%">PS "GITA BAKTI HERKULANUS" berlatih tiap Minggu sore

Selasa, 22 Juni 2010

Bahan Pendampingan Liturgi

I. PENGANTAR UMUM LITURGI
1. MENGHAYATI LITURGI
Setiap orang beriman dituntut mengungkapkan dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari. Pengungkapan iman menunjukkan identitas lahiriah seseorang dan menyatakan secara nyata relasinya dengan yang ilahi. Liturgi merupakan ungkapan resmi iman seseorang. Secara resmi menekankan aspek kewajiban dan aspek formalitas (bentuk, pelayan dan doa-doanya). Iman kelihatan dari cara hidup.

Perwujudan iman menunjukkan kwalitas iman yang dinyatakan dalam menjalani hidup baik secara personal maupun relasional. Personal menunjuk pada aspek tanggung jawab dan relasional menunjuk pada aspek tingkat kwalitas relasi dengan sesama. Iman mempengaruhi dan mendasari perbuatan.

Pengungkapan dan perwujudan sama pentingnya dan tidak boleh menekankan salah satu aspek saja. Pengungkapan mendapat dasarnya dalam perwujudan. Perwujudan mendapat inspirasinya dari pengungkapan.

Berliturgi bukan soal wajib dan tidak, boleh dan tidak, melainkan soal konsekuensi dari jati dirinya sebagai orang beriman. Liturgi menyatakan jati diri sebagai orang beriman. Maka tidak mungkin beriman tanpa berliturgi.

Liturgi bagaikan charger untuk iman. Karena liturgi, iman terus diteguhkan, dikuatkan, dibaharui dan akhirnya terus hidup dan mempengaruhi seluruh kehidupan. Keprihatinan besar saat ini adalah umat kurang menempatkan ekaristi sebagai bagian penting dari hidupnya, terutama dari imannya. Liturgi lebih dilihat sebagai bagian dari aktivitas umat beriman, yang dijalankan menurut situasi dan kondisi dirinya. Juga liturgi lebih dilihat sebagai kewajiban, yang cenderung sudah puas kalau sudah mengikutinya. Lebih parah lagi ada gejala pelunturan praktek sembah sujud terhadap keluhuran liturgi.
Paus Yohanes Paulus II melalui ensiklik Ecclesia de Eucharistia mengajak untuk menyalakan kembali pesona Ekaristi sehingga ekaristi dengan seluruh misterinya bersinar dalam setiap insan.

2. MEMAHAMI LITURGI
Bunda Gereja sangat menginginkan, supaya semua orang beriman dibimbing kearah keikut-sertaan yang sepenuhnya, sadar dan aktif dalam perayaan-perayaan Liturgi. Keikut-sertaan seperti itu dituntut oleh Liturgi sendiri, dan berdasarkan Babtis merupakan hak serta kewajiban umat kristiani sebagai “bangsa terpilih, imamat rajawi, bangsa yang kudus, Umat kepunyaan Allah sendiri” (1Ptr 2:9; Lih. 2:4-5). Sacrosanctum Concilium 14.
2.1. Pengertian Liturgi
Berliturgi secara sadar dan aktif menegaskan aspek PEMAHAMAN (akal budi) dan KETERLIBATAN (hati) semua umat beriman. Pemahaman menegaskan sisi pengetahuan, dimana semua umat beriman bisa memahami liturgi yang mereka rayakan. Sedangkan keterlibatan menunjuk soal hati, yaitu hati yang terlibat secara penuh dalam liturgi. Berdasarkan SC 2, 7, 10, Liturgi disebut sebagai perayaan misteri keselamatan Allah (penebusan dan pengudusan oleh Allah dan pemuliaan oleh manusia) yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus.
Dilihat dari sisi pelaksananya, liturgi dapat disebut sebagai perayaan Tuhan dan perayaan iman. Disebut perayaan Tuhan karena dalam liturgi, Allah yang berinisiatif menjumpai manusia. Allah yang mencari dan mengundang; bukan manusia yang mencari Allah. Maksud Allah mengundang manusia untuk berpartisipasi dan berperan serta dalam hidupNya. Dan disebut perayaan iman, karena dalam liturgi manusia terlibat dengan menanggapi undangan Tuhan untuk terlibat dalam perjamuanNya.
Karena itu, dari peristiwanya, liturgi menjadi medan sebuah perjumpaan, yaitu perjumpaan antara Allah dan manusia. Perjumpaan itu membawa anugerah keselamatan bagi manusia. Anugerah ini mengalir pada setiap orang yang merayakan dan yang didoakannya, lepas dari disposisi batin orang yang bersangkutan, sebab sakramen bekerja dengan ex opere operato. Disposisi batin lebih menunjuk pada sisi kepantasan dan kelayakan orang saat mengambil bagian dalam perayaan.

2.2. Pembentuk Liturgi
a. Dialogis

Liturgi adalah peristiwa perjumpaan dan komunikasi antara penyelenggara dan undangan, antara Allah dan manusia. Perjumpaan/komunikasi itu terjadi secara dialogis dan berlangsung melalui Yesus dalam Roh Kudus. Allah dalam Yesus Kristus memanggil, mengumpulkan untuk memuliakan Allah (katabatis). Tindakan ini mendatangkan pengudusan dan penyelamatan bagi manusia. Manusia menanggapi dan menjawab (anabatis). Tindakan ini menyatakan bentuk pemuliaan, penyembahan, sembah bakti dan pujian untuk Allah.
b. Simbolis
Perjumpaan Allah dan manusia bukanlah ilusi, atau omong kosong tetapi terjadi dalam bentuk simbolis. Simbol selalu menandakan realitas di baliknya, yaitu realitas kehadiran Yesus yang menyelamatkan. Struktur simbolis liturgi terwujud dalam aneka unsur liturgi (alat, pakaian, warna, pelayan).
c. Anamnesis
Perayaan Liturgi mempunyai ciri anamnesis (kenangan, bukan sekedar ingatan/peringatan). Kenangan lebih menyatakan tindakan menghadirkan, yaitu menghadirkan karya penyelamatan Allah di masa lampau. Penghadiran ini obyektif, real dan nyata karena: tindakan Allah yang selalu berlaku, iman jemaat dan Roh Kudus yang menghubungkan peristiwa lama dan yang baru.
d. Epiklesis
Epiklesis dalam liturgi berarti seruan dan permohonan agar Allah berkenan mengutus Roh Kudus guna menguduskan sesuatu (air, roti, anggur) atau pribadi tertentu. Dimensi epiklesis membuat liturgi bukan suatu upacara magis tapi sungguh pengudusan dari Allah sendiri. Pengudusan itu dilaksanakan oleh Roh Kudus.

2.3. Ungkapan liturgi
a. Tindakan manusiawi

Kegiatan indrawi: mendengarkan, melihat, menyentuh, merasakan dan membau.
Gerakan dan Bahasa Badan: berjalan, berdiri, duduk, berlutut, membungkuk, meniarap, tangan (terkatup, terangkat, terentang), penumpangan, tanda salib, berkat, menepuk dada, jabatan tangan, membasuh tangan.
b. Musik
Musik Liturgi menjadi salah satu bentuk ungkapan liturgi.
Mengungkapkan peran serta umat yang aktif, untuk membangkitkan suasana bagi tumbuhnya daya tangkap dan daya tanggap jiwa terhadap sabda dan karunia Allah dalam liturgi. Memperjelas misteri Kristus, membantu kesadaran kebersamaan dan memberikan kemeriahan dan keagungan bagi liturgi.
c. Alat-alat Liturgi
– Unsur-unsur alam: roti, anggur, air, minyak, api, dupa-ratus dan bahan wangian, garam dan abu
– Alat-alat liturgi buatan:
Alat sengaja dibuat untuk melayani perayaan misteri Tuhan.
d. Pakaian dan warna Liturgi
– Fungsi Pakaian: untuk menampilkan dan mengungkapkan aneka fungsi dan tugas pelayanan; menonjolkan sifat meriah liturgi; melambangkan kehadiran Kristus.
– Warna Liturgi: untuk mengungkapkan sifat dasar misteri iman yang dirayakan; menegaskan perjalanan hidup kristiani sepanjang tahun

2.4. Buah Liturgi
a. Suka Cita Sejati:
Karena mendapat pengampunan, peneguhan, pengharapan, penebusan, kesembuhan, kekuatan, penghiburan, pembebasan, kedamaian, dan karunia lainnya.
b. Communio
– Tercipta communio manusia dengan Allah
– Tercipta communio manusia dengan sesamanya
– Tercipta communio manusia dengan lingkungan hidupnya.
c. Mencicipi kehidupan sorgawi
Manusia boleh memandang dan mencicipi kehidupan sorgawi yang dipuaskan dengan roti surgawi

2.5. Perutusan
a. Hidup Baru sesuai dengan buah yang dinikmati dalam perayaan (sukacita, communio, hayati hidup sorgawi)
b. Menghadirkan Kristus, dengan menghayati dan melaksanakan sabda Allah
c. Menjadi penyalur berkat Tuhan

3. MELIBATKAN DALAM LITURGI
Liturgi adalah perayaan seluruh umat. Sebagai konsekuensinya umat dituntut partisipasinya dalam seluruh perayaan liturgi. Umat bukan penonton yang hanya datang, duduk dan menikmati tetapi pelaksana. Pius XII dalam ensiklik Mediator Dei (1947) merinci partisipasi dalam tiga hal:
a) partisipasi batin atau penghayatan pribadi,
b) partisipasi lahir, yaitu turut bernyanyi, berdoa, atau bersikap tertentu
c) partisipasi sakramental (komuni).
Guna memudahkan partisipasi seluruh umat, perlu diperhatikan:
a) Liturgi hendaknya dijiwai semangat sederhana, tidak aneh-aneh atau berbelit-belit. Konsili Vatikan II menandaskan agar upacara-upacara bersifat sederhana, namun luhur, singkat, tanpa pengulangan-pengulangan yang tidak ada gunanya. Liturgi disesuaikan dengan daya tangkap umat beriman.
b) Liturgi hendaknya memiliki semangat adaptif, memberi peluang untuk penyesuaikan, bahkan harus disesuaikan. Dalam hal menyangkut iman atau kesejahteraan segenap jemaat, Gereja tidak ingin mengharuskan keseragaman yang kaku. Intinya liturgi tetap memiliki semangat dasar yaitu liturgi terlaksana secara baik dan benar, membawa buah nyata bagi kehidupan umat dan membantu umat untuk memuliakan Allah dan menguduskan diri.

II. PEDOMAN PELAKSANAAN PERAYAAN EKARISTI
A. RITUS PEMBUKA
1. Unsur

• Perarakan masuk: para petugas liturgi masuk diiringi nyanyian pembuka. Tujuan nyanyian adalah untuk membuka misa, membina kesatuan umat, mengantar masuk ke misteri masa liturgi dan mengiringi perarakan.
• Penghormatan altar dan salam oleh imam. Salam di satu sisi mengungkapkan kehadiran Tuhan di tengah-tengah umat dan di sisi lain memperlihatkan tanggapan umat yang berkumpul.
• Ordinarium: Tuhan kasihanilah kami, didaraskan atau dinyanyikan untuk mengungkapkan seruan kepada Tuhan dan memohon belas kasihanNya. kemuliaan: menjadi madah umat untuk memuji Allah Bapa dan Anak Domba Allah serta memohon belas kasihanNya. Kemuliaan dilagukan/diucapkan pada hari raya, perayaan meriah dan hari minggu (kecuali adven dan prapaskah).
• Doa pembuka: Sebelum doa diucapkan ada saat hening untuk menyadari kehadiran Tuhan, dan dalam hati mengungkapkan doanya masing-masing. Lalu imam membuka doa yang mengandung inti perayaan liturgi yang dirayakan dan menutup dengan rumusan trinitaris. Doa pembuka disebut doa collecta dan presidensial. Doa collecta berarti kumpulan dari doa-doa yang diungkapkan oleh umat pada saat hening yang kemudian diteruskan oleh imam. Karena hanya imam yang mendoakan doa pembuka itu, maka doa pembuka juga disebut doa presidensial, yaitu doa resmi dan publik yang dibawakan oleh pemimpin atas nama seluruh umat. Dalam doa ini, umat tidak diikutsertakan untuk mengucapkannya. Umat hanya menjawab “amin” setelah imam mengakhiri doanya dengan doa trinitaris, yaitu doa yang diarahkan kepada Allah Bapa, dengan pengantaraan Putra dalam Roh Kudus.
2. Tujuan:
• Menjadi pembuka, pengantar dan persiapan.
• Mempersatukan umat yang berhimpun dan mempersiapkan mereka supaya mendengarkan sabda Allah dengan penuh perhatian dan merayakan Ekaristi dengan layak .
3. Tata Gerak
• Berdiri: saat arak-arakan sampai salam; kemuliaan sampai doa pembuka.
• Duduk/berlutut: saat pengantar sampai Tuhan kasihanilah kami.

B. LITURGI SABDA
1. Unsur:

• Bacaan I: Dari Kitab suci dan dibacakan oleh seorang lektor dengan suara lantang, dengan ucapan jelas, pembawaan pantas dan penghayatan yang mendalam. Lektor tidak perlu membaca “BACAAN PERTAMA”!
• Masmur tanggapan: dipilih sesuai dengan bacaan yang bersangkutan. dianjurkan untuk dilagukan, terutama bagian refren. Fungsi mazmur untuk menopang permenungan atas sabda Allah
• Bacaan II: Dari Kitab suci dan dibacaan oleh seorang lektor seperti bacaan I. Kalau ada alasan yang berat, bacaan II bisa ditiadakan.
• Bait Pengantar Injil: Bait Pengantar Injil wajib dinyanyikan, bila tidak dinyanyikan, lebih baik dihilangkan. Tujuan Bait Pengantar Injil adalah untuk menyambut dan menyapa Tuhan yang siap bersabda dalam Injil dan sekaligus menyatakan iman umat.
• Homili: Yang memberikan adalah imam, pemimpin perayaan (tidak pernah oleh awam). Hari minggu dan pesta, wajib ada homili. Tujuan dari homili adalah untuk memupuk semangat hidup kristen dengan menjelaskan bacaan-bacaan atau teks lain yang berhubungan dengan misteri yang dirayakan.
• Pernyataan Iman: Mendoakan atau melagukan syahadat. Tujuannya agar seluruh umat yang berhimpun dapat menanggapi sabda Allah yang dimaklumkan dan dijelaskan dalam homili.
• Doa Umat: Doa Umat oleh lektor/petugas untuk menyatakan permohonan atas keselamatan dan permohonan untuk mengamalkan tugas imamat yang mereka terima melalui baptis. Umumnya doa itu berisi doa untuk keperluan Gereja, penguasa negara dan keselamatan seluruh dunia, untuk orang yang menderita dan untuk umat setempat atau kepentingannya sesuai dengan misteri yang dirayakan. Imam membuka dan menutup. Tujuan doa umat adalah sebagai tanggapan umat atas sabda Allah yang mereka terima dengan penuh iman.
2. Tujuan:
• Tujuan: Untuk menyingkapkan misteri penebusan dan keselamatan serta memberikan makanan rohani melalui sabda yang diwartakan.
• Lewat liturgi ini, umat merasakan kehadiran Tuhan, meresapkan dalam keheningan dan nyanyian dan mengimani dalam syahadat serta mengungkapkan pengharapannya dalam doa umat.
3. Tata Gerak:
• Duduk: saat mendengarkan bacaan I, II, menanggapi sabda melalui nyanyian masmur dan mendengarkan homili.
• Berdiri: Umat berdiri saat Menyanyikan Bait Pengantar Injil, mendengarkan Injil dan mendoakan syahadat dan doa umat.

C. LITURGI EKARISTI
1. Unsur

• Persiapan Persembahan: kolekte dan bahan persembahan yaitu roti dan anggur dibawa ke altar. Perarakan persembahan diiringi dengan nyanyian persiapan persembahan sampai semua bahan tertata di atas altar. Dilanjutkan pendupaan terhadap roti dan anggur, salib dan altar. Pendupaan melambangkan persembahan dan doa Gereja yang naik kehadirat Tuhan. Imam dan umat juga didupai untuk menegaskan martabat luhur mereka.
• Doa Persiapan Persembahan: Imam mengundang umat untuk berdoa dan diakhiri dengan doa persiapan persembahan yang bersifat presidensial.
• Doa Syukur Agung:
• Makna: DSA merupakan pusat dan puncak seluruh perayaan Ekaristi, yang berisi doa syukur dan pengudusan. Dalam doa ini seluruh umat menggabungkan diri dengan kristus dalam memuji karya Allah yang agung dan dalam mempersembahkan korban.
• Ucapan syukur: dalam Prefasi, atas nama seluruh umat, imam memuji Allah bapa dan bersyukur kepadaNya atas seluruh karya penyelamatan atau atas semua alasan tertentu.
• Aklamasi: Umat bersama imam melagukan kudus.
• Epiklesis: Gereja memohon kuasa Roh Kudus dan berdoa supaya bahan persembahan menjadi tubuh dan darah Kristus; juga supaya korban itu menjadi sumber keselamatan yang menyambutnya.
• Kisah Insitusi dan konsekrasi: Mengulangi kata-kata dan tindakan yesus dalam perjamuan terakhir, dimana Ia mempersembahkan tubuh dan darahNya untuk dimakan dan diminum.
• Anamnesis: Gereja mengenangkan Kristus, terutama sengsaraNya yang menyelematkan, kebangkitanNya yang mulia dan kenaikanNya ke sorga.
• Persembahan: Gereja mempersembahkan korban yang murni kepada Allah Bapa dalam Roh Kudus sebagai tanda nyata persembahan diri sendiri.
• Permohonan: Ekaristi dirayakan dalam persekutuan Gereja (surga dan bumi) untuk kesejahteraan seluruh Gereja dan anggota-anggotanya (hidup maupun meninggal).
• Doksologi Penutup: diungkapkan pujian kepada Allah dan dikukuhkan dengan aklamasi meriah Amin.
• Bapa kami: imam bersama umat berdoa Bapa Kami mohon rejeki, pengampunan dosa dan dibebaskan dari segala kejahatan.
• Doa dan salam Damai: memohon damai dan kesatuan Gereja dan seluruh umat manusia, sebelum akhirnya kesatuan itu disempurnakan dengan Tubuh Kristus. Diungkapkan dengan saling memberi salaman dengan orang terdekat
• Pemecahan roti: imam memecahkan roti sebagai simbol umat yang banyak menjadi satu karena menyambut satu roti yaitu Kristus sendiri. Pemecahan roti ini diiringi dengan nyanyian/darasan anak domba.
• Komuni: umat ambil bagian dalam komuni sebagai tanda keikutsertaan umat dalam korban Kristus yang dirayakan. Sementara itu dinyanyikan nyanyian komuni agar umat secara batin bersatu dalam komuni, secara lahir bersatu dalam nyanyian; untuk menunjukkan kegembiraan hati dan menggaris bawahi perarakan komuni.
• Doa Sesudah Komuni: Imam berdoa presidensial untuk menyempurnakan permohonan umat sekaligus untuk menutup seluruh ritus komuni sambil mohon agar misteri yang telah dirayakan menghasilkan buah.
2. Tujuan
• Menghadirkan korban salib dalam Gereja untuk menyatakan karya penyelamatan dan penebusan
3. Tata Gerak:
• Berdiri: saat prefasi sampai kudus; Bapa kami, salam damai.
• Duduk: pemecahan roti, sesudah komuni, doa sesudah komuni.
• Duduk/berlutut/berdiri: Doa Syukur Agung, pemecahan roti

D. RITUS PENUTUP
1. Unsur

• Pengumuman: mengumumkan hal yang berhubungan dengan kepentingan jemaat seluruhnya, terutama pengumuman perkawinan.
• Salam dan Berkat Imam: Imam memberkati dengan berkat biasa atau meriah.
• Pengutusan: Umat diutus untuk menjadi pewarta kabar gembira.
• Penghormatan altar: mencium altar dan meninggalkan altar.
• Perarakan ke sakristi: bersama seluruh petugas liturgi, imam kembali ke sakristi, dengan diiringi lagu penutup.
2. Tujuan:
• Bagian ini menutup seluruh rangkaian perayaan ekaristi dan sekaligus membuka tugas perutusan untuk mewartakan kabar gembira.
3. Tata Gerak
• Duduk: mendengarkan pengumuman.
• Berdiri/berlutut: menerima berkat, pengutusan dan berdiri saat prosesi perarakan petugas liturgi ke sakristi.

III. TIM LITURGI PAROKI
A. Arti

Persekutuan orang-orang sebagai team work yang dipimpin dengan seorang koordinator yang bekerja bersama-sama mempersiapkan, menyelenggarakan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan liturgi (paroki). Tim Liturgi ini bertanggung jawab atas kehidupan liturgi baik liturgi rutin (harian, mingguan, tahunan) maupun khusus (HUT, perayaan khusus lainnya).
B. Personalia
1. Tim updating liturgi. Pastor paroki, ketua bidang liturgi paroki dan stasi, beberapa koordinator tim liturgi (mis: koor/musik, teks misa) dan orang-orang tertunjuk. Tim updating jangan terlalu banyak (ex. 5 orang).
2. Tim Pelaksana. Koord. tim-tim liturgi (prodiakon, misdinar, lektor, koor, musik, pemasmur, dsb).
3. Tim Sarana Peribadatan. Tim paramenta, sound system Gereja dan koster.
C. Tugas dan tanggungjawab.
1. Bertanggung jawab mengurusi bidang liturgi paroki.
2. Bertanggung jawab mendampingi tim liturgi wilayah/lingkungan.
3. Bertanggung jawab atas pelaksanaan liturgi paroki (harian, mingguan, khusus).
4. Meningkatkan pemahaman, penghayatan dan partisipasi umat dalam liturgy.
5. Bertanggung jawab atas pemeliharaan dan pengadaan sarana peribadatan.
6. Meningkatkan dan mengembangkan mutu perayaan liturgi dengan memperhatikan unsur-unsur inovasi (yang menyegarkan kehidupan liturgi), kreativitas (tidak monoton dan membosankan), inkulturasi (memperhatikan kekayaan tradisi setempat) dan konteks (sesuai dengan jaman dan keadaan).
7. Membuat arsip dan inventaris segala hal berkaitan dengan liturgi.
D. Mekanisme Kerja
1. Melibatkan semua pihak dalam suasana dialogis dan memberi ruang untuk berinisiatif.
2. Tim Up Dating/Litbang rapat sekurang-kurangnya sebulan sekali: perencanaan, pengembangan dan evaluasi.
3. Bekerja atas dasar prinsip-prinsip teologis (atas dasar iman yang benar dan mengusahakan terciptanya communio umat Allah), liturgis (memperhatikan aturan-aturan liturgi yang berlaku universal) dan pastoral (memperhatikan situasi umat dan lingkungan).
4. Mengkomunikasikan segala rencana kegiatan liturgi kepada umat dan sekaligus mendengarkan sumbang saran dari umat.
5. Berkoordinasi dengan semua tim sesuai dengan kepentingannya.
6. Sekurang-kurangnya 3 bulan sekali rapat dengan para koordinator tim liturgi. Sebulan sekali rapat dalam satu tim kerja untuk mempersiapkan program kerja atau mengevaluasi program yang sudah terlaksana.
E. Mempersiapkan LITURGI EKARISTI
1. Tema
Merencanakan tema sesuai sesuai dengan bacaan, konteks dan intensi
2. Struktur
Menyusun liturgi dengan urutan yang tepat dan modifikasi yang sesuai dengan pedoman liturgi.
3. Menyusun doa:
– Doa selalu diarahkan kepada Bapa, melalui Yesus dan dalam Roh Kudus.
– Doa pembuka: presidensial (doa yang disampaikan oleh imam kepada Allah atas nama seluruh umat dan semua yang hadir dan melalui dia, Kristus hadir mempimpin himpunan umat), trinitaris (disampaikan kepada Bapa, melalui Putra dalam kesatuan Roh Kudus), collecta (saat hening untuk menyadari kehadiran Tuhan dan memberi kesempatan umat mengungkapkan permohonan pribadi).
– Doa Umat: menanggapi sabda, memohon keselamatan dan berbagai permohonan untuk kepentingan Gereja, pemerintah, yang menderita dan semua orang, atau kebutuhan sesuai dengan konteksnya.
– Doa persiapan persembahan: Presidensial, Doa ini selalu diakhiri dengan "Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami" atau kalau disebut Putra, dengan "Yang hidup dan berkuasa , kini dan sepanjang masa."
– Doa sesudah komuni: presidensial, collecta. Intensi doa agar misteri yang sudah dirayakan menghasilkan buah.
4. Lagu
Menentukan lagu sesuai misteri yang dirayakan, melibatkan umat, meningkatkan kemeriahan liturgi dan sebagai iringan.
5. Petugas
Menentukan petugas, siapa saja yang bertugas, disiapkan, dikoordinasi agar pelaksanaan lancer.
6. Sarana dan prasarana
– Bahan dan alat:
Unsur alami: roti, air, minyak, api, dupa, ratus, garam, abu, bahan wangi-wangian
Alat buatan manusia: piala, sibori, patena, alat kepyur dsb
– Pakaian dan warna liturgi:
Pakaian untuk menampilkan dan mengungkapkan aneka fungsi dan tugas pelayanan; menonjolkan sifat meriah dan melambangkan kehadiran Kristus.
Warna: untuk mengungkapkan sifat dasar misteri iman yang dirayakan; menegaskan perjalanan hidup kristiani sepanjang tahun.
7. Membuat teks misa.
– Tema/masa perayaan Ekaristi
– Lagu (pembuka, ordinarium, mazmur tanggapan, bait pengantar injil, persiapan persembahan, komuni, penutup)
– Bacaan (I,II, Injil)
– Doa (pembuka, tobat, persiapan persembahan, DSA, sesudah komuni)
– Kalau perlu dimasukkan juga aklamasi umat, pengumuman paroki)

IV. TIM LITURGI LINGKUNGAN
A. SIAPA TIM LITURGI LINGKUNGAN

1. Sekelompok orang yang bersama-sama menjadi team work, bekerja sama menjalankan tugas-tugas berkaitan dengan liturgi untuk kepentingan lingkungan maupun paroki.
– Team work: kebersamaan/komunikasi dalam berpikir, berencana, melaksanakan tugas.
– Bekerjasama: jiwa dan semangat tim.
– Kepentingan lingkungan dan paroki: menegaskan sisi kepercayaan banyak orang, menuntut komitmen dan tanggungjawab
2. Memiliki VISI, STRATEGI DAN ETOS KERJA
– VISI: bekerja bukan asal bekerja, tetapi bekerja dengan suatu arah dan untuk suatu tujuan: (mis) Berkembang bersama dalam lingkungan.
– Strategi: cara mewujudkan visi : agenda, keterlibatan/dukungan, sarana prasarana, dsb.
– Etos kerja: bukan sekedar terima jabatan/tugas, tetapi menjalankan dengan ketekunan dan rasa tanggung jawab.
3. Menentukan ANGGOTA TIM LITURGI
– Mampu: tahu dalam bidangnya (mis: arti dan sarana), mampu bekerjasama,
– Mau: ada keterlibatan hati, kesiapan batin, ketidakterpaksaan; juga mau berkembang dan bertanggung jawab.
– Waktu: ada waktu untuk tim, bukan sisa waktu tetapi disediakan/diprioritaskan dalam agenda hidupnya.
– Laku: aktif, partisipatif, kreatif dan inovatif.

B. TUGAS TIM LITURGI LINGKUNGAN
1. Mempersiapkan peribadatan lingkungan
– Misa lingkungan/ujub keluarga: tahu alat-alat yang dibutuhkan, warna liturgi, menyusun peralatan misa.
– Ibadat lingkungan: tahu kebutuhan ibadat dengan segala ujudnya.
– Lingkungan kalau perlu dan mampu, memiliki inventaris alat-alat: misa, pemberkatan, buku liturgi, sound system.
2. Mengembangkan liturgi lingkungan
– Menemukan bentuk-bentuk liturgi/para liturgi yang lebih hidup dan mengena bagi umat.
– Memikirkan sarana-sarana (alat atau buku) liturgi lingkungan.
– Meningkatkan pemahaman seputar liturgi untuk umat lingkungan: pendalaman, sarasehan, week end, dsb.
– Meningkatkan pendukung liturgi: koor, organis, misdinar, lektor, pewarta dsb.
3. Mengkoordinir tugas lingkungan di paroki
– Mempersiapkan koor untuk tugas di paroki.
– Menunjuk orang-orang untuk menjadi kolektan, persembahan, doa umat.
– Membuat teks misa yang baik (mengena, kontekstual, sesuai dengan masanya) untuk misa mingguan paroki.
– Lingkungan bersama-sama memberikan yang terbaik untuk umat separoki.
4. Mendorong umat untuk semakin mencintai dan melibatkan dalam liturgi lingkungan atau paroki.
1. Menciptakan suasana agar umat senang untuk terlibat.
2. Memberi sapaan kasih.
3. Menumbuhkan sense of belonging dan sense of liturgi.
5. Memahami seluk-beluk liturgi.
– Memahami arti dan pentingnya liturgi untuk orang beriman.
– Memahami alat-alat dan simbolisasinya, buku, pakaian dan kegunaan serta saat pemakaiannya.
– Memahami tata gerak liturgy.
– On going formation (belajar terus).

V. PRODIAKON
A. Siapa Prodiakon

Prodiakon adalah petugas liturgi yang melaksanakan beberapa tugas diakon antara lain membantu imam dalam perayaan ekaristi (menyiapkan bahan persembahan dan melayani komuni). Disamping itu prodiakon dapat diberi tugas memimpin ibadat sabda, melayani komuni orang sakit, memimpin ibadat di sekitar kematian. Prodiakon dilantik oleh uskup atau orang lain yang diberi mandat oleh uskup untuk masa bakti tertentu, misalnya 3 tahun dengan lingkup tugasnya di paroki. Pengangkatan prodiakon secara formal dinyatakan lewat Surat Keputusan uskup setempat. Jabatan prodiakon ini bisa diperpanjang dan juga diperpendek. Apabila seseorang yang kebetulan adalah seorang prodiakon berpindah tempat atau berada di tempat lain di luar paroki, ia tidak otomatis jabatan prodiakon itu berlaku di tempat yang baru.
B. Tugas Prodiakon
Prodiakon dipilih oleh dari antara umat dan diangkat oleh Uskup untuk suatu tugas tertentu. Pada prinsipnya ada dua tugas utama dari prodiakon:
1. Membantu menerimakan komuni:
– Dalam perayaan ekaristi. Setiap perayaan Ekaristi, pada prinsipnya prodiakon dapat membantu imam dalam membagikan komuni. Bantuan itu sangat dibutuhkan terutama dalam Perayaan Ekaristi mingguan, di mana umat yang hadir cukup banyak. Demi menciptakan suasana liturgis, tentu akan sangat baik kalau prodiakon mengikuti prosesi sejak awal, sehingga sejak awal pula ia mengenakan pakaian liturgis dan menduduki tempat yang telah disediakan.
– Di luar Perayaan Ekaristi: dalam ibadat sabda dan pengiriman komuni untuk orang sakit atau orang dalam penjara. Tidak setiap ibadat sabda diadakan penerimaan komuni, hanya dalam ibadat sabda khusus seperti Hari Jumat Agung, atau ibadat sabda di mana imam tidak mungkin dihadirkan karena jarak dan kesempatan, ibadat sabda bisa menggunakan penerimaan komuni. Peran prodiakon dalam acara ibadat sabda dan pengiriman komuni untuk orang sakit dan orang dalam penjara akan sangat berarti untuk mewujudkan pelayanan Gereja bagi mereka. Dalam penerimaan komuni untuk orang sakit atau dalam penjara akan sangat baik kalau sebelum mereka menerima, mereka diajak berdoa atau ibadat singkat sebagai wujud persiapan diri menerima kehadiran Kristus. Lansia yang masih mungkin untuk pergi ke gereja hendaknya, tidak ikut menerima kiriman komuni yang dikhususkan untuk orang sakit dan orang dalam penjara.
2. Melaksanakan tugas peribadatan dan pewartaan
– Memimpin ibadat sabda. Prodiakan di lingkungan atau kelompok kategorial tertentu sering kali harus memimpin ibadat sabda. Hendaknya sebelum mempimpin, seorang prodiakon mempersiapkan diri dengan baik agar pada saat pelaksanaan dapat lancar. Diusahakan setiap kali bertugas prodiakon mengenakan pakaian liturgis (alba/singel/jubah dan samir).
– Memberikan homili/renungan. Prodiakon memiliki tugas memberikan homili/renungan dalam suatu ibadat atau sarasehan. Tugas ini akan lebih baik kalau disiapkan sebelumnya, tidak spontan. Homili yang disiapkan akan jauh lebih baik dan lebih berbobot. Hendaknya saat memberikan homili, prodiakon mengenakan pakaian liturgis dan menyampaikannya secara jelas, runtut dan komunikatif.
– Memimpin liturgi pemakaman. Dalam ibadat pemakaman, sering kali prodiakon mendapat tugas untuk mempimpin ibadat pemberkatan pemakaman. Biasanya kalau ada imam, imam memimpin ibadat pemberkatan di tempat duka, sedangkan prodiakon meneruskannya di makam atau tempat peristirahatan terakhir. Tetapi seandainya tidak ada imam, prodiakon pun siap untuk melaksanakan tugas pemberkatan di rumah duka.
– Memimpin berbagai ibadat berkat/ujub doa di lingkungan/wilayah/paroki. Dalam ibadat berkat atau ujub prodiakon seringkali diminta untuk memimpin. Hendaknya diusakahan agar semua disiapkan sebelumnya, baik doa, bacaan, renungan maupun tata ibadatnya. Bacaan dan renungan hendaknya disesuaikan dengan ujubnya.
C. Landasan Pelayanan Prodiakon
1. Ambil bagian dalam karya imamat Kristus
2. Tuntutan hakekat liturgi sebagai perayaan Gereja
3. Tanggung jawab membangun kehidupan Gereja
D. Keistimewaan Prodiakon
1. Orang pilihan dalam Gereja. Diusulkan umat, dipilih rama paroki dan diangkat oleh uskup
2. Menghadirkan Kristus, melalui komuni, melalui pewartaan dan melalui kesaksian hidup
3. “Barisan depan dalam perayaan liturgi”. Dalam liturgi, berada di dekat altar Tuhan. Menuntut kepantasan dalam sikap dan penampilan liturgis
4. Tokoh Umat. Menjadi sorotan masyarakat. Perlu menjaga diri, jangan sampai menjadi batu sandungan, diharapkan justru menjadi teladan dan panutan
E. Tuntutan Prodiakon
1. Mempersiapkan diri: jarak jauh (pengetahuan) dan jarak dekat (persiapan fisik, psikis, rohani)
2. Membekali diri: menambah pengetahuan dan ketrampilan untuk mendukung tugas pelayanan
3. Melayani dengan murah hati: kesiapsediaan setiap saat, kepekaan, kasih, menyediakan waktu
4. Melayani dengan rendah hati: tidak main kuasa, bisa didekati oleh siapa saja, tidak birokratis
5. Melayani dengan setia: memberi prioritas pada tugas yang dipercayakan, pelaksanaan tugas bukan untuk diri tetapi untuk pelayanan kepada umat, memegang komitmen.
6. Meningkatkan mutu hidup: secara rohani, psikologis dan secara social.
7. Memahami aturan-aturan dan pedoman liturgi yang benar.
Diunduh dari Website Gereja Katolik St Ignatius Magelang

baca selanjutnya...

Selasa, 15 Juni 2010

Prodiakon sebagai Pelayan Luar Biasa Komuni

Membagikan Komuni Suci: Pelayan Luar Biasa Komuni
oleh: Romo William P. Saunders *
Dalam laporan mengenai kunjungan Bapa Suci Yohanes Paulus II ke Austria, saya membaca komentar mengenai keterlibatan kaum awan dalam bermacam ragam pelayanan dan bagaimana Vatikan mengeluarkan pernyataan mengenainya. Sebagai seorang Katolik senior, saya selalu mempertanyakan keterlibatan kaum awam dalam membantu membagikan komuni suci. Bagaimanakah sebenarnya keterlibatan kaum awam dalam hal ini?
~ seorang pembaca di Alexandria


Pada tanggal 13 November 1997, delapan lembaga Vatikan, dengan persetujuan Bapa Suci, menerbitkan suatu pedoman yang berjudul "Beberapa Pertanyaan mengenai Kerjasama Umat Beriman Tak Tertahbis dalam Pelayanan Imam." Pedoman ini membahas peran serta umat beriman: dalam pelayanan Sabda, termasuk menyampaikan khotbah; dalam perayaan-perayaan liturgis, termasuk membagikan komuni suci dan menghantar komuni suci apabila imam berhalangan dalam pelayanan orang sakit. Sesungguhnya, motivasi dari diterbitkannya pedoman ini adalah untuk mengatasi penyimpangan- penyimpangan tertentu yang muncul dalam bidang-bidang ini. Di samping itu, Gereja hendak mengajukan kembali perbedaan antara peran `imamat jabatan' dari para klerus tertahbis, dan peran `imamat umum' dari semua orang yang telah dibaptis.

Dalam menjawab pertanyaan ini, kita akan membatasi pembahasan kita pada peran Pelayan Ekaristi. Di sini, patut kita camkan dua prinsip pokok: Pertama, anugerah paling berharga yang dipercayakan Kristus kepada Gereja-Nya adalah Ekaristi yang Mahakudus, Sakramen Tubuh dan Darah-Nya. Ekaristi, seperti dimaklumkan Konsili Vatikan II, adalah pusat dan puncak sembah sujud kita sebagai orang Katolik. Kedua, pastor paroki hendaknya memastikan bahwa Ekaristi Mahakudus adalah sungguh pusat kehidupan paroki dan bahwa umat beriman dihidupi melalui perayaan-perayaan khidmad semua sakramen, teristimewa melalui penerimaan Sakramen Ekaristi Mahakudus dan Sakramen Tobat sesering mungkin (Kanon 528, No. 2).

Berdasarkan pemahaman di atas, maka istilah "Pelayan Ekaristi" hanya dapat diberikan pada seorang imam. Para imamlah yang harus menerimakan komuni kepada kaum awam di antara umat beriman pada saat perayaan Misa. Sebab itu, seperti dimaklumkan Kitab Hukum Kanonik, "Pelayan biasa komuni suci adalah uskup, imam dan diakon." (No. 910.1). Di samping para pelayan tertahbis, dikenal juga pelayan luar biasa komuni suci. "Pelayan luar biasa komuni suci adalah akolit atau orang beriman lain yang ditugaskan sesuai ketentuan" (No. 910.2) untuk membantu membagikan komuni suci kepada umat beriman.

Pada tanggal 25 Maret 2004, Kongregasi untuk Ibadat dan Tata-Tertib Sakramen bekerjasama dengan Kongregasi untuk Ajaran Iman, menerbitkan instruksi "Redemptionis Sacramentum" (= Sakramen Penebusan) di mana dibahas lebih lanjut mengenai para pelayan luar biasa (= tak lazim) komuni suci yang diperkenankan membantu imam hanya dalam batasan-batasan tertentu:
[1] bila jumlah orang beriman yang ingin menyambut komuni begitu besar, sehingga perayaan Misa itu akan terlalu lama (teristimewa sejak dilonggarkannya "hukum puasa" yang lama);
[2] bila imam berhalangan karena kesehatan, usia lanjut, atau alasan lain yang wajar;
[3] bila sejumlah mereka yang sakit dan harus tinggal di rumah di berbagai tempat (rumah-rumah sakit, rumah-rumah perawatan, atau rumah-rumah pribadi) membutuhkan pelayanan agar dapat menerima komuni suci secara teratur.

Karena alasan-alasan di atas, Vatikan memperkenankan Uskup untuk menunjuk "seorang yang pantas" untuk keadaan-keadaan khusus atau untuk suatu jangka waktu tertentu guna membantu para pelayan biasa untuk membagikan komuni suci.

Penunjukkan para pelayan luar biasa komuni suci dan hak istimewa untuk membagikan komuni suci diberikan demi kebaikan umat beriman dan hanya dalam kasus-kasus yang mendesak. Para calon pelayan luar biasa komuni suci wajib diberi pengarahan yang pantas dan wajib mengamalkan hidup Kristiani yang saleh. Mereka harus memiliki devosi mendalam kepada Ekaristi Kudus dan menjadi teladan dalam kesalehan dan sembah sujud. Para pelayan luar biasa komuni suci wajib memiliki cinta yang luar biasa kepada Ekaristi Kudus dan kepada Gereja, Tubuh Kristus.

Di keuskupan kami, seorang yang ditunjuk haruslah seorang dewasa berusia sekurang-kurangnya 21 tahun. Calon wajib mengikuti pengarahan yang diadakan oleh Komisi Liturgi. Setelah mendapatkan rekomendasi dari pastor, Uskup melantik para pelayan luar biasa komuni suci untuk suatu periode selama tiga tahun, yang sesudahnya dapat diperpanjang. Tetapi, pelantikan ini hanya berlaku bagi pelayanan di dalam suatu paroki tertentu.

Namun demikian, diperingatkan pula dalam instruksi akan bahaya penyelewengan hak istimewa ini hingga mengaburkan peran imamat jabatan. Para pelayan luar biasa adalah sungguh "luar biasa" dan bukan "biasa". Mereka hanya diperkenankan membagikan komuni suci sesuai dengan ketentuan di atas. Di samping itu, praktek-praktek tertentu hendaknya dibatasi: para pelayan luar biasa komuni suci tidak dapat menerimakan komuni suci kepada diri mereka sendiri atau selain dari umat beriman seolah mereka adalah konselebran dalam perayaan Misa, dan mereka tidak diperkenankan membagikan komuni suci apabila jumlah pelayan tertahbis mencukupi untuk membagikan komuni suci.

Dalam pelayanan imamat saya sendiri, saya melihat perlunya keterlibatan awam sebagai pelayan luar biasa komuni suci, teristimewa dalam mengunjungi orang-orang sakit, mereka yang harus tinggal di rumah, dan yang berada di tempat-tempat perawatan. Oleh karena bantuan mereka, umat beriman dapat menerima komuni suci lebih sering. Namun demikian, pelayanan para pelayan luar biasa ini tidak menghindarkan imam dari mengunjungi mereka yang sakit, teristimewa dalam melayani Sakramen Tobat dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Lagipula, saya telah diperkaya oleh devosi dan kasih dari sebagian para pelayan luar biasa ini kepada Sakramen Mahakudus. Saya mengenal beberapa pelayan luar biasa yang pada mulanya menolak ketika diminta untuk melaksanakan pelayanan ini karena mereka merasa "tidak layak" - suatu tanda kerendahan hati. Dan, saya melihat banyak dari antara mereka yang dengan setia mengambil resiko dalam segala macam cuaca buruk demi mengunjungi umat yang ada dalam pelayanan mereka.

Sebaliknya, saya juga melihat penyelewengan- penyelewengan. Beberapa tahun lalu, saya memimpin Sakramen Pernikahan sepupu saya, mempelai laki-laki. Imam, yang berasal dari keuskupan utara dan yang juga adalah sahabat keluarga mempelai perempuan, berkonselebrasi bersama saya. Imam itu beranggapan bahwa akan "mengesankan" jika mempelai perempuan dan mempelai laki-laki saling menerimakan komuni suci. Saya menolak. Tetapi katanya, "Semua majalah-majalah liturgis populer menyarankan hal ini." Saya mengatakan, "Tetapi, Gereja tidak."

Imam hendak menyelewengkan hak istimewa dan memerosotkan hak istimewa yang sakral ini menjadi sesuatu yang murahan.

Suatu ketika saya ditugaskan ke sebuah paroki kecil yang memiliki tiga imam aktif dan seorang diakon. Tidak ada kebutuhan akan adanya asisten dalam membagikan komuni suci dalam Misa. Para pelayan Ekaristi mengunjungi rumah-rumah sakit dan juga rumah-rumah perawatan setempat. Setelah Misa, seorang perempuan dari Massachusetts bertanya, "Mengapakah tidak ada awam yang membantu membagikan komuni?" Setelah saya menjawab, ia berkata sambil beranjak pergi, "Vatikan II memberikan hak kepada kami untuk itu." Vatikan II tidak memberikan hak ini kepada siapa pun. Sebagai seorang imam tertahbis, saya pun tidak memiliki hak" untuk membagikan komuni suci; melainkan ini merupakan suatu hak istimewa yang dideligasikan oleh Uskup.

Sebab itu, walau awam dapat berperan sebagai pelayan luar biasa komuni suci, dan sungguh memberikan pelayanan yang berharga bagi paroki, namun kita harus tetap tunduk pada norma-norma Gereja. Norma-norma ditetapkan Gereja demi menjamin penghormatan serta proteksi terhadap Sakramen Mahakudus.

* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria.
sumber : "Straight Answers: Distribution of Communion: A Privilege, Not a Right" by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1998 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald. Com disesuaikan dengan : "Redemptionis Sacramentum" dikeluarkan oleh Kongregasi Ibadat dan Tata-Tertib Sakramen; diterbitkan oleh Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia
Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald." (http://www.indocell.net/yesaya/id711.htm)

baca selanjutnya...

Rabu, 09 Juni 2010

Tata Gerak, Sikap Tubuh

Sebagai perayaan manusiawi, Perayaan Ekaristi juga memerlukan ekspresi diri manusiawi. Maka, tata gerak atau sikap tubuh seluruh jemaat dan para pelayannya juga menjadi bagian penting dalam simbolisasi kebersamaan dan kesatuan Gereja yang sedang berdoa.

Untuk Apa?

Tata gerak dan sikap tubuh imam, diakon, para pelayan, dan jemaat tentu punya maksud. Sikap tubuh yang seragam menandakan kesatuan seluruh jemaat yang berhimpun untuk merayakan Liturgi suci. Sebab sikap tubuh yang sama mencerminkan dan membangun sikap batin yang sama pula. Maka, jika dilakukan dengan baik:
(1) seluruh perayaan memancarkan keindahan dan sekaligus kesederhanaan yang anggun;
(2) makna aneka bagian perayaan dipahami secara tepat dan penuh; dan
(3) partisipasi seluruh jemaat ditingkatkan (PUMR 42).

Bolehkah Mengubah?

Sebenarnya tidak secara mutlak dilarang untuk mengubah tata gerak dan sikap tubuh. Tapi, pesan PUMR 42 sebaiknya diperhatikan dengan baik: “... ketentuan hukum liturgi dan tradisi Ritus Romawi serta kesejahteraan rohani umat Allah harus lebih diutamakan daripada selera pribadi dan pilihan yang serampangan.” Jadi, wewenang itu bukan diserahkan kepada “selera pribadi”, seenak pelayan atau jemaat dan tanpa pemikiran-pertimbangan yang cukup matang. Untuk itu, adanya penyerasian dengan keadaan jemaat perlu diputuskan oleh Konferensi Uskup, dengan sepengetahuan Takhta Apostolik, Roma (PUMR 390). Hal itu sudah gamblang disebut dalam PUMR 43 juga: “... sesuai dengan ketentuan hukum, Konferensi Uskup boleh menyerasikan tata gerak dan sikap tubuh dalam Tata Perayaan Ekaristi dengan ciri khas dan tradisi sehat bangsa setempat. Namun, hendaknya Konferensi Uskup menjamin bahwa penyerasian itu selaras dengan makna dan ciri khas bagian perayaan Ekaristi yang bersangkutan.”

Apakah Perlu Diubah?

Pertanyaan ini bisa dilontarkan ketika cita rasa budaya setempat (Gereja lokal) dirasa berbenturan dengan praktek liturgi yang disarankan Takhta Apostolik (Roma) dalam Pedoman Umum Misale Romawi. Maksudnya, jika jemaat merasa tidak cocok, kurang sreg, atau ada perbedaan makna, maka kiranya tata gerak dan sikap tubuh yang ada dalam buku pedoman bisa saja ditinjau kembali dan kemudian - jika dianggap perlu - diserasikan dengan cita rasa budaya jemaat setempat. Tentu saja perubahan itu tidak dilaksanakan secara gegabah atau serampangan. Maka, perlulah mengadakan semacam penelitian atau studi dialogis antara budaya setempat dengan pemahaman teologis dan liturgisnya.

Bagaimana Supaya Kompak?

Ada beberapa cara. Sebaiknya sudah ada dulu petunjuk tata gerak untuk umat. Mungkin dalam teks atau buku Misa (dalam rubrik) juga dicantumkan bagaimana tata geraknya. Jika umat sudah mengenal dan terbiasa mungkin tidak perlu dikuatirkan. PUMR 43 juga menyebutkan: “Demi keseragaman tata gerak dan sikap tubuh selama perayaan, umat hendaknya mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh diakon, pelayan awam, atau imam, selaras dengan petunjuk buku-buku liturgis.” Praktisnya:

[1] ada petugas yang “mengajak” umat untuk melakukan tata gerak tertentu selama perayaan berlangsung;
[2] umat dapat diberi petunjuk sebelum perayaan mulai, khususnya untuk tata gerak yang baru atau belum biasa dilakukan umat;
[3] jika ada buku Misa untuk umat, sebelum perayaan dimulai umat dipersilakan menyimak setiap petunjuk yang tertulis dalam buku tersebut, khususnya yang berkaitan dengan tata gerak, dan peran umat pada umumnya.

Berkumpul dan Maknanya

Berkat pembaptisan kita dijadikan satu keluarga dalam Gereja yang kudus. Orang Kristiani adalah pribadi yang komuniter, selalu terpaut dalam kebersamaan. Kita tidak sendirian. Dalam nama Bapa dan Putera, kita juga dipersatukan oleh Roh Kudus. Itu tampak ketika kita berkumpul, khususnya dalam “tempat kudus.” Kita berkumpul sebagai orang-orang pilihan, yang terpanggil, yang dicintai Allah. Liturgi mengundang kita untuk menemukan kembali panggilan kita, yakni tumbuh dalam kesatuan, menjadi umat Allah, berkarya dengan dan bagi saudara-saudari dalam perayaan yang dinamis. Maka, berkumpul adalah bagian dari tata gerak kolektif. Agar pertemuan itu tidak kacau, tidak anarkis, tetap utuh, maka diperlukanlah keyakinan dan sikap yang sama. Di sinilah letak pentingnya suatu pedoman atau aturan bersama. Kita berkumpul untuk merayakan Ekaristi, suatu perayaan bersama yang bukan tanpa aturan. Selain itu, berkumpul juga menjadi tanda kehadiran Kristus sendiri, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

Makna Berdiri

Sikap tubuh ini mengungkapkan kegembiraan jemaat. Gembira atas kebersamaan dan persaudaraan di dalam Kristus. Berdiri menyatakan keyakinan dan perasaan yang utuh, jiwa yang siaga di hadapan Allah, siap bertemu dan berdialog dengan yang Ilahi. Kita berdiri karena kita berada di hadapan yang menentukan dan menguasai hidup kita, yang memberi kekuatan dan menjaga kita. Berdiri untuk menyatakan bahwa Dia adalah satu-satunya Allah Tuhan kita. Kita berdiri untuk menghorrnati Allah Yang Mahatinggi (bdk. Kej 18:8). Jemaat yang berdiri menunjukkan rasa syukurnya dan keakrabannya dengan Allah. Jemaat yang berdiri juga mengungkapkan persaudaraan yang hidup, yang dipersatukan bagi dan oleh Allah. Maka, sangatlah tepat bila kita berdiri khususnya pada saat menyatakan iman (Syahadat) dan Doa Syukur Agung. Kita mengakui secara terbuka bahwa wafat dan kebangkitan Kristus (Misteri Paskah) adalah dasar kehidupan kita. Inilah dasar kegembiraan kita. Kegembiraan Paskah mengantar perjalanan kita menuju Allah. Kita seolah berdiri bersama Yesus Kristus berada di Yerusalem surgawi. Kita berpartisipasi, terlibat penuh dalam kemenangan Paskah yang dibawakan oleh Kristus. Maka dari itu, di beberapa gereja ada juga yang memberlakukan “berdiri” selama Masa Paskah, tidak ada berlutut, bahkan juga duduk.

Kapan Berdiri?

PUMR 43 menunjukkan saat-saat jemaat berdiri, yakni:

[a] dari awal nyanyian pembuka, atau selama perarakan masuk menuju altar sampai dengan Doa Pembuka selesai;
[b] pada waktu melagukan Bait Pengantar Injil (dengan atau tanpa “alleluya”);
[c] pada waktu Injil dimaklumkan;
[d] selama Syahadat (Credo);
[e] selama Doa Umat;
[f] dari ajakan “Berdoalah, Saudara...” sebelum Doa Persiapan Persembahan hingga akhir Perayaan Ekaristi, kecuali pada saat-saat tertentu yang ditentukan tersendiri.

Untuk Imam Selebran saat-saat berdirinya hampir sama dengan jemaat. Ada beberapa perbedaan, misalnya, pada saat menyampaikan Homili, ia dapat berdiri atau duduk di kursi imam; pada saat Doa Syukur Agung ia harus tetap berdiri memimpin, sementara jemaat dapat berdiri atau berlutut.

Saat dan Makna Duduk

Masih kita kutip dari PUMR 43. Jemaat hendaknya duduk:

[a] selama bacaan-bacaan sebelum Injil dan selama Mazmur Tanggapan;
[b] selama Homili;
[c] selama persiapan persembahan;
[d] selama saat hening sesudah komuni.

Khusus untuk yang berkaitan dengan Liturgi Sabda, sikap ini ada dasar biblisnya. Misalnya, saat Yesus mengajar, orang-orang mendengarkan Dia dengan duduk memperhatikan (Mat 5:1). Atau, saat Maria yang sedang duduk mendengarkan Yesus, sementara Marta sibuk melayani para tamunya. Yesus berkata, “Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya” (Lk 10:39).

Maknanya sesungguhnya luas. Sikap duduk bisa menggambarkan saat orang mengharapkan sesuatu; ia sedang mendengarkan atau mencerna suatu pesan. Keadaan batin tertentu juga bisa digambarkan dengan duduk. Orang seolah mendambakan untuk menemukan makna hidupnya yang sejati. Pada saat kita duduk kita pun berharap agar Allah berbicara atau menyatakan Diri-Nya kepada kita. Ini adalah saat epiklesis juga. Dengan duduk pun kita menyambut Sabda Allah dengan hati terbuka. Kita berharap agar Sabda Allah sungguh menyirami dan menyegarkan hati kita. Allah sendiri ingin agar kita dapat menjadi subur dan berbuah berkat sabda-Nya. Maka, duduk juga berarti kesediaan untuk saling mendengarkan, saling berbagi pengalaman, saling mempersatukan diri. Duduk menerbitkan rasa damai, aman, percaya, karena kita memang sedang bersatu dengan Allah. Ini menggambarkan dimensi eskatologis, saat istirahat nanti, setelah perjalanan panjang dan perjuangan hidup di dunia: “Barangsiapa menang, ia akan Ku-dudukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya” (Why 3:21). Setiap kali duduk, jiwa kita memasuki kedamaian yang membantu kita untuk menerima sabda ilahi dan mencicipi komunikasi dengan Allah nanti.

Duduk di Mana?

Pengertian “duduk” pada umumnya mengandaikan adanya kursi, bangku, atau tempat duduk apa pun. Maka kondisi tempat duduk sebaiknya juga mendukung maksud sikap duduk kita. Bisa duduk dengan enak, tidak gerah, tidak terusik apa pun, memang ideal, sehingga umat dapat mengikuti dan mengambil bagian dalam perayaan dengan baik.

Bagaimana Berlutut dan Maknanya

Cara wajar untuk berlutut adalah dilakukan dengan menekuk lutut kanan sampai menyentuh lantai. Ini adalah tanda sembah sujud (PUMR 274), untuk menghormati. Tentu saja hal itu bukan sekedar tindakan ritual. Ada makna yang mendalam. Berlutut mengungkapkan pengakuan iman kita akan Misteri Paskah, sekaligus menandakan kerinduan kita untuk hadir dalam misteri wafat dan kebangkitan Kristus, Tuhan kita. Gerak berlutut merupakan bentuk perendahan diri karena hadir di hadapan Tuhan. Seperti kata Paulus: “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: `Yesus Kristus adalah Tuhan,' bagi kemuliaan Allah Bapa!” (Fil 2:10-11). Kita pun melakukannya untuk meniru kesengsaraan Kristus ketika disalib, supaya boleh mengalami anugerah kebangkitan-Nya. Sikap ini mengajar kita untuk hidup sehari-hari seperti yang dilakukan Kristus. Kita diantar untuk bersatu dalam persembahan diri dan korban-Nya yang suci.

Imam Berlutut Tiga Kali, Jemaat Hanya Satu Kali?

Dalam suatu Misa Imam mempunyai kesempatan berlutut tiga kali (PUMR 274), yakni pada waktu setelah mengangkat Tubuh / Darah Kristus (Doa Syukur Agung), dan sebelum menyambut Tubuh Darah Kristus (Ritus Komuni). Sementara PUMR 43 menegaskan: “Umat berlutut pada saat konsekrasi, kecuali kalau ada masalah kesehatan atau tempat ibadat tidak mengizinkan, entah karena banyaknya umat yang hadir, entah karena sebab-sebab lain. Mereka yang tidak berlutut pada saat konsekrasi hendaknya membungkuk khidmad pada saat imam berlutut sesudah konsekrasi. ...Kalau umat sudah terbiasa berlutut sejak sesudah Kudus sampai dengan akhir Doa Syukur Agung, kebiasaan ini seyogyanya dipertahankan.”

Jelas sekali bahwa hanya ada satu kesempatan untuk berlutut, yakni pada saat konsekrasi atau selama Doa Syukur. Sudah jamak terjadi bahwa di banyak gereja di Indonesia, jemaat berlutut beberapa kali. Misalnya, saat Ritus Tobat, Doa Pembuka, Doa Umat, Doa Persiapan Persembahan, Doa Syukur Agung, dsb. Mungkin itu karena pertimbangan budaya, atau sekedar salah kaprah, kebiasaan yang kurang tepat tapi seolah sudah dianggap benar.

Perlu ditambahkan, jemaat di sini berlututnya dengan cara menekuk ke dua lutut di atas lantai atau tempat lutut khusus. Jadi, memang ada dua macam cara berlutut. Berlutut sejenak (dengan satu lutut di lantai) atau berlutut lama (dengan dua lutut di lantai). Keduanya juga bisa dilakukan oleh baik Imam maupun jemaat, misalnya saat menyanyikan Litani Para Kudus.

Ada Juga Makna Tersendiri untuk Berlutut Lama

Biasanya orang berlutut lama untuk berdoa secara pribadi. Ada banyak motivasi atau alasan mengapa orang berlutut. Berlutut bisa menandakan kegagalan, kekalahan. Kita pasrah dan mengakui kelemahan kita di hadapan Allah. Sikap tubuh ini menunjukkan semangat kerendahan diri yang menguasai hati dan jiwa kita. Di hadapan Allah, Sang Sumber Hidup, kita tidak ada apa-apanya. Saat itu pula, dengan sikap tubuh berlutut kita mengungkapkan isi batin kita dan menyembah Allah. Kita juga ingin menyelaraskan diri dengan Kristus, PutraNya. Berlutut semacam ini juga mengungkapkan keyakinan kita bahwa Allah yang telah memulai itu akan juga menggenapi semua karya-Nya di dalam diri kita. Secara lebih dramatis lagi, bentuk kepasrahan diri ini diungkapkan dalam tata gerak “tiarap” atau “merebahkan diri” untuk mereka yang akan ditahbiskan.

Kapan Lagi Harus Berlutut?

Saat kita masuk ke gedung gereja, setelah membuat Tanda Salib dengan air suci, sebelum duduk, biasanya kita berlutut. Mengapa? Sebenarnya kita hendak menghormati Sakramen Mahakudus, terutama jika di dalamnya terdapat Sakramen Mahakudus. Jika tidak ada tabernakel (tempat Sakramen Mahakudus yang menjadi simbol kehadiran Kristus yang abadi), dapat diartikan kita menghormati gereja sebagai tempat yang kudus. Sikap ini memang belum termasuk tata gerak dalam Perayaan Ekaristi. Namun, pada prinsipnya setiap kita mendekati atau melewati Sakramen Mahakudus, kita diharapkan memberi penghormatan dengan cara berlutut; kecuali pada saat dalam perarakan.

Berlutut Diganti Menundukkan Kepala

Untuk kesempatan tertentu, berlutut (juga membungkuk) bisa diganti dengan menundukkan kepala. Misalnya, ketika para pelayan misa (putera altar, lektor, diakon) sedang membawa salib, lilin, dupa, atau Kitab Injil harus menghormati Sakramen Mahakudus atau altar. Menurut PUMR 275a “menundukkan kepala” dilakukan juga ketika mengucapkan nama Tritunggal Mahakudus, nama Yesus, nama Santa Perawan Maria, dan nama para orang kudus yang diperingati dalam Misa yang bersangkutan. Mengapa perlu diganti? Alasannya praktis saja dan mungkin juga estetis serta teologis. Pembawa benda-benda itu biasanya akan kerepotan jika harus berlutut sementara masih membawa sesuatu. Lagi pula, bisa tampak tidak indah dan kurang menarik jika salib yang mestinya tetap tegak ternyata jadi miring lantaran pemegangnya sedang berlutut atau membungkuk. Atau, lelehan lilinnya jatuh ke lantai atau ke tangan putera altar yang memegangnya karena dia harus berlutut. Khusus untuk benda-benda simbolis yang berkaitan dengan diri Kristus seperti Kitab Injil dan Salib, kita diminta tetap menunjukkan nilai kehormatannya. Maka, benda-benda simbol Kristus itu harus tetap tampak anggun, tidak tampil naik-turun, miring ke kiri-ke kanan, karena si pemegang harus berlutut dan berdiri segala.

Tanda Penghormatan Lain: Membungkuk

Masih ada satu lagi sikap tubuh lambang penghormatan kita. PUMR 275b menjelaskan: “Membungkukkan badan atau membungkuk khidmad dilakukan waktu [1] menghormati altar; [2] sebelum memaklumkan Injil, waktu mengucapkan doa Sucikanlah hati dan budiku, ya Allah yang mahakuasa....; [3] dalam syahadat, waktu mengucapkan kata-kata .. . Ia dikandung dari Roh Kudus... dan Ia menjadi manusia;[4] dalam persiapan persembahan, waktu mengucapkan doa Dengan rendah hati dan tulus; [5] dalam Kanon Romawi (DSA I) pada kata-kata Allah yang Mahakuasa, utuslah malaikat-Mu.... Membungkuk juga dilakukan oleh diakon waktu minta berkat kepada imam sebelum mewartakan Injil. Kecuali itu, imam juga membungkuk sedikit waktu mengucapkan kata-kata Tuhan pada saat konsekrasi: Terimalah....” Begitulah tata caranya.

Satu Lagi: Mencium

Masih ada satu lagi bentuk penghormatan. Ini sesuai dengan tradisi liturgi. Altar dan Kitab Injil dihormati oleh Imam dan Diakon dengan mencium atau mengecupnya. Akan tetapi, kalau mencium tidak sesuai dengan tradisi atau kekhasan daerah setempat, Konferensi Uskup berwenang menggantinya dengan cara penghormatan yang lain, dengan persetujuan Takhta Apostolik (PUMR 273). Misalnya, dengan cara menempelkan kepala atau kening pada benda-benda tersebut, atau meletakkan telapak tangan pada benda yang dihormati itu.

Beberapa Tata Gerak Imam Lainnya

Imam Selebran masih mempunyai beberapa tata gerak simbolis lainnya. Kita lihat secara singkat saja, dengan menyebut cara dan maknanya:

[1] merentangkan tangan, dilakukan ketika Imam membawakan doa-doa presidensiil. Tata gerak ini meniru Kristus yang terentang tangan-Nya di kayu salib, atau Musa yang sedang berdoa agar Allah melindungi bangsa Israel dari kejaran tentara Mesir;

[2] menumpangkan tangan di atas objek (bahan persembahan) atau subjek (orang, umat) sebagai lambang turunnya Roh Kudus (epiklesis), yang menghasilkan rahmat pengudusan (“...utuslah Roh Kudus-Mu...”);

[3] mengangkat bahan persembahan (roti / sibori dan anggur / piala) untuk dihunjukkan kepada Allah atau ditunjukkan kepada jemaat (dalam Doa Syukur Agung dan Ritus Komuni: “Inilah Tubuh-Ku / Darah-Ku”; “Inilah Anak Domba Allah”);

[4] membuka tangan dan mengatupkannya kembali sebagai tanda ajakan (“Marilah berdoa”) kepada jemaat. Tata gerak ini juga dilakukan oleh Diakon sebelum membawakan Injil (“Tuhan sertamu....”).

Jangan kaget kalau ternyata ada beberapa Imam yang tidak mempraktekkan ragam tata gerak di atas. Alasannya mungkin beraneka: karena tidak tahu, lupa, tidak mampu karena sakit, cuma malas, berpendirian lain, atau.... Sebaiknya tanyakan saja langsung kepada yang bersangkutan.

Perarakan Juga Bagian dari Tata Gerak

Sering kali terlupakan bahwa perarakan juga merupakan tata gerak. Dari istilah ini kita tentu langsung bisa membayangkan bahwa pelakunya lebih dari satu orang. Juga, ada beberapa perlengkapan pendukung perarakan. Maka, istilah tata gerak mencakup juga segala jenis perarakan, seperti:

[1] tindakan dan perarakan imam bersama diakon dan para pelayan menuju altar;
[2] perarakan diakon yang membawa Kitab Injil menuju mimbar sebelum pemakluman Injil;
[3] perarakan umat beriman yang mengantar bahan persembahan dan maju untuk menyambut komuni.

Perarakan menandakan suasana kemeriahan. Maka, hendaknya tata gerak ini dilaksanakan dengan anggun, sesuai dengan kaidah masing-masing, dan diiringi dengan nyanyian yang serasi (PUMR 44). Bahkan kalau dirasa perlu bisa juga dengan tarian atau ekspresi budaya lainnya.

Sumber: “Simbol-Simbol Sekitar Perayaan Ekaristi: Tata Gerak, Sikap Tubuh”; Pamflet Liturgi M3 Mengalami, Merawat, Menarikan Liturgi; diterbitkan oleh ILSKI (Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia); Jalan Nias 2, Bandung 40117; phone: 022 4207943 / 4217962 (ext 113)

dikutip dari http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id311.htm

baca selanjutnya...

Selasa, 08 Juni 2010

Bagaimana Memilih Lagu Liturgi

oleh: Sr. Liduine Marie SPM

PENDAHULUAN

Dalam melaksanakan Liturgi, yaitu upacara dimana umat beriman berhimpun bersama untuk melaksanakan ibadat, kita membutuhkan dukungan nyanyian. Dengan nyanyian kita dapat lebih mengungkapkan iman dan penghayatan. Kita membutuhkan nyanyian yang membangkitan gairah dan memperdalam sikap.

Dengan nyanyian kita dapat mendobrak pada saat-saat membosankan dan kita dapat bertepuk tangan pada sat-saat gembira. Semua itu menuntut suara berlagu yang dapat lebih keras atau lebih lembut: lebih tinggi atau lebih rendah, lebih cepat atau lebih lambat dari pada bicara sehari-hari.

Kebutuhan akan adanya nyanyian itulah yang akan kita ungkapkan dalam musik liturgi. Kita bernyanyi karena kita mau mengungkapkan iman dan kehidupan. Dalam bernyanyi kita dapat bersuka-cita, dapat bersedih, dapat merenung dan dapat berharap. Maka nyanyian yang harus kita ciptakan dalam musik liturgi adalah nyanyian yang mengungkapkan doa dan harapan kita.

Berdasarkan pengalaman kita semua tahu bahwa musik mempunyai jiwa dan kekuatan. Kalau kita sedang lesu dapat bangkit karena mendengar suara musik atau sebaliknya, kita malah menangis. Kita bisa meneteskan air mata karena mendengar suara musik yang begitu menyentuh dlsb. Seorang penari bergerak cepat dan lincah kalau musiknya cepat, sebaliknya penari tadi bergerak lambat dan pelan jika musiknya lambat dan tenang, dan masih ada banyak contoh yang lain.

Demikianlah musik mempunyai kekuatan yang luar biasa bahkan kita dapat menyimpulkan bahwa musik merupakan bagian hidup manusia pada umumnya. Maka sejak semula Gereja tidak pernah melepaskan diri dari musik.

Akhirnya, untuk berbicara tentang “Bagaimana memilih lagu”, marilah kita terlebih dulu bicara tentang MUSIK LITURGI

I. APAKAH MUSIK LITURGI ITU?

1. Musik yang digubah untuk perayaan liturgi suci
2. Dari segi bentuknya memiliki suatu bobot kudus tertentu
3. Katagori: Gregorian, polifoni suci, musik liturgi untuk organ atau alat musik lain yang sah.

II. CIRI-CIRI KHAS MUSIK LITURGI SEJATI

1. Syair diambil dari Kitab Suci dan selaras dengan ajaran ajaran Katolik
2. Ada peluang untuk partisipasi aktif bagi jemaat
3. Bisa untuk Paduan Suara besar atau kelompok koor kecil

III. TUJUAN DAN FUNGSI MUSIK LITURGI

Tujuan Musik Liturgi yakni untuk memuliakan Allah dan menguduskan kaum beriman. Musik Liturgi menjadi semakin suci jika semakin erat hubungannya dengan upacara ibadat a.l :

1. Mengungkapkan doa-doa secara lebih menarik (decoratif)
2. Kesatuan umat beriman dapat dicapai secara lebih mendalam berkat perpaduan suara (unitatif)
3. Seluruh perayaan mempralambangkan secara lebih jelas liturgi surgawi yang dilaksanakan di kota suci Yerusalem baru (eskatologis)

IV. MUTU MUSIK LITURGI

1. Memperhitungkan kemampuan mereka yang akan menyanyikan lagu-lagu tersebut
2. Sesuai dengan fungsi dan jiwa perayaan liturgi itu sendiri
3. Selaras dengan hakekat masing-masing bagian dan tidak menghalangi partisipasi aktif dari umat.

V. PERAN MUSIK DAN NYANYIAN DALAM LITURGI

Peran musik dalam liturgi sangat luas, maka kita mengambil Perayaan Ekaristi yang merupakan sumber dan puncak seluruh hidup kristiani. Sementara itu Perayaan Ekaristi juga merupakan tingkatan tetinggi dan puncak dari seluruh perayaan liturgi gereja.

VI. UNSUR-UNSUR DALAM PERAYAAN EKARISTI

1. Perarakan masuk
2. Pernyataan tobat
3. Gloria/Kemuliaan
4. Doa pembuka
5. Bacaan-bacaan dari Alkitab
6. Mazmur Tanggapan
7. Bait Pengantar Injil
8. Perayaan Iman
9. Doa Umat
10. Persiapan Persembahan
11. Doa persiapan Persembahan
12. Prefasi - Sanctus
13. Doa Syukur Agung
14. Bapa Kami
15. Ritus Damai
16. Pemecahan Roti - Agnus Dei
17. Pembagian Komuni
18. Doa sesudah Komuni
19. Berkat - Pengutusan
20. Perarakan keluar

VII. JENIS-JENIS NYANYIAN DALAM PERAYAAN EKARISTI

1. Aklamasi
seruan atau pekik sukacita seluruh jemaat sebagai tanggapan atas sabda dan karya Allah:
a. Bait Pengantar Injil
b. Sanctus (Kudus) + Prefasi oleh Imam
c. Aklamasi Anamnese (+ seruan /ajakan Imam)
d. Amin Meriah (+ doksologi DSA oleh Imam )
e. Doksologi “Bapa Kami” ( Doa Tuhan)

2. Nyanyian Perarakan
Berkaitan dengan “menyambut”simbol kehadiran Kristus, meningkatkan kesadaran akan persekutuan, ada antiphon khusus dalam Misale Romawi.
a. Perarakan masuk
b. Perarakan Komuni

3. Mazmur Tanggapan
Menanggapi sabda Allah selaras dengan thema bacaan Misa.

4. Nyanyian “Ordinarium”
Pilihan bebas, kadang boleh diucapkan saja.
a. Kyrie (Tuhan Kasihanilah Kami)
b. Gloria (Kemuliaan)
c. Doa Tuhan “Bapa Kami” (+ ajakan dan embolisme Imam serta doksologi Jemaat atau + tanpa embolisme)
d. Agnus Dei (Anak Domba Allah): Pemecahan Roti
e. Credo (Aku Percaya)

5 . Nyanyian Tambahan
Tanpa tuntutan teks / ritus khusus (boleh koor saja)
a. Persiapan Persembahan
b. Madah / Doa Syukur sesudah komuni
c. Penutup / Perarakan keluar
d. Litani

VIII. PERAN MUSIK DAN NYANYIAN DALAM PERAYAAN EKARISTI

Peran Lagu Pembukaan
1. Menghantar umat masuk ke dalam suasana misteri iman yang dirayakan pada liturgi tersebut
2. Membina kesatuan umat
3. Membuka Perayaan Ekaristi
4. Mengiringi berjalannya imam beserta pembantu-pembantunya

Peran Lagu Persembahan
1. Mengiringi perarakan bahan persembahan roti dan anggur
2. Membina kesatuan umat dan menghantar umat masuk ke dalam misteri Ekaristi Suci yang sedang disiapkan
Pada persiapan persembahan, pengiring dapat memainkan instrumen secara lembut, untuk menciptakan suasana hening. Keterangan: nyanyian persembahan hendaknya berlangsung sekurang-kurangnya sampai bahan persembahan diletakkan di atas altar.

Peran Lagu Komuni
1. Berfungsi meneguhkan persaudaraan, mempersatukan umat lahir dan batin sebagai tubuh Kristus
2. Membina suasana doa bagi umat yang baru berjumpa dengan Tuhan secara sakramental dalam komuni
3. Sederhana dan tidak menuntut banyak energi
4. Menjadi ungkapan kegembiraan dalam persatuan dengan Kristus dan pemenuhan misteri yang baru dirayakan
5. Pilihan lagu-lagu itu disesuaikan dengan masa liturgi
Lagu-lagu tersebut dapat dinyanyikan untuk mengiringi prosesi komuni

IX. BAPA KAMI

Kalau doa ini dinyanyikan dalam bahasa Latin, hendaknya dipakai lagu yang sudah disahkan; tetapi kalau dinyanyikan dalam bahasa pribumi, gubahan tersebut haruslah disahkan oleh pimpinan gereja setempat yang berwewenang. Prinsipnya, lagu doa Bapa Kami yang boleh digunakan dalam liturgi ialah:
1. Isi syair sesuai dengan teks resmi doa Bapa Kami
2. Melodi sesuai dengan jiwa liturgi Gereja
Kalau ada lagu doa Bapa Kami ciptaan sendiri, dengan lagu populer dan kurang religius dan menghilangkan beberapa pernyataan dari teks Injil kita, lagu tersebut jangan digunakan untuk liturgi.

X. SALAM DAMAI

Bagian ini bukan keharusan, tetapi jika lagu salam damai antar umat akan dinyanyikan, koor dapat mengajak umat untuk menyanyikan salam damai. Hendaknya salam damai dinyanyikan dalam suasana gembira, spontan ramah dan hormat. Situasi akan dirasa aneh, jika kita saling menyampaikan salam damai dalam suasana tegang, atau sedih atau cemberut. Maka Dirigen hendaknya mengajak umat dengan semangat dan dengan wajah gembira.

Peran Lagu Penutup
Lagu penutup ini tidak memiliki peran resmi untuk perayaan Ekaristi, meskipun demikian para petugas musik bebas merencanakan lagu penutup yang meriah. Maka peran nyanyian penutup adalah:
1. Menutup Perayaan Ekaristi
2. Memberi gairah dan semangat kepada umat agar mereka pergi menjalankan perutusan untuk mewartakan damai dan kebaikan Tuhan dengan gembira.
3. Mengiringi perarakan imam dan para petugas liturgi memasuki sakristi.

KESIMPULAN

BAGAIMANA CARA MEMILIH NYANYIAN LITURGI
Beberapa prinsip dalam memilih nyanyian liturgi

1. Nyanyian yang dipilih hendaknya sesuai dengan peran nyanyian itu. Apakah untuk pembukaan, untuk persembahan ataukah untuk lagu komuni. Masing-masing mempunyai karakternya sendiri.

2. Nyanyian hendaknya sesuai dengan masa dan tema liturgi (Adven, Natal, Paskah, Prapaskah, Pantekosta atau tema Pertobatan, Panggilan dlsb).

3. Nyanyian hendaknya mengungkapkan iman akan misteri Kristus. Apakah lagu itu membawa umat pada pengalaman iman akan Kristus dan kepada perjumpaan dengan Kristus. Bahwa Kristus hadir dalam liturgi harus terungkap dalam nyanyian liturgi itu. Itulah sebabnya isi syair dan melodi nyanyian liturgi harus benar-benar sesuai dengan citarasa umat dan dapat diterima oleh umat sebagai nyanyian liturgi.

4. Nyanyian liturgi melayani seluruh umat beriman Nyanyian liturgi merupakan bagian penting dari liturgi. Berhubung liturgi sendiri merupakan perayaan bersama, maka nyanyian itu harus melayani kebutuhan semua umat beriman yang sedang berliturgi. Yang harus dihindari adalah memilih lagu yang hanya berdasarkan selera pribadi atau kelompok. Kriteria lagu terletak pada apa yang dapat menjawab harapan dan kebutuhan umat agar perayaan liturgi sungguh menjadi perayaan bersama.

5. Pilihan nyanyian liturgi perlu memperhatikan pertimbangan pastoral dan praktis. Setiap nyanyian mempunyai peranan masing-masing, namun tidak berarti bahwa semuanya harus dinyanyikan, meskipun itu Perayaan Ekaristi meriah. Apabila semua lagu dinyanyikan, Perayaan Ekaristi menjadi terlalu lama. Ini disebut pertimbangan praktis.

Bibliography:
1. Liturgi yang anggun dan menawan karangan Gabe Huck
2. Nyanyian Liturgi karangan E Martasudjita Pr
3. Music in Catholic Worship
4. Musik Liturgi karangan CM Suryanugroho OSC

Sasana Widya Musik Gereja “MAGNIFICAT”, Jl Pakis Tirtosari XIII / 45 Surabaya, Phone / Fax: (031) 5621023; e-mail: sasanawidya@yahoo.com

dikutip dari http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id348.htm

baca selanjutnya...

Kehadiran Nyata Yesus Kristus dalam Sakramen Ekaristi

Editor: P. Gregorius Kaha, SVD

Pengantar
Tuhan Yesus, pada malam sebelum sengsara-Nya disalib, mengadakan perjamuan terakhir bersama para murid-Nya. Dalam perjamuan itu, Penyelamat kita menetapkan sakramen Tubuh dan Darah-Nya. Ia melakukannya untuk mengabadikan Kurban Salib untuk selamanya serta mempercayakan kepada Gereja, Mempelai-Nya, kenangan akan wafat dan kebangkitan-Nya. Seperti yang dinyatakan dalam Injil Matius:

Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (Mat 26:26-28; bdk Mrk 14:22-24, Luk 22:17-20, 1 Kor 11:23-25)

Berpegang pada perkataan Yesus itu, Gereja Katolik mengakui bahwa dalam perayaan Ekaristi, roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus melalui kuasa Roh Kudus dan dengan pelayanan imam. Yesus mengatakan: “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia … Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.” (Yoh 6:51-55). Kehadiran secara utuh: Tubuh dan Darah, Jiwa dan Ke-Allahan-Nya, dalam rupa roti dan anggur - Kristus yang mulia, yang bangkit dari antara orang mati setelah wafat untuk menebus dosa-dosa kita. Inilah yang dimaksudkan Gereja dengan “Kehadiran Nyata” Kristus dalam Ekaristi. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi disebut “nyata”, bukan berarti kehadiran-Nya dalam cara-cara lain seakan-akan dianggap tidak nyata (bdk Katekismus no. 1374). Kristus yang bangkit hadir dalam Gereja-Nya dengan berbagai macam cara, tetapi secara paling khas melalui Tubuh dan Darah-Nya dalam Perayaan Ekaristi.

Apakah artinya Yesus Kristus hadir dalam Ekaristi dalam rupa anggur dan roti? Bagaimana hal itu dapat terjadi? Kehadiran Kristus yang bangkit dalam Ekaristi merupakan misteri yang tak terjangkau yang tak akan pernah dapat dijelaskan secara sempurna dengan kata-kata oleh Gereja. Kita patut ingat bahwa Allah Tritunggal adalah pencipta dari segala yang ada dan memiliki kuasa untuk melakukan lebih dari apa yang dapat kita bayangkan. Seperti dikatakan oleh St. Ambrosius: “Bukankah Kristus, yang dapat menciptakan yang belum ada dari ketidakadaan, dapat mengubah yang ada ke dalam sesuatu, yang sebelumnya tidak ada?” (De Sacramentis, IV, 5-16). Tuhan menciptakan dunia dengan tujuan untuk membagi kehidupan-Nya dengan manusia yang bukanlah Tuhan. Rencana agung karya keselamatan ini mengungkapkan suatu kebijaksanaan yang melampaui pengertian kita. Tetapi kita tidak dibiarkan dalam ketidaktahuan: oleh karena kasih-Nya kepada kita, Tuhan mengungkapkan kebenaran-Nya kepada kita dengan cara-cara yang dapat kita mengerti melalui karunia iman dan rahmat Roh Kudus yang tinggal dalam kita. Dengan demikian, kita dijadikan mampu untuk memahami, setidak-tidaknya dalam batas-batas tertentu hal-hal yang jika tak dinyatakan-Nya tak terpahami oleh kita, sekalipun kita tidak akan pernah dapat memahami sepenuhnya misteri Allah.

Sebagai penerus para Rasul dan gembala Gereja, para uskup mempunyai tanggung jawab untuk mewariskan apa yang telah dinyatakan Tuhan kepada kita serta menyemangati segenap anggota Gereja untuk memperdalam pemahaman mereka akan misteri dan karunia Ekaristi. Guna membantu memperdalam iman itulah, maka kami mempersiapkan tulisan ini untuk menjawab kelima belas pertanyaan yang biasa diajukan sehubungan dengan Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi. Kami menawarkan tulisan ini kepada para pastor dan para pengajar agama guna membantu mereka dalam tugas dan tanggung jawab mereka dalam mengajar. Kami menyadari bahwa sebagian dari pertanyaan-pertanyaan berikut ini menyangkut pemahaman teologi yang agak rumit. Namun demikian, harapan kami agar pembahasan serta diskusi dari tulisan ini akan membantu banyak umat Katolik di negeri kita dalam memperkaya pemahaman mereka akan misteri iman.

1. Mengapa Yesus memberikan Diri-Nya Sendiri kepada kita sebagai makanan dan minuman?

Yesus memberikan Diri-Nya Sendiri kepada kita dalam Ekaristi sebagai santapan rohani oleh karena Ia mengasihi kita. Seluruh rencana Tuhan bagi keselamatan kita ditujukan pada keikutsertaan kita dalam kehidupan Tritunggal, yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus. Awal keikutsertaan kita dalam kehidupan Ilahi dimulai sejak kita menerima Sakramen Baptis, yaitu ketika dengan kuasa Roh Kudus kita dipersatukan dengan Kristus, dan dengan demikian kita diangkat menjadi anak-anak Allah. Kemudian, keikutsertaan itu dikuatkan serta diperteguh dengan Sakramen Penguatan. Selanjutnya dipelihara serta diperdalam melalui keikutsertaan kita dalam Sakramen Ekaristi. Dengan menyantap Tubuh dan meminum Darah Kristus dalam Ekaristi, kita dipersatukan dengan pribadi Kristus melalui kemanusiaan-Nya. “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yoh 6:56). Dengan dipersatukan dengan kemanusiaan Kristus, pada saat yang sama kita juga dipersatukan dengan ke-Allahan-Nya. Tubuh kita yang fana serta dapat rusak diubah dengan dipersatukan pada sumber kehidupan. “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” (Yoh 6:56).

Dengan dipersatukan dengan Kristus melalui kuasa Roh Kudus yang tinggal dalam kita, kita ditarik pada hubungan cinta abadi antara Bapa, Putera dan Roh Kudus. Seperti Yesus adalah Putera Allah yang kekal, demikian juga kita diangkat menjadi anak-anak Allah melalui Sakramen Baptis. Melalui Sakraman Baptis dan Penguatan (Krisma), kita menjadi Bait Allah Roh Kudus, yang tinggal dalam kita. Dengan Roh Kudus tinggal dalam kita, kita dijadikan kudus oleh karunia rahmat pengudusan. Janji Injil yang utama adalah bahwa kita akan ikut ambil bagian dalam kehidupan Allah Tritunggal. Para Bapa Gereja menyebut keikutsertaan dalam kehidupan Ilahi ini sebagai “pengilahian” (theosis). Dengan demikian kita melihat bahwa Tuhan tidak hanya menganugerahkan hal-hal baik bagi kita dari tempat-Nya yang tinggi; malahan, kita diangkat masuk ke dalam inti kehidupan Tuhan, yaitu persekutuan Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dalam perayaan Ekaristi (yang berarti “ucapan syukur”) kita memuji serta memuliakan Tuhan oleh karena anugerahnya yang luar biasa agung ini.

2. Mengapa Ekaristi bukan hanya perjamuan, melainkan juga kurban?

Sementara dosa-dosa kita menyebabkan tidak mungkin bagi kita untuk ikut serta dalam kehidupan Ilahi, Yesus Kristus diutus untuk menghancurkan penghalang ini. Wafat-Nya adalah kurban silih bagi dosa-dosa kita. Kristus adalah “Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29). Lewat wafat dan kebangkitan-Nya, Ia mengalahkan dosa dan maut serta memulihkan hubungan kita dengan Tuhan. Ekaristi merupakan kenangan akan kurban ini. Gereja berkumpul untuk mengenang serta menghadirkan kembali kurban Kristus yang kita rayakan lewat pelayanan imam dan kuasa Roh Kudus. Melalui perayaan Ekaristi, kita dipersatukan dengan kurban Kristus dan menerima rahmat berlimpah yang tak habis-habisnya.

Seperti dijelaskan dalam Surat kepada umat Ibrani, Yesus adalah Imam Besar yang senantiasa hidup untuk menjadi Pengantara bagi umat-Nya kepada Bapa. Dengan demikian, Ia jauh melebihi para imam besar lainnya yang selama berabad-abad biasa mempersembahkan kurban penebus dosa di Bait Allah di Yerusalem. Imam Besar Yesus Kristus mempersembahkan kurban yang sempurna yang adalah Diri-Nya Sendiri, bukan yang lain. “Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal.” (Ibr 9:12).

Apa yang telah dilakukan Yesus merupakan sejarah bagi umat manusia, oleh karena Ia sungguh manusia dan telah masuk dalam sejarah kehidupan manusia. Tetapi, pada saat yang sama, Yesus Kristus adalah Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal; Ia adalah Putera Allah yang kekal, yang tidak terikat waktu atau pun sejarah. Apa yang dilakukan-Nya melampaui waktu, yang adalah bagian dari ciptaan. “Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, --artinya yang tidak termasuk ciptaan ini, --” (Ibr 9:11). Yesus, Putera Allah yang kekal melaksanakan kurban-Nya di hadapan Bapa-Nya, yang hidup dalam keabadian. Oleh karenanya, kurban Yesus yang satu dan sempurna itu hadir abadi di hadapan Bapa, yang menerimanya secara abadi pula. Artinya, bahwa dalam Ekaristi, Yesus tidak mengurbankan Diri-Nya berulang-ulang kali. Melainkan, dengan kuasa Roh Kudus, kurban-Nya yang satu dan abadi itu dihadirkan kembali, bukan diulang kembali, agar kita dapat ikut ambil bagian di dalamnya.

Kristus tidak harus meninggalkan kediaman-Nya di surga agar dapat bersama kita. Melainkan, kita ambil bagian dalam liturgi surgawi di mana Kristus secara abadi menjadi Pengantara bagi kita dan mempersembahkan kurban-Nya kepada Bapa, dan di mana para malaikat dan para kudus tak henti-hentinya memuliakan Allah serta mengucap syukur atas segala rahmat-Nya: “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!” (Why 5:13). Seperti dinyatakan dalam Katekismus Gereja Katolik, “Oleh perayaan Ekaristi kita sudah menyatukan diri sekarang ini dengan liturgi surgawi dan mengenyam lebih dahulu kehidupan abadi, di mana Allah akan menjadi semua untuk semua.” (Katekismus no. 1326). Seruan Sanctus, “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN ….,” adalah nyanyian para malaikat yang berada di hadirat Allah (Yes 6:3). Ketika dalam perayaan Ekaristi kita menyerukan Kudus, kita menggemakan di bumi nyanyian para malaikat sementara mereka memuji Tuhan di surga. Dalam Perayaan Ekaristi, kita tidak hanya sekedar mengenang suatu peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah. Melainkan, melalui kekuatan misterius Roh Kudus dalam perayaan Ekaristi, Misteri Paskah Kristus dihadirkan kembali secara serentak kepada Gereja, Mempelai-Nya.

Terlebih lagi, dalam Ekaristi dalam menghadirkan kembali kurban Kristus yang abadi di hadapan Bapa, kita bukan sekedar menjadi penonton. Imam dan himpunan umat yang bersembah sujud, dengan cara yang berbeda ikut ambil bagian secara aktif dalam kurban Ekaristi. Imam yang telah ditahbiskan berdiri di altar sebagai wakil Kristus yang adalah Kepala Gereja. Semua umat beriman yang telah dibaptis, adalah anggota Tubuh Kristus, yang ambil bagian dalam imamat-Nya, sebagai imam sekaligus kurban. Ekaristi adalah juga kurban Gereja. Gereja, yang adalah Tubuh dan Mempelai Kristus, ambil bagian dalam mempersembahan kurban Kepala dan Mempelai-nya. Dalam Ekaristi, kurban Kristus juga menjadi kurban anggota-anggota Tubuh-Nya yang dipersatukan dengan Kristus sehingga mendapat satu nilai baru (bdk Katekismus no. 1368). Sementara kurban Kristus dihadirkan kembali secara sakramental, bersatu dalam Kristus, kita mempersembahkan diri kita sebagai suatu kurban kepada Bapa. “Seluruh Gereja menjalankan peran sebagai imam dan kurban bersama dengan Kristus, mempersembahkan Kurban Misa dan dirinya sendiri sepenuhnya yang dipersembahkan di dalamnya.” (Mysterium Fidei, no. 31; bdk Lumen Gentium, no. 11).

3. Ketika roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus, mengapa roti dan anggur tersebut masih mempunyai rupa dan rasa seperti roti dan anggur?

Dalam perayaan Ekaristi, Kristus yang mulia hadir dalam rupa roti dan anggur dengan suatu cara yang unik, suatu cara yang secara unik cocok bagi Ekaristi. Dalam bahasa teologi tradisional Gereja, pada saat konsekrasi dalam Ekaristi, “substansi” roti dan anggur diubah oleh kuasa Roh Kudus menjadi “substansi” Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Pada saat yang sama, “wujud” atau rupa roti dan anggur tetap sama. “Substansi” dan “wujud” di sini digunakan sebagai istilah filsafat yang telah disesuaikan oleh para ahli teologi besar abad pertengahan seperti St. Thomas Aquinas dalam upaya mereka untuk memahami serta menjelaskan iman. Istilah tersebut digunakan untuk menyampaikan kenyataan bahwa apa yang tampak sebagai roti dan anggur dalam segala hal (pada tingkat “wujud” atau tampilan fisik - yaitu: apa yang dapat dilihat, diraba, dirasa atau pun ditimbang) sesungguhnya sekarang telah menjadi Tubuh dan Darah Kristus (pada tingkat “substansi” atau kenyataan yang sesungguhnya). Perubahan pada tingkat substansi dari roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus disebut sebagai “transsubstansiasi” (perubahan hakiki). Menurut iman Katolik, kita dapat menyebutnya sebagai Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi oleh karena transsubstansiasi telah terjadi (bdk Katekismus no. 1376).

Inilah misteri terbesar iman kita - kita hanya dapat mengetahuinya melalui ajaran Kristus yang disampaikan kepada kita dalam Kitab Suci dan dalam Tradisi Gereja. Setiap perubahan lain yang terjadi di dunia mengakibatkan terjadinya perubahan wujud atau karakteristik. Kadang kala, wujud berubah sementara substansinya tetap sama. Sebagai contoh, ketika seorang anak menjadi dewasa, karakteristik manusianya berubah dalam banyak hal, namun demikian manusia dewasa itu tetap manusia yang sama - substansi yang sama. Pada perubahan lain, kedua-duanya, baik substansi maupun wujudnya berubah. Sebagai contoh, ketika seorang makan sebuah apel, apel yang masuk ke dalam tubuh orang itu diubah menjadi tubuh orang itu. Ketika perubahan substansi itu terjadi, wujud atau karakteristik apel tidak ada lagi. Sementara apel diubah menjadi tubuh orang itu, yang ada sekarang hanyalah wujud atau karakteristik tubuh orang tersebut. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi adalah unik dalam hal, meskipun roti dan anggur yang telah dikonsekrir adalah sungguh substansi Tubuh dan Darah Kristus, roti dan anggur tersebut tidak memiliki sedikitpun wujud atau karakteristik tubuh manusia, melainkan tetap wujud dan karakteristik roti dan anggur.

4. Apakah roti sudah bukan lagi roti dan anggur sudah bukan lagi anggur?

Ya. Agar keseluruhan Kristus dihadirkan - tubuh, darah, jiwa dan ke-Allahan-Nya - roti dan anggur tidak lagi dapat tetap tinggal, melainkan harus dilepaskan agar Tubuh dan Darah-Nya yang mulia dapat hadir. Dengan demikian, dalam Ekaristi substansi roti sudah bukan lagi roti melainkan Tubuh Kristus, sementara substansi anggur sudah bukan lagi anggur melainkan Darah Kristus. Seperti dicermati oleh St. Thomas Aquinas bahwa Kristus tidak mengatakan, “Roti ini adalah Tubuh-Ku,” melainkan “Inilah Tubuh-Ku” (Summa Theologiae, III q. 78, a. 5).

5. Apakah pantas bahwa Tubuh dan Darah Kristus dihadirkan dalam Ekaristi dalam rupa roti dan anggur?

Ya, sebab kehadiran-Nya dengan cara demikian cocok secara sempurna dengan perayaan sakramental Ekaristi. Yesus Kristus memberikan Diri-Nya Sendiri kepada kita dalam bentuk yang menggunakan lambang-lambang yang lazim dalam hal makan roti dan minum anggur. Lagipula, dengan hadir dalam rupa roti dan anggur, Kristus memberikan Diri-Nya kepada kita dalam bentuk yang sesuai bagi manusia dalam hal makan dan minum. Juga, kehadiran-Nya dalam bentuk demikian sesuai dengan nilai iman, sebab kehadiran Tubuh dan Darah Kristus tidak dapat dilihat atau pun ditangkap dengan cara lain selain dari iman. Oleh sebab itu, St. Bonaventura menegaskan: “Tidak ada masalah mengenai kehadiran Kristus dalam sakramen dalam suatu lambang; masalah terbesarnya adalah kenyataan bahwa Ia sungguh hadir dalam sakramen, sama seperti Ia sungguh hadir di surga. Dan karenanya, mempercayai kebenaran ini patut dipuji secara istimewa” (In IV Sent., dist. X, P. I, art. un., qu. I). Dalam kuasa Tuhan yang menyatakan Diri-Nya kepada kita, dengan iman kita mempercayai apa yang tidak dapat ditangkap oleh indera manusia (bdk Katekismus no. 1381).

6. Apakah roti dan anggur yang telah dikonsekrir “hanyalah sekedar lambang”?

Dalam bahasa sehari-hari, kita menyebut “lambang” sebagai sesuatu yang menunjuk sesuatu yang lain yang lebih tinggi, seringkali menunjuk beberapa fakta sekaligus. Roti dan anggur yang telah dikonsekrir menjadi Tubuh dan Darah Kristus bukan sekedar lambang belaka, karena roti dan anggur sungguh telah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Seperti yang ditulis oleh St. Yohanes dari Damaskus: “Roti dan anggur bukan melambangkan Tubuh dan Darah Kristus - Sama sekali tidak! - melainkan sungguh Tubuh Kristus yang Kudus, oleh sebab Kristus Sendiri mengatakan: 'Inilah Tubuh-Ku'; dan bukannya 'Ini melambangkan Tubuh-Ku' melainkan 'Tubuh-Ku,' dan bukan 'melambangkan Darah-Ku' melainkan 'Darah-Ku'” (The Orthodox Faith, IV [PG 94, 1148-49]).

Namun demikian, pada saat yang sama, amatlah penting untuk memahami bahwa Tubuh dan Darah Kristus ada di tengah kita dalam Ekaristi secara sakramental. Dengan kata lain, Kristus hadir dalam rupa roti dan anggur, bukan dalam wujud-Nya yang sebenarnya. Kita tidak dapat mengandaikan dapat memahami segala alasan dibalik karya Allah. Tetapi, Tuhan mempergunakan lambang-lambang yang sesuai dengan makan roti dan minum anggur pada tingkat yang lazim untuk menerangkan arti akan apa yang telah dipenuhi dalam Ekaristi melalui Yesus Kristus.

Ada berbagai macam cara di mana lambang makan roti dan minum anggur mengungkapkan makna Ekaristi. Sebagai contoh, seperti makanan jasmani memberikan makanan bagi tubuh, demikian juga makanan ekaristi memberikan makanan rohani. Di samping itu, hal makan bersama membangkitkan rasa kebersamaan di antara orang-orang yang ambil bagian di dalamnya; dalam Ekaristi, Anak-anak Allah makan bersama dalam perjamuan yang menghantar mereka ke dalam persekutuan, bukan hanya di antara sesama mereka, tetapi juga dengan Bapa, Putera dan Roh Kudus. Demikianlah, seperti dikatakan St. Paulus, roti yang satu, yang dibagikan di antara banyak orang dalam perjamuan Ekaristi, merupakan tanda persekutuan di antara mereka yang telah dipanggil oleh Roh Kudus sebagai satu tubuh, yaitu Tubuh Kristus (1Kor 10:17). Contoh lain, biji-biji gandum dan buah-buah anggur harus dipanen dan melalui suatu proses penggilingan atau pemerasan sebelum mereka dilebur menjadi satu dalam roti dan anggur. Oleh sebab itu, roti dan anggur menunjukkan, baik persekutuan di antara mereka yang ikut ambil bagian dalam Tubuh Kristus maupun penderitaan yang dialami Kristus, penderitaan yang harus pula dipikul oleh para pengikut-Nya. Masih banyak lagi yang dapat dikatakan tentang bermacam cara bagaimana makan roti dan minum anggur melambangkan apa yang Tuhan lakukan bagi kita melalui Kristus, sebab lambang-lambang mengandung banyak arti dan konotasi.

7. Apakah roti dan anggur yang telah dikonsekrasikan sudah bukan lagi Tubuh dan Darah Kristus ketika perayaan Misa berakhir?

Tidak. Selama Perayaan Ekaristi, roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus, dan akan tetap demikian. Tubuh dan Darah tidak akan kembali menjadi roti dan anggur, sebab mereka memang sudah bukan lagi roti dan anggur. Sebab itu, tidak ada alasan untuk kembali pada keadaan “normal” mereka setelah perayaan Misa berakhir. Sekali substansi telah sungguh berubah, kehadiran Tubuh dan Darah Kristus terus “berlangsung selama rupa Ekaristi ada” (Katekismus no. 1377). Terhadap mereka yang bersikukuh bahwa roti yang telah dikonsekrir dalam Ekaristi tidak lagi memiliki kuasa pengudusan apabila disisakan hingga hari berikutnya, St. Sirilus dari Alexandria menjawab, “Kristus tidak berubah, demikian juga Tubuh-Nya yang kudus tidak berubah, kuasa konsekrasi dan rahmat-Nya yang memberi hidup tetap abadi di dalamnya.” (Surat 83, kepada Calosyrius, Uskup Arsinoe [PG 76, 1076]). Gereja mengajarkan bahwa Kristus tetap hadir dalam rupa roti dan anggur selama rupa roti dan anggur tetap (Katekismus no. 1377).

8. Mengapa sebagian hosti yang telah dikonsekrir disimpan setelah perayaan Misa berakhir?

Meskipun mungkin untuk menyantap semua roti yang telah dikonsekrir dalam perayaan Misa, sebagian biasanya disimpan dalam tabernakel. Tubuh Kristus dalam rupa roti yang disimpan atau “dicadangkan” setelah perayaan Misa berkahir, biasanya disebut sebagai “Sakramen Mahakudus.” Ada beberapa alasan pastoral mengenai penyimpanan Sakramen Mahakudus. Pertama-tama, Sakramen Mahakudus digunakan untuk pelayanan kepada mereka yang menghadapi ajal (Viaticum), sakit, dan mereka yang, oleh karena alasan tertentu yang dapat diterima Gereja, tidak dapat hadir dalam Perayaan Ekaristi. Kedua, Tubuh Kristus dalam rupa roti disembah pada saat ditahtakan, seperti dalam Adorasi Sakramen Mahakudus, yaitu ketika Sakramen Mahakudus diarak dalam suatu prosesi Ekaristi, atau ketika ditempatkan dalam tabernakel, di mana umat dapat berdoa secara pribadi. Devosi-devosi seperti di atas berdasarkan pada kenyataan bahwa Kristus Sendiri hadir dalam rupa roti. Banyak orang kudus terkenal dalam Gereja Katolik, seperti St. Yohanes Neumann, St. Elizabeth Ann Seton, St. Katharina Drexel, dan Beato Damianus dari Molokai, mempraktekkan devosi pribadi yang mendalam kepada Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus.

9. Bagaimanakah sikap hormat yang layak bagi Tubuh dan Darah Kristus?

Tubuh dan Darah Kristus yang hadir dalam rupa roti dan anggur diperlakukan dengan sangat hormat, baik selama maupun sesudah Perayaan Ekaristi (bdk. Mysterium Fidei, no. 56-61). Sebagai contoh, “Tabernakel, di mana disimpan Ekaristi mahakudus, hendaknya terletak pada suatu bagian gereja atau ruang ibadat yang utama, tampak, dihias pantas, layak untuk doa” (Kitab Hukum Kanonik, Kan. 938 - §2). Menurut tradisi Gereja Latin, umat harus genuflect (berlutut dengan satu kaki) di depan tabernakel di mana disimpan Sakramen Mahakudus. Di Gereja-gereja Katolik Timur, menurut tradisi, umat membuat tanda salib dan membungkuk dengan hormat. Gerakan-gerakan liturgi dari kedua tradisi, baik Gereja Timur maupun Barat, mengungkapkan sikap hormat serta sembah sujud. Sudah sepantasnya bagi umat untuk saling bertegur sapa di halaman gereja, tetapi tidaklah pantas berbicara keras atau ribut dalam Gereja oleh karena kehadiran Kristus dalam tabernakel. Juga, Gereja mewajibkan semua orang untuk berpuasa sebelum menerima Tubuh dan Darah Kristus sebagai ungkapan rasa hormat dan permenungan (kecuali jika tidak diperbolehkan karena menderita suatu penyakit tertentu). Dalam Gereja Latin, umat wajib berpuasa sekurang-kurangnya satu jam; jemaat Gereja-gereja Katolik Timur juga harus mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan gereja mereka.

10. Jika seseorang tanpa mengimani makan dan minum roti dan anggur yang telah dikonsekrir, apakah ia juga menerima Tubuh dan darah Kristus?

Jika “menerima” diartikan “menyantap”, maka jawabannya adalah ya, sebab yang disantapnya adalah Tubuh dan Darah Kristus. Jika “menerima” diartikan “menerima Tubuh dan Darah Kristus dengan sadar dan rela, guna memperoleh manfaat rohani,” maka jawabannya adalah tidak. Kurangnya iman dari pihak orang yang menyantap dan meminum Tubuh dan Darah Kristus tidak dapat mengubah kenyataan bahwa roti dan anggur itu adalah Tubuh dan Darah Kristus, namun demikian kurangnya iman menghalangi yang bersangkutan menerima manfaat rohani, yaitu persatuan dengan Kristus. Menerima Tubuh dan Darah Kristus secara demikian adalah sia-sia, jika dilakukan dengan tahu dan sadar, akan mengakibatkan dosa sakrilegi (1Kor 11:29). Menerima Sakramen Mahakudus bukanlah obat otomatis. Jika kita tidak menghendaki persatuan dengan Kristus, Tuhan tidak hendak memaksakannya kepada kita. Kita harus dengan iman menerima tawaran Tuhan untuk bersatu dengan Kristus dan dengan Roh Kudus, serta bekerja sama dengan rahmat Tuhan agar hati serta pikiran kita diubah dan iman serta cinta kita kepada Tuhan ditambah.

11. Jika seorang beriman tahu dan sadar bahwa ia telah melakukan dosa berat, tetapi tetap makan dan minum roti dan anggur yang telah dikonsekrir, apakah ia tetap menerima Tubuh dan Darah Kristus?

Ya. Tingkah laku atau karakter orang tersebut tidak dapat mengubah kenyataan akan roti dan anggur yang telah dikonsekrir sebagai Tubuh dan Darah Kristus. Dengan demikian, pertanyaan di atas terutama bukan tentang Kehadiran Nyata, tetapi tentang bagaimana dosa mempengaruhi hubungan seseorang dengan Tuhan. Sebelum maju untuk menerima Tubuh dan Darah Kristus dalam Komuni Kudus, kita harus mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan dan dengan Tubuh Mistik-Nya, Gereja - yaitu, dalam keadaan rahmat, bebas dari segala dosa berat. Sementara dosa merusak, dan bahkan dapat memutuskan hubungan tersebut, Sakramen Tobat dapat memulihkan hubungan itu kembali. St. Paulus mengatakan kepada kita bahwa “barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.” (1Kor 11:27-28). Siapa saja yang sadar telah melakukan suatu dosa berat, harus terlebih dahulu memulihkan hubungannya dengan Tuhan melalui Sakramen Tobat sebelum menerima Tubuh dan Darah Kristus, kecuali jika ada suatu alasan yang sangat kuat untuk melakukannya sementara tidak ada kesempatan untuk mengaku dosa. Dalam hal demikian, yang bersangkutan harus sadar akan kewajiban untuk melakukan tobat sempurna, yaitu penyesalan yang “berasal dari cinta kepada Allah, yang dicintai di atas segala sesuatu” (Katekismus no. 1452). Tobat sempurna harus disertai niat yang teguh untuk sesegera mungkin melakukan pengakuan sakramental.

12. Apakah kita menerima seluruh Kristus apabila kita menerima Komuni Kudus dalam satu rupa saja?

Apakah kita menerima seluruh Kristus apabila kita menerima Komuni Kudus dalam satu rupa saja? Ya. Kristus Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, hadir seluruhnya dalam rupa baik roti maupun anggur dalam Ekaristi. Lagipula, Kristus hadir seluruhnya dalam serpihan terkecil Hosti yang telah dikonsekrir ataupun dalam tetesan terkecil Darah-Nya yang Mahamulia. Namun demikian, adalah lebih sempurna jika menerima Kristus dalam dua rupa dalam perayaan Ekaristi. Menerima Komuni Kudus dengan cara demikian menjadikan Ekaristi tampak lebih sempurna sebagai suatu perjamuan, suatu perjamuan yang adalah mencicipi perjamuan yang kelak akan dirayakan bersama Kristus pada akhir jaman yaitu ketika Kerajaan Allah telah dinyatakan dalam kepenuhannya (bdk Eucharisticum Mysterium, no. 32).

13. Apakah Kristus hadir selama Perayaan Ekaristi dengan cara-cara yang lain di samping kehadiran-Nya yang nyata dalam Sakramen Mahakudus?

Ya. Kristus hadir selama Perayaan Ekaristi dalam berbagai macam cara. Ia hadir dalam diri imam yang mempersembahkan kurban Misa. Menurut Konstitusi tentang Liturgi Kudus dalam Konsili Vatikan II, Kristus hadir dalam Sabda-Nya “sebab Ia Sendiri-lah yang berbicara ketika Kitab Suci dibacakan di Gereja.” Kristus juga hadir dalam persekutuan umat sementara mereka berdoa dan mengidungkan pujian, “oleh sebab Ia telah berjanji 'di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.' (Mat 18:20)” (Sacrosanctum Concilium, no. 7). Lagipula, Kristus juga hadir dalam sakramen-sakramen lainnya; misalnya, “ketika seseorang membaptis, sungguh Kristus Sendiri-lah yang membaptis” (ibid.).

Kita membicarakan kehadiran Kristus dalam rupa roti dan anggur sebagai “nyata” guna mempertegas sifat khas kehadiran-Nya. Apa yang tampak sebagai roti dan anggur dalam substansi yang sesungguhnya adalah Tubuh dan Darah Kristus. Seluruh Kristus hadir, Tuhan dan manusia, Tubuh dan Darah, Jiwa dan Ke-Allah-an. Sementara kehadiran Kristus dalam berbagai cara lain selama perayaan Ekaristi tidaklah nyata, kehadiran-Nya dalam Ekaristi melebihi kehadiran-Nya dalam cara-cara yang lain itu. “Kehadiran-Nya ini disebut 'nyata' bukan berarti bahwa kehadiran-Nya dalam bentuk lain tidak 'nyata', melainkan secara komparatif ia diutamakan, karena ia bersifat substansial; karena di dalamnya hadirlah Kristus yang utuh, Allah dan manusia." (Mysterium Fidei, no. 39).

14. Mengapa kita mengatakan “Tubuh Kristus” memiliki lebih dari satu arti?

Pertama, Tubuh Kristus menunjuk pada tubuh manusiawi Yesus Kristus, yang adalah Sabda Allah yang menjadi manusia. Dalam Perayaan Ekaristi, roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Sebagai manusia, Yesus Kristus memiliki tubuh manusiawi, tubuh yang bangkit dan dimuliakan, yang dalam Ekaristi ditawarkan kepada kita dalam rupa roti dan anggur.

Kedua, seperti yang diajarkan St. Paulus dalam surat-suratnya, dengan menggunakan analogi tubuh manusia, Gereja adalah Tubuh Kristus, di mana para anggotanya dipersatukan dengan Kristus sebagai Kepala (1 Kor 10:16-17, 12:12-31; Rom 12:4-8). Kenyataan ini seringkali disebut sebagai Tubuh Mistik Kristus. Mereka semua yang dipersatukan dengan Kristus, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, dipersatukan sebagai satu Tubuh dalam Kristus. Persekutuan ini bukanlah persekutuan yang dapat dilihat dengan mata manusia, oleh sebab persekututan mistik ini merupakan karya kuasa Roh Kudus.

Tubuh Mistik Kristus dan Tubuh Kristus dalam Ekaristi tak dapat dipisahkan. Dengan Sakramen Baptis kita masuk dalam Tubuh Mistik Kristus, yaitu Gereja, dan dengan menerima Tubuh Kristus dalam Ekaristi, kita diperkokoh dan dibangun dalam Tubuh Mistik Kristus. Pusat kehidupan Gereja adalah Perayaan Ekaristi; umat beriman sebagai pribadi ditopang sebagai anggota Gereja, anggota Tubuh Mistik Kristus, dengan menerima Tubuh Kristus dalam Ekaristi. Bermain kata dengan kedua arti “Tubuh Kristus” ini, St. Agustinus mengatakan kepada mereka yang hendak menerima Tubuh Kristus dalam Ekaristi: “Jadilah apa yang kamu lihat, dan terimalah dirimu" (Khotbah 272). Dalam khotbahnya yang lain ia mengatakan, “Jika kamu menerima dengan pantas, kamu adalah apa yang kamu terima.” (Khotbah 227).

Karya Roh Kudus dalam Perayaan Ekaristi adalah dua kali lipat dalam hubungannya dengan arti ganda “Tubuh Kristus.” Di satu pihak, melalui kuasa Roh Kudus-lah Kristus yang bangkit dan persembahan kurban-Nya dihadirkan. Dalam Doa Syukur Agung, imam memohon kepada Bapa untuk mengutus Roh Kudus turun atas persembahan roti dan anggur agar mengubahnya menjadi Tubuh dan Darah Kristus (doa yang dikenal sebagai epiklese). Di lain pihak, pada saat yang sama, imam juga memohon kepada Bapa untuk mengutus Roh Kudus turun atas seluruh umat sehingga “mereka yang ambil bagian dalam Ekaristi menjadi satu tubuh dan satu roh” (Katekismus no. 1353). Melalui Roh Kudus-lah rahmat Tubuh Kristus Ekaristi dicurahkan atas kita dan melalui Roh Kudus pula kita dipersatukan dengan Kristus dan dipersatukan satu sama lainnya sebagai Tubuh Mistik Kristus.

Dengan demikian kita dapat melihat bahwa Perayaan Ekaristi tidak saja mempersatukan kita dengan Tuhan sebagai pribadi-pribadi yang terpisah satu sama lainnya. Melainkan, kita dipersatukan dengan Kristus dan dengan segenap anggota Tubuh Mistik-Nya. Dengan demikian, Perayaan Ekaristi haruslah menambah cinta kita kepada sesama serta mengingatkan kita akan tanggung jawab kita satu sama lain. Terlebih lagi, sebagai anggota Tubuh Mistik-Nya, kita mempunyai kewajiban untuk menghadirkan Kristus dan membawa Kristus ke dalam dunia. Kita mempunyai tanggung jawab untuk membagikan Kabar Gembira Kristus, tidak hanya melalui kata-kata kita, melainkan juga melalui penghayatan iman kita dalam hidup sehari-hari. Kita juga mempunyai tanggung jawab untuk melawan segala kekuatan dunia yang menentang Injil, termasuk segala bentuk ketidakadilan. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan kepada kita: “Ekaristi mewajibkan kita terhadap kaum miskin. Supaya dengan ketulusan hati menerima tubuh dan darah Kristus yang diserahkan untuk kita, kita juga harus mengakui Kristus di dalam orang-orang termiskin, saudara-saudara-Nya.” (no. 1397).

15. Mengapa kita menyebut kehadiran Kristus dalam Ekaristi sebagai suatu “misteri”?

Kata “misteri” pada umumnya digunakan untuk menunjuk pada sesuatu yang melampaui pengertian akal budi manusia. Namun demikian, dalam Kitab Suci, “misteri” memiliki arti yang lebih mendalam dan lebih istimewa, oleh sebab kata tersebut menunjuk pada aspek rencana karya keselamatan Tuhan bagi manusia, yang telah dimulai tetapi hanya akan berakhir pada akhir jaman. Dalam jaman Israel kuno, melalui Roh Kudus, Tuhan menyingkapkan kepada para nabi sebagian dari rahasia atas apa yang akan Ia lakukan bagi keselamatan umat-Nya. Demikian juga, melalui pewartaan dan ajaran Yesus, misteri “Kerajaan Allah” disingkapkan kepada para murid-Nya (Mrk 4:11-12). St. Paulus menjelaskan bahwa misteri Allah melampaui pengertian manusiawi kita atau bahkan tampak sebagai kebodohan, tetapi artinya akan dinyatakan kepada Umat Allah melalui Yesus Kristus dan Roh Kudus (bdk 1 Kor 1:18-25, 2:6-10; Rom 16:25-27; Why 10:7).

Ekaristi merupakan suatu misteri karena Ekaristi ambil bagian dalam misteri Yesus Kristus dan karya keselamatan Allah bagi manusia melalui Kristus. Kita tidak perlu heran apabila ada bagian-bagian Ekaristi yang tidak mudah dipahami, sebab rencana Tuhan bagi dunia telah berulang kali melampaui dugaan serta pengertian manusia (bdk Yoh 6:60-66). Sebagai contoh, bahkan para murid pada mulanya tidak mengerti mengapa Mesias harus dijatuhi hukuman mati dan kemudian bangkit dari antara orang mati (bdk Mrk 8:31-33, 9:31-32, 10:32-34; Mat 16:21-23, 17:22-23, 20:17-19; Luk 9:22, 9:43-45, 18:31-34). Lagipula, setiap kali kita berbicara tentang Tuhan, kita perlu ingat bahwa konsep-konsep manusiawi kita tidak akan pernah mampu memahami Tuhan sepenuhnya. Kita tidak boleh membatasi Tuhan sebatas pengertian kita, melainkan membiarkan pengertian kita yang diperluas di luar batas-batas normalnya oleh pernyataan Tuhan.

Kesimpulan

Dengan Kehadiran Nyata-Nya dalam Ekaristi, Kristus memenuhi janji-Nya untuk “menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:20). Seperti ditulis St. Thomas Aquinas, “Adalah hukum persahabatan bahwa seorang sahabat harus hidup berdampingan … Kristus tidak meninggalkan kita sendiri tanpa kehadiran jasmaninya dalam ziarah kita ini, tetapi Ia mempersatukan kita ke dalam Diri-Nya Sendiri dalam sakramen ini dalam rupa Tubuh dan Darah-Nya” (Summa Theologiae, III q. 75, a. 1). Dengan rahmat kehadiran Kristus di antara kita, Gereja sungguh terberkati. Seperti yang dikatakan Yesus kepada para murid-Nya, perihal kehadiran-Nya di antara mereka, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” (Mat 13:17). Dalam Ekaristi, Gereja sekaligus menerima karunia Yesus Kristus dan mengucap syukur kepada Tuhan atas rahmat yang luar biasa itu. Ucapan syukur ini adalah satu-satunya tanggapan yang layak, oleh sebab melalui karunia Diri-Nya Sendiri dalam Perayaan Ekaristi dalam rupa anggur dan roti, Kristus menganugerahkan kepada kita karunia kehidupan kekal.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.... Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” (Yoh 6:53-57)

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Naskah ini dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP