%">PS "GITA BAKTI HERKULANUS" berlatih tiap Minggu sore

Sabtu, 26 Februari 2011

MISA ANAK-ANAK: Beberapa Catatan Praktis

oleh:
P.C.H. Suryanugraha,OSC


Anak-anak yang telah dibaptis seringkali terabaikan dalam kegiatan liturgis Gereja, khusus-nya dalam Misa. Tidak semua orangtua memenuhi tanggung jawabnya untuk memerhatikan pendidikan religius kristiani bagi anak-anaknya. Situasi sosial-budaya zaman sekarang kira-nya amat dapat memengaruhi pertumbuhan iman mereka. Maka, Gereja pun harus menuangkan perhatian untuk masalah penting ini. Memang upaya di bidang ini tidaklah mudah. Gereja (Takhta Suci) pernah mengeluarkan Pedoman Misa Bersama Anak-Anak (PMBA/Directorium de Missis cum Pueris, Roma, 1 Nov. 1973) sebagai salah satu bantuan untuk menyelenggarakan Misa yang melibatkan peran anak-anak. Berikut ini hanya beberapa catatan praktis banyak menimba dari buku Pedoman itu.

Mengapa anak-anak dan untuk apa?
Anak-anak seolah memiliki dunia tersendiri, yang berbeda dengan dunia orang dewasa. Cara bicara, berpikir, imajinasi, dan daya tangkap mereka tidak setara dengan orang-orang dewasa. Kita tidak bisa begitu saja memaksakan bakat dan kemampuan anak untuk bisa hidup dalam alam orang dewasa. Untuk itu mereka perlu perlakuan khusus. Secara psikologis terbukti bahwa anak-anak memendam bakat religius yang luar biasa. Pengalaman religius yang mereka dapatkan pada masa kanak-kanak atau ketika duduk di bangku Sekolah Dasar akan sangat memengaruhi perkembangan mereka (PMBA 2). Misa atau Perayaan Ekaristi sewajarnya juga dapat menjadi medan bagi perkembangan hidup religius mereka. Maka, anak-anak pun sejak dini harus dibimbing untuk bisa menghayati Misa atau perayaan liturgis lainnya. Pendidikan untuk anak-anak ini bertujuan agar tingkah laku dan cara hidup anak-anak makin lama makin sesuai dengan amanat Injil (PMBA 15).

Apa yang perlu mereka timba dari Misa?
Sesuai dengan taraf pertumbuhan, anak-anak memang dibimbing untuk dapat menghayati hal-hal ilahi pada umumnya. Namun secara khusus mereka dituntun pula untuk bisa mengalami nilai-nilai manusiawi yang terdapat dalam Misa. Karena memang dalam Misa dapat ditemukan banyak nilai-nilai itu. Nilai-nilai manusiawi itu misalnya: kebersamaan, keramahan, kemampuan untuk memasang telinga, kemampuan untuk minta ampun dan memberi ampun, ungkapan rasa terima kasih, penghayatan lambang-lambang, jamuan persahabatan, perayaan pesta, dsb (PMBA 9). Nilai-nilai itu diperkenalkan supaya anak-anak secara bertahap terbuka untuk menangkap nilai-nilai kristiani dan untuk merayakan misteri Kristus sesuai dengan umur dan keadaan psikologis maupun sosial.

Perlu pendampingan?
Orangtua dari masing-masing anaklah yang paling bertanggung jawab dalam menumbuhkan dan merawat iman anak mereka. Orang dewasa lain dapat membantu orangtua untuk memberikan pendidikan liturgi kepada anak-anak. Sejak dini anak sudah diajari berdoa bersama, selain berdoa sendiri. Mereka pun boleh diajak mengikuti Misa untuk orang dewasa dalam rangka pendidikan liturgi bagi anak itu sendiri. Peran orangtua adalah mendampingi anak mengenal setiap unsur yang tampil dalam Misa. Pendampingan langsung pada waktu Misa itu kiranya dapat cukup efektif. Kesempatan lain masih perlu diwujudkan, misalnya dalam pelajaran agama di sekolah maupun paroki diberikan katekese tentang Misa. Terutama katekese menjelang anak menerima komuni pertama (PMBA 12). Di situlah orang-orang tertentu yang cakap dan terlatih dalam pendidikan religius anak berperan besar (katekis, guru agama, walibaptis, pastor, dsb).

Peran orang dewasa yang....
Berliturgi bersama anak memerlukan perhatian dan tenaga ekstra. Hal yang cukup menyita perhatian itu sudah terjadi dalam persiapannya. Di sini peran orang dewasa sangat penting. Anak-anak biasanya akan menuruti saja konsep atau gagasan yang dikatakan para pembinanya. Maka, kepercayaan alamiah semacam itu merupakan modal dasar bagi para pembina untuk sungguh-sungguh mencurahkan hati bagi terlaksananya perayaan liturgi bersama anak. Idealnya, pertama-tama mereka harus mencintai anak-anak, dekat dengan anak, cukup kreatif, jeli, sabar, lincah, syukur-syukur bisa menyanyi. Yang tak boleh ketinggalan juga adalah mereka perlu cukup memahami makna berliturgi bersama anak. Setidaknya tahu beberapa aturan prinsipial yang tak boleh diabaikan.

Kehadiran anak dalam Misa untuk orang dewasa
Kebanyakan Misa memang dikhususkan bagi orang dewasa. Biasa juga disebut Misa untuk umum. Anak-anak yang hadir dalam Misa untuk umum itu kadang kala dianggap sebagai gangguan. Ada imam yang terpaksa murka karena mendengar jerit tangis anak ketika dia sedang homili. Ada umat yang merasa terusik melihat anak-anak yang berkeliaran tanpa tujuan. Pendeknya, kehadiran mereka seolah tidak diperhitungkan sehingga mereka “beterbangan” seperti lalat atau nyamuk. Keberadaan mereka itu dirasa merecoki perayaan yang tengah berlangsung. Sekali lagi, dalam konteks pendidikan anak itu sendiri, orang dewasalah yang harus mengambil inisiatif untuk memperhatikan keberadaan anak-anak juga. Umat dewasa diharapkan memberi teladan dan kesaksian, karena dua hal ini amatlah berpengaruh bagi anak.

Perhatian, peran atau tugas khusus
Memang selalu berisiko kalau anak-anak tidak diberi tempat. Padahal mereka bisa saja diberi peran atau tugas khusus. Atau mungkin cukuplah cuma sekedar disapa oleh Imam atau petugas lainnya. Sapaan verbal yang secara khusus ditujukan untuk anak-anak yang hadir mungkin bisa merupakan bentuk perhatian nyata kepada anak-anak. Sapaan verbal itu bisa disampaikan oleh imam pada saat Salam, Homili, atau bagian lain yang sesuai dengan situasi pada saat perayaan. Peran atau tugas khusus sebaiknya juga diberikan kepada anak-anak, misalnya mengidungkan mazmur tanggapan, atau nyanyian lain, membawa bahan-bahan persembahan dalam ritus persiapan persembahan, atau ritual lain yang tidak terlalu sulit jika dilakukan oleh anak-anak.

Penyesuaian mendadak
Jika semula sebuah misa dipersiapkan untuk orang dewasa, namun kenyataannya malah dihadiri lebih banyak anak-anak, maka diperkenankan juga untuk menyesuaikan seluruh Misa dengan kebutuhan anak-anak yang hadir (PMBA 19). Minimal, homilinya dapat secara khusus ditujukan kepada anak-anak itu. Namun diolah sedemikian rupa sehingga orang dewasa pun dapat memetik manfaatnya. Pada umumnya, cara penyesuaian semacam itu tentu saja tetap harus mengacu pada pedoman atau norma-norma liturgis yang berlaku. Secara khusus wewenang penyesuaian semacam itu berada di tangan uskup dioses yang bersangkutan.

Misa khusus untuk anak-anak
Pada hari Minggu anak-anak biasanya bersama orangtua/keluarganya hadir dalam Misa umat (dewasa). Namun alangkah baiknya juga ada kesempatan Misa khusus untuk anak-anak, yang boleh dihadiri beberapa orang dewasa saja. Misa khusus anak-anak itu sebaiknya pada hari biasa dalam pekan, bukan hari Minggu; dan juga bukan setiap hari (PMBA 20).

Tujuannya apa?
Misa khusus anak-anak adalah untuk membantu anak-anak agar dapat mengikuti Misa umat, khususnya yang dirayakan pada hari Minggu. Dalam Misa khusus itu anak-anak diajari atau dilatih agar nantinya terbiasa dan bisa memahami serta menghayati Misa umat. Maka, Misa khusus anak-anak dapat disusun dan diselaraskan dengan alam pikir anak-anak, namun janganlah mengadakan Misa khusus yang sama sekali baru, yang terlalu menyimpang dari Tata Perayaan Ekaristi/Misa umat.

Peran serta yang sadar dan aktif dari anak-anak
Prinsip “participatio actuosa” pun berlaku untuk Misa anak-anak. Peran serta aktif dan sadar itu bahkan amat penting dalam Misa anak-anak. Segala upaya dalam persiapan dan pelaksanaan hendaknya diarahkan untuk mempermudah dan meningkatkan partisipasi anak-anak. Semakin banyak anak-anak yang terlibat dan bertugas khusus akan makin baik perayaan itu. Apa saja yang bisa ditawarkan kepada mereka? Misalnya: [1] menyiapkan dan menghias ruang dan altar; [2] membawakan nyanyian; [3] bernyanyi dalam paduan suara atau memainkan alat musik tertentu; [4] membawakan bacaan; [5] memberi jawaban dalam homili, jika ditanya; [6] mengucapkan doa umat; [7] mengantar bahan persembahan ke altar; dsb. Ini semua peran serta yang bersifat lahiriah. Selain itu, anak-anak pun perlu diajari untuk berperan serta secara batiniah, misalnya dalam saat-saat hening. Entah setelah bacaan, homili, atau saat komuni. Dan anak-anak juga harus disadarkan bahwa partisipasi tertinggi adalah ketika mereka menerima komuni, menyambut Tubuh dan Darah Kristus sebagai santapan rohani (PMBA 22).

Peran Imam Selebran amat penting
Tidak semua Imam dianugerahi bakat atau kemampuan untuk bisa dekat dengan anak-anak, atau bahkan sekedar berbicara menarik di hadapan anak-anak. Namun, dengan segala keter-batasan dan kelebihannya, seorang Imam harus selalu berupaya untuk dapat merayakan Misa anak-anak dengan sebaik mungkin. Imam Selebranlah yang menjadi pengendali utama perayaan itu. Tentu saja, peran orang dewasa di sekitarnya amatlah membantu tugas Imam itu. Maka, meskipun perannya amat penting, Imam sebaiknya tetap harus menjalin komuni-kasi dan kerjasama yang baik dengan para petugas atau pendamping yang orang-orang dewasa itu.

Beberapa upaya Imamnya
Imam harus sungguh menyadari tugasnya. Apa yang sedang dilakukannya, dengan siapa dia melakukannya, dan bagaimana melakukannya? Misa anak-anak memang agak istimewa, Imam harus berusaha menciptakan suatu perayaan (pesta) dalam suasana persaudaraan dan kekhidmatan. Imam sendiri harus menyiapkan diri dengan lebih teliti. Cara bertindak dan bicaranya dalam perayaan akan sangat menentukan suasana Misa itu. Ada petunjuk praktis: hendaknya gerak-gerik Imam itu pantas, jelas, dan sederhana. Sapaan kepada umat yang masih anak-anak itu perlu disertai ungkapan dan gerak-gerik sehingga maksudnya mudah ditangkap. Tapi harus dihindari gaya yang kekanak-kanakan, atau cuma sekedar mengun-dang tertawaan anak-anak. Imam tetap harus tampil sebagai “bapa” yang dekat dengan anak -anak, tapi masih terasa berwibawa. Bahasa yang digunakan Imam sebaiknya juga bahasa yang sungguh menyapa dan mengena di hati anak-anak. Maka, boleh saja Imam mengguna-kan kata-katanya sendiri untuk mengantar suatu ritus, misalnya: ajakan sebelum doa tobat, doa persiapan persembahan, doa Bapa Kami, untuk salam damai, untuk menyambut komuni (PMBA 23). Ada juga beberapa doa Imam yang perlu disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak-anak. Secara khusus dalam buku TPE (Tata Perayaan Ekaristi) kita telah disediakan tiga Doa Syukur Agung untuk Misa anak-anak (DSA VIII, IX, X).

Tempatnya di mana?
Tempat utama untuk Misa anak-anak adalah gedung gereja. Namun, biasanya gedung gereja tidak bisa secara ideal menampung kegiatan Misa anak-anak yang sebaiknya dinamis itu. Kalau bisa, itu bagus. Kalau tidak, bisa dicari tempat lain yang cocok dan pantas untuk perayaan liturgi dan memungkinkan anak-anak bergerak cukup leluasa (PMBA 25).

Kapan saatnya?
PMBA 26 menyebut: “Hendaknya dipilih waktu yang cocok dengan keadaan anak-anak, sehingga mereka sungguh terbuka untuk mendengarkan sabda Allah dan merayakan Ekaristi.” Biasanya waktu yang cukup tepat adalah saat pagi hari, tidak terlalu siang, ketika anak-anak masih segar, belum kelelahan. Atau tidak bersamaan waktunya dengan acara lain yang mungkin akan lebih menggoda mereka. Memang Misa bukanlah selalu bentuk ibadat yang paling tepat untuk anak-anak (PMBA 27). Maka, tidak perlulah memaksakan diri untuk mengadakannya jika bentuk ibadat bersama yang lain akan lebih cocok dan bermanfaat (: doa bersama, renungan, ibadat sabda).

Jumlah anak yang ikut?
Rupanya tidak bisa begitu saja kita tentukan jumlah tertentunya. Kalau cuma sedikit jumlah anaknya tentu suasana perayaan kurang bisa tercipta. Sebaliknya, kalau jumlahnya terlam-pau banyak, perhatian dan partisipasi mereka akan sangat sulit. Jumlah yang besar itu bisa dibagi dalam beberapa kelompok menurut taraf usia, penghayatan iman, atau tingkat kate-kese. Tidak perlu setiap kelompok itu merayakan Misa pada hari yang sama (PMBA 28). Jadi, untuk menentukan jumlah anak perlu mempertimbangkan: [1] bagaimana anak-anak bisa berpartisipasi dengan baik, dan [2] bagaimana menciptakan suasana perayaan sesuai dengan yang diharapkan, yang ideal untuk anak-anak.

Bagaimana menyiapkan perayaan?
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan secara khusus dalam persiapannya. Yang terutama adalah: [1] doa (imam dan umat), [2] bacaan, [3] nyanyian (PMBA 29). Ini menyangkut persiapan teks Misanya. Perlu juga menyiapkan unsur-unsur animatif lainnya, unsur-unsur yang bisa menghidupkan suasana perayaan. Misalnya, menyiapkan suatu simbolisasi atau dramatisasi, menentukan sikap tubuh dan tata gerak, bersama-sama menghias dan menata ruang untuk Misa, menyiapkan benda-benda (perabot dan peranti) liturgis yang digunakan. Beberapa unsur itu perlu juga dilatihkan agar dalam perayaannya dapat ditampilkan dengan baik dan lancar.

Musik amat penting!
Musik atau nyanyian harus diberi tempat lebih banyak karena pada umumnya anak-anak amat terbuka dan gemar akan musik (PMBA 30). Sebaiknya dipilih yang sesuai dengan cita rasa dan daya tangkap anak-anak, sesuai dengan budaya mereka, tentu juga harus selaras dengan fungsi musik liturgi yang sejati. Musik haruslah sesuai dengan fungsi setiap bagian Misa yang ditentukan untuk nyanyian atau permainan instrumental. Untuk bagian tertentu dapat juga diperdengarkan musik dari tape-recorder, compact-disc player, dsb (PMBA 32). Lewat musik anak-anak juga hendak berdoa, sekaligus belajar menghayati iman mereka. Alangkah indahnya –kalau ada– jika yang memainkan alat musik pengiringnya juga dari kalangan mereka, khususnya anak-anak yang berbakat atau mampu bermain dengan baik.

Anak-anak perlu bergerak
Anak-anak suka bertingkah, biasanya aktif bergerak. Mereka tak mudah berdiam diri. Alangkah baiknya kecenderungan itu disalurkan pula dalam rangkaian tata gerak dan sikap tubuh mereka untuk mendukung perayaan liturgi. Maka, yang memiliki tata gerak tidak hanya Imam Selebran tapi juga seluruh anak yang terlibat dalam perayaan itu (PMBA 33). Tata gerak itu perlu dilatihkan dahulu kepada mereka. Sebaiknya jenis tata geraknya jangan terlalu banyak supaya anak-anak tidak terbebani. Kalau banyak yang harus dihafalkan, mungkin berlangsungnya tata gerak dan sikap tubuh dalam perayaan bisa tidak lancar, karena anak-anak tidak bisa sungguh hafal semua.

Beberapa peluang untuk perarakan
Di samping yang berlaku untuk umat pada umumnya, masih ada beberapa tata gerak dan sikap tubuh yang khusus untuk Misa anak-anak. Jenis ritual perarakan biasanya amat terbu-ka bagi peluang untuk “mengkhususkan” itu. Jenis perarakan apa sajakah? [1] Perarakan masuk: anak-anak dapat memasuki tempat Misa bersama-sama dengan Imam agar mereka lebih mudah merasa sebagai himpunan umat yang berkumpul dan bersatu. Sebaiknya juga diiringi nyanyian yang sesuai dengan tema ritus perarakan ini. Bahkan, tarian bersama yang sederhana --semacam gerak dan lagu-- dapat pula untuk memeriahkan bagian ini. [2] Per-arakan Kitab Injil: untuk lebih menampilkan kehadiran Kristus yang akan mewartakan Sabda-Nya, anak-anak diajak memeriahkan perarakan Kitab Injil dengan tata gerak dan nyanyian. Setelah dibacakan, sementara Imam berkeliling dengan Kitab Injil, mereka ber-nyanyi dan beraksi. Bisa juga mereka diminta menyentuhkan tangan pada Kitab Injil yang dipegang Imam itu ketika sampai di depan mereka masing-masing. Atau dengan gerakan lain yang lebih bisa melukiskan kedekatan anak-anak dengan Kristus, Sang Sabda. [3] Per-arakan bahan-bahan persembahan: roti, anggur-air, dan bahan persembahan lain dapat dian-tar anak-anak dalam suatu tata gerak atau tarian, tentu baguslah jika diiringi juga dengan nyanyian. Maksudnya, supaya mereka sendiri mengungkapkan secara lebih nyata maksud dari ritus persiapan persembahan itu. [4] Perarakan komuni: untuk menyambut komuni anak-anak perlu juga diajari tata gerak yang baik. Bagaimana sikap tubuh saat berbarisnya, saat menerima komuninya, saat harus kembali ke tempat duduk masing-masing, dsb. Dengan begitu mereka dibantu untuk menghayati perjamuan Ekaristi kudus (PMBA 34).

Diajari tata gerak yang baku dan universal
Sering terlihat di beberapa paroki bahwa anak-anak diajari tata gerak yang sama, namun penjelasan maknanya berlainan satu sama lain. Mungkin para pendampingnya mengacu pada sumber yang berbeda dan kurang akurat. Sebaiknya anak-anak tetap diajari beberapa tata gerak dan sikap tubuh yang baku, yang berlaku secara universal di seluruh dunia. Pendidikan dini akan ikut menentukan dalam pembentukan pemahaman mereka akan ajaran Gereja yang benar. Jangan sampai, setelah agak besar mereka jadi bingung, atau setelah dewasa mereka terlanjur menghayati hal-hal yang kurang tepat, bahkan keliru sama sekali.

Awas, tata gerak yang kurang mendidik
Kebebasan menetapkan tata gerak untuk Misa anak sering kali kebablasan. Sampai-sampai ada orangtua yang merasa keberatan dengan beberapa tata gerak dan sikap tubuh yang diajarkan pada anaknya. Misalnya, setelah anak-anak membuat tanda salib dengan tangan kanan, diucapkanlah “muah, muah, muah” seperti orang mencium angin, kemudian sebentar menyentuhkan jemari pada mulut, membuka tangan di depan bibir yang seolah meng-hembuskan ciuman itu (kiss bye...). Apakah makna dan maksud tata gerak semacam itu selaras dengan makna dan maksud membuat tanda salib? Praktik semacam itu kiranya perlu ditinjau secara kritis. Maka, jika dianggap perlu dapatlah dibuat kaidah-kaidah khusus untuk tata gerak anak dalam Misa (PMBA 33) supaya tidak ada hal-hal yang menyimpang dari segi pedagogis umum ataupun pendidikan iman dan liturgi.

Diperlukan juga bantuan unsur-unsur visual
Kemampuan melihat dari anak-anak perlu juga diperhatikan dengan baik. Banyak unsur visual yang berperan penting dalam perayaan liturgi anak. Apa pun yang dilihat anak-anak bisa menjadi sarana pendidikan iman dan membantu penghayatan mereka akan liturgi itu sendiri. Unsur visual itu bisa tampil dalam bentuk benda khusus yang sudah lazim (altar, lilin, salib, dsb), gambar, warna simbolis, atau hiasan-hiasan lain. Unsur-unsur visual dapat menciptakan suasana perayaan yang segar, tidak kering dan membosankan (PMBA 35). Mata yang melihat keindahan dapat mengimbangi otak yang sering diperas untuk berpikir. Maka, baik juga sebelum Misa itu anak-anak dilibatkan dalam persiapan dengan membuat unsur-unsur visual sendiri. Misalnya membuat gambar yang melukiskan isi bacaan, ujud-ujud doa umat, atau menyiapkan alat peraga lain yang akan digunakan untuk membantu permenungan tema (bendera, rangkaian bunga, balon, dsb). Dalam kesempatan tertentu, misalnya homili, Imam dapat menyinggung atau menjelaskan makna unsur-unsur visual yang ada dan mengaitkannya dengan tema atau pesan Misanya.

Saat hening juga penting
Meskipun peluang bergerak diberi perhatian yang cukup banyak, sebaiknya tetap diajarkan juga arti pentingnya saat hening kepada anak-anak. Janganlah kesibukan lahir terlalu ditekankan. Anak-anak sesungguhnya juga sanggup untuk menciptakan keheningan dan berdoa dalam batin. Namun, untuk itu mereka harus dibimbing dan dibantu supaya belajar mengalami saat hening (PMBA 37). Kapan saat-saat hening itu? Misalnya setelah mereka mendengarkan bacaan dan homili untuk merenung, setelah menerima komuni untuk memuji Tuhan dan berdoa dalam hati. Teks-teks liturgis pun hendaknya dibawakan dengan perlahan, tenang dan jelas, tidak terburu-buru. Imam membawakannya begitu. Demikian juga anak-anak yang bertugas membawakan teks sebaiknya sungguh dilatih untuk membawakan dengan baik dan menarik.

Bagian-bagian Misa dapat disesuaikan
Misa untuk anak-anak dapat dibuat agak berbeda dari Misa untuk orang dewasa. Pembedaan itu diperlukan mengingat kebutuhan atau keadaan psikologis yang memang tak sama antara anak-anak dan orang dewasa (PMBA 38). Maka, ada beberapa bagian dalam Misa yang tetap harus dipertahankan dan ada pula yang bisa disesuaikan, bahkan diganti atau dihilang-kan. Pada dasarnya, jangan sampai perbedaan itu menjadi terlalu besar. Jika terlampau berbeda, maka anak-anak akan dijauhkan dari Perayaan Ekaristi yang sebenarnya, sejatinya.

Yang tak boleh diubah
Beberapa hal berikut tidak boleh diubah:
[1] Struktur umum Misa yang terdiri dari dua bagian utama yakni Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi, yang didahului oleh Ritus Pembuka dan diakhiri dengan Ritus Penutup;
[2] Rumus aklamasi dan jawaban yang diberikan umat atas salam dan doa Imam Selebran;
[3] Doa Tuhan “Bapa Kami” yang resmi;
[4] Penyebut-an Allah Tritunggal pada akhir berkat penutup;
[5] Syahadat atau pengakuan iman (PMBA 39).
Tentu saja, masih ada beberapa bagian lain yang memang sudah tidak boleh diubah menurut aturan atau tata cara baku yang lebih tinggi dari Pedoman Misa Bersama Anak (PMBA), misalnya norma-norma dalam Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) dan Kitab Hukum Kanonik (KHK) Gereja Katolik. Beberapa upaya kreatif memang dapat diusahakan. Namun, dalam melihat peluang kreatif tentunya harus juga mempertimbangkan kemungkinan terbaik yang bisa diraih.

Semoga tulisan ini bermanfaat. *** (Penulis adalah Dosen Liturgi di Unpar & ILSKI, Bandung; saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Liturgi KWI)

CHS @ ILSKI
Jalan Nias 2, Bandung 40117. Telp. (022) 4207943, 4217962 (+ ext. 113)

Catatan: bahan ini dibawakan dalam acara "Lokakarya Liturgi Anak" kerjasama Komisi Liturgi KWI dan Ditjen Bimas Katolik Depag RI di Cisarua Bogor, Mei 2006.

baca selanjutnya...

Selasa, 22 Februari 2011

Altar Dalam Gereja Katolik

ASAL KATA “ALTAR”

Sebenarnya asal-usul kata “altar” kurang jelas, entah dari kata Latin “alta res” yang berarti “hal yang tinggi” atau “alta ara” yang berarti “altar yang tinggi”. Orang-orang Romawi kuno sudah membedakan dua macam altar:
1. “ara” merupakan altar kecil yang dapat dipindah-pindahkan, dipakai untuk kegiatan kultik orang biasa, untuk pengenangan orang mati, dsb;
2. “altare” merupakan altar yang lebih monumental, dibangun menjulang, khususnya untuk kegiatan kultik kaum kalangan atas. Umat Kristiani perdana meminjam istilah “altare” itu terutama untuk menunjuk pada meja Kurban Perjanjian Baru.

MAKNA DAN FUNGSI ALTAR

Di atas altar, Kurban Salib dihadirkan dalam rupa tanda-tanda sakramental. Altar adalah meja Tuhan; di sekelilingnya umat Allah berhimpun dan saling berbagi. Altar menjadi pusat kegiatan bersyukurnya umat. Altar, sebagai meja perjamuan kudus, seharusnya menjadi yang paling mulia dan paling indah. Hendaknya dirancang dan dibangun bagi keperluan kegiatan liturgis komunitas / umat. Altar adalah tanda Kristus; altar adalah simbol Kristus sendiri.

UMAT KRISTIANI JUGA MERUPAKAN ALTAR

Altar adalah simbol Kristus. Altar adalah juga Kristus sendiri. Itu memang makna simbolisasi liturgisnya. Namun dalam tataran spiritual ternyata altar juga menyimbolkan umat kristiani. Maksudnya, umat kristiani adalah altar-altar spiritual tempat kurban hidupnya dipersembahkan bagi Allah. St Ignatius dari Antiokhia, St Polikarpus, dan St Gregorius Agung pernah menyinggung gagasan ini. Orang kristiani yang memberikan dirinya sendiri, entah lewat doa maupun pengorbanan, menjadi batu-batu penjuru, di mana Yesus membangun altar Gereja-Nya. Dari altar mengalirlah spiritualitas jemaat dan setiap pribadi anggota Gereja.

SEBUTAN-SEBUTAN LAIN UNTUK ALTAR

Dalam buku liturgis tentang pemberkatan Gereja dan altar (Ordo Dedicationis Ecclesiae et Altaris, 1977) terdapat beberapa sebutan lain untuk altar, yakni: “meja sukacita”, “tempat persatuan dan perdamaian”, “sumber kesatuan dan persahabatan”, “pusat pujian dan syukur”. Sebutan-sebutan ini melengkapi makna utama sebuah altar sebagai meja kurban dan perjamuan.
ALTAR: MEJA KURBAN DAN MEJA PERJAMUAN

Altar sebagai Meja Kurban adalah bagi kurban salib yang diabadikan dalam misteri berabad-abad hingga kedatangan Kristus kembali. Altar sebagai Meja Perjamuan adalah bagi warga Gereja yang berkumpul untuk bersyukur dan berterimakasih kepada Allah dan menerima Tubuh dan Darah Kristus. Altar adalah Meja Tuhan!

ALTAR PERMANEN ATAU ALTAR GESER?

Suatu altar disebut altar permanen kalau dibangun melekat pada lantai sehinga tidak dapat dipindahkan; altar disebut altar geser kalau dapat dipindah-pindahkan. Sangat diharapkan agar dalam setiap gereja ada satu altar permanen, karena altar seperti ini secara jelas dan lestari menghadirkan Yesus Kristus, Sang Batu Hidup (1 Ptr 2:4; bdk Ef 2:20).

Tetapi, di tempat-tempat lain yang dimanfaatkan untuk perayaan liturgi, cukup dipasang altar geser. Seturut tradisi Gereja, dan sesuai pula dengan makna simbolis altar, daun meja untuk altar permanen harus terbuat dari batu, bahkan dari batu alam. Tetapi Konferensi Uskup dapat menetapkan bahwa boleh juga digunakan bahan lain, asal sungguh bermutu, kuat, dan indah. Sedangkan penyangga atau kaki altar dapat dibuat dari bahan apapun, asal kuat dan bermutu. Altar geser dapat dibuat dari bahan apapun asal, me nurut pandangan masyarakat setempat, bermutu, kuat, dan selaras untuk digunakan dalam liturgi.

Altar utama hendaknya dibangun terpisah dari dinding gereja, sehingga para pelayan dapat mengitarinya dengan mudah, dan imam, sedapat mungkin, memimpin perayaan Ekaristi dengan menghadap ke arah jemaat (Pedoman Umum Misale Romawi, No. 298-301).

LETAK ALTAR

Altar adalah titik pusat perhatian jemaat yang berkumpul. Namun, itu tidak berarti bahwa altar harus berada di titik pusat (aksis) bangunan gereja. Altar harus bisa dilihat oleh seluruh jemaat. Setiap kegiatan di sekitarnya harus terkomunikasikan dengan baik. Altar terletak di panti atau pelataran imam, yakni suatu area yang dikhususkan untuk pemimpin liturgi, dan membedakan dengan area jemaat.

Wilayah panti imam biasanya lebih tinggi daripada wilayah tempat jemaat berhimpun. Selain meja altar, di panti imam juga terdapat ambo (meja Sabda), kursi imam (juga kursi Uskup jika di gereja katedral), kredens, tabernakel, dsb.

RELIKUI

Relikui adalah peninggalan fisik dari orang-orang kudus atau martir yang wafat demi iman akan Kristus. Relikui bisa berupa bagian dari tubuh, pakaian, dsb. Kebiasaan memasang relikui pada altar sudah berlangsung sejak berabad-abad. Biasanya yang disimpan adalah relikui dari tubuh atau bahkan jenasah sang martir atau orang kudus. Kini menyimpan relikui tidak lagi diharuskan.

Relikui yang disimpan pada altar hendaknya tidak mengandung keraguan akan keasliannya. Maka, jika relikui itu kurang diyakini keotentikannya, lebih baik tidak disimpan di altar. Jika otentik, maka pemasangannya pun sebaiknya tidak “di atas altar” melainkan “di dalam atau di bawah altar” yang akan didedikasikan.

ARTI MENYIMPAN RELIKUI

Jangan disalahartikan. Kita tidak membangun altar bagi para kudus itu, melainkan bagi Allah yang Esa. Pengorbanan para kudus dan martir kita hormati dan kita kenangkan saat mendirikan altar itu. Maka, relikui itu diletakkan di bawah altar. Jangan pula sekali-kali meletakkan relikui, patung, atau gambar orang kudus atau martir di atas meja altar.

TATA CARA PENGUDUSAN ALTAR

Pada waktu pemberkatan gereja, biasanya altar juga dikuduskan. Garis besar tata caranya sebagai berikut:
• perecikan altar dengan air suci;
• doa Litani Para Kudus dan penempatan relikui martir atau santo-santa;
• doa pemberkatan;
• pengurapan altar dengan minyak krisma;
• pendupaan altar;
• pemakaian “kain putih” atau kain altar;
• penyalaan lilin untuk altar.

Dari tata cara ini tampak bahwa seolah altar adalah seorang pribadi yang menjalani ritus inisiasi, pertama kali masuk ke dalam / sebagai anggota Gereja. Setelah menerima “pembaptisan” dan “penguatan”, maka altar mengalami “ekaristi”.

SATU ALTAR DALAM SATU GEREJA

Hanya ada satu altar dalam satu gedung gereja, supaya jelaslah makna Kristus sebagai satu-satunya Sang Penyelamat dan hanya ada satu Ekaristi dalam Gereja. Satu altar melambangkan satu jemaat yang berkumpul dan bersyukur di sekitar Sang Penyelamat.

PENDUPAAN ALTAR

Pendupaan altar memang bukan keharusan. Namun hendaknya dilakukan dalam perayaan meriah dan pada hari Minggu. Imam selebran mendupai altar dengan mengitarinya pada saat Ritus Pembuka dan awal Liturgi Ekaristi. Pendupaan kepada Imam, petugas lain, dan jemaat bertujuan mengingatkan bahwa semuanya adalah altar spiritual yang terkait erat dengan altar utama, yaitu Kristus sendiri.

WARNA KAIN ALTAR

Kain (taplak) altar berwarna putih. Ini seperti halnya baptisan baru yang menerima pakaian putih, yang melambangkan kebangkitan, hidup baru. Simbol-simbol yang menghiasi taplak altar hendaknya mempunyai makna yang sejalan dengan hakikat altar. Segala macam ornamen hendaknya tidak malah mengganggu konsentrasi jemaat, atau mengalahkan keberadaan Tubuh dan Darah Kristus. Hiasan bunga hendaknya tidak berlebihan dan ditempatkan di sekitar altar, bukan di atasnya (PUMR, No. 305).

YANG BOLEH DILETAKKAN DI ATAS ALTAR

Di atas altar hendaknya ditempatkan hanya barang-barang yang diperlukan untuk perayaan Misa, yakni sebagai berikut:

1. dari awal perayaan sampai pemakluman Injil: Kitab Injil
2. dari persiapan persembahan sampai pembersihan bejana-bejana: piala dengan patena, sibori, kalau perlu; dan akhirnya korporale, purifikatorium, dan Misale.
Di samping itu, microphone yang diperlukan untuk memperkeras suara imam hendaknya diatur secara cermat (Pedoman Umum Misale Romawi, No 306).

Lilin seyogyanya ditaruh di atas atau di sekitar altar, sesuai dengan bentuk altar dan tata ruang panti imam (PUMR, No. 307). Juga di atas atau di dekat altar hendaknya dipajang sebuah salib dengan sosok Kristus tersalib (PUMR, No. 308).

Sumber: http://belajarliturgi.blogspot.com/2011/01/altar-dalam-gereja-katolik.html

baca selanjutnya...

Jumat, 18 Februari 2011

Misa Latin dan Partisipasi Aktif

Ada beberapa pertanyaan sehubungan dengan Misa Latin di Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya. Di antaranya adalah partisipasi aktif umat yang berkurang dalam Misa Latin. Memang benar, pada awalnya tentu begitu. Saat kita semua masih baru sekali dua kali mengikutinya, tentu masih terasa asing. Namanya juga masih belajar, lama-lama juga akan menjadi mahir dan bisa berpartisipasi lebih aktif lagi. Mungkin kita masih ingat, beberapa tahun yang lalu Y.M. Uskup Hadiwikarta almarhum pernah meminta kita semua menggunakan Ordinarium Gregorian untuk Masa Adven dan Prapaskah (PS 339, dst.). Sulit pada awalnya, namun saat ini sudah banyak umat yang bisa menyanyikannya dengan baik.

Memang benar, Konsili Vatikan II mengamanatkan partisipasi aktif. Dalam praktiknya, di tahun-tahun awal pasca konsili, banyak aplikasi partisipasi aktif yang berlebihan dan malahan perlu dikoreksi. Mungkin kita masih ingat, sebelum tahun 2005, umat Katolik di Indonesia ikut mengucapkan bagian-bagian Doa Syukur Agung yang sebenarnya merupakan bagian imam. Hal ini lalu diluruskan kembali saat penerbitan TPE 2005.

Partisipasi aktif yang diamanatkan oleh Konsili Vatikan II tidaklah berarti bahwa umat harus ikut serta mengucapkan semua doa dalam misa dan/atau menyanyikan semua lagu dalam misa. Ada doa-doa yang diucapkan hanya oleh imam dan ada aklamasi-aklamasi yang merupakan bagian umat (dan tidak perlu diucapkan oleh imam), termasuk aklamasi “Amin”. Ada saatnya lektor membacakan kitab suci dan umat mendengarkan (bukannya membaca teks). Hal nyanyian, ada bagian-bagian yang dinyanyikan oleh koor dan ada pula bagian yang dinyanyikan umat. Akhirnya, diam dan khusyuk mendengarkan dan menghayati doa, bacaan kitab suci serta nyanyian yang dibawakan koor pun merupakan bentuk partisipasi aktif dalam misa.

Uskup Surabaya Y.M. Vincentius Sutikno Wisaksono pernah mengutip Paus Yohanes Paulus II, yang menyatakan bahwa yang terpenting adalah partisipasi aktif batiniah dan bukan hanya lahiriah. Sesungguhnya, lebih penting bagi umat untuk mendengarkan doa-doa dan nyanyian secara khusyuk sambil meresapi maknanya, daripada ikut aktif mengucapkan atau menyanyikan tetapi hanya sekedar di mulut saja, tanpa sadar akan maknanya. Sebagai contoh, banyak umat yang hafal isi Credo dalam Bahasa Indonesia, termasuk frase berikut ini “... Aku percaya akan gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik ...” Berapa banyak yang mengerti artinya? Berapa banyak yang mengerti apa yang dimaksud dengan gereja yang apostolik? Penyelesaiannya, sama dengan Misa Latin, adalah katekese liturgi.

Banyak produk Konsili Vatikan II seperti partisipasi aktif dan inkulturasi yang sungguh bermanfaat bagi gereja di tanah misi seperti Keuskupan Surabaya. Sungguh baik kalau kita mau mempelajari dan memahami dokumen-dokumen seperti Sacrosanctum Concilium (Konstitusi Suci Liturgi) dan berbagai Instruksi Pelaksananya, di antaranya Varietates Legitimae, yang banyak membahas inkulturasi. Kurang pas rasanya bicara tentang partisipasi aktif atau inkulturasi tanpa memahami dokumen-dokumen tersebut dan konteksnya dalam sejarah gereja. Yang terjadi mungkin malah tidak sesuai dengan maksud sebenarnya dari Para Bapa Konsili Vatikan II.
Catatan: Artikel ini dimuat di Tabloid Rohani Jubileum yang diterbitkan oleh Keuskupan Surabaya, Edisi 124 - Tahun XI - Juli 2010.

Sumber : http://tradisikatolik.blogspot.com/

baca selanjutnya...

Rabu, 16 Februari 2011

Misteri dan Keharuan Jumat Pertama

Semoga kisah nyata ini semakin menguatkan iman dan harapan kita kepada Dia yang maha sempurna dalam segala rancanganNya. Rancangan dan kuasa Tuhan adalah yang terbaik dan tepat sampai ke detik-detiknya. Jangan lagi kita meragukan hal itu.

Jum’at, 4 Juli 2003. Hari ini adalah the Fourth of July, hari ultah kemerdekaan Amerika yang ke 227. Hari ini saya pergi ke kota San Jose karena ajakan makan siang dari temen saya. Sehabis makan siang di Eastridge mall (kota San Jose) bersama temen saya sdri P dan temen cowoknya S yang baru datang dari Indo 2 hari lalu, sudah jam 3 sore. Setelah makan mereka lalu berangkat ke kota San Francisco karena malamnya mereka akan nonton kembang api dari atas kapal. Supaya mereka bisa lebih privacy, saya memang memilih tidak ikut.

Saya sendiri sebetulnya jarang datang ke kota San Jose ini, maka kemudian saya masih sempatkan jalan-2 sendiri saja di dalam mall sampai sekitar jam 4. Sejak usai makan siang itu, sebetulnya perasaan saya mulai tidak enak; tepatnya saya merasa sedih. (kiranya tidak perlu saya jelaskan alasannya mengapa). Maka kemudian saya memutuskan akan mampir ke sebuah gereja yang letaknya saya tahu persis ada di jl Main street kota Milpitas.

Kota Milpitas ini memang berada di antara San Jose dan kota tempat saya tinggal yakni Fremont. Entah mengapa saya bisa begitu saja teringat ada gereja di Main Street Milpitas, padahal saya hanya pernah sekali mengikuti misa di gereja itu, yakni sekitar 7 bulan yang lalu diajak oleh P. Gerejanya adalah St.John the Baptist Catholic Church (www.sjbparish.org atau www.dsj.org/parish/stjohnbap.htm ). Saya hanya ingin masuk ke dalam gereja untuk berdoa dan menenangkan diri, itu saja. Saya berharap ada pintu gerejanya yang buka. Waktu sampai di gereja, saya parkir di tepi (ujung depan) lapangan parkir karena di situ sejuk tidak terkena panas matahari. Saya lihat ternyata pintu samping kiri gereja (yang menghadap lapangan parkir) terbuka. Waktu masuk ke gereja lewat pintu samping itu, saya jadi tahu bahwa sedang ada sekelompok lansia vietnam sedang berdoa novena dalam bahasa mereka.

Mereka sekitar 12 orang, duduk di 4 baris depan dekat altar. Saya memilih duduk di agak belakang, berdoa dan menenangkan diri. Di saat-saat tertentu ketika perasaan saya sedang sedih atau saat saya merasa perlu menenangkan diri, saya memang lebih suka memilih datang & berdoa di gereja, daripada nonton bioskop, misalnya. Setelah 20-an menit, saya keluar dari gereja dan akan pulang. Perasaan saya masih tidak karuan, tapi sudah agak lebih baik. Tapi anehnya setelah keluar dari pintu gereja, saya tiba-tiba merasa tidak ingin pulang. Seolah ada seseuatu yang menahan saya. Saya langsung duduk di kursi panjang taman yang rindang yg letaknya dekat pintu samping gereja itu, menikmati semilirnya angin di musim panas ini. Ketika 5 menit kemudian rombongan lansia vietnam itu keluar dan pintu gereja telah dikunci oleh salah seorang dari mereka, saya masih tetap duduk di kursi taman itu, dan merasa tenang sekali. Saya sudah ingin pulang, tapi seolah ada sesuatu yang menahan saya. Saya pikir sungguh tidak biasa seseorang berada di lingkungan gereja sendiri saja,..apalagi cuma duduk berlama- lama.

Waktu itu saya melihat sudah ada satu mobil warna putih yg parkirnya persis di sebelah kanan mobil saya, tapi saya tidak melihat seorangpun di lingkungan gereja, toh semua pintu gereja dikunci. Mobil itu adalah sebuah pick- up terbuka, tapi di sekeliling tepian bak mobilnya dikasih papan agak tinggi untuk menahan barang-2 di dalamnya. Entah mengapa saya masih saja duduk dan menikmati ketenangan itu bbrp waktu, sampai akhirnya saya beranjak dan memutuskan utk jalan-2 saja di sekeliling lingkungan gereja St.John the Baptist ini. Setelah memutari lingkungan sekolah st.John dan gedung paroki, saya sampai kembali ke gereja dan ingin berjalan memutarinya dari arah belakang gereja, sisi kanan terus belok ke sisi depan gereja. Apa yang saya lihat di depan pintu utama gereja yang tertutup rapat itu?. Seorang asia, usianya tampak sekitar 48 tahun (saya biasanya cukup lihai manaksir umur sso lho..). Badannya agak gemuk, kemejanya lusuh, kumal, dan jelas kotor. Sepatunya dibuka, kaos kakinya tampak kumal dan sudah tua. Dia duduk di atas peti plastik (semacam peti untuk botol-botol coca cola), dan bersandar di salah satu tiang yang paling dekat dengan pintu gereja yang tertutup rapat.

Matanya terpejam, kakinya diselonjorkan, mulutnya bergerak- gerak,..dia tampak sedang berdoa. Ternyata di tangan kiri yang disilanya itu, dia menggenggam sebuah rosario. Dia tampaknya tahu saya ada di situ, tapi dia tidak bereaksi atau menoleh sedikitpun ke arah saya. Saya begitu terhenyak mendapati ada seorang yang demikian rindu berdoa di gereja bahkan ketika semua pintu gereja sedang tertutup. Sikapnya begitu khusuk, dan bagi saya tampak bukan pertama kalinya dia mendatangi gereja ini. Dari sudut kanan gereja itu, saya duduk di atas susunan batu bata, dan jarak dia dengan saya sekitar 6 meter saja. Tidak biasanya saya memandang orang berdoa, tetapi kali ini sungguh lain.

Saya memandang dia dan dengan sabar menunggu dia selesai berdoa. Perasaan saya berkata, saya perlu bicara dengannya. Sekitar enam menit berlalu, dan ia beranjak. Dia menoleh ke saya, dan sambil senyum sedikit saya bilang ‘hi, how are you’. Jawabannya hanya “good” saja, dan ditariknya peti platik itu, dan berlalu dengan ekspresi yang dingin. Karena dia berjalan menuju lapangan parkir, seketika itulah saya sadar bahwa mobil pick-up bak terbuka itu ternyata milik dia. Tidak ada keraguan sedikitpun, saya mengikuti dia. Tapi saya agak tertinggal di belakang, sekitar 10 meter. Setelah ditarohnya (lebih tepat saya katakan dilempar) “kursi”nya ke belakang bak mobil, dia membuka pintu mobilnya dan hendak masuk. Tetapi dia tidak langsung masuk,...saya yakin sekali dia sengaja membiarkan sampai saya sampai dekat mobil juga, dengan caranya pura-pura memeriksa kembali posisi “kursi” yang dilemparnya secara sembarangan tadi.

Kemudian dia duduk di jok mobilnya lagi, pintu mobilnya dibiarkan terbuka. Dengan ucapan inggris yang terbata-bata dan sangat minim, dia menjawab sapaan saya. Dia bilang namanya Thu ni. Dia orang vietnam. Waktu saya jabat tangannya, dia sekilas tampak sungkan karena dipikirnya tangannya kotor. Waktu saya tanya anaknya berapa, dia bilang dia single dengan nada agak minder. Waktu saya tanya umurnya, dia bilang 38 (dan saya sungguh terkejut...wajahnya hampir seusia 50 tahun !). Tanpa ditanya, dia bilang dia sekarang tidak punya pekerjaan sudah setahun lebih. Katanya dia berdoa supaya Maria mendengar doanya. Tampak sekali dia sangat nervous/gugup diajak bincang-bincang dengan saya. Mungkin dipikirnya saya ini seorang pastur atau pengurus gereja itu (hehe...). Saya bilang lihat dong rosarionya, dan dia memberikannya ke tangan saya. Katanya kalung rosario itu sudah lima tahun dia punya.

Sungguh kalung yang warnya sudah agak kusam dengan biji yang agak besar, tapi salibnya agak berat juga. Saya bilang, jangan terlalu bersedih, Yesus dan Maria pasti sudah mendengar doa-doa dia. Dia terpaku hampir menangis. Dia seorang lelaki sungguh yang amat jauh dari kesan bersih dan rapi. Sangat mungkin sepertinya tidak seorangpun selama ini telah memberikan perhatian kepadanya. Badan dan pakaiannya kumal, kotor, dan agak bau. Ternyata di bak belakang mobilnya itu ada banyak sekali botol-2 bekas, kardus-2, dan karung bekas. Aroma tidak sedap tercium dari botol-2 bekas itu. Dia ternyata seorang pemulung. Dan sekarang dia mengeluh, katanya sekarang ini amat sulit ...semakin dikit botol yg dapat dia kumpulkan, katanya. Setelah menggenggam rosarionya di dada saya, saya kembalikan kepadanya. Satu hal yang saya bisa tangkap dengan jelas,..orang ini sikapnya gugup dan sangat terkesan jarang bicara dengan orang lain.

Saat itulah seorang bapak agak beruban turun dari sepedanya sekitar 3 meter dari tempat saya berdiri. Saya taksir umurnya sekitar 58 tahun. Dia berkata “you vietnamese?”. Waktu saya bilang no, dia tampak agak kecewa dan bersiap akan pergi lagi. (Sudah rahasia umum bahwa berbicara dalam bahasa inggris adalah trauma dan bikin grogi bagi banyak orang yang tidak bisa -apalagi orang itu sudah agak tua). Tapi bapak ini seolah punya masalah. Sikap ramah saya tiba- tiba muncul. Tanpa niat apapun, saya kemudian spontan balik bertanya ‘are you vietnamese?’. Dia bilang yes. Lalu saya bilang “orang ini vietnamese juga” sambil menunjuk Thu Ni. Bapak itu wajahnya berseri lalu langsung nyerocos tanya ini itu dalam bahasa vietnam. Saya tidak tahu apa omongan mereka yang cuma setengah menit itu, tapi si Thu Ni dengan agak cetus kira-2 bilang bahwa “kalau sudah lapor polisi ya sudah”. Saya tidak bisa tahu apa masalah si bapak vietnam ini.

Di saat bersamaan pula, datang sebuah mobil dan parkir di seberang parkir. Seorang agak tua (sekitar 70 tahunan) saya lihat baru turun dan berdiri saja dekat mobil itu, sedang seorang lagi dengan ragu-ragu saya lihat berjalan menyeberangi lahan parkir mendekati kami. Tampaknya dia seorang Filipina. Dia langsung nanya: “can anybody speak english”. Dia bilang ke saya bahwa bapaknya (yang berdiri di ujung sana itu) tadi pagi habis misa (Jum’at pertama) mengambil mobilnya dari lapangan parkir itu, membuka mobilnya, mengendarainya sampai great mall (sekitar 2 km jauhnya). Namun ketika hendak pulang dari mall itu, mobilnya tidak bisa distarter lagi dan kemudian dia menyadari telah MENGENDARAI MOBIL ORANG LAIN yang sama model dan warnanya !!. (Can you believe it ??). Nah, tanya dia,...apakah saya kira-kira tahu siapa pemilik mobil itu? karena mobil itu masih ditinggal di mall yang jauhnya 2 km dari situ. Saya langsung mendekati bapak vietnam yg tadi datang dengan sepeda. Saya tanya apa sebetulnya masalah dia. Berkat bantuan Thu Ni sebagai interpreter, saya dijelaskan bahwa ternyata si bapak vietnam itu baru pulang dari kantor polisi karena kehilangan mobilnya tadi pagi !!. Nah LOH !!.....saya bilang ke Thu Ni mobil bapak itu ada di Great mall, dan bapak si orang Filipina itulah yang telah salah ambil mobil !.

Thu Ni melompat dari jok mobilnya,..seperti orang yang baru menang undian. Dia tiba-tiba menjadi semangat sekali. Haha...kami berempat langsung sibuk dan ramai kayak ayam dan bebek...4 orang dengan 3 macam bahasa yang saling tidak mengerti. Tapi kesimpulannya satu: mobil bapak itu tidak dicuri melainkan seseorang telah salah ambil mobil dia. Walaupun tetap tampak bingung, si bapak vietnam kita minta meninggalkan saja sepedanya di gereja lalu dia diantar oleh si Filipina naik mobil mereka menuju lokasi Great mall, untuk mengambil mobil si bapak.

Luar biasa. Saya tiba-tiba disadarkan bahwa saya telah dipanggil Tuhan untuk berada di gereja ini, untuk moment ini. Saya telah dipakai dengan perhitungan waktu yang demikian cermat. Dalam kurun waktu tidak sampai lima menit,..Tuhan telah menyatakan maksud dan kehendakNya dengan jelas. Saya menarik napas panjang dan bersyukur dalam hati. Lapangan parkir itu sudah sepi, semuanya sudah pergi, termasuk Thu Ni. Sekarang, saya akan pulang saja. Tetapi ketika saya akan masuk mobil, saya melihat ternyata ada dua orang wanita (seorang udah tua sekali, yang seorang lainnya sekitar 45 tahun) yang tampaknya kebingungan karena melihat pintu gereja terkunci semua. Saya tergerak mendekati wanita yang lebih muda, dan saya tiba-tiba sadar kembali bahwa hari ini adalah hari Jum’at pertama; dan bertanya padanya apakah dia datang untuk ikut misa. Dia jawab ya, lalu saya tanya jam berapa misanya?. Dia bilang yang dia tahu seharusnya jam 5.30. Katanya sekarang sudah hampir 5.30 kog gerejanya tutup? dia malah tanya balik apakah saya tahu jamnya. Karena saya tadi melihat ada selembar berita paroki di tong sampah samping pintu masuk,.saya pungut dan dari situ kami tahu bahwa misanya jam 7 malam. “Ooo diganti jamnya..” katanya.

Saat itulah saya menjadi sadar bahwa Tuhan mengundang saya hadir di perjamuannya hari ini, jam 7 malam ini. Saya kembali duduk di kursi taman itu sambil menunggu misa. Saya merenungkan semuanya ini. Tuhan telah memanggil dan mengunakan saya sebagai saluran berkat untuk orang lain. Dan tidak hanya berhenti sampai di situ, ternyata sekali lagi Tuhan ingin menyapa dan mengundang saya hadir di perjamuanNya, perjamuan Ekaristi menghormati hatiNya yang kudus. Maka hati saya pun menjawab ingin hadir, saya tidak akan melewatkan undangan Tuhan Yesus Kristus hari ini. Saya masih menunggu ketika si bapak vietnam kemudian tampak kembali di gereja sekitar jam 6.40 untuk mengambil sepedanya yang digembok di pagar dekat belakang gereja. Sambil menuntun sepedanya dan berhenti persis dekat saya, dia berulang kali mengucapkan terima kasih sambil tampak keharuan di matanya.

Hanya kata “thank you” lah yang berulang diucapkannya sambil menggenggam tangan saya erat-erat. Keharuan bapak itu, ..kemudian kusadari sebetulnya adalah keharuanku juga, karena dia telah dipakai Tuhan juga, untuk mengundangku ke perjamuan Ekaristi Jum’at pertama. Saya mengikuti misa dengan hati yang penuh haru, apalagi dengan iringan lagu-2 pilihan kelompok koor yang demikian lembut, indah, dan menyentuh hati. Airmata saya mengalir saat menerima dan merasakan tubuh Kristus sembari memandang Yesus yang rela terlentang di kayu salib demi kasihNya yang begitu tak terhingga. Yesus berkata “..datanglah hai kamu yang letih lesu dan berbeban berat,...Aku akan memberikan kelegaan kepadamu”.

Tinggallah saya merenungkan semuanya ini dengan takjub dan penuh syukur. Dipanggilnya aku, dihibur dan dikuatkanNya hatiku,..diberikanNya kelegaan di hatiku hari ini. Tuhan menganti rasa sedihku menjadi senyuman kelegaan, dan Dia mengubah airmataku hingga terasa begitu manis. Terima kasih ya Tuhan. Tuhan, kuatkanlah pengharapan kami selalu akan Dikau, karena semua rencanaMu adalah indah dan sempurna pada waktunya. Amin.

Sumber : http://www.pondokrenungan.com/

baca selanjutnya...

Jumat, 11 Februari 2011

Liturgi: Perlu Persiapan, Pelaksanaan & Buah yang Baik

Oleh: C. Dwi Atmadi
Untuk acara apa pun, persiapan yang baik biasanya menghasilkan pelaksanaan yang baik pula. Dan pelaksanaan yang baik diharapkan menghasilkan buah yang baik juga. Begitu juga dengan perayaan liturgi.

Banyak umat merasa liturgi di Gereja terasa begitu kering dan tidak menarik. Salah satu penyebabnya adalah masa persiapan yang kurang atau bahkan tidak memadai. Ada aneka persiapan yang penting dilakukan.

Persiapan Batin

Diharapkan ada perkembangan disposisi dari ’kewajiban’ bertumbuh ke ’kebutuhan’; dan dari ’kebutuhan’ berkembang ke ’kerinduan’. Hal ini meyangkut urusan pribadi (personal). Seperti yang tertulis dalam Sacrosannctum Concilium (SC): “Akan tetapi supaya hasil guna itu diperoleh sepenuhnya, umat beriman perlu datang menghadiri liturgi suci dengan sikap batin yang serasi. Hendaklah mereka menyesuaikan hati dengan apa yang mereka ucapkan, serta bekerja sama dengan rahmat surgawi, supaya mereka jangan sia-sia saja menerimanya” (SC 11).

Salah satu contoh kecil, tetapi penting dalam persiapan batin adalah doa pribadi (dengan keheningan batin dan waktu teduh). Doa bersama (dengan segala semangat kesatuan dan pelayanan) sebelum perayaan liturgi dimulai.

Persiapan Perayaan Liturgi

Persiapan ini mulai dari persiapan para petugas liturgi, tata perayaan liturgi sampai ruang dan sarana liturgi. Hal ini menyangkut urusan bersama (komunal). Walaupun umat datang dengan kerinduan yang meluap, tetapi kalau liturginya dirayakan tanpa persiapan yang memadai, umat bisa kecewa dan mengalami keke-ringan lagi.

Dalam hal ini peranan Tim Kerja Liturgi Paroki sangatlah penting dalam mengkoordinasikan berbagai persiapan dengan imam/pemimpin ibadat dan seluruh petugas liturgi (serta panitia perayaan, jika ada), sehingga liturgi dapat berjalan dengan baik, indah dan bermakna.

Pelaksana

Dari hakikatnya liturgi menuntut partisipasi umat secara sadar dan aktif. Secara eksplisit Konsili Vatikan II menegaskan: “Bunda Gereja sangat menginginkan, supaya semua orang beriman dibimbing ke arah keikutsertaan yang sepenuhnya, sadar dan aktif dalam perayaan-perayaan liturgi sendiri, dan berdasarkan baptis hal itu merupakan hak serta kewajiban umat kristiani sebagai ‘bangsa terpilih’, imamat rajawi, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” (SC 14).

Dalam pelaksanaan perayaan liturgi, umat bukanlah penonton, tetapi pelaku liturgi. Umat bukan obyek, tetapi termasuk subyek yang berliturgi. Jadi, istilah ’aktif’ menunjuk pada keterlibatan umat yang total dalam liturgi. Partisipasi secara sadar menunjuk pada suatu peran serta yang dilakukan dengan penuh pengertian dan pemahaman. Dengan kata lain, orang tahu dan paham betul tentang apa yang sedang dilakukan. Misalnya: membuat tanda salib, bernyanyi, berdoa, menjawab ajakan pe-mimpin / petugas liturgi, duduk, berlutut, berdiri, membungkuk, menebah dada, memandang dengan khidmat, beraklamasi, mendengarkan dan lain-lain. Jika seluruh tindak liturgi ini dipahami, maka pelaku liturgi (termasuk imam sebagai pemimpin ibadat) akan dengan gembira dan penuh penghayatan melaksanakannya.

Persiapan Perayaan Liturgi

Spiritualitas (dari bahasa Latin: Spiritus = Roh) berarti hidup menurut Roh Kudus. Gereja yang hidup menurut Roh Kudus merupakan gerak hidup yang selalu membawa orang kepada kepenuhan kebersamaan dengan Allah. Kalau liturgi merupakan pengungkapan dan pelaksa-naan kebersamaan dengan Allah, maka spiritualitas Kristiani akan mendapat sumber makanan dan inspirasinya dari liturgi. Sebab Roh Kudus yang menjadi api utama spiritualitas Kristiani hadir dan dirayakan dalam liturgi, Roh Kudus itu menghadirkan Yesus Kristus yang adalah gambaran Allah Bapa. Dan Yesus Kristus hadir melalui Roh-Nya dalam liturgi (bdk. SC 7). ”Sebab bagi kaum beriman, liturgi merupakan sumber utama yang tidak tergantikan untuk menimba semangat Kristiani yang sejati” (SC 14).

Liturgi sebagai sumber dan puncak kehidupan Kristiani juga dapat bertolak dari paham liturgi sebagai medan perjumpaan Allah dan manusia. Dalam hidup sehari-hari, kita selalu berjumpa dengan Allah. Kebersamaan dengan Allah yang kita hayati setiap saat dalam hidup sehari-hari itu dirayakan, disadari diakui, dinyatakan dan disyukuri serta dimohon dalam perayaan liturgi. Dalam arti ini, perayaan liturgi adalah perayaan kehidupan. Umat beriman (dengan semangat ’up and down’-nya) dalam hidup harian tetap mengarahkan hati pada Allah dan mengharapkan agar berbuah banyak dalam kehidupan yang berkenan kepada-Nya.

Akhirnya liturgi yang dipersiapkan dan dilaksanakan dengan baik, diharapkan menghasilkan buah Roh Kudus yang baik pula dalam hidup sehari-hari, seperti dikatakan Santo Paulus kepada jemaat di Galatia: ”…kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kestiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri” (Gal 5: 22-23). Semoga Tuhan memberkati.***

baca selanjutnya...

Senin, 07 Februari 2011

Liturgi Sebagai Pusat Kehidupan Gereja

1. Apa itu Liturgi?
Liturgi, dari asal katanya, leitourgia (bhs Yunani), dari akar kata ergon, yang berarti karya, dan leitos, yang merupakan kata sifat untuk kata benda laos (=bangsa). Maka, kata liturgi memiliki kata dasar leitos + ergon (karya yang dibaktikan untuk kepentingan bangsa). Leitourgia berarti sebagai kerja bakti atau kerja pelayanan tanpa dibayar. Leitourgia dalam arti kultis (keagamaan), yaitu perayaan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus.

Dari akar kata tersebut jelas dimaksudkan, bahwa liturgi merupakan sebuah perayaan bersama. Secara vertical, merupakan perayaan Gereja bersama Kristus; secara horizontal, perayaan iman Gereja. Perayaan bersama ini merupakan salah satu ciri pokok dalam liturgi. Dan dalam liturgi, Gereja dibangun dan diwujudkan sebab Gereja adalah persekutuan umat (manusia-manusia) yang dipanggil Allah untuk memuliakan Dia.

2. Apa saja yang termasuk dalam Liturgi?
Ada tiga macam liturgi Gereja, yaitu liturgi Sakramen, liturgi Sabda, dan liturgi Harian.

2.1. Liturgi Sakramen.
Kata “sakramen” berasal dari bahasa latin “sacramentum”, terjemahan dari kata Yunani: mysterion, yang dalam Perjanjian Lama hendak menunjuk pada Allah yang mewahyukan diri-Nya dalam sejarah. Mysterion (dalam Perjanjian Baru) menunjuk pada rencana keselamatan Allah yang terlaksana dalam Yesus Kristus (bdk Ef 1:9; Kol 1:26; Rm 16:25).

2.2.1. Perayaan Liturgi Sakramen.
Perayaan liturgi sakramen menunjuk pada perayaan-perayaan ketujuh sakramen Gereja, dengan tingkatan-tingkatan yang berbeda. Perayaan Sakramen ini dibagi dalam dua kelompok yaitu, sacramenta maiora (Sakramen Ekaristi dan Sakramen Baptis) dan sacramenta minora (Sakramen Krisma, Sakramen Tobat, Sakramen Pengurapan Orang Sakit, Sakramen Tahbisan dan Sakramen Perkawinan).

a. Sakramen Ekaristi.
Sakramen ini merupakan puncak dan pusat seluruh perayaan sakramen dan seluruh liturgi Gereja, bahkan menjadi sumber dan puncak seluruh hidup kristiani (Lumen Gentium art.11).

b. Sakramen Baptis.
Sakramen ini merupakan jalan masuk atau sakramen pertama yang harus diterima seseorang untuk penerimaan sakramen-sakramen yang lain. Melalui baptis, seseorang dimasukkan ke dalam Gereja dan dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah.

c. Sakramen Krisma atau Penguatan.
Sakramen ini menguatkan orang beriman dengan kurnia Roh Kudus untuk menjadi saksi Kristus dan orang kristiani dewasa.

Ketiga sakramen tersebut (Ekaristi, Baptis dan Krisma), biasa disebut sakramen inisiasi. Melalui ketiganya, seseorang telah menjadi umat beriman dan warga Gereja yang penuh, serta berhak merayakan Ekaristi secara aktif.

d. Sakramen Tobat atau Rekonsiliasi atau Pengampunan.
Sakramen ini mengembalikan umat beriman yang jatuh ke dalam dosa (sakit rohani); mendamaikan kembali mereka dengan Allah dan Gereja; serta menganugerahkan pengampunan dosa. Dengan sakramen ini, memungkinkan umat beriman merayakan Ekaristi dengan pantas.

e. Sakramen Pengurapan Orang Sakit atau Perminyakan Suci.
Umat beriman yang sakit fisik dikuatkan dengan sakramen ini, yang menganugerahkan kekuatan hidup iman dan pengampunan dosa kepada yang sakit. Melalui sakramen ini, orang sakit diserahkan kepada Tuhan yang bersengsara dan mulia agar Dia menyembuhkan dan menyelamatkannya.

f. Sakramen Tahbisan dan Sakramen Perkawinan.
Kedua sakramen ini disebut juga sakramen sosial Gereja karena hendak mengungkapkan dimensi dan fungsi sosial Gereja. Melalui sakramen tahbisan, terlaksanalah pengudusan atas orang-orang yang mendapat tugas dan jabatan dalam kepemimpinan, pengudusan dan pengajaran bagi umat Allah. Melalui sakramen perkawinan, memungkinkan berdirinya dasar dan pengudusan keluarga yang merupakan sel terkecil dan pembangun umat Allah dari masa ke masa.

Ketiga sakramen ini, yaitu Baptis, Penguatan dan Tahbisan, merupakan sakramen kekal tak terhapuskan, apabila sudah diterima oleh seseorang. So, ketiganya hanya diterimakan sekali seumur hidup.

2.1.2. Liturgi Sakramentali.
Sakramentali ialah “tanda-tanda suci, yang memiliki kemiripan dengan sakramen-sakramen. Sakramentali menandakan kurnia-kurnia, yang bersifat rohani dan yang diperoleh berkat doa permohonan Gereja.” (Sacrosanctum Concilium art.60). Termasuk sakramentali antara lain: pemberkatan air suci, berkat bathuk, berkat roti, buah atau doa sebelum sesudah makan, doa orang sakit, upacara pertunangan, upacara tobat, aneka ibadat berkat, pengusiran setan, dan aneka doa.

2.2. Liturgi Sabda.
Pusat dan pokok dari liturgi sabda adalah Kitab Suci. Konsili Vatikan II mengajarkan dengan jelas bahwa, “supaya tampak dengan jelas bahwa dalam liturgi, upacara dan sabda berhubungan erat, maka: (1) dalam perayaan-perayaan suci hendaknya dimasukkan bacaan Kitab Suci yang lebih banyak, lebih bervariasi, dan lebih sesuai; (2) dalam rubrik-rubrik hendaknya dicatat juga, sejauh tata upacara mengizinkan, saat yang lebih tepat untuk kotbah, sebagai bagikan perayaan liturgi. Dan pelayanan pewartaan hendaknya dilaksanakan dengan amat tekun dan seksama. Bahannya terutama hendaknya bersumber pada Kitab Suci dan Liturgi, sebab kotbah merupakan pewartaan keajaiban-keajaiban Allah dalam sejarah keselamatan dan misteri Kristus, yang selalu hadir dan berkarya di tengah kita, teristimewa dalam perayaan-perayaan liturgi” (SC 35,1 dan 2).

2.2.1. Susunan Pokok Liturgi Sabda.
Bacaan I
Mazmur Tanggapan
Bacaan II
Bait Pengantar Injil: Alleluia
Bacaan Injil
Homili/Kotbah
Credo
Doa Umat

2.3. Liturgi Harian
Liturgi ini merupakan ibadat harian atau ofisi yang mengungkapkan dimensi pokok “Gereja yang berdoa” (ecclesia orans) –bdk Kis 1;14; 2:42. Tekanan liturgi harian adalah pengudusan hari dan waktu. Hal ini ditegaskan oleh Konsili Vatikan II, “Berdasarkan tradisi kuno, Ibadat Harian disusun sedemikian rupa, sehingga seluruh kurun hari dan malam disucikan dengan pujian kepada Allah” (SC art.84).

2.3.1. Macam Ibadat Harian.
Pembukaan ibadat harian (Invitatorium)
Ibadat Bacaan (Matutinum)
Ibadat Pagi (Laudes)
Ibadat Siang
Ibadat Sore (Vesper)
Ibadat Penutup (Kompletorium)

3. Bagaimana Merayakan Liturgi?
Pada prinsipnya, merayakan liturgi berarti merayakan iman bersama akan Kristus, Wahyu Allah, dan Penyelamat dalam persekutuan Roh Kudus. Merayakan liturgi adalah ‘kerja bakti’ memuliakan Allah. Namanya saja kerja bakti, tentu di dalamnya unsur “gotong royong” yang menjadi ciri khas budaya bangsa kita, bukanlah sesuatu yang asing dan sulit untuk kita lakukan. Hanya bedanya, ke’gotong-royong’an itu kita tempatkan dalam kerangka perayaan keagamaan yaitu perayaan iman.

Gotong royong, atau kerja bakti tentu modal utamanya adalah kehendak dan kemauan untuk terlibat serta kesadaran bahwa saya adalah bagian dari warga, yang sadar hak serta kewajiban untuk terlibat di dalamnya dengan sukahati dan kerelaan. Oleh karena itu, jelas pula bahwa perayaan liturgi juga menganut semangat yang sama dengan gotong royong / kerja bakti itu.

4. Target Sasaran Konkrit “Merayakan Liturgi”?
Perayaan liturgi yang baik akan mendukung terwujudnya “terlibat-berbagi-berkat”, dimana masing-masing warga Gereja ikut serta ambil bagian untuk “kerja bakti” dalam liturgi, sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing. Dengan kata lain, perayaan liturgi itu sendiri mewujudkan Gereja.

4.1. Merayakan Liturgi Lingkungan.
Sejak tahun 2008, lingkungan-lingkungan di Paroki Santa Maria ini sudah mulai diberdayakan baik dari segi kegiatan-kegiatan lingkungan, kemandirian lingkungan, maupun juga pelayanan liturgi. Ekaristi Lingkungan sudah dijadwalkan secara rutin, Ekaristi Ujub juga mulai dikembangkan dan sungguh berkembang dengan baik, kor lingkungan juga mulai diberdayakan (2009), devosi-devosi mulai berkembang, tim-tim kerja dan pengurus harian lingkungan mulai dibentuk dan diberdayakan. Kiranya hal-hal itu, antara lain, menjadi potensi yang sangat besar untuk semakin mengembangkan lingkungan sebagai Gereja konkrit di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, supaya potensi-potensi di lingkungan semakin bertumbuh dan berkembang efektif, kiranya pada tahun 2010 ini perlu target konkrit agar apa yang hendak kita capai, selaras dengan visi-misi Gereja kita, dapat terwujud nyata. Salah satu yang hendak saya usulkan adalah dalam bidang liturgi, khususnya adalah Pemberdayaan Tim Kerja Liturgi Lingkungan.

Tim Kerja liturgi lingkungan mencakup tugas-tugas yang berkaitan dengan perayaan liturgi di lingkungan seperti ekaristi, ibadat, doa dan devosi, pendalaman iman dan kitab suci, kor, dan paramenta. Perayaan ini tentu saja adalah perayaan bersama seluruh umat lingkungan. Oleh karena itu, tim kerja liturgi lingkungan sangat berperan untuk mendukung terciptanya Gereja Lingkungan yang mandiri.

4.1.1. Dalam Hal Persiapan Perayaan Liturgi.
Tim liturgi lingkungan hendaknya melakukan koordinasi untuk mempersiapan perayaan liturgi lingkungan dengan sebaik-baiknya, seperti mempersiapkan peralatan liturgi seperti peralatan misa/ibadat/doa, buku-buku dan panduan, kor, petugas, tema-tema liturgi yang dirayakan, pelatihan-pelatihan liturgi (kerjasama dengan tim liturgi paroki) dan lain-lainnya.

4.1.2. Dalam Hal Pelaksanaan Perayaan Liturgi.
Tim liturgi lingkungan hendaknya mengkoordinasi pelaksanaan perayaan liturgi lingkungan misalnya memimpin doa persiapan, pengecekan peralatan, buku dan panduan, petugas, dan lain sejenisnya.

4.1.3. Dalam Hal Evaluasi Pelaksanaan Perayaan Liturgi.
Tim liturgi lingkungan hendaknya perlu untuk mengevaluasi setiap kegiatan liturgi lingkungan agar dapat dikembangkan lebih baik lagi untuk semakin mengarah pada sasaran dan tujuan perayana liturgi tersebut, yaitu tercapainya keterlibatan seluruh umat dan tercapainya iman yang mendalam.

Sumber : http://blencong-laskargusti.blogspot.com

baca selanjutnya...

Sabtu, 05 Februari 2011

Tentang Misa Jumat Pertama

Misa Jumat Pertama merupakan salah satu bentuk Devosi kepada Hati Kudus Yesus. Berikut ini sekilas tentang Devosi kepada Hati Kudus Yesus dan Misa Jumat Pertama.

1. Sejarah Devosi kepada Hati Kudus Yesus

Devosi berfokus kepada Hati Yesus yang maha kudus yang melambangkan kasih Kristus yang menebus dosa manusia. Walaupun tradisi mengatakan bahwa praktek devosi ini telah dimulai sekitar tahun 1000, atau pada jaman St. Anselmus dan St. Bernard (1050-1150) dan juga telah dianjurkan oleh banyak orang kudus di abad pertengahan, seperti St. Albertus Agung, St. Catherine dari Siena, St. Fransiskus dari Sales, dan juga para Benediktin, Dominikan dan Carthusian; namun Santa yang paling sering diasosiasikan dengan devosi Hati Kudus Yesus adalah St. Margaret Mary Alacoque (1647-1690).

St. Margaret memperoleh wahyu pribadi dari Tuhan Yesus yang menghendaki perayaan liturgis Hati Kudus Yesus dan praktek mempersembahkan silih (reparation) terhadap dosa- dosa yang dilakukan terhadap Sakramen MahaKudus, pada setiap hari Jumat pertama dalam setiap bulan.

Pada tahun 1856 Paus Pius IX menetapkan Pesta (perayaan liturgis) Hati Kudus Yesus. Pada tahun 1928 Paus Pius XI mengeluarkan surat ensiklik Miserentissimus Redemptor tentang silih kepada Hati Kudus Yesus; sedangkan tahun 1956 Paus Pius XII mengeluarkan surat ensiklik tentang Haurietis aquas, tentang devosi kepada Hati Kudus Yesus.

Devosi umumnya dilakukan menjelang perayaan Pesta Hati Kudus Yesus yang jatuh pada hari Minggu kedua setelah hari raya Pentakosta. Kemudian, devosi kepada Hati Kudus Yesus ini diadakan setiap bulan, yaitu pada hari Jumat pertama.

2. Pengantar kepada devosi Hati Kudus Yesus

Kasih kepada Yesus Kristuslah yang seharusnya menjadi dasar devosi dari umat Katolik. Kurangnya devosi kepada Hati Kudus Yesus menjadi sebab bagi jatuhnya seseorang kepada dosa yang serius, sebab ia tidak memberikan perhatian yang cukup dan tidak cukup terdorong untuk mempunyai kasih kepada Kristus, padahal kasih inilah yang mempersatukan jiwa manusia dengan Tuhan…. Kita tidak akan sungguh dibentuk menjadi gambaran Tuhan, atau bahkan menginginkan untuk dibentuk menjadi serupa dengan-Nya, jika kita tidak merenungkan kasih yang telah ditunjukkan oleh Kristus.

Untuk maksud inilah maka Tuhan Yesus menyatakan kehendak-Nya kepada St. Margaret Mary Alacoque, agar devosi dan perayaan Hati Kudus Yesus diadakan dan disebarluaskan di Gereja. Melalui devosi ini yaitu melalui adorasi dan doa, umat beriman membuat silih bagi segala luka yang diterima oleh Hati Kudus Yesus karena umat manusia yang tidak berterimakasih dan menghina Sakramen Maha Kudus.

“Lihatlah Hati itu”, seperti yang dikatakan oleh Yesus kepada St. Margaret, “yang telah mengasihi umat manusia dan memberikan segala- galanya kepada mereka, bahkan menyerahkan dirinya sediri sebagai jaminan kasih-Nya, tetapi menerima dari sebagian besar umat manusia, bukan balasan kasih, melainkan rasa tidak berterimakasih, dan penghinaan kepada Sakramen Kasih.”

Maka devosi Hati Kudus tidak lain adalah ekspresi kasih kepada Penyelamat kita. Obyek dari devosi ini adalah Hati Yesus yang menyala oleh karena kasih kepada semua umat manusia.

3. Hari Jumat Pertama

Adalah menjadi kerinduan Tuhan Yesus, seperti yang dinyatakan kepada St. Margaret, bahwa setiap hari Jumat pertama setiap bulan dikhususkan untuk devosi dan adorasi kepada Hati Kudus Yesus. Untuk mempersiapkannya, adalah baik jika pada malam sebelumnya kita membaca tentang devosi ini, atau Jalan Salib/ Kisah sengsara Tuhan Yesus dan untuk mengunjungi Sakramen Maha Kudus. Pada hari Jumat tersebut, begitu bangun tidur, kita mempersembahkan diri kita dan meng-konsekrasikan, seluruh pikiran, perkataan dan perbuatan kita kepada Tuhan Yesus, agar Hati Kudus-Nya dapat dihormati dan dimuliakan. Kita mengunjungi gereja, berlutut di hadapan-Nya yang hadir di tabernakel, agar kita dapat membangkitkan di dalam jiwa kita rasa duka cita (deep sorrow) atas begitu banyaknya penghinaan/ perlawanan yang ditujukan kepada Hati Kudus-Nya di dalam Sakramen Maha Kudus, [dan kemudian mengikuti Misa Kudus]. Tidaklah sulit untuk melakukan hal ini jika kita memiliki sedikit saja kasih kepada Kristus. Jika kita menjadi suam- suam kuku, mari mengingat kembali begitu banyaknya alasan yang kita miliki untuk memberikan hati kita kepada Kristus. Setelah itu, kita harus mengakui segala kesalahan kita atas kekurangan hormat kita di dalam hadirat Allah dalam Sakramen Maha Kudus, atau melalui kelalaian kita untuk mengunjungi dan menerima Dia di dalam Komuni kudus.

Komuni pada hari itu dipersembahkan untuk membuat silih terhadap segala bentuk penghinaan yang diterima Kristus dalam Sakramen Maha Kudus, dan semangat kasih yang sama harus menghidupkan segala tindakan kita sepanjang hari.

Meskipun devosi ini diadakan sekali sebulan (pada hari Jumat Pertama) namun latihan- latihan rohani ini tidak terbatas hanya sebulan sekali pada hari itu. Yesus layak dihormati setiap saat. Dengan demikian mereka yang terhalang untuk merayakan devosi Hati Kudus Yesus pada hari Jumat pertama, dapat melakukannya pada hari- hari lainnya pada bulan itu.

Sumber : www.katolisitas.org

baca selanjutnya...

Selasa, 01 Februari 2011

Mengapa Misa Jumat Pertama?

1. PERAYAAN JUMAT PERTAMA

Cukup banyak umat yang terpanggil untuk menghadiri misa Jumat pertama sebagaimana mereka merasa wajib untuk menghadiri misa pada hari Minggu. Apakah latar belakang di balik perayaan Jumat pertama?

2. ASAL-USUL JUMAT PERTAMA.

Perayaan Jumat pertama menunjuk pada devosi kepada Hati Kudus Yesus yang sebenarnya sudah dimulai pada abad 11 dan 12 Masehi di lingkungan biara Benediktin dan Sistersian. Pada abad 13-16 Masehi, devosi ini menurun dan mulai hidup lagi pada pertengahan akhir abad 16, salah satunya oleh Yohanes dari Avila (1569).

Pada abad 17, berbagai praktek devosi kepada Hati Kudus Yesus dari beberapa tokoh spiritual mulai menjamur, di antaranya Santo Fransiskus Borgia, Santo Aloysius Gonzaga dan Beato Petrus Kanisius. Namun semuanya itu hanyalah devosi yang bersifat pribadi. Beato Yohanes Eudes (1602-1680) membuat devosi ini menjadi devosi umat, yang dirayakan dalam peribadatan. Ia bahkan menetapkan pesta liturgi khusus untuk devosi kepada Hati Kudus Yesus ini. Pada tanggal 31 Agustus 1670, pesta liturgis pertama untuk menghormati Hati Kudus Yesus dirayakan dengan begitu agung di Seminari Tinggi Rennes, Perancis.

Walaupun demikian, perayaan Hati Kudus Yesus pada masa itu belum menjadi perayaan resmi gereja sedunia, tetapi merupakan awal devosi kepada Hati Kudus Yesus untuk seluruh Gereja.

3. AWAL JUMAT PERTAMA

Istilah Jumat pertama sebagai devosi kepada Hati Kudus Yesus berawal dari penampakan Yesus kepada Santa Maria Margaretha Alacoque (1647-1690) di Perancis. Dalam penampakan-Nya, Yesus mengungkapkan rupa-rupa misteri rohani dan permintaan untuk penghormatan khusus kepada Allah. Pada penampakan ketiga (1674), Yesus menampakkan diri dalam kemuliaan dengan kelima luka penderitaan- Nya yang bersinar bagaikan mentari, dan dari Hati Kudus Yesus tampaklah Hati Kudus Yesus yang mencinta.

Yesus mengungkapkan, bahwa banyak orang tak menghormati dan menyangkal-Nya. Oleh karena itu, sebagai silih dan pemulih atas dosa-dosa manusia, melalui Maria Margaretha, Yesus meminta untuk menghormati- Nya secara khusus dengan menerima Sakramen Mahakudus sesering mungkin. Secara khusus pula, Yesus meminta untuk menerima Komuni Kudus pada Hari Jumat pertama setiap bulan, dan pada setiap Kamis malam di mana Yesus membagikan penderitaan yang dirasakan-Nya di Taman Getsemani. Hari Jumat Pertama itulah yang dirayakan oleh segenap umat sampai sekarang ini. Dan peringatan Hari Kamis malam masih dirayakan sampai sekarang ini di biara-biara dan oleh sebahagian umat dengan perayaan devosional yang disebut Hora Sancta atau Jam Suci.

Kita tidak mengetahui mengapa Yesus meminta untuk menerima Komuni Kudus pada hari Jumat Pertama. Jika dikaitkan dengan Hari Kamis malam sebagai kenangan akan derita Yesus di Taman Getsemani, tentu Hari Jumat yang dimaksud Yesus adalah hari wafat-Nya di kayu salib. Mengapa harus hari Jumat Pertama dan bukan setiap hari Jumat? Kita juga tidak menemukan alasannya. Mungkin hari Jumat pada bulan baru menunjuk pada permulaan yang baik untuk kehidupan Kristen sepanjang bulan itu.

Setelah penampakan Yesus pada Maria Margaretha Alacoque, devosi kepada Hati Kudus Yesus berkembang pesat. Pada tahun 1856, Paus Pius IX menetapkan Pesta Hati Kudus Yesus pada Hari Jumat sesudah Pesta Tubuh dan Darah Kristus. Hal ini berkaitan langsung dengan permintaan Yesus pada Maria Margaretha Alacoque saat penampakan keempat (1675) untuk menghormati Hati Kudus-Nya secara khusus. Itulah pesta liturgis yang sampai sekarang ini dirayakan oleh gereja kita secara resmi.

4. MAKNA JUMAT PERTAMA

Adalah hal yang baik bagi umat untuk meneruskan devosi kepada Hati Kudus Yesus pada hari Jumat pertama setiap bulan, karena anugerah khusus akan diberikan kepada mereka yang menerima komuni pada sembilan hari Jumat pertama berturut-turut. Sebelum meninggal, orang tersebut tidak akan mati dalam dosa, karena diberi pengampunan dosa dan akan mengalami kebahagiaan dalam keluarga dan penghiburan dalam derita.

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP