki-laki dan perempuan, kepada budaya, politik dan ekonomi. Tanpa terang iman itu, segenap jagat-raya akan berakhir, tertutup dalam liang kubur dan tidak akan ada lagi masa depannya, tidak akan ada lagi harapannya.

Seluruh perjalanan sepanjang masa Prapaskah ini akan mendapatkan kepenuhannya di dalam Tri-Hari Suci Paskah, secara istimewa dalam Malam Kudus Tirakatan Paskah. Di sana, dengan memperbarui janji-janji baptis kita, kita menegaskan kembali pengakuan iman kepercyaan kita, bahwa Kristus adalah Tuhan hidup kita, bahwa ketika “dilahirkan kembali melalui air dan Roh Kudus” itu kita mendapat anugerah hidup dari Allah, dan kita mengakui sekali lagi kesediaan kita menanggapi karya Rakhmat itu untuk menjadi murid-murid-Nya.

3. Dengan menenggelamkan diri ke dalam kematian dan kebangkitan Kristus melalui Sakramen Baptis, kita didorong setiap hari untuk membebaskan hati kita dari hal-hal material yang menjadi beban, dari keterikatan kita yang egoistis dengan “dunia” yang malah memiskinkan kita dan menghalangi kita untuk siap dan terbuka bagi Allah dan sesama kita. Di dalam Kristus Allah menyatakan diri-Nya bahwa Dia adalah Kasih (lih. 1Yoh. 4:7-10). Salib Kristus, yang adalah “Sabda Salib” itu sendiri, menyatakan kekuatan Allah yang menyelamatkan (lih. 1Kor 1:18), yang dianugerahkan untuk membangkitkan kembali manusia, baik laki-laki maupun perempuan, dan memberi mereka keselamatan: itulah pernyataan Kasih yang paling agung (bdk. Ensiklik Deus Caritas Est, no. 12). Dengan menjalankan tradisi berpuasa, bersedekah dan berdoa, yang merupakan ungkapan kesediaan kita untuk bertobat, masa Prapaskah mengajar kita bagaimana menghayati Kasih Kristus itu secara yang paling tuntas.

Berpuasa. Dengan pelbagai kemungkinan motivasi yang menjadi dasarnya, bagi orang kristiani berpuasa memiliki kepentingan religius yang sangat mendalam: dengan mengurangi apa yang kita sajikan di atas meja makan, kita belajar mengalahkan keserakahan dan memupuk hidup atas dasar anugerah dan cinta; dengan mengalami suatu bentuk berkekurangan, dan justru bukan yang berkelebihannya, kita belajar memalingkan diri dari ke-“aku”-an kita, untuk bias menemukan Seseorang yang lain yang dekat dengan kita, bahkan untuk bisa mengenal Allah melalui wajah begitu banyak saudara dan saudari kita. Bagi umat Kristiani, berpuasa, jauh dari pada menyusahkan, malah lebih dapat membuka diri kita terhadap Allah dan kebutuhan sesama, dan dengan demikian memungkinkan cinta kita kepada Allah menjadi cinta kepada sesama (bdk Mrk. 12:31).

Bersedekah. Dalam perjalanan hidup kita, seringkali kita diperhadapkan pada godaan untuk menimbun dan mencintai uang yang dapat merongrong kedaulatan Allah bagi dan dalam hidup kita. Nafsu serakah untuk memiliki ini bisa menyeret kita ke kekerasan, eksploitasi dan kematian. Untuk itulah, maka bersedekah oleh Gereja, terutama selama masa Prapaskah, dijadikan pengingat bagi kita, bahwa kita pun memiliki kemampuan untuk berbagi. Sebaliknya, pemujaan terhadap materi, bukan saja menjauhkan kita dari sesama, melainkan juga menelanjangi kita, membuat kita tidak berbahagia, menipu kita, mengelabui kita tanpa memenuhi apa yang dijanjikannya, justru karena Allah, sumber segala kehidupan, kita gantikan dengan materi. Tidak mungkin kita dapat memahami kebaikan Allah, apabila hati kita dipenuhi dengan egoisme dan kepentingan-kepentingan diri kita sendiri, sambil menipu diri kita sendiri bahwa masa depan kita terjamin. Kita selalu tergoda untuk berpikir seperti si orang kaya di dalam Injil: “Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya …”. Kita semua tahu betul apakah yang menjadi penilaian Tuhan: “Orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu … “ (Luk. 12:19-20). Bersedekah mengingatkan kita kepada kedaulatan Tuhan dan mengarahkan perhatian kita kepada sesama, sehingga kita dapat menemukan kembali betapa baiknya Bapa kita itu, dan dengan demikian kita akan memperoleh belas-kasih-Nya.

Berdoa. Selama masa Prapaskah ini Gereja menawarkan kepada kita Sabda Allah dengan sungguh-sungguh secara berlimpah-ruah. Dengan merenungkan dan membatinkan Sabda itu agar kita dapat menghayatinya setiap hari, kita diberi kesempatan mempelajari suatu bentuk doa yang sangat berharga dan tak-tergantikan, yakni dengan penuh perhatian mendengarkan Allah, yang senantiasa berbicara kepada hati, kita memberi makanan yang menghidupkan perjalanan keberimanan kita yang telah dimulai pada saat kita dibaptis. Berdoa juga mengajar kita untuk mendapatkan pemahaman baru tentang waktu: yakni, bahwa pada kenyataannya tanpa perspektif keabadian dan ke-transenden-an, waktu hanyalah akan menjadi pengantar langkah-langkah kita kepada suatu cakrawala yang tak bermasa depan. Sebaliknya, apabila kita berdoa, kita menemukan waktu bagi Allah, untuk memahami bahwa “sabda-Nya tidak akan binasa” (bdk. Mrk. 13:31), untuk bersama dengan Dia masuk ke dalam persekutuan mesra “yang tidak akan dirampas orang dari padamu” (Yoh 16:22), yang akan membukakan bagi kita pengharapan yang tak-akan mengecewakan, yakni kehidupan kekal.

Sebagai kesimpulan, perjalanan kita sepanjang masa Prapaskah, ke mana kita semua diundang untuk mengkontemplasikan Misteri Salib Tuhan, dimaksudkan juga agar kita bisa “menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Flp. 3:10) agar dengan demikian juga memperolehkan suatu pertobatan yang mendalam bagi hidup kita. Semoga kitapun akan diubah oleh karya Roh Kudus, sebagaimana Rasul Santo Paulus mengalaminya di jalan ke Damsyik. Semoga kita pun akan senantiasa mengkiblatkan keberadaan kita kepada kehendak Allah. Semoga kita pun akan dibebaskan dari segala bentuk egoism, dengan mengalahkan segala kecenderungan kita untuk menguasai orang lain, dan semoga kita semakin dapat membuka diri kita kepada kasih Kristus. Masa Prapaskah adalah masa yang tepat untuk mengenal kelemahan-kelemahan kita dan, dengan secara jujur memeriksa hidup kita, untuk menerima pemulihan rakhmat melalui Sakramen Tobat dan untuk dengan mantap kembali kepada Kristus.

Saudara-saudari terkasih, melalui perjumpaan pribadi kita dengan Sang Juru Selamat dan melalui puasa, sedekah serta doa, perjalanan pertobatan kita menuju Paskah akan membawa kita pada penemuan kembali Baptisan kita. Semoga dalam masa Prapaskah ini kita semua memperbarui penerimaan kita akan rakhmat yang telah dianugerahkan Allah kepada kita melalui Sakramen Baptis itu, sehingga rakhmat itu akan menerangi dan menuntun segala sepak-terjang hidup kita. Apa yang ditandakan dan dinyatakan oleh Sakramen itu adalah, bahwa kita dipanggil untuk setiap hari mengalami hal menjadi pengikut Kristus itu secara lebih setia dan tulus, Marilah kita di dalam perjalanan itu berserah diri kepada Santa Perawan Maria, yang telah melahirkan Sang Juru Selamat baik secara beriman maupun menurut daging, sehingga kita semakin dapat menenggelamkan diri, sebagaimana Bunda Maria telah melakukannya juga, di dalam wafat dan kebangkitan Puteranya Yesus, dan dengan demikian juga memperoleh hidup kekal.

Dikeluarkan di Vatikan, 4 November 2010,

Benediktus XVI, Paus.

Sumber : http://www.keuskupanbogor.org/

baca selanjutnya...

Jumat, 04 Maret 2011

Tata Cara Tuguran

Umat Katolik yang datang ke misa Kamis Putih yang paling malam hampir pasti mendapati bahwa ritus penutup dengan berkat dalam misa itu ditiadakan. Sebagai gantinya ada ritus pemindahan Sakramen Mahakudus, dari altar utama ke altar (atau tabernakel) lain. Di altar (atau tabernakel) lain itulah kemudian dilakukan pentakhtaan Sakramen Mahakudus (dalam sibori, bukan monstrans). Nah, biasanya lalu Sakramen Mahakudus itu dijaga oleh umat dalam suatu ritus yang disebut tuguran. Pertanyaan berikutnya, apa yang dilakukan selama tuguran itu? Jawabnya sederhana sekali, diam dan hanya diam.

Beberapa tahun terakhir ini saya mengamati adanya trend untuk mengisi kegiatan tuguran dengan berbagai doa-doa bersama, bahkan sahut menyahut. Saya kurang jelas siapa yang memulai eksperimen ini. Saya pribadi lebih menyarankan agar umat mengikuti dan melestarikan tradisi katolik universal yang dipraktikkan di seluruh dunia dan sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Sekali lagi, diam dan hanya diam.

Nah, tentu belum afdol kalau saya tidak berbagi aturannya. Berikut ini saya kutipkan dari Caeremoniale Episcoporum (Ceremonial of Bishops atau Tata Upacara Para Uskup) keluaran Vatikan, pasal 308-311. "Saat dinyanyikan Tantum ergo (PS 502 ayat 5-6, atau bahasa Indonesianya di PS 501 ayat 5-6 Sakramen yang sungguh agung) ..., uskup (atau imam selebran), berlutut, mendupai Sakramen Mahakudus. ... Setelah adorasi dalam keheningan selama beberapa saat, semuanya berdiri, berlutut dengan satu kaki kanan ditekuk, dan kembali ke sakristi. ... Umat beriman hendaknya didorong untuk melanjutkan adorasi (dalam keheningan) di depan Sakramen Mahakudus selama beberapa waktu di malam hari itu, sesuai kondisi setempat, namun jangan ada lagi adorasi agung setelah tengah malam."

Uskup Peter Elliott, pakar liturgi yang lama berdinas di Vatikan, dalam bukunya Ceremonies of the Modern Roman Rite membahas lebih jauh tentang berbagai kegiatan adorasi Sakramen Mahakudus. Yang Mulia menulis, "Silence is maintained always. (Keheningan dijaga, selalu.)" (Hal. 251) Hal menghentikan adorasi saat tengah malam, Yang Mulia menjelaskan dalam bukunya yang lain Ceremonies of the Liturgical Year, bahwa, "Pada tengah malam lilin-lilin dan lampu-lampu dipadamkan dan bunga-bunga disingkirkan, tetapi satu lampu (lampu Allah, penanda adanya Sakramen Mahakudus) harus tetap bernyala. Adorasi yang lebih sederhana boleh, dan seyogyanya, dilanjutkan sampai pagi, bahkan bila perlu sampai sebelum upacara-upacara Jumat Suci, bila hal ini memungkinkan." (Hal. 108-109)

Ada satu aturan lagi dari Vatikan, Sirkuler Kongregasi Ibadat Ilahi tentang Persiapan dan Perayaan Pesta Paskah (Feb 1988), yang menyebut bahwa, " ... bila diinginkan dapat dibacakan bagian-bagian Injil Yohanes 13-17." (SPPP 56) Kata kuncinya adalah "bila diinginkan", jadi bukan keharusan. Lalu, kalaupun diinginkan, bentuknya adalah komunikasi searah, Injil dibacakan (dengan khidmat) dan umat mendengarkan. Intinya adalah bahwa umat tetap meneruskan adorasi dalam keheningan. Doa-doa bersama, apalagi sahut menyahut, dapat memindahkan perhatian umat dari Sakramen Mahakudus dan melemahkan makna adorasi. Ingat, adorasi artinya mengagumi, memuja, menyembah.

Sumber : http://tradisikatolik.blogspot.com/

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP